[ "Il Fortunello" Spin Off/Side Story I ]
• La Noblesse •
[ oneshot ; b x b ; bts ; bahasa ; namjin ; smut/m/nc-17 (just in case) ]
Sejak dulu Seokjin mengerti. Bahwa tak satupun kepentingan di dunia yang bermakna setara dengan satu kali kesempatan hidupnya; terkecuali laki-laki itu.
a/n: alhamdulillah ya kali ini beneran dituntasin rencana mo buat cerita sampingan versi namjin dari chapter lalu. semoga tidak lebih mengecewakan dari yang kemaren, dan semoga setelah ini versi vkook-nya juga bisa dituntasin. aamiin.
tapi maaf ya kalo ada sedikit adegan M straight-nya di awal, semata cuman buat mendukung ceritanya aja kok. :") kalo beneran gakuat, gapapa langsung lewatin aja, okey? jangan dipaksa yaa.
oiya. ada baiknya temen-temen yang belum baca dua chapter sebelumnya yang judulnya "Il Fortunello" monggo dimampirin biar jadi lebih ngerti aja keterkaitan ceritanya, sama mudeng dengan istilah-istilah asing (?) yang ada hehe. namanya juga cerita sampingan khan. (sekalian promosi ceritanya wqwq)
[ WARNING ] straight m/smut scene implied. fast-paced (rasa-rasanya). sama takut ngebosenin aja.
.
.
.
.
.
.
.
#
"Jadi kekasihku bukan sesuatu yang sulit 'kan?"
"Tentu saja."
"Kau tahu... aku membutuhkanmu."
"Ya. Aku tahu."
.
.
.
.
.
.
.
# one year ago
"Excuse me." Tiga kali ketukan di pintu yang terbuka sedikit. "Mr. Namjoon."
"Hey... s-someone's com-ing..." samar-samar suara desakan putus asa dari balik dinding kamar. Sesekali diselingi hembusan nafas yang juga putus asa. Serta gemerisik bunyi kasur dan selimut.
Butuh beberapa menit sampai akhirnya si empu-seorang laki-laki tampan yang bertelanjang dada-sedikit berteriak dari balik kamar untuk menyuruhnya masuk.
"Come in."
Seorang gadis yang notabene pelayan rumah menundukkan kepala, secara kasual-formalis melakukan kegiatan merapikan kamarnya. Mengelap jendela. Menyapu debu yang tak seberapa.
"Lain kali bolehkah kuminta padamu menutup pintu?" Wanita yang tadi mengeluarkan desakan putus asa, menyampir rambutnya yang sedikit berantakan dengan wajah yang sedikit merah. Tubuhnya hanya ditutupi selimut hingga ke dada.
Laki-laki bertelanjang dada menyeringai. "Tidak usah sungkan." Kembali ke tempatnya di atas kasur. Kembali berciuman erotis dengan sang wanita. Menghiraukan kenyataan bahwa ada sepasang mata lain di kamarnya.
Setelah beberapa saat, laki-laki itu baru ambil peduli dengan keberadaan sepasang mata tersebut.
"Hei."
Menyapanya sambil memijat payudara wanita di pelukannya seolah hal yang lazim.
"Sudah berapa lama kerja disini?"
Pelayan itu melirik sebentar, kemudian menundukkan pandangan lagi. Sulit baginya untuk berpura-pura tidak tahu dengan adegan ranjang yang terpapar jelas di depannya.
"Sa- satu minggu, Sir."
"Oh. Baru satu minggu."
Gadis itu menganggukkan kepalanya pelan, kembali melanjutkan pekerjaan. Desakan putus asa dari sang wanita semakin terdengar. Pemandangan yang ada semakin membuatnya tak nyaman.
"Oh ya. Siapa namamu, honey?"
Masih mengalihkan perhatiannya, gadis itu menjawab kaku. "E-Evelyn."
"...Evelyn." Senyum laki-laki itu kini terasa sedikit berbahaya. "Nice name."
"Kebetulan aku ada satu permintaan, Evelyn."
Gadis itu menghentikan pekerjaannya, menoleh ke arah Tuannya dengan kagok. Oh, semoga permintaan untuk segera angkat kaki dari tempat ini.
"Duduk."
Diturutinya kehendak sang Tuan untuk duduk di tepi kasur, tepat berada di sebelah wanita yang dicumbuinya itu. Sayang sekali harapannya tak terkabul.
"Now, kiss my girl."
Wajahnya berubah merona. Wanita cantik itu menatapnya, memberinya sebuah tanda yang membuat kesangsiannya meningkat. Satu senyum eksotis.
"Ayolah, jangan terlalu polos." "Salahmu sendiri tidak tahu aturan jangan ganggu waktu pribadiku dari kisaran pukul 21 malam hingga tujuh pagi kalau tidak mau dapatkan hukuman. Pelayan yang lain tidak beritahu ya?"
Gadis itu hanya bisa diam di tempatnya. Hanya bisa bertanya dalam hati jika ada peraturan semacam itu di singgasana miliknya ini.
"Tapi tidak perlu khawatir. Aku akan memberikan pagi yang terbaik sepanjang hidupmu." "There, baby. Jinakkan dia."
Sang wanita itu kemudian membisikkan sejumlah kata yang membuat mata mengernyit, yang seketika teralihkan oleh kecupan lembut yang tiba di bibirnya, sehingga tak ada yang lain lagi yang dapat dia lakukan selain pasrah menyerahkan nasibnya pada keadaan asing ini.
