"Di-dimana kau meletakannya, Bodoh!"
"Hyah! Jangan berteriak. Bagaimana kalau Sensei mendengar kita?"
"Cepat! Cepat! Aku tak mau ketahuan. Sekolah dimalam hari itu menakutkan tau!"
"Uhhh~"
Tap. Tap. Tap.
DEG.
"Ka-kau dengar? Ada yang berjalan di koridor?"
"Sensei?"
Tap. Tap. Tap.
"Biar kuintip. Semoga bukan Sensei…"
…..
"Tak ada siapapun diluar."
Tap. Tap. Tap.
"Ta-tapi itu….langkah siapa?"
DEG.
Han…tu…?
Destiny of Us
(Judul mulai nggak nyambung, nih…)
.
Disclaimer : I do not own Kuroko no Basuke!
Every kind of ; typo(s), OOC, OOT, garing, abal, humor gagal, agak AU and sedikit hint are possible
.
Warning :
Tiap chapter tidak saling berhubungan satu sama lain! Ini hanyalah kumpulan one-shoot tentang anak Kiseki no Sedai yang 'katanya' sih satu SMU. Jadi, Kiseki no Sedai itu nggak bersahabat di SMP, bahkan saling berlawanan.
.
3rd Quarter
Teiko's Ghost Story
.
.
Apa kau pernah mendengar kisah-kisah seram tentang sekolahmu? Misalkan tentang seorang anak yang gantung diri di kelas, atau pembunuhan misterius dimana sang mayat dikubur di balik tembok?
Ah, kurasa jikalapun sekolahmu memiliki kisah semacam itu, bukan berarti itu semua benar-benar nyata, kan? Terkadang, ada beberapa pihak yang sengaja mengarang cerita hanya untuk menakuti sebagian pihak lain. Contohnya saja, hantu gadis kecil di toilet yang katanya akan muncul jika kita memanggil namanya—Hanako. Tidakkah kau berpikir Hanako itu ada? Apa kau pernah mencoba memanggilnya dan dia keluar? Jika kau pernah melakukannya dan Hanako tidak keluar, kesimpulannya Hanako itu tidak ada. Jika sebaliknya, berarti dia ada.
Tapi sungguh prolog di atas memang ada hubungannya dengan kisah kita kali ini. Ini tentang Teikou Gakuen yang mirip dengan sekolah-sekolah lain. Memang tidak ada yang gantung diri ataupun kasus pembunuhan, juga hantu wanita di toilet—mengingat Teikou adalah sekolah khusus laki-laki.
Tapi ini mungkin bisa membuatmu sedikit bergidik. Ah…mungkin.
Jadi sebelum kumulai kisah ini, pastikan dulu kau tidak berada di sekolah sendirian. Atau kau tidak membaca kisah ini di malam hari sendirian. Karena, sungguh percayalah. Mereka bisa saja ada dibelakangmu. Ikut membaca kisah ini bersamamu.
~OoOoO~
Belakangan hari ada kabar tak mengenakkan yang tersebar di seluruh wilayah Teikou Gakuen. Entah ini hanya takhayul, kabar angin, kesalah-pahaman biasa atau memang nyata. Tapi kabar ini berhembus begitu cepat, sampai dalam waktu beberapa hari saja kabar ini didengar oleh semua penghuni sekolah.
Ialah kabar tentang hantu yang belakangan muncul di koridor sekolah.
Hantu?
Tentu saja ini mengejutkan. Bukan berarti tak pernah ada yang mengaku melihat penampakan arwah atau semacamnya di Teikou—terkadang ada yang mengatakan ia melihat bayangan misterius di malam hari. Tapi itu tak berlangsung terus-menerus. Biasanya sih hanya satu atau dua anak yang mengalami kejadian mistis yang mirip. Hanya saja tidak untuk kali ini. Hampir setiap malam akan muncul korban baru yang mengatakan bertemu dengan 'hantu' ini.
Hantu Kecil, begitu mereka menamakannya.
Menurut para saksi mata, hantu itu berkeliaran di sekolah di atas jam sembilan— bukan jam dimana murid diizinkan keluar. Hanya mereka yang memiliki keperluan mendadak atau ketinggalan sesuatu yang biasanya datang ke sekolah malam hari. Dan disanalah mereka bertemu dengan Hantu Kecil ini.
Orang terakhir yang mengaku melihatnya adalah Mibuchi Reo dari kelas 3-A. Mungkin dia adalah lelaki paling kemayu di Teikou. Mibuchi mengatakan semalam ia datang ke Teikou untuk mengambil buku catatan yang tertinggal. Dan disana tak sengaja ia mendengar suara orang berjalan di koridor. Penasaran, pria kemayu itu mengintip, takut-takut itu adalah guru yang tengah berpatroli di sekolah. Tapi Mibuchi tak menemukan siapapun disana selain kegelapan.
Jadi yang tadi berjalan di koridor… Hantu, kah?
.
.
"Jadi, bagaimana menurut kalian-ssu?" Kise membuka suara di saat ia dan teman-temannya—meski hanya Kuroko yang benar-benar ia anggap teman— berkumpul di atap untuk menikmati istirahat siang.
Berkumpulnya mereka berenam atas dasar ketidak-sengajaan saja. Kise mengajak Kuroko ke atap untuk mengobrol. Di perjalanan, mereka berpapasan dengan Akashi. Kuroko pun mengajaknya. Meski Kise berharap pemuda berambut merah itu tak mengindahkan tawaran Kuroko, tapi ternyata Akashi mau saja diajak olehnya. Lalu mereka berpapasan dengan Murasakibara dan Midorima. Untuk kedua kalinya Kuroko menawarkan hal yang sama dan Murasakibara setuju. Midorima hanya mengikuti karena ia enggan bergabung dengan anak-anak berisik di kelas mereka. Dan di atap mereka bertemu dengan Aomine yang tengah asyik tidur siang sendirian. Jadilah jam istirahat itu mereka isi bersama-sama.
Hal yang jarang sekali terjadi.
Midorima menaikkan kacamatanya sejenak, "Soal hantu itu-nanodayo?"
"Yup."
