Annyeong baekchannie's back ~
Saya minta maaf karena sampai saat ini konfik Chanbaek belum juga di munculkan.. sesuai yang saya bilang, saya akan membuat beberapa bagian romantic dan sweet di chapter-chapter awal terlebih untuk Chanbaek. Dan saya berjanji secara perlahan konfliknya bakalan dimunculin jadi saya minta kesabaran anda semua. Yang masih penasaran silahkan tetap mengikuti alur ceritanya. *deep bow*
Main Cast
• Park Chanyeol
• Byun Baekhyun
Other Cast
• Find it yourself
Gendre : Romance, Hurt/Fluff
Rating : T menjurus M
DISCLAIMER : STORY BELONG TO AUTHOR, CAST SEUTUHNYA MILIK SM !
DON'T BE SIDERS !
WARNING : TYPO MENGHANTUI ANDA XD !
•
•
•
•
•
IT'S YAOI FICTION
•
•
•
- CHANBAEK STORY -
•
•
•
DON'T LIKE DON'T READ
STORY BELONG TO AUTHOR !
•
•
•
- HAPPY READING -
BAEKCHANNIE PRESENT
•
•
•
•
•
"ONE MISTAKE ONE REGRET"
Author POV
"Tao kau dimana?" tukas seorang namja tinggi yang saat ini sedang menelpon kekasihnya.
"Aku sedang dijalan menuju cafe, mungkin 15 menit lagi aku sampai."
"Baiklah, kau hati-hati dijalan. Aku menunggumu ditempat yang biasa."
"Baiklah, ge.. kalau begitu aku tutup telponnya."
Setelah mengakhiri pembicaraannya, Kris mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru cafe.
Saat menunggu seperti ini, ia kembali teringat awal pertemuannya dengan Tao. Membayangkan kenangan-kenangan indah saat bersama kekasihnya itu. Tao yang selalu menemaninya, selalu mengerti akan dirinya dan kondisinya, dan Tao pula lah yang selalu sabar mendengarkan keluh kesahnya. Tao yang bisa menghiburnya dan hanya Tao yang bisa membuatnya tersenyum dan mengusir rasa penat dan lelah yang dirasakannya. Ia merasa beruntung dapat memilikinya. Sungguh ia begitu mencintai namja bermata panda itu.
"Kris ge, mianhe aku terlambat. Kau pasti sudah lama menunggu." sebuah suara berhasil menyadarkan lamunannya, ia sedikit terkejut mendapati Tao yang saat ini sudah duduk berhadapan dengannya.
"Eh, Tao.. Gwenchana aku juga baru tiba 30 menit yang lalu." tukas Kris sambil menyunggingkan senyumnya yang selama ini hanya ditunjukkan kepada orang tertentu saja. "Jadi kau mau pesan apa?"
"Samakan seperti punyamu saja." jawab Tao sambil membalas tersenyum.
Kris memesankan pesanan yang persis seperti miliknya, setelah 10 menit menunggu akhirnya pesanan itu datang dan merekapun segera menikmatinya.
"Lalu hari ini kita kemana?" tanya Kris sambil memandang Tao yang saat ini sedang menikmati hidangan miliknya.
Tao menaruh telunjuknya di dagu dan berpikir sejenak. "Bagaimana kalau ke apartemenmu? Sudah lama aku tak kesana."
"Seingatku.. dua minggu lalu kau sudah ke apartemenku?"
"Memang.. tapi itu kan sudah dua minggu yang lalu, sudah lumayan lama."
"Biar kutebak, kau pasti ingin ke apartemenku karena kau merindukan game kesayanganmu itu kan?" Kris memicingkan matanya kearah Tao.
"Hehe kau tau saja ge.." tukas Tao sambil memasang V sign.
"Apa kau tak punya tempat tujuan lain selain apartemenku?"
"Ayolah ge.. kita bisa menghabiskan waktu dengan bermain game bersama. Bahkan aku sanggup kalau kau mau kita bermain seharian.."
