WARNING! ADA SCENE MENUJU RATE M, DIHARAPKAN TIDAK MEMBACA BAGI YANG PUASA, NANTI SAYA IKUT DOSA:')
IT'S CHENMIN/XIUCHEN! SLIGHT CHANBAEK, HUNHAN, XINGDAE/LAYCHEN! BOYxBOY! HOMOPHOBIC MENJAUH, GAK USAH DEKET DEKET SANA HUSH HUSH!
RATE SUATU SAAT BISA NAIK JIKA AUTHOR SEDANG MOOD :v
ALUR GAJE, CERITA PASARAN, BAHASANYA JUGA ACAK KADUT, NO JUDGE PLEASE :))
SELAMAT MEMBACA
.
Bruk!
"Jongdae!"
"Argh," Jongdae menahan terjangan Yixing. Tenaganya kalah kuat karena tubuh Yixing lebih besar darinya dan dia lebih tua dari Jongdae.
"Minseok, pergi cepat," Jongdae setengah berteriak. "Tidak akan," Minseok mencoba mendekat. "PERGI!" Jongdae akhirnya terpaksa membentak dan itu membuat Minseok langsung bangkit dan berlari, mencoba meminta pertolongan pada siapapun. Naas, gedung belakang ini jaraknya 500 m ke sekolah, belum dia harus menaiki tangga ke lantai 5 Ruang guru.
"Apa aku baru saja menonton drama antara Kim Jong Dae dan Han Minseok?" Yixing tersenyum tipis. Jongdae mencoba mendorong Yixing agar tidak menindih tubuhnya. "Kau salah besar sayang, harusnya kau membiarkan Minseok ada disini menonton kita."
Chu~
Jongdae membulatkan matanya. Dia berontak, tapi Yixing menahan kedua tangannya di atas kepala dan menindih kakinya dengan tubuh Yixing. "Xing-ge, ngh.." Jongdae memalingkan mukanya. Tapi dia kalah cepat, Yixing malah melumat bibirnya lebih keras dari sebelumnya, bahkan mulai menggigiti bibir Jongdae hingga berdarah.
"Kau milikku, Kim Jong Dae.. hanya milikku." Ciuman Yixing turun ke leher Jongdae. "Xing-ge, hentikan." Jongdae menggeliat, dia mendorong wajah Yixing menjauh, tapi lagi-lagi Yixing menahan dua tangannya hanya dengan satu tangan. Astaga, tenaga macam apa itu?
"Yixi— ngh," Jongdae berhenti bergerak ketika Yixing mengelus bagian tersensitif miliknya. Yixing menyeringai. "Sudah on hanya karena aku mencumbu lehermu? Payah sekali kau Kim," Yixing terus mengelusnya.
"Ngh, Yixing.. henti—ahh," Jongdae menggigit bibir bawahnya agar suara laknat itu tak keluar dari bibirnya. Bukannya berhenti, Yixing malah meremasnya dengan kuat.
"Hn, argh!" Jongdae berteriak. "Yixing, berhenti!" Teriaknya lagi, tenaga nya seolah menghilang entah kemana. "Tidak usah berteriak begitu Kim, aku tau kau menginginkannya." Yixing mendekat dan mencium Jongdae lagi. Kali ini yang dicium benar-benar pasrah. Dia bersyukur Minseok tidak mengalaminya. Setidaknya dia berhasil melindungi Minseok kali ini.
Zrrrtttt
Jongdae membulatkan matanya ketika mendengar Zipper celananya dibuka. "Yixing, kau keterlaluan!" Teriaknya. "Apa peduliku? kau milikku sekarang, Jongdae-ya.."
"Yixing–uhh, ahh.." Jongdae menahan tangan Yixing berbuat lebih pada bagian sensitifnya. "Kenapa, hm?"
"Setidaknya jangan diluar," ucap Jongdae lemah. Yixing menyeringai, jadi sekarang Jongdae benar-benar sangat pasrah? Dia segera menggendong Jongdae ke toilet lama di gedung bekas itu.