Yang tak akan lagi asing di lembar hidupnya yang berikutnya.
.
.
.
.
.
.
.
# present
- Fontleroy South Korea (kalangan pria) -
A: "Luar biasa semalam. Empat kosong dengan bersih perlawanan."
B: "Ya, ya, teruslah kalian team Madrid berbangga dengan kemenangan berat sebelah."
A: (tertawa) "Ada tidaknya Messi di lapangan, yang penting performa pangeran Ronaldo luar biasa, kawan."
B: "Kau dengar? Monster Highness juga menang banyak di Siena kemarin."
A: "Apa? Pacuan kuda? Tsk, malah heran jika dia tidak."
B: "Apalagi di ruang VVIP saat afterparty. (ekspresi malas) Soojung sudah pasti. Buka akses lebar-lebar depan The Great Emperor."
A: (tertawa keras) "Selamat tinggal, harga diri."
B: "Bukan begitu. Anak presdir Chevronn incaranmu juga hadir disana."
B: "Dan yah, selamat, dia sudah pasang sinyal ke beliau."
A: "...sudahlah, ambilkan aku obat tidur biar puas bermimpi jadi CEO Fontleroy."
.
.
.
.
.
- Fontleroy South Korea (kalangan wanita) -
C: "Cowok tidak tahu malu itu enaknya diapakan, ya."
D: "Dibakar rumahnya."
E: "Disantet."
F: "Disunat dua kali."
E: "Kenapa lagi dengan Minho?"
C: (menghela napas) "Klasik. Kelakuan cowok tak tahu malu."
D: "Sudah, pacari saja dewa, Monster Highness. Bahagia lahir batin."
E: "Sayangnya dewa cuma mau bidadari."
F: "Atau model Victoria Secret."
D: "Cek koran besok, siapa tahu ada berita judulnya 'Demi Meraih Cinta The Big Boss di Kantor, Keempat Karyawan Wanita Menggalakkan Aksi Diet Ekstrim dan Operasi Plastik Berjamaah.'"
F: "...'Yang Diketuai Oleh Gadis Berinisial BSJ.'"
C: "Enak saja."
.
.
.
.
.
- Media Bisnis Nasional Korea Selatan -
SATU LAGI, CEO DENGAN GEBRAKAN GILA
'Lord of The Wagon': "Metode Jam Kerja Produktif Bagi Karyawan, 250% Efektif"
(laman bawah) Simak berita Selanjutnya: Kiat Sukses Pria yang membawa Fontleroy menduduki tangga puncak Perusahaan dengan Aset Tertinggi di Korea
.
.
.
.
.
.
.
- Media Bisnis Internasional -
The Great Emperor of Fontleroy South Korea: "Motivation, Hardwork, Luck; Successful Millionaire Starter Pack"
.
Forbes Exclusive: The Monster Highness, South Korean Extravagant
.
Bloomberg: Meet The No. 1 Harvard Law School Alumni, Fontleroy South Korea CEO: From Zero To Hero
.
.
.
.
.
- Ruang kerja CEO Fontleroy -
Seokjin mengambil jas dan dasi yang terletak di sofa. "Regulasi baru quality control sudah ditetapkan?"
"Beres."
Seokjin mengambil lembaran dokumen di atas meja, menyimpannya di dalam satu map cokelat. "Update kenaikan harga pasar sudah di follow up?"
"Already."
Seokjin mengambil handphone dan bolpoin di atas nakas. "Proposal kerja sama dengan pihak sponsor untuk ulang tahun MBC TV sudah ditandatangani?"
Si empu mengangguk-anggukkan kepala.
"Sudah ada validasi dari Chairman?"
"Masih saja sok formal dengan Ayah."
Seokjin hanya tersenyum mendengar ledekan singkat barusan. Ketiga barang yang telah diambil sebelumnya Seokjin serahkan kepada si empu yang masih menyeruput kopi di atas kursi kerjanya itu.
"Habiskan minumnya." "Jangan lupa jam 10 rapat terbuka dengan komisaris Toyoda Corp."
"Ya, ya, Ma'am. All noted."
Ketika hanya dengan satu langkah lagi bagi si empu-Kim Namjoon a.k.a. Monster Highness-untuk membuka pintu.
"Tunggu."
Seokjin berjalan ke arahnya. Merapikan dasinya. Kerah kemejanya. Menyisir rambut yang masih sedikit berantakan (menurut penglihatannya).
Dan satu yang tidak terlupa.
Mengikat tali sepatunya.
Beginilah keseharian sosok utama dibalik punggung sang jenderal besar. Wakil Presiden Fontleroy sekaligus Direktur Finansial dan Urusan Supervisor di dunia profesional. Sekretaris pribadinya di ruang kerja.
Dan tunangannya di ruang personal.
Betul. Kalau tak ada Master Seokjin, Yang Mulia CEO Yang Agung bisa-bisa hanya tinggal pakaian dalam. Ambil cutter, sayat pergelangan tangan, terjun ke jurang.
.
.
.
.
.
.
.
#
"Ini... permohonan yang amat sangat."
"Katakan saja."
"Kalau jadi kekasihku... bukan sesuatu yang sulit 'kan?"
"...tentu saja tidak."
"Kau tahu... aku membutuhkanmu."
"Ya. Aku tahu."
.
.
.
.
.
.
.
#
"Oh, Master Seokjin."
Jimin menyambut Seokjin yang datang ke ruangan pribadi kekasihnya. Seokjin tersenyum dan balas menundukkan kepala sedikit.
