Semuanya masih terasa sama bagi Xiumin, Jeju tak pernah berubah meskipun sudah beberapa tahun ia tak menginjakkan kakinya lagi di pulau kecil yang indah ini.
"Bagaimana? Indahkan"
Xiumin sontak menghentikan langkahnya, sekelebat bayangan masa lalu yang pernah di laluinya di pantai ini kembali berputar seperti kaset rusak di otaknya.
"Wahh Daebak! Ternyata menyentuh pasir dan melihat air laut secara langsung lebih menakjubkan di banding melihatnya di Tv"
Xiumin mengeratkan jaketnya, melindungi tubuh mungilnya dari hembusan angin pantai yang terasa cukup kuat untuk saat ini.
"Andai aku bisa tinggal disini, itu pasti akan menyenangkan.."
"Kau memang akan tinggal disini Min-ah"
"Benarkah hyung? Kita akan pindah kesini?"
"Ne, tapi hanya kau Min-ah. Sedangkan hyung akan tetap tinggal di Seoul"
"Kau bercanda kan Hyung? Kau ingin menelantarkanku?"
"Anniyo, hyung hanya ingin menjalankan wasiat Eomma dan Appa. Kau mengertikan?"
"Tapi aku menolak hyung! Aku tak mau!"
"Min-ah.."
"Kenapa harus aku hyung? Umurku masih 15 tahun, kenapa kau tega pada ku?!"
Sebuah senyum tipis kini terlihat di wajah Xiumin, iris coklatnya kini menatap kosong riak ombak di depannya.
Andaikan waktu bisa di putar ulang, Xiumin ingin kembali kemasa itu. Masa dimana untuk pertama kalinya ia dan Kyuhyun hyungnya menginjakkan kakinya di pulau indah ini. Masa yang selalu ia sesali karena pernah ada dalam hidupnya. Sungguh andaikan ia bisa kembali berada di waktu itu, Xiumin ingin menahan Kyuhyun untuk tak pergi meninggalkannya, menahan Kyuhyun untuk tetap disisinya agar ia tetap kuat ketika rintangan itu datang. Agar ia tetap bisa berdiri saat luka demi luka yang terasa menyakitkan itu ia dapatkan untuk pertama kalinya. Luka yang sampai sekarangpun tak pernah sembuh, luka yang di buat oleh orang yang sama..
Plak!
Xiumin membulatkan matanya, tangannya perlahan bergerak untuk menyentuh pipi kirinya yang berdenyut sakit akibat tamparan yang baru di terimanya.
"Kau memukulku?" Suaranya tercekat, matanya kini menatap hampa Luhan yang masih berdiri di depannya.
"Xi Luhan Kau.." Xiumin mengantungkan ucapannya, matanya mulai memburam.
"Pergi kau pelacur"
"Luhan.." Xiumin menundukkan kepalanya, tetesan demi tetesan air mata kini mengalir bebas membasahi pipi chubynya.
"Pergi! Aku bilang pergi brengsek!"
"Luhan.." Xiumin menekan dada kirinya. "Aku Mohon.." Xiumin merendahkan tubuhnya, bersimpuh di depan Luhan yang masih saja memandang dingin kearahnya.
"Kumohon Lu, dengarkan aku.."
"Apa yang ingin kau jelaskan? Apa kau ingin mengatakan berapa hargamu?! Apa kau ingin mengatakan berapa banyak namja brengsek yang telah kau layani?!"
"Lu.."
"Aku muak dengan mu Kim Minseok! Bisakah kau pergi dan menghilang dari hadapanku untuk selamanya?"
"Aku tidak bisa.." Xiumin mengeleng lemah, tangan kanannya terus menekan kuat dada kirinya yang semakin terasa sesak dan sakit secara bersamaan.
"Baiklah jika itu maumu. Biarkan aku yang pergi"
"TIDAK!" Xiumin mengenggam erat tangan Luhan yang berada di dekatnya.
"Kumohon jangan pergi.. Aku mencintaimu Lu, aku mencintaimu.."
Sret!
"Aku tidak butuh pernyataan cinta dari mulut kotormu.." Ucap Luhan dingin setelah terlebih dahulu menghempaskan tangan Xiumin yang tengah mengenggam tangannya dengan erat.
Setetes cairan bening perlahan mengalir dipipi putih Xiumin.
"Eomma, appa aku merindukanmu.."
