Sepertinya Ini Adalah Endingnya,,

Happy Ending? Tak Tau Deh, Baca Aja

Ntar Juga Tau, Dan Trimakasih Atas Review Nya

.

.

.

.

.

The Story Of My Life

~Part 4~

Sesampainya di kediaman klan Uchiha, Ibu dan anak itu memutuskan langsung menuju kamar mereka masing-masing untuk memulihkan tubuh mereka dari rasa lelah selama satu harian ini. Sebelum memasuki kamarnya, gadis bersurai hitam itu memandangi wajah ibunya yang sangat tampak kelelahan. Mungkin karena kelelahan mengelilingi desa untuk mencari putri tunggalnya tersebut.

Rasa bersalah yang menyelimuti hati gadis Uchiha itu, membuatnya tetap terjaga dan seperti malam sebelumnya. Ia tak tidur pada waktunya, Sarada masih memeluk erat album foto kenangannya itu dan menatap kea rah jam dinding dikamarnya. Meskipun pandangannya tepat berada pada jam berlambang klan Uchiha itu, namun pemikirannya bukanlah pada jam itu. Melainkan semua hal yang terjadi akhir-akhir ini, bahkan ia sempat berfikir 'Apakah si Pirang itu mengerjaiku?'

Tapi, tak satupun bukti yang dapat ia jadikan untuk menuduh kekasinya tersbut sedang mengerjainya. Memang, Bolt sering iseng kepadanya. Bahkan sebelum berpacaran pun ia juga melakukan hal-hal yang kadang membuatnya jengkel itu. Jikalau ia mengidap penyakit sakit jantung, mungkin Sarada akan sering masuk ke Rumah Sakit karena melihat kejahilan-kejahilan kekasihnya itu.

'Apa yang harus aku lakukan?' gumam Sarada.

.

.

.

.

.

"Kukuruyuk!" suara ayam jantan sudah berkokok di pagi hari.

Ups, salah. Sekarang sudah bukan pagi lagi, malah sudah hampir pukul 12 siang. Karena kemalaman tidur, lagi-lagi gadis bersurai hitam itu kesiangan. Dengan gontai, ia berjalan menyelusuri lorong rumahnya yang tak begitu luas. Ia mencari-cari dimana keberadaan ibunya, biasanya sangat mudah ditemukan sedang menjemur kain. Tapi, di dapur, ruang tamu bahkan halaman depan dan belakangpun tak tampak batang hidung wanita bersurai merah muda itu.

'Kemana ibu? Apa dia menemui Ino Obaa-san lagi?' gumam Sarada dalam hati.


Tap! Tap! Tap! Tap! Tap!

"Oha… Eh…? Konichiwa! Sarada! Apa kau dirumah?" sebuah seruan memanggil nama kecilnya yang bersumber dari seseorang yang sedang berdiri menunggu jawaban gadis itu di depan pintu.

"Hai! Ada apa Inojin? Kenapa kau tampak terburu-buru begitu?" sahut Sarada sembari menghampiri sahabatnya yang tengah mondar-mandir menunggu kehadirannya.

"Ah, sudahlah! Ayo, cepat ganti bajumu! Kita sekarang harus ke rumah sakit" ucap lelaki berambut kuning dan dikucir kebelakang itu samil mendorong punggung Sarada menuju kamarnya.

"Heh? Memang siapa yang sakit?"

"Sudahlah, cepat ganti baju! Atau kau akan kutinggal! Eh, jangan, jangan.. Aku kan kesini karena disuruh menjemputmu"

Sarada tak begitu mengerti apa yang dibicarakan sahabatnya itu, ia hanya mengganti pakaiannya dan mengambil kacamatanya. Lalu, mengikuti sahabatnya itu pergi menuju Rumah Sakit Unit Darurat Konohagakure. Yang dulunya, Sakura Ha.. eh Uchiha Sakura bekerja sebagai tenaga medis.

"Siapa yang sakit, Inojin?" Tanya Sarada mencoba menyamakan langkahnya dengan temannya yang satu itu.

"Bolt! Dia sudah ditemukan di aliran sungai tempat ia hilang dalam misinya. Jadi sekarang ia sedang diurus oleh Sakura Obaa-san, karena ditemukan tak sadarkan diri" jelas Inojin dan memperlambat langkahnya.

Mendengar penjelasan Inojin, awalnya Sarada begitu terpesona. Eh kok? Terpesona sih? Maksudku terperanga dan raut wajahnya berubah seakan tak percaya akhirnya Bolt ditemukan juga. Walaupun tak sadarkan diri, asalkan selamat itu sudah sangat berarti bagi Sarada.

"Kalau begitu, ayo cepat kita kesana! Kenapa kita harus diam berdiri disini!" ajak Inojin dengan semangat.

"Hn!"