"Siang." "Dimana Master Suga?"
"Sedang kunjungan berkala, Master."
"Oh, karyawan baru?"
"Betul."
Seokjin menggangguk-anggukkan kepalanya pelan, ikut menemaninya duduk di sofa setelah dipersilakan Jimin.
Sebelum deru Air Conditioner dan keheningan saja yang memenuhi ruangan, Jimin dengan tanpa maksud tersembunyi merasa gelar bertahan 'Prudent Adonis' bagi Seokjin sungguh ditujukan bukan tanpa alasan.
Dia memang benar-benar tampan jika dilihat lebih dekat.
Juga indah disaat yang sama.
Lembut yang diiringi ketegasan yang bijak.
Jimin benar-benar mempertanyakan akal sehat Monster Highness kalau berani menyia-nyiakan satu sosok langka di hadapannya ini.
.
.
.
.
.
"Disini kau rupanya, Jin-ah."
Namjoon dengan pembawaan maskulin khasnya menjadi peserta ketiga yang ikut memanaskan kursi sofa ruangan tersebut. Jimin kedua kalinya menundukkan kepala kepada sosok superior. Namjoon menyodorkan tangannya dengan senyum ramahnya.
"Kau yang bernama Park Jimin?"
Jimin membalas sodoran tangannya. "Betul, Your Highness."
"Ho... si maniak mesin sudah banting setir rupanya ke tipe-tipe yang manis menggemaskan," Namjoon mengakhiri godaan kecilnya, membuat Jimin dua kali bersikap malu-malu dengan superior.
"Yah, ada perlu apa kau dengan Yoongi, Jin-ah?" Namjoon bertanya dengan beranjak dari kursi ke arah lemari penyimpanan minum. Mengambil satu botol wiski dan menuangkannya, kemudian kembali lagi ke tempatnya duduk di sebelah Seokjin.
"Tidak, aku hanya ingin berdiskusi pendek soal kualitas produk." Seokjin menutup buku yang dibacanya, merapikan kerah kemeja polo Namjoon, seperti kebiasaan telitinya. "Ada apa sampai kesini?" Tak lupa memberi bisikan peringatan agar tidak terlalu banyak minum.
"Hanya memberimu kabar seperti biasa." "Besok tanggal 25 kan?"
"Ya." "Tanggal 25 Juni, hari Sabtu."
Namjoon mengulas senyum puas di mulut gelas. "Tepat sekali." "Then you know what you have to do, right?"
"Of course." "Menutup jadwalmu sama sekali."
"Definitely. Jangan biarkan siapapun menggangguku, sekalipun panggilan presiden." "Jennifer mengundangku boating. Bianca, Hyori, Ayumi, Wening, dan lain-lain sudah siap memberi jamuan. Rombongan eksekutif lain juga ikut."
"And yeah," Namjoon menelan tegukan wiskinya yang terakhir dengan tenang. Meletakkan gelasnya dengan satu bunyi ketukan di atas meja, lalu berpose membentangkan tangan lebar-lebar dengan ekspresi riang, "I'll be definitely wasted to good."
Seokjin mengangguk-anggukkan kepala, sudah paham betul apa yang dimaksud, seperti yang tercatat rapi dalam otaknya.
"Thankyou, dear." Namjoon mengecup keningnya. Seokjin memejamkan matanya sebentar.
"Ya. Sama-sama."
Jimin mengernyitkan keningnya. Merasakan keanehan yang entah mengapa semesta menyelimuti udara. Atas apa yang ada di hadapannya barusan.
Semakin sangsi saat Namjoon pamit keluar, mencium gadis yang terlihat telah menunggunya. Gadis yang diketahui dengan baik oleh Seokjin sebagai mantan pelayan rumah sang jenderal besar yang telah menduduki pangkat sebagai 'pacar perempuannya yang kelima'. Evelyn.
.
.
.
.
.
Jimin jadi teringat saat-saat Masquerade Ball dulu. Saat dirinya tengah mengamati kursi kehormatan. Ingatan yang masih segar hingga saat ini.
Master Seokjin yang bersama seorang wanita.
Kekasihnya, sang CEO pun demikian.
Bedanya beliau disanding oleh tiga orang. Dan terlihat mesra.
Otaknya secara otomatis berpikir keras.
Apakah memang para cendekiawan nomor satu Harvard menjalin hubungan asmaranya sedemikian rupa?
"Kenapa?"
Pertanyaan singkat dari Yoongi-yang telah menyelesaikan urusannya dengan karyawan baru dan Seokjin-mendadak membuyarkan imajinasinya.
Jimin terdiam untuk sementara.
.
.
.
.
.
"Kamu... apa tidak heran?"
Yoongi menatapnya lekat. Menunggu kalimat selanjutnya saja.
"Monster Highness dan Master Seokjin." "Bukankah... mereka bertunangan?"
Yoongi kali ini menatapnya dengan isyarat berbunyi 'tahu darimana kabar semacam itu?'
Jimin berusaha mencari jawaban yang cocok. Lupa dengan fakta bahwa hal tersebut bukanlah konsumsi khalayak luas.
"Insider." (Tentu, Jimin tak ingin merusak reputasi sahabatnya (yang membocorkan gosip ini pertama kali) kalau dia bilang jujur 'rekan di kantor'.)
Yoongi memasang ekspresi semestinya dia tidak bertanya hal yang tak perlu.
"...itu hanyalah hal yang semestinya dipahami oleh yang bersangkutan saja."
