BEGIN OF THE STIGMA

By

Ellden-K

Prev : "Jaehyung, aku tidak bisa menemukan mereka. Dirumah pun tidak ada, dan sekarang sedang hujan. Astaga apa yang harus aku lakukan?"

Bab 04

Jaehyung tentu amat terkejut setelah mendapati bibi Jung yang menelponnya dan berbicara dengan nada panik. Mengatakan jika Taehyung dan Taegyun tidak ditemukan dimanapun.

Kemudian dengan hati yang dipenuhi rasa khawatir dan perasaan bercampur aduk, ia pun kembali kerumah untuk mencari mereka sendiri.

Bibi Jung memang sudah meminta maaf, begitu merasa menyesal dan ketakutan. Namun Jaehyung tidak bisa melimpahkan semua kesalahan itu pada bibi Jung sendiri.

Pasalnya ia tidak tahu apapun tentang Taehyung yang pergi sendirian, dan membawa Taegyun yang masih kecil bersamanya.

Maka dari itu Jaehyung lebih memilih untuk pergi pulang dan mencari kedua putranya sebelum benar-benar melapor kepada polisi.

Ia berlarian dan mencari di seluruh sudut rumah, kemudian menemukan bibi Jung yang kelihatan linglung didepan toko bunga miliknya sembari memegang tas perlengkapan bayi milik Taegyun.

"Sepertinya mereka sempat kesini tadi, tapi kemudian pergi entah kemana. Mungkin saat itu..." Bibi Jung terdiam sesaat, ia pikir mungkin ketika Taehyung datang kemari pertengkarannya sedang berlangsung. Ia tak bisa membayangkan wajah manis Taehyung yang dinodai ekspresi murung karena merasa bersalah.

Tapi sungguh hal itu sudah bukan masalah lagi.

Jaehyung mengernyitkan dahinya ketika bibi Jung malah menggantungkan kalimat.

"Saat itu apa bibi Jung?" Desak Jaehyung cepat-cepat.

Bibi Jung menggeleng. "Ini hanya tentang suamiku, tapi sudah tidak apa-apa. Percayalah, ia hanya tidak bermaksud agar anakmu mendengar pertengkaran kami."

Jaehyung mengerti, teramat mengerti malah. Ia memang sudah menyusahkan bibi Jung begitu lama, maka dari itu ia tak dapat menyela ataupun berlaku kurang menyenangkan kepadanya hanya karena Taehyung dan Taegyun pergi. Ia cukup menyadari dan sekaligus amat berterima kasih pada bibi Jung untuk jasanya selama ini.

"Aku mengerti, sebelumnya aku sangat berterima kasih. Tapi aku akan mencari anak-anakku dulu bibi Jung." Tak ada amarah diwajahnya, dan Jaehyung hanya membiarkan tas perlengkapan bayi ditangan bibi Jung, kemudian menunduk sopan lalu pergi dengan setengah berlari.

Itu bisa ia ambil setelah menemukan kedua anak nya, saat ini hal tersebut lebih penting dari apapun yang Jaehyung miliki.

Dilapangan, Jaehyung melihat teman sekelas Taehyung yang nampak baru selesai bermain bola sepak. Ia mengenali salah satu nya, berkulit pucat dan nama nya —kalau tidak salah— Min Yoongi.

Jaehyung menghampiri nya, nampak mengemasi ransel dan sama sekali tak menyadari keberadaan orang lain dibelakang. Sedangkan Hoseok yang berdiri berlawanan segera menepuk Yoongi ketika ia mendapati wajah khawatir dari ayahnya Taehyung.

Yoongi berbalik. "Oh? Halo, tuan Kim?" Ia segera membungkuk sopan, diikuti oleh beberapa teman nya yang lain. Disana sudah tak ada Kim Mingyu, mungkin anak itu sudah pergi duluan.

"Yoongi-ya, kau melihat Taehyung?" Jaehyung sedikit terengah, dan itu membuat anak-anak tersebut nampak menaikan alis bingung.

"Tadi dia memang kemari, bersama Taegyun juga. Tapi setelah itu dia pergi lagi." Jawab Yoongi sembari diselingi anggukan dari teman-teman nya.

Mendengar itu, Jaehyung menghela nafas lega. Kemudian ia pun kembali bertanya.

"Kalau begitu, kemana mereka pergi?"

"Um, seperti nya Taehyung pergi menuju ke taman disebelah sana." Yoongi menunjuk jalanan kecil menuju taman diseberang lapangan. Sedikit banyak ia memang sempat memperhatikan kepergian Taehyung dan Yoongi sungguh tak mungkin salah lihat, jadi dengan yakin ia memberitahu Jaehyung.

Namun ketika sudah sampai ditaman yang telah ditunjukan Yoongi, Jaehyung sama sekali tak menemukan siapapun disana. Hanya ada ayunan yang bergoyang karena angin dan jungkat-jungkit yang mulai berkarat, ia tak menemukan apapun.

Kembali hela nafas berat penuh kekecewaan melanda nya, kemudian Jaehyung membungkuk untuk bertumpu pada lulut nya, sebentar memejamkan mata, lalu membukanya kembali dan ia segera menegakkan tubuh ketika sebuah sapu tangan familiar nampak teronggok dibawah bangku taman.

Jarak nya hanya beberapa kaki, tapi Jaehyung sangat mengenalinya.

Ia setengah berlari untuk meraih benda tersebut, Jaehyung dapat memastikan jika itu memang benar sapu tangan miliknya.

Lagi-lagi, Jaehyung harus mendesah lesu penuh ketakutan.

Taehyung sempat kesini, lalu kemana lagi ia?

Jaehyung melihat seorang gadis SMA tengah duduk-duduk santai diluar pagar kawat, tak jauh dari ayunan kosong didalam taman. Ia tengah menghisap ice creamnya sembari memainkan ponsel.

"Taehyung, jangan buat ayah khawatir, demi Tuhan."

Kata orang, keberuntungan selalu berada di dekat anak yang baik, dan Taehyung kira, ia telah melakukan itu sejak dulu. Ya, bersikap baik dan tidak cengeng, selalu membantu ayahnya sekaligus ikut mengurusi si kecil Taegyun.

Tapi, baru kali ini ia merasa benar-benar beruntung, dan perantara dari hal tersebut adalah Kim Seokjin lagi.