"Aish aku mengajakmu kesini karena aku ingin menghabiskan waktuku dengan berjalan-jalan denganmu." Kris menghela nafasnya.
"Ayolah ge.. jebaal, lagipula aku bosan harus jalan-jalan ditempat yang sama." Tao memasang puppy eyesnya dengan wajah merajuk.
"Baiklah.. baiklah, tapi sebelum itu kau harus menemaniku jalan-jalan." tukas Kris sambil mencubit hidung Tao dan hanya dibalas dengan sebuah anggukan dan senyuman.
Author POV end
Chanyeol POV
Pagi telah menjelang, dapat kurasakan cahaya matahari menembus tirai. Aku terbangun dan menggerakkan badanku sambil mengerjap-ngerjapkan kedua mataku. Aku menoleh ke samping dan mendapati Baekhyun yang kini tertidur dilenganku. Aku memandang wajahnya yang terlihat tenang saat tertidur, hembusan nafas yang teratur dan suara dengkurannya yang halus, mungkin ia kelelahan gara-gara aktivitas kami semalaman yang cukup menguras tenaga. Aku membelai pipi serta dagunya, ia sedikit tersentak lalu menggeliat dan akhirnya memandangku dengan wajah mengantuknya sementara aku masih dengan kegiatanku yaitu membelai pipinya sambil memandang wajahnya.
"Good morning yeobo," ku berikan senyum terbaikku untuknya.
"Ngghh.. good morning, Channie." balasnya dengan suara parau.
Setelah mata sipitnya terbiasa dengan cahaya yang masuk, aku langsung mengecup bibirnya.. ia tersenyum dan semakin mendekatkan dirinya kearahku.
"Bagaimana tidurmu?" tanyanya.
"Tidurku sangatlah nyenyak, bahkan tak seperti biasanya rasa lelahku hilang. Kau sendiri?"
"Cukup nyenyak walaupun hanya 2 jam.. Yaa Channie kau harus bertanggung jawab!" tukasnya sambil mempoutkan bibirnya.
Aku mengernyitkan dahi "Bertanggung jawab apanya?"
"Gara-gara permainanmu semalam pinggangku, pinggulku, bokongku, leherku, punggungku, semuanya sakit." Ia menunjuk semua bagian tubuhnya. "Aish padahal aku berencana ke cafe appa hari ini." tukasnya dan semakin mempoutkan bibirnya.
Dengan gemas aku mencubit hidungnya pelan. "Bukannya kau duluan yang menggodaku? Dan juga salahkan tubuhmu yang seakan-akan memintaku untuk menyentuhnya."
Ia memukul lenganku yang saat ini mendekap tubuh polosnya. "Aissh.. jangan menyalahkan tubuhku, pabo! Salahkan pikiranmu yang terlalu pervert!"
"Tapi semalam kau menggodaku dan itu tandanya kau memancingku, sayang. Lagipula kau juga kan yang merengek meminta lebih?"
Ia kembali mempoutkan bibirnya dengan wajah yang sedikit merona. "Aiissh sejak kapan aku merengek meminta lebih? Bukannya kau yang memaksa?"
"Tapi kau menikmatinya, kan? Bahkan kau sampai merengek seperti ini: C-channie..oohh..faster..please..akh..oh.." Aku menirukan suara dan ekspresi wajahnya semalam lalu tersenyum nakal.
Wajahnya langsung berubah merah seperti tomat dan langsung melemparkan bantalnya ke arahku. "Aku membencimu, sudah kukatakan jangan mengungkit hal-hal seperti itu!" kemudian ia berbalik membelakangiku, memperlihatkan tengkuk putihnya yang sudah terpenuhi dengan beberapa bercak merah dan samar keunguan hasil buah karyaku semalam. Aku tersenyum bangga melihatnya.
Aku mendekap tubuhnya dari belakang sambil membelai lembut perutnya dan mengecup tengkuknya yang merupakan daerah sensitif Baekhyun. "Baekki, kau marah?"
" ... "
Menyadari dia tak meresponku, aku kembali mengecup tengkuknya dan melumatnya, serta sesekali menggigitnya dan menjilatnya.
