Handphone Daehyun berdering disaat ia mendak menutup matanya.
"Siapa sih yang menelpon tengah malam seperti ini?" Pikir Daehyun.
Ia mengambil handphone-nya dan melihat nama Junhong tertera di layarnya. Dengan malas, Daehyun mengggeser pad hijau di layar handphone-nya.
"Hallo? Ada apa Junhong? Kau tidak tau ini jam berapa?"
"Hyung, ini masalah Youngjae hyung. Aku baru saja teringat sesuatu tentangnya."
Mendengar nama Youngjae disebut, Daehyun menegakkan badannya dan mendengarkan Junhong.
"Apa itu?" Tanya Daehyun.
"Begini, eomma Youngjae hyung telah meninggal disaat ia berumur tiga tahun, aku mengetahuinya dari eomma-ku. Sekarang, Youngjae hyung dan Hyosung noona tinggal bersama ayah mereka. Kau tahu, ayah Youngjae hyung bukanlah ayah yang..." Junhong berhenti sejenak. "Bukanlah ayah yang baik. Dia adalah pria yang keras. Kata eomma, awalnya dia adalah pria yang baik, tetapi ia berubah setelah eomma Youngjae hyung meninggal. Hyung? Kau masih disana?" Tanya Junhong memastikan.
"Yeah, lalu?"
"Ayah Youngjae hyung jadi suka mabuk-mabukan dan ringan tangan. Beberapa tetangga telah memberinya saran untuk tidak seperti itu lagi, tetapi ia tidak pernah menggubrisnya. Malah ia akan marah-marah sambil mencaci maki mereka. Karena sifatnya itu pula, ia dipecat dari pekerjaannya. Suatu hari, aku pernah melihat luka di sudur bibir Youngjae hyung, aku tahu itu karena perbuatan ayahnya. Namun ia menutupinya, ia mengatakan bahwa itu karena kecerobohannya." Ungkap Junhong.
Daehyun hanya terdiam, ia tidak bisa berkata apa pun. Ia tidak pernah menyangka kalau kehidupan yang Youngjae miliki jauh berbeda dengan dirinya. Bahkan ia masih bisa menutupinya seakan semuanya baik-baik saja.
"Hyung? Daehyun hyung?" Panggil Junhong memastikan bahwa Daehyun belum tertidur.
"Apa lagi yang kau ketahui tentang Youngjae?"
"Umm, tidak ada lagi. Kau tahu kan? Aku sudah lama berpisah dengannya."
"Baiklah, terima kasih Junhong. Sampai jumpa besok." Daehyun mengakhiri panggilan telponnya dengan Junhong.
Ia membaringkan tubuhnya dan menutup matanya.
"Aku pasti akan melindungimu, Youngjae."
Daehyun beserta Yongguk sedang berjalan melewati koridor belakang sekolah ketika mereka mendengar seruan seseorang. Asing bagi Yongguk, tetapi tidak untuk Daehyun. Daehyun segera mencari sumber suara. Ketik ia berbelok menuju halaman belakang sekolah, dari kejauhan ia dapat melihat Youngjae yang dikelilingi oleh tiga anak laki-laki. Dua orang lainnya memegang kedua tangan Youngjae sedangkan yang satunya memegang pipi Youngjae dan menciumnya paksa. Hal ini membuat Daehyun geram. Daehyun berlari menghampiri mereka dan kemudian menampar anak yang mecium Youngjae. Melihat teman mereka dipukul, kedua anak laki-laki yang lain melepaskan tangan Youngjae dan menyerang Daehyun bersamaan disaat ia lengah. Namun, Yongguk berhasil menangkis serangan mereka.
"Hei, Daehyun. Biar aku yang mengurus mereka. Kau urus kekasihmu saja." Katanya disela perkelahian mereka yang ia anggap sepele karena lawan ia kali ini bukanlah lawan yang berat.
Daehyun yang mengerti segera menghampiri Youngjae yang terduduk diam di tanah. Beberapa tetes air mata jatuh ke pipinya. Daehyun yang tak tahu lagi harus berbuat apa hanya menyeka air mata Youngjae dan memeluknya.
"Sssttt, aku disini, Jae. Jangan menangis lagi. Kau baik-baik saja sekarang."
Youngjae tidak menjawabnya.
Daehyun mengangkat tubuh Youngjae dan menggendongnya.
"Yongguk, apa urusanmu telah selesai?"
"Yeah, mereka sudah pergi. Kau mau mengantar Youngjae pulang?" Kata Yongguk seraya merapikan seragamnya.
"Iya, kau duluan saja ke kelas. Nanti aku akan menyusulmu."
"Baiklah."
Daehyun segera membawa Youngjae ke mobilnnya dan mengantarkannya pulang. Youngjae hanya duduk terdiam dan menangis.
"Youngjae." Daehyun menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan kemudian menatap Youngjae.
Youngjae bergeming, ia tetap diam.
Daehyun menggenggam tangan Youngjae dan menariknya ke dalam pelukan.
"Jae, dengar. Aku akan melindungimu, aku mohon... kau jangan seperti ini. Kau membuatku khawatir. Jae, aku telah memperhatikanmu sejak lama. Aku mencintaimu."
Youngjae menggerakan tangannya, ia mendorong badan Daehyun.
"Kau tidak boleh mencintaiku." Katanya lirih.
"Kenapa?" Tanya Daehyun yang kemudian dengan tidak sengaja ia melihat bercak merah kebiruan di leher Youngjae. Pasti ini perbuatan anak itu, pikirnya.
"Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku selalu diganggu oleh anak laki-laki lain. Itu karena aku menjual tubuhku kepada mereka." Ungkap Youngjae.
"A-apa? Maksudmu?" Tanya Daehyun yang berharap semuanya adalah kebohongan belaka.
"Ya, mereka membayarku jika aku membiarkan mereka menikmati tubuhku. Kau tidak boleh mencintaiku. Aku bahkan tidak pantas dicintai." Youngjae menundukan kepalanya dan menangis dalam diam.
"Jae," Daehyun menggenggam tangan Youngjae. "aku mencintaimu, aku tidak peduli dengan hal itu. Kau berusaha menolak mereka, itu artinya kau tidak menyukainya." Daehyun mengangkat dagu Youngjae dan kemudian menatap mata Youngjae. "Aku benar-benar mencintaimu. Aku akan melindungimu, Jae." Ucapnya seraya mencium kening Youngjae.
Entah mengapa, Youngjae merasakan kehangatan yang tidak ia pernah rasakan disaat ia dicium oleh laki-laki lainnya.
Daehyun memeluk Youngjae, "Jae, aku mencintaimu."
"Mungkin, kali ini aku harus membuka hatiku untuknya. Ya, untuk Daehyun."
Daehyun baru saja akan memakan makan malamnya ketika handphone-nya berdering di samping piring makannya. Ia menatap layar handphone-nya yang menyala.
"Youngjae?" Daehyun menerima panggilan itu. "Hallo?"
"Daehyun? Daehyun! Tolong Youngjae, aku mohon!" Bukan suara Youngjae yang ia dengar, melainkan suara perempuan yang ia duga sebagai noona-nya Youngjae. "Ako mohon! Datanglah kemari, tolong Youngjae!" Suaranya terdengar panik diseberang sana.
Daehyun yang merasa khawatir segera meninggalkan meja makan dan bergegas menuju kamarnya untuk mengambil jaket dan kunci mobil.
-TBC-
Maybe, next chapter is the last chapter for this fanfict ^^ enjoy~
