Baby Grand

Cast : HunHan; PCYBaek; Kim Jongin

Gender-Switch; Rated T/M

Prev: Aku yang tak baik jika tak mendengar kabar darimu, hantu bodoh! "Aku tak akan mengulanginya," Luhan diam, meneruskan makannya, dan mengabaikan Sehun yang sedang tersenyum dihadapannya. Senyum yang menyebalkan.

Baby Grand

Chapter 4

.

.

Sehun membuka mata saat ia merasa suhu ruangan sedikit menghangat. Kamar itu tak berjendela, jadi tak ada bantuan cahaya apapun untuk dijadikan indikator bahwa pagi telah menjelang. Ia mengerang lembut mencoba untuk membuka kelopak mata yang kian hari kian malas untuk sekedar terbuka di pagi yang sejuk.

Pelan ia menarik tangan kirinya yang terasa kebas. Belum sampai ia berhasil, ia merasakan ada hawa hangat ditengkuknya. Ia memutar tubuhnya ke sisi lainnya dan menemukan seonggok seluet sepanjang 170 sentian terbentang dari ujung ke ujung ranjang di belakangnya.

Mata yang mulanya menyipit enggan terbuka itu kini membelalak sempurna mengais kesadaran.

"Lu..." harusnya Sehun tak perlu bertanya apakah itu Luhan atau bukan. Yah, karena siapa lagi yang berada di tempat itu selain Luhan. Hanya mereka berdua yang tinggal di apartemen itu.

Sehun memutar tubuhnya untuk menghadap gadis yang wajahnya tertutup rambut itu dengan hati-hati. Dengan kedua tangan sebagai alas kepala, ia memperhatikan nafas halus wanita disebelahnya.

"Kau imut sekali," dan sebuah senyum lembut ia hadiahkan pada wanitanya.

"Kau terlihat sangat menikmati momenmu, Oh Sehun!" Seorang wanita menginterupsinya dari pintu yang memang terbuka sedari semalam. Gadis itu Luhan.

"Lu, kau?" secepat kilat menyambar, Sehun bangkit dari tidurnya. Matanya membelalak lebih lebar dari limitnya. Gadis dengan sweater dan blue jeans yang masih menempel di tubuhnya, ditambah dengan sneaker merah yang tak dilepas, Luhan terlihat baru saja datang.

Mata linglung Sehun menatap lagi pada manusia yang berada di sampingnya. Karena keterbatasan cahaya, Sehun perlu mendekatkan wajahnya pada sosok itu untuk mengenalinya.

Dan klek. Lampu menyala.

Rupa gadis yang meringkuk itu terlihat dengan jelas sekarang.

Byun Baekhyun.

Dengan eyeliner yang masih utuh di kelopak matanya dan blush-on oranye yang menguasai pipinya, gadis itu meringkuk seperti bayi disisi Sehun yang terduduk cengo.

"Lu, ini tidak seperti yang kau pikirkan," Hantu setinggi 183 cm itu merangkak turun dari ranjang menuju pintu, tempat dimana Luhan berdiri dengan tatapan jijik.

"Kau kotor sekali, Oh Sehun!" dan jawaban itu dibarengi dengan pintu yang terbanting dengan anggun.

.

.

"Lain kali bisakah kau menutup pintu dengan pelan. Aku hampir terkena serangan jantung karena kau menutup pintu dengan kekuatan super," Baekhyun menggigit sandwitch-nya dengan bibir manyun mengarah pada Luhan. Tadi ia bangun dengan tingkat keterkejutan tinggi yang bermuara dari dentuman pintu kamar.

"Aku tak sengaja."

"Kau ada masalah? Kau terlihat kesal."

"Tidak."

Luhan berdiri menuju lemari es dan mengambil satu karton susu rendah lemak ukuran 600 ml dan dua buah apel ranum. Kaki yang masih terbungkus sneaker merah melangkah ke dalam kamar. Matanya melirik pada Baekhyun sebentar kemudian berujar,"Aku akan mandi dan bersiap. Tunggu sebentar."

"Apa kau dalam masa PMS?" Mata sipit berbinar milik Baekhyun melirik pada gadis yang sedari tadi rusak moodnya— yang sekarang terlihat seperti hendak meninju seseorang.

"Apapun yang terjadi padamu, jangan makan terlalu banyak. Kau bisa berubah menjadi beruang jelek!" dan Baekyun berteriak pada sosok yang baru saja masuk ke dalam satu-satunya kamar di apartemen itu.

.

.

Dua buah apel dan susu 600 ml ditaruh Luhan pada meja riasnya. Matanya menatap pada pria yang sedang berdiri di ambang pintu kamar mandi. Air menetes pada pelipisnya dan jatuh pada dada bidang yang tak tertutup apapun.

Mata bertemu mata. Satu syarat akan permintaan maaf dan satunya lagi syarat akan kejengkelan akut.

"Minggir, aku mau mandi."

"Apa tidak ada sesuatu yang harus kita bicarakan?"

"Tidak."

"Lu, kukira yang berada di sampingku tadi adalah kau."

