Taeyong POV

"Taeyong-ssi ? Lihat kemari" Setelah kebingungan menatap namja yang tadi memelukku, aku lalu mengalihkan pandanganku pada cahaya dari senter kecil dokter. Kedua mataku selesai diperiksa, dan kudengar dokter bergumam pada namja tadi agar mengikutinya sebentar keluar ruangan. Aku melihat mereka berdua menoleh padaku sebelum hilang dibalik pintu.

"Taeyong-ssi? Kau ingin mengganti piyama?" Tanya seorang perawat di sebelahku secara halus. Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk sopan, tanda jika aku menjawab iya.

"Taeyong-ssi jika kau butuh sesuatu, kau hanya perlu memencet tombol sebelah ranjang ya? Dan ini, ponselmu. Kupikir Taeyong-ssi membutuhkannya kembali sekarang." Perawat tadi tiba-tiba merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah ponsel, lalu menyodorkannya padaku. Aku ragu ingin mengambilnya atau tidak, karena seingatku aku tidak pernah memilikinya. Namun sebagai rasa sopanku, dengan perlahan aku meraih ponsel tersebut dari tangan perawat di depanku.

"Gamsahamnida..." Aku membungkuk sedikit dan mengucapkan terimakasih setelah ponsel itu beralih pada tanganku.

"Heum sama-sama, jadi aku akan keluar sekarang okay?" Perawat wanita tersebut tersenyum manis dan mulai berjalan ke arah pintu kamar.

"Eungg, nunaa.. tunggu..." Aku memanggilnya dengan nuna? Entah aku bingung ingin memanggilnya apa. Ia mirip nunaku, jadi aku memanggilnya nuna.

"Ne? Kau memanggilku? Ada yang kau perlukan?" nuna perawat tersebut dengan cepat membalikkan badannya padaku.

"Eung, aku hanya ingin bertanya. Apa orangtuaku dan nunaku tidak mengunjungiku kemari?" Aku mencicit pelan.

"Taeyong-ssi kau imut sekali ckckck. Tenang saja, Nyonya dan Tuan Lee biasanya akan kemari pada malam hari, nunamu juga." Aku sedikit malu ketika nuna perawat menertawaiku kecil. Aishh apa aku terlihat seperti bocah. Namun aku lega dengan jawaban nuna perawat, orang tuaku tahu jika aku disini dan mengunjungiku ketika malam hari.

"Baiklah, terimakasih nuna.." Aku membungkuk sedikit dan mengucapkan terima kasih lagi pada nuna perawat. Ia lalu mengangguk kecil, segera keluar dari ruanganku. Kemudian, ruangan ini menjadi sepi senyap. Aku terduduk di ranjangku, mengamati keadaan kamar ini, sesekali melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul lima sore. Huft, malam masih beberapa jam lagi. Aku bosan sekali, tapi tiba-tiba mataku tertuju pada ponsel yang berada di genggamanku. Kuhidupkan karena tadinya ponsel ini mati. Setelah beberapa waktu, ponsel menyala dan menunjukkan wallpaper fotoku dan keluargaku. Banyak sekali panggilan tak terangkat yang masuk, pesan juga. Sayangnya, ponsel ini dilindungi oleh password.

"Ya ampun, ini ponselku tapi aku sendiri tak tahu passwordnya apa. Eung coba berpikirlah Lee Taeyong.." Aku mencoba mengutak-atik segala kombinasi angka penting yang kutahu. Mulai dari ulang tahun orang tuaku, ulang tahun nunaku, ulang tahunku, ulang tahun pernikahan orang tuaku, semuanya salah.

"Ishh menyebalkan !" Aku lalu menaruh kasar ponsel tadi ke nakas sebelah ranjangku. Aku mulai berbaring menyamping ke arah pintu. Entah, rasanya seperti menunggu seseorang datang. Jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Sekarang dan tadi ketika seorang namja tampan yang tidak kukenal tiba-tiba memelukku. Aish, apa yang sedang kau pikirkan Lee Taeyong. Ngomong-ngomong kemana perginya dokter dan namja tadi. Fiuhh. Tanpa sadar aku menghembuskan nafas kasar.

