Shackled
.
.
Belenggu itu ada, mereka nyata, memisahkan kau dan aku.
.
.
Fragrance by CLEAN.
Senyumnya merekah. Kertas tester parfum itu dibauinya lagi, ketiga kalinya semenjak kertas putih itu diberikan oleh seorang sales toko. Pria itu beringsut mendekati pria lain yang lebih tinggi. Chanyeol melirik, sekedar mencari jawaban akan aura super positif yang beredar di sekitarannya.
Pelukisan seorang Baekhyun bagi Park Chanyeol selalu menjadi bagian terbaik untuknya merawi. Dominasi wajah Baekhyun di benaknya merupakan poin yang paling krusial di atas semua aspek. Tahi lalat di atas bibirnya adalah yang termanis, ia mendapati dirinya beberapa kali menekuri titik itu hanya untuk tersenyum gemas kemudian.
"Salah satu yang terbaik," Baekhyun merisak yang lebih tinggi dengan suara serak dan senyum kecilnya. Senyum itu hanya setipis nilon, Chanyeol meringis dalam hati. Paras Baekhyun yang setengah judes itu memangnya jarang tersenyum, tapi Baekhyun yang jinak tentu amat memesona. Boleh dibilang, perangainya yang agak irit bicara itu memikat hati. Menawan dan sepadan untuk dipuja.
Baekhyun mendorokkan kertas itu ke bawah hidung Chanyeol, pria itu menatap Baekhyun lurus-lurus seraya menghirup harum jeruk, laut, dan melati yang samar-samar menguar. Kening Chanyeol mengerut, "Seperti untuk wanita."
Yang lebih mungil mengedik, "Siapa peduli. Wanginya enak."
Kertas tester itu disisipkannya di kantung celana, "Aku yang simpan." Chanyeol memberi tahu. Baekhyun menatapnya singkat sebelum kembali melempar atensinya pada cumi keringnya yang sisa setengah. Baekhyun selalu tampak menggemaskan ketika fokus pada urusan makannya, pipi yang gembung itulah daya tariknya. Diam-diam Chanyeol mengekeh, tangannya ia bawa untuk mengusak surai jelaga Baekhyun.
"Kuantar pulang, ya?" Chanyeol merangkul bahu si mata bulan, kian mempersempit jarak di antara mereka. Ia menatap mata bening yang agak sayu itu. Tidak seperti kalangan gadis yang akan gamak ketika ditawari Chanyeol, Baekhyun lebih terkesan tak terbebani. Sudut bibirnya naik satu. Ada binar jenaka di matanya. Chanyeol tertawa dengan suara baritonnya menyadari Baekhyun menangkap arti lain dari tawaran cuma-cumanya. "Tidak jadi, deh. Nanti aku diseret masuk olehmu."
Baekhyun meninju bahu Chanyeol, "Kau tidak pernah keberatan sebelumnya."
"Bukan berarti akan selalu seperti itu bukan?" Chanyeol berbisik. "People change."
"Yeah," sahutnya hambar.
Lima meter dari tempat mereka berdiri terparkir motor Chanyeol, hitam-kuning seperti sepatu yang dipakainya sekarang. Secara naluriah Baekhyun menggenggam kain jaket yang si pengendara kenakan. Chanyeol menyalakan mesin, serta merta menjalankan kuda besinya di hiruk pikuk lalu lintas pukul lima.
Tak sampai dua puluh menit membelah jalan raya, mereka tiba di depan rumah tak berpagar milik Baekhyun. Sekali lagi Baekhyun bertanya akan keinginan Chanyeol untuk singgah, pria itu terdiam sesaat sekedar memantapkan hati sebelum akhirnya menggeleng. Ada senyum perpisahan di balik helmnya sementara tangannya melambai tanda pamit.