Taehyung tidak pernah melihat malaikat secara langsung dan hidup, selain dari gambaran orang tentang mereka yang memiliki sayap dan berparas menawan.

Namun Seokjin seperti memberi referensi baru tentang wujud malaikat itu sendiri, ia nampak bersinar dan memiliki hati yang bersih. Taehyung tidak bisa terlalu memujinya, tapi sepertinya Tuhan selalu memberi mereka kejutan dengan kedatangan Seokjin yang hampir disetiap saat ia membutuhkan bantuan.

Kali ini wanita cantik itu menemukan Taehyung yang sedang termangu kebingungan di taman, kelihatan sekali baru mengalami rasa sedih. Ia datang menyapanya, membuat bocah kecil itu terkejut sekaligus berseru antusias.

"Seokjin noona!" Begitu Taehyung memanggilnya. Kemudian, dengan sedikit kesusahan ia bangkit dan berjalan menghampiri Seokjin yang telah lebih dulu menyongsong mereka dengan uluran tangan.

Hingga akhirnya tubuh mungil Taegyun berpindah pada gendongan Seokjin setelah Taehyung mengeluh pegal.

"Kau seharusnya belum boleh menggunakan benda ini untuk menggendong Taegyun, sayang." Ungkap Seokjin dengan lembut, sedangkan Taehyung hanya termangu dengan alat gendong masih meliliti tubuh kecilnya.

"Memangnya kenapa noona?"

"Taegyun masih kecil, kau tidak boleh menggendongnya dalam posisi seperti itu. Tulangnya belum cukup kuat, lakukan lagi setelah ia berumur 5 bulan, ok?"

Taehyung mengangguk saja, meskipun ia kebanyakan tidak mengerti.

Seokjin nampak memangku Taegyun dan memposisikannya agar terlentang, bayi itu hanya diam saja, namun mulutnya mulai menguap kecil.

"Noona, kenapa noona bisa ada disini?" Tanya Taehyung sambil menggaruk pipi.

Seokjin tersenyum. "Tadinya, aku hendak pergi berbelanja, tapi noona melihatmu sedang bersama Taegyun ditempat sepi ini. Maka dari itu aku berhenti dulu untuk mengajakmu. Lagipula, berbahaya jika kalian hanya berdua saja disini."

"Maafkan aku noona, aku cuma menghindari temanku saja. Makanya aku kesini."

Wanita itu tampak maklum melihat wajah Taehyung yang berubah murung, kemudian ia menggunakan satu tangannya yang bebas untuk mengusap kepala bersurai lembut tersebut.

"Tidak apa-apa, dia teman yang kurang baik ya?"

Taehyung cuma mengangguk kemudian mendongak.

"Kalau begitu, ingin menemani noona pergi berbelanja tidak?"

Belanja?

Taehyung suka sekali membantu ayahnya berbelanja dulu, membeli berbagai macam makanan dan minuman. Sayuran dan buah, kedengarannya pasti sangat menyenangkan. Ia mengangguk antusias mendengar hal itu.

"Ya!"

Namun Seokjin segera teringat sesuatu. "Eh, tapi dimana ayah kalian?"

"Ayahku sedang bekerja noona.."

"Jam berapa ayah kalian pulang?"

"Biasanya jam 5."

"Baiklah, jika demikian. Noona akan mengantar kalian sebelum jam 5 okay?"

"Okay!"

Kali ini suaranya terdengar lebih ceria, dan Seokjin hanya mampu tersenyum untuk itu.

Setidaknya, ia tidak perlu merasa sepi lagi, meskipun sepeninggal anaknya Seokjin sempat merasakan duka yang amat dalam. Tapi itu bagai terobati oleh kehadiran dua bocah manis tersebut.

Ia bersyukur, sungguh amat bersyukur.

Didalam mobil, mereka mengobrol banyak, dan Taehyung bergantian menggendong Taegyun. Ia berceloteh dengan ceria, menceritakan tentang usahanya membuatkan Taegyun susu dan menggantikan popoknya.

Sesekali, Seokjin pun menimpali dengan gelak tawa dan gumaman tentang betapa pintar dan cekatannya Taehyung.

Sedangkan Taegyun sudah terlelap dengan damai setelah menghabiskan sebotol susu yang dibawa kakaknya, beruntung kali ini Taehyung tidak lupa lagi.

Meskipun nyatanya, ia telah melupakan suatu hal yang besar.

Sesampainya di super market, tanpa disangka Seokjin pun pergi untuk mengeluarkan sesuatu dari bagasi.

Rupanya, itu adalah kereta bayi yang bisa dilipat. Taehyung tersenyum lebar melihatnya.

Ia jadi tidak perlu merasa pegal dan sekaligus menghindar dari menyusahkan Seokjin dengan membiarkan noona itu menggendong Taegyun.

"Aku menyiapkan banyak hal." Katanya. "Tapi berkat kalian, ini tidak akan jadi benda yang tak terpakai."

Taehyung mengangguk lagi, meskipun kembali tak mengerti.

Mereka berbelanja sesuka hati, bahkan Seokjin pun mengizinkan Taehyung untuk membeli snack kesukaannya. Sembari Seokjin mendorong kereta bayi, Taehyung berada disampingnya bersama troli belanjaan. Itu hampir terisi penuh, tapi Taehyung tetap mendorong dengan antusias.

"Wah, bayi yang lucu." Kata seorang wanita muda yang menatap posisi tertidur Taegyun, kedua tangannya terangkat keatas dan pipi gembul itu nampak tergencet menggemaskan.

Wanita itu cantik, wajahnya tak jauh lebih tua dari Seokjin dan ia sedang menggendong bocah seumuran Taehyung yang merengek manja dibahunya.

Seokjin cuma tersenyum dan menggumamkan terima kasih dengan ramah, khas dirinya sekali. Sedangkan Taehyung mengalihkan atensinya dari deretan ice cream yang terlalu menggiurkan, menatap noona tersebut dengan wajah penasaran dan mata membesar.

"Kakaknya tampan sekali, dia pasti mirip ayahnya. Siapa namamu nak?" Wanita itu kembali bertanya, dan Taehyung cuma menggaruk pipinya lalu menjawab.

"Aku Kim Taehyung. Desember kemarin aku 8 tahun! Adikku Taegyun hampir 4 bulan." Ditambah senyuman kotaknya yang lebar, kini bocah itu membuat semua orang terkikik gemas.