"Akh..C-chan..hentikan..nh.." tubuhnya menggeliat geli dan mencoba melepas dekapanku, tapi aku malah semakin mengeratkannya.
"C-chan..lepas.."
"Aku akan melepaskanmu asalkan kau tak marah padaku dan tetap di sini menemaniku." Aku kembali mengecup tengkuknya.
"B-baiklah aku tidak marah.. Aku akan menemanimu." lalu aku melepaskan dekapanku dan ia berbalik menghadapku.
Ingin sekali aku tertawa melihat wajahnya yang bersemu merah, tapi aku berusaha menahannya lalu menariknya kedalam pelukanku. "Wajahmu kenapa merah hmm?"
"Aku malu pabo, kau senang sekali membuat wajahku seperti kepiting rebus." tukasnya sambil membenamkan wajahnya di dadaku.
"Kenapa kau harus malu? Bukankah kita sudah 3 tahun menikah? Lagipula kita lumayan sering melakukannya dan aku yakin kau selalu menikmatinya." tukasku sambil menunduk memandangnya dan sedikit menggodanya.
Ia mempoutkan bibirnya. "Aiish.. tetap saja aku malu. Kau suka sekali membahas hal-hal seperti itu." ia mengusap dadaku dengan jemari lentiknya lalu menyusuri perutku dan...
"Aaakh! Aaaakh!" ia mencubit perutku dengan kuat dan sedikit memutarnya.
"Hiiih Rasakan ini! Dasar pervert! CEO mesum!"
"Sakit! Hei! Chagiya..."
Akhirnya aku berhasil melepaskan tangan Baekhyun yang menjepit perutku seperti seekor kepiting.
"Apa yang kau lakukan?"
"Iiish kau jelek! Menyebalkan! Dasar mesum! Aku benci padamu!" nyaris saja ia beranjak dari ranjang kami, namun aku segera mendekapnya erat.
"Baiklah baiklah.. mianhe nae baby.. aku hanya bercanda. Temani aku, aku ingin bersamamu." tukasku sambil mengelus punggungnya lalu mengecup pucuk kepalanya. Akhirnya ia pun kembali membenamkan wajahnya didadaku.
Kami terdiam selama beberapa menit sebelum akhirnya Baekhyun membuka suara. "Umm... Channie.."
"Hmm?" balasku sambil tetap mendekapnya dan memainkan helaian rambutnya.
Ia sempat terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali membuka suara. "Ada yang ingin aku katakan padamu, tapi aku mohon kau jangan marah.."
"Memangnya apa yang ingin kau katakan?"
"A-aku.. aku.. takut Channie..." ia semakin mengeratkan pelukannya dan semakin membenamkan wajahnya didadaku.
"A-aku takut.. kalau pada akhirnya aku akan menyerah. Aku takut.. suatu saat nanti.. aku sudah tak sanggup untuk selalu mendukungmu. Channie... Apa aku bisa melewatinya?" Ia mendongakkan wajahnya kearahku dapat kurasakan saat ini ia benar-benar ragu dan khawatir. Tak dapat kupungkiri, sesungguhnya aku juga merasakan hal yang sama tapi aku sama sekali tak ingin memberitahunya dan membuatnya semakin khawatir.
Aku semakin mengeratkan dekapanku lalu menatapnya berusaha meyakinkannya. "Baekkie.. percaya padaku, kau bisa melewatinya. Aku yakin!"
"Channie.. aku.. tak ingin mengecewakanmu, aku selalu ingin menjadi yang terbaik untukmu, tapi aku takut.. aku takut aku akan menyerah dan mengecewakanmu.. aku takut aku tak bisa menjadi yang terbaik dan aku.. bukanlah orang yang pantas mendapatkan cintamu..aku takut aku-"
Aku semakin mengeratkan dekapanku sambil mengelus rambutnya dan menatapnya. "Shh dengar... seberat apapun ke depannya nanti, kita pasti dapat melewatinya bersama. Aku yakin, sayang.." lalu aku mengecup pucuk kepalanya dan mengelusnya kembali.
