The One and Only
Naruto Masashi Kishimoto
o
o
o
Chapter 3
Tugas Kelompok
o
o
o
Mobil sport baru saja tiba di halaman rumah keluarga Uchiha, seperti biasa, seorang lelaki keluar dari sana dan berjalan malas menuju pintu kursi penumpang, membukakannya untuk gadis yang terlihat jutek saat menatapnya. Tidak memedulikan kenyataan bahwa dirinya telah ditolong, Uzumaki Karin pun lantas berjalan tanpa mengucapkan terimakasih terlebih dahulu.
Melihat hal itu, si pemilik mobil tak peduli, ia langsung menaiki mobilnya kembali dan menjalankannya. Ia tidak terlalu punya waktu karena harus kembali berkuliah, kalau bukan karena sang Ibu, ia pun terbilang malas untuk menjemput adik angkatnya itu.
Karin menghela napas, baru beberapa hari saja ditinggal dirinya sudah merindukan sang Terkasih, jerit dalam dada dikumandangkan, tentu saja ini lebih baik daripada berteriak betulan, bisa-bisa dari arah dapur ibunya langsung tergopoh datang dan mengkhawatirkannya. Seperti yang diduga, meski rumah ini memiliki cukup banyak pembantu rumah tangga, ibunya itu jika sudah menjelang sore seperti ini akan berkutat di dapur membuat kudapan pendamping teh.
"Ah, Sayang. Selamat datang, bagaimana harimu?" Mikoto mengelap tangannya kepada apron yang dikenakan. Mendatangi Karin yang berjalan ke arahnya karena mereka sudah sangat hafal tabiat sang Ibu.
"Satu-satunya yang membuatku sebal adalah Sasuke, Bu. Ah, dia mengomeliku tentang mobil bodohnya."
Mikoto terkekeh kecil, dan hal itu mengundang wajah Karin semakin jutek.
"Sudahlah, dia itu memang entah menurun dari siapa. Sifatnya tidak pernah berubah, mulut pedasnya itu. Ya, sudah. Sebaiknya kau bersihkan dirimu, kemudian turun ke gazebo, Sayang."
Karin menganggukkan kepala, lantas menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Rasanya sangat berkebalikan, hidup di rumah mewah ini dan ketika bersama ibu kandungnya dulu. Dahulu, ia dan ibunya sangat miskin, hingga ketika ibunya meninggal dunia, dirinya pun sempat ditelantarkan karena tak ada keluarga yang mau menampung. sampai akhirnya harus tinggal di panti asuhan. Namun, di tempat itulah Karin menemukan hidup baru, diadopsi oleh keluarga Uchiha yang adalah teman ibunya dan memang tidak memiliki anak perempuan. Dan mulai hari itu, hidupnya pun berubah.
Meski hanyalah anak angkat, di keluarga ini tidak ada yang membedakannya. Mungkin hanya Sasuke yang terkadang bermulut teramat pedas, tetapi nyatanya lelaki itu juga menyayanginya. Ayah dan Ibu pun teramat memanjakan seperti anak sendiri, apalagi sulung keluarga ini, memikirkannya langsung membuat Karin tersenyum. Menghela napas, monolog ketika memasuki rumah kembali diutarakan.
"Itachi kapan pulang, ya?" menjatuhkan diri ke ranjang, Karin mengambil bingkai yang ada di nakas, dan memandang foto dirinya bersama sang Terkasih, sulung Uchiha.
o
o
o
Baru saja pagi menjelang, murid-murid yang ada di kelas pun telah mengeluh tak rela, pasalnya sang Guru Jelita, Kurenai, tengah memberi mereka tugas yang cukup memberatkan, selama dua bulan mereka harus membuat suatu penelitian tentang virus dan bakteri. Satu makalah berisi lima puluh lembar lebih dengan segala keterangan lainnya. Mengingatnya saja para murid sudah mendesah pasrah.
