Disclaimer : All chara punyanya J. K. Rowling ya, saya cuma pinjem nama aja
Pairing : Drarry n lainnya, jadi jelas ini ada unsur yaoi. Buat yang anti ga usah baca aja
Setting: Tahun ke-6, kurang lebih kaya di novelnya ya. N ada sedikit perubahan karena nyesuai-in ama cerita aku.
Warning: Ini ff boyxboy yg ga suka jgn baca. typo banyak.
Harry, Ron, dan Hermione pergi mengunjungi desa Hogsmeade di akhir pekan ini. Tetapi sebelum pergi mereka menyempatkan untuk menengok Lucia dulu di Hospital Wing.
"Sayang sekali kau sakit, Lucia. Ini kunjungan pertama kita tahun ini." kata Ron.
"Tidak apa-apa, Ron. Aku bisa mengunjungi desa itu lain kali. Kalian pergilah nanti keburu siang." jawab Lucia sambil tertawa, "Tapi tolong belikan aku coklat ya." tambahnya.
"Tenang saja, pesananmu sudah kucatat. Kalau begitu kami pergi dulu ya, nanti sore kami kemari lagi." kali ini Hermione yang menjawab.
Harry tidak banyak bicara hanya mengucapkan selamat tinggal saja pada Lucia. Sejujurnya ia berharap dapat melihat Malfoy saat mengunjungi Lucia tadi. Entah kenapa Harry merindukan Pangeran Es itu walaupun setiap bertemu mereka pasti perang mantra atau saling melempar ejekan. Tetapi karena tahun ini Malfoy lebih sering bersama Lucia dan kemudian tiba-tiba menghilang dari Hogwarts, Harry jarang melihatnya. Harry selalu mencari keberadaan Malfoy melalui marauder's map.
Harry juga penasaran dengan apa yang Malfoy sedang kerjakan. Kemana Malfoy pergi setiap menghilang dari Hogwarts. Selama perjalanan menuju Hogsmeade Harry juga tidak banyak bicara. Dibiarkannya Ron dan Hermione jalan berdua lebih dulu. Dia tahu diri bahwa ada hubungan khusus antara Ron dan Hermione, dan tidak ingin mengganggu mereka.
Setelah berbelanja barang-barang yang dibutuhkan, mereka memutuskan untuk makan siang sambil menghangatkan diri di Three Broomstick. Memesan makan siang kemudian minum segelas Butterbeer cukup untuk membuat mereka kenyang dan hangat. Merasa udara akan semakin dingin jadi Harry, Ron, dan Hermione memutuskan untuk segera pulang ke kastil.
Di depan mereka terlihat Katie dan seorang temannya tengah berebut sebuah bungkusan. Teman Katie berusaha membuang bungkusan itu dan berkata bahwa tidak seharusnya Katie membawa barang yang tidak jelas asal-usulnya itu. Tapi Katie seperti tidak mendengarkan ucapan temannya, ia tetap mempertahankan bungkusan itu dan berkata harus mengantarkannya pada seseorang.
Tiba-tiba bungkusan coklat tersebut robek dan terjatuh di atas salju. Hal yang aneh terjadi pada Katie, ia terangkat ke udara dengan mata mendelik ke atas kemudian terdengar jeritan. Setelah itu Katie terjatuh lagi ke tanah. Harry cs segera mendekati mereka dan untunglah Hagrid muncul dan langsung menggendong Katie berlari membawanya ke kastil.
Harry mendekati bungkusan coklat yang terjatuh. Ternyata ada seuntai kalung antik di dalam bungkusan yang sudah robek itu. Harry melepas syal yang melilit dilehernya kemudian menggunakannya untuk memungut kalung itu dan membungkusnya. Mereka berempat dengan teman Katie yang bernama Leanne kembali ke kastil.
Sesampainya di kastil Profesor McGonagall sudah menunggu dan langsung membawa mereka ke kantornya. Harry menceritakan semua kejadian yang dilihatnya dan menyerahkan kalung yang menyebabkan kejadian ini. Leanne masih menangis karena ketakutan dan shock. Jadi Profesor McGonagall menyuruhnya untuk segera ke Hospital Wing dan menemui Madam Pomfrey.
