"Serial of Life"

.

.

.

Genre : Mystery, Drama .

Disclaimer : VOCALOID/UTAULOID/FANLOID's Production that's involved in this FanFic is not mine.

Chapter 4 : Tragedy.


"Kasane Teto? Kalau tidak salah dia adalah korban semalam," gumam Kaito memegangi dagunya.

"Jelaskan pada kami, IA!" seru Gumiya menatap IA dengan serius.

"B-Baiklah." IA pun mulai menceritakan kejadian dimulai dari alasannya pulang lebih dulu.

.

.

(Flashback)

.

.

Kemarin malam, IA pulang lebih dulu karena ingin mengunjungi sahabatnya, Kasane Teto. Awalnya ia hanya berkunjung. Tetapi karena sahabatnya sangat ingin tahu soal misteri pembunuhan berantai, mau tak mau IA harus menceritakan hasil penyelidikannya kepada sahabatnya itu.

Karena IA sangat menyukai seseorang yang penasaran, jadi ia menceritakan mulai dari awal pembunuhan sampai sekarang. Ia tahu betul kalau Teto sudah mengetahui soal tragedi pelarian itu. Tapi Teto masih saja senantiasa untuk mendengarkan cerita yang sama.

"Jadi pembunuh berantai itu masih belum ditemukan?" tanya Teto penasaran

"Begitulah," balas IA menghelakan nafas panjang, "bahkan Gumiya-kun belum bisa menemukan arti kodenya."

"He~~" Teto menatap IA dengan wajah liciknya, "IA-chan sudah punya pacar ya~"

Seketika muka IA memerah, "B-Bukan! Dia hanya rekan kerjaku saja!" bantahnya.

"Kalau begitu ceritakan dia kepadaku," pinta Teto penuh senyuman licik.

"Teto-chan! Sudah kubilang dia bukan pacarku!" bentaknya.

"Kalau bukan, kamu harus bisa menceritakannya tanpa gugup," pinta Teto lagi memojokkan IA.

"Umn..." IA tampak berpikir sejenak., "Gumiya-kun itu lelaki seumuranku dengan kemampuan analisa yang hebat. Dulu ia pernah disebut Lazy Mysterius karena mampu menyelesaikan misteri paling susah. Tapi ia berhenti karena sering dipaksa memecahkan misteri. Dan kini ia kembali untuk membalasdendamkan adiknya."

Bukannya kagum, Teto justru tertawa keras karena cerita kecil IA," Ahaha~~ Lazy Mysterius? Sebutan apa itu?"

"Jangan mengejeknya!" seru IA membentak, "dia lebih hebat dari yang kamu pikirkan!"

Sontak saja Teto terdiam. IA terlihat tidak senang ketika Gumiya ditertawakan. Pasalnya dulu IA sangat mengagumi Gumiya. Bahkan ia sempat belajar banyak agar bisa bersaing denganya. Tapi sayangnya semangat itu hilang saat tahu kalau Gumiya tidak berminat menjadi detektif.

Jam dinding pun berdering keras. Sudah menunjukkan pukul sembilan malam. IA terkejut dan segera berkemas-kemas pulang.

"Maaf Teto-chan. Aku pulang dulu ya."

"EH!? Kenapa pulang? Tidak menginap saja?" ujar Teto terdengar sangat kecewa.

"Mamaku bisa khawatir kalau aku menginap di sini," balasnya terus melangkah keluar.

Teto terlihat sedih. Kesedihan itu bisa IA rasakan meski mereka berjarak lumayan jauh. Bagi IA, melihat teman sedih adalah sesuatu yang menyakitkan. IA memiliki keinginan untuk membuat semua orang bahagia. Langkahnya untuk keluar pun memudar.

Dengan menghelakan nafas, IA pun mendekati Teto lalu menepuk pundaknya, "Besok aku akan menceritakan hal paling seru,"

Seharusnya IA merasa senang. Tapi senyumnya memudar melihat Teto tersenyum licik, "Hehehe~ aku tahu kamu akan mengatakan itu, IA-chan."

"Kamu benar-benar menjengkelkan ya," gerutu IA lalu tertawa kecil. Mereka tertawa senang dan membuat suasana menjadi ceria lagi. Melihat waktu yang sudah semakin malam, IA pun pulang dan Teto mengantarnya menuju pintu utama.

Di saat mereka berdua berjalan di lorong ruangan melewati ruang tamu, Teto melihat sepucuk surat di lantai ruang tamu. Karena penasaran, ia pun berjalan ke arah surat itu tanpa perasaan curiga. Begitu dibuka, isinya adalah kode dari si pembunuh berantai.

"WAAH! IA-CHAN! LIHATLAH!" teriaknya sangat kegirangan memanggil IA.

