"Apa ada yang sudah mengerjakan tugas minggu lalu? Siapapun, boleh kupinjam?"
Suasana kelas yang tadinya sempat riuh pagi itu, kini tergantikan oleh kesunyian saat melihat siapa yang datang. Jaebum dan kedua temannya, Yugyeom dan Jackson memasuki kelas dengan bertanya kesana kemari mengenai tugas minggu lalu.
"Tsk" Jinyoung mendecakkan lidahnya melihat kedatangan tiga anak itu dan kembali membaca bukunya yang sempat terhenti.
Jadi itu yang disebut siswa yang eksis di sekolah? Tugas saja harus mencontek segala
"Hei Park Jinyoung, ingat kau masih punya hutang padaku"
Terkejut, Jinyoung pun langsung menoleh ke sebelah kanannya dan melihat Jaebum sedang menulis sesuatu dari buku yang entah punya siapa ia pinjam.
Jinyoung menatap Jaebum lama dan pikirannya langsung terfokuskan pada ucapaannya baru saja.
Hutang? Aku punya hutang padanya?
"Di tangga beberapa hari yang lalu. Kalau saja aku tidak cepat menarikmu, mungkin kau sudah jatuh dengan anak itu" seolah membaca pikiran Jinyoung, Jaebum berkata sambil terus mengerjakan tugasnya tanpa menoleh.
Jinyoung terdiam. Memorinya pun berputar saat kejadian yang tidak ingin diingatnya lagi. Yang membuat dirinya tidak masuk sekolah karena panas dingin menyerangnya. Dan sesaat ia merasakan wajahnya mulai memanas. Jinyoung ingat dirinya sempat memeluk Jaebum begitu lelaki itu menariknya untuk menolongnya.
"Dan juga jangan lupakan yang kemarin" tambah Jaebum.
"Me-memang ada.. yang menyuruhmu melakukan itu padaku? Kalau kau tidak berniat menolongku, untuk apa kau menarikku? Masalah yang kemarin juga, aku tidak memanggilmu untuk naik ke atap. Bodoh sekali" Jinyoung coba mengelak.
"Apa katamu?! Yaak! Seharusnya kau berterima kasih padaku, Jinyoung! Lagipula apa yang kau lakukan di atap kemarin? Kau juga mengatakan ada orang disana. Jelas-jelas hanya ada kau dan aku saja. Jadi siapa yang bodoh disini?!"
Jinyoung tidak berkata apa-apa. Pikirannya kini sibuk dengan sederet kalimat yang baru saja dikatakan Jaebum.
Apa... dia.. hantu..? Jinyoung asal mengira. Pasalnya, ia juga tidak bisa menyentuh wajah anak itu saat mencoba meyakinkan kalau dia memang bisa melihatnya kemarin siang.
Tanpa disadari, Jinyoung mulai ketakutan. Bulu kuduknya pun berdiri, merinding mengingat ia bisa melihat bahkan bisa berbicara dengan hantu. Tapi tak lama, ada sedikit senyuman yang terulas di wajahnya.
Jika diperhatikan, lelaki yang ditemuinya kemarin mempunyai wajah yang bisa dibilang sangat tampan bila dibanding Jaebum, Jackson, dan Yugyeom yang disegani oleh satu sekolah karena ketampanannya.
Ahh! Apa yang sudah kau pikirkan Jinyoung!
Jinyoung langsung mengelengkan kepalanya cepat. Ia bahkan belum tahu menahu soal anak itu. Dan yang menjadi pertanyaan Jinyoung sekarang adalah 'Apa dia seorang manusia biasa? Atau melainkan seorang malaikat.. tampan...?'
Sedangkan Yugyeom dan Jackson yang sedari tadi sibuk mengerjakan tugas, langsung menoleh begitu mendengar pengakuan Jaebum tadi. Keduanya saling berpandangan seolah mengatakan "Jadi, kemarin Jaebum menemui si anak baru di atap?!"
"Heeung.. tapi Jaebummie..." panggilan Jinyoung seketika tertahan begitu Jaebum menoleh. Mulutnya bergerak ㅡ sibuk mengunyah permen lolipop yang sepertinya baru saja dimakannya. Wajahnya yang tadi terlihat marah kini tergantikan dengan wajah yang kebingungan ㅡ menatap Jinyoung yang juga menatapnya. Jujur saja, Jaebum baru pertama kali mendengar Jinyoung memanggilnya seperti itu. Apalagi ditambah dengan suaranya yang terdengar seperti anak kecil.