McGonagall segera memanggil Severus Snape untuk menyelidiki kalung itu karena ia adalah orang yang sangat paham tentang sihir hitam. "Kalung ini dipenuhi oleh sihir hitam, aku akan memeriksanya dulu. Beruntung Miss Bell hanya menyentuh sedikit sekali karena ditemukan lubang kecil di sarung tangan yang dipakainya. Kalau tidak, bisa dipastikan ia akan langsung meninggal." jelas Snape kemudian pergi dengan kalung yang masih di bungkus oleh syal milik Harry.
"Kalian bertiga juga bisa kembali ke asrama. Aku harus ke Hospital Wing untuk melihat perkembangan dari Miss Bell." kata McGonagall pada trio Gryffindor.
"Maaf, Profesor, saya ada kecurigaan bahwa hal ini disebabkan oleh Malfoy. Saya pernah melihat kalung itu di toko yang didatangi olehnya." kata Harry saat teringat pernah melihat Malfoy di toko Borgin and Burke di Knockturn Alley.
"Apa kau melihat Mr Malfoy membelinya secara langsung, Mr Potter?" tanya McGonagall.
"Tidak, Profesor. Tapi saya mendengar Malfoy meminta penjaga toko untuk menyimpankannya. Iya kan, Hermione?" jawab Harry sambil meminta persetujuan dari Hermione yang waktu itu sempat masuk ke toko tersebut.
"Entahlah, Harry. Kalung itu memang ada di sana tapi saat aku tanya penjaga tokonya bilang aku bisa membelinya dengan 300 galleon. Ku rasa kalau memang Malfoy memesannya tidak mungkin kalung itu di jual padaku kan?" elak Hermione.
"Tapi aku yakin pasti Malfoy pelakunya, Profesor. Dia pasti bersembunyi di dalam toilet kemudian memantrai Katie untuk membawa kalung itu ke dalam kastil." Harry masih kukuh dengan dugaannya.
"Cukup Mr Potter. Kita tidak bisa menuduh tanpa adanya bukti. Lagipula Mr Malfoy tidak ada di Hogsmeade hari ini karena dia ada detensi denganku akibat tidak mengerjakan essay Transfigurasi-nya dua kali berturut-turut." jawab Profesor McGonagall sambil bergegas meminta mereka untuk pergi.
"Harry, kau dengar kan? Malfoy tidak di Hogsmeade, jadi kecurigaanmu itu tidak terbukti." kata Hermione gusar karena dia merasa Harry mulai terobsesi pada Malfoy.
"Mungkin dia punya kaki tangan yang membantunya. Saat ini dia sudah bergabung menjadi Death Eater kan, jadi pasti ada yang melakukan itu atas perintahnya." jawab Harry yakin.
Ron dan Hermione hanya saling pandang kemudian berjalan kembali ke asrama Gryffindor. Harry mengikuti mereka sambil tetap berusaha mengemukakan pendapatnya membuat Ron dan Hermione meneruskan sikap mereka seolah-olah tidak mendengar yang Harry bicarakan.
Harry dengan kesal langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengambil Marauder's Map-nya. Matanya mencari satu nama yang sudah membuat hati dan pikirannya berantakan. Draco Malfoy terlihat sedang berada di Hospital Wing bersama tentu saja tunangannya yang sakit dan ada Severus Snape juga. Harry turun lagi ke ruang rekreasi menghampiri Hermione dan Ron yang sedang asyik berduaan entah mengobrol apa.
Hermione sedikit terlonjak saat Harry menyentuh bahunya dari belakang. Hermione langsung melepaskan genggaman Ron pada tangannya, wajahnya memerah. "Harry, kau mengagetkanku. Kau mau kemana?" tanyanya masih terlihat gugup.
"Maaf, aku sudah memanggilmu dan Ron tadi tapi sepertinya kalian tidak dengar.Aku mau keluar jalan-jalan, nanti aku akan langsung ke Aula Besar saat makan malam. Kalian lanjutkan saja, maaf sudah mengganggu." jawab Harry nyengir melihat wajah Ron yang memerah seperti warna rambutnya.
"Tidak, Harry. Kau sama sekali tidak mengganggu. Aku dan Ron tidak sedang ngapa-ngapain. Mau kutemani keluar? Kudengar Ginny dan temannya sedang di lapangan Quidditch." Hermione berusaha menutupi rasa malunya dengan mengalihkan pembicaraan.