Luhan memalingkan wajahnya dengan cepat. "Kau pikir aku peduli?"

"Kurasa kau tidak peduli."

Mata mereka bertemu lagi. Luhan tak tahu kenapa ia marah sekali melihat Sehun tidur disamping Baekhyun. Tentunya Baekhyun tak tahu bahwa ada makhluk lain disampingnya. Tapi Sehun, seharusnya hantu sialan itu tahu bahwa ada seseorang yang ada di sampingnya. Harusnya ia bangun dan pindah ke sofa. Atau mungkin ia bisa tidur di matras yoga, atau di lemari pakaian, di kabinet dapur, atau dimanapun asal tidak bersama makhluk lain. Luhan tak suka.

"Kau tahu dan kau masih bertanya?"

Luhan dapat melihat ada senyum di wajah Sehun. Senyum itu bukan senyum bahagia atau senyum apapun yang menyiratkan perasaan positif, namun senyum sedikit getir yang terpatri dalam tatapan mata sayu.

"Kau tak peduli."

Kemudian yang dapat dilihat oleh Luhan adalah punggung Sehun yang menjauh darinya, melewati meja rias yang ada susu dan apel diatasnya. Sebenarnya sarapan itu untuk Sehun dari Luhan, namun Sehun sama sekali tak menatapnya— atau mungkin pura-pura tak melihatnya.

"Setidaknya sarapanlah. Tidakkah kau tahu bahwa aku mengkhawatirkanmu?"

.

.

Sehun berdiri di sisi kaktus-kaktus Luhan saat sesaat sebelumnya ia mendengar suara pintu apartemen yang tertutup. Ia juga dapat melihat mobil milik Baekhyun melewati pekarangan apartemen.

Dari keanehan demi keanehan yang terjadi padanya, Sehun memutuskan untuk berhenti mempedulikannya. Ia tak lagi peduli kenapa ia berubah menjadi sedikit manusia. Ia sudah tak lagi ingin tahu ada apa dengan dirinya dan Luhan.

Yang ia pikirkan saat ini adalah kenapa ia dan Luhan sering sekali bersitegang hanya karena masalah sepele. Luhan sering sekali marah padanya hanya karena masalah yang harusnya bukanlah sebuah masalah.

Apa Luhan merasa sangat terganggu dengan keberadaan Sehun?

Apa gadis itu merasa keberatan karena Sehun berada di apartemen?

Menghela nafas sebentar, Sehun memilih untuk berjalan menuju pintu apartemen. Disana ia berhenti menatap sneaker merah milik Luhan yang ia kenakan tadi pagi. Gadis itu sangat menjunjung tinggi kebersihan apartemen, namun pagi ini dengan sepatu yang masih menempel di kakinya, gadis itu masuk ke kamarnya. Bibir Sehun tersenyum samar. Berjongkok kecil, Sehun meraih sepatu yang tergeletak tengkurap itu dan menaruhnya pada rak sepatu.

Ia duduk di depan pintu apartemen dan memandang pintu cokelat pekat itu dengan tatapan lelah.

Semenjak ia meninggal sampai dengan hari ini, Sehun belum sekalipun mengintip keadaan di balik pintu itu. Berapa tahun berlalu? Sehun bahkan enggan membahasnya lagi.

Ia berharap, nanti ada saatnya ia keluar dari ruangan ini dan mengintip seperti apa dunia luar. Apa ia bisa?

Menggelengkan kepala sebentar kemudian Sehun beranjak berbalik menuju ruang yoga. Ruang yang selama puluhan tahun ini ia gunakan untuk menanti jawaban kenapa ia tak segera terbang ke surga. Kenapa ia masih saja dibiarkan tinggal di dunia ini? Apa rencana Tuhan dibalik semua ini? Jika diijinkan untuk berharap, Sehun berharap bahwa alasan itu berhubungan dengan Luhan. Sekali lagi, dengan Luhan.

.

.

LUHAN duduk pada sofa motif zebra di studio perusahaannya. Ia beristirahat setelah melakukan pemotretan untuk iklan sebuah bank swasta. Ia tak begitu peduli apa nama banknya. Itu tak penting. Ia menimang ponsel yang sudah tiga hari tidak berdering sama sekali. Tak ada orang terdekat yang menghubunginya. Ibu, ayah, bahkan kakaknya, tak ada satupun dari mereka yang menghubungi Luhan. baekhyun pun lebih memilih langsung datang menyambanginya daripada menghubungi gadis itu melalui sambungan telepon.

Seorang model cantik berusia 27 tahun dan ponselnya tak pernah berdering. Kasihan sekali. Matanya melirik jam dinding sebentar dan menemukan bahwa sekarang pukul enam sore. Matanya masih mengedarkan pandang kesana dan kesini berharap Baekhyun muncul dari salah satu dari empat pintu di ruangan itu. Acara pemotretan sudah selesei satu setengah jam yang lalu. Bahkan Luhan sudah membersihkan wajahnya dari make-up.