Chanyeol menunggangi motornya kencang-kencang. Ia merasakan ponselnya bergetar di saku celana, pemuda itu memacu motornya lebih cepat. Begitu ia sampai di daerah pertokoan barulah motornya ia tepikan. "Ada apa, Baek?" Suara di seberang agak terengah, membuat Chanyeol mengantisipasi lebih. Tak hanya suara napas, kini ia dapat mendengar gemertak gigi. Chanyeol menahan napas, memanggil ulang.
"Chanyeol," Itu suara serak Baekhyun. Chanyeol berdeham, menuntut respon. Intuisi pria jangkung itu berkata datang padanya, tapi logikanya ada sisi lain—hanya tetap diam dan biarkan ia bicara. "Chanyeol aku membutuhkannya.." Suaranya melirih sebelum ada jerit tertahan, "Berikan aku sedikit, Chanyeol!"
Itu dia.
Chanyeol menggigit pipi dalamnya, mencoba tak terpengaruh. "Begini Baekhyun, tahan, oke?"
"Stokku habis, Chanyeol, kumohon.." Napas Baekhyun tak teratur, suaranya panik, amat gelisah. "Aku butuh, aku butuh!"
"Tidak, Baekhyun. Aku tahu kau bisa, jangan biarkan mereka mengontrolmu lebih dari ini." Chanyeol mencoba menyugesti. "Tenang, Baekhyun."
Deru napas itu menyahuti, gemeletuk gigi yang tiada hentipun turut mengikuti. Racauan Baekhyun terdengar, tak jelas apa maknanya. Chanyeol terus menenangkannya sampai mendapati sambungan terputus begitu saja. Dengan hati tak tenang ia melakukan panggilan pada Baekhyun.
Tidak diangkat!
Perasaannya semakin tak menentu. Laki-laki itu tak punya pilihan, pada akhirnya menemui Baekhyun adalah jalan terbaik. Motornya ia pacu kembali ke pemukiman kumuh dimana Baekhyun tinggal, hampir setengah jam kemudian ia sampai. Pintu tua berkayu lapuk itu didorongnya, dapat ia temukan sosok ringkih Baekhyun berjongkok di sudut ruangan dengan tangan menutupi kepala. Beberapa barang berserakan di lantai, ponsel anak itu ada di dekat kaki Chanyeol. Boleh jadi itu karena dilemparnya.
"Baekhyun," panggilnya.
Yang dipanggil mengangkat kepala, tubuhnya yang bergetar ia bawa untuk menghampiri Chanyeol. Senyum merekah di wajahnya yang berpeluh. "Aku tahu kau pasti datang, Chanyeol." Lirihnya dengan napas terengah. "Aku tahu.."
Yang lebih tinggi menggeleng. "Tidak untuk memenuhi keinginanmu," Chanyeol mengusap pipi Baekhyun. "Tapi menyelamatkanmu dari mereka."
"Ya, ya," Baekhyun mengangguk tak sabar. "Selamatkan aku dengan beri aku sedikit."
Lelaki dengan mata bulat itu menggeleng tegas mencoba kembali menasehati Baekhyun, yang mana sangat menyulut amarahnya. Leher Chanyeol diraihnya, mata itu saling bertukar pandang dari dekat, hidung keduanya pun bersinggungan. Mata bulan sabit Baekhyun amat merah dilihat dari dekat, dan rahang tegas Chanyeol diterpa pula oleh napas yang berkejaran.
"Munafik!"
Desisan Baekhyun menemui hatinya. Munafik katanya, Chanyeol mengulum senyum miris.
Ketika Baekhyun mulai menggeledah tubuhnya ia tak bereaksi, anak itu tahu benar Chanyeol selalu menyisipkan beberapa puntung marijuana di kantung dalam jaket denimnya. Dari situ, ia dapat melihat Baekhyun yang seakan menemukan emas, yang berlarian mencari pematik dan kemudian menyundut batang marijuana itu di lantai dengan wajah terpuaskan.