"Astaga, selain lucu dia juga pintar." Sang noona kemudian mengelus pipi Taehyung dengan simpati, kemudian beralih kepada Seokjin yang nampak tak menghilangkan senyumnya. "Anda pasti bangga punya anak seperti itu nyonya. Sayangnya, Jimin-ku selalu manja."

Seokjin mengangguk maklum, namun ia sama sekali tak membantah opini wanita tersebut. "Itu wajar karena ia masih kecil, berapa umurnya?"

"Dia 8 tahun sama seperti Taehyung. Mungkin karena ia baru sembuh dari demam juga." Dengan itu, sang anak pun kembali merengek pelan dan ia segera menimang dan mengelus punggungnya.

"Tidak heran." Kata Seokjin. "Semua anak kecil memang begitu."

Kemudian obrolan mereka menjadi lebih akrab, dengan pembicaraan para ibu rumah tangga yang hampir sama sekali tidak Taehyung mengerti, ia tetap mengikuti dengan patuh. Sesekali menarik ujung cardigan Seokjin sembari menunjuk jenis makanan dan bertanya, "Boleh tidak?"

Seokjin cuma tersenyum gemas sambil kemudian menjawab.

"Tentu saja sayang, tapi jangan terlalu banyak ya. Nanti gigi Taehyung bolong." Mendengar itu, sontak ia memekik senang, lalu dengan sedikit berjinjit Taehyung pun meraih sebungkus permen lolipon isi 4 diatas rak. Karena bajunya yang tidak terlalu panjang, akhirnya tampaklah cute mini tummy super menggemaskan milik Taehyung.

"Kita harus beli baju untuk Taehyung setelah ini." Kekeh Seokjin sembari mengelus kepala Taehyung, anak itu sih menurut saja, ia mengangguk sembari berniat membuka bungkus permen dengan ceria. Namun beruntung Seokjin segera menahannya. "Eh, kita bayar dulu, baru kau boleh membukanya."

Baekhyun kembali tergelak pelan, Taehyung kelihatan tak kalah menggemaskan dari Jimin, dan mendengar para orang dewasa itu saling terkikik menertawakan tingkah Taehyung, ia pun menoleh. Menatap bocah lain dibawah sana dengan alis menaut.

"Scapa itu?" Kata Jimin dibarengi dengan logat anak kecilnya yang kentara, beserta hidung memerah dan mata berair.

Sejak sebelum bertemu keluarga Kim itu ia memang sudah merengek minta pulang, akhirnya Baekhyun timang juga dia. Dibawanya ke tempat yang lain sampai ia menemui Seokjin dan mengobrol seperti lupa waktu.

Padahal, suaminya mungkin sedang mencari-cari sekarang.

"Sudah merengeknya? Mama pegal nih, Jiminie turun ya?"

"Halo Jimin?" Sapa Seokjin sembari mengusap pipinya.

Sedangkan Taehyung menatap bocah lain digendongan Baekhyun sambil melongo.

Sudah besar kok masih digendong?

Setelah mengeluarkan segala bujuk rayu paling ampuh yang Baekhyun punya, akhirnya Jimin mau juga diturunkan. Ia menatap Taehyung lekat-lekat, pipi gembilnya nampak memerah.

Betul, seperti sisa-sisa sehabis demam. Pantas saja merengek terus.

Awalnya Jimin cuma melihat Taehyung saja, sama sekali tak berani menyapa meskipun sesekali Taehyung tampak berseri-seri kearahnya. Tersenyum lebar hingga mulutnya mirip kotak. Lucu, manis.

Keduanya dibiarkan jalan bersama agar saling kenal oleh para orang tua yang asyik mengobrol, berbeda dengan Baekhyun, ia sih santai tidak bawa keranjang belanjaan. Mungkin karena suaminya yang bergantian belanja dan ia jaga anak.

Menceritakan tentang suami, Baekhyun segera bertanya.

"Oh ya, dimana suamimu? Kalian tidak belanja bersama?"

"Dia bekerja." Cuma itu sahut Seokjin, karena Namjoon memang masih bekerja jam segini. Paling tidak ia akan pulang nanti malam, kalau cepat ya agak sore.

"Oh? Dibidang apa? Chanyeol juga sedang ambil cuti, aku—"

Taehyung dan Jimin tidak mendengarkan obrolan orang tua mereka, —setidaknya begitu bagi Jimin.

Beberapa kali dilihatnya bayi mungil yang sedang tidur itu menggeliat pelan dan dengan sigap Taehyung mengelus kepalanya menenangkan.

Jimin tidak berkomentar apa-apa, tapi ketika Taehyung kembali tersenyum saat menyadari Jimin sudah memperhatikannya dari tadi, bocah itu tiba-tiba berceletuk setelah lama sekali tak bersuara.

"Kamu tantik."

Sedangkan Taehyung hanya melongo mendengarnya.

Taehyung terpaksa berpisah dengan keluarga Park karena Chanyeol segera menemukan istri dan anaknya. Sembari mendorong troli yang sudah penuh ia melipat tangannya didada, menggelengkan kepala heran dan Baekhyun hanya menyengir tanpa dosa. Lain lagi dengan Jimin, ia malah minta gantian digendong oleh ayahnya.

"Nah, sayang sekali. Aku pulang duluan ya, ketemu lagi kapan-kapan."

Seokjin hanya mengiyakan sambil tersenyum, sebelumnya ia sempat mengangguk sopan dan menyapa Chanyeol yang baru datang. Pria itu kini sudah menggendong Jimin di bahunya.

Kemudian Baekhyun beralih kepada Taehyung.

"Sampai ketemu ya Taehyung, lain kali main lagi dengan Jimin."

"Siap nyonya!" Seperti biasa, bocah itu menjawab dengan antusias dan ceria.

"Astaga, manis sekali, panggil saja aku bibi oke?" Kata Baekhyun sembari mencubiti pipi Taehyung.

"Baiklah Bibi cantik."

"Ya Tuhan, lama-lama aku bisa diabetes."

Seokjin cuma terkikih dengan tangannya menghalangi mulut, tingkah Baekhyun yang selalu atraktif dan Taehyung yang sama antusias rupanya menjadi tontonan nun menarik. Chanyeol sampai tergelak gemas melihatnya, Jimin sih cuma menengok saja.

Akhirnya mereka sampai dirumah Seokjin setengah jam kemudian, dan Taehyung nampak luar biasa antusias ketika sudah masuk kedalam. Ukurannya tidak kecil tentu saja, selain itu Seokjin pun memiliki seorang pelayan pribadi dirumah.

