Hhuuaahhh... ga kerasa, udah Chapter 4...
padahal aku ngerasa, baru kemaren aku publish Chapter 1...
Yosh! Abaikan saja yang tadi itu...
kita mulai aja ceritanya...^-^
.
.
.
Camera...
.
.
.
.
.
Rolling...
.
.
.
.
.
ACTION!
.
.
.
.
Disclaimer : om Masashi Kishimoto... saiia pinjem Kakashi 'n Ankonya sebentar yah... tenang saja... Naruto tetap jadi milik anda...*dilempar batu*
Pair : KakaAnko
Rate : T
Genre : Romance & Hurt
Warning: Super duper GJ, tidak sesuai dengan EYD *dilempar sendal*
Chapter 4 : Akhir yang Bahagia
*Did you see me?*
Aku tersenyum sendiri jika mengingat tingkah Anko-chan yang ceria, tapi tidak kekanak-kanakan. Sikapnya yang selalu semangat malah membuatnya jauh lebih dewasa. Tidak seperti Kurenai yang manja dan kekanak-kanakan.
Dia yang sangat terobsesi pada seni fotografi.
Dia yang selalu tersenyum.
Dia yang selalu tertawa.
Dia yang selalu bersemangat.
Dia yang tak pernah bersedih.
Dia yang bagaikan sinar matahari dan pelangi.
Dia yang selalu marah kalau aku tidak hadir pada waktu eskul dimulai.
Dia yang...
Lamunanku buyar karena melihat sesuatu yang membuatku kaget.
Tiba-tiba Anko-chan membuka matanya. Itupun hanya sekejap. Setelah itu dia menutup matanya lagi. Aku tersenyum. Lega. 'Lebih baik aku jangan ganggu dia dulu. Tapi, aku tak mau meninggalkan dia sendirian... Tapi...'
"Aku harus pulang, Anko-chan, maaf ya, tapi, besok sepulang sekolah, aku pasti akan menjengukmu. Aku pasti akan bawakan dango kesukaanmu. Cepat sembuh, Anko-chan" kataku sambil mengecup keningnya. Tepat di saat aku akan pergi, datanglah Tante Tsunade dan Om Orochimaru.
"Om, Tante, saya pulang dulu ya," kataku.
"Ya, hati-hati di jalan ya,"
"Permisi," akupun segera pulang ke rumah. 'Besok sepulang sekolah aku ajak Kurenai-chan jenguk Anko-chan ah' batinku. Sekalian mengenalkan Kurenai pada Anko. Kurenai pasti senang. Dan dia pasti juga akan berpendapat bahwa Anko-chan adalah sinar matahari dan pelangi.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Ups, aku lupa memberitahunya. Jangan-jangan dia kecelakaan gara-gara...'
+Kakashi's POV+
'Bisa-bisanya aku begitu bodoh. Aku lupa memberitahunya kalau aku mempunyai adik perempuan. Jadilah dia salah sangka. Mengira adikku sendiri adalah selingkuhanku. Lalu aku membiarkan dia memegang tanganku. Semoga saja Anko-chan siuman besok, dan aku akan menjelaskan kepadanya apa yang sebenarnya terjadi.'
Aku lalu memarkirkan mobilku di depan rumahku. Setelah mengunci mobilku, lalu aku aku masuk ke dalam rumahku.
"Tadaima..."
"Okaeri... Aniki... Tumben lama pulangnya. Gimana kencannya? Cewek itu pulang jam berapa?" tanyanya. Aku hanya tersenyum kecut.
"Aniki gak kencan. Aniki jenguk cewek aniki yang lagi di ruma sakit. Dia gak datang karena kecelakaan."kataku.
"Kalo gitu, pulang sekolah kita jenguk, yuk, Aniki..."
"Eh? Aniki baru mau ngajak kamu, Kurenai-chan..."
"Aniki, aniki tau, ruangannya dimana?"
"Aniki jenguk dia di ruang ICU. Mungkin besok bisa dipindahkan."
"Aniki kalo udah di rumah sakit, hubungin aku aja ya?"
"Iya,"
Lalu aku segera pergi ke kamarku. Sebuah ruangan bernuansa warna hijau. Lalu aku mengganti bajuku dengan baju tidur, dan berbaring di tempat tidurku. Tak lama akupun tertidur.
Did you see me?