:: More Than This Chapter 4 ::
T
(karena kata-kata yang di gunakan sedikit kasar..)
Aku ambil nama kampus mereka dari K-drama The heirs aja ya hehe
FLASHBACK Italic
.
.
.
Enjoy
:: :: ::
"Hyung kau tak apakan?" Tanya Chanyeol pada Xiumin yang duduk di sampingnya.
"Hanya sedikit pusing.." Jawab Xiumin masih dengan kepala yang bersandar pada bahu Chanyeol. "Berapa lama lagi?" Lanjutnya yang langsung membuat Chanyeol melihat Jam tangan hitam yang melingkar di tangannya.
"2 jam lagi, dan kita akan sampai di Seoul. Tidurlah hyung.."
"Hem.."
.
.
.
17.30 jadi tinggal 30 menit lagi dan Chanyeol juga Minseok akan tiba di Seoul.
Chanyeol mengetukan handphonennya pada pinggiran bis, suasana di dalam Bis masih sama sunyi dari beberapa jam yang lalu, sepertinya teman-temannya lebih memilih tidur karena lelah menghadapi studytour yang sungguh tak masuk akal kemarin.
Drttt Drrrt..
Getaran yang bersal dari handphonennya tak menghentikan aksi Chanyeol, mata bulatnya terus memandang kosong pemandangan yang berada di luar jendela bis yang berada di samping kirinya.
Drrrttt...
Dan getaran panjang itu akhirnya berakhir, menampilkan tampilan nama 'WUFAN BABO 27 missedcall'
"Eunghh.." Suara erangan kecil dari sebelah kanannya membuat Chanyeol menoleh, menatap Xiumin yang terlihat masih tertidur dengan nyenyak di bahunya.
"Badanmu sedikit panas Hyung.." Ucap pelan Chanyeol setelah tangan kirinya yang tak memegang ponsel mengelus pelan pipi putih Xiumin.
Drrtttt
Chanyeol menghela nafasnya pelan sebelum akhirnya melihat layar Handphonennya yang menampilakan sebuah pesan masuk.
'Kenapa tak mengangkat teleponku? Kau sedang apa? Apa Minseok ada denganmu? Kenapa Handphonenya tak aktif? Sebenarnya kalian kemana?'
Seulas senyum tipis terlihat di wajah Chanyeol, "Selalu saja seperti ini" Ucapnya pelan, matanya kini kembali menatap Xiumin yang masih tertidur di pundaknya. "Maaf hyung, aku memang seharusnya tak hadir di kehidupanmu dan Kris. Maaf.."
:: More Than This Chapter 4 ::
Jam 19.00
Kris menghembuskan nafasnya kasar, ini sudah lebih dari setengah hari ia menunggu Xiumin dan Chanyeol, tangannya pun sudah pegal untuk sekedar mengetik pesan ataupun menelpon Chanyeol yang tak satupun mendapat balasan.
"Eungh.." Suara erangan kecil dari Henry yang tidur di pangkuannya membuatnya sedikit bergerak untuk menenangkan Henry. Henry tidur dengan mata sembab karena menangis, namja kecil itu menangis dengan kencang setelah ia berlari mengelilingi Apartemen Chanyeol dan tak menemukan Eommanya di manapun.
"Sebenarnya kalain dimana?" Tanya Kris pada udara kosong di depannya, wajahnya yang biasanya terlihat santai tanpa beban itu kini menampilkan raut Khawatir.
"Eomma.." Suara Henry yang terdengar sangat lirih itu berhasil tertangkap telinga Kris, tangan besar Kris perlahan bergerak menyingkirkan poni Henry di dahinya. "Sabarlah, eomma pasti akan pulang" Ucapnya sebelum mengecup pelan dahi Henry.
Tin tin tin tinnnn
Cklek!
Kris langsung mengakkan tubuhnya saat suara pintu terbuka terdengar dari arah belakangnnya, dengan gerakkan perlahan ia membawa Henry dalam gendongannya, berjalan tanpa menimbulkan suara menuju pintu utama di Apartemen Chanyeol.
"Dari mana saja kalian?" Tanya Kris yang langsung memuat Chanyeol yang tengah bersusah payah melepas sepatunya dengan Xiumin yang tertidur ala koala di punggungnya menatap terkerjut kearahnya.
.
.
.
.
:: More Than This Chapter 4 ::
"Kemarin sore Dokter Choi meneleponku.." Ucap Sehun dengan mata yang menatap lurus punggung Luhan yang berada di depannya.
