Bleach = Kubo Tite

This Story = Searaki Icchy

WARNING! AU, OOC, Typo(s) selalu, dan segala kekurangan lainnya

Hope u guys enjoy it~! :D


Searaki Icchy's Present

.

.

Benar-benar kejutan yang tak terduga.

Seharusnya Ichigo merahasiakan hubungannya dengan Rukia dari siapapun, terlebih lagi dengan keluarganya. Mana pernah dia menduga bahwa Rukia akan bertemu dengan keluarganya secepat ini. Ini gara-gara pertemuan tidak sengaja dengan Ibunya.

"Akhirnya Ichigo membawakan calon menantu untuk kita, Ibu~!" Ayahnya, Isshin Kurosaki, hampir saja menjerit penuh bahagia sambil memeluk istri tercintanya, Masaki. Tidak peduli bahwa mereka sedang berada di sebuah restoran mewah yang terletak tidak jauh dari supermarket tempat mereka bertemu.

Untuk apa orangtuanya berada di daerah apartemen Ichigo?

Ichigo melirik Rukia. Diam-diam memperhatikan reaksi yang dikeluarkan gadis itu. Rukia tertawa lepas ketika mendengarkan gurauan Ayahnya dan dengan mulus mengikuti arah perkembangan percakapan orangtuanya. Tidak ada rasa gugup dari gadis itu. Memang benar-benar artis profesional.

"Apa profesimu, Rukia?" tanya sang Ibu, Masaki.

Rukia menjawabnya dengan mulus. "Sebenarnya aku adalah seorang pemain drama, tapi akhir-akhir ini banyak yang menawariku untuk berakting dalam layar lebar. Aku baru saja kembali dari Jepang karena menetap di Berlin selama kurang-lebih 3 tahun."

Jawaban yang tidak Ichigo kira. Entah apakah jawaban Rukia itu hanya kebohongan belaka atau memang yang sebenarnya terjadi.

"Wah? Ternyata kau adalah seorang artis, yah? Hebat sekali!" seru Masaki memuji.

"Kalau boleh tahu, peran apa saja yang kau mainkan, Rukia? Siapa tahu kami pernah menontonnya. Istriku ini sangat menyukai panggung drama, lho." Isshin ikut dalam percakapan.

"Hmmm... Paman dan Bibi pernah melihat pertunjukkan Cinderella 3 tahun yang lalu?" Rukia melihat orangtua Ichigo mengangguk baru kembali melanjutkan. "Aku yang jadi Cinderella-nya."

Isshin, Masaki plus Ichigo. Semuanya sama-sama tercengang.

Ichigo berusaha mengingat-ingat memorinya 3 tahun lalu. Ketika dia dengan terpaksa ikut menonton karena ajakan Ibunya yang memang penggemar pertunjukkan drama, apalagi kalau drama itu diambil dari adaptasi cerita dongeng. Meskipun awalnya enggan, namun setelah beberapa menit Ichigo menonton, pria itu terhanyut juga oleh alur cerita. Pelaku yang memainkan karakter masing-masing begitu menghanyati peran mereka, terutama sang tokoh wanita utama dengan suara jernihnya yang sanggup menyaingi suara bidadari. Wanita dengan keindahan yang tak kalah cantik di bandingkan sang Cinderella yang dia perankan.

Sekali lagi, Ichigo tercengang. Yang jadi Cinderella waktu itu adalah... Rukia?!

Tunggu dulu! Bukankah yang memerankan Cinderella bernama Lucya?

Mungkinkah...?

Tunggu... Ichigo berusaha menggali kembali serpihan memorinya. Kalau tidak salah 10 tahun yang lalu dia pernah tidak sengaja bertemu dengan seorang wanita. Wanita itu berambut pirang bergelombang indah, dipadu dengan balutan kain sutra yang menutupi tubuh mungilnya. Dia ingat pernah tidak sengaja bertemu gadis mungil itu, yang saat itu terlihat gemetar gugup karena hari itu adalah hari pertamanya berpentas.

Mungkinkah dia adalah... Rukia?

"Bagaimana cara kalian berdua bertemu?" tanya Isshin. "Kalau dilihat dari kedua profesi, kecil kemungkinan untuk bisa saling kenal."

