Sebagai penulis yang baru debut, adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi saya ketika melihat tulisan saya diapresiasi dengan baik. Ada kepuasan tersendiri saat saya melihat traffic yang mengunjungi tulisan saya.

Sebetulnya chapter ini akan saya publish 2-3 hari ke depan. Tapi melihat apresiasi para pembaca di dua tulisan saya, All This Time dan Undangan Terselubung, saya berikan chapter ini sebagai bonus. :D

Selamat membaca!


.

.

"Appa, aku diikutkan les bahasa Inggris sama Siwon Appa. Jadi aku akan les vokal dan les pelajaran seperti biasanya. Les bahasa Inggrisnya setelah les pelajaran jam 4 sampai jam 6." ujar Dio sambil memperlihatkan jadwal pelajaran beserta jadwal lesnya.

.

"Aku dan Sehunie diikutkan klub basket. Kami berdua ikut dengan Minho Hyung." sambung Tao tak mau kalah.

.

"Sama les pelajaran tiap Selasa, Kamis, Sabtu." lanjut Sehun yang entah bagaimana bisa naik ke pundakku.

.

Aku kemudian menurunkan Sehun dan mengelus kepala mereka satu per satu.

.

"Kalian harus belajar dengan sungguh-sungguh. Buat Siwon Appa bangga pada kalian, ne?" ujarku.

.

"Ne!" teriak mereka.

.

"Kalian ada PR?" tanyaku.

.

"Kami sudah mengerjakannya di rumah Siwon Appa. Sooyoungie Noona dan Minho Hyung membantu kami mengerjakannya." balas Dio.

.

"Ya sudah kalau begitu. Ayo sikat gigi dulu. Ini sudah waktunya kalian tidur." ujarku sambil melirik jam yang sudah menunjukkan waktu jam 8:30 malam.

.

Aku kemudian menggiring mereka ke kamar mandi dan membantu mereka membersihkan diri sebelum tidur.

.

Setelah itu aku mengganti pakaian mereka dengan piyama dan membawa mereka ke tempat tidur. Aku menggeser ranjang berukuran sedang dibawah ranjang besar tempat Tao dan Sehun tidur. Ranjang itu adalah tempat Dio tidur. Aku tak berani membeli ranjang yang bertingkat ke atas karena khawatir mereka bisa jatuh nantinya.

.

Ketiga anakku itu pun sudah berbaring di tempat tidur mereka masing-masing. Aku memakaikan mereka selimut, lalu mengecup dahi mereka satu per satu. Aku kemudian menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu utama kamar ini. Tak lama aku bisa mendengar dengkuran halus Tao dan Sehun, sementara Dio sudah nampak tidak bergerak lagi. Aku kemudian menutup pelan pintu kamar mereka.

.

Setelah ketiga anakku tidur, aku mulai membersihkan seisi rumah. Menyapu, mengepel, mencuci piring, mencuci dan menyetrika pakaian. Semua ku lakukan di malam hari karena aku tak punya banyak waktu kalau pagi. Inilah rutinitasku setiap hari sewaktu hari kerja. Akhir pekan pun rutinitas ini tak banyak berubah karena pasti kakak-laki-lakiku akan menjemput kami agar menghabiskan waktu dengan mereka.

.

Kakak laki-lakiku, Choi Siwon, bekerja sebagai apoteker di sebuah rumah sakit swasta yang cukup terkenal di kota ini. Sementara kakak iparku, Im Yoona, adalah seorang guru SD di sekolah ketiga anakku dan kedua keponakanku. Wajar jika keadaan ekonomi mereka jauh lebih baik daripada aku, Choi Suho, yang saat ini bekerja di bank.

.

Aku menolak sewaktu kakak laki-lakiku menawarkan bantuannya untuk memberiku asisten rumah tangga. Kakak laki-lakiku itu sudah terlalu banyak membantuku. Dialah yang selalu membayar segala macam les tambahan ketiga anakku, seperti yang sempat berusaha ku tolak sebelum makan malam tadi. Tak jarang pula dia membelikan ketiga anakku pakaian, buku, dan alat tulis.

.

Aku sendiri merasa tak bisa berbuat banyak untuk Sooyoung dan Minho. Aku tak bisa sering-sering membelikan mereka hadiah seperti yang diberikan kakakku kepada anak-anakku. Aku hanya bisa menjadi pendengar segala keluh kesah kedua keponakanku itu.


.

.