Ngomong-ngomong tentang Baekhyun, tadi managernya berpamit menemui Park Chanyeol, sekitar dua jam yang lalu dan belum datang kembali sampai sekarang.

Luhan mulai jengah. Tiba-tiba pikirannya melayang pada sosok hantu yang tadi pagi bertengkar dengannya. Apa Sehun baik-baik saja di rumah?

Luhan masih menimbang apakah sikapnya tadi berlebihan atau tidak. Ia tak tahu Sehun sengaja atau tidak saat hantu itu tidur dengan Baekhyun, namun dengan alasan apapun Luhan tidak menyukainya.

Ia hendak menulis sebuah pesan untuk Sehun saat ada sesuatu yang dingin menempel di tengkuknya. Ia sedikit terperanjat kaget namun urung saat ia menyadari siapa pelakunya.

"Kau melamun?"

Kris. Dengan kaos putih polos dan ripped jeans hitam yang membalut kaki kurusnya. Oh no, kenapa harus pria dari masa lalu yang muncul!

"Ah, Kris," mata Luhan menatap pada rambut hitam legam tanpa gel yang turun menutupi kening. Jatuh dengan lembut pasrah pada grafitasi. Lengan putih pucat yang berhias cloisonne bracelet bermotif tao yang terlihat kuno. "Kapan kau datang?"

"Seminggu yang lalu," tangannya memberikan kaleng susu steril pada Luhan. "Tidak dingin untukmu dan dingin untukku, seperti biasanya."

Susu itu sudah dibuka oleh Kris. Susu bergambar beruang kutub itu, Luhan sangat ingat masa-masa dimana mereka dulu sering sekali mengkonsumsi susu itu saat Luhan menghabiskan malam-malam trainingnya di perusahaan. Hampir sepuluh tahun berlalu, Kris masih saja mengingatnya.

"Terima kasih."

Kris mengangkat bahunya sebagai jawaban. Ia menegak susu itu dengan pelan. Dapat Luhan lihat Adam's apple yang bergerak pelan di leher putih mulus milik Kris. Dengan posisi matanya sejajar dengan dada Kris, Luhan dapat melihat dengan jelas bagaimana bagian itu bergerak dengan penuh karisma. Pria ini masih tetap menjadi sosok sempurna.

"Minumlah, Lu. Kudengar kau pindah apartemen. Apa perusahaan kurang memberimu fasilitas? Kau tahu bukan bahwa aku masih memiliki kuasa penuh atas kenyamananmu di perusahaan ini. Ada satu saja organisme yang membuatmu tak nyaman, aku akan memencetnya seperti ini," pria berwajah oriental itu mengatupkan jari telunjuk dan jempolnya menjadi satu. Bergaya seperti memencet seekor semut kecil yang ia temukan di atas meja.

"Aku hanya ingin pindah ke tempat yang tenang, tidak ada alasan khusus," sedikit susu berpindah ke tenggorokannya. Rasa ini yang dulu sering ia bagi dengan Kris. Dulu sekali.

"Bagaimana kabar kaktusmu?"

Bahkan Kris masih ingat bahwa hidup Luhan adalah untuk kaktus-kaktusnya.

"Itu satu-satunya alasan kenapa aku pindah apartemen. Aku ingin kaktus-kaktusku tumbuh di tempat terbaik."

"Fraileana-mu sudah berbunga?"

Bahkan Kris masih mengingat fraileana yang dulu pernah menjadi alasan kenapa mereka bersiteru selama seminggu. Kris menginginkannya dan Luhan yang mendapatkannya. Sebuah konflik dalam persahabatan mereka.

"Belum. Tapi hampir, kuncupnya sudah muncul."

"Boleh aku berkunjung untuk melihatnya? Aku berpapasan dengan Baek dan Chan di parkir lot tadi. Kupikir wanita berblush-on oranye itu tak akan kembali kesini untuk mengantarmu pulang."

.

.

Sehun menyiapkan bubur kentang dan mengupas dua buah apel untuk Luhan. Menjajarnya pada satu garis lurus di atas meja kabinet. Ia juga membuat dua gelas jus jeruk dengan gula rendah kaloru dan menyimpannya di lemari es. Dengan menyajikan makanan kesukaan sang pemilik apartemen, ia berharap Luhan memaafkannya.

Saat terdengar pintu terbuka, Sehun buru-buru mengambil dua gelas jus jeruk dari dalam lemari es dan menaruhnya di meja. Dengan senyum manis ia berdiri di balik dapur untuk menyambut roommate-nya.

"Kau pu—" kalimatnya menggantung saat ia mendengar suara pria disana.

"Apartemen ini terlihat tua sekali, Lu. Kau yakin tinggal disini?"

Suara itu asing atau memang Luhan belum pernah membawa pria datang ke apartemennya. Mungkin itu kekasih Baekhyun. Mungkin saja kan? Karena Luhan pernah bercerita tak memiliki satupun kawan pria. Sehun mencoba berfikir positif.

"Aku menyukai apartemen ini, Kris."

Suara Luhan sedikit tersamar oleh suara kegiatan melepas sepatu, namun Sehun masih bisa menangkapnya.

