EunHae FanFiction

Title : Growing Pains || Chapter 3

Author : hajeDhae

Genre : romance, drama etc.

Rated : maybe to M

Length : chapter

Main Cast : - Lee Hyuk Jae

Aiden Lee

Lee Donghae

Cho Kyu Hyun

Warning : BL/Yaoi/Boy x Boy

Disclaimer: Semua FF yang saya posting adalah HYUKHAE (Seme Hyuk, Uke Hae) so harap berhati-hati jika tidak ingin membeca FF ini terutama untuk yg kontra dengan HyukHae/EunHae

Typo bertebaran, gak jelas, absurd.

Cast akan bertambah sesuai dengan yang dibutuhkan.

~Growing Pains~

Bertemu Dengannya

Manusia tak tau bagaimana takdir yang akan datang.

Manusia tak tau apa yang akan terjadi dimasa depan.

Manusia hanya bisa menunggu kapan takdir dan kesempatannya datang

Dan tidak tau masa apa yang akan dia alami selanjutnya

Kesedihan

Kesenangan

Kebahagiaan

Kepiluhan

Kita semua hanya bisa menunggu.

Malam itu cuaca sangat cerah. Bintang-bintang berkelap-kelip menghiasi seluruh langit bumi. Deru angin yang spoi-spoi menambah ketentraman dan kenyamanan suasana kala itu. Keceriaan tampak terpancar dari wajah orang-orang yang sedang duduk rapi menikmati santapan mereka di kedai sederhana tempat Donghae bekerja. Menjadi saksi bisu perasaan yang Donghae alami selama ini. meski begitu Donghae berusaha tegar dan tetap tersenyum kepada siapapun. Seolah-olah hidupnya yang sebatangkara itu diselimuti dengan kebahagiaan. Namja berambut lurus dan berponi itu duduk diberhadapan dengan namja yang sedang menyeruput secangkir caffelatte.

"semalam Aiden membuat keributan di club Hyung" ucap namja itu setelah meletakkan cangkir yang yang berisi caffelatte. Benar, namja ini tak lain dan tak bukan adalah sang bartender. Dia adalah Cho Kyuhyun. Kyuhyun merupakan teman Donghae dan Aiden sejak mereka masih duduk di Shapire Blue High School. Disini Kyuhyun menjadi sosok yang berusaha mendekatkan Aiden dan Donghae. Jika libur bekerja dia selalu menyempatkan datang ke tempat Donghae bekerja dan menceritakan tentang keadaan Aiden kepadanya. Tak khayal karena hampir setiap malam dan sepulang dari bernyanyi Aiden selalu mendatangi club malam itu. Ini memudahkan Donghae untuk mencari tau dan informasi tentang saudara kembarnya tersebut.

"apa yang dia lakukan?" namja yang memiliki mata almond itu menatap Kyuhyun sendu, terpancar dari raut wajahnya kalu dia sangat khawatir terhadap keadaan saudaranya.

"Dia mabuk berat dan menghajar pelayan bar hingga pelayan itu sekarat." Kyuhyun menyeruput lagi secangkir caffelatte itu. "kau harus menemui dia Hyung, dan bicara dengannya" tambahnya lagi.

Donghae menghela napas lalu dia berkata "Tidak ada waktu yang tepat untuk menemuinya Kyu, dia juga artis terkenal jadi hampir tidak ada waktu untukku bisa menemuinya empat mata. Dan dulu aku juga pernah bicara kepadanya. Namun sedikit saja dia tidak menghiraukan aku." Namja itu tampak sedih.

"kalau begitu bekerjalah denganku. Maka kau akan bisa lebih mudah bertemu dengannya." Namja itu meyakinkan Donghae.

"tapi Kyu, apa dia mau bertemu denganku? Bahkan dia berkali-kali mengatakan padaku untuk tidak menemuinya lagi." Donghae tampak cemas. Dia menunduk.