Tapi Harry menolaknya, "Tidak perlu, Hermione. Aku sedang ingin sendirian. Nah, aku duluan ya." Harry langsung berbalik dan berjalan keluar melalui lukisan The Fat Lady. Kakinya melangkah pelan menuju sayap lain dari kastil besar ini. Setelah berjalan cukup lama sampailah Harry di depan pintu ganda besar Hospital Wing. Mendorong pintu itu pelan kemudian berjalan menghampiri ranjang rawat Lucia yang tertutupi oleh tirai putih.
"Jangan gegabah, Draco. Katakan padaku apa rencanamu?" terdengar suara milik Snape. Rupanya Snape tidak mengira akan ada yang datang ke sini karena Madam Pomfrey dan McGonagall sedang pergi membawa Katie Bell ke St. Mungo, rumah sakit khusus untuk penyihir yang sakit parah dan terluka akibat sihir.
Harry dengan cepat bersembunyi di dekat sebuah lemari kayu tempat obat-obatan berusaha mendengarkan percakapan antara Snape dan Malfoy. Dan untunglah dia membawa Jubah Gaib-nya. Dengan cepat tanpa suara ia mengerudungkan jubah itu ke tubuhnya membuatnya tidak terlihat.
"Aku tidak bisa mengatakannya padamu, Sev." jawab Draco pelan.
"Kau hampir membunuh seseorang Draco." Snape berkata dingin.
"Aku tahu, dan aku juga menyesalinya. Aku tidak menduga bungkusan itu akan robek. Aku sudah membungkusnya dengan baik agar tidak koyak atau rusak sampai benda itu tersimpan di tempat yang aman." jelas Draco pada Severus dan Harry bisa merasa kalau Malfoy benar-benar menyesal tersirat dari nada bicaranya. Terdengar suara isakan pelan dari Lucia.
"Untung saja gadis itu tidak menyentuhnya secara langsung. Aku sudah memberinya penangkal kutukan agar racunnya tidak menyebar, St. Mungo pasti bisa menyembuhkannya." kata Snape lagi.
"Lucia, jangan menangis lagi. Aku janji tidak akan bertindak bodoh seperti ini lagi. Tapi aku tetap harus melakukan perintahnya agar si brengsek itu tidak melukaimu." kali ini Malfoy bicara pada Lucia. Nada khawatir pada suaranya membuat denyut nyeri di hati Harry.
"Aku pergi dulu. Kau temanilah Lucia di sini." Snape mengibaskan jubah hitamnya dan pergi dari situ. Harry berdiri diam menahan napas sampai Snape sudah hilang dari pandangannya barulah ia berani bernapas lagi. Berjalan lebih dekat lagi pada ranjang Lucia agar bisa melihat mereka.
"Draco, kumohon jangan menyakiti siapapun lagi. Sebaiknya kau hentikan semua rencanamu agar tidak ada lagi yang terluka." kata Lucia masih terisak.
Draco mendekati Lucia dan memeluknya erat. "Tidak bisa, Lucia. Dia mengancam akan menyakitimu dan membunuh Mum dan Dad juga. Kita harus tetap menjalankan rencana yang sudah Dumbledore susun. Tapi tentang misiku, aku punya rencana sendiri." jawab Draco pelan di dekat telinga Lucia agar tidak ada yang bisa mendengarnya. Tapi Harry bisa mendengarnya dengan jelas karena ia berdiri dekat kepala ranjang Lucia.
Harry menekap mulutnya sendiri karena hampir saja ia menjerit. Harry kaget sekali mendengar nama Dumbledore yang keluar dari mulut Malfoy. Dumbledore ikut andil dalam rencana Malfoy, apa yang sebenarnya terjadi. Bukankah Dumbledore ada di pihak kami tapi mengapa ia berkomplot dengan keluarga Malfoy. Snape juga, Dumbledore sangat mempercayainya. Apakah selama ini ia dibohongi oleh kepala sekolahnya itu? batin Harry. Otaknya dipenuhi banyak pertanyaan sehingga Harry tidak sadar kalau Malfoy sudah berdiri dan mengacungkan tongkatnya di depan wajahnya.
Draco menyadari keberadaan Harry saat ia mendengar jeritan tertahan juga sekelebatan sepatu yang Harry pakai saat jubahnya sedikit tersingkap. Draco mengarahkan tongkat sihirnya di depan wajah Harry sambil memberi isyarat pada Lucia agar tetap diam.