Aku terkejut, karena tiba-tiba pintu di depan bergeser terbuka. Semakin terkejut karena yang masuk adalah namja tampan tadi. Kurasa wajahku memanas, tetapi segera kuatur raut wajahku agar tidak kentara. Ia tersenyum menampilkan sepasang lesung pipitnya dan melangkah mendekatiku. Reflek, aku ingin bangun tetapi namja tadi menahan bahuku agar berbaring kembali. Tanpa kata di antara kami, akhirnya aku menurutinya untuk berbaring. Kuperhatikan namja itu sedang menarik sebuah kursi dan ia mendudukinya tepat di sampingku. Daritadi aku melongo karena mengagumi wajah tampannya, syukur tidak ada air liur yang keluar dari sudut bibirku. Ia tertawa kecil sambil melihat wajah bodohku, lalu tangannya terjulur meraih selimut, menariknya ke atas dadaku.

"Hyung, apa kau sudah merasa lebih baik? Ada yang sakit?" Suara paraunya menyapa gendang telingaku. Terdengar sedih, namun aku tidak boleh sok tahu.

"Eungg iya..." Aku tidak tahu harus menjawab apalagi. Aku hanya bisa mengangguk dan menjawabnya singkat. Ia lalu tersenyum dan mengelus pelan kepalaku. Aku merasakan kehangatan dari tangannya. Entahlah. Rasa sayang. Yang kutahu, aku sangat senang dengan sentuhannya, tanpa sadar aku menyunggingkan senyum kecil. Tiba-tiba juga penasaran mengusikku. Aku ingin tahu sebenarnya siapa namja ini, dan mungkin sebuah perbincangan singkat tidak akan menyakiti kami berdua.

"Ehmm, boleh aku bertanya?"

"Ya hyung, apa?"

"Jadi sepertinya kau dekat denganku, eung, apa benar ini ponselku?" Aku meraih ponsel yang kulempar ke nakas tadi lalu menyodorkan ponsel itu padanya. Ia mengambilnya pelan dan mengangguk-anggukan kepalanya.

"Iya benar, ahh hyung pasti bosan ya? Ingin bermain game? Hyung menyimpan banyak game disini.." Ia lalu mengembalikan ponsel itu padaku, aku menerimanya dengan raut kebingungan.

"Benarkah? Tapi..." Aku tiba-tiba merasa bodoh karena melupakan passwords ponselku sendiri. Akhirnya aku hanya menunduk sedih dan mengerucutkan bibirku.

"Kenapa hyung? Baterainya habis? Aku membawa charger kok, sebentar ya aku ambilkan di tas.." Namja itu tiba-tiba beranjak dari kursinya, tapi dengan cepat aku menangkap pergelangan tangannya. Ia memandangku dengan tatapan bingung, begitupun juga aku.

"Eh, ada apa hyung.." Ia bertanya lembut padaku.

"Anuu, ituu sebenarnya..." Aku mencicit pelan sambil tetap memegang pergelangan tangannya agar tidak pergi.

"Iya kenapa?" Ia lalu meraih tanganku, mengusapnya pelan lalu kembali duduk di sampingku.

"Aku, maaf. Aku lupa passwords ponselku. Aku tidak bisa membukanya..." Aku bersuara kecil dan hanya bisa menundukkan kepalaku malu karena bisa-bisanya aku lupa. Aku menunggu namja itu menanggapiku, tetapi ia tetap diam. Aku memberanikan diri mendongakkan kepalaku, ternyata dari tadi namja itu memandangku kosong. Matanya memerah dan terlihat sembab. Aku khawatir dengannya lalu kugoyangkan pelan tangannya yang menggenggam tanganku.

"Hey, kau mendengarku kan?"

"Oh i-iya hyung, sini berikan ponselnya padaku.." Ia dengan sigap langsung meraih ponselku tadi, mengetikkan sederet angka dan ajaibnya kunci ponselnya terbuka. Ia tersenyum kecil.

"Hyung, ponselmu sudah terbuka tapi baterainya mau habis. Aku charger dulu ya hyung?" Namja itu menggoyang-goyangkan ponselnya di depanku lalu segera beranjak ketika ia menerima sinyal anggukan dariku.

Ia sedang sibuk dengan charger dan ponselku. Aku hanya bisa memandang punggung tegapnya yang terlihat seksi sekali. Aish semakin lama pikiranku semakin melantur saja. Aku menepuk-nepuk pelan pipiku, dan ternyata ia memergokiku. Aku diam melongo, iapun juga begitu. Pasti ia tidak paham dengn yang kulakukan tadi. Aish. Aku langsung membenamkan kepalaku ke bantal untuk menutupi wajah memerahku. Selamat Lee Taeyong, kau berhasil mempermalukan dirimu sendiri di depan orang.