Kris?

Itu bukan nama dari kekasih Baekhyun.

"Masuklah dahulu, sepatu ini susah sekali dibuka. Kupikir aku membutuhkan waktu lebih lama."

"Kau mau aku membantumu untuk membukakannya?"

"Apa yang kau bicarakan. Kau tak perlu melakukan hal itu. Masuklah."

Sehun masih diam di tempatnya. Ia tak beranjak untuk melihat siapa yang datang. Ada rasa seperti terganggu dengan keberadaan pria itu. Hmm, apa mungkin itu kekasih Luhan? bolehkah Sehun menjawab 'tidak mungkin'?

Pria itu berperawakan tinggi, bahkan lebih tinggi jika dibandingkan dengan Sehun. Rahangnya tegas terlihat berbeda dengan orang Korea. Gaya berjalannya yang terlihat berkharisma terlihat seperti sosok model yang mahal. Siapapun pria ini, ia berasal dari dunia yang sama dengan Luhan. Dunia hiburan. Mungkin seorang model, idol, atau aktor.

"Baek, kau di dalam?" Suara pria ini terdengar begitu pria. Kuat dan gagah. Saat pria ini berujar, Sehun dapat menilainya dengan tepat. Pria ini terdengar seperti seseorang yang ia kenal di masa lalu.

"Aku tinggal sendiri. Kau bilang Baekhyun pergi dengan Chanyeol kan tadi?" Bersamaan dengan suara itu, Luhan muncul dari balik lorong pintu masuk. Dengan kaki tanpa sepatu, Luhan terlihat begitu mungil disamping pria ini.

"Lalu siapa yang memasak ini?" Kris menunjuk pada hidangan yang berada tepat di hadapan Sehun.

Mata rusa Luhan mengikuti arah jari telunjuk Kris. Fokusnya yang tadi sedang mengorek tas tangannya sontak berhenti. Bukan mangkok yang masih mengepulkan asap itu, bukan pula pada jus jeruk yang juga masih terdapat bintik air pada gelasnya, namun pada sosok yang sedang berdiri dibaliknya.

Dengan baju serba putih seperti biasa, sosok itu memandang Luhan tanpa ekspresi. Kedua tangannya jatuh terjuntai ke bawah. Luhan sama. Ia menatap Sehun tanpa ekspresi pula. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Sehun terlihat seperti— bukan Sehun yang biasanya.

"Kau tinggal bersama seorang pembantu?" Suara Kris menyadarkannya.

"Ti—tidak."

"Lalu ini apa?"

"Ya, ada seorang pembantu. Ya, pembantu," Luhan memalingkan wajahnya pada Kris. Sebuah senyum tersungging di bibirnya.

"Aku akan mandi. Kau duduklah."

"Boleh aku meminum jus ini?"

Dan Luhan tak memberi jawaban apapun.

.

.

Luhan keluar kamar dengan kaos hitam dan celana putih longgar. Matanya menatap Kris yang sedang menonton acara TV dengan segelas jus jeruk di tangan kirinya. Menghela nafas sebentar kemudian Luhan duduk di sisi Kris.

"Kaktusku ada di sudut sana," suara Luhan terdengar kaku. Ia menunjuk pada ruang terbuka di balik papan pembatas dapur. "Kau tak ingin melihatnya?"

"Sudah. Aku sudah melihatnya."

"Ah,"

"Itu New York Fashion Week," Kris menunjuk pada layar TV yang menyajikan iklan even tahunan New York.

"Pertengahan bulan depan. Ada tawaran datang untukmu dan Chanyeol. Kau sudah mendengarnya?"

Pertanyaan itu luput dari telinga Luhan karena fokusnya berkelana jauh pada sudut demi sudut ruangan yang mungkin dapat ia jangkau. Ia mencari Sehun.

"Lu,"

"Hm,"

"Kau mendengarku?"

Luhan linglung. "Ya."

"Apa?" Kris menatap Luhan dengan tatapan menilik.

"Hm?"

"Lupakan. Kau tidak fokus."

Obrolan demi obrolan mengalir dari keduanya. Bak dua teman yang lama sekali tidak bertemu, mereka membagi banyak cerita. Tak luput oleh keduanya cerita tentang bagaimana mereka menjalin hubungan di masa lalu.

"Kau sosok kekasih yang norak!"

Kalimat itu lolos dari bibir Luhan dengan diiringi tawa yang menguar mengisi ruangan. Bahasan demi bahasan tentang hubungan mereka di masa lalu terus mengalir. Tentang bagaimana Kris sering sekali datang ke perusahaan milik ayahnya hanya untuk melihat seorang trainer cantik yang sedang berlatih. Dan juga tentang Luhan yang sangat sebal saat Kris memperhatikannya. Gadis mana yang tak merasa canggung saat mata tampan milik pewaris perusahaan menatapnya dengan wajah lurus tak tersungging senyum sama sekali.