"jangan khawatir soal itu Hyung. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana usahamu untuk menyadarkan dia. Ingat kalian itu saudara, bukan hanya itu kalian ini adalah kembar. Kau adalah Aiden dan Aiden adalah kau Hyung." Kyuhyun terlihat gigih meyakinkan Donghae. mencoba member dukungan kepada namja manis itu agar dia dan Aiden bisa hidup berdampingan sebagai saudara kembar yang penuh kasih sayang.

"baiklah Kyu kalau begitu aku akan mencobanya. Tunggu waktu yang tepat supaya aku bisa ijin mengundurkan diri dari tempat ini. Tidak enak juga kalau aku keluar tanpa sebab yang jelas. Kasihan ahjussi, dia sudah baik kepadaku memberiku pekerjaan ini." Jelas Donghae.

"kalau itu terserah kau saja Hyung. Aku akan memberikan yang terbaik untuk membantu kalian supaya bisa hidup dengan normal tanpa adanya dendam dan dengki. Kau sudah kuanggap sebagai Hyung ku sendiri" Namja yang sejak SMA dikenal evil itu tersenyum menatap Donghae. Keinginannya untuk menyatukan Donghae dan Aiden benar-benar tulus dari dalam hatinya.

"goawoyo Kyu. Kau bukan hanya sahabatku, tapi kau juga sudah kuanggap sebagai dongsaengku" Donghae tersenyum. Mengembangkan seulas senyuman manis yang menghiasi wajah sendunya.

"kau tidak usah khawatir soal tempat tinggal Hyung, untuk sementara kau bisa tinggal bersamaku." Namja itu tersenyum.

"gomawo Kyu, jeongmal gomawo. Aku tidak bisa membalas semua kebaikanmu ini."

"tidak apa-apa Hyung, asalkan kau dan Aiden bisa rukun aku sudah sangat bahagia." Namja itu mengelus lengan kiri Donghae. Memberikan kekuatan serta dukungan untuk sang sahabat.

~Growing Pains~

Daun-daun yang berguguran di musim semi membuat seolah semua kenangan pahit yang dia rasakan ikut terjatuh dan terbang karena hempasan angin. Perlahan tapi pasti dia menjajakkan langkahnya menyusuri jalanan kota seoul siang itu. Namja berambut lurus serta poni surai bernama Lee Donghae. Ia memasuki pusat kota Seoul yang dikenal sangat ramai dan dihuni oleh para kalangan elite. Dia memakai celana jeans serta jacket yang sedikit lusuh membalut tubuh tegapnya. Tak lupa dia juga membawa tas ransel hitam yang menempel dibelakang punggungnya. Namja itu merogoh kantung celananya dan mengeluarkan sebuah ponsel dari sana.

"Kyu aku sudah berada di sekitar Gang Yong Nam. Tempat kerjamu terletak disebelah mana?" kata Donghae yang berhenti tepat dibawah pohon sakura yang berguguran. Bisa dipastikan banyak daun-daun dari bunga itu terjatuh diatas rambutnya.

"Apa? Oh iya baiklah. Terima kasih Kyu." dia menutup telefonnya lalu berjalan melanjutkan langkahnya.

Entah apa yang dia pikirkan saat ini. Yang jelas Donghae berusaha untuk bertemu dengan Aiden lewat cara yang disarankan oleh Kyuhyun yaitu bekerja di bar. Namja manis itu sesekali bersiul lirih mengiringi langkahnya menuju ke tempat Kyuhyun. Disat itulah banyak kenangan-kenangan tentang dia dan Aiden muncul tatkala saat dijalan dia menumpai dua anak laki-laki kembar yang saling bercanda gurau. Donghae mendekati dua anak laki-laki itu. Dia tersenyum lalu mengelus rambut kedua anak itu sebelum ia melanjutkan langkahnya. Semakin dia dibenci oleh Aiden disaat itulah semakin kuat keinginannya untuk melindungi sang saudara. Meski berkali-kali Aiden menolaknya dan mecacinya, Donghae tetap sabar dan terus berusaha supaya bisa meluluhkan hati Aiden. Bahkan dulu dikala mereka masih duduk dibangku SMA, Aiden pernah menghajar ketua geng yang dikenal cukup sadis disekolah mereka sampai babak belur. Setelah itu Aiden kabur, dan Donghae yang rela menyerahkan dirinya kepada geng itu untuk mendapatkan balasan yang mereka anggap setimpal. Pada akhirnya Donghae yang dihajar habi-habisan. Dia rela dipukuli bahkan dia rela mati asalkan itu demi Aiden. Aiden adalah dirinya yang sedang dikuasai oleh hawa jahat. Jadi seberat apapun usaha dia untuk melepaskan dirinya yang satu itu dari kutukan iblis jahanam, itu semua akan dia lakukan.

