I'm Baaaaaaack~

Yep, maaf minna-swaaan ane baliknya lama-lama lagi yak. Maafkan lah author amatiran yg pemalas ini.

Jiah. Chapter 4 Update. Dan mau bilang, chapter ini juga panjang bgt (ada 14 halaman di ). hoho *Kudu sabar terus yap bacanya*.

sebelumnya makasih buat Chizuru SeenYuki Kakemi yg udh ngefav. ya ^^v

oke.. seperti biasa, Moist_fla-san selalu bilang,

"SEBARKAN KEBAHAGIAAN MELALUI TULISAN"

Oke~ oke~ harap semuanya bisa bahagia membaca fic RuTang (Rumah Tangga) ane ini. *Padahal mungkin akan menimbulkan kekesalan tingkat akut pada Zoro*. Tapi ini hanya Fiction kok. Take it easy. ^-^ Yohohoo

Oke, tak panjang tak lebar lagi, ayo kita langsung ke TKP saja. Tapi sebelumnya, Kalo Minna-san bersedia meReview fic jelek ane ini, silakan di klik tulisan "REVIEW" dibawah, and buat komen atau saran atau ide (Boleh juga) di kotak Reviewnya.

Yohohohoho

Warning : AU, Mr. Typo, OOT, OOC, Gaje, sok roman, sok keren dan sejenisnya.

Desclaimer : Eiichiro Oda adalah pemilik syah One Piece

.

STRONG HEART : YOUR HARDNESS

.

Setelah suasana di Bar mulai sepi, Shakky menghampiri Robin yang sedang tertidur di meja Bartender. Ia menyingkirkan helaian rambut yang menutupi separuh wajah wanita itu. Dan tampaklah air mata Robin yang sudah mengering di pipi. Wajah tidurnya juga terlihat tidak tentram. Seolah menandakan di waktu tidurpun ia masih memikirkan masalah yang telah menimpanya.

"Apa yang harus kulakukan pada wanita malang ini?" Batin Shakky bingung.

Cukup lama menatap wanita berambut raven itu, tiba-tiba Shakky mendapatkan sebuah ide.

"Benar juga. Aku hubungi saja keluarganya." Celetuk Shakky langsung menggeledah mantel yang dikenakan Robin. Iapun menemukan sebuah handphone Nori berwarna ungu, segera saja ia menggeser flip handphone dan mencari daftar panggilan terakhir Robin.

"Hmm.. Luffy? Siapa Luffy? Ku hubungi tidak ya? Tapi… kalau benar wanita ini adalah istri Zoro, apa sebaiknya aku menghubungi Zoro saja ya? Ng… ah.. nggak usah lah, Yang ada ntar mereka malah ribut-ribut. Si Luffy ini aja deh!" Shakky memutuskan untuk menghubungi Luffy.

Cukup lama menunggu jawaban dari seberang, beberapa saat kemudian terdengarlah sebuah suara cempreng dari telepon.

"Halo?"

"Halo. Apa ini Luffy?"

"Ya! Ini aku Luffy,sen… EHHH! INI BUKAN SUARA ROBIN-SENSEI! SIAPA KAU?" Luffy sangat kaget saat menyadari orang yang sedang bicara dengannya saat ini bukan Robin.

"Sensei? Hmm… jadi dia seorang guru." Batin Shakky mengerling Robin

"HEI. JAWAB AKU! SIAPA KAU? MANA ROBIN-SENSEI? MANA BODYGUARDNYA?" Teriak Luffy yang salah sangka di seberang sana.

"Hei hei hei, tenanglah bocah. Aku tidak akan mengapa-apakan senseimu. Aku hanyalah seorang pemilik bar. Saat ini senseimu sedang mabuk dan tertidur di Bar-ku. Cepatlah jemput dia. Aku mau tutup nih!"

"Bar? Tempat apa itu? Apakah disana banyak daging?"

"Aduh. Kau datang saja. Nanti ku kirim alamat Bar-ku." Kata Shakky sweat drop.

"Baiklah."

Tut Tut Tut

.

.

Setelah menerima telpon dari Shakky, Luffypun pergi ke rumah Vivi untuk mengajaknya pergi bersama. Walau awalnya kaget, Vivipun mengiyakan ajakan Luffy dan langsung pergi ke alamat yang tadi sudah di message Shakky.