Suara kicau burung membangunkanku. Akupun segera bangun dan bersiap-siap menuju sekolah. Lalu aku segera mengendarai mobilku menuju ke sekolah.
"Yo, Kakashi!" sapa Genma, teman sebangkuku, saat aku sudah sampai di sekolah.
"Yo! Genma..." jawabku, datar.
"Yo, Kakashi," sapa Itachi. Tampaknya dia baru sampai.
"Yo,"
"Kau ada acara sepulang sekolah, Kakashi?" tanya Itachi.
"Ya, aku ada urusan sepulang sekolah ini,"
"Sayang sekali, padahal aku ingin mengajakmu untuk pergi ke bioskop." Kata Itachi, kecewa.
"Maaf ya? Aku benar-benar gak bisa." Jawabku.
"Ah, gak pa-pa," kata Itachi.
"Ayo,tenang semuanya. Pelajaran akan dimulai," kata sensei berambut pirang, Minato-sensei.
+Anko's POV+
Aku terbangun dari tidurku. Sejenak aku melihat sekelilingku. 'Di mana aku' batinku. Aku berada di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas, dan hanya aku sendiri pasiennya. Di samping tempat tidurku ada meja kecil yang di atasnya terdapat vas yang berisi bunga mawar merah dan putih, buah-buahan, segelas air, dan beberapa bungkus obat-obatan. Sejenak aku merasa sedikit pusing, dan pandangankuku sedikit kabur. Aku coba mengingat-ingat mengapa aku berada di sini, rumah sakit.
Aku di sini karena mungkin aku mengalami kecelakaan setelah melihat Kakashi bergandengan dengan seorang gadis. Aku melihatnya. Kaka-kun...
Tiba-tiba pintu terbuka, dan seorang pria berambut perak itu datang. Lalu dia duduk di kursi yang ada di dekat tempat tidurku.
"Ah... Anko-chan, kau sudah bangun... Syukurlah..." katanya.
"Hiks... Hiks... Kaka-kun... Hiks..." aku mulai menangis. Kenapa dia menjengukku? Bukankah dia pergi dengan gadis lain? Kenapa? Kenapa?
"Anko-chan... Kenapa menangis? Apa yang membuatmu sedih?" tanyanya lalu dia memelukku. Sebuah pelukan yang lembut.
"Kemarin... Di taman... Kamu sama siapa?... Hiks"
"Aku tidak bersama siapa-siapa..."
"Gadis yang bersamamu di taman itu... yang memegang tanganmu itu..." isakku.
Dia melepaskan pelukannya. Lalu dia tertawa.
"H-hei... kenapa ketawa...hiks..." tanyaku.
"Oh... itu... Cewek itu yah... Sebentar lagi dia datang..." katanya. Aku tidak mengerti maksudnya.
"Nah... Anko-chan... Sesuai janjiku, aku bawakan Dango kesukaanmu..." katanya sambil memberikan dango kepadaku. Aku langsung memakannya. Sambil terisak tentunya.
"Sudah dong, nangisnya... Nanti aku jelasin kalo dia udah datang..." katanya. Tiba-tiba pintu terbuka.
"Aniki..." serunya. Itukan... Cewek yang bersama Kakashi...
"Ah... Kurenai-chan... Ini cewek yang mau datang kemaren. Tapi dia kecelakaan, jadi gak jadi deh..." katanya.
"Ah... Anko-nee, watashi wa namae Kurenai desu... Yoroshiku onegaishimasu... Oia, cepet sembuh ya... Anko-nee..." katanya. Dia tampak ceria sekali.
"Nah, Anko-chan, dia adikku, namanya Hatake Kurenai."
"Ja-jadi itu... Hiks... Hiks..." aku kembali menangis. Kali ini tangisan bahagia.
"Anko-chan... Maaf, aku lupa memberitahumu... Aku ingin mengajakmu kencan... dan kebetulan adikku ingin berkencan dengan pacarnya... Yah... Double date gitu..." kata Kakashi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Gak pa-pa, Kaka-kun, aku yang harusnya minta maaf karena udah salah paham," kataku sambil memegang tangannya Kakashi. "Kurenai-chan, kalo Anko-nee sudah sembuh, kita Double Date, ya..."kataku, kepada Kurenai tentunya.
"Ya, Anko-nee... Oh, ya, bener ternyata kata Aniki, Anko-nee cantik." Jawabnya. Mukaku memerah mendengarnya. Kakashi lalu memukul kepala adiknya.