Donghae berdiri tepat didepan sebuah club malam bertuliskan Shocking Ur Night. Dengan berbekal karti identitas Kyuhyun yang diberikan kepadanya, ia berhasil memasuki tempat itu. Awalnya Donghae dibikin tercengang karena melihat keadaan didalam bar, namun dia berusaha tenangdan mencari Kyuhyun. Setelah melihat Kyuhyun berdiri di meja bartender Donghaepun menghampiri namja itu.

"kau disini rupanya" sapa Donghae yang membuat Kyuhyun menoleh.

"kau sudah sampai Hyung. Baiklah tunggu sebentar aku membereskan-gelas-gelas ini dulu setelah itu aku akan mengajakmu keruangan si bos." Jawab namja evil itu.

"apa kau sudah memberitahu bosmu kalau aku akan bekerja disini?" tanya Donghae sambil menaikkan satu alisnya.

"kau tenang saja, bos ku orangnya sangat baik Hyung. Kau pasti akan diterima disini. Sudah kau siap-siap saja dulu, rapikan pakaianmu." Elas Kyuhyun sembari mengelapi gelas-gelas bir dengan kain putih.

"eeuumm, apa Aiden sudah kesini?" tanya Donghae lagi dengan tampang sedikit agak bodoh.

"Aiissh kau ini, belum lah Hyung. Ini masih siang. Aiden kemari nanti kalau sudah lewat tengah malam. Lagian sekarang clubnya belum seberapa ramai."

"aah iya iya aku paham" namja itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

"sudah Hyung, mari ku antar kau menemui si bos." Kyuhyun meletakkan kain putih itu diatas meja lalu berjalan keluar dari bartender menuju ruangan sang pemilik bar.

"baiklah" Donghae berjalan membututi Kyuhyun dibelakangnya.

~###~

"Jadi namamu Lee Donghae?" pria manis berlesung pipi berusia sekitar 32 tahun duduk sambil membaca kartu identitas Donghae. Pria ini bernama Park Jung Soo, dia adalah pemilik bar/club elite ini. Dia juga mantan seorang penyanyi terkenal. Namun karena sebuah perkara dia memutuskan untung hengkang dari dunia hiburan, dan semua uang hasil kerja kerasnya sebagai penyanyi dia gunakan untuk mendirikan bar ini.

"Ne Agassi. Emm maaf, aku harus memanggilmu apa?" tanya Donghae.

"Oh iya, perkenalkan namaku Park Jungso, kau boleh memanggilku Jungsoo hyung." Dia menabat tangan Donghae lalu tersenyum manis dihadapan namja itu.

"ah ne Hyung, Jungsoo Hyung" ucap Donghae memantapkan nada panggilannya kepada sang bos baru.

"kalau begitu mulai nanti malam kau bisa langsung bekerja. Oh iya kau bisa memulai pekerjaanmu menjadi pelayan. Karena pelayan kami ada yang keluar akibat dihajar oleh seseorang hingga dia sekarat dan masuk rumah sakit. Jadi kau bisa menggantikan posisinya". Jelas Jungsoo pada Donghae. yang langsung disambut dengan senyuman bahagia oleh namja itu.

"ne Hyung, kamsahamnida Hyung" kata Donghae sembari menjabat tangan Jung Soo untuk yang kedua kalinya.

~Growing Pains~

Hari sudah mulai malam. Jarum jam semakin cepat tak terasa berputar. Donghae mempersiapkan dirinya untuk bekerja melayani tamu-tamu bar. Di hari pertamanya bekerja Donghae langsung disambut ramah oleh para teman-temannya. Dan mereka juga memuji Donghae karena wajah namja manis itu mirip dengan seorang penyanyi terkenal.

