Halooo!
Aku update fic living With You nih, masih ada yang inget gak yah? Hehe
Oke deh, gak usah basa basi lagi, langsung ke bagian cerita aja yaaa :)
Let's Read!
Living With You? Oh...No!
Inspirated: L-DK
Disclaimer : Naruto cuma milik Akang Masashi yang terhormat *plak* :lebay:
Rate : T = T+
Genre : Romance, Friendly, Hurt/Comfort, Humor (Maybe), and...etc
Pairing : SasufemNaru, GaafemNaru
Warning ! : EYD abal-abal, OOC, OC, banyak Typo, Gaje, alur cepat, aneh, gak dimasuk akal, dan banyak lagi^^
If you don't like this story, don't read! okay?!
Sasuke Uchiha : 16 Tahun
Naruto Uzumaki : 15 Tahun
Sabaku No Gaara : 17 Tahun
Anko : 31 Tahun
Ino Yamanaka : 15 Tahun
Chapter 4
"Selamat datang, Naruto," sapa pemuda bernama Gaara tersebut kepada Naruto. Dan Naruto yang disapa Gaara langsung membalasnya dengan senyuman ramahnya.
Gaara membalas senyumannya, namun sayangnya senyuman itu cuma bertahan 5 detik, tepatnya saat kedua matanya beralih kearah baju yang Naruto pakai. Gaara mengerutkan kening heran ketika melihat sebagian tubuh Naruto yang sudah basah kuyup itu sedang melihat-lihat kue-kuenya, dan dia semakin heran ketika tahu bahwa Naruto sama sekali tidak kedinginan didalam ruangan yang notabene ber-AC tersebut. Gaara sempat mengalihkan perhatiannya ke arah pintu keluar, bermaksud mengecek sesuatu yang saat ini tengah mengganggu pikirannya. Namun apa yang ia cari ternyata 'tidak ada', sehingga dirinya pun kembali mengalihkan perhatiannya lagi ke Naruto yang masih keasikan melihat-lihat kue-kuenya dengan ekspresi seperti anak SD.
'Dasar anak ini, tidak pernah berubah,' bisik Gaara dalam hati seraya menghela nafas pelan maklum kearah Naruto.
"Ano, apakah aku boleh mencobanya?" tanya Naruto yang membuyarkan lamunan Gaara.
"Ah? Hmm, tentu saja. Kau boleh mencobanya," balas Gaara lembut seraya mengambilkan sebuah kue mungil berbentuk kelinci yang diinginkan Naruto dengan penjepit. Sedangkan si peminta malah berteriak kesenangan disaat Gaara sedang mengambilkan kuenya.
"Didalam kue kecil ini diisi krim coklat khusus dari Swedia , dan gula-gula halus yang dijadikan bulu dari kue kelinci ini adalah serbuk gula yang di fermentasi dari bambu manis asli dari negara Indonesia. Jadi kalau kita memakannya, akan memberikan kesan lembut dan manis alami yang tiada habisnya di mulut kita," jelas Gaara sembari memberikan sebuah kue kelinci berwarna coklat yang ia ambil kepada Naruto.
"Aduh, walaupun bentuknya kecil, sepertinya kue ini kelihatan spesial dan mahal banget ya? Aku jadi...gimana yah? Hehe," gumam Naruto dengan wajah memerah karena malu. Sedangkan Gaara terkekeh pelan mendengar penuturan Naruto yang terdengar plin-plan tersebut.
"Tidak apa-apa, hitung-hitung sebagai penglaris, soalnya kue ini baru saja kubuat," balas Gaara dengan nada sangat lembut.
"Eh? benarkah? Jadi kue ini...kamu yang buat?!" sahut Naruto terkejut. Sedangkan orang yang ia tanya cuma tersenyum tipis didepannya.
"Hebat, ternyata bukan hanya jago masak, tapi Gaara-san juga jago membuat kue berkelas seperti ini," gumam Naruto dengan mata berbinar-binar di depan meja yang tertata kue-kue kelinci buatan Gaara.
"Kau terlalu berlebihan memujiku, Naruto. Aku tidak sehebat itu," balas Gaara merendahkan diri.
"Heemm, Gaara-san selalu merendahkan diri ya," goda Naruto dengan kedua alis terangkat berkali-kali.
"Sudahlah, berhenti menggodaku. Lebih baik kau coba kue buatanku itu," balas Gaara mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ah, iya! Aku coba ya! Itadakimasu!" sahut Naruto senang dan kemudian memakan kue kelinci tersebut dengan sekali lahap.
"Bagaimana?" tanya Gaara penasaran sambil memandangi wajah Naruto yang sedang keenakan mengunyah kuenya.
"Enak! Manisnya pas-ttebayo! Seperti yang kau bilang, manisnya terasa tiada habisnya di mulutku, heemm," sahut Naruto sembari menjilati bibirnya sendiri, dan Gaara yang melihat kelakuannya hanya tertawa-tawa kecil.
"Sepertinya kue-ku bakalan laris."
"Eh?" desah Naruto bingung.
"Soalnya senyuman Naruto-'chan' selalu memberikan keberuntungan," balas Gaara sambil mencubit gemas kedua sisi pipi Naruto.
"Hehe, benarkah?" gumam Naruto dengan kedua pipi yang memerah karena tersanjung dengan pujian Gaara. Namun tak lama setelah dia berkata demikian, tiba-tiba saja dirinya ingin sekali bersin, sehingga dengan refleks dirinya pun memunggungi Gaara untuk melontarkan bersinnya. Sebab, dirinya tidak mau terlihat memalukan didepan pemuda tampan yang ia anggap kakaknya itu.