"Sebenarnya Paman, aku dan Ichigo baru bertemu 2 minggu yang lalu. Saat itu kami tidak sengaja bertemu di sebuah bar. Aku menolong Ichigo yang pingsan karena mabuk berat," kata Rukia.

"Ichigo mabuk berat? Jangan bilang kalau kau mabuk gara-gara Orihime-chan menikah. Dasar anak bodoh!" ledek Isshin.

Ichigo hanya mengacak rambutnya. Dia hampir saja melempar gelas ke muka pria di depannya kalau saja orang itu bukan Ayah kandungnya. Lalu Ichigo melirik Rukia. Kenapa wanita itu mengungkit tentang pertemuan pertama mereka? Itu adalah pertemuan yang memalukan!

"Jadi kau mengantarnya pulang, Rukia?" tanya Masaki penasaran.

Rukia menggeleng pelan. "Tidak, Bibi. Aku menyewa kamar hotel. Lagipula saat itu aku tidak tahu Ichigo tinggal dimana, jadi kami terpaksa bermalam di hotel."

"Bermalam? Sesuatu pasti terjadi. Iya kan, Ichigo?" Masaki tersenyum penuh arti. Senyuman yang membuat bulu kuduk Ichigo berdiri.

Rukia tertawa melihat reaksi kedua orangtua Ichigo yang tidak biasa. Mereka tidak terlihat marah atau menganggap rendah dirinya. Benar-benar orangtua yang menyenangkan.

"Sayangnya tidak terjadi apa-apa di antara kami, Bibi. Ichigo tidak sadarkan diri dan aku juga lelah. Kami hanya tidur seranjang saja. Benar-benar tidur," lanjutnya.

Informasi yang tak terduga. Ichigo begitu fokus mendengarkan penjelasan Rukia.

Kejadian malam itu. Kejadian yang tidak tercatat di dalam otaknya. Kejadian yang membuatnya terikat dengan sang nona mungil licik.

"Tidak terjadi apa-apa?! Ada yang salah dengan kepalamu, Nak! Kenapa kau menyia-nyiakan wanita cantik di sebelahmu!" timpal Isshin dramatis.

Lagi-lagi Ichigo diam. Memang ada yang salah dengan dirinya...

"Kalau begitu, bagaimana awalnya kalian bisa pacaran? Kalian berdua baru saja kenal, kan?"

Mungkin ini adalah saatnya bagi Ichigo untuk mengakui semuanya. Kedua orangtuanya memang sangat jauh dari kata konvensional, tapi mereka tidak bodoh. Mustahil bagi dua orang yang baru bertemu sebentar sudah langsung berpacaran. Bahkan dalam cerita novel saja perlu belasan chapter untuk terjadi.

"Sebenarnya kami hanya-"

Kata-kata Ichigo terhenti ketika Rukia memotong ucapannya.

"Aku yang meminta Ichigo untuk menjadi pacarku. Habis dia sudah berhasil mencuri hatiku, sih."

Rukia tersipu malu. Ichigo kembali tidak bisa berpaling dari Rukia. Memang ada yang salah pada otak wanita itu! Tapi... kalau memang apa yang di katakannya benar, berarti malam itu tidak terjadi apa-apa antara mereka!

Kenapa mendengar itu Ichigo merasa kecewa? Sepertinya ada yang salah dengan otaknya...

.

.

xXxXx

.

.

Setelah hampir 30 menit berada di dalam mobil, akhirnya mereka tiba di Clarity Bar. Tempat pertama kali mereka bertemu. Setelah pertemuan dengan orangtuanya, Ichigo sama sekali tidak berniat untuk pulang ke rumah. Malah, dia ingin menghabiskan malam hari dengan minum sebanyak-banyaknya. Dia harus meminta pernjelasan yang sebenarnya dari Rukia.

Dengan bodohnya Ichigo bisa tertipu oleh Rukia. Entah apa yang di katakan wanita itu tadi benar atau tidak. Ichigo harus menuntut penjelasan.

Bartender memberikan segelas kecil tequilla dan Ichigo langsung meneguknya tanpa sisa. Sang bartender tidak lupa juga memberikannya untuk Rukia.

"Waktu itu... tidak terjadi apa-apa di antara kita, kan?" Ichigo angkat bicara.