"Katanya Kondisi Eomma semakin membaik" Lanjut Sehun dan matanya kini bukan lagi menatap punggung Luhan, melainkan Pigura besar yang waktu itu sempat tak sengaja di lihat Lay.
"Lalu?" Luhan berbalik menghadap Sehun, sebelah alisnya terangkat.
"Apa maksudmu dengan Lalu?"
"Lalu kau percaya?" Luhan tersenyum miring, "Jangan Naif kau Xi Sehun, apa kau tak bosan mendengar kalimat yang sama setiap tahun? Kondisi Eommamu semakin membaik Cih!" Luhan mendecih, membuat Sehun mengeratkan kepalan tangannya.
"Tapi kenyataannya, Eomma tak pernah bangun bukan? Jangan biarkan mereka membodohimu secara terus menerus, Eomma tak akan pernah bangun"
BUGH!
"JAGA UCAPANMU!" Sehun berteriak marah setelah ia melayangkan tinjunya kearah Luhan.
"Memangnya kenapa? Apa Hyung salah bicara Hunnie?" Luhan mengusap kasar darah yang berada di bibirnya, matanya kini menatapi sinis Sehun yang berdiri tegap di depannya.
"Kau.." Sehun mendesis, tangan kanannya kini menarik kasar kerah baju Luhan. "Sadarkah siapa dalang dari semua ini?" Sehun semakin mengencangkan cengkramannya, "INI SEMUA KARENA MU!" Sehun berteriak di depan wajah Luhan yang masih terlihat santai.
"Kau membuat semuanya rumit karena sifat kekanakakkan dan keegoisanmu.." Suara Sehun semakin mengecil, matanya yang biasanya menatap dingin itu kini memandang sendu Luhan. "Semuanya sederhana hyung.. ini hanya salah paham.." Perlahan Sehun melepaskan cengkramannya, "Kau dengan segala sikap egoismu membuat semuanya semakin memburuk..." Perlahan Sehun berjalan mundur menjauhi Luhan.
"Dan jangan salahkan Minseok Hyung, bukan dia yang meninggalkanmu, tapi kau sendiri yang membuatnya meninggalkanmu.." Sehun menghentikan langkahnya, sebuah senyuman tipis terlihat di wajahnya saat ia melihat Luhan yang terlihat mematung di hadapannya.
"Eomma mengalami Koma bukan karena Minseok hyung.." Sehun mengantungkan ucapannya, membuat Luhan menatap kosong Sehun, "Eomma Koma karenamu Hyung, karena kau membuat Minseok Hyung pergi meninggalkan kita.." Senyum Sehun semakin lebar, tapi setetes air mata terlihat meluncur di pinggir matanya.
"Eomma selalu mengatakan jika Minseok hyung adalah bunga yang memperindah keluarga kita, memperlihatkan berbagai warna kehidupan, mengajarkan bagaimana tersenyum dan tertawa secara tulus" Mata Sehun memburam, "Kau tau hyung, sebelum Minseok hyung datang aku hanya bisa melihat dua warna. Putih dan hitam, tak ada warna lain" Kini giliran Sehun menatap Kosong Luhan.
"Eomma, Appa Juga Kau selalu sibuk dengan dunia kalian sendiri, meninggalkanku di dalam Rumah Besar dengan puluhan Maid dan mainan yang membuat semua temanku iri. Kau tau... AKU TAK BUTUH SEMUA ITU!" Sehun berteriak dengan keras, air matanya kini mengalir bebas di pipinya.
"Aku hanya ingin kalian ada di sampingku.. menepuk kepalaku saat aku selesai merangkai Puzzel atau memukul pantatku ketika aku malas mandi.." Ucapan Sehun tersendat saat sekeping bayangan anak kecil yang duduk sendiri di sebuah meja makan besar terlintas di kepalanya.
"Aku tak butuh mainan mahal yang selalu kalian berikan saat ulang tahunku, Aku tak butuh itu semua.." Air mata Sehun semakin deras mengalir, membuat Luhan perlahan mendekat kearahnya. "Jangan mendekat!" Sehun memberi tanda stop pada Luhan dengan tangannya.
"Kau sudah terlambat..."
Luhan menghentikan langkahnya, kedua tangannya terkepal.
"Dimana kau saat aku merayakan hari kelulusan pertamaku? Dimana kau saat aku menunggumu sampai pagi hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun? Dimana kau hyung?..."