"Gomenasai," seru Naruto meminta maaf sambil menoleh kebelakang dengan pipi semerah tomat. Merasa bahwa sikapnya itu masih memalukan. Wajah Gaara memerah melihat wajah polos Naruto hingga akhirnya melepaskan jaket nya dan memakaikannya ke Naruto dan kemudian berkata
"Kenapa kamu tidak membawa payung?" tanya nya lembut sembari mengeratkan kerah jaket nya di kedua bahu Naruto.
"Eh? Hehe..." gumam Naruto tertawa pelan sambil menggaruk-garuk belakang rambut pirangnya.
"Jangan memasang wajah bodoh begitu, seharusnya kamu pasti tahu dong kalau diluar hujan?" balas Gaara sembari mengangkat kedua alis nya dan membuang nafas.
"Maaf, tadinya sih tidak hujan. Tapi pas aku sampai disini, tiba-tiba saja hujan turun. Jadi...aku tidak sempat membawa payung," sahut Naruto.
"Ha-ah, kalau begini, bagaimana caranya kamu pulang? Sepertinya hujannya bakalan awet nih," ujar Gaara sambil menggaruk-garuk pinggir dahi kirinya ketika melihat hujan yang semakin deras dari jendela kaca toko.
"Ah, aku tidak apa-apa. Jangan khawatirkan aku...ittei!" sangkal Naruto mencoba menolak hingga akhirnya mendapatkan jitakkan Gaara.
"Bagaimana mungkin aku tidak mengkhawatirkanmu, baka? Kalau kamu sakit, kamu bakal ngerepotin orang sekitar tahu," tukas Gaara tegas saat menjitak Naruto.
"Sumimasen~" sahut Naruto sembari menundukkan kepalanya dengan wajah cemberut. Sedangkan Gaara terkekeh pelan melihatnya hingga kemudian mengelus-elus puncak rambut pirang Naruto dengan lembutnya.
"Yosh, biarkan kuantarkan ya."
"Eh? Tapi..."
"Tidak apa-apa, saat ini toko sedang tidak ramai kok, tunggu sebentar ya," potong Gaara sambil berjalan meninggalkan Naruto menuju ruang staff di bagian belakang counter.
"Go...menasai," balas Naruto akhirnya. Karena dirinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menolak, apalagi kalau Gaara sudah memaksanya begitu. Naruto sebenarnya tidak mau merepotkan Gaara sampai harus mengantarkannya pulang, apalagi dalam keadaan Gaara yang sedang bekerja. Tetapi ketika melihat kue-kue itu lagi, dirinya dengan mudahnya langsung melupakan perasaan yang merasa gak enak itu dan malah keasikan mencoba berbagai macam rasa dan warna kue-kue kelinci yang terpampang itu.
Dilain sisi, kedua pegawai perempuan yang notabene penjaga counter kasir dan penyambut customer tadi itu kini tengah asik berbisik-bisik tentang Naruto di stand counter kasir disana.
"Cewek itu, sebenarnya siapanya Gaara-san sih?" tanya penjaga kasir yang berlabel 'Maeko' pada ID pegawai nya.
"Tidak tahu, tapi dari sifat Gaara kepadanya tadi itu...sepertinya mereka memiliki hubungan yang spesial," sahut penyambut customer yang berlabel 'Sawajika' di kartu ID pegawai nya.
"Benarkah? eeehh~," gumam Maeko sambil memasang wajah tertarik kearah Naruto.
"Kau kenapa?" tanya Sawajika dengan alis berkerut saat melihat ekspresi temannya yang menurutnya terlihat aneh tersebut. Sebab Maeko dengan tiba-tiba saja langsung memasang wajah seperti itu tanpa alasan yang logis.
"Aku agak tertarik dengan cewek itu," sahut Maeko masih memandangi Naruto yang tengah sibuk dengan dunianya sendiri.
"Hah?" desah Sawajika masih agak bingung.
"Apa kau ingat pembicaraan kita dulu tentang Gaara-san?"
"Tentang Gaara-san yang tak pernah tersenyum?"
"Betul!"
"Kenapa dengan itu? Apakah ada hubungannya?"
"Ihh, kau itu yaa..., apa kau tidak melihat wajahnya Gaara-san tadi? D-i-a t-e-r-s-e-n-y-u-m. Bahkan agak banyak tersenyum," bisik Maeko hati-hati dan perlahan-lahan namun pasti. Dan Sawajika yang mendengar perkataannya itu, kini tengah sibuk dengan pikirannya sendiri. Lalu beberapa menit kemudian, dirinya pun tersadar dengan tepukan pelan dari kepalan tangan kanan diatas telapak tangan kirinya lalu bergumam 'Oh iya!' dengan ekspresi yang seolah baru saja ingat sesuatu.
"Benarkan? Aneh tahu, kok Gaara-san yang tak pernah tersenyum kepada kita bisa tersenyum dengan tulus kepada cewek itu. Makanya aku tertarik. Dan sepertinya aku setuju denganmu kalau mereka pasti memiliki hubungan yang spesial, mustahil kalau Gaara-san tersenyum setulus itu kepada cewek yang cuma sekedar 'teman', apa menurutmu mereka pacaran?"
"Siapa yang pacaran?" sambut Gaara yang entah sejak kapan sudah berada dibelakang mereka berdua. Mereka yang menyadari hal itu tentu saja langsung tersentak kaget dan mengalihkan wajah karena malu.
"A-a-ano...itu...tetanggaku...iya 'kan Sawajika?" gumam Maeko dengan nada dan deru nafas yang tidak teratur sembari menyikut pinggul teman sebelahnya untuk meminta bantuannya.