"Hei!" serunya. Kurenai tertawa kecil. Akupun tertawa melihat tingkah mereka berdua. Lalu Kakashi membisikkan sesuatu kepada Kurenai. Kurenai mengangguk lalu keluar dari ruanganku.
Lalu aku merasakan ada yang hangat di tanganku. Akupun terkejut. Kulihat Kakashi mencium tanganku.
"Anko-chan..." gumamnya. Mukaku memerah. Sementara...
"Ehem, ehem..." mendengar itu, Kakashi langsung melepaskan tangannya dari tanganku. Kulihat di pintu. Shizune dan Genma. Mereka tersenyum-senyum melihatku dan Kakashi. Shizune melepaskan genggaman tangannya dari Genma dan berlari ke Shizune langsung memelukku.
"Anko-chan...~ kamu gak apa-apa kan? Aku khawatir lho~~" kata Shizune. Genma hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Sementara aku dengan susah payah melepaskan pelukan Shizune.
"Aduh, Shizu-chan... Aku gak bisa bernafas nih..." kataku. Sizune melepas pelukannya.
"Maaf... Anko-chan... Aku kan kangen sama kamu... Oh, ya, tadi aku dan Genma beliin kamu Pear kesukaan kamu lho... Dimakan ya... Biar cepet sembuh..." kata Shizune sambil memberikan bungkusan berwarna putih kepadaku.
"Udah, Shizu-chan... Makasih... Taruh aja di meja," kataku sambil tersenyum. Sementara Kakashi dan Genma sedang berbicara tak jauh dariku dan Shizune. Lalu Shizune memberikan sebuah buku kepadaku. Akupun mengobrol dengan Shizune, tentang apa yan terjadi di sekolah selama aku tidak ada, dan cerita Shizune yang ditembak oleh Genma kemarin.
"Pantes aja kulihat kalian gandengan tangan tadi, udah pacaran sekalinya..." kataku. Muka Shizune memerah. Lalu dia mencuri pandang ke arah Genma. Aku tertawa.
"Hayo... Masih curi-curi pandang..." godaku. Shizune tertawa.
"Kamu juga lagi pegangan tangan sama Kakashi-senpai kan, tadi... Sampe tanganmu dicium-cium gitu," kata-kata Shizune membuatku tersentak. Aku menundukkan kepalaku, menyembunyikan wajahku yang mungkin semerah tomat yang baru dipetik dari pohonnya.
"Ah... I-itu kan... Dia yang mulai... Bu-bukan aku yang minta..." kataku tergagap.
"Aduh... Romantisnya..." goda Shizune. Lagi.
Kemudian pintu ruanganku terbuka. Kulihat siapa yang masuk. Kurenai.
"Eh, ada Shizu-nee... Shizu-nee ngapain di sini?" tanyanya.
"Eh, Kurenai-chan, Shizu-nee lagi jenguk sahabat nih..."
"Kurenai-chan... Kenal dengan Shizu-chan?" tanyaku.
"Iya, Anko-chan... Shizu-nee kan kakaknya pacar Kurenai-chan..." kata Shizune, menggoda Kurenai.
"Eh... I-iya..." kata Kurenai. Gugup. Lalu kami tertawa melihat Kurenai yang salah tingkah. Lalu Kurenai mengambil tas sekolahnya dan menaruh bungkusan kecil di atas meja.
"Anko-nee, Shizu-nee, aku pulang dulu ya... udah sore nih..." kata Kurenai sambil menenteng tasnya.
"Ya, hati-hati ya..." kataku dan Shizune bersamaan.
"Jaa, Anko-nee, Shizu-nee... Anko-chan jangan lupa janjinya lho..." jawab Kurenai lalu meninggalkan ruangan.
"Anko-chan, aku dan Genma-kun pulang dulu ya... udah sore nih, besok aku jenguk lagi ya..." Shizune mengambil tasnya, lalu menggandeng tangan Genma. Aku tersenyum.
"Ya, Shizu-chan... Makasih udah mau jenguk aku... Jaa..." kataku.
Lalu ruangan itu sepi. Tinggal aku berdua dengan Kakashi. Lalu Kakashi membuka bungkusan kecil yang di bawa Kurenai.