"wah kau manis sekali. Bagaiman bisa kamu memiliki wajah yang hampir sama dengan penyanyi terkenal itu? apa kau ini saudara kembarnya?" ucap salah satu teman baru Donghae yang sedang berbicara dengannya disisi bartender.

"ah tidak, penyanyi terkenal itu siapa namanya? Ha iya Aiden. Dia terlihat kasar dan sombong, bahkan dua hari yang lalu dia membuat masalah disini. Kalau dibandingkan dengan Donghae, masih terlihat manis dan polosan Donghae." kata teman satu nya yang merasa tidak setuju kalau Donghae dibilang mirip Aiden.

"haha sudah-sudah kalian ini bisa saja. Aku hanyalah seorang pelayan bar. Jadi kalau dibandingkan dengan penyanyi itu aku tidak ada apa-apanya. Kalaupun aku saudara kembarnya kami sudah sama-sama jadi artis. Tapi nyatanya aku?!" Donghae hanya menanggapinya dengan senyuman. "bukan hanya mirip, dia memang kembaranku" batin hati Donghae lalu ia tersenyum kepada kawan-kawannya.

"sudah-sudah lanjutkan pekerjaan kalian." Sahut teman yang satunya lagi.

~###~

Satu persatu tamu yang memesan minuman dia layani dengan baik. Donghae merupakan namja yang rajin dan giat dalam bekerja. Hari pertamanya bekerja ia sudah mendapatkan pujian dari Park Jung Soo selaku pemilik bar. Pria itu berkata kalau sahabat Kyuhyun ini orangnya rajin dan giat. Pelayanannya juga dinilai cukup baik. Banyak juga wanita-wanita disana yang menggodanya, namun Donghae hanya menanggapinya dengan senyuman angelnya. Hari semakin larut, jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Namun suasana didalam bar semakin ramai oleh para muda mudi serta bos-bos kaya.

Namja berparas ayu berambut pirang baru saja datang dan dia langsung duduk di meja sebelah timur. Namja itu tak lain dan tak bukan adalah Aiden. "Hyung dia sudah datang" ucap Kyuhyun berbisik pelan ditelinga Donghae. Donghae diam melihat Aiden yang langsung dikerumuni oleh wanita-wanita cantik.

"apa aku harus memanggilnya supaya kalian bisa bicara empat mata?" tawar Kyuhyun, namun Donghae menolaknya. Dia berkata "jangan Kyu, nanti saja. Biarkan dia menikmati waktunya terlebih dahulu." Setelah itu dia berjalan menyingkir dari bartender.

Tak beberapa kemudian Aiden menuju bartender dan berbincang-bincang dengan Kyuhyun. "beri aku segelas soju" katanya pada Kyuhyun. Sang bartender segera menuangkan soju kedalam gelas yang sudah ia letakkan dihadapan Aiden.

"silahkan Aiden~ssi" ucap Kyuhyun singkat. "tak usah seformal itu padaku. Kau ini, dasar. Sejak SMA sampai sekarang kau tak pernah berubah yah Kyu." Sambung Aiden lalu meneguk segelas berisi soju.

Kyuhyun tersenyum, "apa kau tidak mau bertemu dengan Donghae Hyung?" ucap Kyuhyun tiba-tiba yang membuat namja dihadapannya sedikit terkejut dan meletakkan gelasnya diatas meja hingga menimbulan bunyi.

Mendengar ucapan Kyuhyun, sang penyanyi K-Pop itupun langsung menatap Kyuhyun tajam. "kau tidak perlu ikut campur Kyu. Urusi saja urusanmu." Katanya dengan nada sedikit sinis.

Tak lama setelah itu Aiden lalu beranjak dari tempat duduk dan keluar dari bar.

"kau dengar ucapannya tadi?" kata Kyuhyun. Disusul Donghae yang muncul dari belakang tembuk bartender. Ternyata dari tadi Donghae hanya bersembunyi disana dan menatap Aiden dari bilik tembok.