Ia menundukkan wajahnya lalu membenamkan wajahnya di dadaku dan semakin mengeratkan pelukannya. "Aku.. hanya tak ingin kehilanganmu, Channie. Aku sangat mencintaimu.. Aku benar-benar tak ingin kehilanganmu.."
Aku mencium pucuk kepalanya, "Aku juga sangat mencintaimu Baekki.. dan aku akan menjaga cintaku ini hanya untukmu. Percayalah baby.." aku mendekapnya erat sambil menyisir helaian rambutnya, sesekali mengecupnya, menghirup aroma shampoo khas bayi dari rambutnya.
Chanyeol POV end
Author POV
Sebulan berikutnya. Tepatnya di kantor Park Coorporation terlihat Kyungsoo sedang berjalan dengan tergesa-gesa sambil mengecek ponselnya, sedangkan dilain arah terlihat Kai sedang berjalan sambil memperhatikan berkas yang ada di tangannya. Karena sibuk dengan urusannya masing-masing membuat kedua orang ini tak sempat melihat jalan yang ada di depannya sehingga keduanya bertabrakan dan barang-barang yang dibawa pun berjatuhan.
"Ah joesonghamnida, aku tak sengaja." tukas Kai sambil membungkuk lalu membereskan barang-barang miliknya dan tak lupa mengambil ponsel milik Kyungsoo.
"Gwenchana, aku juga minta maaf karena tak sengaja menabrakmu," balas Kyungsoo sambil tersenyum.
"Sepertinya aku baru melihatmu, ada yang bisa kubantu?" tanya Kai sambil memperhatikan lawan bicaranya.
"Aku ingin bertemu dengan CEO perusahaan ini, bisa kau tunjukkan dimana ruangannya?"
"Ooh kebetulan saat ini aku mau ke ruangannya, ayo ikut aku!" ujar Kai sambil memamerkan senyumannya lalu berjalan mendahului Kyungsoo.
"Sudah berapa lama kau bekerja di perusahaan ini?" tanya Kyungsoo begitu mereka berada di dalam lift menuju lantai 24.
Kai berpikir sejenak "Umm.. kurang lebih hampir 4 tahun, wae?"
"Ah ani, bukan apa-apa."
TING
Lantai lift terbuka, merekapun keluar bersama lalu berjalan menuju ruangan Chanyeol.
"Yoona-ssi, apa Presdir Park sedang sibuk? Aku ada keperluan dengannya."
"Tunggu sebentar, biar aku mengeceknya terlebih dahulu." tukas Yoona, ia menghubungi Chanyeol lalu tak lama kemudian akhirnya menyuruh Kai dan Kyungsoo masuk.
TOK TOK TOK
"Masuk," jawab Chanyeol.
Kai membuka pintu ruangannya lalu berjalan masuk dan disusul oleh Kyungsoo.
Chanyeol mengalihkan wajahnya dari komputer lalu mengernyitkan dahinya begitu melihat Kyungsoo bersama Kai.
"Kyungsoo? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Chanyeol berdiri menghampiri Kai dan Kyungsoo.
"Aku mau mengambil berkas-berkas yang seminggu lalu kau pinjam." jawab Kyungsoo.
Kai yang mendengarnya langsung memandang Chanyeol dan Kyungsoo bergantian.
"Kalian saling kenal?" tanya Kai masih dengan wajah kebingungan.
"Tentu saja, kami ini bersahabat. Kalian sendiri sejak kapan saling kenal?" tanya Chanyeol
"Sebenarnya tadi tanpa sengaja aku menabraknya ketika aku menuju kemari." jawab Kai
"Oohh begitu.. Oh iya Kyungsoo kenalkan ini sepupuku Kim Jongin, kau bisa memanggilnya Kai. Dan Kai kenalkan ini Do Kyungsoo dia sahabatku sekaligus CEO Do Coorporation, kau bisa memanggilnya Kyungsoo." Chanyeol memperkenalkan Kai dan Kyungsoo secara bergantian. Mereka berdua berjabat tangan dan saling melempar senyuman satu sama lain.
