Sulay Fanfiction Indonesia

=Lilac=

Flying White Unicorn

Chapter 4

Kim Junmyeon*Zhang Yixing

Oh Sehun

e)(o

Yaoi

Typo(s)

Rate M

The saddest love is to love someone to know that they still want you but the circumstances dont let you have them

...

Otot-ototnya masih berdenyut pegal, pinggangnya terasa akan patah dan si empunya kerjaan masih tertidur disebelahnya dengan wajah angel nya. Yixing menggerakkan perlahan tubuhnya, masih terasa kaku tapi entah mengapa kesakitan seperti ini membuat dirinya ketagihan. Apa karena orang disebelahnya ataupun karena ia memang sudah membuat dirinya overdose terhadap tusukan-tusukan yang dilakukan Junmyeon.

Yixing bangkit meninggalkan Junmyeon yang masih nyenyak di kasurnya. Hari ini memang tidak ada jam belajar. Junmyeon sudah mengatakan bahwa seharian ini mereka tidak akan keluar kecuali untuk makan. Karena Junmyeon ingin Yixing terus berada di sisinya.

Yixing menghidupkan shower membasahi dirinya dengan pancuran air dingin. Matanya terpejam bibirnya tersenyum mengingat wajah Junmyeon. Hanya membayangkan wajahnya saja sudah membuat Yixing bahagia.

" Senyum memikirkan apa hmm?." Junmyeon memeluk Yixing dari belakang ikut basah dibawah pancuran air.

" J-Junmyeon.. sana.. Aku tidak mau ada orang melihat kita!." Bisik Yixing tegas

" Jawab pertanyaanku? Apa yang kau bayangkan? Siapa?!." Ucap Junmyeon emosi

" Junmyeon sana!." Yixing mendorong Junmyeon

Yixing menarik handuknya kemudian pergi meninggalkan Junmyeon yang bernapas tersengal-sengal karena amarahnya.

Setelah selesai memakai pakaiannya Yixing beranjak untuk terus pergi ke sekolah tanpa mampir memakan sarapannya. Dia masih tidak habis pikir dengan Junmyeon yang selalu saja menaruh curiga dengan dirinya. Apapun yang dia lakukan tanpa sepengetahuan Junmyeon dianggap bermain belakang oleh Junmyeon.

Yixing duduk di kelasnya, menatap sekeliling yang sibuk berbicara satu sama lain, baru Yixing sadari bahwa dia telah lama tidak bersosial layaknya seorang siswa. Bahkan ia sangat takut jika seseorang mengajaknya berbicara, baik itu perempuan maupun laki-laki. Hal itu disebabkan karena Junmyeon yang selalu mengawasinya dari jauh. Ia selalu merasa mata Junmyeon mengikutinya kemanapun dia berada dan bertindak.

Perjanjian yang dia buat sendiri bukannya memperbaiki status dirinya di sekolah. Rekan-rekan kelasnya kini lebih memilih tidak berbicara dengan Yixing karena sifatnya yang berubah menjadi lebih tertutup. Lamunan Yixing terhenti melihat Junmyeon yang masuk ke dalam kelas dengan baju yang masih acak-acak dan butiran air yang menetes di ujung rambutnya. Junmyeon segera menarik tangan Yixing tanpa memperdulikan kursi yang diduduki Yixing terjatuh ataupun pandangan rekan-rekan sekelas mereka. Yixing memilih untuk mengikuti tarikan tangan Junmyeon walaupun tangannya terasa sakit. Lebih baik dia menghindari tatapan sekelasnya daripada mereka mengetahui hubungannya dengan Junmyeon.

Teeet teeeet

Tampaknya Junmyeon tidak memperdulikan suara bell yang berbunyi, Yixing masih terus berada dibelakangnya. Menahan rasa sakit akibat cengkraman Junmyeon. Yixing sudah menduga bahwa Junmyeon juga tidak tahu harus membawa Yixing kemana. Karena Junmyeon terus menarik Yixing menuju kolam renang sekolah yang biasa digunakan untuk pelajaran renang ataupun kompetisi renang.

Bruuk

Junmyeon membuka ruangan kolam renang yang sepi dan sedikit gelap itu. Mencampakkan Yixing ke depannya sehingga Yixing bisa melihat air wajah kemarahan Junmyeon.