Jimin hanya diam.
Dalam hati memutuskan untuk menyetujui pernyataan sang Master.
"Daripada itu." Yoongi menarik pinggang sang kekasih, mendekatkan wajah seraya memiringkan kepala. Sedikit menjulurkan lidahnya, bertanya dalam komunikasi tersirat. Tubuh Jimin yang secara malu-malu menghangat membalas juluran lidahnya, sepenuhnya menyanggupi sentuhan yang mengawali intimasi selanjutnya.
Tak lupa dalam hati bersyukur telah menjalin hubungan asmaranya dengan cendekiawan besar MIT.
.
.
.
.
.
.
.
#
"Ini... permohonan yang amat sangat." "Karena kau sahabatku."
"Katakan saja."
"Kalau jadi kekasihku... bukan sesuatu yang sulit 'kan?"
"...tentu saja tidak."
"Kau tahu... aku memerlukanmu."
"Ya. Aku tahu."
"Terima kasih."
.
.
.
.
.
.
.
#
"Bagaimana boating-nya?"
Biasanya Seokjin bertanya seperti demikian kalau sudah kehabisan bahan pembicaraan.
Dan tanda bahwa dia sedang lelah.
Terkadang rasa bersalah tak bisa dipungkiri oleh Namjoon jika dia pikir telah melewati batas untuk menyerahkan segalanya pada Seokjin.
Tapi Namjoon juga merasa tak bisa benar-benar disalahkan. Seokjin sendiri yang menghendakinya. Bahkan setelah Namjoon memintanya untuk setidaknya menghela nafas, meringankan bebannya.
"Kupikir tak ada yang menandingi waktu kebersamaan kita."
Setidaknya Namjoon harap gombalan picisannya barusan dan segelas kopi buatannya yang baru diseduh dapat mengulas senyum lega bibir tunangannya.
Seokjin memberikannya lebih. Tawa kecil menyenangkan dan ucapan terima kasih.
.
.
.
.
.
"Kau tahu."
"Aku sudah berulang kali kurang ajar memasuki tubuh perempuan." "Tapi tidak ada di antara mereka yang kurang ajar membuka pintu hatiku."
Seokjin tertawa singkat. Rupanya balada gombalan kacangan lelaki ini masih berlanjut.
"Kau tak mau memberikan komentar?"
Seokjin menoleh dengan ekspresi seolah mempertanyakan keseriusannya.
Kemudian memberikan cengiran khasnya.
Dan berlalu.
Namjoon memandangnya pergi.
Pemandangan yang tak pernah berubah. Yang selalu berujung dengan Namjoon mendengus pelan.
.
.
.
.
.
.
.
#
"Maaf, boleh aku duduk disini?"
Jimin menoleh. Bukan sosok yang ditunggunya untuk pulang bersama; sahabat jelitanya, Jeonghan. Melainkan direkturnya yang tampan, Master Seokjin.
"Oh, tentu saja, Master," ucapnya buru-buru mempersilakan.
"Terimakasih." "Sedang menunggu?"
Jimin mengangguk, juga menanyakan Seokjin balik.
Setelahnya di payung teduh ini berlanjut percakapan hangat yang ditemani semangkuk kentang goreng bumbu keju.
.
.
.
.
.
"Sudah berapa lama berhubungan dengan Yoongi?"
Jimin hanya menjawabnya dengan kerjapan mata, sebelum wajahnya menghangat oleh pertanyaan tiba-tiba barusan. Seokjin tersenyum simpul saja.
Jimin berusaha mengurangi sikap malu-malunya. "Sekitar tiga bulan, Master."
"Oh. Hebat." "Biasanya tidak ada yang berhasil bertahan dengannya setelah tiga minggu."
Jimin terkekeh kecil saja setelah mendapat fakta baru mengenai sang kekasih.
"Hoseok juga sama." "Mereka berdua itu pesaing cinta, kau tahu."
Kali ini Jimin memasang ekspresi komikal alaminya.
.
.
.
.
.
"Aku kagum." Seokjin melanjutkan pembicaraan. "Yoongi bukan tipe orang yang bisa jatuh cinta dengan mudah."
Ucapannya terdengar tulus. Jimin berusaha untuk tidak salah tingkah. Dengan pembicaraan persoalan asmara ini, Jimin pun merasa perlu mempertanyakan rasa penasarannya tentang sang Master sendiri.
"Anda sendiri... apakah Anda mencintai Monster Highness?"
Seokjin menatap Jimin sebentar. Jimin yang tidak enak telah bertanya hal yang sifatnya pribadi kagok berbisik maaf.
Walau demikian Seokjin mengerti jika posisinya sebagai figur publik menjadikan situasi dirinya dan Namjoon selain tentunya telah menjadi sorotan, juga gampang dipertanyakan. Tidak perlu merasa terpojok.
Seokjin memutar tatapannya ke atas saja, mengedikkan bahu.
"Aku hanya sudah terbiasa dengan dirinya yang seperti itu."
Seokjin memberikan senyum hangat khasnya.
"Itu saja."
Jimin tertegun di tempatnya.
.
.
.
.
.
.
.
#
Sudah beberapa saat berlalu. Namjoon mengetuk-ngetukkan pulpen di atas meja. Melihat jam gadang di sudut ruangan.
Handphone-nya yang belum muncul notifikasi.
Tidak biasanya Seokjin terlambat menemuinya di saat-saat begini.
Yah, sekadar urusan sepele. Namun jika Namjoon yang membutuhkan, tidak perlu bagi Seokjin untuk berpikir dua kali.
