Hujan dan kenangan...

Dua kata yang bisa dibilang saling terikat antar satu sama lain.

Turunnya hujan membawa rasa melankoli ke dalam diri kita, membuat kita mengingat kenangan yang menghangatkan hati, atau menghampakan jiwa...

Dan serpihan masa lalu yang lama tertimbun pun kadang ikut mengudara.

Jujur... aku sering membandingkan kisah hidupku dengan manga-manga shoujo.

Tapi tentu saja aku tak berharap menggatikan salah satu heroine-nya atau apa... Biar bagaimanapun, aku tak sepemimpi itu hingga mengharapkan seorang pangeran berkuda putih akan datang menjemputku, agar kami bisa hidup bahagia selamanya.

Itu mustahil, dan aku tidak se-shoujo itu.

Namun, jika kuingat masa-masa di mana adegan khas manga itu menjadi nyata, dan terjadi—dengan aku sebagai salah satu pemeran utamanya... Aku tak tahu lagi harus bersyukur akan keberuntunganku atau sebaliknya.

Seperti waktu itu...

Ketika punggung tegapmu tertetesi rintikan hujan... tentang jaket hangat dan senyum menenangkan yang kaulemparkan padaku...

Kau boleh mencibirku sebagai hopeless romantic—or a fool.

Yah, aku tak akan menyalahkanmu.

Karena dengan debar jantung yang tak menentu, juga aliran darah yang kini memenuhi wajahku dan menciptakan rona merah itu... Siapapun pasti akan menertawakan ekspresi bodohku ini.

Siapapun yang melihat pasti akan tahu, bahwa sosok di sampingmu ini menyimpan perasaannya, hanya untukmu.

Siapapun.

Tapi bukan dirimu...

"Berusaha menjangkau seseorang yang tak bisa kauraih... Bukankah itu sangat menyakitkan?"

.

.

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

AU, OoC, typo(s), gaje, klise dan segala kekurangan lainnya akan ada di fic ini. Author juga tidak mengambil keuntungan apapun dari cerita ini. You've been warned. xDd

.

.

Pairing:

Akashi x OC, Midorima x OC, with a little bit of Nijimura x OC.

.

.

Azalea Airys 'not' so proudly presents...

.

.

Memory

[A Story between Us]

.

.

Enjoy, please~

.

.

"Mana Aihara?"

Pertanyaan tiba-tiba ini membuat denting alat makan di sekitarnya terhenti seketika. Rasa hangat yang timbul berkat obrolan-obrolan ringan beberapa menit yang lalu pun seakan pergi tak berjejak. Menyisakan sepi, juga ketegangan yang entah mengapa menyelimuti ruangan tempat tim basket Teiko High itu bersantap sama.

Kedua ruby Akashi menatap manik Miki Arai tanpa ekspresi. Masih menuntut jawaban dari pertanyaan singkatnya tadi.

Gadis berambut cokelat itu hanya mengalihkan pandangan dengan gugup. Memilih memusatkan perhatian pada piring berisi lauk-pauk di depannya daripada menghadapi tatapan tajam sang kapten tim.

Paham jika gadis di sampingnya terlalu takut untuk bersuara, Atsuko Kikuchi mengambil alih, "Aihara-san bilang ia ingin istirahat lebih cepat. Kami juga belum melihatnya lagi semenjak ia menyelesaikan tugas memasaknya tadi."

"Dan tidak ada dari kalian yang berinisiatif untuk mengeceknya di kamar?"

Miki Arai berjengit kecil berkat pertanyaan menusuk Akashi, "kami tidak berani mengganggunya, Akashi-sama…"

Alis Akashi terangkat mendengar jawaban tak meuaskan tersebut.

"Jadi kini ia juga melewatkan makan malam setelah sebelumnya tidak muncul saat sarapan dan makan siang, huh?"

Jika mungkin, suhu udara di ruangan itu menurun drastis berkat nada dingin pada kalimat Akashi tadi.

Atsuko hanya menelan ludahnya gugup.