Rutinitas kami tidak banyak berubah. Aku akan selalu bangun jam 4 subuh menyiapkan sarapan dan bekal ketiga anakku. Setelah itu aku sendiri bersiap-siap ke kantor. Sebelum jam 6 aku akan membangunkan mereka, membantu mereka mandi dan berpakaian. Kemudian kami akan sarapan bersama dan berangkat bersama sebelum jam 7. Aku akan mengantarkan mereka sampai di pintu gerbang sekolah mereka, setelah itu aku berangkat ke kantor.

.

Setelah sekolah, anak-anakku dan keponakanku mengikuti les tambahan sesuai jadwal, dan kakak iparku akan menjemput mereka pulang ke rumah kakak laki-lakiku. Disana ketiga anakku akan menungguku selesai bekerja. Aku pulang kantor jam 5 sore dan akan tiba di rumah kakak laki-lakiku sekitar jam setengah 7. Setelah itu kami akan makan malam bersama sebelum aku dan ketiga anakku pamit pulang tiap jam setengah 8.

.

Kami akan tiba di apartemen sekitar jam 8. Aku kemudian membantu mereka mengerjakan PR kalau mereka belum mengerjakannya. Kalau tidak, biasanya aku membantu mereka mengulangi pelajaran hari itu. Setelah itu, paling lambat jam 9 mereka sudah harus tidur. Aku sendiri akan membersihkan seisi apartemen setelah mereka tidur paling tidak hingga jam 11. Aku baru bisa beristirahat setelah semua pekerjaan rumah beres.

.

Akhir pekan kali ini kakak laki-lakiku mengajak kami ke pemandian air panas setelah kami selesai gereja. Aku sendiri tak bisa menolak ketika ketiga anakku dan dua keponakanku itu saling bersorak-sorai kegirangan.

.

Tak butuh waktu lama ketika kami disuguhkan dengan pemandangan indah yang ada di kaki gunung. Bunga-bunga bermekaran, kupu-kupu dan lebah yang hinggap di antara bunga-bunga, angin sejuk khas udara pegunungan. Kelima anak itu sudah berlarian kesana-kemari. Aku hanya bisa mengawasi mereka sambil sesekali memperingatkan agar mereka bermain tidak terlalu jauh.

.

Aku bisa melihat Minho yang berkejar-kejaran dengan Tao dan Sehun, sementara Sooyoung dan Dio nampak mengamati aneka jenis serangga yang ada di taman bunga.

.

"Suho-yah!" panggil kakak laki-lakiku.

.

Aku kemudian menolehkan kepalaku. "Ne, Hyung?"

.

"Tolong bantu aku menyiapkan panggangan ini. Anak-anak biar dijaga Yoona." sahutnya.

.

Kakak iparku itu kemudian menghampiri Sooyoung dan Dio, sementara ia memperingatkan Minho, Tao, dan Sehun agar berhati-hati.

.

Aku lalu menghampiri kakakku dan membantunya menyiapkan panggangan. Tak butuh waktu lama ketika sudah tercium aroma lezat daging panggang.

.

"Anak-anak! Makan siang!" teriak kakak laki-lakiku.

.

Kelima anak itu kemudian berlari menuju ke arah kami sambil tertawa lepas. Aku kemudian membantu kakak iparku menggelar tikar dan menyiapkan makan siang yang sudah disiapkan dari rumah, sementara kakak laki-lakiku masih memanggang beberapa potong daging.

.

"Sooyoungie, tolong bantu adik-adikmu cuci tangan dulu di keran sana." kata kakak iparku sambil menyerahkan sebotol sabun cair pada Sooyoung.

.

"Ne! Ayo kita cuci tangan dulu." ajak Sooyoung pada Minho dan ketiga anakku. Mereka berlima kemudian bergegas menuju keran yang berada tak jauh dari tempat kami menggelar tikar.

.

Tak lama mereka kembali. Kakak iparku kemudian menyodorkan tisu dan menyuruh mereka mengeringkan tangan mereka masing-masing. Kami pun makan siang dengan melihat indahnya pegunungan.


.

.

Setelah makan siang, aku dan kakak laki-lakiku segera membereskan segala perlengkapan piknik kami karena kami akan masuk ke pemandian air panas setelah itu.

.

Setengah jam kemudian kami sudah berada di tempat pemandian air panas.

.

"Nah, kita pisah disini. Sooyoung sama Eomma ke tempat pemandian khusus perempuan, sementara Appa dan yang lainnya ke tempat pemandian khusus laki-laki." ujar kakak iparku.

.

Kami pun akhirnya berpencar. Aku, kakak laki-lakiku, Minho dan ketiga anakku menuju tempat pemandian khusus laki-laki.

.