"Aku tak percaya hantu." Jawab Midorima acuh. "Di dunia ini tak ada mahluk yang disebut hantu. Itu hanya khayalan manusia yang terlalu ketakutan akan kondisi disekitarnya ketika ia sendirian. Pada akhirnya otak akan memancarkan bayangan aneh dan mereka akan berpikir telah melihat sesuatu-sesuatu mengerikan yang disebut hantu." Jelasnya panjang lebar.
Aomine tentu langsung memajukan bibirnya—mengejek. "Dia tidak percaya hantu karena tidak realistis. Lalu apa bedanya dengan oha-asa dan lucky item yang sama absurd-nya itu?" Dan ejekan itu membuatnya dihadiahi tatapan sinis dari Midorima yang sudah bersiap melemparkan celengan rakun –lucky item hari itu— ditangannya kalau saja Aomine tidak beringsut ke belakang Murasakibara.
"Ngomong-ngomong~ Apa ada yang pernah melihatnya disini?" Murasakibara sepertinya agak tertarik dengan tema pembicaraan kali ini.
Kise menggeleng. Kuroko menggeleng. Aomine mengangkat bahu tak peduli. Midorima lagi-lagi membenahi posisi kacamatanya. Akashi hanya diam tak menanggapi mereka semua.
Raksasa ungu itu mengangguk, "Tidak ada, ya~"
"Tapi di kelas sudah ada banyak, lho-ssu. Tsuchida dan Furihata sudah pernah melihat, katanya. Lalu anak kelas sebelah; Tsugawa, Sakurai dan Ogiwara juga. Senpai-senpai juga banyak yang sudah melihatnya. Yang terakhir si Mibuchi Senpai-ssu~"
Lagi-lagi Aomine berdecak, "Kau tau banyak, Kise,"
"Aku kan nggak kudet semacam Aominecchi!"
"Apa kau bilang, Spongebob?!"
"Apanya yang apa-ssu?! Dan apa?! Spongebob, kata Aominecchi?! Aominecchi sama bodohnya dengan Patrick!" Untuk kesekian kalinya kedua anak itu saling melemparkan pandangan beraliran listrik statis satu sama lain.
"Hentikan kalian berdua-nanodayo," Midorima menghela nafas lelah. Pertengkaran Kise-Aomine yang tak pernah selesai pastinya membuat siapapun jengah. Apalagi kalau lengkingan memuakkan Kise sudah muncul.
Kuroko menyesap vanilla shake-nya. Tunggu? Apa anak itu tadi membawanya? Ah, abaikan. Kuroko biasa mendapatkan vanilla shake dengan cara-cara tak terbayangkan, kan.
"Tapi kedengarannya menarik," gumamnya dan mendapat perhatian dari kelima pemuda yang lain.
"Menarik, huh? Kuro-chin tertarik dengan hantu? Apa Kuro-chin percaya hantu?"
Laki-laki kecil berambut baby blue itu tersenyum tipis ke arah Murasakibara yang memandanginya penasaran. "Aku tidak percaya pada hantu karena aku belum pernah melihatnya, Murasakibara-kun."
"Tetsu saja sudah nyaris menyerupai hantu, huh," ejek Aomine lagi. Entah kenapa ia suka sekali mencela. Sungguh sifat yang tidak pantas ditiru.
Kise mendelikkan mata ke arah Aomine. Lalu melirik Kuroko. "Jadi, apa Kurokocchi mau bergabung denganku?"
"Eh?"
"Kita lakukan ekspedisi untuk menangkap hantu itu-ssu~"
Oh, tidak… Untuk kesekian kalinya Kise mengatakan hal-hal yang tidak bisa diterima akal pikiran yang lain. Sepertinya anak berambut kuning itu tidak kapok mengenai masalah surat cinta salah alamatnya tempo hari. Dan kini ia ingin memulai penyelidikan baru dimana obyeknya sendiri tidak jelas.
Ah, hantu… Ayolah! Siapa yang bisa menangkap hantu, memangnya?
~OoOoO~
Jam di kamar Midorima-Murasakibara sudah menunjukkan nyaris pukul sembilan malam. Midorima tengah sibuk dengan buku Sejarah, mengerjakan setumpukan PR. Dan meski berada di kelas yang sama, Murasakibara justru asyik bersila di lantai dan menghitung bungkusan snack yang ia jajarkan di lantai.
PR sih~ Siapa yang mau peduli? Begitu pikir Murasakibara.
Momogi, Maiubou, Peppero, Chitato dan Chocoball. Uhm~ Lima? Hanya lima snack?
"Hummm~" Kening pemuda berambut ungu itu mengkerut. Kini Murasakibara bergumam sambil kembali mengabsen makanannya. Gayanya seperti guru yang tengah menghitung jumlah murid dan ia sadar ada murid yang hilang.
Sekotak Fun Time! Tunggu~ Apa di Jepang ada Fun Time juga?
Risih dengan gumaman mengganggu Murasakibara, sang Megane Tsundere mendelikkan matanya ke balik punggung—menatap Murasakibara sebal.
"Bisa kau hentikan humm-humm mengganggu itu-nanodayo?"
"Uhhm~ Mido-chin~ Aku kehilangan sekotak Fun Time. Apa Mido-chin melihatnya~?"
"Huh? Aku tak melihatnya. Aku tak pernah menyentuh makananmu, Murasakibara." Midorima memutar kursi belajarnya sehingga kini ia menatap Murasakibra lurus. "Mungkin sudah kau makan,"
Murasakibara menggeleng heran. "Aku tak pernah lupa apa yang sudah kumakan~" Ia beringsut bangun, membuat Midorima harus menengadah agar bisa melihat wajahnya. "Mungkin ketinggalan di kelas…"
"Lalu?"
"Aku mau mengambilnya~"
Gantian kening Midorima yang mengkerut. Diliriknya jam yang ada di atas meja belajarnya. Jam sembilan kurang lima. Lalu ia kembali menatap Murasakibara yang sudah memakai mantel biru tuanya.
"Kau yakin?" Midorima menaikkan satu alis.
"Iya~"
"Bukankah sedang ada kabar soal hantu di sekolah?"
Tatapan malas Murasakibara tertuju ke arah Midorima. Entah wajahnya tampak ingin tertawa atau ingin mengejek. Tapi yang jelas apa yang ia katakan membuat Midorima gusar. "Bukankah Mido-chin ta percaya hantu, huh? Mido-chin takut, ya?"