"dia masih tidak mau menemuiku. Haha sudahlah Kyu kau tak usah berharap kami akan bersatu." Ucapnya sok tegar sembari menundukkan kepalanya.

"kau yang sabar Hyung. Tunggu waktu yang tepat aku akan selalu membantumu agar kalian bisa bersatu." Kata Kyuhyun lalu memeluk sahabatnya itu.

~###~

Hari demi hari berlalu. Sudah tiga minggu Donghae bekerja menjadi pelayan bar. Beberapa kali usahanya dan Kyuhyun untuk mempertemukan dia dengan Aiden tidak tersampaikan. Donghae hanya bisa bersabar dan menunggu datangnya waktu yang tepat dan memberikan dia kesempatan untuk berbicara kepada Aiden. Malam ini hari ke 21 dia melayani tamu-tamu bar. Pada saat itu Donghae mengantarkan pesanan dimeja nomor 20. Dia berjalan tegap dan dengan hati-hati dia membawa nampan berisikan lima gelas soju. Saat dia berjalan melewati meja nomor 18 tiba-tiba Aiden terperanjat dan terkejut. Yah saat itu pula Aiden yang duduk di meja nomor 18 itu. Donghae tak menghiraukannya. Dia tetap melangkahkan kakinya hingga dia berhasil meletakkan minuman di meja 20. Setelah itu Donghae pergi kembali ke bartender. Aiden yang saat itu tengah melihat kehadiran Donghae disana dia langsung bergegas mengejar saudaranya itu. Sesampainya di bartender Aiden menarik tangan Donghae dan menyeretnya agar jauh dari pandangan orang yang berada didalam sana. Aiden membawa Donghae keruang ganti para staff dan pelayan bar. Aiden saat itu tampak panic dan ketakutan. Yah untung saja tidak ada yang menyadari kalau dia sedang menyeret Donghae dengan kasar.

"Kau, apa yang kau lakukan disini hah?" ucapnya kasar dan membentak Donghae.

"Aku disini tidak untuk mengganggumu, tapi aku disini bekerja." Balas Donghae dengan suara yang sedikit keras.

"berani-beraninya kau datang lagi dalam kehidupanku. Kau tau apa jadinya kalau kau sampai ketahuan oleh semua orang kalau kau ini adalah saudara kembarku? Reputasiku akan hancur bodoh. Aku tidak mau mempunayi saudara kembar pembunuh sepertimu. Kau yang menyebabkan kecelakaan itu. Kau yang menyebabkan ayahku meninggal LEE DONGHAE" ucap Aiden dengan suara keras dan sedikit tekanan di kalimat terakhirnya. Hal ini membuat Donghae jengah dan berbalik membentak Aiden.

"Kau yang bodoh Aiden. Gunakan otakmu untuk berfikir. Itu semua bukan salahku, itu kecelakaan AIDEN LEE." Kata Donghae yang tak kalah kasar.

"Yah memang benar itu kecelakaan, tapi kalau kau tidak menutupi mata ayah dengan tangan kotormu itu, kecelakaan itu tidak mungkin terjadi lee donghae. aaarrrgghhhh. Aku benci melihatmu, aku benciiiiiiiii. Kau selalu mengingatkanku dengan kenangan pahit itu. Pergilah dari kehidupanku. Pergiiii" Dengan dikuasai rasa emosi yang membara Aiden langsung menghantam pipi Donghae hingga namja malang itu jatuh tersungkur.

"sadarlah Aiden, ku mohon sadaaarrrr" Donghae beranjak lalu menyengkeram kuat-kuat kerah baju Aiden. "hatimu ini terbuat dari apa Aiden. Ku mohon sadarlah." Tak kuasa menahan emosi Donghaepun mendorong Aiden membuat namja itu sempoyongan dan hampir jatuh.

Aiden berjalan mendekati Donghae. Ia terdiam dan memandangi namja itu lekat-lekat. Donghae hanya terpaku, menatap sang saudara kembar dengan tatapan sendu.