Memang Namjoon itu seolah Tuhannya. Seokjin adalah pesuruhnya. Seluruh permintaan Namjoon kepadanya adalah ibadah bagi Seokjin.
Dan dia sudah menyiapkan teguran jika lima menit lagi batang hidungnya belum muncul juga.
Tapi Namjoon kira pantatnya yang tidak sabar itu sudah gerah terganjal di atas bantalan kursi.
.
.
.
.
.
Tentu saja tidak biasa. Rupanya ada sosok yang menahan 'pesuruh'-nya di ruang kaca oleh pemberitahuan petugas terdekat.
Sosok yang sepertinya telah dikenal oleh Namjoon sebelumnya.
Pria tampan berkebangsaan Prancis. Teman kuliah Seokjin saat mengambil program magister disana.
Niatnya untuk membiarkan waktu personal Seokjin terganggu saat pemandangan di hadapannya menyiratkan tanda tanya.
Laki-laki itu berbisik mesra di telinganya. Menempatkan kedua tangannya di pinggang Seokjin.
Seokjin tertawa manis di pelukannya.
Namjoon tak berpikir menempatkan dirinya lebih lama lagi mengamati adegan provokatif di hadapannya. Urusan laki-laki itu mencium bibir Seokjin atau membawanya ke hotel bintang lima di seberang biarlah Tuhan yang tahu.
.
.
.
.
.
.
.
Tepat setelah dirinya kembali ke ruangannya, handphone-nya bergetar.
Notifikasi dari Seokjin.
'Maaf, aku tak bisa mendampingimu ke perusahaan X hari ini. Hugo memintaku menemaninya menjenguk Ibunya di rumah sakit.'
Notifikasi selanjutnya masuk.
'Tapi aku sudah menghubungi Jacqueline untuk menggantikanku.'
Namjoon membiarkan handphone-nya tergeletak di atas meja. Tanpa berniat membalas.
.
.
.
.
.
Untuk hari-hari selanjutnya, Seokjin membiarkan Namjoon dengan waktu pribadinya bersama wanita-wanitanya yang biasa jadi urusan Tuhan semata. Seperti biasanya.
.
.
.
.
.
.
.
#
"Omong-omong, aku punya permohonan."
"Apa itu?"
"Ini... permohonan yang amat sangat." "Karena kau sahabatku."
"Katakan saja."
"Kalau jadi kekasihku... bukan sesuatu yang sulit 'kan?"
"...tentu saja tidak."
"Kau tahu... aku membutuhkanmu."
"Ya. Aku tahu."
"Terima kasih."
"Tidak perlu berterimakasih. Sudah semestinya."
.
.
.
.
.
.
.
#
"Apakah hari ini kau membutuhkanku?"
Namjoon menoleh. "Memangnya kenapa?"
"Hari ini Hugo mengajakku pergi." "Aku harus pastikan jadwalku kosong."
Seokjin mengucapkannya dengan tatapan yang berbinar. Namjoon kira dia akan pergi ke tempat yang menyenangkan.
Namjoon diam sesaat, menutup korannya.
"Tenang saja." Seokjin mengelus lembut bahunya. "Aku tidak akan macam-macam."
Egonya yang berkehendak untuk melarang sekretaris pribadinya itu pergi musnah begitu saja.
.
.
.
.
.
"Menurutmu, sudah sebrengsek apa diriku hingga saat ini?"
Seokjin menatap Namjoon lekat-lekat.
"Aku tidak pernah menganggapmu brengsek," jawabnya dengan gelengan pelan.
Namjoon mendengus. Seokjin memang tipe orang yang membosankan; jujur dan dapat dipercaya. Sampai terkadang kejujurannya terkesan fatamorgana. Begitupun jawaban yang diberikannya barusan.
"Aku tahu kau lelah padaku."
"Aku tak pernah lelah."
"Kalau begitu kenapa tak pernah protes kalau aku menyentuh orang lain?" "Semua orang di dunia sudah tahu kalau kita kekasih."
Seokjin tersenyum.
"Kamu berlebihan. Hanya orang-orang sekitar yang tahu hubungan kita."
Seokjin mengerti keadaan Namjoon yang sedang dilibatkan oleh emosi. Saat Namjoon menunjukkan ketidaksukaannya terhadap pria ataupun wanita yang mendekatinya. Saat Namjoon mempertanyakan haknya padanya. Saat Namjoon tak mengizinkannya leluasa keluar batas lingkaran bernama 'egoisme Namjoon'.
Sikap yang kemungkinan besar disebabkan oleh dirinya yang kemarin sempat membatalkan janjinya. Yang menurut hemat Seokjin dari selama masa pengabdiannya kepada Namjoon baru terjadi untuk pertama kalinya.
Seokjin mengerti. Karena hanya dengan cara itulah Seokjin merasa dihargai olehnya.
Seokjin tentu menghargainya.
"Hubunganmu dengan Evelyn dan lain-lain, mereka semua adalah privasimu. Kenapa aku harus protes?"
Seokjin menghargai egonya. Apa yang dikehendaki Namjoon padanya. Semuanya.
Karena Seokjin mengerti.
Sejak awal ikatan kesetiaan antara dirinya dan Namjoon tak melibatkan rasa cinta.
.
.
.
.
.
.
.
#
Dalam ingatan Namjoon yang masih segar tentang pembicaraannya dengan Seokjin kemarin, ungkapan Seokjin sebelum pergi bersama Hugo merupakan yang paling tercatat dalam isi kepala.