"Sehun.." Luhan kembali bergerak mendekati Sehun yang malah ikut memundurkan langkahnya.
"Tapi ketika eomma datang dan membawa Minseok hyung, hidupku berubah hyung... Aku tak peduli perjodohan bodoh yang mengikat kalian, asalkan Minseok hyung ada di sampingku itu sudah lebih dari cukup"
"Minseok hyung adalah orang pertama yang memukul kepalaku saat semua orang takut padaku karena aku Anak bungsu dari keluaga Xi yang terhormat. Minseok Hyung yang mampu memberiku rasa kasih sayang seorang kakak yang tak pernah aku dapatkan darimu, semuanya karena Minseok hyung... Minseok Hyung bahkan membawa kalian kembali kerumah, menonton bersama, makan malam bersama... Aku bahkan berani mempertaruhkan apapun asalkan saat-saat itu bisa kembali terulang"
"Tapi kau..." Sehun menatap Tajam Luhan, "Kau dan cinta monyet bodohmu itu membuat Minseok-ku pergi!" Luhan menekan dada kirinya saat sebuah detakkan linu tiba-tiba ia rasakan.
"Minseok hyung pergi membawa semua warna yang pernah ia taburkan pada kita! Kau membuatku kembali melihat dua warna! Hitam dan putih yang sungguh memuakan!"
"Mian.."
Sebuah senyuman yang terlihat meremehkan Sehun lontarkan pada Luhan, "Untuk apa kau meminta maaf padaku? Aku tak butuh! Orang yang berhak mendengar kata maafmu adalah Minseok hyung... orang yang sesungguhnya menjadi korban karena keegoisanmu" Ucap Sehun dan berbalik pergi meninggalkan Luhan dengan debuman keras di pintu.
.
.
.
:: More Than This Chapter 4 ::
"Minseok kenapa?" Ucap Kris yang berdiri di ambang pintu masih dengan Henry di gendongannya.
"Min hyung sepertinya kelelahan dan sedikit demam.." Ucaap Chanyeol seteleh membaringkan Tubuh Xiumin di atas kasur.
"Jangan disitu!" Lanjutnya ketika matanya melihat kris yang berusaha membaringkan Henry di sebelah Xiumin.
"Kenapa?" Tanya Kris langsung menghentikan gerakkannya dengan satu alis terangkat keatas.
"Min hyung sedang sakit, aku tak mau Henry tertular dan ikut sakit" Ucap Chanyeol membuat Kris mengangguk setuju. "Lalu Henry?"
"Tidurkan saja di kamarku"
"Hem baiklah.."
.
.
.
Chanyeol perlahan membuka pintu kamarnya, entah mengapa ia ragu untuk masuk kekamarnya sendiri.
"Bagaimana keadaan Minseok?" Tanya Kris yang tengah duduk di kasurnya.
"Semakin membaik, Min hyung hanya terserang demam ringan. Besok pasti ia sudah merasa baikkan" Ucap Chanyeol dan berjalan pelan kearah Henry yang terlihat damai di alam mimpinya.
"Kalian tadi kemana? Aku dan henry sudah menunggu sejak pagi.." Kris menyilangkan kakinya, posisinya kini menghadap Chanyeol yang berlutut di pingir ranjang.
"Lusa kemari aku dan Min hyung pergi untuk melakukan Studytour.." Jawab Chanyeol dengan tangan yang memainkan rambut Henry, bibirnya sesekali mengecup pipi putih Heny yang selalu terlihat mengemaskan di matanya.
"StudyTour? Kau bercandakan?"
"Tidak, itu peraturan baru yang di buat oleh anak mama itu.." Kris semakin mengerutkan dahinya. "Anak Mama?" Ulangnya bingung.
"Sudahlah lupakan.."
"Kampus mu aneh, memangnya kalian pergi kemana?" Tanya Kris lagi.
"Jeju"
"Mwo?" Chanyeol sontak mengalikah pandangannya dari Henry ke arah Kris.
"Kau kenapa?" Chanyeol mengkerutkan dahinya.
"A-apa? Anniyo, pasti menyenangkan bisa datang ke Jeju.." Kris tersenyum di akhir kalimatnya, membuat Chanyeol yang melihatnya mengedikkan bahunya acuh. Toh Kris memang sudah aneh semenjak ia pertama kali mengenalnya.
"Kris.."
"Hm.."
"Bisakah kau menjaga Min Hyung sebentar? Aku ingin mandi.."