Beliau bilang, itu untuk membantu ketika nilai ujian nanti tidak mendukung dan kelompok ditentukan oleh teman sebangku mereka. Alhasil, Sakura langsung menjerit bahagia karena akan bersama dengan Karin. Namun, berbeda dengan Sasori yang sendirian, pemuda itu menyarankan agar ikut bergabung di tim Sakura, tetapi sayangnya hal itu ditolak mentah-mentah oleh sang Guru.
"Tidak, Haruno-kun, kau murid yang teramat pintar, jadi sebaiknya kau bergabung di tim Lee-kun dan Inuzuka-kun. Sedangkan, Haruno dan Uzumaki memiliki nilai yang cukup baik."
Mendengar hal itu, Sakura agak mendesah. Namun, kemudian ia kembali tersenyum, Sasori yang jarang berinteraksi akan mendapatkan teman di kelas dan kadang dia berpikir kenapa kakaknya itu sangat jarang berbicara dengan rekan kelas mereka. Sakura melambaikan tangan kepada Sasori dan menunjukkan jempolnya sebagai tanda semangat.
Setelah kelas usai, para murid sibuk sendiri dengan tugas yang telah diberikan kepala mereka, termasuk Sakura dan Karin. Mereka mulai menyusun jadwa kapan dan di mana akan mengerjakan tugas yang diberikan Guru Kurenai. Malang bagi Lee dan Kiba yang harus berurusan dengan sulung Haruno.
Kelas telah bubar, Sasori mendatangi Sakura yang duduk di samping Karin. Tiba-tiba saja, Sasori yang telah berdiri dekat dengan si rambut gulali, memeluknya dari belakang dan mengangkat tubuh itu. Menaruh kepala Sasori pada ceruk leher Sakura hingga membuat Sakura tertawa kecil. Sementara Karin, mengertukan alis tidak mengerti. Kenapa tingkah laku mereka seperti buka kakak dan adik, lebih mirip kekasih?
"Rasanya aku tak rela, kau berjauhan denganku." Sakura tertawa lagi, dan mengelus surai kakaknya. Menyerukan agar tubuhnya diturunkan dan Sasori pun mengabulkan keinginan Sakura.
"Ahahaha jangan manja, Oniichan. Nanti Aku akan menemanimu mengerjakan tugasnya, kalau timmu setuju tentu saja. Begitupun denganku."
Sasori tersenyum.
"Tentu saja, mereka pasti setuju, Saki."
o
o
o
Hari pertama mengerjakan tugas, Sasori ikut bersama Karin dan Sakura, mengerjakan di rumah mereka tentu saja setelah berdebat cukup lama. Sangat sulit membiarkan kakak si rambut gulali untuk memberikan izin bagi Sakura agar bisa bebas pergi ke mana pun dia suka.
Mereka berada di ruang keluarga, televisi dimatikan dan mereka berada di meja bundar berkaki rendah.
"Baiklah, aku telah membawa buku yang direkomendasikan oleh Guru Kurenai. Kita akan mencatat dahulu virus dan bakteri apa saja yang ingin kita bahas, Sakura." di samping tubuh Karin, gadis itu mengangguk-angguk. Sementara itu, Sasori mengawasi mereka dari sofa, lelaki itu duduk tenang dan sesekali membaca majalah seni.
Minggu berikutnya, giliran Sakura yang datang ke rumah Karin, Sasori pun ikut bersama mereka seperti yang lelaki itu katakan, sebenarnya Karin agak keberatan dengan hal ini, tetapi melihat Sakura yang senang kakaknya menemani membuat gadis itu tak bisa menyuarakan apa yang di pikirkan.
Rumah keluarga Uchiha tidak ramai di siang hari setelah pulang sekolah, selain sang Kepala Keluarga yang sedang bekerja, Itachi si sulung sedang berada di luar negeri karena dinas, dan Sasuke sendiri sibuk dengan kuliahnya. Alhasil, yang menyapa mereka hanyalah Mikoto, wanita paruh baya itu teramat ramah hingga membuat Sakura merasa nyaman di rumah Karin.