Tsk, bodoh! apa yang baru saja kau katakan! Pekik Jinyoung dalam hati.
"... Err maksudku..." Jinyoung gugup sendiri. Ia rasa wajah merahnya yang belum sepenuhnya hilang tadi, kini bertambah lagi. Lelaki itu pun mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Ada apa?" tidak seperti dugaan Jinyoung, Jaebum hanya bertanya sepatah kata saja. Jinyoung menoleh ke arahnya yang ternyata sudah mengerjakan tugasnya kembali. Jinyoung terdiam sesaat dan mulai berkata lagi, "Tapi... a-apa kau benar tidak melihat anak itu? Dia... berdiri... tepat di ujung balkon"
"sudah kubilang, tidak ada siapa-siapa disana Jinyoung!" tegas Jaebum.
Jinyoung terlihat ragu.
"Kalau yang di koridor kemarin, kau juga yakin tidak ada orang lain lagi disana?"
Terdengar desahan panjang dari Jaebum. Ia pun menghentikan pekerjaannya dan mencondongkan badannya ㅡ menatap Jinyoung. "A-ada apa..." Jinyoung refleks memundurkan badannya sedikit ke belakang, mengingat jaraknya dengan Jaebum tidak bisa dibilang jauh. Dan tak lama, Jaebum menjulurkan tangannya, menyentuh kening Jinyoung dengan berkata "Aku rasa kau sedang tidak enak badan..."
Lagi-lagi Jinyoung hanya bisa diam. Tubuhnya menegang begitu tangan Jaebum menyentuh kulitnya. Ditambah dengan jarak yang cukup dekat membuat ia menahan napasnya. Sedangkan yang di belakang ㅡ Jackson dan Yugyeom ㅡ melihat kedua orang itu hanya dengan ber 'wow' ria.
"Kau ㅡ" tidak disangka, tiba-tiba saja pandangan Jinyoung teralihkan pada seorang anak yang tengah memandangnya dari balik jendela kelas. Anak yang sempat ditemuinya kemarin di atap. Wajah pucatnya menatap Jinyoung datar.
Dengan cepat, Jinyoung melepas tangan Jaebum dan berlari menuju keluar kelas sebelum anak itu menghilang pergi entah kemana. Jaebum, Jackson, dan Yugyeom yang melihatnya, hanya menatap dengan bingung.
"Jadi... apa yang kau lakukan dengan si anak baru kemarin di atap? Hmm?" tanya Jackson tiba-tiba pada Jaebum yang masih memandang pintu kelas. Tapi ia langsung membalikkan tubuhnya begitu mendengar suara Jackson.
"kalian?!" pekik Jaebum terkejutㅡ tidak tahu jika Jackson dan Yugyeom sudah duduk di belakangnya sedari tadi. Ia melihat kedua temannya itu tengah menatap dengan alis yang naik turun seolah menggodanya karena tahu dirinya pergi tanpa berbicara apapun hanya untuk menemui Jinyoung di atap.
"Hhhh~ tidak ada. Aku hanyaㅡ"
"Eheeyy jangan bohong~ kau pikir kami tidak tahu menahu tentang hubunganmu dengan Jinyoung yang sekarang sudah semakin dekat saja huh?" Yugyeom tersenyum mengejek.
"Bukanㅡ"
"HAHAHAHAA akhirnya, seorang Im Jaebum tertarik juga dengan si anak baru itu! Sudah kuduga! Pantas saja kau menolak siswi-siswi disini, jadi kau sudah menyukai orang lain yang ternyata si anak baru hahaa" suara Jackson menggelegar memenuhi seisi kelas. Ia tertawa penuh kemenangan lalu ber high-five dengan Yugyeom yang juga tertawa tapi tidak seheboh anak itu.
Melihatnya, membuat Jaebum ingin melempar kedua temannya itu keluar jendela.