" Kenapa kau pergi duluan ke sekolah ha! Siapa yang mengizinkanmu pergi tanpaku?!." Suara Junmyeon bergema di dalam ruangan itu

Yixing melirik kanan kirinya takut jika ada orang yang berada disana tanpa sepengetahuan mereka. Tapi memang ruangan itu tampak kosong. Ditambah lagi ini masih pagi dan bell sekolah baru saja berbunyi. Sudah tentu para penghuni sekolah berada di dalam kelas mereka masing-masing.

" Junmyeon.. Kau kenapa? Kau tidak perlu marah-marah seperti itu." Ucap Yixing lembut

" Kenapa kau tanya? KENAPA?!." Junmyeon bergerak maju ke depan Yixing

Melihat Junmyeon yang maju dengan wajah amarahnya, Yixing memilih mundur. Ia tidak yakin apakah Junmyeon sanggup berbuat kasar padanya. Apalagi hanya karena kesalahpahaman kecil seperti ini. Yixing rasa Junmyeon tidak mungkin akan mengasari Yixing.

" Junmyeon.. Dengarkanlah aku tidak maksud meninggalkanmu..Aku hanya…"

" Hanya apa?! Sudah berapa kali ku katakan kau jangan pernah pergi sendirian tanpa aku!."

Yixing tidak mampu lagi untuk mundur, dia telah berada di ujung dekat dengan kolam selangkah lagi maka dia akan masuk ke dalam kolam renang itu.

Bruuk..

Junmyeon mencengkram leher Yixing kuat, memandang mata Yixing yang tampak kaget dengan apa yang dilakukan Junmyeon.

" Kalau kau tidak mau dengar perkataanku. Apa perlu aku ajarkan untuk bagaimana kau selanjutnya mau mendengarkanku?." Tanya Junmyeon penuh ancaman

Yixing tidak mampu menjawab pertanyaan Junmyeon, napasnya tersengal-sengal akibat cengkraman kuat tangan Junmyeon di lehernya. Yixing salah menduga, ya Junmyeon sanggup berbuat apa saja karena amarahnya. Air mata Yixing menetes tangan nya yang memegang kuat cengkraman Junmyeon di lehernya melemah.

Tampaknya Junmyeon mulai menyadari perbuatannya, perlahan cengkramannya di kendorkan. Leher Yixing terbebas dari tangan Junmyeon. Yixing mendadak tidak mampu menompang tubuhnya sendiri, perlahan Yixing terjatuh dalam kolam renang. Terakhir Yixing hanya mampu mendengar suara Junmyeon memanggilnya dan tangan Junmyeon yang mencoba merahi tubuhnya. Aneh bagi Yixing, dia sama sekali tidak mempercayai tangan Junmyeon. Ia lebih memilih tubuhnya jatuh dalam air dan menjauh dari Junmyeon.

.

.

Dengan panik Junmyeon yang telah berhasil membawa tubuh Yixing naik ke atas, menekan-nekan dada Yixing agar dia bernapas lagi. Tampaknya banyak air yang masuk dalam paru-paru Yixing membuat dirinya susah bernapas.

" Yixing…Ayo lah.. Yixing maafkan aku.. Yixing…"

Junmyeon terus mencoba sambil memberikan napas buatannya.

" Uhuuk Uhuuk…" Yixing terbatuk. Junmyeon membantu memiringkan tubuh Yixing untuk mengeluarkan air.

" Yixing.."

" Uhuk..Uhuuk…"

Junmyeon memeluk Yixing mendekapnya seakan tidak ingin laki-laki itu pergi dari dirinya. Mengelus surai rambut Yixing dan menstranferkan panas tubuhnya ke badan Yixing.

" Yixing mianhe…" Bisik Junmyeon di telinga Yixing

Yixing yang masih lemah hanya diam tanpa mampu menjawab, apa yang di inginkannya hanyalah kembali ke asrama nya dan tidur. Berharap semua kejadian pagi ini hanya sebuah mimpi dan Junmyeon tetaplah seorang pelajar Korea yang lucu dan posesif, bukan seorang yang mampu melakukan apa saja karena sifat cemburunya.