"Ah, Nak Sakura. Kau telihat sangat manis, silakan teh dan kuenya dinikmati, ya. Begitu pula denganmu, Nak Sasori." Mikoto kemudian membiarkan teman-teman anaknya untuk belajar, tidak mau mengganggu konsentrasi mereka.
Karin memperhatikan, Sasori terlebih dahulu lah yang meminum tah dan memakan kue, kemudian lelaki itu pun mengizinkan adiknya menikmati hidangan, mengerutkan alis, Karin menegur tingkah si sulung Haruno.
"Kenapa kau berlagak seperti hidangan ini diberikan racun, Sasori?" Karin sudah tidak tahan lagi, lelaki itu sangat menyebalkan walau tidak banyak berinteraksi dengannya, entah kenapa dia merasa tidak suka.
Mengalihkan tatapannya kepada Karin, bibir Sasori kemudian membentuk senyuman dingin.
"Aku harus memastikan semuanya, bagiku tiada yang berharga selain Sakura. Termasuk hidangan ini, tiada yang tahu, bukan?" meletakkan gelasnya, Karin nyaris menyiram lelaki itu dengan teh panas, kalau tidak berpikir tak ingin memberi kesan buruk kepada Sakura yang memang terlihat ramah dan baik hati.
"Wah, Oniichan luar biasa, bagi Saki tentu saja Oniichan yang paling berharga." Sakura memeluk Sasori karena mendengar pengakuan lelaki itu. Sementara tatapan kesal Karin tidak berubah, Sasori sendiri menatap Karin dengan dingin, kemudian mengecup ceruk leher adiknya dan tersenyum dengan sorot mata tajam.
Malam harinya Karin tidak bisa tidur, dia mondar-mandir di kamar, hingga Sasuke yang tiba-tiba masuk pun mengerutkan alis karena melihat tingkah adik angkatnya itu. Melemparkan hadiah kiriman Itachi yang sepertinya adalah gaun, Karin pun langsung tersadar karena merasakan bungkusan itu menghantam wajahnya.
"Sialan kau, Baka-Suke!" Karin menggeram, tetapi Sasuke malah menyeringai.
"Siapa suruh tidak dengar ketukanku dari tadi, lagi pula kau ini kenapa, Nenek Sihir?"
Pertama, Karin sedang resah sekarang, kedua kedatangan Sasuke malah membuatnya sebal, tetapi lelaki itu malah masuk dan mencari ribut dengannya. Sebelum kemudian Sasuke mendudukkan diri di kursi belajar Karin dan bertanya kenapa gadis itu terlihat khawatir dan resah sedari makan malam tadi.
Karin pun menceritakan tentang teman barunya, kembar Haruno yang sangat tidak normal menurutnya sebagai saudara kandung. Belum lagi sifat Sakura yang seperti tidak tahu dunia, terlalu polos untuk ukuran seseorang yang sudah duduk di bangku SMA. Sedangkan sang Sulung terlihat sebagai pengendali dari diri si adik. Bahkan beberapa waktu lalu Karin terkejut mengetahui fakta kalau Sakura tidur bersama Sasori selama ini.
Alis Sasuke mengerut, ia tahu di dunia ini ada masalah seperti yang dihadapi Karin. Terjebak cinta terlarang antar saudara, kemungkinan menurutnya. Namun, melihat kelakukan dari saudara kembar itu sendiri, Sakura dan Sasori, dirinya berpikir selama ini Sasori sengaja menjauhkan adiknya dari sekitar agar Sakura berkepribadian penurut dan bergantung kepada sulung Haruno.
"Jadi, menurutmu, Sasori lah yang sengaja membuat Sakura terikat."
"Kau berbicara seperti ini karena sudah yakin?"
Karin kembali mengerutkan alisnya.
"Kau mengingatkan, bagimana dia memperlakukan Sakura ketika kau menjemputku dan kau menatapnya beberapa kali? Dia langsung melingkarkan tangannya di pinggang Sakura."