Rukia meresponnya dengan senyuman misterius andalannya. Ichigo mengamati senyuman itu. Meski samar, Ichigo sudah mulai bisa memahami setiap gerak-gerik yang Rukia lakukan. Wanita mungil ini selalu merespon dengan tersenyum simpul setiap kali dia tidak ingin menjawab pertanyaan. Dan biasanya selalu diakhiri dengan menggoda Ichigo untuk mengalihkan pembicaraan.

"Bisakah kali ini kau tidak berbohong atau menggodaku, Rukia?" pinta Ichigo serius.

Rukia mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah. "Baiklah. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu dengan jujur kali ini."

"Waktu itu kita melakukan 'itu'. Ya atau tidak?"

"Tidak."

"Pertanyaan bahwa aku telah merenggut kehormatanmu ternyata tidak benar. Ya atau tidak?"

"Ya."

"Kau berpura-pura menjadi pacarku karena tidak mau di jodohkan oleh Kakakmu. Ya atau tidak?"

"Ya."

"Pertanyaan terakhir dariku..." dan mungkin ini adalah pertanyaan yang sudah ingin kutanyakan dari tadi...

Rukia menunggu Ichigo melanjutkan ucapannya. Tertawa geli melihat ekspresi Ichigo yang salah tingkah. Mungkin pria itu bingung dengan pertanyaannya sendiri. Dengan tenang Rukia menegak habis tequilla keduanya.

"Apakah kau adalah Lucya?"

Rukia tidak mengira pertanyaan itu keluar dari mulut Ichigo. Sudah lama dia berusaha membuang nama itu sejak 5 tahun yang lalu. Sebuah nama yang menyedihkan.

Rukia menjawabnya dengan senyuman. Namun bukan cengiran yang biasa selalu dia berikan kalau sedang ingin menjahili Ichigo. Senyuman itu menyembunyikan kesedihan. Sebuah luka lama yang sebenarnya tidak perlu Rukia ingat.

Ichigo menyadari perubahan raut wajah Rukia. Sedikit terpesona karena tidak pernah menyangka Rukia akan memperlihatkan raut wajah seperti itu. Sayang, ekspresi langka itu kembali seperti semula. Rukia kembali bersikap seperti dirinya yang biasanya.

"Kalau kau tahu aku adalah Lucya, berarti kau pasti menonton pertunjukkan dramaku."

Ichigo menghela nafas. Dilihat dari reaksi Rukia, sepertinya wanita itu tidak ingat bahwa mereka pernah bertemu 10 tahun yang lalu. Biarlah, Ichigo juga tidak tertarik untuk membicarakannya. Dia sudah puas walau hanya dirinya saja yang mengingat kenangan itu.

Terlebih lagi, yang paling penting mengapa Ichigo lega Rukia tidak ingat dengannya. Itu adalah ingatan yang memalukan...!

"Aku menontonnya karena setiap hari Ibu selalu memutar DVD-nya. Tapi harus kuakui, aku sama sekali tidak menyangka wanita yang menjadi Lucya adalah kau. Kau sangat berbeda ketika menjadi Lucya," kata Ichigo jujur.

Rukia menerima segelas bir dingin dan meneguknya pelan. "Kau kecewa karena aku tidak sesuai dalam bayanganmu, Ichigo?"

"Tidak juga..." Ichigo memutar pelan gelas yang sudah kosong di depan meja, mengamati perlahan es batu yang mulai mencair. Keheningan bar malam bersatu dengan alunan pelan denting piano yang mulai berkumandang. Pertanda bahwa mulai banyak pelanggan yang datang.

Pria itu menatap Rukia, mengamati setiap gerak-gerik yang dikeluarkan wanita itu. Hari ini Rukia tidak seperti biasanya. Ini bukan Rukia yang dia kenal. Rukia yang selalu mendominasi dan menggodanya dengan berbagai macam cara, yang selalu berhasil menipunya setiap kali Ichigo kehilangan kesabaran menghadapi tingkah manjanya.

Ichigo ingin mengenal Rukia lebih jauh lagi. Ada sebuah perasaan aneh yang mengatakan bahwa dia mulai tertarik dengan Rukia, meski Ichigo sedikit enggan mengakuinya.

"Sudah tidak ada lagi yang ditanyakan, kan?" suara Rukia memanggil Ichigo dari lamunan.