Jaehyun POV

"Jaehyun-ahh, kurasa Taeyong mengalami hilang ingatan.."

Hilang ingatan. Hilang ingatan. Hilang ingatan. Hanya kata itu yang terngiang berkali-kali di pikiranku.

"A-apaa dok? Maksudnya?" Aku hanya tidak bisa berpikir jernih sekarang. Taeyong yang berlagak tidak mengenalnya tadi ditambah dengan pernyataan dokter sekarang, sukses menghancurkan hatiku. Aku hanya bisa menahan tangisku, namun susah. Air mataku terus mengalir di depan dokter Taeyong hyung.

"Ahhh, maafkan aku dok. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa sedihku.." Aku menundukkan kepalaku dan terus mengusap air mata yang keluar tanpa hentinya.

"Aku memakluminya, Jaehyun. Tapi tolong dengar. Ingatannya hanya sebatas sampai umurnya yang entah keberapa, sebelum ia mengenalmu dan yang lain. Ia sudah pasti ingat dengan keluarganya yang tinggal dengannya sejak ia bayi, namun tidak mengingat dirimu dan teman-temannya satu grup nya yang lain." Aku hanya bisa menyimak pernyataan dokter dengan diam.

"Tolong kembalikan ingatan Taeyong hyung dok...hiks" Aku kembali menangis, menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Tiba-tiba terpikir jika bagaimana bisa Taeyong hyung melupakan segala kenangan manisya denganku. Aku tidak kuat untuk menghadapi faktanya. Fakta jika ia benar-benar melupakan semuanya.

"Aku tidak bisa, tetapi kau dan teman-temanmu bisa mengembalikannya Jaehyun."

"Bagaimana caranya dok? Aku tidak tahu tentang hal kesehatan bagaimana bisa kau menyuruhku. Kau yang bertindak sebagai dokter disini.." Emosi sudah menyulut pikiranku.

"Tenang Jaehyun-ah. Biarkan Taeyong berkembang dan kembali dengan caranya sendiri. Dibantu denganmu, bimbing dia. Jangan memaksanya, tapi kau dan teman-temanmu harus sabar menemaninya. Ia akan menemukan jalan pulangnya padamu dengan sendirinya." Aku diam, dan memberikan isyarat agar dokter melanjutkan perkataannya.

"Jadi aku menyarankan jika Taeyong harus tetap tinggal bersama anggota NCT yang lain untuk memulihkan ingatannya. Walaupun semuanya terasa asing baginya, ingat jangan pernah memaksanya, tapi bimbing dia."

Tidak boleh memaksanya. Hanya bimbing dia. Tidak memaksa. Bimbing. Hanya kata-kata itu yang menemani jalanku menuju kamar Taeyong hyung. Aku memikirkan perkataan dokter tadi tentang keadaan Taeyong hyung. Jadi setelah ini, aku akan masuk dengan keadaan tidak benar-benar dekat dengan Taeyong hyung. Tetap harus bersikap ramah padanya hanya sebagai teman, bukan sebagai kekasih. Aku menggeser pelan pintu kamar Taeyong hyung dan langsung menemukan wajah pucatnya dengan tubuh yang terbaring lemah. Sedikit susah tapi tetap kusunggingkan senyum terbaikku untuknya.

Faktanya adalah Taeyong hyung melupakan kata sandi ponselnya, tetapi ia tetap Taeyong-ku yang imut dan menggemaskan. Lihat bagaimana pipi gembulnya bergerak karena sedang mengunyah buah apel yang aku kupaskan tadi. Perasaan sedih dan senang bercampur dan berkecamuk di batinku. Setidaknya aku bersyukur karena Tuhan masih membiarkan Taeyong hyung tinggal bersamaku. Kulirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam, dan biasanya keluarga Yongie hyung akan datang. Kudengar pintu tergeser terbuka dan suara ibu Taeyong hyung terdengar. Sudha kubilang kan, mereka akan berkunjung.