Orang itu ramah dan memaklumi keceriaan Taehyung ketika pertama kali datang, seorang wanita paruh baya yang sama baik hati seperti Seokjin. Meskipun awalnya ia kelihatan merengut bingung karena tiba-tiba saja majikannya membawa dua bocah asing kerumah. Namun ia segera mengangguk maklum ketika Seokjin bilang kalau mereka adalah tamunya.

Taehyung heran, seperti rumah ini dipenuhi oleh cinta dan kasih sayang. Hingga taman mini dihalaman depan pun kelihatan berseri-seri juga anggun.

Itu sebuah mansion dengan tiga lantai yang luar biasa mengagumkan, lantainya dari pualam, dindingnya dicat dengan gradasi cokelat pucat dan abu-abu cerah.

Furniture kelihatan mahal, meja dari kayu mahogani dan patung-patung kecil hasil pahatan klasik menghiasi ruang tamu. Tembikar dan guci tinggi, sama sekali tak membuat suasana disini nampak kelam.

Itu semua memberikan nilai mahal dan mewah, namun tak jauh dari sederhana sekaligus nyaman. Karpet bulu tebal terbentang dibawah meja hingga sofa, warnanya kebiruan dan hitam pada lapisan pinggirnya.

Seokjin membawa mereka ke ruang keluarga yang hangat, dengan televisi layar datar menempel di dinding putih bersih.

Deretan foto-foto pernikahan dan kenangan masa lalu terpajang disisi yang lain.

Taehyung memperhatikannya, wajah-wajah tampan dan cantik itu menyuguhkan karya fotografi yang luar biasa indahnya. Semua itu dicetak hampir setinggi satu setengah meter, memenuhi tiga perempat dinding dan Taehyung segera memekik ketika ia menemukan figur Seokjin tengah berfoto dengan seorang pria tampan yang jangkung.

"Itu suamiku Taehyung." Senyumnya dengan indah sembari memasuki sebuah ruangan lain yang masih terhubung dari sana, pintunya berwarna biru cerah dan memiliki hiasan bintang warna warni.

Taehyung cuma mangut-mangut, ia melirik Taegyun yang sudah mulai terbangun dan merengek. Sepertinya ia buang air lagi, karena kakinya sudah menendang-nendang.

Ia masih didalam kereta dorong, kelihatan nyaman sekali.

Seokjin kembali dengan beberapa peralatan bayi, Taehyung kelihatan bingung melihatnya.

Wanita itu menggelar kasur bayi anti air diatas karpet bludru yang tergelar dibawah kaki mereka. Lengkap dengan bantal dan guling, sebuah tas mimalis perlengkapan tambahan seperti bedak, baby oil dan masih banyak lagi. Semuanya berwarna biru.

"Ini punya Yongjun, tidak terpakai kok." Tanpa ditanya, akhirnya Seokjin menjelaskan juga. Kendati, siapa Yongjun itu?

Tapi mengingat percakapan terakhir mereka dirumah sakit waktu lalu, Taehyung urung bertanya.

Seokjin nampak menimang Taegyun yang mulai menangis, wajahnya kemerahan. Sepertinya dia lapar dan merasa tidak nyaman.

Beda lagi dengan Taehyung, ia Nampak memperhatikan Seokjin yang kini mengganti popok Taegyun menggunakan tangan ajaibnya, tidak sampai 10 menit, bayi itu sudah membungkam tangisannya setelah mendapat jatah makan dari Seokjin.

Tak lama, datang seorang pelayan wanita yang tadi menyambut Taehyung dipintu depan. Ia membawakan kantung belanjaan Seokjin, semua itu berisi baju baru yang sengaja ia belikan untuk Taehyung. Bocah itu tidak menolak, siapa pula yang mampu melakukannya jika Seokjin saja bersikeras ingin membelikan?

Taehyung itu apa adanya, jika dia mau ya pasti bilang mau. Barangkali Cuma dibeberapa kesempatan saja ia selalu menolak, apalagi jika sedang bersama ayahnya. Karena Taehyung tidak pernah diajarkan untuk meminta, ia hanya diberitahu kalau dipaksa ya ambil saja.

"Ini belanjaannya nyonya, anda butuh sesuatu yang lain?" Katanya pada Seokjin yang kemudian segera menggeleng lalu beralih kepada Taehyung yang duduk diatas karpet dengan tenang lalu tersenyum.

"Ingin segelas milkshake? Kebetulan kebun kecil strawberry kami baru panen."

"Milkshake?" Taehyung makin berbinar mendengarnya.

"Iya, susu dan strawberry segar. Sepertinya kau akan suka." Sambung Seokjin sembari menimang Taegyun dipangkuannya.

Pria kecil kita mengangguk malu-malu, tapi akhirnya berterima kasih juga.

"Tunggu sebentar ya." Kata pelayan itu kemudian bangkit dan menghilang dibalik pintu.

Saat itu keluarga Park sedang dalam perjalanan pulang, dengan Baekhyun sebagai sopir mereka karena Jimin merengek tak ingin lepas dari ayahnya.

Baekhyun sih menurut saja, dari pada ia harus memangkunya sepanjang jalan.

"Wanita yang tadi bertemu di Super Market itu siapa?" Chanyeol lah yang pertama membuka percakapan. Ia tak kelihatan penasaran-penasaran amat, hanya tidak nyaman dengan keheningan saja.

"Oh, namanya Kim Seokjin, dia sangat baik. Anak-anaknya juga lucu, sepertinya kami memiliki banyak persamaan. Aku suka dia." Jawab Baekhyun ceria seperti biasa, tanpa melepaskan fokusnya dari jalanan ia pun mulai bercerita mengenai siapa Seokjin itu.

"Baru kenal saja aku sudah bisa menebak kalau dia akan jadi salah satu teman baikku."

"Ah, kau 'kan memang begitu. Gampang akrab dengan orang asing. Kau juga banyak disukai orang sayang." Sambil menepuki pantat Jimin dengan lembut ia pun menimpali, disertai senyum memuja dan tatapan penuh cinta.

"Itulah apa yang aku maksud sayang, Seokjin orangnya tidak macam-macam. Kami punya hobi yang sama dan dia tidak seperti teman-temanku yang lain."