Kini Rukia tersenyum seperti biasa. Cengiran kuda yang biasa selalu Rukia munculkan setiap kali ingin menggoda Ichigo. Bersamaan dengan berakhirnya suara piano yang sedang mengalun pelan mengiringi malam mereka. Satu per satu para pengunjung mulai keluar, mencari hiburan baru. Meninggalkan Ichigo dan Rukia duduk di stand-bar hanya berdua.

Ichigo menggeleng pelan, sudah cukup pertanyaan yang ingin dia dengar. Pria itu tidak marah atau merasa dibohongi oleh Rukia. Tidak, justru dia lega karena wanita itu bersedia menjawabnya dengan jujur. Karena setidaknya kini mereka bisa tinggal berdua tanpa harus menipu satu sama lain.

Rukia menunggu reaksi Ichigo. Mencari-cari dalam pandangan sayu hazelnya dari samping. Reaksi pria itu tidak seperti yang Rukia harapkan. Apakah Ichigo sama sekali tidak kesal karena Rukia sudah menipunya?

"Kau tidak marah?" tanya Rukia akhirnya.

Ichigo tertawa pelan. "Entahlah, mungkin jauh di alam bawah sadar aku sudah tahu bahwa kau memang sengaja menipuku. Namun, tertipu atau tidak, pada akhirnya aku tetap mengizinkanmu untuk tinggal bersamaku, kan?" katanya sambil meneguk sisa bir dingin terakhirnya.

Lalu, Ichigo teringat satu pertanyaan lagi. Pertanyaan tentang pernyataan Rukia ketika mereka bertemu dengan orangtuanya.

"Ketika kau bilang kalau kau tertarik padaku tadi, apakah kata-katamu itu benar?"

Ichigo menunggu wanita itu menjawab. Ichigo tidak bercanda ketika menanyakan ini, dia berharap Rukia mau menjawabnya yang sejujurnya. Sejak tadi pertanyaan itu terus mengganggu Ichigo, dan dia tidak ingin perasaannya jadi terombang-ambing karena pernyataan yang bisa jadi hanya tipu daya Rukia.

Detik demi detik berlalu, Rukia pun mulai menoleh ke arahnya. Bibir tipis itu hanya menyunggingkan senyuman baru. Ichigo tidak tahu makna senyuman itu, namun tubuhnya terasa seperti ditarik mendekat. Senyuman itu menggoda hasratnya yang paling dalam, tanpa sadar membuat Ichigo tergerak untuk mendekati senyuman itu.

Terus mendekat. Semakin mendekat, meraih bibir itu... dan menciumnya.

Mungkin ini terjadi karena pengaruh alkohol. Namun ketika Ichigo menempelkan bibirnya ke bibir Rukia, rasa alkohol terasa begitu manis. Membuatnya menginginkan lebih. Ingin rasanya mengambil sebanyak-banyaknya rasa Rukia.

Kau harus mencari wanita...

Ah, ternyata ini yang dimaksud oleh Kaien. Benar, mungkin ini yang Ichigo perlukan untuk melupakan kesedihannya.

Rukia merasakan getaran dari saku celananya. Tangannya mulai merogoh ponsel kecilnya dan mengangkat panggilan telepon dari nomor yang tidak dia kenal.

"Halo?"

Rukia melepaskan ciuman dan bersikap seperti bukan masalah besar dan dengan tenang menjawab panggilan. Raut wajahnya berubah kaget ketika mendengar suara di seberang telepon. Lagi-lagi, Ichigo melihat ekspresi baru Rukia. Hari ini, wanita itu mengeluarkan berbagai macam ekspresi baru yang membuatnya tercengang.

Ichigo mengamati Rukia yang serius mendengar suara seseorang di seberang telepon. Berusaha mendengarkan apa yang sedang didengarkan wanita itu. Sadar bahwa Ichigo berusaha menguping pembicaraannya, Rukia menjulurkan lidahnya menggodanya Ichigo sebelum akhirnya wanita itu keluar dari bar. Tidak ingin terganggu oleh sorot Ichigo.

.

.

Clarity

~ Let it Linger ~

.

.

"Maaf, aku harus keluar dari bar karena sinyal tidak terlalu bagus," sambung Rukia kembali. "Kau tadi bilang apa, Urahara-san?" tanyanya kepada sang penelpon.

"Kau sengaja supaya aku mengulang semuanya yah, Rukia-chan?" jawab Urahara tertawa. "Jadi maksudku, aku ingin kau kembali menjadi Lucya."