"Potter, keluar sekarang juga! Apa tidak ada yang mengajarimu bahwa menguping itu tidak sopan." gertak Draco membuat Harry terkesiap kaget sehingga Jubah Gaib-nya merosot jatuh. Lucia terbelalak kaget melihat Harry ada di situ.
Harry memandang Draco tajam, ia tidak takut pada Malfoy muda itu tapi hatinya lagi-lagi berdenyut perih melihat tangan Malfoy masih memegang pundak Lucia. Tanpa sadar Harry memalingkan wajahnya.
"Harry, sejak kapan kau di sini? Apa kau mendengar semua percakapan kami?" tanya Lucia.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk menguping. Aku ke sini untuk menjengukmu tapi ternyata ada Malfoy dan Snape di sini jadi aku bersembunyi dulu." jawab Harry masih sambil memandang sepatunya sendiri. "Tapi ternyata aku datang pada saat yang tepat, aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini. Apa maksudmu dengan rencana Dumbledore? Apa yang sebenarnya kalian sedang lakukan?" sambung Harry lagi kini sudah mengangkat kepalanya dan kembali menatap Draco tajam.
"Sebaiknya kau tetap tidak tahu apa-apa Potter. Ini untuk kebaikanmu sendiri." jawab Draco, menurunkan tongkatnya karena ia tidak melihat Harry mengeluarkan tongkat sihir miliknya.
"Kau tidak berhak memutuskan apa yang baik atau tidak untukku. Ini hidupku, aku yang berhak untuk mengaturnya sendiri. Aku sudah muak melihat kalian semua mengatur hidupku." teriak Harry membuat Draco langsung merapalkan mantra peredam di sekitar mereka secara non verbal. Draco sudah mahir melakukan itu sejak lama namun karena ia masih harus menyembunyikan identitasnya dia harus berpura-pura.
"Potter, tenangkan dirimu! Kau tidak mau seisi sekolah datang kemari karena teriakanmu kan? Aku akan memberitahumu apa yang boleh kau tahu." Draco berusaha membuat Harry tenang dan mau mendengarkannya.
"Mana bisa aku tenang saat kalian semua merencanakan sesuatu yang mungkin saja jahat apalagi jika berkaitan juga dengan hidupku. Dumbledore! Kesepakatan apa yang kalian lakukan?" jawab Harry masih diliputi emosi.
"Draco, apakah tidak apa-apa?" tanya Lucia, lagi-lagi Harry merasakan hatinya sakit melihat kedekatan Malfoy dan Lucia.
"Tidak apa-apa, Lucia. Harry benar, ini hidupnya juga jadi sudah seharusnya ia juga tahu apa yang sedang kita perjuangkan untuknya dan untuk kita semua." jawab Draco, "Dan kau, Harry, dengarkan aku baik-baik dan jangan memotong ucapanku!" sambung Draco pada Harry yang ternganga karena mendengar Draco memanggil nama depannya.
"Ak, aku..., aku akan mendengarnya tapi apa barusan kau memanggilku Harry?" Harry bertanya bingung tapi ada sedikit perasaan senang mendengar namanya di sebut oleh pangeran Slytherin itu.
Draco terkekeh melihat Harry yang mendadak tenang dan wajah bingungnya itu 'sangat menggemaskan' pikir Draco. Lucia juga terkikik geli, untung saja Lucius Malfoy tidak melihat ini, bisa-bisa Draco dan Lucia di coret dari daftar keluarga Malfoy karena bersikap un-Malfoyish.
"Yes, Harry. Aku memanggilmu Harry dan sekarang dengarkan aku." Draco tersenyum menikmati wajah Harry yang merona tapi kemudian wajahnya berubah serius lagi. "Harry, selama ini keluargaku adalah agen ganda. Kami termasuk dalam anggota Orde Phoenix tapi hanya sedikit orang yang mengetahuinya. Hanya Dumbledore dan Severus saja. Kubilang dengarkan dulu penjelasanku, Harry, baru nanti kau boleh tanya." potong Draco saat dilihatnya Harry membuka mulutnya. "Awalnya memang keluargaku adalah pengikut Dark Lord tapi saat kelahiran kami, ayahku berubah pikiran karena bisa dilihatnya kalau Voldemort sangatlah jahat dan kejam. