Diary hari-hari Jaemin
06:00 bangun pagi, mandi
06:30 siap-siap sambil sarapan
7:00 berangkat ke sekolah, latihan pagi
08:00 - 12:00 pelajaran
12:00 - 13:00 istirahat siang
13:00 - 15:00 pelajaran siang
15:30 - 18:00 latihan klub
16:30 sampai rumah, makan malam, buat PR
23:00 tidur nyenyak
Aku dan Haechan.
Aku dan Haechan menjadi dekat sejak SMP. Awalnya aku lebih dekat dengan Renjun. Tapi kesibukan klub yang berbeda membuat aku lebih dekat dengan teman satu klub ku, anak yang dulu aku anggap menyebalkan! Karena biang gosip, angkuh dan sombong: Haechan. Namun Tuhan menunjukkan bahwa yang berbeda pun bisa menjadi teman yang sangat kental bukan?
Ngomong-ngomong kami bersahabat dengan cara yang sedikit aneh.
Kami bertukar diary. Kira-kira sudah berlangsung selama 2 bulan. Dan itu menyenangkan sekali!
CHAPTER IV
"Jaemin, pagi!"
"Haechan, pa..- ah? Kenapa rambutmu?" Haechan memotong rapi rambutnya. Padahal tadinya agak panjang sampai kadang bisa diikat diatas.
"Aku potong. Kenapa? Jelek ya?" Haechan melewatiku sambil merapikan tas nya.
"Bukan jelek, aku hanya bertanya" aku mengikutinya sambil meletakkan tas ku di kursi.
"Ini kan sudah musim panas. Rambut panjang membuatku gerah. Aku juga mau ganti suasana." Ujarnya sambil sesekali merapikan poni pendeknya.
Bohong. Padahal kamu manis dengan rambut kemarin. Haechan-ah. Ada apa?
"Sudahlah. Ngomong-ngomong kamu sudah menulis itu?" Haechan bertanya kepadaku. Sambil mengulurkan buku diarynya.
"K-kemarin aku tidak ada waktu menulisnya. Akan aku tulis nanti disela-sela pelajaran." Ucapku sambil mengambil buku itu. Songsaengnim datang tepat saat itu. Kamu semua langsung duduk.
To : Nana
Mark sering sekali memegang rambutnya. Aku terus memperhatikan.
Sepanjang pelajaran pagi saja, dia sudah memegangnya sebanyak 16 kali!
Kira-kira dalam 3 menit dia memegangnya sekali. Aneh ya?
Ah ngomong-ngomong tentang rambut, aku memotong rambutku bukan karena panas. Aku sebenarnya kesal terus menerus diusili senior. Disuruh menata rambut setiap latihan klub. Aku bosan dikerjai. Ya aku potong saja. Begitulah. Waktu dipotong, ya aku sedih juga sih.
Begitu ya, dasar Haechan.
Dear Chanie.
Kasihan sekali rambutnya.
Padahal Haechan manis berambut panjang. Tapi rambut pendek juga bagus.
Terus ini informasi tentang Minhyung. Semalam dia belajar sampai pukul 11 malam.
Setelah itu aku tidur. Aku tau karena lampu kamarnya masih menyala.
Setelah itu tidak tau sih, dia belajar sampai pukul berapa.
Tapi bisa juga, Mark tidur tanpa mematikan lampunya.
Soalnya kadang
"NA JAEMIN!" Songsaengnim tiba-tiba memanggil namaku.
"Coba jawab soal nomor 3!" Ujarnya lagi sambil menatap tajam kearahku. Teman-teman juga melihat ke arah ku.
Bagaimana ini? No 3 apa? Aku benar-benar tidak memperhatikan. Aku malu sekali. Aku tidak tahu...
"Kata bantu" bisik sebuah suara. Ternyata Mark!
"Kata bantu" dia berbisik kembali
"Nggg itu, kata bantu" aku menjawab songsaengnim. Semoga saja Mark tidak macam-macam mengerjaiku kali ini
"Benar kamu bisa duduk" songsaengnim kemudian melanjutkan pembahasannya. Kulirik Mark. Dia acungkan tanda V dengan kedua jarinya. Yang kubalas senyum sambil berkata tanpa suara "terima kasih!"
Ah aku tertolong. Kuberitahu Haechan juga ah.
Ada informasi baru tentang Mark.
Barusan dia membantuku menjawab jawaban.
Karena terlalu asik menulis, aku benar-benar tidak mendengarkan.
Untung saja. Mark itu dari dulu selalu saja membantuku.
Kalau aku sedang susah, Mark selalu bisa diandalkan. Dia memang pintar dan baik hati...
"Haechan, aku sudah menulisnya." Aku serahkan buku diary itu ke tangan Haechan saat istirahat siang.
"Jaemin, kesini sebentar." Haechan mengajakku ke toilet.
Di toilet Haechan hanya mencuci tangannya dalam diam. Aku menunggu. kalau sudah seperti ini, aku tau pasti ada hal penting yang ingin ia katakan.
"Aku, aku akan utarakan perasaanku kepada Mark!" Haechan berkata tiba-tiba.
"Eh? Kenapa tiba-tiba sekali?" Aku mengeringkan tangan sambil menatap terkejut ke arah Haechan.
"Begitulah. Karena itu aku ingin meminta tolong padamu. Tolonglah. Tanyakan pada Mark. Adakah seseorang yang sedang disukainya? Tolonglah Jaemin. Kalian bersahabat. Pasti dia akan menceritakannya kepadamu. Mau kan?" Haechan meraih tanganku sambil memasang tatapan anak anjing. Sebenarnya aku tidak mau ikut-ikut urusan cinta. Bukan karena aku tidak menyayangi Haechan. Tapi lebih karena aku tidak mengerti! Tapi setelah aku pikirkan, memang sih aku penasaran. Siapa dan seperti apa sih tipe yang disukai Mark?
"Baiklah. Baiklah aku akan menanyakannya" aku akhirnya menyutujui permintaan Haechan.
"Kau benar-benar teman sejatiku. Kalau begitu sekarang cepat tanyakan Mark. Aku akan menyuruhnya menemuimu ke loteng sekolah kemudian tanyakan" Haechan memelukku sebentar. Kemudian segera mendorongku keluar dari kamar mandi.
"Eh sekarang?"
Dasar Haechan. Selalu semaunya sendiri. Huh mau tidak mau aku berlari naik ke loteng dan menunggu Mark datang keatas.
"Nana? Haechan bilang kau menungguku disini? Ada apa?" Dheg! Mark datang keatas! Aduh bagaimana ini. Aku tidak berani menatap matanya.
"Eng tidak Nana cuma mau tanya dan jawablah dengan cepat. Jangan berbelit-belit" aku coba tegarkan intonasi suaraku. Lalu melanjutkan "ada tidak orang yang sedang Mark sukai saat ini?" Aku bertanya masih tidak memandang wajah Mark. Tepatnya aku menghadap balkon. Membelakanginya.
"Eh kenapa tiba-tiba?" Mark terdengar kaget sekali.
"Tidak apa-apa kita kan teman. Nana mau tau. Siapa yang disukai Mark. Ada atau tidak!" Akhirnya aku balik badan dan melihat Mark.
Cepat jawab dan aku akan melapor ke Haechan.
"Ada" Mark menjawab sambil melihat ke arah lain.
"Siapa?" Dheg. Aku berdebar menunggu jawaban Mark. Siapa yang sudah disukai teman kecilku ini?
Ada denyut sedikit di dadaku yang aku tidak mengerti.
"S-siapapun boleh kan?" Mark mencoba menghindar dan berjalan mendekatiku. Memandang melintasi besi pembatas balkon.
"Jawablah Mark. Siapa dia? Nana kenal tidak?" Aku dorong sedikit lengan Mark. Cepatlah Mark.
Sejujurnya entah mengapa aku juga jadi ingin tau.
"Mungkinkah.." Mark berhenti sebentar. "Mungkinkah Nana suka padaku?"
Dheg! Pertanyaan apa itu? Kenapa jadi Mark yang bertanya, seperti itu?
"T-tidak mungkin. Jawablah dengan serius jangan bercanda seperti itu." Aku berusaha menetralisir perasaan aneh di dalam hati. Sambil berusaha tersenyum dan berdiri tegak. Aku pasti terlihat bodoh.
"Aku suka pada Jaemin. Aku suka Jaemin. Yang aku sukai, Na Jaemin!" Jawab Mark keras. Menatapku dengan tatapan yang, mengingatkanku pada tatapan Mark, tapi entah kapan.
Dan aku tidak tau, harus berkata apa?
Mark membalikan badannya dan pergi begitu saja.
"Yang aku sukai, Na Jaemin!"