"I-i-iya...ja-jangan salah paham. La-lagipula ini pembicaraan cewek, tidak baik kalau kau menguping tahu," ikut Sawajika dengan logat yang tidak beda jauh dengan Maeko.
"Apakah dengan membicarakan orang dari belakang juga bukan tindakan yang tidak baik?" balas Gaara pelan namun dingin, sembari berjalan meninggalkan mereka berdua yang tengah menelan ludah dengan keringat panas dingin yang menyusuri sekitar wajah mereka. Entah apa sebabnya pikiran mereka langsung kosong, tetapi yang pasti hal itu terjadi ketika mereka mendapatkan teguran dari Gaara. Yang rasanya suaranya sampai menusuk ke tulang-tulang mereka dan kemudian berlanjut ke bagian saraf otak mereka.
"Maeko-san," panggil Gaara ketika ia tiba didepan Naruto yang saat itu tengah berputar kearah counter.
"Ha'i!" sahut Maeko menanggapi dengan lantang nya, namun masih dengan ekspresi yang sama seperti sebelumnya.
"Aku sudah minta ijin sama Manager kalau hari ini aku akan mengantar temanku pulang sebentar. Jadi kalau ada apa-apa, hubungi aku ya."
"Ha'i, aku mengerti."
"Terima kasih," balas Gaara hingga kemudian meninggalkan toko setelah Naruto membungkuk hormat kepada mereka berdua.
Seiring mereka berjalan menuju apartment, mereka berdua membicarakan banyak hal untuk membuang waktu, tetapi diantara pembicaraan yang banyak itu, Naruto lah yang paling banyak bicara, bahkan sebagian dari perkataannya itu ada yang melenceng jauh sehingga memberikan kesan tidak nyambung dan aneh. Gaara memaklumi hal itu, sebab dari awal Gaara memang tidak memiliki banyak topik pembicaraan untuk dibicarakan. Jadi, dia biarkan saja Naruto berbicara semaunya.
Ketika mereka hampir tiba di apartment, tiba-tiba saja mood Naruto menurun. Yang awalnya suka bicara banyak, tertawa-tawa, dan cengar-cengir gaje tiba-tiba saja berubah jadi pendiam, cemberut, dan terlihat banyak pikiran, lebih tepatnya memikirkan kamarnya yang berantakan karena ulah Sasuke. Gaara yang melihat hal itu tentu saja merasa khawatir, tetapi meskipun begitu, entah kenapa mulut Gaara sulit sekali menanyakannya, seakan mulutnya ini tidak mau mengikuti keinginannya itu. Padahal momen seperti ini adalah momen yang tepat untuknya agar bisa lebih dekat dengan Naruto. Sebenarnya apa gerangan yang membuat mulutnya kaku begini? Padahal sebelumnya ia biasa-biasa saja, pikirnya.
"Ano...Gaara-san, kurasa sampai disini saja, terima kasih sudah mengantarku," ujar Naruto sambil setengah membungkuk hormat ketika nya tiba didepan anak tangga menuju rumah apartment nya. Mencoba mencegah Gaara agar tak lebih jauh mengantarnya. Sebab, dirinya tidak mau Gaara mengetahui rahasianya yang saat ini tinggal bersama dengan seorang cowok, apalagi cowok itu punya sifat 'bejat'. Apa yang dikatakannya nanti kalau misalkan dia tahu? Dan ekspresi apa yang ia berikan kalau misalkan dia tahu rahasianya yang paling memalukan itu? Kesal kah?, benci kah?, jijik kah?, tertawa kah?, atau mengejek kah?. Dari semua yang ia bayangkan itu, tidak ada satupun yang mau ia jadikan kenyataan. Jadi, untuk mencari aman, beginilah caranya.
"Eh? Apa tidak apa-apa? Tapi 'kan masih hujan..."
"Tidak apa-apa, bukankah Gaara-san masih banyak kerjaan?"
"Hehe, jangan khawatir. 'kan tadi sudah kubilang kalau saat ini toko sedang tidak ramai. Lagipula aku ingin melihat kamarmu yang sekarang sekaligus aku ingin mampir sebentar, jadi..."
"Jangan begitu Gaara-san. Nanti kamu bisa-bisa dipecat kalau terus begitu."
"Eh? Apakah perkataanku membuatmu kesal?"
"A-ano...maaf, aku tidak bermaksud...po-pokoknya..."
"Hehe, baiklah aku mengerti. Jangan dipikirkan omonganku barusan, cuma bercanda kok. Kalau begitu aku kembali bekerja dulu ya," potong Gaara lembut sambil lagi-lagi mengelus-elus ujung rambut pirang Naruto gemas, sedangkan Naruto yang diperlakukan demikian semakin menundukkan kepalanya karena semakin malu atas kelakuannya tadi, apalagi dengan sikap Gaara yang seolah perkataannya tadi tak pernah terlontar dari mulutnya itu.
"Tetapi sebelum itu, pakailah payungku ini," lanjut Gaara sembari mengarahkan payung nya kearah Naruto. Dan karena perkataan Gaara tersebut, Naruto pun kembali mendongah.
"Eh? Tapi kamu..."
"Aku tidak apa-apa. Ittekimasu," lanjut Gaara seraya melambaikan tangan kanannya kearah Naruto dan kemudian berputar perlahan kearah jalanan hingga akhirnya berlari menuju persimpangan didepannya.