Tidak ada yang berubah sejak kejadian di kolam renang itu, Junmyeon masih mengawasi Yixing dari jauh dan Yixing masih seperti terisolir dari kehidupan sosial nya. Kini Yixing lebih memilih untuk tidak mengekspresikan apapun yang dia rasakan. Yixing lebih merasa takut Junmyeon akan salah paham dengan senyum nya, tawanya dan lirikan matanya pada orang lain. Yixing lebih menyerupai mayat berjalan daripada seorang pelajar.

Setelah selesai belajar dan latihan dance nya. Yixing langsung memutuskan kembali ke asramanya. Berapa kali dia menolak tawaran taktir minum oleh rekan-rekan sesama dance nya karena tidak ingin Junmyeon marah. Yixing masuk ke dalama kamarnya. Junmyeon tengah berbaring di kasurnya sambil mengetik di ponselnya. Yixing tidak ingin mengganggunya memilih untuk berganti baju dan menyelesaikan tugasnya. Yixing membuka bajunya membelakangi Junmyeon yang masih diam.

" Yixing ah… kemari…" Panggil Junmyeon

Yixing yang belum selesai memakai bajunya terdiam di tempatnya. Tidak tahu haruskah dia mengabaikan panggilan Junmyeon dan melanjutkan memakai pakaian ataupun datang ke arah Junmyeon seperti yang di pinta.

" Yixing…" Junmyeon memanggil lagi dengan suara dalam nya

Yixing tahu apa yang terjadi jika dia tidak menuruti keinginan Junmyeon. Secepat mungkin Yixing datang ke arah Junmyeon dengan telanjang dada. Naik ke atas tempat tidur Junmyeon dan menjadikan tangan Junmyeon sebagai bantalnya.

" Yixing… minggu depan adalah minggu terakhirku berada disini. Apa kau tidak sedih?." Tanya Junmyeon

" Tentu saja aku sedih. Aku akan kehilanganmu." Ucap Yixing tulus

" Aku juga. Setelah tamat sekolah berjanjilah kau akan datang ke Korea. Setiap liburan sekolah aku akan mengunjungimu disini."

" Janji?." Tanya Yixing

" Janji.." Ucap Junmyeon

Junmyeon mencium lembut bibir Yixing. Yixing membalasnya dengan kecupan mesra untuk Junmyeon. Ucapkanlah cinta itu buta kepada Yixing, apapun yang telah di lakukan Junmyeon rasanya sama sekali tidak melunturkan perasaan Yixing kepada Junmyeon. Dia tetap tergila-gila pada Junmyeon yang kini mampu membuatnya bertekuk lutut menurut kepadanya.

Junmyeon membuka perlahan celana sekolah Yixing, mencampakkanya dan menggantikan posisinya di atas Yixing.

" Berjanjilah kau akan selalu setia kepadaku Yixing…"

" Ne asal kau berjanji selalu menjagaku Junmyeon.."

" Pasti…" Ucap Junmyeon

Erangan tertahan, goyangan tempat tidur Junmyeon menjadi aktivitas mereka sore ini sambil menunggu waktu mandi dan makan malam nanti.

Junmyeon menyabut juniornya dari lubang Yixing. Yixing yang masih terbaring keletihan hanya mampu diam sambil sedikit meringis. Junmyeon mengecup punggung Yixing. Memandangi salah satu bagian bokong Yixing yang merah keunguan akibat pukulannya terlalu keras tadi. Junmyeon selalu menganggap teriakan kesakitan Yixing akibat pukulannya menaikian libino nya. Membuatnya tanpa sadar terkadang terus memukul hingga bokong Yixing membekas biru. Yixing yang tampaknya sudah paham dengan permainan Junmyeon hanya membiarkan hingga bokongnya sembuh sendiri.

" Kita tunggu mereka makan dulu sehingga kamar mandinya kosong." Ucap Junmyeon

Yixing mengangguk, setidaknya dia masih ada waktu untuk memejamkan matanya sebentar. Memulangkan stamina nya yang telah hilang. Junmyeon memainkan rambut Yixing lembut. Membiarkan Yixing tertidur disampingnya dan menaikan selimutnya hingga tubuh Yixing tertutupi.

Junmyeon memandangi Yixing, wajah Yixing yang lembut. Junmyeon yakin bahwa Yixing akan selalu bersamanya. Walaupun nantinya mereka akan terpisah jauh. Junmyeon senang Yixing menuruti semua perkataannya. Junmyeon mengecup pipi Yixing lembut, berharap bahwa dia tidak akan pernah kehilangan momen bersama Yixing sedikitpun.