"Berisik! Lebih baik kalian kerjakan lagi tugasnya, bodoh!" bentak Jaebum yang langsung memukul kepala Jackson dan Yugyeom bergantian dengan buku yang dipinjamnya. Yang dipukul pun hanya mengeluh kesakitan sambil mengelus-elus kepala. Lalu Jaebum melemparkan buku miliknya ke meja kedua anak itu dan berjalan keluar kelas dengan menggebu-gebu.
"Yaak! Kau mau pergi kemana? Memang tugasmu sudah selesai?"
"Kuserahkan pada kalian! Lihat saja kalau tugasku belum selesai!" setelah itu, Jaebum pun menghilang dari balik pintu, meninggalkan Jackson dan Yugyeom yang mulai ribut karena tidak ingin mengerjakan tugas bagiannya.
ㅡ
ㅡ
ㅡ
Setelah berlari kesana kemari mencari sosok yang sempat muncul di depan kelasnya itu, Jinyoung pun bertekad untuk mencari ke atap. Karena setelah ia tepat keluar dari kelas, tiba-tiba lelaki itu menghilang entah kemana tanpa jejak.
Langkah kakinya tertahan begitu Jinyoung berada di depan pintu atap. Sesaat pikirannya melayang pada perkataan Jaebum kemarin siang begitu keduanya meninggalkan tempat itu. Jinyoung ingat, Jaebum berkata jika atap gedung sekolah ini sempat dijadikan tempat bunuh diri.
Beberapa bulan lalu, seorang guru dari klub seni mengakhiri hidupnya dengan terjun dari atap dan meninggal dengan keadaan tragis. Jaebum juga berkata jika guru itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya begitu saja karena diduga frustasi akan kejadian-kejadian yang tidak masuk di akal menimpa sekolahnya. Entah itu menimpa para murid, guru, ataupun keluarga dari yang bersangkutan.
Tatapan Jinyoung pun teralihkan pada sebuah garis kuning yang sebelumnya dilihatnya kemarin siang ㅡ masih bertengger di antara dua pegangan tangga. Lalu matanya berputar menatap ke sekitarnya.
Gelap. Itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan suasana tempat dimana ia berdiri sekarang. Semenjak kejadian bunuh diri itu mungkin yang menjadi penyebab lantai atap maupun tangga menjadi terlihat tidak pernah terurus.
Tanpa menunggu lagi, Jinyoung langsung membuka pintu dengan rasa takut yang tiba-tiba menyelimutinya.
Kreek..
"Mencari seseorang hm?"
DEG! Ia terperanjat dan mengangkat kepalanya begitu mendengar suara yang agak berat di telinganya.
"..." Jinyoung terdiam selama beberapa detik memandang anak yang menatapnya datar sambil menaruh kedua tangannya di kantung celana.
Masih tidak ada respon dari Jinyoung, anak yang ternyata Mark itu, membuka suara lagi.
"Kita bertemu lagi Park Jinyoung" Mark menekan suaranya saat menyebutkan nama Jinyoung. Dan juga dengan senyum yang terulas di wajah tampannya, membuat Jinyoung tanpa sadar ikut menyunggingkan senyumnya.
"Heeuungg.. Aku... ani... kau..." entah ada apa dengan Jinyoung kini, ia malah terlihat gugup sendiri semenjak melihat kehadiran Mark yang tiba-tiba. Jinyoung menelan ludahnya kasar. Ingin mencoba membalas perkataan Mark, tapi ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.
"Kau... se-sedang apa disini? Kau tidak... masuk kelas?"
Mendengar pertanyaan polos Jinyoung, Mark hanya tersenyum kecil lalu berjalan menuju balkon atap sambil berkata, "Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu?"
"Eh?" Jinyoung melirik jam tangan yang terlingkar di lengan kanannya. Waktu menunjukan pukul 7 lewat 15 menit. Seketika matanya membulat. Ia bahkan tidak mendengar bel yang sudah berbunyi sejak tadi.
Tanpa mengatakan apa-apa, Jinyoung pun bermaksud untuk kembali ke kelas. Tapi perkataan Mark membuat ia jadi mengurungkan niatnya.
"Kau mau kemana huh? Kembali ke kelas? Kau tidak tahu kalau Kim Soensangnim akan menghukum anak murid yang terlambat masuk ke kelasnya?" Mark membalikkan badannya dan tersenyum ringan pada Jinyoung yang berjalan menghampirinya.