Selalu begini. Baekhyun adalah kelemahannya, bandar mungil itu separuh hidupnya. Dan kematian mereka jelas ada di pelupuk mata. Chanyeol menghela napas. Tangannya mengambil pematik di tangan Baekhyun, mengapit marijuana di antara telunjuk dan jari tengah lalu bergabung di ruangan pengap penuh asap bersama pria mungil itu.
Waktu terasa begitu cepat walau nyatanya jam telah menunjukkan pukul dua dini hari. Tengah malam tadi penyuplai baru mendatangkan beberapa narkotika, Chanyeol yang harus bertanggung jawab sebab Baekhyun benar-benar tak ingin diganggu.
Sekarang yang ada di matanya adalah seorang pria teler yang bertumpu pada tembok di belakangnya, menghirup asap shabu dari Bong dengan senyum mengambang, ada beberapa suntikan dan botol mengelilinginya. Pria itu, pria yang dicintainya. Yang sialnya seorang bandar narkoba dan juga pecandu berat. Ia tahu ia dipertemukan dengannya karena benda haram ini, tapi jujur pria tinggi itu lelah dengan kehidupannya. Sakau sewaktu-waktu yang akhirnya membuat ia memilih putus kuliah daripada ditemukan sedang ingin dan akhirnya dibawa ke pusat rehab. Ia hanya ingin berhenti atau mengurangi, setidaknya.
Sesungguhnya ia telah bertekad. Dan harusnya ia tahu itulah satu-satunya jalan.
Berhenti... atau mati.
Chanyeol mengembuskan asap dari mulutnya, ia bangkit untuk menghampiri Baekhyun. Menempatkan kepalanya di paha anak itu. Baekhyun meresponnya, mata yang begitu dipujanya itu menatap padanya, bersama dengan sebuah senyum kekanakan yang amat manis. Chanyeol menutup mata, asap ia keluarkan lagi dari belah bibirnya. Kian memenuhi ruangan pengap ini dengan dosa mereka berdua.
Dengan tergesa Chanyeol menarik tengkuk Baekhyun, membawa bibir tipis itu ke dekatnya agar bisa ia pagut. Dengan mendalam namun pula tak perlahan, pelekatan itu terasa magis.
Baekhyun membalasnya, dan Chanyeol hanya butuh itu. Giginya mengait pada si ceri, menariknya turun sementara tak ada celah yang tertinggal pada setiap sudut untuk ia tekan dengan miliknya yang penuh. Lolosan nada yang mengalun itu sungguh fatal, namun Baekhyun semata-mata tak tahu batasannya. Ia terlampau high untuk itu. Tubuh Baekhyun yang semula duduk, mulai membungkuk. Cerupan Chanyeol kian menjadi, tanpa kenal henti.
Hanya lupakan segalanya untuk malam ini, karena pendosa ini juga membutuhkan hatinya.
.
.
"Otakmu sisa separuh, ya?" Baekhyun mendengus jengkel. "Dari kemarin suruh aku berhenti pakai, berhenti jual. Dipikir mudah, begitu?"
Chanyeol berusaha sabar menghadapi emosi naik-turun si pemuda mungil. "Kita bisa coba, tak masalah untuk kembali berbenah."
"Konyol, jadi kau mau aku berhenti bekerja sementara kehidupan imajinatif di depan matamu itu pada nyatanya cuma makin mempersulitku?" Baekhyun menyodorkan botol morfin ke depan wajah Chanyeol. "Ini yang menghidupiku, Chanyeol! Benda ini!"
"Kita bisa—"
"Aku bilang, kau konyol. Kau masih mabuk putaw, heh?"
Chanyeol mendekat, Baekhyun meningkatkan kewaspadaan. Tatapan mata Chanyeol sungguh meyakinkan, seolah mengatakan ada hidup yang lebih dibalik fatamorgana mereka saat ini. Tapi sayang, Baekhyun tak terpengaruh. Sosoknya yang pada dasarnya keras kepala agak sulit diberi pengertian.