Miki Arai semakin menundukkan kepalanya.

"Aku selesai lebih dulu. Terima kasih untuk makanannya kali ini."

Setelah mengelap mulutnya dengan tisu, Akashi beranjak dari duduknya. Membawa peralatan makan dan menaruhnya di wastafel, sebelum menghilang di koridor yang menghubungkan ruang makan dengan bangunan peristirahatan utama.

Berpasang mata masih menatap kepergian pemuda bersurai merah itu dalam diam. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk memecah keheningan ataupun melanjutkan makan malamnya. Seakan nafsu makan mereka telah hilang semenjak pemuda bersurai merah itu memulai percakapan.

"Hei, kenapa kalian diam saja? Ayo kita lanjutkan makan malamnya." Nada ceria yang terkesan dipaksakan itu terdengar jelas dari Momoi Satsuki.

"Aomine-kun cepat habiskan supmu, nanti keburu dingin lho—"

"—Mukkun, jangan makan dagingnya saja, kau juga perlu makan sayuran…"

"Tetsu-kun, kuambilkan tempura lagi ya?"

Dan usaha sang gadis merah muda untuk mengembalikan suasana seperti semula pun menuai hasil. Perlahan-lahan, gumaman ringan mulai terdengar sesekali hingga obrolan antar anggota tim pun kembali bermunculan.

"Akashi dan Yuki-onna itu benar-benar tahu gimana caranya ngerusak suasana deh. Aku jadi sempet nggak nafsu makan gara-gara kejadian tadi." Aomine berkata di sela-sela hirupan supnya.

Nggak nafsu tapi nelan supnya kayak nggak makan seminggu gitu... Kise hanya menatap aneh pemuda di depannya.

"Kalau begitu boleh kuambil tempura punyamu, Mine-chin?"

"Huh? Langkahi dulu mayat Kise."

"Eeeh?! Kenapa aku dibawa-bawa Aominecchi!"

Momoi Satsuki tersenyum geli melihat tingkah ketiganya.

"Ngomong-ngomong soal Aicchan… Kenapa dia selalu menghilang saat makan bersama ya? Padahal di waktu-waktu lain dia gampang ditemui lho!"

"Memangnya kau tak tahu? Dia kan alergi cowok, Satsuki."

"Jangan tebar gosip yang tidak-tidak, Aomine-kun," tegur Kuroko.

"Siapa yang nebar gosip? Ingat kejadian saat tahun ajaran baru kemarin? Hanamiya menyuruh seorang kouhai untuk menembak anak Komite sambil bermain gitar. Dan setelah anak itu memilih bernyanyi di depan Yuki-onna, dia masih ngehindarin kouhai itu sampai sekarang."

"Tumben kau ingat hal-hal seperti ini, Aominecchi."

"Waktu itu aku nggak sengaja lihat sih... Lagi pula ekspresi horor Yuki-onna saat itu terlalu berharga untuk dilewatkan." Aomine menyeringai sadis.

Ketahuan deh sisi jahatnya. Kise tersenyum canggung.

Midorima menyesap ocha-nya dengan tenang. "Itu hanya berdasarkan pendapat subjektifmu, Aomine. Ingat, aku juga salah satu saksi mata. Dan menurutku, reaksi Aihara waktu itu cukup normal setelah 'dipermalukan' seperti itu."

"Tentu saja kau akan membelanya." Cibiran bernada rendah Aomine tak luput dari pendengaran Kuroko yang duduk di sampingnya.

"Tapi bukankah seharusnya yang merasa dipermalukan itu si kouhai, Midorimacchi?"

"Dasar bodoh—"

"—Kise-chin memang tidak peka." Murasakibara berkomentar acuh.

"O-oi!"

Tahu jika teman berkacamatanya terlalu malas menjawab pertanyaan Kise, Kuroko buka suara, "semua ini karena sifat Aihara-san yang introvert, Kise-kun. Dia juga tak terlalu suka jadi pusat perhatian. Maka dari itu, menerima pernyataan cinta di depan umum sama artinya dengan dipermalukan..."