Rukia tertawa mengejek. "Bukankah sekarang Riruka yang menjadi Lucya? Aku tidak melihat ada yang salah dengan akting Riruka. Lagipula, sebelumnya kau tidak pernah mencariku, Urahara-san?" sindir Rukia.

"Jadi kau marah karena aku tidak mencarimu? Kau sendiri kan yang dari awal sudah menolak permintaanku. Dan kalau aku baru bisa menghubungimu sekarang itu karena kau sangat susah dicari."

"Ngomong-ngomong, kau tahu nomorku darimana?"

"Aku bertemu dengan Hisana-chan. Dia bilang kau sudah kembali ke Jepang, makanya..."

Dasar Kakak sialan! Gerutu Rukia dalam hati. Meskipun dia tidak bisa menyalahkan Hisana, Rukia tidak berpesan kepada Kakaknya agar tidak memberikan nomornya kepada siapapun selain keluarga. Sebenarnya sih Rukia tahu selama ini Urahara selalu mencarinya. Ibunya selalu memberikan informasi yang menyangkut tentang kariernya sebagai artis drama.

Kalau bisa Rukia sudah tidak mau terlibat lagi ke dalam dunia itu... Hatinya masih belum bisa melepaskan semuanya.

"Apapun yang kau katakan tidak akan mengubah keputusanku, Urahara-san. Aku tidak akan pernah menjadi Lucya. Aku bersedia berperan sebagai tokoh yang lain, walau sekecil apapun peran itu ataukah ceritanya tidak menarik, aku bersedia memerankan peran apapun kecuali menjadi Lucya."

Suara Rukia begitu tegas sampai membuat Urahara di seberang telepon hanya bisa menghela nafas pasrah. Rukia memang keliatan selalu suka semauanya dan tidak suka diperintah, namun ada kalanya ketika wanita itu serius tidak seorang pun yang berani menentang kehendaknya.

"Baiklah, hari ini aku menyerah. Tapi aku ingin kita bertemu nanti, aku ingin membicarakan beberapa drama baru. Apa kau bisa?"

"Akan kupikirkan..."

Ketika Rukia hendak ingin mematikan telepon, tangannya terhenti ketika mendengar kalimat terakhir dari Urahara.

"Aku akan mengatakan ini kepadamu, Rukia-chan. Sebaiknya jangan kau campur-adukkan perasaan pribadi dengan dunia pekerjaanmu. Kau akan menderita karena itu..."

Kata-kata itu... rasanya sudah lama Rukia tidak mendengar kata-kata itu dari Urahara. Tanpa sadar Rukia tersenyum. "Aku tahu, Urahara-san. Makanya, aku tetap berakting sekalipun itu menyakitkan. Aku masih bersedia bertemu dengan mereka sekalipun aku sangat membencinya. Tapi memang ada saatnya di mana aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku harap kau bisa memakluminya karena aku hanyalah manusia biasa..."

Semilir angin malam mulai menusuk setiap tulang Rukia. Angin mulai berhembus dingin, pertanda bahwa sebentar lagi musim dingin akan tiba. Musim yang Rukia benci karena wanita itu tidak tahan dengan udara dingin. Mantelnya masih belum sanggup menghangatkan tubuh mungilnya.

"Apa kau masih menelpon?"

Rukia berbalik arah, melihat Ichigo berdiri di belakangnya. Entah kenapa memandang Ichigo membuat hati Rukia sedikit lega. Dia benci diingatkan tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak harus dilakukan. Rukia tidak perlu pengingat itu. Kejadian masa lalu adalah masa lalu, meskipun dia berusaha lari dari kenyataan yang ada, Rukia tetap berusaha dengan caranya sendiri.

Berkat itu, dia bisa bertemu dengan Ichigo, kan?

"Kau sudah selesai dengan urusanmu, Rukia?" tanya Ichigo sekali lagi. "Aku harus melanjutkan pekerjaanku," lanjutnya mulai berjalan menghampiri mobil yang parkir di pinggir jalan.

"Kau sudah mau pulang?" tanya Rukia.

"Kerjaan," jawab Ichigo singkat. Besok dia harus mengumpulkan sisa perkerjaannya yang terbengkalai karena paksaan Rukia untuk pergi berbelanja.