"Itterashai," sambut Naruto sambil tersenyum saat membalas lambaian Gaara itu. Lalu ketika Gaara tengah melewati persimpangan jalanan didepan, Naruto bergumam 'Maaf Gaara-san' dengan nada sangat menyesal, dan kemudian berlari menaiki tangga. Yang kini wajahnya berubah menjadi ekspresi murka layaknya ratu iblis.
"Si sialan itu, berani-beraninya dia membawa cowok ke kamarku. Memangnya dia siapa? Kakak bukan, saudara bukan, teman baik pun juga bukan! Memang benar aku punya tanggung jawab karena telah merusak kamarnya, tetapi bukan berarti dia bisa melakukan apapun seenak udelnya! Awas saja, pasti aku akan membentak nya sepulang nya dia main sama teman anehnya it...huatchu!" ketusnya kesal sampai pada akhirnya bersin dengan kerasnya. Dia menghembuskan nafas seberat mungkin, merasa agak terganggu dengan hidungnya yang beberapa saat ini sering bersin. Bahkan rasanya akhir-akhir ini hidungnya agak mampet, sehingga sulit sekali bernafas. 'Apa aku kena flu ya?' pikirnya dalam hati ketika sesampainya dia didepan pintu kamarnya.
"Are?" gumam nya ketika menyadari bahwa pintu kamarnya agak terbuka, tepatnya disaat Naruto mencoba menyentuh kenop pintunya itu. Naruto mulai berpikir keras dan bertanya-tanya dalam hati, apakah Sasuke tidak jadi pergi sama temannya itu. Dan karena terlalu banyak memikirkan hal itu, otaknya pun mulai menyimpulkan banyak hal yang menggelisahkan, dan sampai pada akhirnya berakhir dengan mengatakan
"Jangan bilang temannya itu masih dikamarku!" bisik nya pelan dengan keringat dingin bercucuran di wajahnya, sembari sedikit mengintip di celah pintu kamarnya yang terbuka, bermaksud mencoba memastikan kebenaran dari perkataannya itu.
Lalu, tak berapa lama ketika ia mengintip kamarnya sendiri, dirinya mendapatkan sesosok pemuda yang melesat keluar dari kamar mandi sehingga dirinya kembali menyembunyikan wajahnya dibalik pintu. Tetapi ketika menyadari kalau pemuda itu adalah Sasuke, wajahnya pun kembali kusut dan kemudian berjalan masuk ke kamar setelahnya meletakkan payung milik Gaara di sudut pintu.
"Tadi itu, apa maksudmu membawa temanmu ke kamarku, hah?" ketusnya tanpa basa-basi lagi ketika sesampainya dirinya disebelah Sasuke.
"Apa-apaan kau, pulang-pulang langsung marah. Seperti nenek-nenek yang sedang depresi saja," balas Sasuke sembari memakai baju kaosnya.
"Jawab saja!" bentak Naruto tanpa memperdulikan Sasuke yang sedang memakai pakaiannya.
"Dia memaksaku, aku tidak punya pilihan lain lagi," balas Sasuke setelah menghela nafas panjang karena merasa agak jengkel dengan kalimat yang agak memaksa dari Naruto tersebut.
"Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak mengaitkan masalah ini ke teman sekolah kita. Apa kau lupa? Kita bisa dikeluarkan dari sekolah kalau ketahuan tinggal bersama!"
"Harus berapa kali aku mengingatkanmu? Abaikan saja hal itu."
"Bagaimana mungkin aku bisa mengabaikannya kalau sudah begini, bodoh!" sembur Naruto dengan pipi memerah menahan emosi. Sasuke memutar bola matanya jengkel hingga kemudian menepuk dahinya sendiri, mencoba untuk menahan sisi lainnya yang ingin sekali membentak Naruto dan melawannya habis-habisan.
"Dengar ya, dobe. Percaya saja padaku, dia bukan tipe cowok yang punya mulut lebar. Jadi tentang masalah yang kau khawatirkan itu tak akan mungkin menjadi kenyataan. Lagipula meskipun dia tahu pun, dia pasti bakalan lupa, karena dia terlalu bodoh dan agak pikun. Mengerti?"
"Bagaimana mungkin aku bisa mempercayaimu? Kau terlalu banyak menipuku," cibir Naruto seraya mengerutkan kening kearahnya.
Sasuke menghela nafas, dan lagi-lagi menepuk dahinya ketika mendengar penuturan Naruto tersebut. Lalu kedua matanya beralih ke jaket kelabu yang dipakai Naruto. Jaket siapa itu? Pikirnya saat melihat jaket yang lebih besar dari tubuh Naruto tersebut. Dia bingung, karena setahu dia Naruto tak pernah memiliki jaket seperti itu, yang ia tahu Naruto hanya memiliki beberapa sweater tipis, jaket khusus musim dingin, dan berbagai macam short bolero, tak pernah sekalipun dirinya melihat jaket kelabu itu saat mencuci pakaian. Apalagi tadi dia keluar tanpa membawa jaket, sehingga membuat dirinya jadi semakin yakin dengan kesimpulannya itu.
"Ngomong-ngomong, jaket siapa itu?" tanya Sasuke sambil mengangkat sebelah alis ingin tahu.
"Ah ini? Ini jaket milik temanku, dia meminjamkannya. Soalnya bajuku basah," sahut Naruto seraya melepaskan jaket Gaara yang ia pakai.
"Cowok?" tanya Sasuke lagi, namun sekarang dengan nada sedikit mengejek.
"Iya cowok," sahut Naruto selagi meletakkan jaket nya ke kursi meja belajarnya.
"Hmm, jadi tadi kau kencan ya?" gumam Sasuke santai.
"Ha! Tidak! Mana mungkin! Aku hanya..."