Aku kemudian membantu Minho dan ketiga anakku melepas pakaian mereka sementara kakak laki-lakiku sudah menunggu anak-anak itu di pemandian. Mereka harus mandi dulu sebelum berendam di air panas. Aku kemudian merapihkan pakaian anak-anak itu agar tidak berantakan dan meletakkannya di dalam loker. Aku sendiri kemudian bersiap dan melingkarkan handuk ke pinggangku.

.

Ku lihat anak-anak sudah bermain-main di kolam khusus anak-anak sementara kakakku masih menggosok badannya.

.

"Ah, Suho-yah~ Ayo cepat kesini." panggilnya.

.

"Ne, Hyung." balasku sambil mendekat ke tempat kakak laki-lakiku itu.

.

"Tolong gosokkan punggungku ya." ujarnya lagi.

.

"Ne." balasku sambil mulai menggosok punggungnya.

.

Punggung kakak laki-lakiku masih terlihat tegap, walaupun sudah tidak sekokoh dulu. Dahulu punggung itu ibarat batu karang. Begitu keras, begitu kuat, tapi begitu lembut. Punggung yang selalu menjadi bantalku ketika ia menggendongku. Sekarang punggung itu sudah tak sekokoh dulu. Usia yang semakin bertambah membuat punggung itu menjadi sedikit rapuh. Aku kemudian menggosok punggungnya pelan-pelan.

.

"Suho-yah~" kakak laki-lakiku kemudian mengagetkanku.

.

"Ne?" aku menghentikan kegiatanku.

.

"Kau benar-benar tidak ingin menjalin hubungan serius lagi?" tanya kakak laki-lakiku hati-hati.

.

Ini sebenarnya sudah kesekian kalinya kakak laki-lakiku membujukku untuk menjalin hubungan serius.

.

"Ne. Aku belum berpikir ke arah itu lagi." balasku pelan sambil kemudian melanjutkan menggosok punggung kakak laki-lakiku.

.

Aku bisa mendengar desahan pelan kakak laki-lakiku.

.

"Aku bukannya ingin memaksamu atau bagaimana. Anak-anakmu sudah semakin besar. Kau bahkan tak akan menyadari ketika mereka tiba-tiba tumbuh lebih tinggi darimu." ujarnya pelan.

.

"Meski aku dan Yoona bisa sedikit mengisi kekosongan yang ada, tentu suatu saat mereka akan merindukan keluarga seutuhnya. Mungkin saat ini kau bisa merangkap sebagai Ayah dan Ibu bagi mereka. Aku dan Yoona bisa berperan sebagai orang tua mereka sewaktu mereka di rumahku. Tapi tetap saja, kita tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi suatu saat nanti." lanjutnya.

.

"Aku hanya ingin melihat kau tersenyum bahagia lagi. Aku tahu kau sekarang sudah cukup bahagia dengan kehadiran mereka. Tapi aku yakin kau bisa lebih bahagia daripada saat ini. Meski ada yang kau rahasiakan kepadaku, aku ini tetap kakakmu satu-satunya. Aku tahu lebih banyak tentang dirimu dibanding orang lain. Begitu pula denganmu. Selain istriku, kaulah yang lebih tahu banyak tentang aku." sambungnya lagi.

.

Aku hanya bisa diam. Aku tahu percakapan ini membuatku seperti membuka luka lama. Tapi aku tak bisa menghindarinya. Aku tahu kakak laki-lakiku ini bermaksud baik. Ia tak pernah memaksaku melakukan sesuatu yang tidak aku suka. Ia bahkan selalu ada di sampingku ketika aku sedang mengalami masalah tanpa ku minta.

.

"Aku hanya sekadar mengingatkan. Apapun keputusanmu akan selalu ku dukung. Yang penting kau bahagia dengan kehidupanmu. Ingatlah kau masih mempunyai kakak yang bisa kau andalkan. Okay?" ujarnya lagi.

.

"Ne." balasku pelan.

.

"Ya sudah kalau begitu. Giliranku menggosok punggungmu. Sudah lama aku tak menggosok punggungmu." ujarnya sambil mengambil sponge yang aku pegang.

.

"Berbaliklah supaya aku bisa menggosok punggungmu." sahutnya.

.

Aku hanya bisa menurut.

.

Ia kemudian menggosok punggungku pelan-pelan. "Ya! Kenapa badanmu tambah kurus? Kau sakit?" tanyanya.

.

"Ani. Aku hanya sedikit capek karena banyak kerjaan di kantor." ucapku mencoba mengelak.

.

"Aigooo~ Kau ini harus punya badan sehat tahu? Ketiga anakmu itu masih belum bisa merawatmu. Bagaimana kalau kau tiba-tiba sakit?" omelnya.