Banyak yang terjadi hari ini. Berbagai macam kejadian dan juga kebenaran yang ada. Ichigo masih seperti biasanya, begitu juga dengan Rukia. Hubungan aneh yang diam-diam mengikat mereka perlahan-lahan mulai berubah. Yang tanpa mereka sadar ada benang merah yang mengikat mereka lebih erat.

Ichigo mengigil pelan karena hembusan angin, mengingatkannya bahwa sebentar lagi pergantian musim. Lagi-lagi dia harus keluar untuk membeli beberapa persiapan untuk keperluan musim dingin. Ichigo juga harus membeli penghangat ruangan yang baru karena dia baru ingat penghangat ruangan miliknya rusak karena dipinjam Kaien.

"Dingin..." Diliriknya Rukia yang menggigil.

"Kau tidak kuat dingin?" tanyanya.

"Aku benci dingin, Ichigo. Kau lihat sendiri tubuhku tidak kuat kau kena dingin."

Rukia tidak bohong. Tubuhnya memang menggigil secara alami. Mungkin mereka harus pulang. Ichigo harus membeli penghangat ruangan segera.

Ichigo melangkahkan kakinya kembali mendekat Rukia. Tangannya melepas jaket yang sedang Ichigo pakai dan menyematkannya di bahu Rukia.

"Lebih mendingan?" tanya Ichigo pelan.

Rukia menatapnya heran. Ichigo terlihat lebih tampan dari biasanya. Dasar, pria itu memang selalu bisa membuatnya berdebar, Rukia tidak akan mengakuinya secara terang-terangan.

"Terima kasih, Ichigo. Apa itu berarti aku bisa tidur di kamarmu?" Rukia nyengir.

Ichigo membatu. Mulai lagi deh...

"Tidak! Kau tetap tidur di sofa sesuai perjanjian!"

"Eeeehhhh! Tapi... tapi... besok sudah mulai musim dingin!"

Rukia mulai merengek seperti biasa. Dan Ichigo hanya bisa menutup kedua telinganya. Tidur sekamar dengan Rukia?

Tidak!

Apalagi setelah Ichigo tahu, bahwa malam itu tidak terjadi apa-apa di antara mereka...

Keadaan bisa gawat...

.

.

~ TO BE CONTINUE ~

.

.

Balas Review :

darries : Makasih reviewnya :D Hahaha, Rukia emang pinter nyiksa Ichigo. Untuk yg manggil Ichigo, udah ketauan kan siapa? Hehe...

dimaspriyadi524 : Makasih reviewnya :D Sudah dilanjut

15 Hendrik Widyatawi : makasih reviewnya :D Rina itu salah nulis. Hahaha

Kim Yui Rie : makasih reviewnya :D IchiRuki tinggal serumah itu yah kayak... gimana yah? Hahaha, dibaca aja Ficnya yah ^^

Tsukuyomi Lucifer Namikaze : makasih reviewnya :D sudah dilanjut

Agizera : makasih reviewnya :D semoga hubungan IchiRukinya ga aneh deh, hehehe :)

angkerss a lauch : makasih reviewnya :D maaf kalo lama updatenya :)

Azura Kuchiki : makasih reviewnya :D itu yg Rina biasa lah typo. Hahaha... yg panggil Ichigo bukan Inoue kok. Tenang saja :D

Riyuzaky L Ichiruki : makasih reviewnya :D sudah dilanjut

hiru nesaan : makasih reviewnya :D Iya nih, Wbnya ga hilang2 sampe skrng ^^a

akasaki rinko : makasih reviewnya :D gpp, boleh dibaca ulang lg biar inget, hahaha

loly jun : makasih reviewnya :D sudah dilanjut

usashiro : makasih reviewnya :D sudah dilanjut

kiutemy : makasih reviewnya :D Kaien ga jdi org ketiga kok, tenang. Dan yg manggil Ichigo bukan Orihime :D

Shin Young : makasih reviewnya :D pekerjaannya Rukia sudah dikasih tau di chapter ini ^^

Michelle Hadiwijaya : makasih reviewnya :D sudah dilanjut. Kyknya sih happy end ^^a

rara chan23 : makasih reviewnya :D Tenang aja, Ichigo memang bodoh disini #digampar =))

Jackquin : makasih reviewnya :D sudah dilanjut

wakamiya hikaru : makasih reviewnya :D sudah dilanjut

namika : makasih reviewnya :D sudah dilanjut

KaruminiAri : makasih reviewnya :D sudah dilanjut

Hiroki Rivai : makasih reviewnya :D Scene Ichi-Ori menyusul yah soalnya yg manggil ichi kan bukan dia :p #plak! Hahaha, amin~!