"Kau sendiri ada perlu apa?" tanya Chanyeol pada Kai.
"Ini laporan saham yang kau minta dua hari lalu." Kai menyerahkan dokumen yang sedari tadi dipegangnya kepada Chanyeol.
Chanyeol mengambilnya lalu memeriksanya secara teliti.
"Baiklah, terima kasih." tukas Chanyeol sambil menaruh dokumen itu di atas meja kerjanya.
"Kalau begitu aku duluan, 30 menit lagi aku ada pertemuan. Senang berkenalan denganmu Presdir Do." tukas Kai lalu menyalami Kyungsoo sebelum akhirnya ia keluar meninggalkan Chanyeol dan Kyungsoo.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Chanyeol begitu Kai keluar dari ruangannya.
"A-Apanya?" Kyungsoo berbalik bertanya dengan tatapan bingung.
"Sepupuku, apa kau tertarik ingin mengenalnya lebih jauh?" tawar Chanyeol.
Kyungsoo memutar bola matanya malas lalu memicingkan matanya kearah Chanyeol. "Aku tidak tertarik!"
"Makanya kau harus mengenalnya, lagipula setahuku saat ini ia single."
"Yaa.. kau ini sama saja dengan Sehun, sudah kukatakan aku tidak tertarik!"
"Sungguh? Apa kau yakin kau tak akan menyukainya?" Chanyeol memicingkan matanya sambil menunjukkan senyuman usilnya.
Kyungsoo terdiam sejenak. "Hm entahlah, tergantung perasaanku." tukasnya sambil mengangkat kedua bahunya.
"Yaa itu tandanya kau mulai tertarik padanya.. Sudah kau tak perlu gengsi, aku tahu sikap Kai seperti apa dan aku yakin dia pilihan yang tepat untukmu."
Kyungsoo melirik Chanyeol lalu menghela nafasnya malas, dan sebuah senyuman kemenangan pun terlukis dibibir Chanyeol.
- One Mistake One Regret -
Sementara itu malam harinya Baekhyun dengan sabar menunggu kedatangan Chanyeol yang hingga pukul 12 malam belum juga pulang. Berulang kali ia mencoba menghubungi Chanyeol tapi sampai detik ini Chanyeol belum mengangkat telponnya. Dan tak dapat dipungkiri, saat ini Baekhyun sedang dilanda kekhawatiran yang sangat besar. Ia sama sekali tidak menghiraukan rasa kantuk yang kini mengusiknya, namun setelah beberapa menit berlalu ia merasa sangat lelah dan rasa kantuknya semakin terasa berat. Ia berniat hanya mengistirahatkan tubuhnya di sofa yang berada di ruang tengah, namun 30 menit kemudian tanpa sadar Baekhyun sudah tertidur.
Dua jam berikutnya sebuah mobil sedan berwarna hitam memasuki pekarangan rumah mereka dan Chanyeol keluar dari mobil tersebut. Terlihat jelas wajahnya yang mengantuk dan juga kelelahan, kemeja yang digunakannya terlihat sedikit berantakan. Ia membuka pintu rumah secara perlahan berniat tak ingin mengganggu Baekhyun, ia terkejut begitu ia melewati ruang tengah dan mendapati orang yang dicintainya tertidur di salah satu sofa dan lagi-lagi dengan posisi meringkuk kedinginan. Ia mendekati namja imut itu lalu membungkukkan dirinya dan memperhatikan wajah Baekhyun. -pasti lagi-lagi dia menungguku- begitu pikirnya. Akhirnya ia pun menggendong tubuh Baekhyun lalu membawanya menuju kamar mereka, membaringkan tubuh mungil itu secara perlahan sebelum ia menyelimutinya dan memberikan sebuah kecupan ringan di dahi dan bibirnya.
"Mianhe baby.." Chanyeol kembali mengecup bibir Baekhyun selama beberapa detik sebelum akhirnya beranjak menuju kamar mandi.
TBC
