.
Curcol: Pertama, tengkyu ya udah nge-tag sekarang karena mulai minggu depan tugasku bakal numpuk banyak banget dan ga bakal sempet ke net T_T... takutnya malah mundur terus jadinya kubikin cepet aja sekarang XD
Kedua, agak OOC boleh ya… *you don't say*
Ketiga, masa pada ga tau gw ga suka puppyshipping?
(si Kuo guling2 nangis darah di belakang karena seluruh cerita di sini bakal kuganti total) MWAHAHAHAHAHAHAHAHA!
Check it out! =p
Go Figure It Out!
Yu Gi Oh © Takahashi Kazuki
.
Chapter 4: Another Trouble
By: St. Chimaira—Kari (id: 1658345)
.
.
.
Mata jounouchi hanya bisa terbelalak lebar dan melongo tidak bisa berkata apa-apa. Punggungnya bersandar pada dinginnya dinding keramik toilet yang ada di belakangnya, sementara di depannya seorang CEO muda yang sedang mencari pendamping hidupnya berdiri tegak memblokir jalan.
'Mati aku...' pikir Jounouchi.
Kaiba hanya tersenyum sinis dan menatap anjing lugu di depannya dengan wajah sombong. Beberapa lama mereka diam seribu bahasa. Jounouchi merasa ia tidak menemukan kata-kata yang pas untuk melawan manusia sombong di depannya.
"Ja.. jangan bercanda!" akhirnya ia berteriak. Mukanya merah menahan malu dan amarah. Untung saja tidak ada orang lain di sampingnya, apalagi teman-temannya. Lebih baik ia mati ditabrak kereta daripada harus terlihat dengan wajah seperti itu.
"Kalo mau kawin itu, harus lamaran dulu! Terus sungkeman sama orang tua, minta restu kepada sesepuh-sesepuh di kampung. Ini malah main kawin aja tanpa tau orangnya siapa. Mana mau orang main tebak-tebakan, asal kawin sembarangan!" cerocosnya panjang. Ia mendorong keras bahu Kaiba dan menyingkir mencari jalan keluar dari toilet. Kaiba hanya tersenyum sinis dan dengan cepat menangkap pergelangan tangan Jounouchi dan menariknya ke belakang
"Auch" pekiknya. Tangannya tidak bisa digerakkan dan ia hanya bisa menahan napas menahan sakit. Kaiba menahan tubuh Jounouchi ke arah dinding dari belakang, sehingga sekarang mukanya harus kembali merasakan dinginnya dinding toilet.
Kaiba mendekatkan bibirnya kembali pada telinga Jounouchi dan berbisik halus sehingga bulu kuduk korbannya merinding geli.
"Berusahalah sampai kau lelah, mutt. Kamu ga akan pernah menang dariku" suaranya yang rendah terdengar merdu tapi serasa menjadi tekanan batin bagi Jounouchi.
Yang pirang terdiam sejenak, mengatur napasnya dan berbalik menengadah menatap sang CEO, sehingga hampir tidak ada jarak di antara mereka.
"Kamu tidak punya bukti, Kaiba," kata-katanya membuat senyum pupus dari wajah pemilik Kaiba Corporation tersebut, sebelum Jounouchi meneruskan kalimatnya, "Satu-satunya bukti yaitu pin itu sudah kuceburin ke kloset, sekarang sedang bahagia mengapung bersama teman-temannya yang lain. Sama tidak berharganya dengan dirimu saat ini, jadi, kamu tidak bisa memaksaku untuk mengakui bahwa aku calonmu, mengerti?"
Merasa bahwa cengkramannya melonggar, Jounouchi dengan sigap langsung melepaskan tangannya dan mundur menjauhi sang CEO, mengurungi niatnya untuk ke toilet dan mencari kembali pinnya yang ia jatuhkan di kloset.
"Kau pikir aku serius, mutt?" katanya datar. Langkah Jounouchi tertahan sejenak, tapi ia menolak untuk menatap wajah lelaki di belakangnya. "Aku hanya senang memainkan mainanku sebelum nantinya kubuang bersama barang rongsokan yang lain". Wajahnya sama sekali tidak menyiratkan tanda bingung walaupun kini ia telah kehilangan bukti yang menandakan Jounouchi adalah calon yang akan menikah dengannya.
Jounouchi hanya diam dan kembali melangkahkan kakinya untuk menemui teman-temannya, dimana ia dapat merasa aman dan bisa lepas dari mimpi buruk ini. Ia harap semua ini cepat berakhir. Terutama pesta brengsek ini.