"kau, aku tidak ingin melihatmu lagi. Menjauhlah dari kehidupanku Lee Donghae. Dan aku tidak ingin ada seseorang yang melihatmu di tempat ini dan tau kalau kau adalah saudara kembarku. Aku akan memberimu uang agar kau bisa pergi jauh dari kahidupanku." Kata Aiden lalu pergi meninggalkan Donghae. Namja itu akhirnya terduduk lemas. Menopang dahinya dengan tangan kananya. Dia tertunduk. Merasakan sakit dan sesak didadanya.

Setelah kejadian itu pun Donghae langsung menemui Park Jung Soo. Dia memritahu pria itu bahwa dia akan mengundurkan diri dari sana. Dengan alasan dia tidak bisa meluangkan waktu untuk saudaranya. Karena menjadi pelayan bar membuat dia bekerja dari malam sampai menjelang pagi. Jung Soo sangat menyayangkan pengunduran diri Donghae, karena dinilai pekerjaan Donghae sangat baik dan ulet. Pria ini pun membantu Donghae untuk mendapat pekerjaan yang tidak menyita waktunya sampai larut malam.

"kalau begitu aku akan membantumu supaya kau bisa bekerja di perusahaan temanku. Mungkin disana kau akan ditaruh di bagian cleaning service atau office boy. Aku kasihan padamu, kau masih muda dan tampan. Jadi maaf aku hanya bisa membantumu sampai disini saja." Jelas Jungsoo pada namja malang itu.

"Kamsahamnida Jung Soo ~ssi, pekerjaan apapun itu akan aku jalani asalkan tidak sampai larut malam. Karena adikku yang masih kecil selalu mencariku. Aku sangat kasihan padanya." Tegas Donghae.

"Yah baiklah, tunggu sebentar aku akan menghubungi temanku itu." setelah itu Jung Soo langsung memencet tombol ponselnya dan menghubungu seseorang. Tak menunggu beberapa lama telefon itupun segera diangkat.

"Yeobseyo? Ya Hyuk Jae~aah apa kau sibuk? Ah tidak, aku hanya ingin minta bantuan darimu. Haha iya. Emm aku punya teman yang sangat membutuhkan pekerjaan. Apa kau ada tempat diperusahaanmu untuk memperkerjakan orang ini?. Apa?. Ya satu Orang. Lee Donghae, namanya Lee Donghae. Oh iya iya. Baiklah, terimakasih banyak Hyuk~ahh. Anyyeong" Jung Soo menutup ponselnya lalu menyambung perkataannya pada Donghae "Barusan itu adalah sahabatku, dia direktur dari perusahaan Diamond Company. Kau tau kan perusahaan terbesar dan terkenal itu? Nah dia bisa membantumu, kau bisa bekerja diperusahaannya sebagai cleaning service. Apa kau tidak keberatan?" tanyanya pada namja itu.

"Ahh terimakasih banyak Jung Soo~ssi, apapun pekerjaannya akan aku lakukan. Terimakasih atas bantuanmu. Kau sangat baik Jung Soo~ssi" Donghae menjabat tangan pria itu lalu membungkukkan badannya berkali-kali member rasa hormat karena dia telah membantunya mencari pekerjaan.

~Growing Pains~

Deru angin yang membawa dedaunan terbang hingga menyapu latar jalanan kota seoul menghiasi langkah namja berpawakan tegap menuju sebuah perusahaan elite dimana akan menampunya untu bekerja. Namja itu menggeleng-gelenggkan kepalanya tatkala berada tepat digedung yang sangat besar serta menjulang tinggi. "howaaa besar sekali perusahannya, ckck daebak" gumamnya pelan lalu berjalan memasuki tempat itu. Didalam sana banyak orang-orang berlalu lalang dengan memakai pakaian rapi dan berjas. Hanya beberapa staff karyawan yang memakai seragam biru putih sebagai tanda karyawan kalangan bawah perusahaan tersebut. Donghae melangkah menuju tempat kepala bagian staff karyawan. Dia menunjukkan semua kartu identitasnya kepada kepala bagian staff.