"Master Seokjin memang tunangan Monster Highness."
"Tapi bukan kekasih yang mencintai Kim Namjoon."
Dia pikir jenis manusia yang bisa membuat harga dirinya terinjak mati tak akan pernah ada.
Nyatanya seorang bijak; sang Nobleman melakukannya seratus kali lebih tajam daripada bajingan tengik.
Entahlah. Sampai wiski yang dituangkan oleh supermodel cantik yang memanjakannya malam ini terasa hambar.
.
.
.
.
.
.
.
#
"Kamu belum minum kopi 'kan hari ini."
Namjoon hanya menggumam pelan. Benar dugaan Seokjin tentang alasannya dia tak terlihat bersikap ramah seperti biasa.
Walaupun setelah Seokjin membuatkannya, sikap Namjoon tetap tak berubah, walau setidaknya sedikit lebih menyenangkan.
Seokjin berdiri di belakang Namjoon yang duduk di sofa. Menghela napas. Membelai rambutnya.
Mengalungkan kedua tangannya di leher.
Namjoon menerima sentuhannya dengan patuh. Serta bisikan lembutnya di telinga.
"Semua akan baik-baik saja."
.
.
.
.
.
Namjoon termangu. Terlintas saja di benaknya keajaiban apa yang membuatnya bertemu Seokjin dan hingga saat ini masih bertahan dengannya. Bahkan tak tanggung-tanggung menjadikan makhluk paling insensitif nan berselera klasik itu tunangan. Untuk ukuran laki-laki flamboyan sepertinya.
Namun hanya dia yang mampu membuatnya ingin meneteskan air mata dalam seumur hidupnya.
.
.
.
.
.
.
.
Namjoon beranjak dari kursi. Menuju ke ruangan Seokjin setelah menaruh dokumennya di atas meja.
Si empu telah melepaskan jas kantornya. Tengah merapikan susunan buku di lemari dengan punggungnya membelakangi Namjoon. Seokjin sempat menoleh sebentar untuk menyuruhnya masuk, kemudian melanjutkan pekerjaannya lagi.
Tak ada makhluk halus yang meminta. Membisikkan apapun.
Namun Namjoon merasa ingin mendekatinya. Berdiri tepat di belakang Seokjin.
Mendaratkan bibirnya di bahu laki-laki itu.
.
.
.
.
.
Seokjin perlahan menghentikan aktivitasnya. Membalikkan tubuh menghadap Namjoon.
Keduanya saling bertukar tatapan untuk sejenak. Saat Seokjin mengangkat alisnya, baru berniat ingin bertanya ada apa, bibirnya dibungkam lebih dulu oleh lelaki itu dengan bibirnya.
Alis Seokjin yang terangkat masih tertahan. Bersamaan dengan napasnya.
Namun bibir Namjoon yang mengecupnya lembut begitu mudah mengalihkannya menjadi terlena.
Hingga ciuman lembutnya progresif menjadi sedikit menuntut.
Seokjin sempat kewalahan. Menumpukan kedua tangannya di lengan Namjoon erat.
Hingga Namjoon melepaskan ciumannya, Seokjin masih merasa sedikit kesulitan untuk mengambil napas.
"Santai saja. Tidak usah mengurungku begini."
Namjoon tak mengindahkannya.
Semua terjadi begitu saja. Tak ada makhluk halus yang meminta. Atau membisikkan suatu apapun padanya. Bahkan untuk berciuman dengan seorang lelaki.
Namun Namjoon merasa ingin menyuarakan egonya terhadap Seokjin lebih lagi.
.
.
.
.
.
"Jadikan aku hal terpenting dalam hidupmu."
Seokjin menyimpulkan tindakan serta permintaan Namjoon barusan bahwa saat ini laki-laki itu menginginkan perhatiannya.
Rupanya pria ini masih belum merasa cukup. Bahkan setelah semua yang telah dicurahkannya.
Seokjin menatapnya lembut. Membelai wajahnya.
"Aku sudah melakukannya, bukan."
Namjoon tak mengindahkannya. Egonya tak menyetujui bahwa apa yang diungkapkan oleh Seokjin adalah benar. Nyatanya dirinya memang belum terpuaskan setelah semua yang telah Seokjin berikan padanya.
Nyatanya nuraninya menginginkan apa yang selama ini mempertahankan dirinya dan Seokjin bersama segera berakhir.
.
.
.
.
.
"Lakukan apa yang belum pernah kau lakukan padaku dan siapapun juga."
"Jatuh cintalah padaku."
Seokjin tertegun. Lama.
.
.
.
.
.
.
.
"Tidak bisa."
"Itu hal yang semestinya kamu pikirkan sendiri."
Namjoon bisa saja meledakkan emosinya saat ini juga. Jelas dia tidak terima. Hebat sekali kalau sosok submisif di hadapannya ini mau dua kali menyanggah permintaannya.
Seokjin mengerti. Sekalipun Namjoon ingin melampiaskan amarahnya lewat fisik (walau sangat kecil kemungkinannya terjadi), Seokjin hanya perlu membalasnya dengan senyuman.
Senyum yang sama saat mengungkapkan kata-kata yang membuat Namjoon merasa harga dirinya terinjak mati.
"Pikirkanlah bagaimana caranya agar aku bisa mencintai seseorang yang bahkan tak mencintaiku."
.
.
.
.
.