CIIITTTT

Luffy menghentikan sepedanya di depan sebuah Bar berlabel BLUENO. Vivi yang menggonceng di belakang langsung melompat turun dan berlari ke dalam Bar. Luffy membuang sepeda bututnya di sembarang tempat dan ikut menyusul Vivi.

BRAKK

Vivi membuka pintu Bar cukup keras sambil ngos-ngosan. Shakky yang sedang duduk di meja bartender menoleh ke sumber suara.

"SENSEI!" Teriak Vivi saat melihat Robin yang tertidur di meja. Segera saja ia menghampiri sensei-nya itu dan memeriksa keadaannya dengan cemas. Luffy ikut menyusul dan berusaha membangunkan Robin.

"SENSEI! SENSEI!" Vivi & Luffy kalang kabut membangunkan Robin. Tapi Robin tidak kunjung bangun.

Shakky memadamkan rokok yang tadi ia hisap ke asbak. Lalu ia berdiri dan menepuk bahu Vivi serta Luffy. Sehingga membuat ke-2 bocah itu berbalik menatapnya.

"Sudahlah. Percuma saja kalian membangunkannya. Ia tidak akan bangun begitu awal. Palingan juga bakal sadar besok siang."

Vivi & Luffy menatap Shakky curiga.

"Hei. Apa yang kau berikan pada Robin-sensei sampai-sampai ia tidak sadarkan diri begini?" Teriak Vivi kepada Shakky

Shakky tersenyum sinis.

"Sensei-mu itu sedang frustasi. Ia meminta minuman berakohol tinggi padaku. Aku sudah menolak dan memberinya susu saja. Tapi ia memaksa. Mau tak mau, ya aku beri saja. Itu kan pekerjaanku."

Vivi menelan ludah. Dipikir-pikir apa yang baru saja dibilang oleh wanita berambut box ini benar juga. Mana mungkin seorang bartender tidak menjual minumannya ke pelanggan yang membutuhkannya? Apalagi kalau pelanggan itu memaksanya.

"Sanji…" Tiba-tiba Robin mengigau. Vivi, Luffy & Shakky segera menoleh padanya.

"SENSEI!" Vivi & Luffy kembali menghampiri Robin. Tapi Robin tidak menyahut lagi. Ia hanya menggertakkan gigi dan menangis pilu di tidurnya. Vivi & Luffy yang melihatnya terdiam haru.

"Luffy. Ayo bawa Robin-sensei dari sini."

"Baik."

Luffy dan Vivipun langsung membopong tubuh Robin meninggalkan Bar. Shakky yang melihatnya hanya bisa tersenyum pahit.

"Setidaknya ia masih memiliki 2 orang yang bisa diandalkan." Batin Shakky melihat Luffy yang membopong tubuh Robin & Vivi yang menggiring sepeda butut Luffy.

.

.

"Sanji. Antar aku ke Mall!" Nami memasang sepatu hak tingginya dan menunggu kedatangan Sanji di sofa ruang tamu. Sanji yang sedari tadi berdiri di depan jendela menghampiri Nami dan membungkuk padanya.

"Baik nona."

"Pft. Kau jangan terlalu formal begitu padaku. Kalau tidak ada Zoro, kau bisa memanggilku Nami saja. Dan tidak perlu membungkuk seperti itu." Nami mengedipkan sebelah matanya pada Sanji.

Sanji menelan ludah.

"Baik, Nami."

Nami tersenyum. Mendengar Sanji menyebut namanya, entah kenapa hatinya terasa begitu berbunga-bunga.

"Baiklah. Ayo cepat antar aku."

Sanji mengangguk. Lalu merekapun berlalu meninggalkan apartment.

Di perjalanan, Sanji sedang menyetir mobil. Sedangkan Nami duduk dibelakang dan terus memperhatikan Sanji sambil tersenyum-senyum tidak jelas. Sanji yang mengetahui tatapan Nami dari spion depan hanya diam campur heran. Tapi ia hanya mengabaikan tatapan itu dan focus menyetir. Sampai saat itu,

CIITT

Sanji menghentikan mobil. Ia berbalik menatap Nami yang duduk di belakang dan masih menatapnya dalam.