"Bagaimana aku tak benci saat yang memperhatikanku adalah pria tampan sepertimu!" sebuah kalimat tabu lolos dari bibirnya. Sebenarnya Luhan dan Kris biasa bergurau dengan lelucon yang begitu intim tapi sedari tadi Luhan menahan lidahnya karena takut jikalau Sehun mendengarnya. Dan yang barusan itu tadi, Luhan hanya kelepasan.

Malam semakin malam dan bibir Luhan yang menguap membuat Kris melirik pada jam tangan Tag Heuer yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul sebelas.

"Okay tuan putri, kau harus tidur. Ini sudah sangat malam. Jangan salahkan aku jika besok, lusa, atau seterusnya aku akan sering datang ke tempat tua ini."

"Datanglah saat kau ingin, Kris. Pintu itu selalu terbuka untukmu."

"Apa kau berfikir untuk memberiku password?"

"Bermimpilah."

.

.

Sepeninggalnya Kris, Luhan terdiam di sofa. Tulang lehernya menoleh pada hidangan yang terjajar rapi di atas meja kabinet. Dimana Sehun?

Menghela nafas sebentar, Luhan berdiri menuju dapur. Tangannya meraih sendok yang disiapkan Sehun di atas tisu putih berbentuk segitiga yang manis. Ia mengambil sesendok penuh bubur kentang dengan irisan seledri yang permukaannya sedikit mengeras itu. Dengan menenggelamkan sendoknya, selaput keras itu terbenam. Saat hendak mengangkatnya, Luhan merasakan tangan sedingin es meraih sendoknya, mengangkat mangkok, dan dengan secepat kilat sosok itu sudah memindahkan isi mangkok itu pada tempat sampah bermotif sapi di sudut dapur.

"Bubur itu sudah tak layak makan."

Dengan cepat semua benda yang ada dihadapan Luhan sudah tersiram air wastafel dengan tangan pucat yang membersihkannya.

"Aku akan membuatkan yang baru."

"Aku tidak lapar."

Dua puluh detik setelahnya, pintu kamar tertutup menenggelamkan tubuh gadis itu dibaliknya.

.

.

Luhan yang merajuk ternyata lebih melelahkan dibanding dengan apapun yang pernah Sehun alami. Gadis itu mengunci kamar dan tak menyuarakan apapun dari dalam kamar.

Sehun bukan tak berusaha, ia membuat honey-tea panas dan mengetuk pintu untuk membuat Luhan luluh. Namun sampai dengan minuman panas itu berubah menjadi dingin, pintu saddle-brown itu tak kunjung terbuka.

Menghela nafas sebentar, Sehun mengetuk pintu pelan. Ia masih ingin berusaha membuat Luhan memaafkannya,"Kau tak lapar?"

"..."

"Keluarlah."

"..."

Sehun mengusap wajahnya untuk yang kesekian kalinya.

"Aku tahu aku salah, kumohon keluarlah."

"..."

Masalah ini tak akan bisa selesai jika Sehun hanya diam seperti sekarang. Dengan keberanian yang bersarang kuat di dadanya, Sehun membuka pintu yang mulanya terkunci. Di dalam, Sehun mendapati Luhan meringkuk dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya.

"Lu," Sehun berjalan mendekat. Lampu kamar masih menyala terang sehingga sosok yang meringkuk di balik selimut itu terlihat dengan jelas. Entah keberanian yang datang dari mana, Sehun naik ke atas ranjang menghadap pada Luhan yang membelakanginya.

"Mari kita bicara," Sehun menarik nafas dalam. Ia tak tahu nafas itu akan bersarang dimana namun melakukannya membuatnya sedikit lebih tenang. "Pertama, aku benar-benar minta maaf karena masalah tadi pagi. Aku benar-benar tak tahu jika yang ada disampingku adalah Baekhyun. Kupikir itu kau."

Sehun tahu Luhan belum tidur. Nafas gadis itu terdengar menguat. Gadis itu hanya merajuk entah karena alasan apa. Ini bukan yang pertama. Ingat saat Luhan marah selama dua hari hanya karena Sehun tak membalas pesannya dan mendiamkan Sehun hanya karena Sehun tertidur saat Luhan mengajaknya bicara. Gadis ini memiliki mood swing yang ekstrim.

"Masalah aku yang membuang sup tadi, aku tahu kau tak suka memakan sup dingin. Kau memaafkanku kan?"

Luhan masih tak bergeming dan Sehun masih dengan setia menunggu respon dari gadisnya. Dengan tangan kiri yang menopang berat kepalanya, Sehun menggunakan tangan kanannya untuk menyingkap selimut pink dari wajah Luhan. Wajah sembab muncul dari balik selimut lembut itu. Ada sisa air mata disana.

"Kenapa, hmm?" Suara Sehun sangat pelan mengalir di telinga Luhan. "Maafkan aku." Tangan kanan Sehun mengelus pelan lengan Luhan yang tertutup selimut, membaliknya dengan pelan sehingga mata sembab itu menghadap pada Sehun. Ini adalah kali pertama mereka berada dalam jarak yang sedekat ini. Entah benar atau tidak, Sehun merasa ada yang bergejolak di bagian puncak lambungnya. Seperti gelembung-gelembung halus yang menyeruak dari spon mandi.