Hari sudah semakin malam, para hadirin masih saja bertanya-tanya tentang siapa calon pendamping seorang Kaiba, apalagi laki-laki. Hampir semua wanita berdoa memohon sambil melemparkan pin yang mereka dapatkan, berharap mereka yang menjadi calon pendamping Kaiba walaupun tahu itu tidak mungkin, dan mereka hanya bisa menangis lesu begitu melihat bongkahan asap yang keluar dari pin tersebut.
Di antara kerumunan itu, kelompok Yugi hanya diam mengamati sekeliling dengan perasaan tegang, mencari wajah-wajah terkejut yang mungkin akan mereka dapatkan dari antara banyak orang tersebut.
"Jounouchi lama ya..." kata Yugi dengan perasaan bertanya-tanya.
"Mungkin dia ke toilet, ngobok-ngobok isi kloset nyari pin sampai ketiduran" seru Honda asal, "Jangan-jangan dia emang ngincer buat jadi calonnya si Kaiba"
"Gila! Ga mungkin dia bakal ngelakuin itu" potong Anzu yang kesal dengan spekulasi Honda.
"Mungkin aja kali. Kamu kaya ga tau sifat dia aja" timpalnya
"Tapi ga mungkin kalo dia sampai rela ngobok-ngobok isi kloset cuma buat nyari sebuah pin!" bela Anzu sambil marah-marah.
"Wajar donk, dalemnya berlian mahal, gitu? Kalo kamu juga pasti bakal mau dapet barang mahal seperti itu"
"Itu kan—"
Sementara Honda dan Anzu berdebat, Atem hanya terdiam tenang dan menatap sekeliling ruangan, membuat dirinya yang satu lagi melupakan sahabatnya dan berpaling pada sang pharaoh di sampingnya.
"Kau benar-benar tidak tau siapa orang itu, Atem?" tanyanya kepo.
"Entah ya" jawab yang ditanya tenang sambil tersenyum. Berlagak masa bodoh.
"Bohong. Dari tadi kau tidak berusaha mencari dan hanya diam saja sambil senyum-senyum." potong Honda meninggalkan debatannya dengan Anzu.
"Iyakah?" tanya Atem sambil masih senyum-senyum.
'Kalo Jou yang mesem-mesem gaje gitu gua ngerti... tapi kalo Atem yang senyum-senyum ko malah jadi kaya orang goblok…' pikir Honda
"Heee... kamu tau orangnya, Atem?" tanya Ryo yang berada di sebelah Honda dengan santai.
"Beneran, nih, Tem... mukamu menyiratkan bahwa kamu tau jawabannya. Masa sih, kamu ga mau ngasih tau kita jawabannya. Julukanmu King of Game loh," bisik Yugi.
"Aku udah dilarang sama Mokuba buat ikutan game ini. Mau apa lagi, daripada ga rame." bisiknya membalas pertanyaan Yugi, "Sebagai uang tutup mulut, justru tadinya aku mau dikasih tiket ke Hawaii. Kalo tadi Jounouchi ga teriak buat minta hadiahnya ke Hawaii aku pasti udah bisa liburan jalan-jalan sendirian." Imbuhnya tanpa rasa bersalah.
Yugi hanya bisa melongo tidak percaya.
"Kamu mau liburan sendirian? Aku ga diajak..?" tanyanya sedih dengan mata berkaca-kaca.
"Aduh... salah ngomong" Atem menutup mulutnya dan berpaling—menghindari tatapan Yugi pada dirinya, sementara ia melihat Jounouchi berlari dari kejauhan menuju tempat mereka berdiri saat ini. Yugi pun melihat sahabatnya datang dan kembali tersenyum, melupakan percakapannya dengan Atem. Atem hanya bisa bernapas lega tidak harus membeberkan rahasia itu lebih lanjut pada partnernya.
"Dari mana aja, Jou?" tanya Honda, "Si Yugi udah sibuk nyari kamu dari tadi. Katanya ke WC?"
"Mana sudi aku ke WC dia!" bantahnya
"Ngaku aja, kamu ngodok-ngodok isi kloset buat nyari pin ya?" tanyanya sambil merangkul akrab Jounouchi.
"Justru karena aku ga mau ke WC biar ga dituduh nyari pin laknat itu, makanya aku pipis di balik pohon di belakang taman." katanya dengan suara pelan, "Daunnya sampai layu loh" lanjutnya. Ia tidak mau insiden di WC itu ketahuan oleh teman-temannya.
