겁도 없이 (No Matter What) Chapter I
Author : Ahn Chan Jae
Genre : Fantasy, Romance
Cast : Do Yijung (OC) , Sehun, Kai.
Rating : T
Length : Part 3/?
Disclaimer : Segiat apapun saya berdoa, untuk saat ini Exo milik Tuhan yang Maha Esa, SMent dan keluarganya masing masing. Plot,cerita,original character semuanya punya saya. Kris juga punya saya.
Warning : typo stadium lanjut, NO PLAGIAAT OR BASH, SAYA JUGA WRITER YANG BUTUH ASUPAN REVIEW JADI HUKUMNYA WAJIB UNTUK REVIEW~
.
.
.
"yang mana, Sehuna? Yang ini atau yang ini? Akhh, Sehuna aku bisa gila! Orang itu datang besok! Aku belum siap," Yijung menggoyang-goyangkan dua gaun itu dengan brutal tepat di hadapan wajah Sehun.
"coba yang itu," Sehun menunjuk gaun biru muda dengan hiasan bunga sederhana di bagian atasnya. Yijung mengangguk dan masuk ke kamar mandi meninggalkan Sehun yang masih duduk dengan kakunya di diatas ranjang Yijung.
Mata Sehun sibuk memandang sekeliling ruangan. Cukup rapi dan sederhana untuk yeoja seperti Yijung. Memang luas, tapi isinya tak banyak. Sebuah kasur king size yang menurut Sehun terlalu besar untuk tidur sendiri, sebuah lemari yang bisa dikategorikan walk in closet tapi tak bisa dilangkahi masuk karena penuh dengan gaun-gaun panjang berbahan halus, perapian kecil dengan karpet kecil didepannya untuk musim dingin, sebuah meja yang tampak seperti meja belajar sekaligus meja makan dan sebuah rak buku besar diujung ruangan. Pintu balkon yang selalu terbuka tapi tertutup dengan tirai putih kini menangkap perhatian Sehun. Diujung balkon itu bertengger seekor merpati putih, mirip dengan pengantar pesan miliknya.
Benar.
Kaki jenjang Sehun melangkah perlahan menuju ujung balkon dan merpati itu terbang mendekati Sehun, bertengger di bahunya. Di lehernya tergantung seubuah kertas kecil dengan inisial OL besar. Senyum Sehun mengembang dan menarik secarik kertas itu dari leher sang merpati
"Sehuna?" Sehun buru buru memasukkan kertas tadi ke saku celananya dan berbalik. Rahangnya rasanya hampir copot. Seakan nafasnya baru saja ditarik paksa oleh angin yang tiba-tiba berhembus kencang. Aliran darahnya serasa sedang marathon, mendesir cepat menghangatkan tubuhnya. Yijung berdiri dengan anggunnya di pintu balkon dengan rambut ter-french braid rapi, entah bagaimana ia melakukannya dalam waktu secepat itu, "bagaimana menurutmu?"
"a..aku..kau..," Sehun, yang merasa tak bisa bicara hanya mengangkat kedua jempolnya. Melihat reaksi Sehun, senyum Yijung melebar dan berlari pelan kearah Sehun, takut tersandung roknya dan jatuh dengan tidak elit.
"gomawo, Sehuna," Yijung mengecup pipi Sehun sekilas dan kembali berlari ke dalam. Sehun? Pingsan berdiri. Matanya terbuka lebar, tapi jiwanya menghilang.
"Oh Sehun?" Sehun memanggil dirinya dalam hati, tanpa bergerak seincipun, "Oh Sehun,kau masih hidup?"
"tidak. Oh Sehun sudah masuk surga,"
"tidak! Oh Sehun jatuh cinta!"
"aniya. Sehun hanya kurang sehat dan seenaknya bermain angin di balkon orang,"
"shikuro. Oh Sehun jatuh cinta~"
"yak,Oh Sehun! Mau sampai kapan kau berdiri disana?" sebuah teriakan dari dalam menyadarkan Sehun dari lamunan gilanya.
"oh tuhan, bantu aku," batin Sehun sekali lagi sebelum melangkah masuk menuju kamar Yijung yang sedang merapikan kembali gaun-gaun yang berserakan. Anak rajin.
.
.
'Oh Sehun,
Noona izinkan. Tapi jangan lupa misimu, Oh Sehun. Dan juga tujuan awalmu. Aku mengirimmu bukan semata-mata hanya untuk mengembalikan dia atau menghukummu. Semoga berhasil dengan segala-galanya, Sehun-ah. Cepat kembali, bogoshippoyo. Noona menyayangimu.
p.s. perbaiki tulisan tanganmu, tuan muda. Mataku perih membaca surat itu,'
Bibir Sehun kembali menyunggingkan senyum manis. Kertas itu kembali dilipatnya dan dimasukkan asal dalam saku, tanpa sadar sepasang kaki imut mengikuti langkahnya sedari tadi.