Sosok yang lebih tinggi mencoba meraih wajah Baekhyun, namun tepisan itu mengejutkannya.
"Jangan sentuh aku jika kau hanya ingin lebih merusakku, Brengsek."
Chanyeol terhenyak.
Hening yang menyergap seakan memberi Chanyeol waktu berpikir akan kepantasan Baekhyun untuk ia perjuangkan. Pria itu menatap dalam mata bulan sabit kesukaannya, yang sedang menyala marah—bengis sekali. Chanyeol mengekeh perih. Hatinya hancur berkeping-keping. Disangkakan pengkhianat oleh bagian lain dirinya tak pernah ia kira akan sebegini menyakitkan.
"Aku pergi," ucap Chanyeol dingin. Tas ransel yang tergeletak di dekat pintu dibopongnya di punggung, kunci motor ia satukan dengan lubang kunci dan begitulah hari keduanya berakhir.
Perpisahan.
Baekhyun tersedak. Ia batuk hingga nyaris kehabisan napas, pil ekstasi yang tengah ia telan tersangkut di kerongkongannya. Wajah Chanyeol yang tiba-tiba tervisualisasi di benaknya membuat hatinya yang merindu setengah mati melonjak-lonjak. Rasanya keterlaluan untuk selalu memikirkan dan menanti kehadirannya di balik pintu cokelat yang sudah reyot itu. Acap kali derit pintu pukul dua pagi ia kira sebagai si pemuda jangkung, namun mendapati hanya beberapa pemuda yang datang untuk membeli barang membuat ia harus menelan kembali angannya.
Chanyeol tak kunjung kembali.
Baekhyun menenggak birnya. Kepergian pria itu telah mencapai bulan ke dua. Dan setiap hari dari hari kepergian itu hanya Baekhyun gunakan untuk merusak dan semakin merusak dirinya. Tidak ada makan siang, tidak ada sarapan. Seolah-olah pertahanan hidupnya saat ini hanyalah keinginan untuk menemuinya. Sempat terpikir untuk berhenti, namun tak dapat dipungkiri hal tersebut hanya membuatnya kian frustasi.
Ia butuh Chanyeol—setidaknya untuk menyemangatinya.
Samar-samar ia lihat pergerakan pada pintu, ada bayangan seseorang di sana. Baekhyun menatap lurus, dalam diam berekspetasi. Sosok itu tinggi, rapi, dan amat tegap. Siluet itu mirip—namun, jelas tak sama. Chanyeol tentu tak akan datang padanya untuk memborgolnya, apalagi menodongkan senapan padanya. Asap-asap dari alat hisap tak pula membantu, itu hanya menutupi wajah mereka. Ya, mereka.
Mereka yang datang dari badan narkotika negara.
.
.
.
"Atas dasar laporan masyrakat yang mengakui menangkap basah beberapa pemuda mencurigakan datang tengah malam ke kediaman anda, kami pun melakukan pengecekan. Dan tempo hari anda berhasil kami ciduk dengan keadaan positif sedang menggunakan narkoba. Ditemukan pula barang-barang bukti berupa narkotik, psikotrpika, dan NAPZA dengan kuantitas cukup besar di tempat tersebut."
Baekhyun menatap kosong meja peradilan dan para jajaran hakim, tak menimpali.
"Dengan ini, saudara Byun Baekhyun, bandar dan pengedar barang haram—narkoba, kami jatuhi vonis eksekusi mati."
Tiga kali palu itu diketuk.
Chanyeol tak berhenti menatap televisi, menekuri wajah kekasih hatinya yang menatap kosong ke depan. Giginya bergemeletuk di samping tubuhnya yang menggigil. Tubuh bongsor pria itu kian memojok pada sudut ruangan kamar. Mengisak pilu seraya melawan gelombang sakitnya obat-obatan itu.
.
.
END