"Lebih baik tidak usah masuk sekalian daripada disuruh berdiri di depan kelas" tambah Mark entengㅡ mengingat dulu dia pernah berdiri di depan kelas selama 2 jam bersama Jaebum, Jackson, dan Yugyeom.
"Kau tahu darimana kalau sekarang jam Kim Saem?"
"Err.. itu tidak penting, oh ya kita belum berkenalan bukan? Namaku Mark. Mark Tuan" Mark mencoba mengalihkan pembicaraan dengan memperkenalkan dirinya. Lelaki itu mengulurkan tangannya tapi Jinyoung kelihatan sedikit ragu.
"Ah haha tidak apa-apa" Mark tertawa kaku. Mengingat Jinyoung tidak bisa menyentuh tubuhnya kemarin, ia pun kembali menarik tangannya. Terlihat ada kekecewaan dalam sorot mata Mark.
Jinyoung tersenyum kikuk, "A-a-aku Park.. Jinyoung"
"Aku tahu. Kau anak baru kan?"
"Eh? Kau tahu darimana aku anak baru?" tanya Jinyoung menatap Mark antusias. Tidak hanya soal jadwal kelas Jinyoung yang Mark tahu, ia juga mengetahui kalau dirinya adalah murid baru di sekolah itu. Membuat Jinyoung semakin penasaran wujud sebenarnya seorang Mark Tuan.
Terlihat bola mata Mark berputar menatap langit cerah pagi itu, "Itu.. aku hanya menebak saja. Dan ternyata benar! Kau tidak pernah tahu kehebatan seorang Mark yang bisa membaca seseorang haha" Mark tertawa garing yang diikuti tawa Jinyoung.
"Tapi apa tidak apa-apa jika tidak masuk kelas? Aku takut jikaㅡ"
Mark mengalihkan pandangan diikuti helaan napas panjangnya. Ia tahu betul tipe-tipe Jinyoung yang jarang sekali tidak masuk kelas. Terkecuali untuk alasan tertentu.
"Hei aku rasa kau belum pernah membolos ya?" sindir Mark.
"Yaah kalau memang tidak punya halangan kenapa tidak berangkat sekolah?"
Mark hanya mendecakkan lidah mendengarnya. Lalu lelaki itu mendekatkan bibirnya ke telinga Jinyoung, "Mungkin kau masih bisa berkata seperti itu sekarang, tapi aku tidak yakin untuk keesokannya"
"Hm?" Jinyoung menatap bingung Mark yang sudah menarik wajahya. Ia melihat seringaian di wajah lelaki itu.
"Apa maksud... hu-hujan!" teriak Jinyoung tiba-tiba setelah merasa ada sesuatu yang basah menyentuh kepalanya. Dirinya terlihat panik melihat hujan turun semakin deras ㅡ tidak menyadari Mark yang sedari tadi hanya diam memandangnya.
Aneh memang. Padahal sebelumnya cuaca pagi itu cerah dan tidak muncul tanda-tanda akan datangnya hujan besar seperti ini.
"Mark ayo masuk!" Jinyoung berlari menuju pintu sambil menutup kepalanya dengan telapak tangan.
Begitu ia mencoba membuka pintu atap yang sempat tertutup, Jinyoung membelalakkan matanya. Pintu itu tidak bisa dibuka. Sambil mencoba membuka pintunya, Ia mengigit bibirnya karena dingin mulai menyelimutinya. Tanpa disadari baju seragamnya pun sudah basah kuyup.
"Ah bagaimana ini!? Siapapun! Tolong buka pintunya!" pekik Jinyoung sambil menggedor-gedor pintu atap.
Mark memutar bola matanya, ia lupa pada jam-jam seperti ini pintu atap dikunci oleh petugas sekolah karena takut ada murid yang bolos jam pelajaran dan melakukan hal-hal aneh disana. Lelaki itu pun berputar-putar mencari tempat yang bisa dijadikan tempat berteduh.
"Jinyoungie! Disana! Bawah meja cepat!" teriak Mark dalam bisingnya suara hujan pagi itu. Ia menunjuk ke arah kumpulan meja dan kursi yang terletak di sudut atap. Jinyoung menoleh dan melihat Mark sudah berlari ke arah meja-meja itu.