.

"Ne. Aku akan menjaga kesehatanku." balasku pelan.

.

"Kau pasti tidak menghabiskan vitamin yang ku berikan padamu." omelannya pun berlanjut panjang.

.

Aku hanya bisa menahan agar air mataku tidak jatuh.

.

Bagaimana aku bisa membalas kebaikan kakakku ini?


CUT!

.

Nah, dua chapter Keseharian Keluarga Suho ini untuk mendeskripsikan bagaimana kehidupan Suho selama 10 tahun terakhir. Selain itu, digambarkan pula bagaimana interaksi Suho dan ketiga bocah kembarnya dan interaksi Suho sekeluarga dan keluarga kakak laki-lakinya.

.

Bagaimana dengan Kris? Silahkan tunggu di chapter berikutnya. #ditimpukinpembaca

.

Selanjutnya saya akan menjawab rangkuman beberapa review yang baru masuk.

.

1. Kata-kata yang serius. Ini sebenarnya salah satu alasan saya untuk memberi rated M untuk cerita ini. Selain karena tema cerita yang lumayan berat (menurut saya loh ya), itu secara tidak langsung mempengaruhi writing style saya saat menulis cerita ini. Saya sendiri membayangkan bagaimana pembaca nekat (istilah keren saya untuk pembaca yang membaca cerita melebihi batas umur yang ditetapkan) saat membaca tulisan saya. Mungkin ada yang merasa njelimet, terlalu formal, sulit dicerna, dan sebagainya. Makanya tulisan ini saya beri rated M.

.

2. Panjang cerita. Tulisan 3000 kata itu luar biasa banyak (menurut saya). Makanya saya salut dengan penulis lain yang bisa menulis sebanyak itu dalam 1 chapter. Tidak mudah mengembangkan sebuah ide cerita menjadi cerita yang enak dibaca. Apalagi kalau ada batasan harus sekian kata. Ketika menulis, kita tidak akan tahu seberapa banyak kata yang kita gunakan sampai kita tiba saat memberi titik di akhir sebuah tulisan. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, ini masih tahap trial and error saya sebagai penulis pemula dalam memotong sebuah tulisan menjadi beberapa bagian untuk dimuat dalam 1 chapter. Kalau saya paksakan, katakanlah 3000an kata per chapter, tentu akan ada beberapa bagian yang nantinya akan kelihatan lain. Bisa saja dalam 1 chapter itu malah akhirnya tidak nyambung atau malah bertumpuk-tumpuk. Makanya saya putuskan untuk memberi batasan 1500-2000 kata saja agar saya tidak bingung sendiri, pembaca pun tidak ikut-ikutan bingung.

.

Pssttttt, sebagai info tambahan, saya sebenarnya dalam proses membuat cerita lain. Bentuknya sih seperti kumpulan cerita yang panjangnya sekitar 3000an kata per chapter. Idenya dapat dari Sekaiichi Hatsukoi dan Junjou Romantica. Feel-nya kurang lebih seperti dua anime itu (penulis ke-pede-an). Cast utama tetap Krisho. Selain itu bakal ada spin-off, jadi semacam kayak figuran disitu bakal dapat cerita tersendiri, tapi tetap akan dalam satu jalan cerita.

.

3. M-Preg. Untuk tulisan saya yang ini, saya memang lebih fokus ke pure hubungan lelaki sesama jenis di dunia nyata. Bukan berarti saya sensi dengan m-preg atau bagaimana. Ini juga salah satu alasan saya memberi rate M untuk tulisan ini karena memang temanya seperti inilah adanya: Bukan cinta biasa yang secara normatif menurut adat budaya kita. Walau saya yakin semua pembaca yang singgah, memberi review, dan menjadikan tulisan ini sebagai tulisan favorit mereka adalah penikmat genre ini.

.

Lalu menanggapi tulisan Undangan Terselubung, kayaknya nih ya, kayaknya, sekali lagi kayaknya loh ya, mungkin akan saya buatkan sequel, tapi tidak dalam waktu dekat ini. Saya masih harus menyelesaikan All This Time dulu (atau setidaknya on-progress karena saya belum dapat wangsit setelah menulis di halaman 60), lalu melanjutkan proyek kedua saya #batukbatuk.

.

Terakhir, sekali lagi saya ucapkan terima kasih untuk para pembaca, pemberi review, dan yang sudah menjadikan tulisan saya sebagai tulisan favorit mereka. Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada kalian yang sudah follow saya. Selamat menikmati dan tetap tunggu tulisan-tulisan saya selanjutnya! \(^o^)/