"Selain itu, Aihara-san pasti merasa canggung jika berhadapan langsung dengan kouhai tadi. Meskipun kita tahu pernyataan cintanya karena paksaan seseorang," lanjutnya.

"Bukannya ingin membela Kise… Menurutku memang sifat Yuki-onna itu yang agak aneh. Soal pernyataan cinta palsu bukankah Haizaki juga melakukan hal yang sama? Tapi dengan kouhai kiriman Haizaki dia biasa saja tuh," sela Aomine.

"Itu jelas dua hal yang berbeda, Aomine-kun. Pada kasus Haizaki-kun, si kouhai tak punya pilihan lain karena target Haizaki-kun memang Aihara-san. Sedangkan pada kasus Hanamiya-senpai, kouhai itu bisa memilih senpai perempuan lain, selain Aihara-san."

"Aku nggak bisa menyalahkan kouhai itu sih. Soalnya terlepas dari sikap pendiamnya, Aiharacchi memang memiliki paras yang cukup manis."

Mengabaikan gumaman Kise, Midorima menambahkan, "lagi pula, jika kau benar-benar berada di sana saat itu, kau pasti tahu bagaimana reaksi siswa lainnya—ketika dan sesudah peristiwa itu berlangsung."

Kise dan Aomine hanya menatap kosong Midorima.

"Yang dimaksud Midochin adalah tingkah menyebalkan siswa lain—godaan dan siul-siulan—yang terus berlangsung selama beberapa bulan, baik saat Ai-chin sendirian atau ketika berpapasan dengan kouhai tadi." Murasakibara menerangkan malas-malasan.

"Ooh…"

Midorima membetulkan letak kacamatanya.

"Mau bagaimana lagi? Bahasamu memang terlalu tinggi untuk mereka pahami, Midorima-kun."

"Setuju dengan pendapat Tetsu-kun."

"W-woi!"

.

.

»»««

.

.

"Biar kutebak. Kau masih bersembunyi dan tidak mau makan bersama mereka lagi?"

Aihara hanya bisa menghela napas lelah. Sudah pasti setelah ini ia akan diceramahi habis-habisan oleh sahabatnya itu. Meskipun hanya melalui telepon.

Menyamankan letak headset-nya, gadis berambut panjang itu menjawab, "bukannya tidak mau… Kau tahu sendiri 'kan, aku tak terlalu nyaman berada lama-lama di sekitar orang asing."

"Bukankah kau cuma tidak suka dilihat laki-laki saat sedang makan?"

Tepat sasaran.

Aihara meringis kecil. "Ini benar-benar memalukan," gumamnya pelan.

"Oh ayolah Yuki-chan! Aku nggak menuduhmu alergi laki-laki kok. Meskipun tingkahmu ini memang bisa membuat orang salah paham sih…"

"Thanks a lot, Hana. I feel so much better now."

Tawa ringan terdengar jelas dari ujung sambungan. "Jangan gunakan nada sarkasmu padaku, Nona Muda. Kau paham jika kau tak bisa terus-terusan seperti ini 'kan? Cepat atau lambat kau harus menghadapi 'ketakutanmu' ini. Selain itu, kupikir Akashi-kun tidak akan tinggal diam dengan aksi kucing-kucinganmu ini."

Mendengar nama pemuda itu disebut saja sudah membuat Aihara berjengit ngeri. Ia tak bisa—dan tak ingin—membayangkan konsekuensi apa yang akan menantinya berkat tingkah anehnya ini.

"Selamat. Kau baru saja meningkatkan level stresku," sungut Aihara, rendah.

"Ups! Maaf Yuki-chan. Hehehe…"

"Ya sudah… bagaimana kalau kita ubah topik pembicaraan saja?" tawar Natsumi.

"Oke."

"Eeeh? Kenapa suaramu jadi lemas begitu? Kau belum makan ya?" Pertanyaan bernada cemas ini akhirnya keluar dari bibir Natsumi.

"Huh? Aku sudah makan kok."