"Kau tak marah padaku?" Suara Luhan begitu pelan tertangkap telinga Sehun. Sekitar lima menit berjarak dari pertanyaan yang diutarakan Sehun, Luhan menjawabnya dengan sebuah pertanyaan yang kiranya mirip dengan pertanyaan Sehun kepada Luhan.

"Kenapa aku harus marah?"

"Aku pulang dengan seorang pria."

Apa Luhan baru saja mengkhawatirkan Sehun? Pertanyaan spesifiknya adalah apakah Luhan baru saja mengkhawatirkan perasaan Sehun? Apa Luhan baru saja peduli dengan Sehun? Jika iya, ijinkan Sehun melakukan selebrasi.

"Aku tahu dia adalah temanmu."

"Siapapun dia, dia seorang pria," jawaban itu membuat Sehun tersenyum pelan. Luhan sangat lucu.

"Siapapun pria itu, dia temanmu." Sehun mengelus punggung sempit Luhan untuk mencoba menenangkan. "Teman adalah teman, tak mengenal pria atau wanita."

"Tapi dia mantan kekasihku."

"Mantan?" Kening Sehun berkerut dalam. "Bolehkah aku marah."

"Aku akan marah jika kau tidak marah."

Senyum Sehun memudar. Matanya fokus pada bibir Luhan yang manyun. Tangan lentik Luhan memainkan kancing kemeja Sehun yang terpasang dengan manis membuat sensasi gelembung halus di puncak lambungnya bertambah kuat. Itu berpengaruh pada elusan tangan pada punggung Luhan menjadi sedikit lebih pelan.

"Tidurlah."

Luhan tak menjawab. Matanya malah berganti memandang pada manik mata Sehun yang memandang wajahnya. Menilik dengan teliti apa yang mungkin dirasakan oleh pria ini.

Tangannya keluar dari dalam selimut dan meraba pada tulang rahang Sehun yang tegas. Mengelusnya pelan seakan tulang itu akan runtuh jika ia melakukan lebih. Matanya terpejam lembut menikmati sensasi dingin yang menguar di sepanjang permukaan telapak tangannya. Tubuh Sehun masih saja dingin, walaupun tak sedingin lalu.

Luhan membuka mata saat ia menyadari tangan Sehun mengelus punggung tangannya dengan lembut. Mata Luhan menangkap mata Sehun yang sedang terpejam erat. Ada kerutan diantara mata indah itu.

"Kenapa?" Suara Luhan sangat pelan menanyakan apa yang mengganggu pikiran Sehun sehingga pria itu mengerutkan keningnya. "Apa kau menemukan sesuatu yang salah?"

Dan gelengan Sehun adalah jawaban untuknya. Tangannya masih berada dalam genggaman Sehun sehingga Luhan hanya diam dengan tangan kiri berada di pipi Sehun.

"Jangan tidur dengan Baekhyun lagi."

Bibir Sehun menyunggingkan senyum dan matanya terbuka dengan cepat. "Kemarin malam aku tidur disini setelah membaca pesan darimu bahwa kau tak pulang," Sehun memberikan jeda pada penjelasannya dan mengusap kembali tangan Luhan pada pipinya. "Aku terbangun saat aku merasakan nafas yang teratur menyapa tengkukku. Aku begitu bersemangat karena kupikir itu adalah kau. Aku membalikkan tubuhku dan dengan pencahayaan yang sangat minim, aku kira itu adalah kau."

"Tubuh Baekhyun sedikit lebih kecil dibanding dengan tubuhku. Apa kau tidak bisa membedakannya?"

"Tentu saja aku tidak bisa. Aku tidak pernah tidur denganmu sebelumnya. Kupikir hanya aku dan kau yang tinggal di apartemen ini. Jadi jika itu bukan aku, berarti itu kau. Bukankah begitu?"

"Tapi—" Luhan ingin menjawab sebenarnya namun ia tak meneruskannya. "Lupakan yang sudah terjadi."

"Aku setuju," Sehun tersenyum lembut kemudian beranjak dari samping Luhan. "Tidurlah."

"Kau akan kemana?"

"Pindah ke sofa."

"Hmm, matikan lampunya dan tidurlah disini," Luhan kembali menepuk bagian ranjang yang kosong.

"Sekali aku tidur disana bersamamu, mungkin aku tidak akan pernah mau untuk pindah ke sofa lagi."

"Kalau begitu jangan pindah. Tetaplah disini karena itulah yang kumau."

.

.

Itu hanyalah sebuah awal. Karena setelahnya adalah sebuah proses yang panjang menuju sebuah cerita yang rumit. Luhan dan Sehun kini berbagi ranjang. Luhan di sisi kiri dan Sehun di sisi kanan. Ada sebuah boneka bambi berwarna biru muda sebagai pembatas keduanya. Ukurannya lebih besar jika dibandingkan dengan Luhan, sehingga ya, sedikit memakan tempat.