"yak! Oh Sehun! Surat dari yeojachingumu, ya?" seketika Sehun membeku. Api dari lilin disisinya mulai bergoyang goyang seakan tertiup angin. Ia membalikkan tubuhnya yang gesit dan tampaklah disana. Sosok Yijung dalam balutan gaun tidur hitamnya. Rambutnya yang diikat asal melengkapi penampilannya yang membuat Sehun dengan susah payah menelan ludahnya, mencegahnya menetes keluar.
"a..aniya! Apa yang kau lakukan malam malam diluar?! Mana Tao dan Yuri?!" bulu kuduk Sehun berdiri melihat seringaian yang tiba tiba nampak di bibir Yijung.
"pingsan," ucapnya polos, "Aku lapar. Temani aku ke dapur," lagi-lagi Sehun terbelalak. Anak penguasa macam apa yang tidak meminta pelayannya untuk makan?
"kau! Makan tengah malam?! Kau tidak takut gemuk? Kembali ke kamar!"
"tapi aku lapar, Sehunaaa,"
"kalau kau tidak tidur, besok aku akan menguncimu dalam kamar dan memberitahu anak penguasa utara itu kalau kau sedang berkunjung ke Derslindra!" mendengar ancaman Sehun, Yijung mengerucutkan bibirnya dan melangkah kembali menuju kamarnya sambil menghentak hentakkan kakinya kesal. Sehun sendiri ikut kesal. Kenapa ia baru sadar sekarang bahwa Yijung benar benar serius menyukai bocah ingusan utara itu? Sebentar, Sehun tau darimana bocah itu ingusan?
"takkan kubiarkan kau menyukai bocah itu, Do Yi Jung. Dan kau takkan bisa merebutnya dariku, Kim Jong In,"
.
.
.
.
Yijung, yang sedang sibuk mondar mandir, kini mulai menyulut emosi Sehun. Tangan mungilnya terus terusan menyibak rambutnya atau mengintip gorden yang sedari tadi bergoyang-goyang pelan, seperti tertiup angin lembut.
"Sehuna, menurutmu kapan mereka sampai?" pertanyaan yang terus-terus terlontar dari mulut Yijung kini membuat Sehun naik darah. Walau wajahnya datar, tapi hati Sehun seakan diinjak gajah lalu digoreng dalam minyak panas jadi keripik. Kakinya pun memutuskan untuk bangkit dan mengiring Sehun ke belakang istana, menuju istal kecil dipojok taman. Sehun masuk dan melesat ke kandang seekor kuda hitam pekat yang sedang mengunyah jeraminya hikmat.
"Luna," ucap Sehun pelan sambil mengusap leher si kuda, "Aku merasa bodoh berbicara denganmu, Lun," Sehun tersenyum kecut, tanpa berhenti mengelus leher si kuda, "biarlah kau menjadi pengganti Luna noona yang asli dirumah," terdengar helaan nafas berat dari Sehun sebelum melanjutkan kata-katanya.
"aku akan membawa noona pulang, Lun. Aku juga akan membawanya bersamaku. Aku janji, Lun,"
.
Klek.
Pintu depan terbuka lebar, memperlihatkan sesosok namja berkulit tan dengan senyum bak orang idiot berdiri dengan ramahnya. Pandangannya tertuju pada sesosok yeoja yang tampak mondar-mandir tak karuan.
"Do Yi Jung," suara seraknya berhasil membuyarkan lamunan sang yeoja yang langsung lari terbirit-birit menghampiri si namja tan.
"Kim Jong In!" Yijung memeluk erat namja dihadapannya. Namja tan itu malah mengangkat Yijung dan memutarnya. "Paboyaa! Kenapa kau lama sekali?"
"kau merindukanku?" goda si namja tanpa melepas pelukannya.
"aniya, aku merindukan pengawalmu. Park Chanyeol!" pekik si yeoja, sontak melepas pelukannya dan melangkah santai menuju seorang namja bertelinga elf yang tingginya diatas rata-rata.
"agasshi," ucap Chanyeol sambil membungkuk pada yeoja yang hanya setinggi bahunya.
"tahu begitu kau tak usah ikut Chanyeol," suara serak nan ketus namja tan tadi membuat kedua sosok yang saling berhadapan itu terkikik geli.
"tenang saja, Kai. Sialnya aku sudah dipilihkan jodoh oleh ibuku," ucap Chanyeol yang air wajahnya berubah kelam.