"Si-siapa yang takut-nanodayo!"
"Itu~ Mido-chin memperingatkanku dengan wajah tegang. Mido-chin takut hantu, kan?"
"Aku tidak takut!" Midorima berdiri sambil menaikkan kacamatanya yang merosot di hidung. Sungguh harga dirinya terluka dengan ucapan Murasakibara tadi.
Kini ia berjalan ke lemari pakaiannya. Membukanya lalu menarik keluar sebuah mantel coklat. Dipakainya buru-buru lalu menatap Murasakibara yang memandanginya. "Aku tak takut dengan hantu-nanodayo. Hantu itu tak ada. Akan kubuktikan padamu, Murasakibara. Aku ikut."
"Terserah Mido-chin saja, deh~" Murasakibara berjalan memunggungi Midorima. Tanpa disadari pemuda berambut hijau itu, sang raksasa ungu kini tersenyum iseng diam-diam.
Sungguh yang sebenarnya takut itu Murasakibara. Ah, bukan takut karena hantu juga. Ia hanya tak mau pergi ke sekolah sendirian di malam hari karena takut mungkin ia akan tertangkap oleh Sensei. Jika Midorima ikut 'kan, paling tidak mereka akan dihukum bersama-sama. Jadi Murasakibara tak akan dihukum sendirian. Sayang Midorima terkadang terlalu mudah dihasut. Sehingga ia sama sekali tak berpikir bahwa Murasakibara baru saja menjebaknya.
~OoOoO~
Dugaan benar. Sekolah di malam hari adalah tempat paling angker nan mengerikan yang pernah ada. Mungkin sebelas-duabelas dengan pemakaman, ya? Toh sama-sama hening, gelap, sepi dan penuh dengan aura negatif. Oke, ini bukan cerita horror semacam itu. Tak perlu dijelaskan terlalu jauh.
Satu-satunya yang terdengar di keheningan dan kegelapan itu hanya suara sepatu yang menghentak di lantai. Suaranya nyaring, menggema ke sekeliling koridor lantai dua dimana kelas Midorima-Murasakibara berada.
Kedua pemuda itu jalan tanpa kelihatan takut. Masa bodoh dengan hantu. Yang Murasakibara inginkan hanya mendapat kembali snack-nya sedangkan Midorima hanya ingin membuktikan ia tak percaya hantu.
SRAAAG~
Murasakibara menggeser terbuka pintu kelas 1-A. Kosong, gelap, sunyi dan berbau debu. Padahal di pagi sampai sore kelas itu tampak normal. Tapi jika kau masuk di malam hari entah kenapa terasa usang dan lama tak terpakai.
"Cepat ambil apa yang kau butuhkan-nanodayo. Aku tak mau sampai tertangkap Sensei yang bertugas malam."
"Iya~ Iya~" Langkah Murasakibara panjang- panjang saat ia melintasi barisannya hingga mencapai ke kursi paling belakang. Pemuda jangkung itu berjongkok agar bisa melihat laci meja. Dan mendadak sepasang iris ungu itu melebar bahagia.
"Ah, Mido-chin! Ternyata memang ketinggalan~" lapornya kekanakkan sambil menjunjung sekotak Fun Time coklat ke arah Midorima yang hanya mendengus sambil menaikkan kacamatanya lagi.
Midorima menghela nafas. "Kalau begitu,"
Tap. Tap. Tap.
DEG.
Suara Midorima terputus saat pemuda itu mendengar suara langkah kaki. Tatapan matanya berubah serius saat ia melirik ke koridor gelap yang kosong dihadapannya.
Suara langkah siapa itu?
"Uhh~ Mido-chin kenapa?" Tanya Murasakibara yang sudah ada dihadapannya.
"Tidak apa-ap,"
Tap. Tap. Tap.
Untuk kedua kalinya ucapan Midorima diinterupsi suara langkah. Kali ini Murasakibara pun mendengarnya. Mereka berdua sama-sama menatap koridor yang tetap sama. Kosong, gelap dan sepi. Hanya mereka berdua yang ada di lantai ini.
Lalu itu suara langkah kaki siapa?
"Mido-chin mendengarnya?" Tanpa dikomando, Murasakibara berbisik pelan.
"Suara langkah kaki." Midorima mengangguk. Nafas pemuda itu sempat tertahan ketika ia mendorong tubuh raksasa Murasakibara ke kelas dan diam-diam ia menutup pintu itu rapat-rapat. Dibiarkannya sedikit celah untuk mengintip dari balik pintu kelas.
Murasakibara heran, "Mido—"
"Ssst," Midorima melirik Murasakibara tajam, "diam dulu. Kita lihat siapa itu." Dan Murasakibara mengangguk mengiyakan saja.
Tap. Tap. Tap.
Langkah itu kembali terdengar. Tubuh Midorima dan Murasakibara mendadak merinding dan menegang sempurna saat mereka sadar suara itu semakin dekat. Hantu Kecil yang sering dibicarakan, kah? Jika memang benar itu hantu…apa yang harus mereka lakukan?
Menangkapnya? Memangnya mereka Kise?!
Tap. Tap. Tap.
Semakin dekat… Tak ada yang berani bicara. Bahkan bernafas pun mereka urung.
Tap. Tap. Tap.
Eh?
Kedua mata Midorima mengerjap heran karena langkah itu mendadak terdengar menjauh. Padahal beberapa detik yang lalu mendekat. Seakan-akan langkah itu baru saja melewati mereka berdua. Padahal Midorima dan Murasakibara sama-sama tak melihat apapun melintasi pintu kelas mereka.
Oh, tidak…
SRAGG!
Dengan kasar Midorima membuka pintu itu dan berlari ke koridor. Sekedar untuk menangkap siapa yang berjalan melewati mereka tadi. Sekelebat ia berpikir itu mungkin saja Kuroko. Tapi Kuroko biasanya tak berjalan dengan menimbulkan suara semacam tadi. Ia biasa langsung muncul mengejutkan begitu saja.
Dan tak ada siapapun selain…sekelebat bayangan kecil di ujung koridor, tepat di tangga sebelah utara yang naik ke lantai tiga. Bayangan yang terpantul karena cahaya yang masuk dari jendela di sepanjang koridor lantai tiga—sepertinya. Bayangan itu diam. Tak bergerak. Jadi sosok itu ada di lantai tiga? Pantas Midorima tak melihat siapapun melintas di kelasnya yang berada di ujung lantai dua.
"Mido-chin?"
DEG.
Mendadak Midorima menelan ludah horror saat bayangan itu menghilang begitu saja. Menghilang seakan-akan si pemilik bayangan itu ditelan bumi. Dan Midorima merinding. Ia yakin Murasakibara tak melihatnya karena pemuda itu baru saja berjalan keluar kelas.
"Mido-chin lihat apa?"
Kacamata Midorima dibiarkan merosot. Tatapan pemuda itu jelas tegang. Ia tak mau percaya apa yang baru saja ia lihat. Hantu itu…TIDAK ADA. Titik!
~OoOoO~
"HUAHUAHUA!" Tangisan—lengkingan— Kise mengoyak pendengaran Aomine yang saat itu mencoba untuk memejamkan matanya. Apalagi saat pintu kamarnya terbuka lebar dan pemuda pirang super berisik itu menghambur memeluk Kuroko yang tadinya duduk mengerjakan PR.
Ngomong-ngomong ini malam berikutnya setelah Midorima melihat si hantu kecil. Tentu dia tak menceritakan apapun. Tadi pagi hanya Murasakibara yang bilang kalau Midorima nyaris saja pingsan ketika mereka ke sekolah malam-malam dan mendengar suara langkah di koridor itu.
Kuroko memandangi Kise datar. "Kise-kun?"
"Huaaaaa! Kurokocchi! Akashicchi jahat! Aku diusir dari kamar-ssu, huaaaa!"
"Eh?" Kening Kuroko mengkerut. Satu tangan berusaha mendorong dada Kise yang nyaris membuatnya kehabisan nafas dan satu tangan lagi berusaha menjauhkan wajah Kise yang bermodus mengecupnya. "Sebelum itu, Kise-kun. Lepaskan aku…"
"Huaaa~jahat-ssu! Bahkan Kurokocchi juga mengusir—"
PLETAK!
Dan sebuah jam weker mendarat di kepala Kise.
"AHOMINECCHI!"
"BERISIK! BANYAK OMONG KAU! BERANI SEKALI MENGGANGGU JAM TIDURKU, KUNING NGAMBANG! SANA PERGI! KE NERAKA, KALAU PERLU!"
Ya~ Tuhan~
Kuroko ingin bunuh diri saja rasanya kalau setiap hari begini terus. Yang ada pendengarannya akan kacau sebelum ia genap dua puluh tahun kelak. Gara-gara lengkingan mengerikan Aomine dan Kise kalau sudah beradu mulut.
"Berani sekali Aominecchi menimpukku pakai jam weker, hah?! SAKIT TAU-SSU!"
"Memang aku peduli, Sinting!"
"Si-sinting!" Kedua mata Kise terbuka tak percaya dengan ejekan terbaru Aomine tadi. Jemarinya tertuju ke arah Aomine begitu saja. Tepat di depan wajahnya. "AOMINECCHI YANG GILA! RABIES! Tega sekali mengataiku sinting! Ini penghinaan! Akan kulaporkan ke pengaca—"
Dan dua Ignite Pass mendarat di perut Aomine dan Kise begitu saja.
"TETSU!/KUROKOCCHI!"
"Berisik." Wajah Kuroko masih datar, tapi jelas sekali ia kesal bukan main dengan Kise dan Aomine. Pemuda berambut biru laut itu menghela nafas sejenak, memandangi Kise yang meringis memelas sambil mengusap perutnya sedangkan Aomine memaki-maki Kuroko diam-diam.
Lalu Kuroko menghela nafas lagi. "Sebenarnya ada apa, Kise-kun? Kenapa Akashi-kun bisa mengusirmu?"
"Ahh…" Kise teringat lagi tentang penderitaan yang ia tanggung karena sekamar dengan Akashi. Ia ingat betul tadi ia nyaris mati dihujani gunting mengerikan sang mantan kapten Rakuzan itu. Kalau ia tak buru-buru kabur, mungkin Kise Ryouta hanya tinggal nama.
Pemuda itupun menceritakan apa yang terjadi kepada Kuroko dan Aomine. Tentang penderitaan yang akan berlanjut. Tapi tunggu, apa penderitaan Kise ada hubungannya dengan kisah ini?
Tentu ada.
.
.
Tok-tok.
Pintu kamar bernomor 048 bergerak terbuka. Membuat Kuroko bisa melihat sosok pemuda berambut merah yang tengah membaca buku sambil berbaring di tempat tidurnya. Sepasang iris scarlet-gold itu langsung menghujam ke arah Kuroko. Memandanginya sinis.
Dan Kuroko beranjak masuk kemudian menutup pintu kamar itu.
"Bicarapun tak berguna, Tetsuya. Katakan kepada Ryouta aku tak mengizinkannya masuk selangkahpun kesini." Akashi sudah tahu apa yang akan Kuroko lakukan rupanya. Memiliki Emperor Eyes memang mengerikan.
Kuroko berwajah datar. Ia menghela nafas lagi sambil berjalan menghampiri kursi belajar yang ada disana—entah milik siapa.
"Kau duduk di kursiku," ujar Akashi lagi saat Kuroko sudah duduk di kursi itu.
"Izinkan aku bicara sebentar atas nama Kise-kun," balas Kuroko acuh. "Jika Kise-kun tidak pulang, maka aku yang harus tidur entah dimana. Aomine-kun dan Kise-kun akan bertengkar sepanjang malam dan aku tak mau tidur di kamar kalau begitu." Kuroko curhat?
Ditutupnya buku yang sedari tadi ia baca. Akashi beringsut bangun, duduk di tepi tempat tidur dan memandangi Kuroko sejenak. "Kalau begitu kau bisa tidur di tempat Ryouta, kan?"
"Ah, bukan itu yang ingin kubicarakan. Aku hanya tak tahu kenapa Akashi-kun tampak sangat sensitif dengan omongan hantu Kise-kun." Kuroko mengalihkan pembicaraan.