Chanyeol cuma tersenyum, lalu ia mengalihkan atensinya kearah jalanan.

Sebuah siluet seorang pria dikejauhan nampak tak asing dimatanya. Ia mengerutkan alis, semakin menajamkan penglihatan.

"Tunggu, berhenti didepan sana!"

"Eh? Ada apa?"

"Itu seperti teman lamaku, aku kenal dia." Chanyeol menolehkan kepalanya ketika mobil mereka melewati sosok tersebut dibelakang.

Beberapa meter setelahnya, mobil pun berhenti dan dua suami istri itu turun dengan Chanyeol yang nampak sedikit terburu-buru. Ia segera menyerahkan Jimin yang baru saja terlelap pada Baekhyun.

Sedangkan wanita itu nampak merengut bingung, Jimin hanya menggeliat pelan dan kembali mencari posisi yang nyaman dibahu sang ibu.

Baekhyun memperhatikan suaminya menghampiri orang tersebut, nampak ia sedang menunggu taksi, karena jelas sekali ia tak menyadari keberadaan mereka berdua.

Kemudian Chanyeol berseru dari kejauhan.

"Jaehyung-ah!"

Taehyung mendapatkan strawberry milkshake nya beberapa saat kemudian, setelah hampir tandas ia pun meletakan gelas panjang tersebut diatas meja yang berada tepat disamping sofa dekat tv.

Ia mendekati Seokjin sembari mengecap-ecap bibirnya yang terasa manis. Sedangkan wanita itu nampak membenahi diri ketika Taegyun sudah berhenti menyusu. Kemudian ia segera meletakan pria mungil tersebut ketempat yang lebih nyaman. Kasur bayi itu seharusnya milik Yongjun, namun ia terlalu cepat pergi sampai-sampai tidak sempat untuk mencobanya.

"Noona..."

Seokjin terkesiap lembut karena panggilan lemah nun malu-malu itu, ia menolehkan wajahnya dan menatap Taehyung penuh sendu.

"Hm? Ada apa Taehyung-ie?"

"Terima kasih karena sudah mau membantuku." Katanya dengan wajah tersipu. "Noona juga membelikan aku baju bagus."

"Tidak, Taehyung. Tidak perlu. Sebaliknya, terima kasih karena sudah mau menemani noona." Ia segera mengelus surai lembut Taehyung penuh kasih. "Aku sangat senang bisa kembali menggendong Taegyun."

Taehyung cuma diam dan mengangguk kecil, ia tertegun melihat lapisan bening yang mengkristal disepasang mata indah Seokjin.

Apapun yang sempat ia rasakan sebelum ini pastilah bukan hal yang menyenangkan. Taehyung tidak tahu itu tentang kesedihannya karena teringat Yongjun ataukah ada hal lain.

"Taehyung adalah anak yang baik dan pintar, noona pikir Taehyung pasti sudah mengerti." Ia masih diam saja. "Aku sangat bahagia bersama kalian, kau sudah berhasil membuatku merasakan bagaimana menjadi seorang ibu, Taehyung. Kau dan Taegyun."

"Tidak apa-apa noona." Taehyung mengangguk, bergerak semakin dekat untuk membiarkan Seokjin mengusap kepalanya. Ia kembali berujar sambil senyum kotak itu mengembang lebar. "Aku juga sangat senang, noona adalah orang yang baik hati. Seperti malaikat."

Seokjin tersenyum dengan air mata yang mulai berjatuhan. "Seharusnya Yongjun berusia 5 bulan sekarang. Tapi Tuhan terlalu menyayanginya. Ia seperti tidak ingin membiarkan Yongjun tersiksa lebih lama karena penyakitnya."

Ia mulai bercerita, seperti semua beban yang selama ini ditanggung sudah tak mampu ia pikul sendiri. Seokjin akhirnya menumpahkan itu semua kepada Taehyung.

"Sampai aku bertemu dengan kalian dirumah sakit waktu itu, aku langsung jatuh cinta dengan bayi ini." Ditatapnya Taegyun yang sudah lebih dulu terlelap, ia kekenyangan. "Taehyung pun polos dan menggemaskan, seperti mendiang adikku sewaktu kecil."

"Terima kasih noona." Bocah itu mulai berkaca-kaca juga, hatinya masih selembut beludru, maka dari itu Taehyung tidak mampu menahan haru nya.

Seokjin menggeleng sembari tersenyum. "Tidak Taehyung. Kau boleh memanggilku Ibu. Ya, panggil aku ibu. Kau boleh melakukannya, sayang."

"Benarkah?" Matanya membesar. Sungguh Seokjin mengizinkannya? Benar dia berkata begitu?

"Ya, anggap aku ibumu. Aku akan membahagiakan kalian berdua. Aku akan membantu ayah kalian untuk mengurus semuanya. Asalkan, kumohon panggil aku Ibu."

Taehyung akhirnya menangis juga, ia tak pernah bermimpi akan memanggil seseorang dengan sebutan ibu lagi. Membayangkannya saja tidak, tapi dengan lembut dan penuh cinta Seokjin merangkul Taehyung dan terang-terangan memberi izin agar ia memanggilnya demikian.

Ya Tuhan, lama sekali ia tak pernah bergumam seperti itu.

Ibu.

"Ibu.." Desisnya sembari merengut pilu, air mata berjatuhan diwajahnya yang mulai memerah. Tak dinyana, anak sekecil ini ternyata memiliki hati yang jauh lebih rapuh. "Ibu."

Seokjin merengkuh dengan kedua tangan lembutnya, membiarkan Taehyung bersandar dibahu nya yang nyaman. Menumpahkan segala kerinduan, sekaligus rasa paling tak tertahankan yang selama ini ia simpan.

Meremas cardigan dipunggung Seokjin dengan tangan kecilnya sembari terus merapalkan panggilan yang paling ia rindu, paling ia damba dan harapkan untuk kembali datang.

Kini Taehyung mendapatkan itu, seorang ibu dari sosok lain yang sama lembutnya, penuh oleh cinta yang tulus, hampir berkarat karena sepi namun Taehyung terlalu beruntung untuk kehilangan kesempatan itu.

Ia datang disaat yang tepat, Tuhan mempertemukan mereka untuk tujuan yang pasti, untuk saling mengobati luka lama.