"Jadi bukan kencan ya? Apa kau pernah kencan sebelumnya?" tanya Sasuke lagi sambil tersenyum kecut merendahkan.
"Eh? Kenapa tiba-tiba...?"
"Jadi belum pernah ya? Kasihan sekali," balas Sasuke sambil memasang wajah iba.
"Ap-apa masalahmu?! Ja-jangan memasang wajah kasihan begitu padaku, sialan!" sembur Naruto tidak terima, namun dengan wajah yang memerah karena malu.
"Hn, biar kuberitahu ya. Ada mitos yang mengatakan kalau cewek SMA yang belum pernah kencan pasti nantinya akan menjadi perawan tua."
"Mi-mitos macam apa itu! Ak-aku tidak pernah mendengarnya!" gagap Naruto dengan suara serak.
"Mitos buatanku sendiri."
"Hah? De-dengar ya, aku tidak perduli. Lagipula aku punya teman, yang bisa diajak bercanda dan bermain. Meskipun aku tidak pernah kencan, tetapi aku tetap bahagia dan..."
"Ganbatte!" potong Sasuke setengah berteriak mengejek.
"Kau ini...kau benar-benar..."
Sebelum Naruto menyelesaikan omongannya, tiba-tiba saja kepalanya rasanya pusing dan tubuhnya juga lemas sekali. Dan kemudian, dirinya mulai tak kuat menahan kakinya lagi, sehingga ia pun mulai kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh tepat di pelukan Sasuke disaat Sasuke melesat menahan tubuhnya dari belakang.
"Hei, kau tidak apa-apa?" bisik Sasuke disaat menahan tubuh Naruto, namun Naruto tidak menjawabnya.
Sasuke menyadari deru nafas berat Naruto, dan dia juga menyadari bahwa wajah Naruto saat ini agak sedikit pucat dan lesu, sehingga dia mengambil tindakan untuk mengecek kondisi Naruto dengan menempelkan dahinya ke dahi Naruto. Mencoba merasakan temperatur suhu panas kepala Naruto.
"Kau demam?" bisik Sasuke pelan disela-sela menempelkan dahinya. Dan Naruto yang kembali tersadar dan mendengar suara Sasuke pun mulai terkejut melihat begitu dekatnya wajah Sasuke dengan wajahnya. Lalu beberapa detik kemudian wajahnya pun mulai memerah dan rasanya pipinya menjadi sangat panas sekali, bahkan sekarang suhunya jadi tidak teratur, apalagi ketika tanpa sengaja menghirup deru nafas Sasuke yang harum itu.
"Ap-apa...yang kaulakukan?" gumam Naruto seraya berjalan mundur 2 langkah menjauhi Sasuke.
"Aku hanya mengecek suhu mu, dan sepertinya kau demam," sahut Sasuke kembali datar.
"Aku tidak apa-apa...ini cuma flu ringan. Lagipula kenapa kau perduli?" balas Naruto ketus sambil menutup setengah wajahnya dengan tangan kirinya untuk menutupi pipinya yang memerah.
"Hn, tak tau terima kasih," gumam Sasuke pelan dengan nada agak mencibir, hingga kemudian mendengus pelan dan berputar kekanan untuk mengambil jaket hitam miliknya yang ia gantung didekat meja belajar milik Naruto.
Selang mereka terdiam dan sibuk dengan fikiran mereka masing-masing, bel kamar Naruto berbunyi sebanyak dua kali, membuat kedua penghuni yang berada didalam kamar itu teralih kearah pintu. Lalu ketika Sasuke ingin menghampiri pintu tersebut, Naruto langsung melesat berlari kecil menghampiri Sasuke, mencoba menghalangi Sasuke untuk tidak membuka pintu itu. Sebab, dia takut kalau yang memencet bel itu adalah temannya atau orang yang ia kenal. Kalau misalkan Sasuke yang membukanya, bisa gawat nantinya.
"Kenapa kau menghalangiku?" tanya Sasuke dingin dengan alis berkerut tidak suka.
"Ssstt! Biar aku saja yang membukanya, kau bersembunyi saja sana," desis Naruto seraya mendorong punggung Sasuke kearah kamar mandi.
Naruto berjalan menghampiri pintu itu untuk membuka pintu kamarnya, dan sesampainya disana dan membuka pintunya, dirinya mendapatkan seorang pemuda berambut merah bata tengah berdiri tegak dengan sebuah lipatan kertas yang ia pegang di tangan kirinya.
"Gaara-san, ada apa? kok kamu balik lagi? Ah pasti ingin mengambil jaket dan payung ya?" tanya Naruto dengan senyuman terlukis di bibirnya.
"Tidak, aku kemari ingin memberikanmu ini," sahut Gaara sembari menggelengkan kepala dan kemudian memberikan lipatan kertas yang ia pegang tadi ke Naruto.
"Are? Apa ini?" tanya Naruto dengan ekspresi bertanya-tanya.
"Coba buka saja," balas Gaara santai. Naruto yang mendengarnya pun semakin penasaran hingga kemudian dirinya pun mulai membuka lipatan kertas tersebut dengan perlahan-lahan.
"Wah! Ini..."
"Yep, resep kue kelinci yang kubuat tadi, kau boleh mencobanya dirumah. Resepnya sedikit ku ganti, jadi kau akan dengan mudah mencari bahan-bahannya. Tapi tenang saja, rasanya tak beda jauh kok dengan yang asli."
"Wah terima kasih banyak! Eh? Apakah kelinci-kelinci yang berada di pojokan kertas ini kau sendiri yang menggambarnya?" seru Naruto sembari memandangi kelinci-kelinci kecil yang digambar di setiap sudut kertas.