Aku kembali ke kelas, dengan langkah sangat perlahan.
Jujur saja, aku tidak tau apa yang harus aku katakan nanti kalau Haechan bertanya?
Apakah harus aku jawab jujur? Tapi nanti Haechan membenciku..
"Bagaimana? Jaemin, apa kata Mark? Adakah yang sedang ia sukai?" Haechan menunggu di depan kelas. Bagaimana ini? Aku harus jawab apa?
"T-tidak ada, sepertinya Mark tidak sedang menyukai siapa-siapa" aku menjawab kikuk.
Haechan menatapku. mataku mau tidak mau, refleks menghindar.
Haechan, jangan seperti ini...
"Bohong"
eh?
"Jaemin bohong padaku kan? Aku sendiri dengar! Yang disukai Mark, Jaemin kan!"
Aku masih terdiam.
Bodoh, Na Jaemin, ayo ucapkan sesuatu
"Tapi Jaemin mengatakan tidak ada yang disukai Mark. Kau mau membohongi ku ya?"
"Bukan begitu maksudku Haechan!" akhirnya aku kembali menemukan suaraku.
"Kau mau aku utarakan perasaanku kepada Mark begitu? Hanya supaya aku ditolak? Begitu ya? Nanti kalau aku ditolak kamu akan cuci tangan bilang tidak tau? Begitu kan?" Haechan semakin tajam mencecarku yang benar-benar kebingungan sekarang.
"Sudahlah, aku tidak percaya lagi pada Jaemin." Haechan berbalik badan dan pergi meninggalkan Jaemin.
Aku yang jahat?
Memang aku yang jahat!
Tetapi kenapa Haechan minta tolong kepadaku?
Memang aku tau Mark mau menjawab seperti itu?
Lagipula, mana mungkin.
Mark menyukaiku...
Menyukaiku..
Haechan itu, lebih segala-galanya.
walaupun ketus dan galak,
Tapi Haechan lebih cantik..
lebih manis dan pintar..
di klub musik pun, walau sering melarikan diri,
Haechan lebih pandai...
lebih pantas dengan Mark...
Haechan dan Mark...
lagi-lagi, denyut itu
denyut yang aku tidak kenali.
"H-Haechan selamat pagi" tiba-tiba pagi ini Haechan memberikan diarynya kepadaku.
Aku sudah salah sangka. Sudah tidak marah rupanya.
PEMBOHONG
AKU BENCI JAEMIN
SUDAHI SAJA PERTEMANAN KITA!
Halaman-halaman buku itu ditulis besar-besar dengan tinta merah. Apa-apaan ini? Kenapa Haechan sampai begini?
Tanganku sampai gemetar membuka tiap halamannya.
"...terus dia juga pembohong. Jaemin itu kelihatannya saja baik. Aku saja hampir dibohongi. Jangan percaya sama Jaemin. Hati-hati deh." Aku dengar semua yang Haechan katakan ke teman-teman yang lain.
"Masa sih? Jahatnya."
"Aku tidak percaya"
"Keterlaluan sekali" semuanya. berbisik memang. Tapi Jaemin dengar.
"Jaemin itu egois sekali. Suka bicara bohong ke orang lain. Pokoknya hati-hati deh" kali ini Haechan sama sekali tidak mencoba memelankan suaranya.
Aku sudah tidak kuat mendengarnya.
Aku kembali ke loteng sekolah tempat semuanya dimulai. Aku benci. Kenapa Haechan jahat sekali? Haechan lebih egois daripada aku! Yang minta tolong kan Haechan. Kenapa aku yang dimusuhi?
Lagi-lagi cuma bisa menangis...
"Kamu ini, marahan dengan Haechan ya?" Tiba-tiba suara itu ada disampingku.
"Mark?"
"Aku melihat Jaemin lari tadi. karena penasaran aku ikuti" Mark menjelaskan. "Aku yang jadi masalah?" Mark kembali bertanya
"..." aku masih belum tau harus bilang apa.
"Waktu kemarin kita bicara disini, Haechan ada disana, di tangga. Kelihatannya aneh sekali. Senyum padaku dengan cara yang aneh. Itu, yang Nana tanyakan, Haechan yang meminta ya?" Mark terlihat hati-hati menyusun pertanyaan yang terakhir. Tapi Mark memang pintar, sudah dapat menyimpulkan sesuatu dengan sangat benar.
"Hmm..." akhirnya aku hanya bisa mengangguk membenarkan.