"Xing, berhenti." Jongdae berontak lagi. "Tidak akan." Jongdae menghela nafas mendengar jawaban yang bisa membuatnya mati itu.
"Kenapa kau melakukan ini?" Tanya Jongdae. "Karena aku mencintaimu."
"Tidak mungkin," Jongdae menatap Yixing tak percaya.
"Itu sangat mungkin, Dae-ya.. jangan banyak bicara dan nikmati saja!" Bentak Yixing sambil melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda lagi. Jongdae benar-benar berontak kali ini, dia menendang tubuh Yixing dan itu membuat Yixing menjauh beberapa cm darinya.
Dia buru-buru membetulkan celananya, tak peduli dengan hasratnya yang sempat naik karena Yixing. "Kau mau kemana Jongdae?"
Jongdae tidak menjawab, dia langsung lari setelah celana nya rapi. Tapi Yixing menarik kerah belakangnya dan menjatuhkan Jongdae.
Brak!
"Aw!" Jongdae meringis. "Kau mau kemana? Jawab aku!"
"Pergi! Aku akan melaporkan seluruh perbuatanmu! Tak peduli kau konglomerat atau apa, kau itu iblis!" Teriak Jongdae. Yixing melongo. "Semua anak orang kaya sama saja! Egois! Tidak berpikiran panjang! Kau pikir orang lain akan bahagia dengan tingkah kekanakan mu itu? Tidak sama sekali! Mereka justru akan membencimu!"
Muka Yixing memerah. Niatnya untuk memperkosa Jongdae hilang seketika. Emosinya meningkat, dia tak apa dicaci maki, asalkan tidak membicarakan soal kasta nya!
"Rghhh!" Jongdae menahan nafas ketika Yixing menekan kedua bahunya di lantai, dia tak bisa berdiri karena kekuatan Yixing yang besar. "Jongdae, tau apa kau tentang aku?!"
"Kau egois Yixing-ge, semua orang mendekatimu hanya karena hartamu, mereka sama sekali tidak menyukaimu!"
Buk!
Satu pukulan lolos dan mengenai pipi Jongdae dengan telak. "Di mata mereka, kau hanya ATM berjalan! Mereka memanfaatkan mu dengan berpura-pura baik padamu! Di hidupmu, tidak ada yang namanya persahabatan sejati! Semua didasari oleh uang, uang, dan uang! Itu yang menyebabkan kau egois!"
Buk!
Satu pukulan lolos lagi. Itu tak menyurutkan Jongdae untuk melanjutkan kata-katanya. "Dan.. kau pikir dengan menyingkirkan Minseok kau bisa mendapatkan ku?" Kali ini, Yixing menatap Jongdae dalam.
"Tidak, Yixing.. kau salah besar, justru aku akan membencimu jika kau melakukan itu. Walau kau memberiku uang segudang pun aku akan tetap membencimu, kau tau kenapa?"
Yixing menggeleng. "Karena aku mencintai Minseok. Berani menyentuhnya kau kubakar sampai hangus."
Brak!
Jongdae pasrah ketika Yixing melempar tubuh kecilnya menghantam tembok. "Kau? Mencintai Minseok? Tau apa kau tentang cinta, Jongdae?!"
Jongdae menahan rasa sakit yang mendera punggungnya. "Aku tidak tau apapun, tapi aku akan mengetahuinya saat Minseok menjadi milikku nanti."
Duk!
Yixing sudah tak tahan, emosinya benar-benar harus diluapkan, dan Jongdae satu-satunya orang yang bisa jadi pelampiasan emosinya. "Kenapa kau tidak pernah melihat ke arahku, Jongdae?!"
Buk!
"Kenapa kau malah mencintai Minseok yang bahkan belum seminggu mengenalmu?!"
Duak!
"Aku mencintaimu Jongdae! Dan kau pikir hanya aku saja yang mengincar nyawa Minseok? Banyak orang lain yang mengincarnya juga!"
"Aku akan melindunginya." Balas Jongdae. Tubuhnya sudah lebam sana-sini. "Jika sekarang saja kau sudah pasrah begini, bagaimana nanti!?"