Tanpa pikir panjang, kedua remaja itu melesat bagaikan kilat menuju tempat dimana Bolt sedang dirawat. Tak sepatahpun kata yang di ucapkan oleh Sarada, ia hanya fokus berlari agar cepat sampai ke Rumah Sakit Unit Darurat Konohagakure yang merupakan satu-satunya rumah sakit dan terbesar di Konoha. Sesampainya di sana, mereka menghentikan langkahnya di depan wanita yang sedang sibuk mengurus para pasien yang membayar adminitrasi.

"Ah! Sarada-chan, kau kesini mencari ibumu? Atau kekasihmu?" sapa wanita itu dengan senyumannya.

Sarada sukses memutarkan bola matanya ke kanan dan ke kiri, setelah mendengar perkataan ninja medis itu. Sedangkan Inojin hanya tertawa kecil, dengan diikuti sebuah pukulan tepat di perutnya oleh gadis berkacamata yang sedang berada di depannya.

"Shizune-san, jangan menggodaku begitu. Sekarang dimana Ibu dan Bolt sekarang?"

"Hm, di ruang Instalasi Gawat Darurat. Kau hanya perlu berjalan menulusuri lorong ini dan mengikuti arah petunjuk itu" jelas Shizune sembari menunjuk sebuah papan penunjuk arah ruang IGD yang ia maksud.

"Hm, Arigato, Shizune-san" seru Inojin dan mengikuti langkah kaki gadis dengan lambang klan Uchiha di punggung bajunya.

Shizune hanya tersenyum, lalu melanjutkan pekerjaannya. Mungkin karena tak begitu banyak pasien yang memerlukan penanganan serius, jadi gadis yang sudah menganggap Hokage ke 5 itu sebagai kakaknya sendiri. Beralih profesi sebagai pegawai admintrasi Rumah Sakit Unit Darurat Konohagakure itu untuk sementara waktu.

.

.

.

"Ah! Sarada-chan, kau akhirnya datang juga" sapa seorang gadis berkepang menyerupai kepala nanas itu.

"Bagaimana keadaannya?" Tanya Sarada menghampiri gadis berkulit sawo matang itu.

"Masih diurus oleh Sakura Baa-san di dalam ruang itu" sahut gadis itu sembari menunjuk sebuah ruangan yang memiliki dua pintu.

Tek! Tek! Tek! Tek! Tek!

Sudah satu jam lamanya mereka menunggu ninja medis bersurai merah muda itu dari balik pintu yang bertuliskan UGD. Tapi, tak ada satu pun tanda-tanda wanita Ha.. eh Uchiha itu akan keluar dari ruangan yang sangat menyeramkan jika pada malam hari.

Cklek!

Keluarlah seorang wanita dengan berpakaian biru-biru ala tenaga medis yang akan melakukan ataupun selesai menjalankan operasi. Namun, sayangnya wanita itu tak tampak seperti melakukan operasi.

"Kaa-san, bagaimana keadaan Bolt?" Tanya gadis bersurai hitam mengenakan kacamata merah itu dan menghampiri wanita yang dipanggilnya dengan sebutan 'Kaa-san'.

"Ah! Tenanglah sayang. Sekarang dia sudah baik-baik saja, namun karena benturan yang begitu kuat yang diterimanya pada bagian kepala. Membuat Bolt koma untuk sementara waktu" jelas Uchiha Sakura itu. Yeay! Akhirnya berhasil memanggil Sakura dengan nama keluarga Uchiha XD *ditendang

"Boleh aku masuk, Kaa-san?" Tanya Sarada sembari melihat sekilas ke ruangan dimana Bolt dirawat.

Belum sempat menjawab, datanglah dua orang perawat memasuki ruang UGD dan member pertanda yang hanya Nyonya Uchiha itu yang mengerti. Sedangkan Sarada, Chouchou dan Inojin hanya memasang raut wajah bingung.

"Kalian menunggulah di kursi tunggu sana, mereka akan memindahkan Bolt ke ruang nomor 103. Setelah selesai, mereka akan memberitahu kalian, ibu permisi dulu" ucap Sakura sambil mengelus rambut hitam putrinya tersebut, lalu berjalan meninggalkan mereka.

Sambil menunggu, mereka duduk dikursi tunggu yang telah disediakan pihak Rumah Sakit. Namun, tampaknya kegelisahan masih menyelimuti gadis bersurai hitam itu. Sehingga ia tak tenang dan mondar mandir di depan teman-temannya yang tampak memandangi sahabat mereka seperti itu.

"Haa, Sarada-chan! Kau membuatku pusing, kenapa kau mondar-mandir begitu. Duduklah sambil menunggu mereka!" seru Chouchou sambil memegangi kepalanya.

"Sudahlah, Chouchou. Sarada iti gelisah, biarkan saja dia. Tapi, kenapa mereka lama sekali?" sahut Inojin sambil celingak celinguk memandangi pintu ruangan nomor 103.

Sarada tak memperdulikan ocehan sahabat-sahabatnya asik berdebat sendiri. Ia hanya memilih mondar- mandir, dan kadang ia melirik ruang yang akan menjadi tempat kekasihnya itu dirawat.