"Ya, anakku. Oh, Taehyung anakku." Seokjin mengecup kening Taehyung, sedikit berkeringat karena tangisannya yang menimbulkan hawa panas diseluruh wajah. Kendati, Air Conditioner segera mengeringkannya. Kini bergantian ia ingin mengecup Taegyun yang terbaring di kasur bayi, namun belum sampai ujung jarinya menyentuh kepala Taegyun—

"Apa maksudnya ini, Seokjin?"

—sebuah suara mengejutkan mereka dari suasana haru, keduanya menoleh bersamaan, nyaris sama terkejut. Ditatapnya sosok pemilik suara dan Seokjin segera membaca kesalahpahaman diwajah Namjoon.

Jaehyung kontan menoleh ketika dirasa seseorang telah memanggilnya.

Jauh didepan sana tampaklah sosok jangkung yang sepertinya pernah ia kenal, tengah melambai dan berjalan kearahnya.

Ketika sosok lelaki itu sudah semakin dekat, betapa terkejutnya Jaehyung ketika Chanyeol segera menyerbunya dengan pelukan rindu. Ia seperti antara lupa dan ingat, tapi setelah Chanyeol mengguncang bahunya, Jaehyung segera sadar jika itu memang teman lamanya.

"Astaga, Chanyeol hyung?" Seru Jaehyung terheran-heran, ia balas merangkul lengan Chanyeol sambil memberikan tatapan tak percaya.

"Iya ini aku, bodoh! Kemana saja kau? Berapa tahun kita tidak bertemu, sialan!" Sambil kembali mengguncang bahu Jaehyung, ia berseru sekaligus menahan histeria didasar tenggorokannya. Betapa Chanyeol amat bahagia dan penuh haru ketika kedua bola matanya menemukan sosok paling ia kenal didunia, selain istri dan anaknya tentu saja Chanyeol bukan seorang bajingan yang selalu melupakan teman-temannya. Tapi Jaehyung berbeda, dia bukan hanya sekedar sahabat, mereka sudah seperti saudara sedarah. Namun sayang, jarak dan waktu memisahkan mereka dengan begitu kejam.

"16 tahun! Ya Tuhan aku tidak percaya. Hyung, kau sama sekali tidak berubah." Jaehyung masih melotot tak percaya, sungguhkah ini terjadi? Rasanya, meskipun ia berandai-andai pun itu tak mungkin kejadian. Tapi ini...

Sungguh diluar dugaan.

"Kau pun begitu, aku tak menyangka bisa bertemu denganmu disini." Kembali Chanyeol merangkul Jaehyung dalam pelukan rindu. Ketika pria itu membalasnya, ia melihat sesosok wanita cantik yang tengah menggendong seorang anak kecil.

Jaehyung segera melepas dekapannya perlahan-lahan.

Melihat arah tatapan Jaehyung, Chanyeol pun segera tersenyum simpul.

"Ini istri dan anakku, Jaehyung." Katanya sembari memberi isyarat kepada Baekhyun untuk lebih mendekat. "Sayang, ini teman lamaku yang pernah aku ceritakan itu, Kim Jaehyung."

Mendengar nama yang baru saja Chanyeol sebutkan membuat Baekhyun tiba-tiba mengingat pertemuannya dengan keluarga Kim di super market tadi.

Lucu sekali, namanya hampir sama dengan Taehyung.

Baekhyun segera tersenyum lalu mengangguk sopan.

"Halo?" Sapanya sembari mengelus punggung Jimin yang mulai merengek karena kantuk.

"Halo nyonya, senang bertemu denganmu." Jawab Jaehyung tak kalah sopan, lalu ia kembali beralih pada Chanyeol. "Hyung, sejak kapan kau kembali?"

"Ceritanya sangat panjang, tapi jika kau berkenan mari kita bicara dimobil. 16 tahun bukan waktu yang singkat bukan? Selain itu, sepertinya kau ingin ke suatu tempat?"

Jaehyung segera teringat pada anak-anaknya.

"Hyung, aku akan sangat menghargainya. Tapi aku mungkin akan menyusahkanmu." Katanya ragu-ragu. Sungguh Jaehyung telah amat terkejut dengan kedatangan Chanyeol yang tiba-tiba. Sejak dulu ia hampir selalu bergantung kepadanya, dan kali ini Jaehyung tidak ingin kembali menyusahkannya di kali pertama mereka bertemu lagi.

"Bodoh, kapan kau menyusahkanku? Sekarang mari kita ke mobil, kau pikir bisa menolak ajakanku setelah 16 tahun tidak bertemu? Jangan harap."

Untuk hari ini, Jaehyung harus lebih banyak berterima kasih. Kepada gadis SMA di taman dan kepada Park Chanyeol.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada didalam mobil, dengan Baekhyun yang memilih duduk dibangku belakang bersama si kecil Jimin. Ia nampak sudah tertidur lelap disamping sang ibu, menyandarkan kepalanya nyaman pada Baekhyun yang selalu siap merangkulnya kapan saja.

Ia membiarkan Chanyeol untuk mengambil waktu berharganya bersama Jaehyung, karena jelas sekali dua sahabat itu kelihatannya sudah terlalu lama tak bertemu. Maka dari itu Baekhyun lebih memilih diam saja sejak tadi.

Melihat suaminya yang terbiasa diam dan mendengarkan, tapi malah berbanding terbalik setelah bertemu dengan Jaehyung, membuat Baekhyun tersenyum sendiri. Ia memejamkan matanya, namun tetap menepuk-nepuk paha Jimin agar tak merasa terganggu.

"Jika saja dulu aku bisa membawamu ikut bersamaku ke London, mungkin kita tidak akan seperti ini. Jadi, istrimu sudah meninggal?" Chanyeol yang menyetir, dengan Jaehyung terduduk disebelahnya. Mendengarkan dan saling bercerita banyak hal yang telah masing-masing lewati.

Jaehyung tidak pernah tahu jika Chanyeol sudah menikah dan begitupun sebaliknya, tapi lain dengan Chanyeol, ia sih sudah dapat menebak jika adik kesayangannya itu pasti akan menikah setelah kepergiannya ke London.

Pasalnya Jaehyung pernah bercerita tentang seorang wanita yang ia suka, ia bilang mereka akan memiliki bayi 3 bulan kemudian.