"Nami, kita sudah sampai."

Saking asyiknya memperhatikan bodyguardnya, Nami tidak sadar kalau mereka sudah tiba di depan Mall. Mendengar ucapan Sanji barusan, ia terlonjak kaget dan langsung mengalihkan tatapannya dari Sanji. Ia sedikit kacau dan mencari-cari alasan biar tidak terlihat memalukan. Sanji hanya tersenyum sinis dan keluar dari mobil.

"Sial! Apa yang baru saja ku lakukan?" Batin Nami menutup wajahnya yang sangat panas.

Tok Tok Tok

Sanji mengetuk kaca jendela mobil dari luar, Nami menoleh ke sumber suara.

"Ah. Ya!" Sahut Nami langsung membuka pintu mobil saat melihat Sanji yang mengisyaratkannya untuk keluar. Sanji menatap Nami seksama. Yang ditatap hanya menunduk menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.

"Apa kau baik-baik saja?" Sanji menaruh telapak tangannya ke dahi Nami. Nami membelalakkan matanya. Jantungnya berdetak tidak karuan. Wajahnya semakin memanas dan malah kini sudah berasap. Tidak tahan memendam perasaan itu lagi, Namipun jatuh pingsan. Sanji yang sedikit kaget langsung menangkap tubuhnya.

"NAMI! NAMI!"

Sementara Sanji berusaha membangunkan Nami, seseorang mengawasinya dari jejauhan. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Arlong.

"Sial. Jadi pria yang waktu itu menghajarku adalah Bodyguardnya. Huh! Lihat saja. Nami, walaupun sekarang kau bisa bebas dariku. Tapi suatu saat nanti, aku akan menghancurkanmu." Batin Arlong memendam sejumlah kebencian kepada Nami.

.

.

Keesokan harinya, Robin terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa sangat sakit. Ia mencoba bangkit dari tidur. Tapi tiba-tiba sebuah tangan membantu tubuhnya untuk bangkit. Robin yang sedikit kaget menoleh ke si pemilik tangan. Ternyata itu adalah Vivi. Vivi tersenyum kepadanya. Namun Robin membelalakkan matanya. Ia sedikit kaget saat melihat gadis berambut biru itu sedang duduk manis di depannya. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Ruangan ini. ruangan tempat ia berada saat ini, bukanlah kamar ataupun ruangan di rumahnya. Ini adalah tempat yang sangat baru bagi Robin. Ia belum pernah ke tempat ini sebelumnya. Ia menerawang sekeliling. Saat melihat sebuah figura yang berisi foto Vivi beserta keluarganya, Robinpun yakin kalau saat ini ia sedang berada di rumah Vivi. Tepatnya di kamarnya.

"Sensei?" Vivi meraba bahu Robin, hendak memastikan keadaan wanita bertubuh ramping itu.

Robin menekan pelipisnya. Ia hanya diam mengingat kejadian semalam. Dimana ia mabuk berat dan tertidur di bar Shakky. Dan kemudian, ia tidak ingat apa-apa lagi.

"Sensei. Apa sensei baik-baik saja?"

Mendengar ucapan Vivi barusan, Robin menatapnya heran.

"Vivi, kenapa sensei bisa ada disini?"

"Oh.. itu.. wanita bartender di Bar menelpon Luffy untuk menjemput sensei. Lalu kamipun pergi ke sana dan membawa sensei ke rumahku."

Robin hanya diam mencerna ucapan Vivi. Tiba-tiba ia teringatkan sesuatu.

"Aku harus mencari Sanji!" Katanya sambil bangkit. Tapi Vivi menahan tangannya.

"Sensei. Semalaman sensei terus mengigau dan menyebut nama Sanji maupun Zoro. Bahkan sensei menyumpahi suami sensei sendiri. Apa yang terjadi,sensei? Sampai-sampai sensei pergi mabuk-mabukan ke Bar? Bukankah sensei sendiri yang bilang pada kami kalau mabuk-mabukan itu tidak baik?"