Mereka tak lagi sering bersitegang. Luhan bertugas membuat sarapan dan Sehun membersihkan ruangan. Luhan mengirim pesan jika pulang terlambat dan Sehun menanyakan kabar jika Luhan belum mengirimkan pesan. Semua berjalan dengan manis sampai pada titik mereka saling tersenyum menjengkelkan jika mereka berkirim pesan.

.

Tak ada yang lebih indah dari profesi apapun dalam bidang entertain selain sebagai seorang model. Tak terlalu banyak kegiatan seperti practice dan lainnya. Sore itu Luhan duduk di kursi malas di ruangan Chanyeol, ditangannya tercangkup smartphone yang baru seminggu yang lalu ia beli. Masih dengan merk favoritnya, Samsung, namun dengan layar yang sedikit lebih besar. Ia maniak game akhir-akhir ini.

"Apa kau akan meninggalkan seonggok kursi malas dimanapun kau berada?" Chanyeol menginterupsi dari balik meja kerjanya. Matanya tak menatap pada Luhan sama sekali. Ia hanya melirik sekilas gadis dengan outfit casual yang terkesan tomboy. Hanya kaos dan blue jeans sebenarnya, namun Luhan menambahkan snapback merah dan sneaker berwarna senada yang membuatnya terlihat seperti rapper underground.

"Itu sebagai tanda bahwa tempat ini masuk dalam kekuasaanku."

"Kau bercanda?"

"Anggap saja begitu. Urus saja urusanmu, Park Chanyeol, dan tinggalkan aku dalam zona pribadiku," dengan menggigit bibir pelan, kedua jempol tangan Luhan tak henti-hentinya menekan layar ponselnya, ia menjawab pertanyaan calon pemilik perusahaan dengan santainya.

"Suara desisanmu menggangguku."

"Ada earphone dalam lacimu, bukan? Kau bisa menggunakannya."

"Kau!"

"Ssstt... aku akan pergi saat Baek menjemputku. Tenanglah."

Dan saat nama Baekhyun menguar, maka disitulah bibir Chanyeol terkatup rapat.

.

Chanyeol memanglah seorang model namun ia juga memiliki posisi penting di perusahaan ayahnya ini. Setidaknya ia harus belajar mengelola perusahaan karena ia yakin bahwa kakaknya tak akan mau meninggalkan perusahaan yang ada di Kanada untuk sekedar membantunya mengelola perusahaan induk ini.

Beberapa hari ini, ia sengaja mengosongkan jadwalnya untuk menerima tawaran sebagai model karena ada beberapa hal yang harus ia urus sebagai calon CEO pengganti ayahnya. Namun semua sedikit terganggu karena tadi Baekhyun dengan tergopoh-gopoh datang ke ruangannya dengan membawa dua tas ransel besar berisi barang entah apa— yang terlihat menonjol di balik tas itu. Disamping kedua tas itu berdiri Luhan yang matanya tak lepas dari ponsel ditangannya. Kekasihnya itu berpamit hendak ke ruangan CEO, sehingga ia menitipkan dua tas ransel beserta modelnya –Luhan— kepada Chanyeol.

.

Luhan bermain game bukan karena ia suka pada permainan itu sedari muda. Ia menyukai game semenjak Sehun mengajaknya bermain game online. Game itu bukan tipe game perang atau tembak-tembakan, hanya game mengumpulkan koin yang mudah pengoperasiannya. Dengan cara ini Luhan akan merasa lebih dekat dengan Sehun, begitu sebaliknya.

"Jangan terus mengkonsumsi ice cream, Lu. Kau bisa gendut," Chanyeol kembali menginterupsi dari balik mejanya. Kesekian kali pula Luhan memicingkan matanya dan berdecak sebagai jawaban.

Satu cup ice cream cokelat sroberi berdiameter 12 cm dengan tinggi 6 cm telah bersisa setengahnya. Semuanya berpindah ke perut datar Luhan dalam satu jam terakhir.

"Dan juga, berpindahlah dari depan chiller, kau bisa kena flu."

.

.

Pulang dengan mata merah karena lelah, Luhan berjalan lunglai menuju kamar mandi setelah sebelumnya mencari sosok Sehun. Dengan sisa kesadaran yang masih menempel pada raganya, ia mengedarkan pandang pada sekeliling kamar. Biasanya Sehun akan menunggunya sampai pulang, bahkan pria itu tak akan tidur jika Luhan belum sampai ke apartemen namun kali ini sosok itu tak ada disana.

"Honey-tea, nona?" Suara teduh itu terdengar dari balik meja pantri. Menguar layaknya aspirin bagi lelahnya yang menumpuk. Luhan tersenyum mendapati secangkir teh madu tersodorkan untuknya. Hangat dan menenangkan.

"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" Pertanyaan itu tak pernah lupa Sehun tanyakan kepada Luhan. Hal itu membuat Luhan merasa nyaman. Diperhatikan oleh pria yang tidur seranjang denganmu dan kau tak merasa berbunga-bunga? Ah, itu lelucon tergaring sepanjang masa.