"Benarkah? Memangnya kau makan apa tadi?"

Jika gadis berambut cokelat itu ada di sini, pasti kedua maniknya sudah memancarkan rasa curiga.

Aihara terdiam selama beberapa saat. Merasa sedikit enggan menjawab pertanyaan sahabat baiknya itu.

"Aku tahu. Kau pasti makan mie instan lagi 'kan?"

"Lagi apanya? Tadi siang 'kan aku makan roti lapis." Aihara membalas defensif.

"Ha! Berarti makan malammu kali ini memang hanya ramen instan."

Sial. Pakai keceplosan lagi. Aihara menggigit bibir bawahnya kesal.

Natsumi kembali bersuara, paham jika sahabatnya itu tak ingin mengomentari tuduhannya tadi. "Yuki-chan… Kenapa kau malah makan makanan tak sehat itu sih? Bukankah kau di sana jadi koki? Masak iya kau bekerja keras di dapur tapi tak menikmati hasilnya sama sekali?"

Helaan napas lelah kembali muncul pada Aihara Yuki. "Kau tahu sendiri bagaimana persaanku yang sebenarnya soal training camp ini. Ditambah dengan aksi kabur-kaburanku… kaupikir aku bisa menelan makanan yang berasal dari budget tim basket dengan tenang?"

"Kau merasa bukan bagian dari mereka ya?" Suara Natsumi terdengar cukup lirih.

"Sebenarnya aku tidak punya masalah pribadi dengan mereka. Anggota tim, bahkan Akashi-san juga memperlakukanku dengan cukup baik…" tutur Aihara.

"Tapi tetap saja kau merasa di sana bukanlah tempatmu 'kan?"

Hanya keheningan yang membalas pertanyaan Natsumi.

"Kupikir kau hanya butuh waktu, Yuki-chan. Jangan terlalu dipikirkan. Ini baru hari kedua. Kujamin semua akan baik-baik saja dan kau akan mulai menghangat dengan mereka setelah ini..."

"Dan jika ada sesuatu yang mengganjal atau kau butuh teman ngobrol… ingat, kau bisa menghubungiku kapan saja," lanjutnya ceria.

Aihara bisa merasakan senyum kecil terbentuk di bibirnya, "thanks Hana…"

"Anytime~"

Lega.

Bisa dibilang hal inilah yang dirasakan Aihara setelah selesai mengobrol dengan Natsumi tadi.

Meskipun ia belum bisa mengatasi rasa 'tidak nyamannya'… dan—mungkin—masih akan meneruskan aksi kucing-kucingannya selama beberapa hari lagi… Tapi setidaknya ia tak merasa 'homesick', 'stres' ataupun 'terasingkan' untuk saat ini.

Kini ia bisa menikmati damainya malam di tengah kumpulan bunga mawar dengan hati ringan. Mampu merasakan sejuknya angin musim semi yang membelai kulitnya lembut… juga dapat memanjakan matanya dengan keindahan bulan dan gemintang, yang biasanya tak bisa ia nikmati ketika berada pada naungan sang Ibu Kota.

Semua hal kecil ini—semua ketenangan—yang mungkin tak akan ia dapatkan lagi ketika kembali ke Tokyo nanti.

Dan Aihara berencana untuk terus menikmati suasana indah ini—selama ia masih bisa.

"Apa yang kaulakukan sendirian di sini?"

Suara baritone itu membuat Aihara berjengit kaget. Diarahkan kelabu—yang sebelumnya tenggelam mengamati langit malam—menuju sosok yang berdiri tak jauh di sampingnya.

Dan di bawah pancaran sinar rembulan, Midorima Shintarou menatap Aihara Yuki dengan tenang.

"Midorima-san! Kau hampir saja membuatku terkena serangan jantung."

Midorima hanya merespon dengan membetulkan letak kacamatanya.

Aihara tersenyum kecil. Kelabunya kembali memuja langit setelah bersitatap dengan iris hijau Midorima. "Aku hanya menikmati langit malam, Midorima-san… Jarang-jarang kita bisa melihat bintang sebanyak ini."