Robin membelalakkan matanya. Sedangkan Vivi masih menahan tangan senseinya itu sambil menekur. Robin menelan ludah, lalu ia kembali duduk di depan Vivi. Vivi hanya diam menundukkan kepalanya, takut tindakannya ini akan membuat Robin marah. Tapi Robin malah tersenyum pahit dan meraba bahunya. Vivi mengangkat wajahnya dan menatap Robin seksama.

"Maaf Vivi-chan… sebenarnya sensei sedikit berbohong padamu." Suara Robin sedikit serak.

"Sensei." Vivi tidak tega melihat senseinya itu.

"Sebenarnya…"

Robinpun mulai menceritakan semua permasalahannya pada Vivi. Mendengarnya, Vivipun membenci Zoro dan ingin membantu Robin menemukan Sanji. Agar mereka bisa mendapat penjelasan langsung dari mantan Bodyguard Robin itu.

.

.

Beberapa hari telah berlalu. Sejak malam itu Robin tidak pulang-pulang ke rumah. Ia terus menetap di rumah Vivi. Dan terkadang pergi mencari Sanji ditemani Vivi & Luffy. Di samping itu, Nami semakin menyukai Sanji dan terus memperhatikan bahkan mencari perhatian dari bodyguard berambut kuning itu. Zoro sibuk dengan urusan perusahaan. Ia sedang dinas di luar negri, sehingga tidak pulang-pulang maupun menghampiri Nami. Ia juga tidak tahu kalau Robin tidak pernah pulang-pulang ke rumah. Sedangkan Franky, sang bodyguard baru Robin hanya menganggur tidak ada kerjaan di rumah.

Kini sudah genap 2 bulan sejak kepergian Sanji. Robin telah kembali ke rumahnya. Sebelumnya ia juga telah memecat Franky dan lebih memilih tidak mempunyai Bodyguard. Zoro sudah pulang dinas. Dan seperti biasa, setiap hari Robin & Zoro hanya diam satu sama lain. Mereka sibuk dengan pekerjaaan masing-masing. Sekitar 2 kali sebulan, Zoro tidak tidur di rumah. Alias tidur di apartment Nami. Tapi, Nami yang mulai menyadari perasaannya pada Sanji terus mengelak untuk melakukan hal yang di luar batas bersama Zoro. Ia sengaja mencari-cari alasan agar Zoro tidak memaksanya bercinta. Palingan hal termesra yang mereka lakukan akhir-akhir ini hanyalah passionate kiss. Itupun dilakukan Nami tidak sepenuh hati. Disaat ia bersama Zoro, pikirannya malah terus mengarah kepada Sanji.

Disamping itu, Robin yang sudah terlanjur membenci Zoro tidak terlalu mempedulikannya lagi dan hanya focus mencari Sanji. Namun, tanpa disadari Robin. Sanji selalu mengawasinya dari jejauhan. Mengetahui Robin tidak punya Bodyguard lagi, Sanji sedikit khawatir dan ingin menjaganya terus. Walaupun itu dilakukannya hanya dari jejauhan.

Saat Nami bersama Zoro. Sanji akan pergi ke luar untuk memastikan keadaan Robin. Ia tahu kalau Robin terus mencarinya selama 2 bulan ini. Tapi ia lebih memilih untuk terus bersembunyi karena tidak ingin menghianati janjinya dengan Zoro. Janji bahwa ia tidak akan menemui Robin selama ia menjadi Bodyguard Nami.

.

.

Siang itu, tampaklah Robin, Vivi & Luffy mencari Sanji di kota Hongdae. Kota yang terletak di pinggiran sungai Han. Sungai yang terkenal sebagai tempat rekreasi keluarga atau anak muda. Beberapa jam telah berlalu. Cuaca yang terik membuat ke-3nya kecapeian. Tapi hal ini tidak membuat Robin menyerah begitu saja. Di saat Luffy & Vivi memilih beristirahat di pinggir sungai, Robin terus mencari Sanji. Dan kebetulan, saat itu Sanji juga sedang mengawasi Robin dari jejauhan. Karena saat ini ia sedang Free. Nami sedang pergi dengan Zoro. Jadi ia bebas melakukan apapun.

"Pak, apa anda pernah melihat pria ini?" Robin melihatkan foto Sanji yang dibawanya ke seorang pria yang sedang duduk di pinggir sungai. Sang pria hanya menggeleng dan kembali menikmati pemandangan didepannya. Robin menghela nafas. Ia sangat letih dan kecapeian, tapi entah kenapa ia tidak ingin berhenti. Ia ingin sekali bertemu dengan Sanji lagi.