Memang itu yang ingin ia tanyakan. Masalah Akashi yang sebal karena katanya Kise tak berhenti mengoceh soal hantu dan ekspedisi konyolnya itu. Alasan kenapa gunting-gunting keramat Akashi nyaris menancap di sekujur tubuh Kise kalau model itu tak segera kabur tadi.
Akashi memutar bola matanya. "Huh, haruskah kukatakan padamu, Tetsuya?"
"Aku ingin tau alasannya,"
Kedua pemuda bertubuh kecil itu sama-sama diam dan saling berpandangan. Sampai sebuah seringaian kecil muncul di wajah Akashi. Seringai iseng yang membuat kening Kuroko mengkerut.
"Kalau begitu kau harus ikut denganku besok malam."
"Kemana, Akashi-kun?"
"Kita bermain sebentar,"
~OoOoO~
Ketika Kise Ryota menginginkan sesuatu, terkadang ia akan berusaha sekeras mungkin agar keinginannya terkabul. Seperti malam ini, ia dan Aomine akhirnya menjadi sekutu—lagi— untuk mengungkap misteri Hantu Kecil itu. Kali ini Midorima dan Murasakibara ikutan. Mereka juga penasaran. Kuroko katanya malas dan Akashi…? Jangan ditanya. Dia tak pernah mau bergabung dalam aksi konyol tak berguna para Kiseki no Sedai lainnya.
Suasana koridor malam seperti biasa. Sepi dan gelap. Mereka berempat berjalan berbarisan menaiki tangga menuju lantai dua. Kise, Aomine, Midorima dan Murasakibara yang berada paling belakang. Bukan karena ia takut, tapi karena tak ada yang mau berjalan paling belakang.
Kau tentu tak mau kalau tiba-tiba ada hantu yang muncul dibelakangmu, kan?
"Dimana kalian mendengar langkah itu?" Tanya Aomine penasaran.
"Di depan pintu kelas kita-nanodayo."
"Saat itu langkahnya mendekat dan tiba-tiba menjauh. Padahal tak ada yang kami lihat melintas~" jawab Murasakibara sambil menjepit dua keripik kentang di bibirnya yang membuat mulutnya seperti paruh bebek.
Kise menahan nafas ketika ia mengintip ke koridor lantai dua.
"Kosong-ssu."
"Cepat jalan!" Dan Aomine menendang bokong Kise, mebuat pemuda pirang itu nyaris terjungkal ke depan.
"Ahominecchi!"
"Ssst!" Midorima kesal. Ia buru-buru mendiamkan kedua pemuda itu sebelum mereka kembali bertengkar. Ditangannya kini ia genggam erat sebuah tasbih biksu. Yah~ Katanya sih itu lucky item hari ini. Semoga saja itu bukan modus karena Midorima takut.
Kini keempatnya berjalan di koridor lantai dua. Menuju kelas 1-A yang kebetulan terletak di ujung lorong, dekat tangga naik ke lantai tiga sebelah utara.
"Apa yang kalian lakukan?"
DEG.
Keempat langkah itu berhenti saat satu suara menginterupsi. Dengan gaya slow motion yang berlebihan, ditambah wajah yang sontak memucat ketakutan. Mereka semua menoleh bersamaan. Mungkin hanya Murasakibara yang masih kelihatan tak berpengaruh dengan suara tadi. Ia yang menoleh kebelakang paling akhir—mengikuti arah pandang yang lain.
"Bukankah ini sudah lewat jam malam?"
"MANUSIA!" Kise yang menjerit saat ia melihat seorang pemuda tinggi berambut abu-abu dengan ekspresi sedatar Kuroko sudah berdiri di belakang mereka. Ia mengenakkan kemeja biru Teikou dan celana putih. Menatap mereka berempat datar.
Midorima mendelik marah ke arah Kise. "Bodoh! Itu tidak sopan!"
"A-aku kira hantu!"
Pemuda itu menatap mereka berempat, lalu tatapannya berhenti di Aomine yang memandanginya serius. Ia mengulas senyum tipis namun matanya tetap saja datar. "Kalian anak kelas satu, kan? Namaku Mayuzumi Chihiro."
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Aomine.
Pemuda yang mengaku bernama Mayuzumi itu kembali tampak datar. "Mengecek." Jawabnya pelan. "Kalian…tidak sedang mencari hantu, kan?" tanyanya pelan-pelan.
Kise sontak menggaruk belakang kepalanya. Merasa bersalah. "Tidak~hum~ Anou… Sebenarnya kami memang sedang melakukan ekspedisi," akunya sambil cengengesan. "Kami mencari hantu yang belakang suka terlihat itu-ssu. Anou~ Apa Mayuzumi-kun tidak takut sendirian di sekolah?"
Pemuda berambut abu-abu itu diam sebentar. Sekitar tiga detik membuat koridor itu dipenuhi keheningan. Barulah ia membuka suara lagi, "Tidak." Lalu berjalan maju melewati mereka berempat.
Tanpa diminta, Aomine dan Kise mengekor dibelakangnya. Midorima barulah ikut dan Murasakibara setia dibelakangnya.
"Uhm~ Mido-chin…"
"Hmm?"
"Sebenarnya…" Murasakibara terdiam, menatap ke depan lalu menatap Midorima yang memandanginya. "Tidak jadi," lanjutnya sambil kembali memakan keripiknya begitu saja.
Aomine berusaha menyamai langkah Mayuzumi. "Apa yang kau cek?"
Pemuda itu menoleh sekilas, "Bukan apa-apa. Aku hanya suka mengecek sekolah di malam hari." Jawabnya datar dan membuat Aomine mengerutkan keningnya keheranan.
Ini aneh. Jelas ada yang aneh. Jika pemuda yang bernama Mayuzumi Chihiro itu selalu mengecek malam hari, tak mungkin orang-orang yang mengaku melihat hantu tak bertemu dengannya. Lagipula ia hanya murid normal—anggota komite OSIS juga bukan. Untuk apa mengecek sekolah malam hari?
Otak Aomine mulai curiga.
Kise memilih berjalan melambat agar menyamai Midorima. "Midorimacchi, apa bukan langkah kaki dia yang kau dengar kemarin malam?"
Midorima mengangkat bahu. "Coba perhatikan, Kise. Ia berjalan tanpa menimbulkan suara langkah sedikitpun—mirip Kuroko. Sedangkan kemarin malam aku mendengarnya dengan jelas." Dan bayangan yang aku lihat tidak setinggi pemuda misterius ini, Midorima menambahkan dalam hati.
"Belakangan ini banyak yang mengaku melihat hantu di sekolah." Kise berbicara pelan sambil memperhatikan langkah Mayuzumi yang semakin mendekati kelas 1-A. "Apa Mayuzumi-kun pernah melihatnya?"
"Tidak pernah." Jawabnya tanpa menoleh.
Kini mereka semua berhenti di depan pintu kelas 1-A. Dan…
Tap. Tap. Tap.
Suara itu kembali terdengar!
"Ka-kalian dengar sesuatu?" Mendadak Kise merinding. Ia menarik lengan Aomine ketakutan sambil bersembunyi dibalik punggung pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya itu. "Ada suara langkah-ssu~" Suara Kise gemetaran.
Aomine menelan ludah kecut. "Suaranya dari arah tangga. Seperti naik ke atas…"
Midorima diam. Ia menggenggam erat tasbih ditangannya ketika sebulir keringat menetes di keningnya. Jantungnya berdegup cepat sekarang. Sedangkan Murasakibara tetap asyik mengunyah keripik. Seakan-akan ia bahkan tak peduli kalau sekolah ini hancur mendadak asalkan ia masih bisa menyentuh keripiknya.
Tap. Tap. Tap.
Suaranya mendekat.
"Cepat masuk-nanodayo," Midorima berbisik sambil diam-diam mendekati pintu kelas, membukanya perlahan dan masuk. Diikuti Murasakibara yang masuk berikutnya. Lalu Kise dan Aomine yang spontan menarik tangan Mayuzumi agar ikutan masuk.
DEG.
Tapi Aomine tersentak. Ada yang aneh. Ada yang mengganjal pikirannya saat ia menatap Mayuzumi yang menatapnya datar.
"Ada apa?"
"Ti-tidak…" Kini Aomine mengerutkan kening sambil menatap tangannya sendiri. Sedangkan Kise sudah menutup pintu kelas sambil menyisakan sedikit celah agar ia bisa mengintip keluar. Kemudian Aomine ikut mengintip bersamanya.
Tap. Tap. Tap.
Langkahnya kini jelas dan telah sampai di lantai dua sepertinya. Suara itu menghilang selama beberapa saat. Lalu kembali terdengar jelas mendekati pintu kelas 1-A.
Mereka yang berada di kelas sama-sama menahan nafas dengan tubuh tegang. Pasalnya, langkah kaki itu perlahan melambat seiring dengan semakin mendekat ke kelas. Kise gemetaran, tanpa sadar ia memejamkan mata sambil mencengkram erat daun pintu yang ia pegangi sejak tadi.
Jantung Aomine berpacu sangat cepat. Keringatnya mulai bercucuran. Tak ada yang bisa menjelaskan seperti apa ketakutan yang mendadak mencekam mereka sekarang.
Tap.
Langkah itu berhenti. Tepat di balik pintu kelas.
Midorima dan Aomine saling bertatapan. Lalu mereka semua menatap Kise. Pelan—sangat pelan, Aomine menepuk pundak Kise, mengisyaratkan kepadanya untuk membuka pintu itu pelan-pelan. Namun Kise menggeleng dengan wajah nyaris menangis. Ia mencengkram pintu itu, menolak untuk membukanya.
Aomine kesal. Meski tanpa suara, ia langsung memelototi Kise galak. Lalu menjitak kepala model pirang itu, membuat Kise mengaduh tanpa suara seidkitpun dan beringsut menjauh dari pintu.
Kini tangan Aomine mencengkram daun pintu. Dalam hati ia menahan nafas dan menghitung mundur.
Satu…
Dua…
TIGA!
SRAG!
Pintu langsung terbuka lebar. Aomine meloncat keluar dan saat itulah ia kembali menegang saat melihat bayangan di ujung koridor, di arah tangga naik ke atas—tempat yang sama dengan Midorima— di hadapan mereka.
Lalu bayangan itu hilang mendadak. Seperti sebelumnya.
"Bayangan itu di atas!" seru Aomine melaporkan. Ia langsung berlari. Entah kenapa dalam waktu sedetik saja rasa takut itu langsung lenyap, digantikan dengan perasan mendebarkan yang menakjubkan. Ia menikmati ekspedisi semacam ini. Aomine sudah mendahului semuanya naik ke atas tangga menuju lantai tiga.
"Aominecchi!"
"Aomine, tunggu dulu!"
"Kenapa Mine-chin lari~?"
Mereka berdua—minus Murasakibara— spontan mengejar lelaki berkulit gelap itu. Sama-sama naik ke atas tangga menuju lantai tiga. Sayang Aomine sangat cepat sehingga mereka tak sempat menghentikan pemuda itu ketika ia sudah mencapai anak tangga paling atas.
Tubuh Aomine berhenti bergerak. Matanya mengerjap sekali lalu melebar sempurna.
"Aominechi?! Hantunya bagaimana-ssu?!"
DEG.
Kise orang kedua yang membatu di anak tangga terakhir.
Midorima baru saja sampai. Nafasnya terengah-engah saat ia menepuk pundak Kise yang mematung tak bersuara. "A-ada apa? Kenapa kalian semua diam—nanoda…" Midorima tak jadi melanjutkan kalimatnya. Mulutnya terkatup.
Yang terakhir sampai adalah Murasakibara yang naik ke atas dengan langkah santai. Matanya berkedip saat menemukan sesuatu yang benar-benar diluar dugaannya. "Aka-chin… Kuro-chin…?"
Eh? Apa? Aka-chin dan Kuro-chin?
Akashi tersenyum menyeringai. "Apa kalian berdua menikmati ekspedisi menangkap hantunya?" tanyanya sinis sambil menyalakan senter ke hadapan sebuah botol yang ia pegang. Akashi berdiri di ujung anak tangga, beberapa langkah di hadapan Aomine.