Tak lama kemudian, keluar dua orang perawat yang bertugas memindahkan Bolt ke ruang rawatnya. Salah seorang dari mereka pergi ke arah yang menjauhi mereka, dan yang satu lagi menghampiri 3 generasi muda itu.

"Sarada-chan, kau boleh masuk. Tapi, kalian tak boleh masuk semua. Dan tolong jangan rebut" pesan perawat itu lalu meninggalkan mereka.

"Ah! Kalau begitu kami pulang saja, kau jagalah Bolt, Sarada-chan. Ayo, Chouchou! Kita pulang saja" kata Inojin sambil mengajak Chouchou.


Chouchou hanya menurut lalu mengikuti langkah lelaki rambut kuning berkucir itu meninggalkan Sarada dan keluar dari Rumah Sakit Unit Darurat Konohagakure. Sedangkan Sarada memilih menghampiri ruang orang yang dicintainya itu. Tak jauh dari pintu masuk Rumah Sakit, Inojin bertemu dengan Nyonya Uzumaki dan putrinya yang tampak terburu-buru memasuki rumah sakit terbesar di Konoha.

"Ah! Hinata Baa-san, apa kau ingin menemui Bolt?" Tanya Inojin kepada Nyonya Uzumaki itu.

"Iya, Inojin. Bagaimana keadaannya? Dan dimana dia sekarang?" sahut Hinata.

"Ah! Dia sedang dirawat diruang nomor 103. Tapi, hanya satu orang yang boleh menjenguknya. Sebaiknya kalian datang besok saja" kata Chouchou.

"Kenapa kau berbicara seperti itu?" Tanya Himawari yang tampak tersinggung dengan kata-kata Chouchou tadi.

"Bukan maksud dia mengusir kalian, soalnya sekarang Sarada yang menjaga Bolt. Jadi, kalian tak usah khawatir" jelas Inojin.

"Ah! Sou desu ka? Baiklah, kalau begitu kita kembali besok saja, Kaa-san" Ajak Himawari sembari manarik tangan ibunya.

"Baiklah, Himawari-chan. Kami duluan ya, Inojin-chan, Chouchou-chan" sahut Hinata dengan senyum ramah yang telah merekah diwajahnya yang begitu tampak pucat.

Chouchou dan Inojin pun membalas senyuman itu, lalu berpencar menuju rumah mereka masing-masing. Dilain tempat, Sarada masih mengambil nafas untuk menguatkan dirinya apapun yang akan dilihatnya di dalam ruang itu.

Setelah beberapa menit menghela nafas panjang, akhirnya Sarada memutuskan membuka pintu kamar dengan nomor 103. Dengan perlahan ia membuka pintu kamar yang tepat berada tepat dihadapannya.

Deg! Deg! Deg!

Begitulah bunyi degupan jantung Sarada saat baru saja memegang ganggang pintu kamar, belum juga pintu kamar berwarna putih itu.

Cklek!

Setelah membuka pintu kamar, Sarada melangkah kakinya memasuki kamar yang masih identik dengan warna putih itu. Dengan perlahan ia menghampiri kasur yang dimana Bolt sedang terbaring.

Wajah yang penuh dengan perban, wajah yang tampak melembam karena terbentuk batu-batu di aliran sungai tempat ia di temukan.

"Bolt" suara lembut itu memanggil nama lelaki berambut pirang yang masih terbaring lemah tak sadarkan diri itu.

'Dasar, Bolt-Baka. Baka, baka, baka, baka, baka..!' gumam Sarada seakan berteriak didalam hatinya yang masih begitu resah memandang kekasihnya itu.

.

.

.

"Jika kau kali ini mengerjaiku, tolong bangunlah! Aku akan memaafkanmu, tapi jika kau tak bangun juga saat ini. Maka, aku…" Sarada menggantung kata-katanya berharap Bolt akan bangun dan memeluknya.

Bolt memang cukup usil kepadanya, sering membuatnya khawatir. Tampak seperti orang bodoh yang mengkhawatirkan lelaki yang membohonginya. Tapi, saat ini tak mungkin Bolt mengerjainya. Dan Sarada tau itu, tapi ia berharap kali ini Bolt mengerjainya. Karena Sarada tak kuasa melihat kekasihnya itu terbaring lemah dihadapannya.

Dengan lembut, Sarada menggenggam tangan besar milik Bolt. Kemudian ia membelai wajah yang penuh luka miliki kekasihnya itu, dipandanginya dengan seksama. Tak sedikit luka yang tergores diwajahnya, dan tampak begitu asli. Mengapa ia berfikir seperti itu? Ya, karena Sarada sangat berharap luka-luka itu hanya make up seperti artis-artis film dalam perang.

.

.

.

"Ah! Maafkan aku, Bolt.."


And gatcha!

Kalian kena deh,, maaf aku bohong!

Habis gregetan kalo udah cerita endingnya mau digimanain

Jadi aku tambah satu lagi deh, yaitu part 5

Sumimasen, aku hanya sedang labil saja

Dan tetap setia menunggu ceritaku yang pertama ini yaa