Sanji yang mengawasi Robin dari jejauhan hanya bisa menelan ludah.

"Maaf nyonya, tapi aku tidak bisa menemuimu lagi. Aku tidak mau perasaanku padamu semakin besar lagi. Biarlah aku hanya menatapmu dari jauh saja." Batin Sanji sedih.

.

.

"HUAH! CAPEK~" Keluh Luffy sembari menghempaskan tubuhnya ke rerumputan. Vivi hanya mendesah dan duduk di sebelah Luffy.

"Sanji kemana sih? Udah 2 bulan kita terus mencarinya, tapi ia tidak kunjung ketemu." Timbrung Vivi mengelap keringat di dahinya.

"Akh~ aku kan juga nggak tau! Tapi Robin-sensei mana? Panas nih." Gerutu Luffy berguling-guling di rumput.

"Sensei masih nyari Sanji. Dari tadi ku ajak istirahat dia nggak mau. Mana akhir-akhir ini sensei nggak mau makan lagi. Pasti ia capek sekali." Vivi menundukkan kepalanya sedih.

Sedangkan Luffy terus meracau. Ia hendak tidur. Tapi ia tidak bisa tidur tanpa batal. Sampai saat itu, ia melihat sepasang kekasih yang sedang duduk di seberang mereka. Ia mendapatkan sebuah ide bagus.

"Vivi, Lihat! Pria itu meletakkan kepalanya di paha wanita itu. Ia pasti tidak bisa tidur pake bantal juga, sama sepertiku. Wah, pasti asyik tuh."

"Lu..Luffy. Apa maksudmu?" Vivi gelagapan berharap Luffy tidak akan meminta yang neko-neko.

"Sepertinya nyenyak juga tidur di paha orang. Aku juga mau. Ayo Vivi, ijinkan aku tidur di pahamu." Luffy menarik kaki Vivi agar bisa menjadi bantalan. Tapi Vivi yang malu melawan dan mendorong Luffy.

"LUFFY BAKA! AKU TIDAK MAU!"

"Ah Vivi. Memangnya kenapa sih? Nggak apa kan?"

"POKOKNYA AKU NGGAK MAU!" bentak Vivi dengan wajah memerah

Luffy menggertakkan giginya. Tidak terima keinginannya tidak dituruti, ia memaksa Vivi meluruskan kakinya. Tapi Vivi terus menolak. Dan sejadilan mereka saling tarik menarik dan dorong mendorong satu sama lain. Sampai saat itu, Luffy yang sudah on fire menarik Vivi sekuat tenaga, membuat tubuhnya sendiri terhempas ke tanah dan membawa Vivi bersamanya. Sampai akhirnya, posisi mereka.

DOOOOOONGGG

Vivi menindih tubuh Luffy. Mereka terdiam satu sama lain. Vivi dengan wajah memerah membelalakkan matanya focus menatap mata Luffy yang intens. Sedangkan Luffy yang polos malah berdecak kesal.

"Vivi, Kau curang." Kata Luffy menatap Vivi serius.

Vivi makin membelalakkan matanya.

"A..apa?"

"Kau curang. Kan aku yang membutuhkan bantal. Tapi kenapa malah kau yang menjadikanku bantal?"

"Bo…BODOH!" Teriak Vivi langsung menampar Luffy dan berlari meninggalkannya.

"Aduuuh~" Rengek Luffy mengusap pipinya yang bengkak

Di lain sisi, Vivi terus berlari meninggalkan Luffy sambil menutupi wajahnya yang sangat merah seperti kepiting rebus. Jantungnya berdetak sangat kencang. Dan wajah Luffy terus terngiang di benaknya.

"Dasar Luffy tidak peka!" Batin Vivi malu

TAP

Tiba-tiba Vivi menghentikan langkahnya. Ia membelalakkan matanya saat melihat seorang yang sedang ia cari-cari sedang berdiri di belakang pohon mengamati Robin yang sedang berdiri di depannya..