Cahaya senter itu mengarah lurus sampai ke anak tangga terbawah di lantai dua. Membuat siluet bayangan kecil nampak berdiri di ujung lantai dua. Itu bayangan botol yang Akashi pegang di tangannya. Nampak seperti bayangan manusia kecil.
Lalu senter itu dimatikan. Bayangan itu menghilang seketika.
Wajah Midorima pucat. Bayangan manusia kecil tadi…mirip dengan apa yang ia lihat kemarin malam. Dengan begitu artinya…
"AKASHI/AKASHICCHI/AKASHI!" Midorima, Kise dan Aomine berteriak bersamaan.
Murasakibara mengunyah. "Jadi itu Aka-chin, yaa?" tanyanya malas.
Kuroko yang berdiri di samping Akasi tersenyum kecil. "Maaf, semuanya." Ujarnya kalem. "Bukan bermaksud menakut-nakuti. Aku hanya ingin melihat sebenarnya apa yang terjadi dan ternyata Akashi-kun menjelaskan semuanya kepadaku."
Kise memandangi pemuda kecil itu. "Maksudnya, Kurokocchi?"
"Jadi setiap malam anggota komite OSIS selalu melakukan patroli di sekolah. Nah minggu ini adalah jatahnya Akashi-kun berpatroli. Katanya, karena Akashi-kun suka melihat ada beberapa murid yang berkeliaran di sekolah di malam hari, ia jadi tertarik mengerjai mereka. Soalnya tak jarang murid yang ada di sekolah di malam hari…" Suara Kuroko menghilang sejenak, lalu melirik Akashi gelisah. "Uhmm~"
"Tak sedikit dari mereka yang bermesraan di sekolah." Akashi melanjutkan.
HAH? Jelaslah Aomine, Kise dan Midorima melongok. Bermesraan itu maksudnya?! Tekou Gakuen kan sekolah khusus laki-laki?!
"Itu sebabnya, dibanding langsung melaporkan akan lebih baik jika sekalian menakut-nakuti. Dengan begitu tak akan banyak siswa yang berani ke sekolah di malam hari." Dan kembali Kuroko yang melanjutkan penjelasannya.
Jadi…
Kalau mereka semua tak salah tanggap…
"Jadi hantunya itu Akashicchi…?"
"Mungkin aku. Atau lebih tepatnya—botol." Akashi kembali menyalakan senter sambil menyorot botol itu. Menciptakan bayangan di ujung tangga dan kemudian mematikannya.
Akashi tersenyum tipis ke arah Kuroko. "Dan hari ini kuajak Tetsuya untuk melihat kebodohan kalian semua," ejeknya sinis, membuat Kuroko terkekeh pelan dengan maksud membenarkan ucapan Akashi.
Oh, tentu Aomine, Kise dan Midorima kesal bukan main.
"APA-APAAN INI?!" Aomine berteriak frustasi. "Untuk sebuah ekspedisi dan aku mendapatkan Akashi dan botol sebagai jawabannya, huh?! Apa ini lelucon? April Mop! Jangan gila kau, Aka—"
SRAT!
DEG.
Aomine bungkam ketika sebuah gunting meluncur bebas di sampingnya. Menancap di dinding kelas. Wajah Aomine pucat pasi dan Kise membisu. Midorima menelan ludah kecut.
Akashi tersenyum mengacam, "Ada keluhan, Daiki?"
'DIA MEMANG HANTU! Setan! Iblis dari neraka!' Batin mereka bertiga menjerit kompak.
Setelah ketegangan sesaat itu, Kise langsung tersadar akan sesuatu yang terlupakan. Pemuda itu langsung menatap lurus ke tangga bawah dan mengerutkan kening. "Mana Mayuzumi-kun?" Pertanyaan itu membuat Aomine dan Midorima menatap ke arah yang sama untuk mencari sosok Mayuzumi Chihiro.
Tapi pemuda berwajah datar dengan rambut abu-abu itu tak terlihat dimana-mana.
Kuroko menatap mereka, "Mayuzumi-kun?"
"Iya," Kise mengangguk, "tadi kami bertemu dengan seorang bernama Mayuzumi Chihiro. Dia bilang tengah mengecek. Aku kira ia berlari menyusul kita, tapi dia tak ada. Mungkin dia sudah kembali ke asrama." Kise terkekeh santai sambil menghela nafas lega. Sepertinya misteri hantu sudah tak membuatnya takut lagi.
Murasakibara menatap Midorima. "Apa Mayuzumi-kun itu…yang sejak tadi bicara dengan kalian?"
Eh?
Mereka sontak memandangi raksasa ungu itu heran.
Midorima mengangguk. "Mayuzumi-kun, pemuda berambut abu-abu itu. Jangan katakan kau lupa-nanodayo."
Kening Murasakibara mengkerut. "Ah, itulah~" ujarnya, "Sebenarnya daritadi aku ingin bertanya kenapa kalian selalu menyebut Mayuzumi-kun dan bicara sendirian. Aku sama sekali tak melihat apapun dan siapapun. Sejak tadi yang kulihat kita hanya berempat… Tidak ada siapapun yang ikut dengan kita…"
E-ehh…?
Aomine pucat lagi. Ia memandangi tangannya yang tadi ia gunakan untuk menarik Mayuzumi masuk ke dalam kelas. Memang samar, tapi saat itu otaknya memang merasa ada yang aneh. Karena saat ia menarik Mayuzumi, ia merasa tangan pemuda itu sangat…dingin.
Dingin… Sangat dingin…?
Oh, my…
Kacamata Midorima merosot lagi. Dengan tangan gemetar, ia menaikannya perlahan dan menatap Akashi yang memandangi mereka serius. "Akashi, Kuroko…kau lihat tadi ada orang yang ikut bersama kami?" tanyanya gugup.
Kuroko menggeleng. "Sejak aku lihat Midorima-kun dan yang lainnya sampai di lantai tiga, aku tak melihat satupun pemuda asing yang bersama kalian."
"Ngomong-ngomong," Akashi berdeham sekali, "Mayuzumi Chihiro, aku pernah mendengar nama itu."
Kise menatapnya cepat. "Eh? Jadi dia memang salah satu siswa, kan?!" Matanya bersinar penuh harap. Meski harapan itu sangat tipis dan hatinya was-was bukan main dengan jawaban Akashi.