"Taeyongiee? Kau sudah sadar nak?" Suara ibu Taeyong hyung bergetar, ia melangkah mendekati Taeyong hyung dan memeluknya. Aku beranjak dari kursiku berdiri dan membungkukkan badanku, mengucapkan salam pada keluarga Taeyong hyung yang datang. Nuna Taeyong hyung masuk dengan wajah terkejut diikuti dengan ayahnya yang sama terkejut. Mereka semua mengelilingi anak bungsunya dan memeluknya, takut jika semua ini hanya mimpi. Takut jika Taeyong hyung akan pergi lagi. Aku juga takut hal itu akan terjadi.

"Astaga Yongieeee, kau sudah sadar kan? Kau ingat nuna kan? Lihat jari nuna ada berapa?"

"Ada lima nunaku yang jelek.." Ckck. Aku tertawa kecil mendengar perkataan Taeyong hyung yang mengundang gelak tawa keluarganya. Syukurlah, akhirnya mereka semua dapat tersenyum bahagia setelah beberapa hari ini datang kemari seperti mayat hidup.

"Jaehyun-ahhh, terimakasih sudah menjaga Taeyong ya.." tiba-tiba aku terkejut karena Abeoji (panggilan untuk ayah Taeyong hyung), memelukku. Aku lalu perlahan menyambut pelukannya dengan hangat.

"Ne abeoji, sudah kewajibanku untuk menjaga Taeyong hyung..." Aku melepaskan pelukan Abeoji dan membalas hangat perkataannya. Eomoni dan nuna juga menyunggingkan senyum bangganya padaku.

"Appa..." Itu suara Taeyong hyung. Kami semua langsung menoleh padanya, takut terjadi sesuatu.

"Ne, adeul?" Abeoji menyahuti suara Taeyong hyung. Tidak dapat dipungkiri, terdapat nada khawatir di ucapannya.

"Appa mengenal dia? Nuna dan eomma juga?" Tanya Taeyong hyung dengan kebingungan, jari telunjuknya yang ia arahkan padaku serasa tombak yang menembus relung hatiku. Sakit.

"Siapa? Jaehyun? Jaehyun kan kekas..." Gawat.

"Taeyong hyung, aku Jaehyun. Jung Jaehyun. Teman satu grup-mu.." Maaf sekali Eomonni aku harus menyela perkataanmu. Setelah aku mengatakan jika aku teman Taeyong hyung, semuanya diam seakan membeku.

"Eomoni, Abeoji. Mari berbicara sebentar di luar. Tadi dokter Taeyong menitipkan pesan pada kalian." Dengan sopan aku mengajak orang tua Taeyong hyung untuk berdikusi denganku sebentar di luar tanpa sepengetahuan Taeyong hyung, mereka lalu mengangguk mengerti dan mengikuti langkahku keluar kamar.

Kami keluar dan duduk di sederet bangku yang tersedia di dekat kamar Taeyong hyung. Aku duduk di antara Abeoji dan Eomoni dan mereka sama-sama mengusap pelam bahuku, seakan tahu jika aku sedang tidak baik-baik saja.

"Eomoni..Abeoji..T-taeyong hyung ..ia hilang ingatan tentangku..dan teman-teman kami..Ahh aku minta maaf, aku menangis lagi.." Aku sungguh tidak sanggup lagi jika harus menerangkan pada orang tua Taeyong hyung. Mereka yang seakan paham dengan keadaanku langsung memelukku, menenangkanku, berkata padaku jika semuanya akan baik-baik saja. Malam itu, pertama kalinya aku menangis dengan keras di pelukan orang tua kekasih malangku.

Third's person POV

"Taeyongie..." itu suara nuna Taeyong. Ia sedang mengupaskan adiknya apel sambil mengajak berbincang adik satu-satunya itu.

"Ne nuna ada apa?" Taeyong hanya mengerjap-ngerjapkan matanya lucu menunggu nunanya berbicara padanya.

"Jadi, kau dan Jaehyun sekarang berteman?" Nuna Taeyong menatap selidik ke wajah cantik pucat Taeyong. Taeyong yang tidak tahu maksud nunanya hanya bisa mengerutkan dahi.

"Hah? Aku dan Jaehyunie kan memang berteman." Taeyong menjawab santai pertanyaan nunanya sambil mencomot salah satu potongan apel.

"Yak, kau putus dengannya ya? Pabo ! Bagaimana kau bisa duduk santai memakan apel seperti ini, tanpa penyesalan. Lihat wajah Jaehyun yang sudah seperti mayat berjalan." Nuna Taeyong meninggikan suaranya lalu mencubit pelan perut adik menyebalkannya itu.