"SANJI-KUN!" Teriak Vivi yang spontan membuat Sanji menoleh ke sumber suara. Robin yang sedang berdiri di dekatnya juga menoleh pada Vivi. Tapi alangkah terkejutnya ia saat melihat Sanji yang sedang berdiri di belakang pohon tempat ia berdiri saat ini.

"Sanji?" Robin menutup mulutnya shock

"Nyo..nyonya."

.

.

"Sanji, kenapa kau pergi tanpa pamit padaku?" Tanya Robin dingin

"Maaf nyonya. Tapi aku sudah pamit pada tuan Zoro."

"Tapi kenapa tidak pamit padaku juga?"

Sanji terdiam menekurkan kepalanya. Robin hanya menghela nafas agar lebih tenang.

"Baiklah, kalau begitu jelaskan padaku alasan kau mengundurkan diri."

"Aku ingin vakum, nyonya."

"Tapi kau tahu kalau kontrak kerja kita belum berakhir,bukan?"

"Aku dan tuan Zoro sudah bersama-sama menyepakatinya."

"Huah~ Lalu apa yang kau lakukan disini?"

Sanji kembali terdiam. Ia berpikir apa alasan yang harus ia berikan kepada Robin. Tapi itu tidak berlangsung lama saat handphone Sanji tiba-tiba berbunyi. Sanji mengeluarkan handphonenya dari saku. Menyadari yang sedang menelpon saat itu adalah Nami, Sanji ragu-ragu mengangkat telepon itu. Robin yang melihat sikap aneh Sanji langsung menyambar HP itu.

"Nyonya." Sanji hendak merebut HPnya kembali. Tapi Robin menghindar dan mengangkat telpon itu.

"Sanji. Jemput aku sekarang juga ke perusahaan Zoro. Aku ingin pergi shopping dengannya. Yang cepat. Tut tut tut."

Nami memutuskan telepon tergesa. Robin yang baru saja mendengar ucapan wanita di seberang membelalakkan matanya dan menatap Sanji shock.

"Apa maksud semua ini?" Desis Robin

Sanji hanya menekur merasa bersalah.

"Maafkan aku nyonya. Sebenarnya,… aku diperintah tuan Zoro untuk menjaga Nami."

TEEKK

Tanpa sadar Robin menjatuhkan HP Sanji ke tanah. Sanji hanya diam dan cemas. Robin mengepal erat tangannya. Dan tanpa blablabla iapun langsung berlari meninggalkan Sanji.

"NYONYA!" Teriak Sanji mengejar Robin.

Luffy & Vivi yang berdiri agak jauh dari sana ikut mengejar Robin.

.

.

Robin memerintahkan supir taksi menghentikan taxynya di depan perusahaan Zoro. Setelah membayar ongkos, ia langsung berlari ke dalam perusahaan. Para karyawan yang melihat kedatangan Robin berdesas-desus sana-sini. Terlebih lagi saat melihat Sanji yang terlihat terburu-buru masuk ke perusahaan. Diikuti Vivi & Luffy.

Setelah sampai di lantai teratas, Robin segera melangkah ke ruangan Direktur. Sang sekretaris sedikit kaget dan hendak melarang Robin, tapi Robin mendorong sekretaris itu dan menerobos masuk.

BRAKK

Robin membanting pintu, Zoro & Nami yang sedang berciuman di kursi direktur terbelalak dan segera melepaskann ciuman mereka.

"Robin. Apa yang kau lakukan?" Zoro sedikit mengeraskan suaranya.

"Tsk. Jadi dia, wanita yang sudah membuat kau terpikat dan tega menjauhkanku dari Sanji?" Robin mengerling Nami tajam.

Nami hanya tersenyum sinis dan melipat ke-2 tangannya ke perut.

"Hei. Kau sadar dong. Kau itu mandul. Kau lemah. Kau tidak bisa membahagiakan Zoro. Jadi jangan sekali-kali kau menatapku dengan pandangan kotor seperti itu, ya! Aku lebih sempurna darimu. Kau tidak ada apa-apanya dariku. Kau pecundang!" Teriak Nami merendahkan Robin.

"Tsk. Jadi kau bangga sudah berhasil merebut suami orang. Sungguh wanita yang malang. Tidak kusangka, suamiku bisa menyukai wanita jalang sepertimu."