"Jorok!" kata Ryo dan Yugi kompak. Mereka pun tertawa terbahak-bahak dalam lautan manusia yang tidak terhitung banyaknya.
Namun Jounouchi belum bisa tertawa lega. Saat ini, pasti Kaiba sedang mencari cara untuk menemukan bukti itu. Entah yang dikatakannya benar atau bohong, yang pasti ia tidak bisa mempercayai kata-kata CEO muda yang berulang tahun hari itu. Sampai bukti itu ditemukan, ia tidak akan mundur.
'Makin tambah umur lidahnya makin tajam saja…' Jounouchi mencibir sambil melihat sekeliling ruangan, berharap ada yang menemukan cincin berlian berwarna hitam yang terdapat pada pin hadirin yang ada di ruangan itu.
Banyak yang belum berani membuka dan mengintip isi pin itu. Para wanita ada yang memilih berdoa dulu atau pasang sesajen supaya terpilih, ada juga yang berusaha mengutuk calonnya yang terpilih nanti. Bapak-bapak pemilik perusahaan malah sibuk di pojok dan pasang taruhan tinggi untuk permainan ini. Makin malam permainan ini makin ga beres.
Sosok tinggi seorang Kaiba kini muncul kembali menuju podium. Senyum sinisnya masih menghiasi wajahnya. Pemandangan yang tidak menyenangkan. Diiringi dengan Kaiba junior di sebelahnya yang dengan lincah mengambil mikrophone empat belas karatnya dan menempelkannya ke bibirnya.
"Hadirin sekalian, tampaknya beberapa dari kalian ada yang belum membuka pin tersebut. Kami tidak bisa memberi petunjuk selanjutnya jika kalian semua belum membuka pin itu" seru Mokuba nyaring.
Haruskah kami semua membuka pin ini?—Itu isi pikiran para duelist pemuda yang hadir di sekeliling ruangan. Mereka bingung memikirkan jika terpilih, antara bangga karena menjadi pasangan seorang "Seto Kaiba", ataukah aib gara-gara disangka homo. Namun akhirnya semua mencoba meledakkan pin itu. Para wanita sudah ada yang terjun bunuh diri karena mendapatkan asap dari pin kepunyaan mereka, tinggal menunggu yang pria juga bunuh diri karena ada yang mendapatkan berlian dari dalam pinnya.
Yugi dan kelompoknya menyusuri wajah-wajah duelist pemuda yang mereka kenal, mulai dari Haga, Ryuuzaki, Malik, sampai Pegasus.
Pegasus? Mungkin saja...
Sang tuan tumah ga bilang bahwa pendampingngya orang dengan umur setara dengannya. Bisa jadi Kaiba pecinta om-om.
Dari derasnya suara riuh rendah kerumunan orang banyak, tiba-tiba ada satu suara yang berteriak nyaring. Jounouchi merasa lega dan berbunga-bunga mendengar suara itu. Berarti bukan dia calon pendamping Kaiba. Bukti pin yang nyemplung ke klosetnya pun menjadi suatu barang yang tidak ada artinya lagi. Dengan bangga ia menoleh kepada pemilik suara itu dan terhenti kaget begitu melihat orangnya.
Bandit Keith.
Kebayang semua mata tertuju padanya dengan tatapan tidak percaya, termasuk kelompok Yugi dan kawan-kawan. Kaiba pun hanya terbelalak kaget mendengar bandit kebanggaan Amerika itu berteriak. Selang mereka memandang si Keith, semua langsung beralih menatap Kaiba kembali dengan tatapan tidak percaya. Kaiba hanya diam dan keringat dingin menerima tatapan tajam dari para hadirin.
"Nii-sama... ini pasti salah kan?" desak Mokuba panik, "Aku ga mau dapet kakak ipar kaya gitu" matanya sekarang melotot pada kakak tersayangnya.
"Jelas enggak lah!" bulu kuduk Kaiba merinding, "Coba cek lagi! Jangan-jangan dia teriak gara-gara keinjek atau kegigit kucing, bukan dapet berlian! Kalian semua juga belum liat dia teriak karena apa kan?" katanya ikut panik. Ia sampai berjinjit di podium untuk melihat dengan lebih jelas sosok orang Amerika itu.
Ternyata Bandit Keith menemukan kertas kecil di dalam pin, bukannya berlian hitam. Semua hadirin bernapas lega melihatnya. Tapi hal ini terasa aneh, karena harusnya asap yang keluar, bukannya kertas.