"Hn. Tokyo memang terlalu gemerlap untuk mengamati perbintangan." Kedua iris Midorima kini ikut memandangi langit.

Detik demi detik berlalu dan keduanya masih tenggelam dalam pemikiran masing-masing...

"Nah, daripada kau terus berdiri seperti itu, kenapa tidak bergabung denganku dan duduk di sini, Midorima-san? Aku tidak menggigit kok." Aihara berusaha memecah sunyi dengan candaannya.

Midorima hanya melirik singkat gadis di sampingnya. Tak mengiyakan maupun menolak tawaran yang diberikan tadi, "bukankah kau sengaja bersembunyi di sini karena ingin sendirian?"

Lengkung kecil di bibir Aihara kini terasa lebih hambar dibanding sebelumnya.

Pemuda berambut hijau itu hanya menghela napas lelah. Diambilnya beberapa langkah sebelum ia menyamankan diri di bangku kayu itu.

Hening sesaat, sebelum pemuda berkacamata itu kembali buka suara, "apa kau tahu? Di antara ribuan pola yang bisa diimajinasikan manusia, rasi bintang yang resmi diakui oleh Perhimpunan Astronomi Internasional hanya berjumlah sekitar 88 buah."

Kelabu Aihara kini menatap iris hijau Midorima penuh perhatian. Ketertarikan terlihat jelas dari pancaran kelabunya—menggantikan mendung yang sebelumnya menyelimuti kilau cerahnya.

Melihat perubahan ekspresi gadis di sampingnya, Midorima menghela napas lega dalam hatinya. Pemuda itu lalu berdehem kecil sebelum melanjutkan, "jadi… apa kau bisa menyebutkan beberapa rasi bintang yang kauketahui?"

"Selain rasi bintang zodiak… Crux, Orion, Biduk, Monoceros? Aku bisa menyebutkan beberapa. Tapi sejak kecil… bisa dibilang yang berhasil kuidentifikasi hanya Orion dan rasi bintang Biduk saja."

"Dan memakai peta langit malah semakin membuatku bingung," gumam Aihara pelan.

Midorima bisa merasakan sudut bibirnya terangkat kecil mendengar pengakuan barusan. Dibetulkan letak kacamatanya untuk yang kesekian kali.

"Kalau kau bisa mengenali Orion seharusnya kau bisa dengan mudah mengenali rasi bintang di sekitarnya."

Aihara hanya mengangkat sebelah alisnya.

"Iya-iya, aku memang buruk dalam direksi... Kau tak perlu memperjelasnya lagi untuk menyindirku, Midorima-san."

Senyum kecil menghiasi wajah keduanya.

"Apa kau pernah mendengar kisah 'Orion sang Pemburu'?" Midorima menatap Aihara penuh tanya.

"Sepertinya belum." Aihara menggeleng pelan.

Midorima kembali memusatkan perhatiannya ke langit malam. "Orion sang Pemburu berdiri di sebelah sungai Eridanus, dengan dua kawan setianya Canis Mayor (anjing pemburu besar) dan Canis Minor (anjing pemburu kecil). Suatu hari, ia melihat Taurus si Kerbau sedang mengambil minum di sungai itu. Dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan, ia memutuskan untuk menjadikan kerbau itu sebagai target buruannya. Hingga di akhir hari Orion berhasil membawa pulang Taurus… selain Lepus—kelinci—sebagai persedian makanan mereka…" tutupnya.

Aihara menatap Midorima kagum. "Wah… Jadi bisa dibilang Eridanus, Canis Mayor-Minor, Taurus dan Lepus adalah rasi bintang yang terletak di dekat Orion? Ada sebanyak itu dan aku nggak bisa melihat polanya?! Sense of direction-ku benar-benar parah ternyata." Senyuman miris kini terlukis pada bibirnya.

"Aku bisa menunjukkan letak beberapa rasi bintang jika kau mau," tawar Midorima acuh.