"APA KAU BILANG? DASAR MANDUL!" Teriak Nami menghampiri Robin dan langsung menjambak rambutnya. Robin sedikit berteriak dan balas menjambak rambut Nami. Zoro yang melihatnya sedikit panic dan berusaha menghentikan pertengkaran itu. Tapi tanpa sadar ia menarik Robin kasar sehingga membuat tubuh wanita itu terbanting ke lantai cukup keras.

BRUKK

Robin pingsan dengan kepala berdarah. Nami & Zoro yang melihatnya shock dan ternganga. Begitupun para karyawan yang menyaksikannya dari pintu.

"Robin…" Desis Zoro khawatir.

"NYONYA!" Tapi tiba-tiba Sanji datang dan menghampiri tubuh Robin yang tergeletak di lantai. Melihat darah yang membasahi rambut bagian belakang Robin, Sanji membelalakkan matanya dan berbalik menatap Zoro.

"Kau!"

BUGH

Sanji bangkit dan melesatkan sebuah tendangan ke perut pria berambut hijau itu. Yang membuatnya langsung terbanting ke dinding.

BRUUK

"ZORO!" Nami langsung menghampiri Zoro.

"Sanji. Beraninya kau." Zoro mengelap darah di bibirnya sambil menatap Sanji tajam.

"Maafkan aku tuan. Tapi kau sudah keterlaluan." Sanji menundukkan kepalanya dan mengangkat tubuh Robin meninggalkan ruangan. Para karyawan yang melihatnya hanya diam khawatir.

"SANJI!" Teriak Nami hendak mengejar Sanji. Takut alih-alih pria yang ia cintai sepenuh hati itu pergi meninggalkannya. Tapi Zoro menahan tangannya.

"Biarkan dia pergi, Nami." Sergah Zoro

"Tapi…" Nami ragu dan hendak menangis.

Di lain sisi, Luffy & Vivi yang melihat Sanji menggendong tubuh Robin ke luar perusahaan langsung menghampirinya.

"SENSEI!" Teriak Luffy dan Vivi khawatir

"Kita harus membawanya ke rumah sakit segera!" Sergah Sanji tergesa-gesa dan langsung memasukkan tubuh Robin ke dalam mobil. Luffy dan Vivi ikut masuk ke mobil.

BLAM

Sanji menutup pintu mobil.

"Nyonya, tidak akan kubiarkan kau tersakiti lagi." Batin Sanji bersumpah

TBC

Okeee, akhirnya chapter 4nya kelar juga. Yohoooo

Ceritanya makin OOC dan Gaje, tapi harap maklum dengan otak pas-pasan author amatiran ini ^^v

Semoga bisa tetap dimengerti ama kata-katanya yang ancur dan baku ini ya,minna-saaaan~. Dan jangan lupa kritik & saran a.k.a REVIEWnya. Yohoohho

Sesi balas review,

#Suzu-chan iiiii si suzu bawa-bawa ivan mulu. Ngeri daaaaaah

Wokeeee chapter 4 dataaaang

#Nadine hola nadine~ chapter 4 nya udh nyahuuuuut~ yohoooo

#Lolu Aithera wokeeee tak apa lah tentang review itu~ tenang saja, ane kan author yg baik hati ramah tamah rajin menabung dan rajin mengibul. Btw, ternyata kejantanan ane sempat diraguin juga yal? Aduh2, tp gpp dh, namanya jg baru kenal. *Sok kenal* yohohoho

Makasih udh mampir yak, syukur deh kamu suka pairingnya Lolu-chan? Tongkrongin terus ya~ *Ngarep*

#Moist-fla hei fla-san, kamu nggak usah sok rendah diri gitu deh. Reviewmu itu juga penting bgt kok. Kan mottomu sekarang ku pake. Jadi kalau mau review apa aja, silahkan, ane terima semuanyaaaaaaaa. ZEHAAAAA

Lagian ane bilang suka kritikan, bukan berarti ane nggak suka pujian lhoow. Yohooo. *Ngarep dipuji juga*

#Su-chan su-chaaan, gak apa kq. lagian aku udh seneng kamu bsa kmbli lagi. hehe

LuVinya aku buat krna emg krna inget req kmu wktu itu low. smuga gak ngecewain ya ^^v