"Begitu rupanya." Kemudian Mark tidak bicara lagi. Mungkin menungguku bicara sesuatu.
"Haechan itu, " ujarku akhirnya. "Haechan itu sangat egois. Malah bilang aku egois. Mark, memang aku egois?" Aku balik bertanya. Memang iya?
Aku lihat Mark malah menahan senyumnya. Dan berlagak seperti berfikir.
"Eeeeh kamu malah berfikir. Memang iya aku egois? Eugh menyebalkan. Yang jelas aku tidak pernah jahat seperti dia. Dia yang meminta tolong. Kenapa juga dia yang marah. Memang sih aku berbohong. Cuma..." aku jadi terpancing.
"Sudah. Kamu sangat mengerti dia kan Nana? Diantara teman yang lain, aku lihat bahkan kau lebih dekat denganny dibanding Renjun? Kau juga tidak membencinya kan? Kalau Nana tau semua hal buruk tentang Haechan, Nana juga lebih tau hal baik tentangnya kan?" Mark tersenyum sambil mengusap bagian belakang kepalaku.
Ya...
Haechan memang seperti itu.
Keras dan angkuh. Tidak mau kalah.
Tapi Haechan selalu bisa mengutarakan dengan langsung apa yang dirasakannya. Ya kecuali tentang cinta. Tapi memang dia selalu blak-blakan. Makanya dulu aku agak menjauhi.
Sifatnya yang seperti itu, aku tidak punya. Berniat ingin melindungi, malah jadi menyakiti sahabatku sendiri.
Haechan membenciku tidak ya?
Maafkan aku...
Aku harus minta maaf...
Aku ambil diary yang diberikan Haechan kemarin.
Setelah berpikir beberapa saat, aku beranikan menulis di balik kata-kata bertinta merah yang Haechan tulis kemarin.
Dear Haechan...
Haechan maafkan aku yang kemarin ya...
Aku tidak bisa berkata jujur, makanya jadi begini.
Dan seperti apa yang Haechan katakan, mungkin aku bodoh, pengecut, pembohong dan egois.
Terima kasih Haechan mau menyatakannya.
Haechan juga punya banyak sifat yang buruk. Tapi sampai sekarang belum pernah aku mengatakannya. Sifat Haechan yang egois, pemarah, tidak mau dengar pendapat orang lain, suka membodohi orang lain, lebih baik dihilangkan saja.
Kalau sejujurnya aku katakan,
aku benci Haechan!
Haechan POV
Sebetulnya sepi juga, makan siang, ke toilet, kegiatan klub juga, tanpa Jaemin. Mungkin aku juga sedikit keterlaluan. Tapi aku tidak mau minta maaf! Enak saja.
Eh buku diary? Buku ini kenapa ada di mejaku?
Apa Jaemin menulis sesuatu???
End Of Haechan POV
Sore ini aku menemukan buku diary yang tadi diam-diam ku letakkan di meja Haechan. Aku takut untuk melihat apa yang ditulis Haechan. Apa Haechan memaafkanku? Perlahan aku buka dan membaca pelan-pelan...
To: Jaemin
Akulah yang seharusnya minta maaf.
Baru kali ini ada yang berani bilang "benci" sifatku. Aku kadi kebiasaan.
Mungkin semua juga berfikir begitu. Aku harus berbenah diri.
Sebenarnya aku banyak cemburu dengan Jaemin. Karena senior klub lebih menyukai Jaemin.
Padahal aku lebih pandai. Dan terlebih Mark lebih menyukai Jaemin.
Kalau dekat Jaemin, tanpa sadar, aku sering merasa kalah.
Aku tidak bisa menang dari Jaemin tentang pertemanan maupun urusan cinta. Makanya aku jadi kesal. Tapi aku mengakui sejujurnya, ada hal baik, juga hal buruk.
Itulah teman.
Mengakui hal baik dan menyampaikan hal yang buruk.
Itu yang disebut persahabatan bukan?
Sore itu, kami kembali pulang bersama. Memang dalam persahabatan, tidak seru kalau tidak ada perselisihan bukan?
Lagipula masalah cinta,
Usia kita masih panjang untuk memikirkannya...
"Nanti ceritakan padaku orang yang Nana suka ya?"
"Eh? Tidak ada Haechan, aku tidak sedang menyukai siapa-siapa"
Kami yang sedikit demi sedikit menjadi lebih dewasa.