"Iya, apa kau menyukainya?"
"Hmm, aku menyukainya! Manisnya~"
"Syukur..."
"EKHEM!"
Belum Gaara menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja perkataannya itu dipotong oleh suara dehaman seorang pemuda dari dalam kamar Naruto, sehingga membuat ia mengangkat kedua alis nya dan mencari-cari sumber suara tersebut dari celah-celah pintu kamar Naruto. Naruto menyadari suara itu dan gerak-gerik Gaara, sehingga dirinya pun menutup pintunya dengan perlahan-lahan untuk merendahkan suara Sasuke serta kecurigaan Gaara.
"Apa didalam ada temanmu?" tanya Gaara santai ketika pintu kamar Naruto telah tertutup rapat.
"Eh? Tidak. Ano...itu suara tetanggaku, hehe," balas Naruto gelagapan sembari mengarahkan tangannya ke kamar Sasuke.
"Oh iya ya, tetanggamu itu katanya cowok ya?" seru Gaara sambil berjalan tiga langkah menghampiri kamar milik Sasuke, dan seruannya itu cuma dibalas anggukan dari Naruto yang saat itu tengah sibuk menahan pintu yang sengaja didorong-dorong Sasuke agar membuat Naruto lebih panik dari sebelumnya.
"Sekarang kamu harus lebih berhati-hati loh Naruto, kamu itu 'kan cewek, kita tidak tahu apa yang dia lakukan dan bagaimana sifatnya bukan?" bisik Gaara menggoda sambil menyentil dahi Naruto pelan ketika dirinya sudah berada didepan Naruto kembali. Sedangkan Naruto hanya mengangguk-anggukkan kepala dengan senyuman lega karena Sasuke sudah tidak bertindak iseng lagi.
"Yosh, kalau begitu aku pergi dulu."
"Iya. Maaf ya. Jaketmu akan kukembalikan setelah ku cuci dahulu, bersama dengan payungmu yang nanti sudah kukeringkan," ujar Naruto sembari setengah menunduk hormat.
"Santai saja, tidak perlu buru-buru. Aku pergi dulu ya, dah," balas Gaara sambil tersenyum dan mengelus-elus puncak rambut Naruto dengan gemasnya.
"Hehe, sekali lagi terima kasih untuk resepnya ya, Gaara-san," balas Naruto sembari melambaikan tangan kanannya ketika Gaara mulai berjalan meninggalkannya dan membalas lambaian tangannya.
"Wah, manisnya, terima kasih banyak, sampai jumpa lagi," seru Sasuke mengejek didekat pintu ketika Naruto kembali masuk dan menutup pintu kamarnya.
"Berisik!" bentak Naruto jengkel.
"Dasar amatiran," dengus Sasuke pelan sambil melipat kedua tangannya. Namun meskipun pelan, Naruto masih bisa mendengar dengusannya itu, sehingga Naruto pun mulai mengoceh panjang lebar kepada Sasuke tanpa sedetik pun istirahat untuk mengambil nafas.
"Ittekimasu," lanjut Sasuke sambil menepuk dahi Naruto disela-sela Naruto yang sedang mengocehinya, dan kemudian melesat menuju pintu.
"Hei! Mau kemana kau? Aku belum selesai bicara!" bentak Naruto kesal disaat Sasuke berjalan melewatinya dan membuka pintu yang berada dibelakang nya.
Naruto mendecih kesal ketika tahu bahwa ia telah di abaikan oleh Sasuke yang waktu itu tengah menutup pintunya. Tak lama setelah itu, dirinya pun mulai merasakan sesuatu yang dingin di dahinya, sehingga dirinya pun melesat berlari menuju cermin persegi tanggung dekat kamar mandi untuk memastikan hal yang kini terbesut dipikirannya. Dan betapa terkejutnya dia saat mendapatkan sebuah kompres penurun demam itu tertempel di dahinya. Lalu, dia pun mulai bertanya-tanya kenapa 'dia' melakukan hal itu, sebab ini adalah kali pertama Sasuke sangat perhatian padanya, padahal sebelumnya dia itu cuek dan dingin banget padanya, pikirnya. Naruto tersenyum tipis memikirkan sifat aneh Sasuke padanya saat ini, hingga kemudian ia bergumam 'Ternyata dia masih punya sisi baik juga,' disela-sela dirinya yang menyentuh kompres penurun demam itu.
Keesokan paginya, Naruto menyempatkan diri menuju balkon kamarnya hanya untuk sekedar menghirup udara pagi sekaligus melihat bunga-bunga bermekaran di taman bawah sebelum berangkat ke sekolah. Lalu selagi dirinya memperhatikan bunga-bunga dibawah, ia melihat Anko yang tengah sibuk menyiram bunga-bunga dekat pohon maple besar disana sambil bersenandung menyanyikan lagu lawas era '91-an.
"Ohayou, Anko-san!" sapa Naruto selagi Anko sedang merapihkan posisi bunga disana.
"Ah? Ohayou Naru-chan," sahut Anko sambil mendongah dan tersenyum kearah Naruto.
"Sedang menyirami bunga ya?" lanjut Naruto lagi sembari menyabdarkan kedua lengannya di besi balkon.
"Menurutmu bagaimana? Dasar..." canda Anko sambil menyirami bunga-bunganya kembali, sedangkan orang yang ia sahuti tersebut justru menyeringai aneh karena malu dengan basa-basi nya yang jelas ditebak.
"Daripada itu, bagaimana hari-harimu bersama cowok tampan itu?" goda Anko sembari mengangkat sebelah alis kirinya selagi ia mendongahkan kepalanya kearah balkon Naruto.