"Kalau begitu, lebih baik coba tanyakan langsung, pertemukan saja denganku, kita lihat apakah dia bisa tertarik dengan lelaki lain selain kakaknya?"
Mendesah, sebenarnya Karin tidak menyetujui ide Sasuke, pertama kakak angkatnya itu tidak terlalu tertarik dengan perempuan karena sedang fokus berkuliah, kedua dia juga tidak menyukai gadis yang jauh lebih muda darinya.
"Kau yakin, tetapi itu bisa menyakiti Sakura? Dan lagi, memangnya kau bisa melakukannya? Kau itu terindentifikasi Gay dan Incest." Menyeringai, Karin menatap mengejek Sasuke.
Laki-laki itu terdiam kaku, dingin dan berekspersi mengerikan.
"Apa maksudmu, Nenek Sihir?" suaranya pelan dan berbahaya.
Cekikikan, Karin berdiri.
"Tiada yang lebih memuja Itachi selain kau, sayangnya dia itu normal dan pacarku. Kau adik yang menyedihkan, Baka-Suke." Melarikan diri, Karin cepat-cepat turun dari tangga dan menghampiri ibunya. Sementara Sasuke mulai berteriak memanggil nama gadis berembut merah menyebalkan itu.
Menyisir rambut depannya dengan jari tangan, Sasuke menggeram karena harga dirinya dilecehkan Karin.
"Dia apa tidak sadar kalau Itachi itu sudah seperti pedofil, berkencan dengan perempuan yang masih duduk di kelas satu SMA. Bodohnya."
Sakura berada di kamarnya sedang tiduran di sofa, wajahnya merengut dan di sampingnya ada Sasori yang masih memegang secangkir susu yang harus diminum Sakura. Gadis itu terlalu membenci susu, sudah cukup lama dia tidak meminumnya lagi, tetapi karena kelelahan disebabkan aktivitas yang semakin padat, Sakura mendapat teguran kembali agar lebih menjaga pola makan dan nutrisi. Salah satunya harus menambah nutrisi dengan susu.
"Oniichan, wakilkan Saki saja." Sakura merengek, menutup kepalanya dengan bantal dan tidur telungkup.
Di sampingnya Sasori terkekeh, membayangkan kalau bisa melakukan hal ini agar Sakura lebih sehat, maka dia akan melakukan apa pun. Seperti mengerjakan pr adiknya, tetapi gadis itu tidak mengizinkan tentu saja. Dan di dalam hal ini, Sakura melakukannya.
"Ayo minum, nanti keburu dingin, Saki."
Gadis itu bangkit dari tidurnya, kemudian melebarkan mata ketika melihat ponselnya ordering dan melihat nama Karin tertulis di sana.
"Siapa? Jangan lupa hidupkan spiker, Saki." Sasori melirik, wajahnya dingin karena tidak biasanya Sakura menerima panggilan di malam hari.
Menganggukkan kepala, Sakura pun menjawab telepon dan menekan tombol spiker.
"Halo, Karin-chan. Ada yang ingin dibicarakan?"
o
o
o
Bersabung
o
o
o
HALOOOO.
Sekarang sudah agak jelas ya keknya, hehheheh. Chapter ini masih membahas tentang hubungan SasoSaku dan SasuKarin. Terus, seperti yang dijelasin Karin, dia curiga Sakura itu dikendalikan kakaknya dan Sasori sengaja mejauhkan Sakura dengan dunia. Terlihat Sakura terlalu polos dan serba nurut sama Sasori. Terus, yang dibilang Karin juga bener ya tentang Sasuke yang memuja Itachi, tetapi tentu saja dia gak Gay dan Incest sama Itachi hahahahah. Cuma ya, terlalu mendewakan Itachi dan sayang banget sama kakaknya itu.
Ok, chapter depan Karin mulai nanya tentang cinta menurut Sakura, dan Itachi akan hadir di tengah-tengah mereka. Kyaaaaa.
Salam sayang dari istri Itachi,
zhaErza.