.

.

Derap langkah dan tawa murid terdengar di berbagai penjuru lorong sekolah, Yixing dan Junmyeon berjalan beriringan tanpa berbicara. Tangan Yixing yang sibuk membawa beberapa buku. Sedangkan Junmyeon yang sibuk melempar dan menangkap bola kasti di tangannya bersikap seakan mereka tidak memiliki hubungan lain selain rekan satu asrama dan satu kelas.

" Yixing!.."

" Ne.."

" Tadi kepala sekolah menyuruhku untuk mencarimu. Kau diminta untuk menemuinya di ruangan kepala sekolah."

" Oh baiklah. Terimakasih Bei Bong."

Yixing melirik Junmyeon seakan mengulang perkataan Bei Bong tadi. Yixing tahu Junmyeon juga dapat mendengar perkataan tadi. Junmyeon mengangguk.

" Aku tunggu dikelas." Gumam Junmyeon pelan mengambil buku yang dipegang Yixing dan melanjutkan perjalanannya ke kelas.

Yixing memeriksa rapi bajunya sebelum dia benar-benar menuju ruangan kepala sekolah.

Tok tok

" Silahkan masuk…"

" Permisi pak.." ucap Yixing lembut

" Oh Zhang, duduklah dahulu." Ucap kepala sekolah

Yixing mengambil tempat duduknya, memandang kepala sekolahnya yang sibuk mencari sesuatu di atas mejanya.

" Nah ini dia…" Kepala sekolah menyerahkan sebuah brosur kepada Yixing

Yixing menerimanya dan membacanya. Brosur yang berisikan tentang tawaran pekerjaan bagi siswa dalam bentuk prestasi dan tambahan uang saku untuk posisi mengajar dance di salah satu sekolah yang agak lumayan jauh dari kotanya kini.

" Hmm…"

" Aku tahu Zhang, ini akan memakan waktu belajarmu. Tapi kurasa tidak akan apa-apa. Kau salah satu siswa berprestasi kami. Dan kurasa tawaran ini sangat cocok untukmu. Apapun yang kau lakukan, sekolah akan mendukungmu." Ucap kepala sekolah memyemangati Yixing.

" Untuk berapa lama ini sir?."

" Seperti yang tertera di brosur, mulai minggu depan hingga kurasa memakan waktu tiga minggu saja. Kau bisa melanjutkan pelajaranmu disekolah itu nantinya selama tiga minggu. Yayasan dan pihak penyelenggara akan mengurusnya. Lumayan Zhang, uangnya bisa kau tabung untuk biaya kuliah mu nanti." Ucap Kepala sekolah.

Yixing diam memikirkan, benar kata kepala sekolahnya. Uang yang didapatkannya nanti bisa digunakannya untuk modalnya pergi ke Korea menyusul Junmyeon nantinya. Lagipula liburan sekolah masih lama kemungkinan Junmyeon datang kembali dekat-dekat ini nantinya tidak ada.

" Baiklah, saya mau sir."

" Nah begitu, saya akan mendaftarkan namamu sebagai perwakilan dari sekolah kita."

Yixing meminta izin, ia keluar ruangan kepala sekolah sambil memikirkan. Apakah sebaiknya dia memberitahukan Junmyeon ataupun tidak.

Junmyeon tersenyum melihat kedatangan Yixing kedalam kelas, Yixing membalasnya dengan senyuman dan kedipan seakan memberitahu bahwa dia baik-baik saja. Pelajaran tetap dimulai sebagaimana mestinya. Yixing mengambil bukunya dan larut dalam pelajaran tanpa menyadari tatapan Junmyeon yang terus tertuju kepadanya.

Tangan Junmyeon terus merobek-robek kertas, telinganya mendengar penjelasan dari pihak pengajar di depan tetapi matanya tidak lepas dari Yixing yang sibuk mencatat apa yang dikatakan si pengajar. Bagaimana dia bisa fokus belajar jika Yixing yang sejak masuk ke dalam kelas tadi tidak menjelaskan mengapa dia dipanggil oleh kepala sekolah.

Junmyeon menuliskan secarik kertas dan menggeserkannya untuk dibaca oleh Yixing.

Kenapa kau dipanggil kepala sekolah?