"Setidaknya Minseok selamat."
"Kalau kau masih dekat-dekat dengannya, maka semakin banyak juga orang yang mengincar nya!"
Jongdae diam. Yixing menarik kerah Jongdae dan menyiapkan sebuah tinjuan.
BRAAK!!
"JONGDAE!"
Buak! Buk!
Minseok datang. Dia datang bersama Chanyeol dan Luhan. Dia tak mau memanggil satpam atau guru, takut kena omelan dan itu akan membuat waktu terbuang sia-sia.
"Woah.. jadi ini sisi gelap seorang Zhang Yixing?" Luhan tersenyum miring. "Kau menjatuhkan harga diri warga China, sialan!" Lanjut Luhan sambil memukuli Yixing.
"Lu, hentikan." Chanyeol menahan Luhan menghajar teman satu negaranya.
Minseok langsung berlari dan memeluk Jongdae. "Gwaenchana? Uh, Jongdae, mian.." Minseok terisak. Jongdae tersenyum tipis. "Gwaenchana.. lain kali jika ada masalah katakan padaku," jawab Jongdae sambil menenangkan Minseok.
Chanyeol tersenyum tipis melihat Minseok. 'Jadi, aku bisa mempercayakan adik kesayanganku pada Jongdae, huh?' batinnya.
"Konglomerat sialan, kau dibutakan cinta, ya? Ayo ke ruang BK, aku ingin melihat kau memohon dan menawarkan uang pada guru BK.. tontonan yang menarik," Chanyeol menyeringai sambil menyeret Yixing dibantu oleh Luhan.
Setelah Luhan, Chanyeol, dan Yixing pergi, Minseok masih setia memeluk Jongdae sambil sesenggukan. "Min, sudahlah, jangan merasa bersalah.. kau terluka juga karena ku, kan? Jadi letak masalahnya ada padaku," Jongdae mengelus surai coklat Minseok.
"Ugh, mianhae.." Minseok mengeratkan pelukannya. Jongdae tersenyum. "Gwaenchana.. ayo berdiri, kita kembali ke kelas.." Jongdae membantu Minseok berdiri.
Trak
"Eh!" Keduanya berteriak kaget karena saat berdiri, Jongdae menginjak batu dan jatuh.
Bruk
Jongdae menahan nafasnya, begitu juga Minseok. Astaga! Bibir mereka bersentuhan! Dan posisi mereka Minseok yang menindih Jongdae.
"J-Jongdae.." Minseok adalah orang pertama yang sadar dari situasi tadi dan berdiri. Mukanya memerah sempurna. "Mian.." Jongdae memalingkan mukanya yang sudah memerah juga.
Tapi Minseok ikut duduk menghadap Jongdae. "Jongdae." Panggilnya. Dan yang dipanggil hanya menoleh.
"Kenapa luka?" Minseok mendekat dan mengelus bibir Jongdae, ada guratan kecil dan sisa darah disana, Minseok menyadari hal ini ketika mereka tak sengaja berciuman tadi, rasanya bibir Jongdae kasar. Jongdae tidak menjawab.
"Jongdae, bolehkah?" Minseok menatap Jongdae, meminta izin. Jongdae mengangguk. Minseok mendekat, dia mengeliminasi jarak wajah mereka.
Chu
Jongdae menutup matanya ketika bibir Minseok kembali bertemu dengan miliknya, kali ini bukan tidak sengaja, tapi sengaja, dan Jongdae bersyukur Minseok tidak menamparnya ketika mereka tak sengaja berciuman tadi.
1 menit
3 menit
5 menit
Minseok melepas ciumannya, tapi Jongdae segera menarik tengkuknya dan menciumnya kembali.
"Jong—uh,"
"Saranghae, Han Minseok.." bisik Jongdae pelan, saking pelannya, Minseok sampai tak bisa mendengarnya.
.
.
UWEEEHHH NADO SARANGHAE JONGDAEEEEEEEEEE KYAAAA KYAAAAAAAA :'''')))))
Kenapa gua yang seneng Anju:''))))