Dengan cepat Jinyoung masuk dan berteduh di bawah meja-meja itu disusul Mark. Karena tempat yang bisa dibilang sempit, mereka pun duduk saling berdempetan di bawah meja. Mark bahkan bisa merasakan deru napas Jinyoung yang tidak beraturan akibat berlari-lari tadi.
"Ka-kau ti..dak apa-apa?" Mark melihat wajah pucat Jinyoung dengan khawatir. Baju seragamnnya benar-benar basah kuyup. Ada rasa ingin berbagi kehangatan dengan menggenggam kedua tangannya, tapi Mark bisa apa dengan keadaan dirinya yang tidak memungkinkan untuk melakukannya.
Jinyoung tersenyum getir, "Aku tidak apa-apa" sambil menggosok-gosokan telapak tangannya, ia menjawab. Tak lama Jinyoung merasa ada sedikit kehangatan yg mulai menjalar di tubuhnya setelah lama menggosok tangannya.
"Tapi bajumu basah Jinyoung"
"Mungkin aku bisa memakai jaket. Jaket ku tertinggal di kelas" Jinyoung mencoba menunjukan senyumnya pada Mark yg sedari tadi memandangnya khawatir.
Mark terdiam. Terbesit dalam pikirannya jika ini murni kesalahannya. Kalau saja ia membiarkan Jinyoung masuk ke kelasnya, mungkin keadaannya tidak sampai seperti ini. Biarkan Jinyoung mendapat hukuman daripada harus kedinginan disini. Bagaimana kalau anak itu jatuh sakit (lagi)?
Sesaat keduanya terdiam selama beberapa detik. Diam-diam Jinyoung melirik Mark sambil memeluk lututnya. Terlihat Mark tengah menatap derasnya hujan dalam diam. Jinyoung akui lelaki itu memang memiliki paras wajah yang sangat tampan apalagi bila diperhatikan dari samping seperti sekarang ini. Membuat Jinyoung tersenyum sendiri melihatnya.
Terkadang ada rasa ingin menanyakan sesuatu pada Mark yang menghampirinya. Sebenarnya sudah dari kemarin Jinyoung ingin menanyakan apa yang terjadi pada Mark. Kenapa mereka tidak bisa melakukan kontak langsung? Itulah pertanyaan yang terus merasuki pikirannya. Tapi takut pertanyaanya itu malah membuat jarak dengan Mark. Dan Jinyoung mungkin tidak akan bertemu dengan lelaki tampan itu lagi.
"Jangan memandangku seperti itu" ujar Mark tiba-tiba. Jinyoung pun langsung mengalihkan pandangannya ke depan dengan pipi memerah ㅡ malu.
Tidak ada suara lagi dari Mark, Jinyoung lagi-lagi meliriknya dan mengalihkan pandangannya kembali begitu tahu Mark menoleh ke arahnya.
"Memang kau pindahan dari mana?"
"Apa?"
"Kau pindahan dari mana Jinyoung?" ulang Mark. Ia mencoba membuka percakapan setelah lama sama-sama mengatupkan mulut. Mungkin keduanya akan terus diselimuti keheningan jika Mark tidak lebih dulu membuka mulutnya.
"Aku pindahan dari Busan, ah tidak tepatnya dari Mokpo" ralat Jinyoung cepat. Mark menaikkan sebelah alisnya, "Jadi sebenarnya kau pindahan dari mana? Busan atau Mokpo?"
"Sebenarnya aku berasal dari Busan. Tapi karena pekerjaan ayahku, kami terpaksa pindah ke Mokpo, lalu tak lama, kami pindah ke Kangnam" jelas Jinyoung sambil memutar bola matanya, seolah sudah lelah karena dirinya harus pindah sekolah juga beberapa kali.
Mark terlihat menganggukan kepalanya.
"Kau? Bisa kutebak kau pindahan dari negeri jauh" Jinyoung menatap Mark yang tertawa kecil.
"Hahaha bingo! Aku pindah ke sini sejak masih duduk di bangku SD. Sudah lama bukan? Tapi masih saja bahasa korea ku di bawah standar haha" Mark tertawa renyah membuat Jinyoung tanpa disadari ikut tertawa.
"Haha tidak apa-apa. Aku bisa mengajarimu lain waktu"
Mark terdiam dan kembali membuka percakapan baru, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Dan sejak Mark membuka obrolan itulah Jinyoung terlihat sedikit membuka diri pada Mark, anak lelaki yang sebenarnya belum tahu asal usul ditambah wujud diri seorang Mark Tuan.
Seolah lupa dengan masalah membolosnya di pelajaran Kim Soensangnim, Jinyoung terus berbicara, dan juga menceritakan masalah kehidupan sekolah yang sempat menimpanya saat pertama kali pindah ke sekolah baru ㅡ meskipun Jinyoung terpaksa pindah ke sekolah baru lagi karena masalah pembullyan.
Terkadang lelaki pendiam itu tidak ragu untuk tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon garing Mark. Dan tanpa disadari, perlahan Jinyoung mulai merasa nyaman dengan Mark. Meskipun ia sama sekali tidak mengetahui siapa dan berada di kelas mana anak itu.
Jinyoung bahkan tidak menyadari hujan deras sudah berhenti beberapa menit yang lalu setelah cukup lama mengguyur sekolahnya pagi itu.
ㅡ
ㅡ
ㅡ
Jinyoung duduk termenung di halte sambil menunggu bis-nya tiba. Terkadang ia menoleh ke arah Bambam yang duduk di sebelahnya, tengah sibuk mengetik sesuatu di atas layar ponselnya.
Semenjak kejadian dimana Yugyeom menumpang payung pada Bambam beberapa hari yang lalu, Jinyoung perhatikan kedua orang itu semakin dekat saja. Membuat dirinya terkadang bosan karena Bambam terus berceloteh tentang Yugyeom padanya.
Tanpa sadar Jinyoung memegang baju seragam yang dikenakannya. Kedua matanya memandang baju sebelah kirinya, tepat di sebuah nametag yang bertuliskan Im Jae Bum disana. Jinyoung mendesah pelan.
Semuanya bermula di saat istirahat makan siang ㅡ Jinyoung baru turun dari atap saat itu.
Bajumu basah, kau abis dari atap lagi? Apa yang kau lakukan heh? Kau juga tidak masuk kelas karena terkunci di atap?
Bukan urusanmu
Ini pakailah baju seragamku. Biar aku yang pakai jaketmu
...
Cepat sebelum kau masuk angin Jinyoung
... tidak usah sok berbaik hati padaku. Aku masih bisa pakai jaketku sendiri
Jam selanjutnya Park Soensangnim, dia akan marah kalau kau tidak memakai baju seragam
Eh? Masa aku harus membolos lagi...
Ya makanya cepat ganti bajumu sana! Sebelum bel istirahat selesai!
La-la-lu kau.. baga-bagaimaㅡ
Aku tidak apa-apa, setidaknya aku masih bisa mencari banyak alasan saat ditanya nanti oleh Park soensangnim
Ck, oke oke aku akan memakai bajumu! Aku akan mengembalikannya secepat mungkin
Haha santai saja, tidak usah terburu-buru
Jinyoung mendecakkan lidahnya mengingat percakapan bodohnya dengan Jaebum tadi siang. Sesaat ia merasakan aroma mint menusuk hidungnya. Jinyoung menoleh ke sebelah kirinya, mempertajam penciumannya di sekitar Bambam, tapi ia malah mencium aroma vanilla.
Ia pun menarik baju yang dipakainya dan seketika ia mencium aroma mint yang ternyata berasal dari baju Jaebum.
Bukankah ini baju bekas pakai tadi ia bermain basket? Batin Jinyoung. Sesaat ada sedikit ulasan senyum di wajahnya. Tapi lelaki itu langsung merubah raut wajahnya cepat.
Paling ini baju yang sudah lama tersimpan di lokernya
Jinyoung kembali mengedarkan pandangannya lurus ke depan, menatap ramainya jalanan petang itu.
Entah karena waktu yang mendekati malam atau cuaca yang memang sedang mendung saat itu, terlihat awan-awan gelap menggumpal di langit. Sepertinya setelah hujan reda tadi siang, langit tidak memperlihatkan lagi matahari siang itu.
Melihatnya, mengingatkan dirinya pada kejadian tadi pagi dengan Mark.
Jinyoung pun menatap Bambam yang masih sibuk dengan ponselnya sambil tersenyum tidak jelas. Ada rasa ingin menanyakan tentang seorang Mark Tuan pada temannya itu, tapi entah kenapa ia merasa tidak yakin dengan pertanyaannya. Apa Bambam juga tidak tahu menahu tentang Mark sama seperti Jaebum?