"Semua baik. Ayo tidur, aku hampir mati karena lelah," menaruh cangkir kosong pada wastafel, Luhan menarik pergelangan Sehun untuk masuk ke dalam kamar.

"Setidaknya cucilah wajahmu. Aku akan mencuci cangkir bekas tehmu."

"Tapi aku sangat lelah."

"Lu,"

"Ya!"

Dibarengi dengan pintu kamar mandi yang tertutup sedikit kasar, Sehun menyunggingkan senyum pada gadis yang membuat jantungnya sedikit beroperasi lagi beberapa waktu terakhir.

Mencuci muka dan gosok gigi sudah Luhan lakukan. Ia siap membenamkan dirinya di sisi kiri ranjang dengan memeluk boneka bambi pemberian Chanyeol.

"Bambi, bolehkan untuk malam ini saja kau tidur di bawah? Maksudku di lantai? Berpura-puralah jatuh, kumohon," bibir mungilnya membisikkan kalimat absurd tak berkelas pada telinga bambinya yang berdiri tegak. "Sekali saja aku ingin menyentuh dada Oh Sehun," ia menambahkan sebuah kikikan geli di akhir kalimatnya. Ia membayangkan betapa menyenangkannya saat membuat pola random pada dada bidang hantu tampan itu.

"Ada apa dengan dadaku?"

Mati kau Luhan! "Tidak. Hanya... hmm, kau.. lupakan. Matikan lampunya dan—" Luhan menepuk sisi kanan ranjangnya, "mari tidur."

Sehun tersenyum. Tubuhnya membalik dan menutup pintu dengan rapat. Dengan langkah tegas ia mematikan lampu utama dan menyisakan lampu temaram di sepanjang ujung atas kaca rias milik Luhan.

"Matikan juga lampu itu," hampir Sehun menuju sisi teritori ranjangnya saat ia berhenti karena suara Luhan yang terdengar dari balik selimut.

"Akan sangat gelap nanti."

"Aku suka."

Senyum kedua dari Sehun untuk Luhan walaupun Luhan tak menyadarinya.

Melepas sandal bermotif rusa yang ia kenakan, Sehun beranjak merangkak menuju ranjang. "Ah, aku benar-benar tak bisa melihat apapun, Lu," ia menarik selimutnya sebatas dada. Ia juga menepuk kepala bambi sekedar untuk memberinya ucapan selamat tidur.

"Saat kau menutup mata, kau juga tak akan melihat apapun. Sekarang tidurlah."

.

Sehun menutup matanya walaupun ia tak sepenuhnya tidur. Dua jam setelah ia mengucapkan kalimat selamat tidur untuk Luhan, ia sudah hampir tertidur saat terdengar erangan lembut keluar dari bibir gadis yang berada di sampingnya.

Berfikir bahwa Luhan sedang bermimpi, Sehun mengabaikannya dan kembali pada konsentrasinya untuk memejamkan mata.

"Eughh,"

Suara itu terus mendesis dari bibir Luhan. Sehun memiringkan kepalanya dan dengan sedikit meraba— karena kamar yang gelap gulita— ia mendapati kening Luhan terjangkau oleh telapak tangannya. Kening itu panas dengan titik-titik keringat yang muncul dari pori-pori.

"Lu," Sehun mencoba membangunkan Luhan saat menyadari frekuensi erangan Luhan semakin meningkat. Tangan kanannya meraih saklar lampu meja rias untuk memberinya sedikit penerangan. "Kau demam."

"Sehun, dingin," Suara Luhan begitu lemah dan bergetar. Sehun sempat berfikir apa yang gadis ini konsumsi sehingga membuatnya menggigil karena demam seperti sekarang ini.

Bambi tak bersalah yang berada di antara keduanya meringsut ke sisi kanan ranjang menggantikan posisi Sehun. Sedang Sehun bergeser mendekati Luhan.

"Pakailah selimutku," ia membungkus Luhan seperti kepompong dengan dua selimut yang membenamkan diri model cantik itu. Sedangkan hal itu membuat Luhan merasa tak nyaman. Apa Sehun bodoh?

"Peluk aku kumohon."

TBC

Maaf atas keterlambatan update. Musim ujian, m so sorry.

Banyak yang tanya apakah Sehun akan menjadi manusia lagi, hmm, sepertinya itu bukan hal yang mungkin terjadi ya.

Untuk rated M nya, itu akan keluar nanti pada saatnya. Ga lucu banget kan ya kalau tiba-tiba ada rated M antara hantu sama manusia di awal-awal chapter. Terkesan Sehun tuh hantu prustasi akan kebutuhan biologis gitu. Sabar ya, readers.

Yang nanyain Vi umurnya berapa. Hhmm, Vi temen sekelasnya Jongin. Haha, TUA.

Untuk sosmed, Vi ada tapi ga pernah on. Ada sih pin BB, eh tapi Vi mah apa atuh share-share pin. Bisa PM kalau mau. Atau minta via review ntar Vi PM. Kkkkkk

Thanks for your reviews and support. Last, I love you, all. Let's be friends. :*

150504 Kediri, Jawa Timur.