"Benarkah? Tentu saja aku mau!" Aihara menyambut dengan antusias. "Kalau ini tak terlalu merepotkanmu sih…" tambahnya dengan senyum sungkan.

"Aku takkan menawarkannya padamu jika merasa ini merepotkanku." Midorima mengangkat sebelah alisnya.

"Baiklah… Kau lihat bintang yang berlaku sebagai kaki kanan Orion itu?" Pemuda itu menunjuk dengan tangan kirinya.

"Kita anggap bintang di dekatnya itu adalah titik permulaan sungai Eridanus. Dan jika kita tarik garis yang menghubungkan satu bintang ke bintang lain…" Midorima kini membuat garis imajiner di langit. "…kita akan sampai pada ujung selatan rasi Eridanus—bintang Achernar…bintang paling terang di rasi ini sekaligus salah satu bintang dengan bentuk paling lonjong."

Aihara—lagi-lagi—hanya bisa menatap pemuda di sampingnya dengan takjub.

"Pengetahuanmu soal perbintangan benar-benar mengagumkan, Midorima-san," ujarnya.

"Horoskop—Oha Asa—dan astronomi bisa dibilang adalah satu bidang."

Midorima mengedikkan bahunya sebelum melanjutkan, "di sebelah tenggara Orion adalah salah satu dari 48 rasi buatan Ptolemaeus(1) lainnya, rasi Canis Major. Kau tahu? Rasi bintang ini dilalui perpanjangan bidang Tropic of Capricorn(2)—ya, itu zodiakmu—dan pita Bima Sakti di ujung timurnya. Dan jika kau salah satu penggemar Harry Potter, Sirius adalah bintang paling terang di rasi ini."

"Dan di sebelah sana…"

Midorima dan Aihara terus berbincang tentang perbintangan dengan antusias. Sesekali pemuda berkacamata itu akan menunjuk satu arah di langit, untuk kemudian menerangkan rasi yang menempatinya. Perang kata dan sindiran berbalut candaan pun mewarnai diskusi mereka malam ini.

Orang lain yang melihat mereka pasti bisa merasakan aura hangat dan kebahagiaan yang menyelimuti keduanya kini…

Bisa melihat bagaimana kelabu dan hijau itu beberapa kali saling bersinggungan…

Juga senyuman-senyuman kecil yang terkadang saling dilemparkan...

Ya. Semua orang...

Termasuk sang pemilik mata sewarna ruby itu.

.

.

»»««

.

.

Kuroko Tetsuya berjalan pelan menyusuri koridor penginapan. Hari telah beranjak larut dan sebagian dari rekan setimnya sudah berada di peraduan masing-masing, selepas mereka mengunjungi onsen tadi.

Biasanya ia pun akan terkapar di futon seperti teman-temannya. Mengingat betapa kerasnya menu latihan—terlebih saat masa training camp, rasanya wajar jika langsung beristirahat di kamar adalah pilihan yang cukup bijak.

Tapi entah kenapa… kali ini ia tak bisa mengistirahatkan pikirannya.

Ia tak tahu apa yang membuatnya gelisah sedari tadi. Membuatnya hatinya resah… meskipun ekspresi luarnya tetap datar seperti biasa.

Dan karena berguling di futon tanpa bisa memejamkan mata hanya akan mengganggu teman-temannya, ia memutuskan untuk keluar kamar—mencari udara segar.

Hingga di sinilah ia, berjalan tanpa tujuan dan menikmati suasana malam khas musim semi.

Mata biru cerahnya sesekali menyapu sekitar, mengamati interior bangunan hingga mengagumi desain artistik taman bergaya Eropa di sebelahnya.

Taman ini terletak di sebelah barat penginapan, yang memang bergaya lebih modern di bandingkan desain taman di bagian timur—tempatnya menginap—yang lebih ke arah tradisional Jepang.

Ia sedikit berharap, dengan perbedaan pemandangan… juga aroma bebungaan yang didominasi oleh berbagai jenis mawar ini bisa merelaksasi pikirannya.