"baiklah. Yijung, kau hutang ratusan cerita padaku. Ayo ke istal," Kai—si namja tan—menarik tangan Yijung ke arah taman belakang istana, tapi pikiran Yijung acak acakkan. Bolehkah dia meninggalkan istana sendirian?
"Sebentar, Kai. Sehuna menghilang," seketika Kai berhenti dan menatap Yijung dengan alis yang saling menaut.
"Sehuna siapa? Namjachingu? Yak! Bisa-bisanya kau tidak memberitahuku?! Aku harus tau,e—aw! Kenapa dijitak?!"
"jangan asal bicara, aku tak boleh punya namjachingu. Dia pengawal baruku. Kalau aku keluar tanpanya, Taeyeon eonni bisa mengurangi porsi makanku yang sudah sedikit," Kai hanya menggeleng mendengar penuturan Yijung.
"arrasseo. Sana cari. Aku mau mencari kudaku dulu. Aku lupa yang mana, apa sudah mati?"
"tidak pernah ada kuda mati disini, bodoh. Yasudah, aku ke kamarnya dulu," Yijung melangkahkan kakinya menuju kamar Sehun yang tidak bisa dibilang dekat. Pintu coklat sederhana itupun terbuka bahkan hanya dengan sedikit dorongan.
"dasar ceroboh, tidak pernah dikunci ya?" kaki kaki mungilnya Yijung langsung menerobos masuk tanpa memikirkan izin dari Sehun.
"Sehunaa! Dimana kau?" mata indahnya memandang sekeliling. Kamar yang cukup rapi untuk seorang namja, "Sehun?" ekor matanya menangkap sebuah pantulan diatas meja yang terletak didekat jendela. Sebuah kalung barbandul kristal berwarna biru safir tergeletak disana, seakan meminta dibawa pergi.
"untuk apa Sehun menyimpan kalung yeoja?" mood Yijung seketika hancur berkeping keping, "mungkin untuk yeojachingunya ya? Surat kemarin dari yeojachingunya juga?" Yijung menyibakkan rambut-rambut yang menutupi wajahnya ke belakang telinga dan mengangkat kalung itu. Entah kenapa pikirannya kalut, dadanya sesak dan matanya panas seakan ingin menangis.
"kenapa aku menangis? Sehun? Untuk apa aku menangisi Sehun?" Yijung menarik nafas dalam dalam dan memasukkan kalung itu ke dalam saku yang tersembunyi dibalik lapisan rok gaunnya. Melupakan tujuan semulanya, Yijung melangkahkan kakinya keluar dari kamar Sehun dan menuju istal.
"dasar pengawal gila! Muncul dengan menyebalkan dan hilang tiba-tiba tanpa izin yang jelas?! Jangan salahkan aku kalau kau di sembur Taeyeon dengan air plum—eh?" Yijung menghentikan langkahnya. Matanya menangkap dua sosok didalam istal yang tampak sedang berbincang—tepatnya berdebat. Sosok yang kebetulan sedang dicarinya. Oh Sehun.
Dengan siapa? Oh, Yijung pasti mengenali kulit hitam—read—eksotis itu dimanapun. Aneh, Sehun kini mulai mendorong Kai. Tangannya terkepal tapi tak mau melayang. Yijung merenyitkan matanya dan melangkah perlahan menuju istal dan bersembunyi di dekat pintu
"kau orang paling bodoh sedunia," suara Kai terdengar tajam dan menyindir, sedangkan geraman-geraman rendah mulai terdengar dari tenggorokan Sehun.
"aku tidak akan menyeretnya secara paksa pergi dari Yijung,"
"oh, jadi kau kesini mau membawa noonamu pulang atau memainkan perasaan yijung?" geraman Sehun seketika menghilang. Yijung bingung, tapi penasaran. Kenapa dirinya terlibat dalam perdebatan mereka?
Tak ada balasan dari Sehun.
"kau pikir Yijung sepertimu yang tinggal menjentikkan jari untuk mendapatkan segala-galanya?" Yijung menautkan alisnya bingung. "kenapa? Kau tak berani menjawab, Oh Sehun,"
"jaga mulutmu Kim Jong In," Sehun kini angkat bicara. "dia.. juga akan ikut,"
"oh, yang benar saja. Kau tak tahu alasanku kesini kan, yang mulia?"
Yang mulia?
"yak, apa yang kalian bicarakan?" Yijung memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyiannya dan bertingkah seperti kejadian tadi hanya angin lalu, "yak, Oh Sehun! Aku mencarimu kemana-mana!"
"maaf. Kau mau apa memangnya?" Sehun kini menatap Yijung datar, tak seperti biasanya walaupun normalnya juga hanya tersenyum tipis atau ekspresi aneh lainnya.
"aku mau berkuda dengan Kai. Kukira kau mau mengekor,"
"aku tidak akan mengekor. Kupercayakan kau pada tuan muda Kai, tapi aku tak bisa mengizinkanmu keluar istana,"
"baiklah, kita akan berjalan-jalan disekitar sini saja," Kai, yang masih menatap Sehun dingin kini menggenggam tangan Yijung dan menariknya keluar istal. Yijung pun hanya mengikut pasrah, entah mau kemana pujaan hatinya ini.
"Kai, mau kemana, eoh?"
"yak, kau bisa-bisanya lupa jalan menuju tempat ini?" Kai berhenti di depan sebuah pohon besar dengan cabang-cabang tebal. Yijung tertegun. Kai masih ingat tempat ini?
"aku tak pernah ingat jalannya, kau selalu membawaku dengan teleportasimu, bodoh," kini Kai hanya menyengir lima jari dan menggenggam kedua tangan Yijung erat.
Wush.
Keduanya sudah duduk manis diatas pohon. Setiap keturunan kerajaan atau bangsawan atau orang orang penting selalu mewarisi sebuah 'keistimewaan'. Hukum itu tidak lagi berlaku di masyarakat bebas, entah kenapa. Hanya orang-orang penting yang mewarisinya.
Anehnya Yijung juga tidak bisa. Yijung benar-benar normal. Dipaksa seperti apapun, dia tak bisa teleportasi atau menggerakkan benda tanpa disentuh atau bermain api atau jadi sekuat troll raksasa—seperti sang penguasa selatan. Inilah kenapa warga istana sangat menyayangi Yijung dan bersumpah akan menjaganya apapun yang terjadi.
"kau ingat terakhir kali kita duduk disini, Yijung-ah?" Yijung menggeleng pelan. Bohong. Dia ingat persis. Setahun yang lalu, tepat dihari ulang tahunnya, "ah, payah sekali,"
"cih. Terserah, Kim Jong In," Kai kini tersenyum lembut dan menatap yeoja disisinya dalam-dalam.
"chukkae," ucapnya pelan. Yijung hanya melempar tatapan bingung pada Kai dan menonjok lengannya lemah.
"ini bukan ulang tahunku,"
"kau lucu Yijung-ah. Maksudku selamat atas pernikahanmu, calon pengantin,"
.
.
.
"eh? Yak! Pabo! Aku masih terlalu muda untuk itu," Yijung menonjok pelan lengan Kai yang hanya dibalas denan kekehan, "dari tahun ke tahun lelucon Kai makin aneh,"
"hehe. Maaf. Kalau begitu,ada sesuatu yag ingin aku ceritakan," ucap Kai dengan mata berbinar-binar, "kau penasaran?"
"aniya," jawab Yijung ketus, memilih menghindari tatapan memelas Kai.
"tapi kali ini kau harus tau Yijung-ah," ucap Kai serius sambil menekan-nekan pipi bulat Yijung "aku...hehe. Aku sudah tidak jomblo lagi," Yijung terbelalak. Kepalanya spontan menoleh tajam pada namja yang terenyum lebar.
"m..mwo?! Yeojachingu?!" Kai sekali lagi terkekeh melihat perubahan raut wajah Yijung.
"aniya,"
Wush.
Dua detik kemudian.
Wush.
Kai kembali muncul, menapak di tanah dengan seorang namja mungil dalam dekapannya.
"Do Yi Jung, kenalkan namjachinguku,
Byun Baekhyun,"
.
.
.
.
Sehun melangkah sambil menendang-nendang batu yang tidak bersalah. Pikirannya kosong, tapi batinnya terus berperang.
"sial,kenapa namja hitam itu harus datang,"
"disaat misiku hampir berhasil,"
"disaat aku jatuh hati pada pengagumnya,"
"eh?! Pengagum? Jatuh hati? Sehun! Apa kau gila?"
"ya, aku gila! Batinku dalam kondisi perang saat pikiranku kosong! Aku bisa mati kesurupan atau parahnya mati nyusruk ke semak mawar!"
Hiks.
Hiks.
Hiks.
Isakan-isakan halus mulai tertangkap oleh telinga Sehun, membuyarkan perangnya dan mengembalikan pikirannya. Syukurlah.
Hiks
Hiks.
"heey~ nuguya? Yaa,uljimayoo," teriak Sehun, terdengar seperti orang gila. Tapi isakannya terus berlanjut, "yaa~ eodiii? Keluarlah, uljimaa,"
"hiks. Hiks. Sehuna, hiks," mata sipit Sehun membulat. Dia kenal suara ini. Sangat sangat kenal. Hatinya ngilu, mendengar isakkan-isakkan yang tak kunjung berhenti.
"sehunaa, hiks hiks,"
.
.
.
Tu bi kontinyudd muahahhaa