Namjoon menginginkan apa yang selama ini mempertahankan dirinya dan Seokjin bersama segera berakhir. Musnah bersama dengan egoismenya yang sungguh tak berfaedah.
Tak ada lagi ikatan kesetiaan tanpa dasar.
Karena nuraninya telah memerintahkannya untuk menyerah.
Menyerah dengan fakta bahwa dia memang membutuhkan sosok di hadapannya ini.
Tak lagi sebatas raga dan pengabdiannya.
.
.
.
.
.
"You know..." "I don't like it when Hugo put his arms around your waist."
Seokjin menatapnya penuh arti.
.
.
.
.
.
.
.
"Kalau begitu."
Seokjin mengambil kedua tangan Namjoon, menempatkannya di pinggangnya. Mata beningnya memancarkan kilatan asing yang tegas. Memaparkan isi hati yang sesungguhnya.
"Jangan pernah lagi menaruhnya di pinggang wanita-wanita itu."
Kalau bisa, sekarang juga Namjoon bertindak lebih dengan bertekuk lutut di kakinya.
Dengan ini Namjoon menyadarinya benar. Bahwa selama ini dalam dunianya bersama Seokjin, dia bukanlah Tuhan. Begitupun Seokjin bukanlah pesuruhnya.
Seokjin lah Tuhannya. Dan dia sekadar hamba yang meminta.
Hamba yang hanya mampu menggelar romantisisme tak terlupakan di sekujur tubuh telanjang sang Nobleman atas tebusan segala dosa yang telah dilakukannya.
.
.
.
.
.
.
.
Namjoon kira dia masih terlalu muda untuk berkenalan dengan kata cinta. Dan istilah yang berkaitan dengannya.
Yang jelas dia bersyukur bahwa datangnya bukan dari sejumlah teman perempuan yang dikencaninya. Atau siapapun juga.
Melainkan makhluk paling insensitif nan berselera klasik.
Namjoon bersyukur telah meminta Seokjin menjadi kekasihnya.
.
.
.
.
.
Oh ya. Apakah benar egoismenya yang muncul saat Seokjin intim dengan teman Prancisnya itu dinamakan 'cemburu'?
.
.
.
.
.
.
.
"Bagaimana keadaan ibu temanmu?"
"Ibu Hugo?" "Katanya sudah membaik."
Namjoon beranjak dari tempat tidur, mengambil kaus dalamnya. "Sampaikan salamku kalau bertemu."
Seokjin menganggukkan kepalanya.
"Hugo orang yang baik." "Kamu tidak akan menyesal kalau coba mengobrol dengannya."
"Lagipula dia 'kan penggemar beratmu."
Namjoon sedikit mengernyitkan keningnya. Tampang Seokjin tidak terlihat serius. Terlebih cengiran menyebalkan itu.
Namjoon kembali ke atas kasur, menutup cengiran menyebalkan itu dengan bibirnya.
Seokjin memejamkan matanya. Memeluknya erat. Tersenyum. Tertawa manis saat Namjoon menggosok-gosokkan hidungnya dengan miliknya.
Tawa yang menurut hemat Namjoon adalah tawa terlepas yang pernah ditunjukkan sang Nobleman sepanjang hidupnya.
.
.
.
.
.
.
.
#
"Masuk."
"Oh. Mr. Namjoon! Silakan, silakan."
Namjoon tersenyum mengucap terima kasih. Rupanya si bule berdarah campuran Korea ini masih ingat dengannya.
"Wah, wah, ada perlu apa jenderal besar datang ke apartemen bobrok begini," ujar Hugo segera membereskan barang di mejanya, mempersilakannya duduk.
"Kebetulan Seokjin meminta perwakilanku datang kemari, karena ada urusan mendadak." "Ini, bunga untuk Ibumu. Semoga cepat sembuh."
"Oh, terimakasih, Mister." "Kata dokter Ibu saya sebentar lagi bisa pulang ke rumah."
"Oh, syukurlah kalau begitu."
"Nah... berarti insting saya benar untuk membuatkan robusta untuk tamu hari ini," ujar Hugo sambil tertawa ramah membawakan dua gelas kopi dari dapur.
"Wah... tahu darimana saya suka kopi?"
"Seokjin yang memberitahu saya."
Namjoon menyeringai sambil mengangguk-anggukkan kepala. "Ya, ya, tentu saja."
.
.
.
.
.
"Oh ya, saya juga ingin menyerahkan ini."
Hugo sempat mematung di tempatnya saat menerima sesuatu dari Namjoon.
Undangan pernikahannya dengan Seokjin.
.
.
.
.
.
"Wah... ternyata memang Mr. Namjoon dan Seokjin sudah bertunangan sebelumnya."
"Pasalnya saya pikir selama ini 'La Noblesse' masih single."
Namjoon hanya tertawa kecil. Merasa wajar dengan tanggapan Hugo yang demikian.
"Berarti kesempatan saya resmi sudah hilang ya," canda Hugo sambil terkekeh. "Yah, tapi mau dikata apa juga, saya tahu tak akan bisa menang dari Lord of The Wagon."
"Maaf, Tuan. Anda kurang beruntung," jawab Namjoon ikut bercanda. Mereka berdua tertawa seperti tak bermasalah.
Memang benar kata Seokjin. Si bule ini orang yang menyenangkan.
.
.
.
.
.
"Tapi tidak, Mister. Saya sebenarnya sudah mengira jika Seokjin sebenarnya punya hubungan khusus dengan Mr. Namjoon."
"'Cause you know, Sir. Beberapa kali dia datang memeluk, membasahi bahu saya," ujar Hugo seraya menyesap kopinya. "Setiap kali saya tanyakan, alasannya klasik."
"'Namjoon sedang asik dengan wanita.'"
.
.
.
.
.
.
.
# end
.
.
.
.
.
.
.
# epilogue
- Harvard University • Chemistry and Chemical Biology Library, 15 years ago -
"Lama sekali."
Seokjin terkekeh kecil. "Maaf, tadi bimbingan intens dengan dokter Charlotte."
"Oh, kupikir masih butuh seribu tahun lagi menyelesaikan tugas akhirmu itu."
Seokjin tertawa saja. "Seandainya aku bisa sesantai anak Hukum yang hanya diwajibkan paper," tak lupa meledek Namjoon.
"Yang lebih penting, this is our lucky day." "Ayah sudah bilang setelah kita wisuda, mau jadikan kita tiga serangkai penerus perusahaannya sekarang bersama Yoongi."
"Oh... begitukah?"
Seokjin merasa antara senang dan tidak. Jika demikian, berarti selangkah lagi agar cita-citanya untuk jadi dokter bisa tercapai terpaksa kandas di tengah jalan.
Namun harapan sang Ayah tentu sangat berarti baginya.
Namjoon menepuk pundaknya. "Tenang saja. Kau bisa jadi sekretaris pribadiku."
Seokjin tersenyum. Merasa terhibur.
"Tidak mau. Aku ingin independen dari sekarang," candanya.
"Oh, bukannya kau tak bisa hidup tanpaku?" tembak Namjoon.
"Kupikir sebaliknya."
Mereka berdua kemudian tertawa. Dengan Namjoon yang mengangguk setuju.
.
.
.
.
.
"Omong-omong, aku punya permohonan."
Seokjin mulai menatapnya lekat. Biasanya kalau Namjoon sudah bilang 'permohonan', itu adalah sesuatu yang penting.
"Apa itu?"
"Ini... permohonan yang amat sangat." "Karena kau sahabatku."
Seokjin tersenyum. Benar dugaannya. Apa lagi kali ini.
"Katakan saja."
.
.
.
.
.
"Kalau jadi kekasihku bukan sesuatu yang sulit 'kan?"
Seokjin diam untuk sesaat.
.
.
.
.
.
Diam untuk memberikan senyuman lembutnya seperti biasa.
"...tentu saja tidak."
Namjoon tertawa ringan. Tentu saja. Dirinya bukan tak mungkin merasa tak enak berlaku pada orang terdekatnya seperti ini. Seperti tak ada batasan antara sahabat. Atau kacung.
Dari dulu. Seokjin selalu bersedia memenuhi permintaannya. Bahkan selalu hingga menomorduakan kepentingannya. Tanpa absen. Tanpa protes.
'Ya' adalah jawaban untuk setiap kemauannya, seegois apapun. Sekonyol apapun.
Dan Namjoon hanya berharap bahwa ini terakhir kalinya dia memberi permohonan konyol kepada Seokjin untuk memintanya menjadi kekasih. Hanya karena tidak nyaman dikejar-kejar oleh perempuan-perempuan bermuka dua yang hanya menginginkan pamor dan hartanya.
Dan Namjoon yakin Seokjin sudah mengerti maksudnya.
"Kau tahu... aku membutuhkanmu."
Seokjin menganggukkan kepala.
"Ya aku tahu."
Namjoon tertawa tidak enak.
"Terima kasih."
Bilang terima kasih pun rasanya tidak cukup.
"Tidak perlu berterimakasih. Sudah semestinya."
Jawaban Seokjin yang demikian malah membuatnya seperti berhutang budi.
"Tenang saja, ini hanya berlangsung sampai saatnya kau memutuskan untuk menikah." "Dan punya anak seperti impianmu dulu."
Seokjin menatapnya dalam.
Dari dulu. Dirinya selalu memenuhi pemintaannya. Bahkan selalu hingga menomorduakan kepentingannya. Tanpa absen. Tanpa protes.
'Ya' adalah jawaban untuk setiap kemauannya, seegois apapun. Sekonyol apapun.
Karena Seokjin mengerti. Dari sejak sang Ayah mengangkatnya menjadi seorang anak. Sejak pertama dirinya bertemu, tumbuh bersama dengan Namjoon.
Bahwa tak satupun kepentingan di dunia yang bermakna setara dengan satu kali kesempatan hidupnya.
Terkecuali laki-laki ini.
.
.
.
.
.
"...tidak."
"Aku akan setia padamu."
"Selamanya."
.
.
.
.
.
.
.
#
a/n: nah... kali ini hamdalah beneran happy ending, gak kek kemaren yang bikin jehopnya kesian banget ya ga :(
oh ya. jadi, sebenernya emang kalo dari epilognya kan Namjoon ama Seokjin dah pacaran ya. tapi statusnya baru sekadar pacar. nah baru pas mereka kerja ini mereka jadi tunangan. walopun status pacaran ampe tunangan cuman sekadar status aja :") emanglah si Namjoon-Namjoon ini bagusnya disantet (jadi suami saya (nggak)) aja. tapi kan akhirnya beneran afdol ampe nikah ma kak Seokjinnya. cihuy.
oke segitu aja dulu. thankyou and have nice days!
p.s. La Noblesse [ france ]: kaum bangsawan. (julukan dari Hugo untuk Seokjin, yang merujuk ke gelarnya di Fontleroy, 'Nobleman (bangsawan) of The Wagon').