"Direktur kemarin langsung menghubungiku kalau ada temannya yang membutuhkan pekerjaan. Jadi mulai sekarang kau bisa langsung bkerja disini Donghae~ssi. Oh iya kau masuk dibagian cleaning service. Selamat datang dan selamat bekerja dengan perusahaan kami Donghae~ssi" ahjussi itu langsung menyalami tangan Donghae dan disambut gembira oleh namja manis itu. "kamsahamnida ahjussi, kamsahamnida" kata Donghae menjabat tangan ahjussi itu sambil membungkukkan badannya.

"Oh ini seragam mu, segera ganti pakaian mu dan mulailah bekerja." Ahjussi itu menyodorkan satu stell seragam biru putih serta topi kepada Donghae.

"kamsahamnida ahjussi" kata Donghae lagi.

"yasudah kalau begitu aku keluar dulu. Karena masih ada urusan dengan staf-staff yang lain." Ucap ahjussi itu lalu keluar dari ruangannya setelah itu disusul oleh Donghae.

Donghae melangkah menuju ruang ganti staff karyawan. Dia membuka lokernya dan menaruh tas serta bajunya didalam sana. Diapun segera berganti pakaian dan mengenakan seragam baru itu. Satu persatu kancing baju ia kancingkan, tak lama setelah itu Donghae keluar dari sana dan dia langsung membawa sapu lantai serta tak lupa alat pengepel lantai.

~###~

Namja tampan dengan rahang tegas dan rambut surai dengan warna merah gelam sedang duduk memandangi laptop dihadapannya. Sesekali ia melirik kertas-kertas yang berada disisi kirinya. Namja itu dengan serius mengisi data-data perusahaan mulai dari tahun 2015-hingga pertengahan 2015. Direktur muda dan berkarisma itu tampak serius dan teliti mengisi setiap kolom-kolom yang terpampang dilayar laptopnya. Tak selang beberapa lama ponselnya pun bordering. Dia meraih ponsel yang tergeletak diatas mejanya.

"yoboseo?" ucapnya kala itu.

"apa kau mau kemari? Apa kau tidak ada jadwal bernyanyi heum?"

"aahh tidak sayang aku malah sangat senang kau datang kemari. Yasudah aku tunggu. Jangan lama-lama. Saranghae" namja itu lalu menutup telefonnya dan meletakkan kembali ponselnya.

Hyuk Jae menghentikan aktifitasnya lalu menyandarkan punggungnya dikursi putarnya. Dia menyahut ponsel yang ada dimeja lalu menekan tombol pesan. Dia menulis pesan dan mengirimnya kepada seseorang. Tampaknya pesan itu akan dikirim kepada kekasihnya. Beginilah bunyi pesan yang ditulis Hyuk Jae/

Manis nanti malam bermalam di aparmenku ya. Aku akan memasakkanmu sesuatu. Tidak lupa menambahkan emote love dan kiss Hyuk Jae lalu mengirimkan pesan itu. Bisa dilihat nama kontak yang dituju. Yah dia mengirimnya epada Aiden. Pria ini benar-benar sudah jatuh kepelukan penyanyi itu.

Dua puluh menit telah berlalu. Aiden tiba diperusahaan Hyuk Jae. Setelah memarkirkan mobilnya dia menaiki lift dan menuju ke ruangan Hyu Jae. Dia memakai stelan jeans, dengan memakai kaos putih dan dibalut jeans berwarna biru tua. Dengan rambut sedikit acak-acakan dan berkacamata hitam membuat ketampanan yang terpancar dari dirinya semakin bercahaya. Dalam setiap langkahnya dia selalu menjadi sorotan. Tak heran jika banyak wanita-wanita yang berteriak melihat dia berjalan diperusahaan itu. Dengan sikap cook dan cuek Aiden tetap melangkah hingga mamasuki ruang kerja Hyuk Jae.

Aiden memasuki ruangan itu lalu berjalan mengendap-endap. Berusaha untuk tidak mengganggu konsentrasi Hyuk Jae dan member namjanya itu kejuta. Barulah Aiden langsung memeluk Hyuk Jae dari belakang dan mengecup telinga namja itu hingga membuatnya terperanjat.