Dari situlah Chanyeol tahu keduanya tentu harus segera menikah. Hanya saja yang tidak bisa ditebak adalah Chanyeol sendiri. Ia bilang akan hidup melajang, tak menginginkan ikatan. Tapi ketika mereka bertemu dan Jaehyung mendapati seorang wanita dan anak kecil seumuran Taehyung yang mengaku sebagai istri juga anaknya, ia tak bisa berhenti melantunkan puji syukur pada Tuhan untuk hal tersebut.

Kendati amat sangat disayangkan karena Chanyeol tidak bisa melihat wajah mendiang istri Jaehyung, iparnya yang sudah sejak dulu ingin ia kenal.

Ia sudah meninggal.

Wanita yang malang.

Adikku Jaehyung yang malang.

"Ya, dia meninggal ketika melahirkan Taegyun, anak ketigaku."

Ia bisa mendengar kesenduan dalam suaranya, namun Jaehyung selalu menutupinya.

"Aku turut berduka Jaehyung-a. Seharunya aku kembali bertahun-tahun lalu, tapi kau tahu, sebelum pak tua itu mati aku tidak pernah bisa berbuat sesukaku."

Jaehyung mengangguk. "Presdir Park memang selalu menyeramkan sejak dulu."

"Tapi aku sangat bersyukur karena dia sudah tenang disana."

"Ah Hyung." Jaehyung kelihatan tidak enak. "Kapan itu terjadi?"

"Jangan merasa sedih untukku, aku sama sekali tidak begitu. Dari dulu sampai sekarang kau tak pernah berubah." Chanyeol berdecak. "Itu sudah 2 tahun yang lalu. Beberapa bulan kemarin aku langsung pindah kemari."

"Tetap saja aku ikut berduka."

"Ya, kau terlalu sopan." Seru Chanyeol sedikit dibubuhi humor. "Sesekali benci lah dia, aku saja bisa. Jika bukan karenanya aku tak akan meninggalkanmu, mungkin kita bisa bertetangga atau menjodohkan anak kita."

Tawa Chanyeol berhenti ketika mendapati ada yang ganjal pada ekspresi Jaehyung.

"Ada apa?"

"Anakku, Hyung." Ia kelihatan ragu-ragu. "Maukah kau mengantarkanku kesini?"

Jaehyung segera merogoh kantung jaketnya, ia mengeluarkan sebuah alamat yang terdapat dibalik kartu nama seseorang.

"Ini adalah masalahmu Jaehyung-a, kau selalu menahan diri dan sampai sekarang aku masih tidak mengerti dengan hal itu. Kenapa tidak kau beritahu aku sejak tadi? Tentu saja aku akan antar! Ada apa dengan anakmu?"

Jaehyung menceritakan itu pada Chanyeol, bagaimana anak-anak nya menghilang tadi siang dan bagaimana ia mendapatkan infomasi mengenai dimana mereka sekarang.

Seorang gadis SMA ditaman memberitahunya jika ciri-ciri anak kecil yang ia sebutkan itu telah mengobrol dengan seorang wanita cantik meski tak begitu lama, kemudian pergi setelah Taehyung menyerahkan Taegyun kepada Seokjin.

Ia pikir itu memang ibu mereka, jadi ia tak begitu curiga.

Saat itu, Jaehyung seperti baru saja menemukan oasisnya sendiri. Ia sangat yakin ciri-ciri wanita dewasa yang digambarkan gadis SMA itu adalah Seokjin, pasalnya sudah beberapa kali ia bertemu dengannya. Meski sudah sebulan ini Jaehyung tak menemukan eksistensi Seokjin lagi dirumah sakit.

Chanyeol sih mendengarkan saja, Jaehyung sama sekali tak menyebutkan siapa wanita dermawan yang telah dengan baik hati mau menyusui Taegyun. Pasalnya, semahal apapun susu formula, itu tak akan pernah bisa mengalahkan keajaiban air susu seorang ibu.

Meskipun begitu, Chanyeol tetap mengerti.

Ia segera melajukan mobilnya ke tempat yang dimaksud oleh Jaehyung, namun sebelum itu ia melirik ke kursi belakang lewat kaca, dimana kedua orang tersayangnya kini telah sama-sama terlelap.

"Oh, tidur ternyata." Katanya kepada dirinya sendiri.

Jaehyung ikut menoleh kebelakang, kemudian ia pun tersenyum maklum.

"Kau pasti sangat bahagia Hyung."

"Memiliki mereka berdua? Atau menjadi satu-satunya pewaris Park Corp?" Candanya sambil melirik Jaehyung sesekali.

"Opsi pertama." Jaehyung menggumam sembari mengingat keceriaan Taehyung dan candaan Taesung yang masih terasa baru diingatannya. Dimana ketika Taehyung merengek karena terus digoda Hyungnya saat ia dipaksa menggunakan gaun snow white dikelasnya. Taehyung adalah satu-satunya anak cowok yang mendapat peran putri salju dan membuat para gadis kecil dikelasnya menangis tak terima.

"Tentu saja itu bagaikan mendapat seluruh jagat raya untuk dirimu sendiri." Secepat Chanyeol menjawab, secepat itu juga ia menyela. "Jangan menertawakanku! Kau juga pasti pernah merasakannya."

Jaehyung tertawa, hampir meledak-ledak namun ia tahan mati-matian. Dibelakang sedang ada yang tidur, ingatnya dalam hati.

"Dulu kau tak percaya cinta Hyung, sekarang kau adalah salah satu budaknya."

"Ya, ya, aku tahu. Berhenti tertawa, kau akan membangunkan anak dan istriku."

"Tentu saja. Maaf."

Tapi ia masih mengulum senyum, membuat Chanyeol mendecak sebal. Namun akhirnya ia pun ikut tersenyum juga.

Hari ini, Namjoon memutuskan pulang cepat. Ia terlalu tak sabaran untuk segera menemui istrinya, meskipun hanya sekedar menghabiskan waktu bersama tanpa melakukan apapun, atau mencicipi masakannya yang luar biasa lezat.

Ia hanya seorang suami yang terlalu mencintai istrinya, bahkan ketika Yongjun divonis tak bisa hidup lebih lama lagi, Namjoon adalah salah seorang yang paling berduka. Namun ia tetap mencoba tegar untuk Seokjin, karena apapun keputusan Tuhan, Namjoon tak mampu menahannya.

Kemudian Yongjun benar-benar tiada. Itulah pukulan terbesar untuk Namjoon, salah satu orang yang paling ia cintai selain Seokjin. Meninggalkannya dengan terlalu cepat.