"Bambam...?" panggil Jinyoung pelan.
"Yaa?" sahut Bambam tanpa menoleh ke arah Jinyoung, "Bis-nya sudah datang?"
"Belum" jawab Jinyoung.
"Lalu?" Bambam menoleh dan menatap Jinyoung kini. Ada sedikit keraguan yang nampak di wajah temannya itu.
"Sebe..narnya ada yang ingin.. kutanyakan"
"Tanyakan saja, soal apa huh? Pelajaran? Atau... soal Jaebum?" tanya Bambam dengan sedikit menggoda. Tapi ia langsung memasang wajah seriusnya begitu Jinyoung menatapnya tajam.
Bambam menyimpan ponselnya di kantung celana seragamya dan menatap Jinyoung seolah menunggu pertanyaan apa yang keluar dari bibirnya.
"Apa.. kau mengenal... Mark? Mark Tuan?"
"..."
Sesaat hening selama beberapa detik. Tidak ada respon apapun dari Bambam. Lelaki itu terdiam mendengar pertanyaan Jinyoung. Berbagai pikiran tentang Mark Tuan, dirinya, dan Jinyoung menumpuk dalam kepalanya kini. Tidak. Sekarang ini, Bambam hanya berpikir apa yang terjadi jika dirinya kelepasan berbicara soal Mark Tuan.
Apa ia akan mati hari ini? Atau malah anak yang duduk di sebelahnya itu.
Dan juga satu pertanyaan hinggap dalam kepalanya
Bagaimana Jinyoung bisa tahu Mark Tuan?
Seperti pada kesepakatan pihak sekolah sebelumnya. Mereka menganggap kematian Mark Tuan tidak pernah terjadi. Karena setelah beberapa hari kematian anak itu, berbagai kejadian aneh muncul di sekolah. Kejadian yang menyebabkan kematian orang-orang yang bersangkutan dengan sekolah itu.
Anak murid, hingga kepala sekolah di sekolah Kangnam High School sepakat untuk tidak pernah membahas kematian Mark Tuan.
Dan hal itu menjadi rahasia umum bagi pihak sekolah. Tidak ada yang mengetahui hal seperti itu selain yang bersangkutan. Entah itu penduduk yang tinggal di sekitar sekolah itu. Tidak ada yang tahu hal mengerikan yang menimpa sekolah Kangnam High School.
Tanpa sadar kedua mata Bambam menatap ke sekitar, mulai ketakutan sendiri. Dan seperti biasa, semuanya berjalan normal, tidak ada yang mencurigakan dengan keadaan di sekitarnya.
Tak lama, bis yang mereka tunggu datang. Bambam melebarkan matanya, "Ah! bisnya sudah datang! ayo Jinyoung!" Ia pun langsung bangun dari duduknya dan menghampiri bis yang berhenti di depan matanya.
Lelaki itu merasa sepertinya ia sudah keluar dari pertanyaan mengerikan Jinyoung. Dan juga setidaknya ia bisa aman dan berharap Jinyoung tidak menanyakan hal yang sama di bis nanti.
Sekarang ini, Bambam hanya ingin bisa sampai di rumahnya dengan selamat.
Tapi sepertinya maut hampir saja menghampiri Bambam kalau saja saat itu Jinyoung tidak cepat-cepat mendorong Bambam masuk ke dalam bis.
Tin.. tin..!
Sebuah motor dari arah kanan tengah membawa kaca besar dan berjalan ugal-ugalan karena tidak bisa menyimbangi kaca yang dibawanya.
"Bambam awas!" teriak Jinyoung yang langsung berlari dan mendorong Bambam hingga keduanya jatuh di pintu masuk bis.
Prang...
Kaca besar itu pun jatuh dan pecah berhamburan tepat di depan pintu bis.
Bambam hanya terdiam melihat pemandangan yang berada di hadapannya itu. Wajahnya memucat. Matanya yang melebar mulai terlihat memerah melihat banyaknya serpihan pecahan kaca-kaca itu. Tubuhnya gemetar dan detak jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.
Bambam memang sudah menduga hal ini sebelumnya. Akan ada sesuatu yang terjadi, entah itu pada dirinya atau Jinyoung.