"chagi, kau mengagetkanku saja. Sejak kapan kau disini heum?" kata Hyuk Jae melepaskan pelukan Aiden.

"aku baru saja sampai Hyuk." Sahut Aiden lalu melangkah menuju sofa berukuran big sie disisi kanan.

"apa kau tidak ada jadwal manggung eoh?" tanya Hyuk Jae sembari membereskan berkas-berkas diatas mejanya.

"tidak, hari ini tidak ada job. Jadi aku bisa santai." Jawab Aiden lalu menghempaskan tubuhnya dan berbaring diatas sofa big size itu.

"hheem baguslah, kalau begitu kau bisa menemaniku disini." Hyuk Jae beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah mendekati Aiden.

"Hyuk buatkan aku minuman. Aku haus." Pinta namja itu dengan manjanya.

"aissh kau ini, disana ada dapur kau ambil sendiri gih" perintah Hyuk Jae.

"aah kau ini tidak romantis ih. Pacarmu kehausan kau malah menyuruhnya mengambil sendiri kedapur. Dasar idiot." Aiden pun bangkit dari sofa dan melangkah menuju dapur.

"aku juga ya, bawakan orange jus untukku sayang." Teriak Hyuk Jae meminta dibawakan segelas jus.

"tidak mau. Ambil sendiri." Sahut Aiden dengan nada ketus.

"hyaa awas kau." Hyuk Jae akhirnya melangkah menuju dapur menyusul Aiden. Bisa kalian bayangkan sendiri bukan apa yang teradi didalam sana jika Hyuk Jae dan Aiden sedang berdua. Yah begitulah, desahan demi desahan dan erangan menggema menghiasi seluruh ruang kerja Hyuk Jae. Untung saja ruangan itu kedap suara jadi dari luar tidak akan terdengar apa-apa.

"aasshhh Hyuuukkkhhh aaahhh" desah Aiden tatkala Hyuk Jae menyesap kuat-kuat leher jenjangnya.

"mendesahlah sayang, disini kedap suara jadi tidak akan terdengar dari luar" kata Hyuk Jae lalu kembali meeruskan aktifitasnya.

~###~

Dengan telaten namja bersurai hitam dan berponi itu menyapu seisi ruangan yang selesai digunakan untuk rapat dewan direksi. Dia mengabaikan semua rasa lelah yang menyelimuti hati dan pikirannya. Yang dia pikirkan sekarang hanyalah kerja, kerja dan kerja supaya bisa menyambung hidupnya. Meski upah yang didapatkan tak seberapa namun Donghae tetap tekut menjalani pekerjaannya sebagai seorang cleaning service di perusahaan milik Hyuk Jae itu. Dia rela keluar dari bar karena tidak ingin membuat Aiden marah dan menghancurkan reputasinya. Dia sudah berjaga-jaga karea kalau ampai hal itu terjadi sampai matipun Aiden akan bertambah benci kepadanya. Jadi bagi Donghae kepopuleran dan reputasi Aiden lebih penting dibanding pekerjaannya. Aiden menyuruh Donghae menjauh dari kehidupannya selain dia membenci Donghae karena masalah kecelakaan yang menyebabkan ayah mereka meninggal,dia juga takut kalau Donghae masih bekerja di bar itu Hyuk Jae akan melihatnya dan Hyuk Jae tau kalau Aiden masih mempunyai saudara bahkan saudara kembar. Karena pada saat itu Aiden mengaku kalau dia adalah anak sebatang kara dan hanya dibesarkan oleh pamannya. Dia mengikuti audisi sebagai penyanyi melalui proses panjang dan penuh perjuangan hingga akhirnya dia bisa bersinar seperti sekarang.

~TO BE CONTINUED~

Kyaaa kyaa kyaaa chapter satu sampai disini dulu yaah bebebdeul. ditunggu riviewnya kamsahamnida terimakasih

Kritik dan saran yang membangun selalu author tunggu B-)

~salam hajeDhae~