"Aww, aishh nuna sakit tahu ! Putus bagaimana sih? Aku saja baru kenal Jaehyunie tadi siang. Nuna jangan berbicara yang bukan-bukan deh. Jaehyun saja tadi mengatakan jika ia temanku kan." Taeyong tidak mau kalah, juga meninggikan suaranya menantang kakak perempuannya itu.

"Taeyong. Astaga. Nuna kesal sekali denganmu. Jangan seperti ini jika sedang bertengkar dengan kekasihmu, berpura-pura tak mengenalnya. Dia baik dan sabar karena masih mau merawatmu. Setelah ini minta maaf pada Jaehyun, nuna tidak mau tahu. Kau harus berbaikan dengannya!"

"Aishh, kekasih apanya, Jaehyun kan memang benar temanku." Taeyong hanya bisa menggerutu menanggapi ocehan kakaknya.

Suara pintu terbuka, orang tua Taeyong kembali beserta Jaehyun. Mereka semua datang dengan senyuman mengembang tanpa tahu luka yang ditutupi. Kakak Taeyong menyikut pelan Taeyong, memberi isyarat agar adiknya yang bandel satu ini segera meminta maaf dan berbaikan dengan Jaehyun. Taeyong hanya memutar bola matanya malas lalu memanggil Jaehyun.

"Jaehyun-ahhh..." panggil Taeyong dengan nada mencicit.

"Ne, hyung?" Jaehyun yang tadi sedang mengemasi barang-barangnya ke tas lalu menengok sebentar ke arah Taeyong.

"Eungg anu itu, eung aku minta maaf, dan mari berbaikan.." Taeyong mengatakannya dengan mantap.

"Hah? Maksud hyung?" Jaehyun yang bingung dengan keadaan, menggerak-nggerakan matanya pada kakak Taeyong meminta bantuan.

"Aishhh, kata nuna aku harus minta maaf padamu dan berbaikan denganmu. Aishh padahal kita kan hanya berteman. Nuna bicara apasih tadi.." Taeyong menatap nuna dan Jaehyun bergantian, wajahnya menyiratkan kebingungan dan kekesalan. Akhirnya Taeyong tidur sambil menutupi seluruh tubuh dan wajahnya dengan selimut.

"Hah ! Sebagai nuna yang baik, aku ingin mendamaikan kalian berdua dari pertengkaran rumah tangga. Tidak salah kan?" Jaehyun yang tiba-tiba paham dengan arah pembicaraan kakak Taeyong tiba-tiba memberikan isyarat mata agar kakak Taeyong keluar kamar mengikutinya. Sebelumnya Jaehyun juga berpamitan ingin pulang ke dorm dan besoknya akan kembali untuk menjaga Taeyong.

"Nuna..."

"Wae?"

"Huft. Aku sudah lelah mengatakannya berkali-kali hari ini. Aku sudah lelah bersedih. Jadi langsung ke intinya saja. Nuna tolong aku."

"Iya, apa?" Kakak Taeyong sudah penasaran di ujung tanduk karena daritadi Jaehyun tidak langsung bilang intinya.

"Taeyong hyung hilang ingatannya tentang aku dan teman-teman kami, jadi nuna sementara waktu ini jangan membahas tentang diriku yang sebenarnya kekasihnya. Ia akan ingat dengan sendirinya nanti. Tolong sekali nuna.." Jaehyun hampir menangis lagi tapi sekarang ia sudah pandai untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.

"HAH? ADIKKU HILANG INGATAN KATAMU?" Tanya kakak Taeyong dengan heboh.

"Astaga nuna, kagetnya nanti saja oke? Tanyakan saja pada Abeoji dan Eomoni tentang Taeyong hyung. Aku akan pulang dulu sekarang. Bye nuna.." Jaehyun melirik jam di arlojinya, ia bergegas meninggalkan kakak Taeyong yang diam kebingungan.

hai, hai sorry ya disini aku ngarang tentang hilang ingatan Taeyong, dan mungkin gak ditemuin di dunia kesehatan. uwoh maafkan aku soalnya ga begitu tau dunia kedokteran. dan maaf baru update. dan maaf kalo chapter ini membosankan huhu. buat ff yg lain, antre ya update-nya, lg sibuk-sbuknya kuliah soalnya kekeke. jangan lupa read n review ya. oh ya aku janji mau balesin review kalian. di chapter depan, oke oke? terimakasih sudah membaca^^