Entah apa jadinya jika Jinyoung tidak cepat mendorongnya saat itu, mungkin badan kecilnya sudah tertimpa kaca besar itu.
"Bambam, kau tidak apa-apa?" tanya Jinyoung di sela-sela mengatur napasnya. Ia menatap Bambam yang hanya diam tak bergeming. Jinyoung memegang pundak Bambam mencoba meyakinkan kalau temannya itu baik-baik saja, tapi ia mendapati pundak Bambam bergetar.
"Bamㅡ"
"Aku.. tidak mau mati Jinyoung! Aku tidak mau mati! aku masih mau hidup! Jinyoung tolong aku... aku takut huhu..."
Bambam menangis.
"BamBam kau kenapa?" Jinyoung menatap Bambam ㅡ tidak mengerti dengan ucapannya.
"Aku takut Jinyoung... aku takut... aku tidak mau jadi korban... Jinyoung... aku benar-benar takut.. aku belum mau mati huhuuhu..." Bambam berkata di sela tangisnya.
"BamBam tenanglah" ujar Jinyoung yang mencoba menenangkan Bambam dengan merengkuh pundaknya. Sambil menepuk-nepuk pundak Bambam, pikiran Jinyoung terfokuskan pada sederet kalimat yang baru saja dikatakan lelaki itu.
Mendengar kata korban, ia jadi ingat anak lelaki yang jatuh di tangga beberapa hari yang lalu.
Apa maksud Bambam, ia tak mau jadi korban kematian setelah anak itu? Sebenarnya ada apa ini? Kematian beruntun?
Jinyoung pun bangkit dari duduknya dan membantu Bambam untuk berdiri. Lalu ia masuk ke dalam bis dan mengambil tempat duduk paling belakang. Selain ia tak mau membuat banyak orang menunggu untuk masuk ke dalam bis, Jinyoung juga ingin cepat pulang untuk mencari tahu apa yang terjadi pada sekolah yang baru ditempatinya itu.
Jinyoung menatap ramainya orang melihat di halte itu karena kejadian baru saja. Juga dengan Bambam yang tiba-tiba saja menangis membuat orang-orang disana bertanya-tanya ada apa dengan anak itu.
Tapi tidak dengan beberapa siswa Kangnam High School yang juga sedang menunggu bis di halte itu. Mereka memandang Bambam kasihan sekaligus ketakutan. Mereka takut jika kecelakaan itu memakan korban (lagi).
Bis pun berjalan. Jinyoung sibuk menatap gedung sekolahnya yang perlahan mulai menggelap karena satu-persatu lampu dimatikan. Sementara Bambam masih terdiam duduk di sebelah Jinyoung.
Tak lama, kedua pasang mata Jinyoung menangkap seseorang yang berdiri di dalam keramaian anak-anak pulang sekolah. Ia terperanjat, hampir bangun dari duduknya melihat lelaki itu.
"Mark?" ucap Jinyoung dalam hati. Ia melihat Mark yang tengah menatapnya dengan tatapan yang sama saat di koridor hari itu. Ia ingat Mark juga berada di tempat kejadian saat kecelakaan di tangga beberapa hari yang lalu.
Ia melihat semuanya? Kenapa Mark selalu datang di saat-saat seperti ini? Atau dia...?
Jinyoung membalas tatapan Mark dengan banyaknya pertanyaan yang menumpuk di kepalanya. Sampai sosok Mark menghilang dari pandangannya, Jinyoung terus dihantui pertanyaan-pertanyaan tentang semua kejadian yang dialaminya selama ia bersekolah disana. Juga tentang Mark Tuan.
Sesaat pikiran Jinyoung melayang pada kejadian aneh di kamarnya hari itu. Kini muncul pertanyaan baru di kepala Jinyoung.
Apa aku benar-benar juga akan menjadi korban nanti?
.
.
.
.
.
.
TBC
Finally, chapter 4 update juga hihihi ㅎㅎㅎ maaf kalau kelamaan updatenya karena mau detik-detik persiapan uas TT /malah curhat/ tapi akhirnya chapter ini bisa terselesaikan kkk
Juga thanks banget yang udah mau review, follow, dan fav this story!
Oke, terakhir ditunggu review-nya yaa XD