Yixing tersenyum, dia sudah menduga jika Junmyeon akan mempertanyakan kejadian tadi. Yixing menuliskan balasan dan memberikannya ke Junmyeon.

Hanya soal latihan dance. Bukan sesuatu yang penting.

Junmyeon akhirnya tersenyum membaca pesan dari Yixing dan menunjukkan simbol okay dari tangannya kepada Yixing. Yixing membalasnya dengan senyuman. Yixing memilih untuk tidak memberitahukan Junmyeon. Ia tahu jika ia mengatakannya pada Junmyeon pasti Junmyeon tidak akan setuju. Alih alih dia malah akan memberikan uang kepada Yixing sebagai modalnya untuk pergi ke Korea nantinya.

…..

Begitu selesai pelajaran mereka langsung menuju asrama. Begitu di dalam kamar mereka, Yixing meletakkan buku pelajarannya ke atas meja belajarnya. Junmyeon yang langsung membaringkan tubuhnya di kasur hanya menatap kekasihnya yang rajin dan telaten seperti seorang wanita.

" Gantilah dulu baju baru istirahat." Ucap Yixing kepada Junmyeon

" Gantikan, tolong…" pinta Junmyeon

Yixing tersenyum kemudian mendatangi Junmyeon yang langsung duduk di kasur nya. Yixing membuka baju Junmyeon layaknya seorang pelayan kepada raja nya. Junmyeon mendengus-dengus telinga Yixing. Membuat Yixing kegelian sambil terus membuka baju Junmyeon.

" Sini, kau juga kubantu.." Ucap Junmyeon membuka baju Yixing

Wajah Yixing bersemu merah, ia tahu ini bukan sekedar bantuan membukakan bajunya. Melainkan menghabiskan waktu mereka seperti biasa hingga tiba waktunya untuk makan malam nanti.

Junmyeon terus mengendus telinga Yixing kemudian menuju lehernya. Mengecup perlahan membuat Yixing memejamkan matanya menahan desahan.

Teeet teeet teeeet

Junmyeon menghentikan perbuatannya, matanya menatap layar ponselnya yang tergeletak di sebelah kasurnya. Melihat siapa yang mengganggu aktivitasnya bersama Yixing. Tulisan young brother tertera di layar ponsel. Yixing beranjak dari depan Junmyeon, tidak ingin mengganggu Junmyeon yang akan mengangkat teleponnya.

" Halo.."

Junmyeon diam tampaknya mendengarkan si lawan pembicara diseberang telepon. Yixing hanya menatap Junmyeon. Junmyeon tidak mengeluarkan ekspresi apapun ataupun perkataan lainnya.

" Baiklah.. besok hyung akan pulang. Sabarlah…"

Yixing yang mengerti bahasa Korea terus melihat Junmyeon dengan tatapan was was nya. Untuk apa Junmyeon akan pulang lebih awal dari rencananya sedangkan dia memiliki 5 hari tersisa untuk bersama.

" Junmyeon?." Mata Yixing menuntut penjelasan

" Yixing, adikku..adikku sakit.. dia memintaku untuk pulang. Aku akan memesan penerbangan pagi besok. Maafkan aku."

" Baiklah… Terus hubungi aku jika kau nanti berada disana. Aku akan membantumu mengemas barang-barang mu." Ucap Yixing

Junmyeon mengangguk kemudian sibuk dengan ponselnya untuk memesan tiket pesawat, Yixing membelakangi Junmyeon memeriksa baju-baju Junmyeon yang akan di susun nya dalam koper. Sesungguhnya hatinya terasa sedih melihat rencana kepulangan Junmyeon yang lebih awal. Tetapi Yixing harus menyadari cepat atau lambat dia akan terpisah jarak dengan Junmyeon. Setidaknya nanti dia akan mempunyai aktivitas untuk mengurangi pikirannya kepada Junmyeon.

TBC

*JANGAN LUPA REVIEW KAKA^^*

Mianhe mianhe karena slow update T.T moga belum pada lupa yah ceritanya xoxo

Makasih juga untuk beberapa review yang caem-caem dan saran muaach

Makasih juga yang udah review sexically sexicall yang minta sequel or lanjutannya duh author belum tahu mau ada lanjutan apa engga.. terbayang sih cuma memang ga kelihatan maksa kalau dijadikan perchapter nantinya? Soalnya kan udah ditulis END(?) hihihi