Bleachaholic Yuuka-chan : makasih reviewnya :D Rukia memang manja disini, hahaha

fuuchi : makasih reviewnya :D ada beberapa Fic yg selamat sih, meskipun hampir hilang semuanya ^^a iyaa, memang tulisanku jelek banget gara2 udah lama ga nulis. ^^a

DRIKK : makasih reviewnya :D iyaa, Ichigo memang selalu sukses bikin ngiler #plak! =))

NatsumeAoi : makasih reviewnya :D sudah dilanjut

Karu : makasih reviewnya :D sudah dilanjut. Salam kenal :)

Darkshadow : makasih reviewnya :D sudah dilanjut

Lhylia Kiryu : makasih reviewnya :D sudah dilanjut

nyll ruichhy : makasih reviewnya :D sudah dilanjut

michellea : makasih reviewnya :D sudah dilanjut

Rini desu : makasih reviewnya :D org ketiga masih coming soon :)

Naruzhea AiChi : makasih reviewnya :D baca lagi ceritanya kalo lupa #plak!

dearest : makasih reviewnya :D sudah dilanjut

roket majid : makasih reviewnya :D sudah dilanjut

stefymayu yeniferangelina : makasih reviewnya :D Hahaha, gpp kok yg penting km baca ceritaku aja sudah seneng :)

Ella Mabby-Chan : makasih reviewnya :D sudah dilanjut meskipun lama ^^a

Gilang363 : makasih reviewnya :D sudah dilanjut

haruna aoi : makasih reviewnya :D yang suka duluan siapa yah... hahaha, mungkin nanti terbuka sesuai alur ceritanya ^^a yg manggil bukan Inoue :)

Chizuru Mey : makasih reviewnya :D sebenarnya Ichigo sudah peka kok, meskipun Rukia yang jauh lebih peka yah ^^a Yang manggil bukan Inoue :)

Ayra el Irista : makasih reviewnya :D Diusahain sih ga panjang2 ceritanya ^^a Orihime nikah sama siapa nanti dkasih tau kok :)

Kiki RyuSullChan : makasih reviewnya :D sudah dilanjut

PinkLaLaBlue : makasih reviewnya :D yg manggil Ichigo bukan Inoue :)

Rei : makasih reviewnya :D sudah dilanjut

Izumi Kagawa : makasih reviewnya :D coba aja DL aplikasi zenmate di Chroome, dia bisa ngebuka situ yg keblokir ^^a Marga Rukia disini Satou :)

an username : makasih reviewnya :D yg manggil bukan Orihime ^^a

Tiwie ichiru : makasih reviewnya :D Haha, kelarin cerita ini dlu baru berhenti yah? #plak! Romancenya baru keluar dari chap ini ^^

AnGgi Cherryblossom : makasih reviewnya :D yg manggil bukan Orihime ^^a

ningKyu : makasih reviewnya :D sudah dilanjut

Hichigoshirosaki : makasih reviewnya :D iya, saya cewek. Cari aja nama pennameku di FB :)

Guest : makasih reviewnya :D sudah dilanjut

.

.

Secuil kata dari Icchy :

Selamat sore semuanya...

Chapter ini Icchy mau kasih tahu perkembangan hubungan antara Ichigo-Rukia. Skrg setelah Ichigo tahu tentang kebenaran malam itu, kira2 nasib mereka be2 gimana yah? #think

Disini sudah mulai dibuka satu persatu karakter Rukia yg sebenarnya, dan pekerjaan dia... Yes, Rukia itu pemain drama, namanya apa sih? Artis juga kah? *bego*

Ngomong2 soal Cinderella, idenya kepikiran gara2 habis nonton entuh film brg keponakan... ahahahah, jadi ngebayangin Rukia jadi Cinderella. Not bad kan? *plak!*

Saya masih berusaha untuk kembali menulis. Skrng bikin kalimat aja susahnya setengah mati *guling2* T_T

So, kasih tahu ya pendapat kalian tentang chapter kali ini ^^

Terima kasih buat semua reader yang membaca cerita ini. Baik yang memberikan review maupun hanya silent reader. Thank you so much :D