7 tahun mereka menikah dan Seokjin baru mengandung diusianya yang ke 29. Namjoon mendapatkan seorang bayi laki-laki yang cantik dan rupawan seperti ibunya. Ia memiliki mata Namjoon, lalu hidung dan bibir Seokjin.

Tapi Yongjun pergi, dengan membawa cinta kedua orang tuanya yang belum usai. Sama sekali tak dapat menyaksikannya tumbuh besar lalu dewasa. Seokjin luar biasa terpukul, meskipun Namjoon sempat meragu karena saat pertama kali menikahi Seokjin, wanita itu sempat membencinya.

Tentu saja, pernikahan yang sudah terencana oleh kedua orang tua mereka. Salah satu pihak menghendaki pernikahan dengan status terpaksa, dan itu adalah Seokjin.

Ia seorang pemarah dan mudah tersinggung dulunya. Tahun pertama menikah, Namjoon sama sekali tak pernah menyentuhnya.

Karena...

"Aku membencimu! Aku menyetujui pernikahan ini karena aku menghormati orang tuaku! Selain itu aku masih mencintai orang lain."

Seokjin tidak mencintainya. Saat itu ia terlalu keras kepala untuk menerima kenyataan.

Tapi Namjoon yang teguh, Namjoon yang mencintainya dan Namjoon yang penuh kasih sayang telah sukses meluruhkan semua egoisme Seokjin.

Hingga ia luar biasa mencintainya sampai mati seperti sekarang, tapi Namjoon tidak pernah mengira jika itu semua hanya kepura-puraan, sampai saat ia melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Seorang anak kecil, memanggilnya dengan sebutan ibu. Apakah ini hukuman Tuhan yang lain karena ia telah memisahkan Seokjin dari orang yang ia cintai sebelumnya?

"Apa-apaan ini Seokjin?" Terdapat gemetar dalam suaranya dan Namjoon mengepalkan tangannya luar biasa erat.

Jelas sekali perasaan terluka yang tampak diwajahnya. Ia mengernyitkan alis kearah Seokjin, namun begitu enggan untuk sekedar melirik Taehyung yang terlihat kebingungan disampingnya.

"Namjoon? Kenapa pulang begitu cepat?" Tanyanya sedikit heran.

Haruskah kau menanyakan itu?

"Jawab aku, siapa dia?" Namjoon tak perlu menunjuk Taehyung untuk membuat bocah itu terkesiap, dan Seokjin hanya balas mengernyit kearahnya. "Apakah dia milik lelaki itu?"

Seokjin semakin jelas membaca keadaan.

"Namjoon, kau salah paham." Sela nya masih diam ditempat.

Taehyung mulai menggenggam tangan Seokjin karena takut. Kendati itu malah membuat Namjoon semakin tersakiti.

"Sudah sejak awal kan?" Sambil menatap Seokjin dengan wajah yang mulai memerah, Namjoon tak mampu menahan suaranya untuk tetap rendah. "Aku tahu anak itu sudah ada sejak awal, itukah alasan mengapa kau membenciku?"

"Aku tidak membencimu, Namjoon. Demi Tuhan, itu sudah berlalu lama sekali." Seokjin balas menekankan meski suaranya tak setinggi Namjoon. Sungguh, ini adalah salah paham yang fatal.

"Tapi kau memang masih mencintai orang lain waktu dulu, apakah dia salah satu alasanmu mengapa kau begitu mencintai lelaki itu? Apakah kau masih—"

"Taehyung!"

Semua orang mengalihkan atensi nya kearah pintu masuk ruangan.

Tepat beberapa kaki dibelakang Namjoon, tampak sosok Jaehyung yang kelihatan luar biasa khawatir, lalu ketika Taehyung balas memekik sambil memanggilnya—

"Ayah!"

—ia begitu luar biasa lega. Bagaikan seluruh masalahnya diangkat begitu saja.

"Astaga Taehyung, anakku."

Jaehyung segera menyongsong Taehyung untuk merengkuhnya dalam pelukan erat, ia berlutut didekat Seokjin, mendekap anaknya penuh rindu dan rasa syukur.

Jelas-jelas memotong argumen sepasang suami istri tersebut, ia terlalu bahagia ketika mendapati Taehyung ditempat yang begitu aman. Luar biasa ketakutan jika saja Jaehyung tak mendapati anak-anaknya dimanapun.

Sedangkan Namjoon malah menatap Seokjin dengan perasaan tak menentu. Matanya berkaca-kaca penuh rasa nyeri.

Jadi dialah orangnya?

Kedua tangannya semakin terkepal erat, dan ia menatap Jaehyung penuh kebencian.

"Namjoon jangan!"

.

.

.

TBC

Akhirnya Taehyung dapat temen baru juga xD

Hai bae~ Semoga kalian suka dengan bab ini, karena sungguh— perjuangannya itu sulit sekali /with tears.

Ell kan gk tau gimana ngurus bayi, apa perlengkapannya, bagaimana cara mengurusnya dan beberapa hal lain yg gk mungkin aku ngarang sendiri. Karena kebanyakan anak cewek pasti tau, (mungkin mereka punya adik atau keponakan) tapi saya anak tunggal dan gk ada bayi dirumah ini.

(Sebenarnya, saya akan mulai menceritakan kesialan yang sungguh-sungguh terjadi ketika sedang cari referensi untuk ff ini. Kalian boleh skip aja.)

Jadinya, ell banyak" searching di google dan gk sengaja sepupuku lihat. Tau yang dia bilang?

"Kerjaan lu ekstreem amat, hamilin anak siapa sih?"

Jangan tanya perasaanku.

Dilain waktu, sodaranya ibuku, anaknya punya bayi. (Ngerti kan?) Ell memang masih sodara sama dia, dan lumayan dekat juga. Jadilah saya mampir dengan niat ingin lihat bayinya.

Nanya" ini itu, lumayan dijawab juga. Tapi lama kelamaan (atau mungkin karena ell yg kebanyakan tanya) si mbaknya malah tanya balik..

"Tanya-tanya melulu nih, lagi persiapan jadi ayah ya?"

Disitu, saya cuma bisa ketawa garing.

Jadi ell memutuskan untuk googling malam" ditempat sepi dan gelap/?

(Dikamarku maksudnya).

P.S. Kapok deh aku tanya-tanya lagi.

P.S.S. Segitu aja, jangan lupa review.

P.S.S.S. /pukpukin dada taetaee/