"Baiklah.." Ucap Kris dan segera meninggalkan Chanyeol.
Blamm...
Pintu tertutup dengan rapat, menyisakan Chanyeol yang kembali membelai Surai hitam Henry.
"Henry-ya.." Chanyeol tersenyum ketika sebuah eragan dari Henry terdengar di telingannya.
"Keputusan Jussi sudah benarkan? Sabar ne, Jussi sedang memikirkan caranya agar Eomma dan Appa henry bisa bersama" Chanyeol masih tersenyum meskipun hatinya kini berdetak tak teratur. "Maafkan Jussi ne, Karena Jussi sempat merebut Appa henry.." Lanjut Chanyeol.
.
.
.
:: More Than This Chapter 4 ::
Luhan hancur untuk kedua kalinya, ruangan yang selalu ia jaga itu kini tak lebih baik dari tempat pembuangan akhir. Kacau! Berantakan sama halnya dengan sang pemilik yang kini hanya bisa duduk diam dengan tatapan kosong melihat pigura besar yang berisi sebuah Photo di masa lalunya. Photo yang memperlihatkan Mr & Mrs Xi, Sehun dan dirinya yang terlihat tersenyum tulus, disana terlihat Sosok Minseok yang juga tersenyum dengan lebar kearah kamera, tak menghiraukan Sehun yang merangkul pundaknya dengan erat juga Luhan yang mengenggam tangannya.
'Eomma selalu mengatakan jika Minseok hyung adalah bunga yang memperindah keluarga kita, memperlihatkan berbagai warna kehidupan, mengajarkan bagaimana tersenyum dan tertawa secara tulus'
Suara Sehun terdengar mengema di telinganya membuat Luhan menepuk dada kirinya dengan keras, kenapa ia baru menyadarinya sekarang?
'Semuanya sederhana hyung.. ini hanya salah paham..'
Luhan mengacak rambutnya kasar, "Tapi aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, Minseok menghianatiku Sehun..." Luhan berbicara pada angin. "Minseok pantas mendapatkannya" Lanjutnya.
'Kau dengan segala sikap egoismu membuat semuanya semakin memburuk..'
"Lalu hyung harus bagaiman Sehun? Minseok kini kembali... Dan kini ia membenciku" Luhan menatap berharap Pigura besar yang berada di depannya, bersikap idiot karena berharap sosok-sosok yang tersenyum di hadapannya akan menjawab pertanyaannya.
.
.
..
...
...
:: TBC ::
Aku bener-bener minta maaf atas kelanjutan nih ff yang kalau sampe 10 hari kedepan gak update berarti nih ff udah terbengkalai selama 3 bulan. *hiks masih adakah yang inget FF bulukan ini?
Yang aku publish ini MMT Chp 4 ver 4, ya aku galau sehingga buat MTT berbagai versi T.T di tambah kabar Luhan *oke lupakan!
BUT THANK FOR MY BELOVED REVAILLE A.K.A LEVI *di getok eren* ya aku sangat berterima kasih sama pangeran pendekku itu karena sedikit membuat moodku membaik. MAKASIH EREN! MAKASIH LEVI! I LOVE YOUUUU~ Makasih juga buat para Author Shingeki no Kyojin/進撃の巨人 yang buat ceritanya keren-keren dan buat mood ku perlahan membaik. Dulu aku liat Fandom itu sepi, sekarang Alhamdulilah...
Eh BTW ada yang tau FF LUMIN bagus gak? Kalau ada kasih tau dongg, saling share kan gak di haramkan kekeke tapi NO GS ya, aku gak Suka GS soalnya.
-Sekian, Wassalam..
And Thanks for the support that all of you give to my stories~~~
Love Chu ALL~~
Ega S White | Xhlm | Heeliez Elfpetalz | Lee Seoki | MeCa | Deerbaozi | Feyy | SimbaRella | Blacknancho | DoubleHan | Deushiikyungie | XiuXiuSeok90 | Sfsclouds | SureaLive | Hyona21 | XM | Shinyeonchal | NathalieVernanda | Krispandataozi | Ainichan Xiuhan1 | HamsterXiumin | AquariisBlue | Shinta Lang | Rheirin | Dn | Windboo | Sukiminseok | Adilia Taruni 7 | Little Deer | AngAng13 | Dinar | Kim Zuki | Dnxiuminseok | Misyel | RouruKim | Baobei |