Pemuda bermata belang itu menggeleng.
Oh, tidak… Ini tandanya bukan jawaban bagus!
Akashi bicara lagi, "Mayuzumi Chihiro. Yang kutahu itu adalah nama seorang siswa kelas 3-B yang ditemukan meninggal karena serangan jantung sekitar empat tahun yang lalu. Kabarnya saat itu Mayuzumi Chihiro kembali ke sekolah untuk mengecek barangnya yang tertinggal. Sayangnya ia mengalami serangan jantung dan tidak membawa obatnya. Pemuda itu dikabarkan meninggal di sekolah…"
Tentu ini bukan kasus bunuh diri atau pembunuhan sadis, kan?
Aomine, Kise dan Midorima menelan ludah horror. Mereka merinding seketika mendengar jawaban Akashi tadi.
"Jadi Mayuzumi Chihiro yang tadi bertemu dengan kalian bertiga…" Kuroko diam. Ia tak melanjutkan kalimatnya. Karena tepat sebelum Kuroko melanjutkan kata-katanya, ia tahu Kise, Aomine dan Midorima sudah jatuh lemas di lantai. Dengan nyawa yang nyaris terlepas dari raga.
Oh, my God…
~OoOoO~
"Jadi kenapa hanya Murasakibara-kun yang tidak bisa melihatnya?" Kuroko memandangi Akashi yang duduk membaca buku di kelas ketika jam istirahat siang itu. Sedangkan Murasakibara duduk dibelakang kursi Akashi, mengunyah camilannya santai.
Akashi berdeham pelan, "Karena sejak awal Atsushi tak percaya hantu. Ia hanya sibuk dengan makanannya saja."
"Bukankah Midorima-kun juga tak percaya?"
"Itu awalnya. Sepertinya di malam saat Shintarou melihat bayangan itu pertama kali, ia langsung percaya kalau hantu itu ada. Jadi semalam hanya Shintarou, Ryouta dan Daiki yang melihat hantu Mayuzumi Chihiro. Sedangkan bagi Atsushi, mereka bertiga hanya tampak bicara sendirian."
Kuroko menganggukkan kepalanya. "Jadi, apa nanti malam Akashi-kun akan berpatroli lagi?"
"Seharusnya sih hanya satu minggu," Akashi menutup bukunya, "Tapi karena jam patroliku, kegiatan bermesraan di sekolah di malam hari akhirnya menghilang. Jadi mungkin aku akan menambahkan jadwalku untuk dua atau tiga minggu ke depan."
Lagi-lagi Kuroko mengangguk saja. "Ah, Akashi-kun. Apa nanti malam aku boleh ikut?"
"Huh?" Akashi menatap pemuda itu sekilas.
Kuroko tersenyum tipis. "Ternyata berkeliaran di sekolah malam-malam tidak terlalu buruk. Apa aku boleh ikut menemani, Akashi-kun?" tanyanya lagi.
Akashi tersenyum. Ia menepuk kepala Kuroko sekali. "Jika kau berminat, Tetsuya."
"Ah~ Aku juga akan ikut ya, Aka-chin~" pinta Murasakibara ikutan.
Akashi hanya mengangguk santai. "Tentu saja, Atsushi."
Ngomong-ngomong, kenapa hanya mereka bertiga yang ada di kelas?
Ah~ Itu karena hari itu Aomine, Kise dan Midorima menyatakan izin tidak masuk karena sakit. Tidak sepenuhnya sakit, tapi bukan bohong juga. Mereka hanya mengalami trauma pasca bertemu dengan hantu semalam. Alhasil mereka tak mau keluar dari kamar untuk waktu seharian penuh. Mereka hanya merasa takut akan melihat hantu itu lagi di sekolah siang-siang.
Itu sebabnya hanya Akashi, Kuroko dan Murasakibara yang hadir di kelas.
Kali ini Kise benar-benar ingin menyesal. Ia kapok melakukan penyelidikan atau ekspedisi semacam itu. Lain kali ingatkan dia untuk tidak bermain-main dengan hantu. Aomine juga sama. Lain kali ingatkan pemuda itu untuk tak mengikuti ucapan Kise begitu saja. Dan Midorima, lain kali ingatkan dia untuk tidak membawa tasbih biksu. Karena benda yang katanya suci itu toh ternyata tidak bisa mengusir hantu. Untuk pertama kalinya Midorima kecewa dengan ramalan lucky item oha-asanya.
Dan misteri Hantu Kecil Teikou, biarlah hanya mereka berenam yang tahu kenyataannya.
.
.
3rd Quarter
Finish
Next Quarter!
Entah kenapa Midorima menanyakan kepada Kise bagaimana cara menyenangkan hati seorang gadis. Katanya sih, dia meminta izin keluar di liburan minggu itu. Bahkan Takao, temannya di SMP Shuutoku bilang, Midorima ada kencan!
What? Megane Tsundere itu punya pacar? JANGAN BERCANDA! Kise yang model dan Aomine yang mengaku keren saja masih jomblo!
Kira-kira seperti apa gadis yang 'katanya' sih pacar Midorima?
Gadis di bawah umur
Gadis seumuran
Gadis lebih tua
4th Quarter : Midorima's Girlfriend
A/N :
Maaf sebentar! izinkan aku ngakak dulu! #huahahahahaa
kenapa aku ngakak? sumpah ini humor soalnya garing! otakku nggak di desain untuk bkin fic super humor soalnya. jadi kalo misalkan krik-krik-krik-jangkrik harap maklum yah~ T^T
Untuk judul : Destiny Of Us, sungguh deh aku ngerasa ini judul OOT parah dari isi one-shootnya. ada yg punya usulan judul? Jujur aja otakku ngstuck buat judul ini. Jadi kalau ada yg punya usulan judul, boleh kasih tau aku. kali cocok nanti aku pakai judulnya ^^
eniwei, baruuu aja aku nonton VAMPS di Bukan 4 eyes~ ada yg nonton nggak? #abaikan# hyde-sama itu ganteng yah! nggak nyangka banget kalau paman(?) udah tua~ #ditabokin hyde-sama# piss ._.v
Thanks for comments in previous chappie :3
Akhir kata,
Review, onegai? ^^
.
Sign,
InfiKiss