"Apa itu doorprize?" tanya Jounouchi
"Doorprize jadi selir Kaiba juga ga jelek-jelek amat" lanjut Honda.
"Hei, Kaiba! Kamu mau mempermainkanku ya!" teriak Bandit Keith menahan malu dan marah. Anak buahnya mengambil kertas dari bosnya dan membacakan isi dari kertas kecil tersebut.
"Berliannya kuambil, thanks. Raja perampok Bakura" teriaknya dengan suara nyaring.
Kini kelompok Yugi memandang Ryo dengan tidak percaya. Pantas saja dirinya satu lagi itu yang biasanya berdiri di samping Ryo menghilang entah kemana, tidak terlihat sehabis acara makan malam.
"Jou, kau lihat dia dari tadi?" tanya Yugi
"Terakhir aku lomba makan dengannya di meja pojok, tapi aku kalah karena sudah kenyang duluan. Terus aku ke WC karena ga tahan dan akhirnya pinku nyemplung ke dalam kloset." katanya dengan bingung.
"Ryo.. apa dia bilang sesuatu padamu?" tanya Anzu pelan
"Tidak.. dia menghilang begitu saja" katanya lagi. Ia merasa bingung dan tidak tahu harus berbuat apa karena sekarang semua tatapan menuju pada dirinya.
"Hei, Kaiba" teriak Jounouchi pada Kaiba yang masih berdiri mematung di atas podium. "Tidak apakah berlian berhargamu dicuri begitu saja?" tanyanya sambil tersenyum sinis.
"Aku masih punya banyak. Berlian satu biji saja tidak ada artinya bagiku." katanya santai. Namun dalam hatinya dia tambah bingung. Semua ini tidak seperti yang ia rencanakan. Sebuah permainan berubah menjadi aib bagi seorang Kaiba. Besok pasti salah paham ini akan menghiasi halaman utama semua koran pagi.
"Tapi pin yang ini begitu berbeda dari yang lain. Semua mengeluarkan asap, yang ini isinya malah kertas. Berarti berlian itu ada di dalam pin yang sekarang dipegang Bandit Keith, kan?" tanya Honda juga dengan senyum sinis.
"Jawab atau kau kubunuh sekarang juga, Kaiba!" teriak Bandit Keith lagi. Kini anak buahnya sudah siap membela bosnya kalau-kalau terjadi perkelahian berdarah di dalam ruangan itu, sementara bapak-bapak di pojok makin seru menaikkan taruhannya untuk bertaruh siapa yang yang akan memenangkan pertarungan ini.
Kaiba hanya diam. Bingung mesti bicara apa, di sisi lain hadirin yang tersisa kembali ribut—bergosip tentang apa yang selanjutnya akan terjadi. Atem juga hanya terbelalak kaget seraya memandang Kaiba, meminta jawaban. Semua perhitungan yang telah dbuatnya hancur berantakan, sama saja dengan perhitungan yang telah dibuat oleh Kaiba secara matang. Sekilas manik mereka beradu, tapi Kaiba tidak dapat menangkap maksud dari tatapan rival kentalnya itu. Justru Kaiba balas menatap Atem untuk meminta bantuan.
"Ah..." pekik Ryo tiba-tiba.
Semua kembali diam, berharap apa yang dikatakan sang bocah berambut keunguan adalah hal yang menyenangkan.
"Sori... sebenarnya, sebelum acara dimulai—" kata-katanya terhenti.
Yugi dan yang lainnya serta Kaiba masih diam menunggu kelanjutan dari kalimat Ryo.
"Aku menjatuhkan kotak pin itu." lanjutnya mengaku dosa, "Jadi supaya ga ketahuan aku buru-buru membereskannya. Aku tidak tahu kalau ternyata isi kotak itu sudah ditata sesuai dengan urutan."
Kini semua kembali dari awal. Bukti yang kini hangus di kloset menjadi sebuah cerita lama gara-gara kelakuan satu orang. Permainan pin ini menjadi tidak berguna dan tidak berarti lagi. Jounouchi takut. Berarti mungkin saja dialah calon pendamping Kaiba, atau Atem, atau Yugi, atau bahkan mungkin Pegasus.. Bandith Keith juga punya kesempatan lagi untuk menjadi calon Kaiba. Permainan ini semakin mengerikan.