IA menghelakan nafas lalu berjalan mendekati sahabatnya, "Sudah malam. bisakah kamu di—"

Namun ketika IA mengawali langkah awalnya, tak disangka IA menginjak lantai yang diduga tombol untuk mengaktifkan jebakan. Dalam sekejab, tombak-tombak besi ditembakkan tepat dari bawah Teto. Karena tanpa peringatan, Teto harus menerima seluruh tombak itu. Satu... Dua... Tiga... tombak-tombak itu mulai ditembakkan. Bukan jumlah yang sedikit untuk dilihat. Saking banyaknya, tubuh Teto ditancapi tombak-tombak itu bagaikan hewan landak.

IA sangat terkejut sampai tidak bergerak sedikitpun. Baru pertama kalinya ia melihat orang terbunuh dengan kedua matanya sendiri. Percikan darah menyebar ke seluruh ruangan. Tak sedikitnya yang mengenai IA.

"IA... –chan." Teto masih bisa berbicara. Ia mengulurkan tangannya berharap bisa menyentuh tangan IA untuk terakhir kalinya.

"TETO-CHAN!" IA pun berusaha menggapai tangan Teto. Namun hal itu dibatalkan oleh satu tembakan tombak yang memutuskan tangan kanan Teto.

Cipratan darah pun mengenai muka IA. Ia berteriak sangat kesar. Sangat keras sampai tenggorokkannya sakit. Pikirannya meledak melihat bagaimana sahabatnya terbunuh di hadapannya. Tubuhnya terus bergetar tidak mempercayai apa yang terjadi. Raut muka yang dulunya dikenal sebagai gadis paling riang kini berubah menjadi gadis paling menyedihkan.

Cukup lama ia berada di depan mayat itu. Tubuhnya masih belum bisa digerakkan. Tatapannya menjadi kosong seketika. Namun semua itu sirna begitu teringat Gumiya yang kehilangan adik kesayangannya. IA memaksa untuk berdiri lalu berlari keluar rumah dan menuju ke rumah Gumiya dengan tujuan menginap di sana.

(Flashback End)

Gumiya dan Kaito tidak bisa melontarkan komentar sedikitpun. Ceritanya seakan-akan membuat mereka merasakan sakitnya kehilangan sahabat. Meski Gumiya pernah merasakannya saat kehilangan Rin, tapi ia tidak pernah setegar IA yang masih bisa beraktivitas seperti tidak terjadi apa-apa.

"Jadi alasan lain kau ke rumahku karena tahu tidak ada orang di sana?"

IA mengangguk. Raut mukanya seakan-akan masih merasakan sakitnya kehilangan seseorang. Tundukkan kepala gadis itu membuat Gumiya semakin bisa merasakan perasaannya. Baginya, membiarkan gadis kesakitan bukanlah sesuatu yang bisa ia biarkan.

Tanpa peringatan sedikitpun, Gumiya memeluk IA dengan erat, "Tenanglah. Kita akan menyelesaikannya bersama-sama," ucap Gumiya tepat di dekat telinga IA, "benarkan Ka-i-to-kun?" Gumiya melirik ke arah Kaito dengan tatapan seolah-olah aksinya adalah balas dendam.

"Sebaiknya kau melepas pelukan itu lalu kembali memikirkan pelakunya," gumam Kaito cemburu.

"Oh! Kita akan menangkapnya malam ini," balas Gumiya melepas pelukannya.

Ekspresi Kaito sangat kaku. Di antara terkejut, senang dan takut. Terkejut karena tiba-tiba, senang karena Gumiya sudah mengetahui pelakunya, dan takut karena harus ikut menangkap pelakunya, "Jelaskan kepada kami dulu sebelum membuat rencanamu itu."

Gumiya menghelakan nafasnya, "Kalian ingat isi baris kedua di kode sebelum Kasane Teto dan adikku?"

"Aku masih ingat. Perlu fotonya?" balas Kaito menunjuk ke arah lokernya.

Gumiya menggelengkan kepalanya, "Yang ingin kukatakan adalah baris kedua itu adalah korban selanjutnya. Coba kaitkan dengan huruf paling depan dan paling belakang dari nama korban."

Kaito dan IA bergumam. Sesekali mereka menundukkan kepalanya untuk memikirkan maksud Gumiya yang satu ini. Tak lama bergumam, mereka terkejut dan langsung memandangi Gumiya lagi.

"Bagaimana dengan angkanya?" tanya Kaito penasaran.

"Itu adalah lokasi korban diukur dari pusat kota menggunakan derajat," jelas Gumiya singkat.

Kaito mengangguk paham, "Bagaimana dengan baris selanjutnya?"

"Apa kalian ingat kejadian beberapa bulan sebelum awal munculnya pembunuh berantai itu?" tanya Gumiya kembali.

Kaito pun mengingat-ingat kejadian yang di maksudkan peristiwa yang Gumiya maksudkan. Suara gumaman kebingungan terus saja Kaito keluarkan. Tak ada sepatah katapun yang bisa menjawab pertanyaan sahabatnya sampai Gumiya sendirilah yang mengatakannya.

"Kebangkrutan perusahaan besar elektronik."