"Eh, siapa? Si pantat ayam itu tampan? Tampan darimana? Dari hongkong? Isshh!" cibir Naruto jengkel sambil memutar kedua bola matanya dan mengalihkan perhatian kearah lain dengan bibir bawah yang agak sedikit maju, sedangkan Anko justru merasa ingin menggoda Naruto, dan berharap bahwa ia akan mendapatkan respon yang lebih baik dari cibiran nya itu. Sudah lama aku tidak menggoda masa-masa kasmaran anak muda, begitulah pikirnya sembari memasang wajah licik.
"Hei Naruto, jangan bicara begitu loh. Biasanya, cewek yang pertama kali mengejek cowok dan merendahkan kelebihannya, apalagi sampai bilang kamu 'gak suka', biasanya cewek yang seperti itu pasti nantinya akan jatuh cinta padanya loh," ujar Anko dengan nada sedikit menggoda Naruto.
"Eh? Mustahil sekali, mana mungkin itu bisa terjadi? Aneh-aneh saja," balas Naruto santai sambil tertawa geli. Anko cemberut sebal, sebab rencananya itu telah gagal, padahal ia mau mendapatkan respon yang lebih baik, tetapi Naruto malah membalasnya dengan perkataan yang terdengar santai begitu. "Gak asik ah!" dengus Anko sebal sambil memutar balikkan tubuhnya kembali kearah bunga pot dibelakang nya dan kemudian menyiramnya kembali. Sedangkan Naruto malah bingung, dan bertanya-tanya mengapa Anko jadi sekesal itu? Apakah karena kata-katanya? Tetapi ia merasa kata-katanya biasa-biasa saja, tak ada yang salah. Sambil memiringkan wajahnya bingung kearah Anko, ia pun mulai bergumam aneh dan mulai berpikir keras darimana yang salah dari dirinya itu, hingga kemudian terdengarlah suara anak perempuan berseragam TK tengah berlari menuju Anko sambil menyerukan kata "Okaa-san!" dengan begitu semangatnya. Anko menyambut anak itu dengan sama antusiasnya, dan kemudian ia menggendong anak itu dan menciumnya gemas.
"Ohayou, Hikaru-chan?" sapa Naruto kepada anak itu sambil melambaikan tangan selagi Anko dan Hikaru sedang asyik-asyiknya bercanda.
"Ah, ohayou...Naruto onee-chan," sahut anak perempuan tersebut sambil membalas lambaiannya.
"Bagaimana lomba menyanyi kemarin? Sukses?" seru Naruto seraya merendahkan kepalanya ke balkon dan tersenyum.
"Aman dan sukses!" balas Hikaru sambil menunjukkan ibu jari kanannya kepada Naruto dengan ekspresi yang menggemaskan.
Naruto membalas penuturan Hikaru dengan senyuman dan ekspresi yang berbinar-binar, merasa gemas dengan tingkah Hikaru yang sangat polos tersebut. Andai saja di lantai bawah sudah disiapkan matras, pasti sejak tadi Naruto sudah melompat dan langsung menciumi Hikaru habis-habisan sampai ia puas.
"Naruto Onee-chan, mau ikut barbekyu-an gak?" seru Hikaru selagi Naruto yang tengah sibuk dengan fikirannya sendiri.
"Eh?" hela Naruto bingung disaat dirinya tersadar dari lamunannya, dan kemudian beranjak berdiri tegak menjauhi balkon dengan ekspresi yang terlihat bodoh.
"Kami ingin mengadakan pesta barbekyu di pantai untuk merayakan kemenangan Hikaru, kalau kamu ada waktu, ikut ya? Sasuke-kun juga," ikut Anko sembari mendongah keatas dan menggendong anaknya. Sedangkan Naruto yang mendengar kata 'Sasuke' yang disebut Anko pun mulai mengubah ekspresi nya 360 derajat dari sebelumnya dan kemudian beralih kearah kiri dimana kini Sasuke tengah menggosok giginya dan menyambut sapaan Hikaru. Entah kenapa setiap kali Naruto melihat wajahnya, rasanya ia selalu saja merasa kesal dan bad mood, bahkan ia ingin sekali mendecih ataupun mendengus jengkel, yang seolah menyuruh Sasuke untuk cepat-cepat menjauh darinya. Dan perlakuannya itu sama persis seperti yang ia lakukan sekarang. Sebenarnya Sasuke menyadari hal itu, bahkan dari aura nya pun ia sudah tahu, namun karena ia suka sekali mengejek dan merendahkan Naruto, dia berpura-pura tidak perduli dengan hal itu, tetapi bukan berarti dia tidak membalas perlakuan Naruto itu, justru dibalik wajah cuek nya, ia memberikan ekspresi merendah kepada Naruto sambil tersenyum kecut yang seolah memancing Naruto untuk emosi. Dan benar saja, Naruto pun terpancing dan akhirnya dimulailah 'Perang dunia ke-2' di balkon tersebut. Sedangkan orang yang berada dibawah yaitu Anko hanya sweatdrop melihat pemandangan tersebut hingga kemudian ia membawa Hikaru pergi menjauh dari sana.
Lalu 2 menit kemudian, tepatnya ketika ia mencambak rambut hitam Sasuke, tanpa sengaja ia melihat sikat gigi merah muda yang dipakai Sasuke. Ia mengerutkan kening heran melihat sikat gigi tersebut, didalam hati ia bertanya-tanya 'Kok sikat giginya mirip dengan punyaku ya?' dengan ekspresi sangat polos. Sedangkan Sasuke yang merasa bahwa cengkeraman tangan Naruto melemah langsung mengarahkan bola mata hitamnya kearah Naruto dan kemudian berkata "Ada apa?" sambil memasang ekspresi keheranan saat melihat ekspresi Naruto yang terlihat kebingungan itu.