"Berarti Bakura hebat juga ya, dia bisa membedakan pin yang berisi berlian dari ratusan pin yang berisi asap. Benar-benar perampok yang lihai" puji Honda kagum.
"Berarti... Bakura tau jawabannya kan?" tanya Jounouchi hati-hati
"Tau jawaban apa?" tanya Honda lagi dengan tatapan tidak mengerti.
"Pasangan Kaiba!" timpal Yugi. Semua menoleh menatap pemuda mungil yang berdiri di tengah-tengah mereka, "Ia pasti tau jawabannya karena tau kebenaran pin itu milik siapa." lanjutnya.
Kaiba menahan amarahnya. Ia dikalahkan dengan seorang perampok dengan cara yang tidak halal, namun memang tidak bisa dipungkiri bahwa perampok dari Mesir itu mengetahui calon pendampingnya. Buktinya dia bisa mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Kepintarannya patut diacungi jempol.
"Berarti kita tinggal cari dia saja kan, lalu tanya jawabannya?" tanya Jounouchi penasaran.
"Tapi masih ada petunjuk dari Kaiba. Lagipula itu akan lebih mudah daripada mencari Bakura." logis Yugi
"Lagipula waktunya kurang dari dua jam. Belum tentu kita bisa menemukan dia dalam waktu sesingkat itu. Bisa-bisa kamu ga jadi pergi ke Hawaii loh, Jou." Anzu memanas-manasi.
"Tapi akan lebih cepat untuk mendapatkan jawaban langsung dari mulutnya dibandingkan dengan menunggu si kantong uang itu nyerocos mempermainkan kita!" tantang Jou lagi.
"Dari pertama kita juga udah terjebak dalam permainan ini," pasrah Honda.
Atem tidak ikut dalam perdebatan itu. Disatu sisi ia disuruh tutup mulut oleh Mokuba, di sisi lain ia berada di dalam kelompok orang-orang penasaran. Permainan yang semakin menarik. Ia hanya bisa tersenyum simpul menatap Kaiba di podium, menandakan bahwa permainan ini belum berakhir dan pasti masih banyak jalan untuk keluar dari permainan ini.
Senyum sang pharaoh sedikit banyak memberi ketenangan dan harapan pada Kaiba untuk melanjutkan permainan ini. Tentu saja, ini hanya game, dan Kaiba tokoh utamanya, Kaiba penggeraknya, dan Kaibalah yang akan menyelesaikan semuanya. Kekeliruan ini hanya sandungan kecil, tidak akan mengubah keseluruhan cerita yang telah ia rancang.
Sang CEO mendekati sang adik dan membisikkan sesuatu kepadanya. Mokuba mengangguk kecil dan kembali berdehem di depan mikrophon.
"Engg... saudara-saudara.. mohon maaf atas kesalahan teknis tadi. Tapi tenang saja, waktu dua jam belum habis, kita masih bisa meneruskan permainan ini" katanya dengan riang, berusaha mengajak para hadirin sekalian untuk kembali mengikuti permainan.
"Kalau kita tidak cepat kita ga bakal dapet tiket ke Hawaii nih! Mau pergi atau tidak?" desak Jounouchi lagi untuk yang kesekian kali kepada teman-temannya.
"Kelihatannya sih petunjuk ketiganya masih lama. Si Kaiba itu bahkan belum pegang mikrofonnya..." kata Honda sambil melihat Kaiba yang berdiri tenang di atas podium.
Kini mereka bingung, sementara waktu sudah semakin sempit. Mana yang akan mereka pilih, mengejar Bakura atau menunggu petunjuk dari Kaiba. Permainan ini semakin menegangkan, sementara Atem duduk dengan tenang dan meneguk teh herbalnya—tersenyum kepada sang CEO yang juga membalas senyum sang Pharaoh dengan tidak mau kalah.
To Be Continued…
.
.
.
A/N:
Puah! Akhirnya selesai selama 4 jam di tengah2 pekerjaan tugas yang terus berkepanjangan.. _(:3_
Sori kalo ada salah-salah kata... moga-moga berkenan (males ah, main shipping2an. Permainan masih panjang, kenapa kita tidak menikmati permainan ini? XDDDDD)
I tag : Messiah Hikari (aka VDE)
Waktu seminggu dari...SEKARANG!
Remaining author(s) and authoress(es):
Aki kadaoga / Sora Tsubameki / Are. Key. Take. Tour / Saint-Chimaira (Kuo) / Nfra / Ryudou Ai / Seithr-Kairy / The Fallen Kuriboh