Kaito terkejut. Dulunya ia lah yang memberitahu berita itu kepada sahabatnya itu. Tetapi tak disangka dia sampai lupa tentang berita itu, "Tapi apa hubungannya?" tanya Kaito belum begitu paham.

"Gumiya-kun, apa maksudmu yang sebenarnya adalah akibat dari kebangkrutan itu?" tanya IA terdengar memahami maksud Gumiya.

"Apa maksudmu, IA-chan?" Kaito tidak bosannya bertanya terus. Gumiya tahu kalau sahabatnya itu lebih suka bertanya daripada berpikir sendiri.

"Kaito, apa isi pesan bahasa Jerman di hari Senin sampai Sabtu?" lagi-lagi Gumiya melontarkan pertanyaan daripada menjelaskan. Pertanda ia kesal dengan tingkah sahabatnya itu.

"Kalau tidak salah Unfall, Elend, Gewalt, Verfolgung, Zwang, dan Unterdruckung..." begitu selesai menyebutkan, Kaito sadar dengan maksud Gumiya yang sebenarnya, "jangan-jangan—"

"Benar. Kecelakaan, penderitaan, kekerasan, penganiayaan, pemaksaan dan penindasan," sahut Gumiya, "dan itu semua adalah inti berita di seminggu setelah kebangkrutan."

Lagi-lagi Kaito harus dikejutkan dengan pemikiran super dari sahabatnya. Padahal Gumiya baru menjalankan aksi detektifnya selama dua hari. Tapi ia sudah hampir menyelesaikannya. Tidak salah kalau Kaito mengajak sahabat pemalas yang satu ini.

"Bagaimana kau bisa mengetahui itu, Gumiya?" Kaito bertanya sambil bersiap untuk ke kasir.

"Oh! Aku mengetahuinya karena menabrak seseorang tadi," jawabnya menuju loker.

Suasana menghening. Kaito ingin sekali bertanya lagi, tapi ia yakin kalau sahabatnya akan kesal untuk kedua kalinya. Jika dihitung, sudah banyak pertanyaan yang Kaito lemparkan kepada Gumiya. Dalam pikirannya, Gumiya pasti akan melemparkan pertanyaan kepadanya daripada menjelaskan lagi. Dan Kaito pun memutuskan untuk diam dan menunggu saja.

"Gumiya-kun, bagaimana dengan rencanamu tadi?" tanya IA yang sepertinya pertanyaan itu adalah pertanyaan yang ingin Kaito katakan.

"IA, kau tahu kode yang ditinggalkan semalam?" seperti dugaan Kaito, Gumiya lebih memilih melemparkan pertanyaan daripada menjelaskan.

"Sebenarnya ada dua kode," IA merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya lalu menunjukkannya kepada Gumiya.

Dalam ponsel itu tertulis "138MA'LS' 17" saja. IA pun juga mengatakan kode yang ia lihat dari surat semalam, "Kalau kode yang ada di kertas semalam '96MA 17'."

Kaito bergumam. Angka 96 itu sama dengan Rin. Tapi kode yang lain adalah 138, yang sepertinya itu berada di daerah tenggara, "Tapi siapa MA'LS' itu?" bingung Kaito.

"Oh! Mungkinkah Megpoid Gumiya 'Lazy Mysterius'?" seru IA sangat senang.

Gumiya terkejut. Tangannya yang ingin meraih lokernya terhenti, "J-Jangan keras-keras. Itu julukan yang memalukan."

"Berarti kita akan menangkapnya dengan kau sebagai umpannya? Ide hebat," ujar Kaito berusaha menahan tawanya.

IA memiringkan kepalanya. Ia merasa ada yang aneh, "Tapi bukankah malam ini tidak ada pembunuhan, Gumiya-kun?"

"Kedua kode itu terlalu singkat. Aku yakin pembunuh itu memberi kode singkat karena bermaksud untuk melancarkan aksinya hari ini," jelasnya singkat.

Kaito menghelakan nafasnya. Mungkin helaan nafas itu pertanda Kaito sudah tenang. Sebenarnya ia pernasaran dengan siapa pelakunya, "Gumiya, apa kau ta—"

Gumiya melirik ke arah Kaito dengan tajam. Dari lirikan itu, dapat disimpulkan Gumiya tahu siapa pelakunya tapi malas menjelaskan kepada sahabatnya ini. Akan lebih baik Kaito tidak jadi bertanya daripada dilototi oleh sahabatnya itu.

"Pelakunya adalah K.O!" serunya bernada tinggi.

"Tunggu Gumiya-kun, bukankah K.O itu berarti Knocked Out?" seru IA mengelak.

Gumiya menghelakan nafas, "Kalian ini menjengkelkan. Lihat saja nanti malam!"

.

.

- TBC -


.

.

Dan sudah sampai chap 4 XD

Chap selanjutnya adalah Chap terakhir ^^

Silahkan ditunggu dan terima kasih sudah mengikuti sampai sekarang ^^