Selama beberapa saat Kuroko hanya terdiam di tempat. Menikmati gradasi bunga-bunga yang dilapisi sinar rembulan dan sedikit terbuai kedamaian yang menyelimutinya.

Hingga suara langkah kaki dan sekelebat warna merah tertangkap di ujung matanya.

Dan Kuroko cukup yakin jika kedua iris ruby itu berkilat dingin ketika Akashi melewatinya tanpa suara.

Dirinya hanya bisa menatap punggung pemuda bersurai merah itu dalam diam. Perlahan menjauh, hingga menghilang bersama gelapnya malam. Meskipun sejujurnya, ia merasa sedikit aneh dengan kelakuan tak biasa dari kapten timnya itu.

Akashi Seijuurou bukanlah orang yang mudah emosi seperti Aomine-kun. Ia punya pengendalian diri yang tinggi—hingga kadang terlihat dingin—tanpa ekspresi. Ia juga selalu profesional dan penuh perhitungan. Bisa dibilang, selama Kuroko mengenalnya, sangat jarang—bahkan tidak pernah—Akashi terlihat marah pada seseorang. Tegas dalam menghukum seseorang, mungkin. Tapi tidak dengan marah.

Sampai saat ini, tentu saja.

Sedikit penasaran, Kuroko mulai melangkah berlawanan dengan arah kepergian Akashi.

Entah malam itu merupakan malam keberuntungannya atau apa, ia tak perlu berjalan terlalu jauh karena sebuah pemandangan—yang cukup menarik—tertangkap oleh iris birunya. Pemandangan yang sebelumnya tersembunyi dari tempatnya berdiri berkat sebuah patung bergaya Yunani.

Dan entah kenapa ia punya firasat kuat jika pemandangan inilah yang membuat Akashi bertingkah seperti tadi.

Pemandangan dua muda-mudi yang tengah duduk berdampingan di bawah naungan bintang…

Di mana sang pemudi—yang sebelumnya gemar menghilang itu—kini tengah tersenyum kecil ke arah pemuda berkacamata di sampingnya…

Aihara Yuki dan Midorima Shintarou.

Dan iris biru Kuroko hanya bisa mengamati keduanya dalam keheningan malam.


To be Continue


Author's Note:

Sebenernya mau bikin Midorima nerangin satu rasi bintang lagi, tapi karena aku nggak mau fiksi ini berubah jadi Wikipedia makanya aku skip gitu. Hohoho... #slaps

Semoga scene MidoAi tadi nggak terlalu ngebosenin karena ke-detail-annya ya. :")))

Seperti biasa,terima kasih banyak untuk Guest, Yuiko Narahashi, mawarbereum5, Rinko Seo, Princess Savoki, Phantom Klein dan Phantom Klein versi Guest (ampe review dua kali :D) yang udah repot-repot ngereview~ Thanks a lot, guys! :D

Tak lupa, makasih juga ya buat yang udah baca, follow dan favorite-in fic ini. :")))

Dan di bawah ini adalah balasan untuk reviewer non login. Yang login balasannya sudah dikirim lewat PM masing-masing ya~ :")))

Guest: Awww~ Syukur deh kalau apdetan kemaren bikin kamu seneng. :")) Tapi maaf ya, apdetnya agak lama. Maklum, aku ngetiknya emang tergantung mood sih. Tapi makasih udah nyemangatin dan mau review! ;D

Phantom Klein: Astaga... Aku ampe speechless kamu review dua kali gini. Jadi ngerasa rada-rada tersanjung... #slaped Ini udah apdet btw~ Makasih udah review ya! :")))

Sekali lagi makasih buat yang udah mau mampir apalagi sampai nge-review fic ini... :")

Sign,

A. Airys


Catatan Kecil:

1. Claudius Ptolemaeus adalah seorang ahli geografi, astronom, dan astrolog yang hidup pada zaman Helenistik di provinsi Romawi, Aegyptus.

2. Nama lain dari Garis Batas Selatan, salah satu dari 5 garis lintang utama yang menandai peta bumi.