"Sikat gigi itu..."
"Oh, ini punyamu," potong Sasuke santai sembari menunjukkan sikat giginya kearah Naruto. Sedangkan Naruto langsung membatu seketika, tanpa sedikitpun melontarkan perkataan apapun.
"Sikat gigiku rusak, jadi aku meminjam milikmu, kenapa?" lanjut Sasuke dengan nada polos sembari memasukkan kembali sikat gigi tersebut kedalam mulutnya, dan pada saat yang sama juga membuat Naruto merinding disko serta menjerit memanggil Sasuke dengan sebutan 'Teme' sekeras mungkin dan lalu kembali mencambak rambut Sasuke sekuat mungkin, melampiaskan rasa malu nya yang sudah diujung batas.
"Kembalikan!...kembalikan!...kembalikan!" sembur Naruto sembari beralih memukul lengan Sasuke dengan kedua tangannya, sedangkan yang dipukul hanya menjerit kesakitan menerima pukulan Naruto yang lumayan kuat.
Wajah Naruto kini sangat merah semerah tomat, ketika membayangkan kembali sikat giginya yang masuk ke mulut Sasuke dan menyentuh setiap sela gigi serta lidahnya. Dan bukan hanya itu saja, dia pun mulai bergumam tidak jelas dan bertingkah sangat aneh saat mengingat ia baru saja memakai sikat giginya pagi tadi. Shit! Mengingat hal itu, Naruto menjadi semakin tidak menerima bahwa itu adalah ciuman tidak langsung.
"Apa-apaan sih ini, sakit dobe! Kau kenapa sih?! Nanti juga kukembalikan setelah kubersihkan!" bentak Sasuke mulai tidak tahan dengan pukulan Naruto yang membabi buta nya.
"Baka! Baka! Baka!, bukan itu aho!" balas Naruto semakin memperkuat cambakannya. Membuat si empu rambut menjerit lebih keras.
"Lalu apa?!" bentak Sasuke lagi sembari melepaskan diri dari pukulan serta cambakan Naruto. Namun orang yang ia tanya hanya diam saja, justru kini ia tidak kembali menyerang Sasuke.
Sasuke memandangi wajah memerah Naruto yang tengah kesal tersebut dengan ekspresi berpikir, hingga beberapa detik kemudian ia mengerti maksud dari ekspresi yang diberikan Naruto, terutama ketika melihat bibir bawah Naruto yang bergetar tengah Ia gigit. Sehingga Sasuke pun mulai menghela nafas dan kemudian berkata "Kau terlalu berlebihan, ini 'kan cuma ciuman tidak langsung, kau tak perlu sepanik itu kali," dengan nada cuek hingga kemudian berjalan menuju kamar Naruto, dan kembali menyikat giginya dengan sikat gigi Naruto, menganggap penuturan dan kepanikan Naruto hanya masalah sepele.
Naruto yang mendengar perkataan Sasuke tentu saja merasa tidak terima, dan berniat untuk menyerang Sasuke kembali, namun sebelum hal itu terjadi, Naruto mendengar suara dentuman scooter jatuh dari halaman depan sehingga membuat Naruto serta Sasuke yang memunggungi halaman mulai mengalihkan perhatian mereka ke halaman depan dan mendapatkan Ino yang tengah membatu melihat sahabatnya dan orang yang ia suka berada di balkon kamar sahabatnya. Seluruh tubuh Naruto langsung merinding ketika melihat sahabatnya tersebut tengah memandanginya tidak percaya.
"Tidak! Kau salah paham Ino...ini...ini cuma...aduh bagaimana aku menjelaskannya, chikuso!" gumam Naruto panik sembari menggaruk-garuk belakang kepalanya ketika dirinya bersandar di balkon kamarnya kembali.
"K-kau jangan kemana-mana ya, tu-tunggu aku disitu, a-aku akan menjelaskannya," lanjut Naruto ketika menyadari bahwa ekspresi kaget Ino mulai berubah jadi sedih dan kemudian melesat berlari memasukki kamarnya, tanpa memperdulikan Sasuke lagi.
Kini tatapan mata biru muda Ino beralih ke arah Sasuke, dan Sasuke yang menyadari tatapan nya itu tentu saja membalasnya, Sasuke bisa merasakan kesedihan yang mendalam dari pandangannya itu, dan jika dilihat dari ekspresi Ino saat ini, ia tahu bahwa Ino ingin mendapatkan penjelasan secara keseluruhan darinya, tapi meskipun begitu Sasuke sama sekali tidak menggubrisnya, bahkan ia sampai berpura-pura dan tidak perduli dengannya hingga akhirnya ia masuk kedalam kamar dengan cueknya, seolah Ino yang berada dibawah tak pernah ada disana.
TBC
Bagaimana? Makin garing aja ya, hehe
Untuk para readers, maaf ya lama banget update nya, soalnya aku belum dapet ide yang bagus, hehe#plak!
Sebenarnya sih seminggu yang lalu seharusnya fic ini sudah selesai, tetapi karena kurang sreg sama ceritanya, aku jadi rubah sedikit, dan akhirnya update nya akhir bulan begini deh, hehe :p
Gak apa-apa ya, yah hitung-hitung baca sambil nungguin gajian keluar bagi yang sudah bekerja#plak!
Yosh, tunggu chapter depan ya \(^-^)/
Sampai jumpa!