"Nah, makan dulu ya... Ini, udah dibelikan makanan sama Kurenai-chan..." katanya, lalu memberikan makanan itu kepadaku.
"Kaka-kun... Suapin..." kataku, manja. Kakashi hanya tersenyum. 'Manisnya senyumannya... Seperti coklat,' pikirku.
"Ya, aku suapin..." kata Kakashi. Senyuman itu tetap terlukis di wajahnya. Aku lalu makan dengan disuapi oleh Kakashi.
'Hm... Enak juga ternyata makan disuapin... Apalagi sama orang yang kita sayangi' batinku. Setelah selesai makan, Kakashi menyuruhku meminum obat.
"Nah, Anko-chan minum obat dulu ya... Setelah itu Istirahat..." kata Kakashi, lembut.
"Gak mau minum obat..." kataku, manja. Sebenarnya aku ingin tertawa. Tapi tak apalah, aku ingin tahu, reaksinya seperti apa.
"Hehehe... Anko-chan ini, minum obat aja susah banget, minum ya... Biar cepet sembuh, dan kita bisa Double Date." Kata Kakashi. Aku tertawa geli.
"Hehehe... Ya, Kaka-kun..." lalu aku meminum obat dan tidur. Lelap.
.
.
1 Minggu Kemudian...
.
.
Aku bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Mengenakan seragam praktekku, celana ungu dan kemeja ungu dengan lengan warna hitam. Lalu aku memasukkan kameraku ke dalam tas. Aku melihat pantulan diriku di cermin lagi untuk memastikan agar aku sudah cukup rapi. Setelah itu aku mengambil tasku dan menuju ruang makan. Di sana ada Ayah dan Ibu yang sudah lebih dulu menyantap sarapan mereka, sebelum mereka berdua berangkat ke kantor, bersama.
"Ohayou, Tou-chan, Kaa-chan..." sapaku ceria, lalu mencium pipi ayah dan ibuku.
"Hn, Ohayou, Anko-chan," jawab Ayahku. Dingin seperti biasanya.
"Ohayou, Anko-chan... Ayo... Sarapan dulu..." kata Ibuku, ramah. Berbeda sekali dengan sifat Ayahku yang dingin.
"Ya, Kaa-chan. Oh, ya, Kaka-kun udah datang?" tanyaku sambil mengoleskan selai coklat di atas roti panggangku.
"Kakashi-kun pacarmu?" goda Ibuku. Kurasakan wajahku memerah.
"Ka-kalo iya... ke-kenapa Kaa-chan?" jawabku. Gugup.
"Ibu senang kalo kamu sama Kakashi itu. Dia yang selalu ngerawat kamu di rumah sakit. Bahkan dia langsung datang begitu Ibu telfon." Kata Ibuku. Aku tersenyum. 'Ternyata dia...' gumamku.
Ting Tong...
"Nah, itu pasti Kakashi... Kaa-chan, Tou-chan... Aku berangkat dulu ya... Jaa..." kataku sambil mengambil tas sekolahku dan membuka pintu depan. Kulihat dia berdiri di depan pintu. Kakashi.
"Ohayou, Anko-chan..." sapanya padaku, sambil tersenyum. Aku terpaku melihatnya. Dengan seragam praktek berwarna merah, dengan lengan warna hitam. Celananya pun, berwarna merah.
"O-ohayou, Kaka-kun..." kataku. Pasti aku begini, kalau udah melihat senyumnya.
"Ayo, berangkat, Anko-chan..." katanya, sambil mengulurkan tangannya. Aku menerima uluran tangannya. Aku menggenggem tanganna dengan erat. Lalu kami berjalan bersama menuju ke sekolah.
Did you see me?
Did you see my tears when you hurt me?
Did you see my smile, when you touch my hand?
Did you see my smile, when you hugs me?
Yes,
because of that... I love you...
The End
Huwaaaa... GaJenya endingnya...T,T
Oh, ya... Makasih buat para senpai-senpai yang udah mau review fic yang GJ ini... n para readers semuaaaa...^-^
Special thanks to:
Dindahatake, chiuchiu hatake, beethoja, Rizu Hatake-hime, Oreo-chan, Kaminari to Mizu, natsue yuzuki, Aiko Kurosaki Uchiha, love kakaanko 4ever, dan...
READERS YANG UDAH BACA FIC INI!
Arigatou Gozaimasu...
Amelia Mitarashi Hatake
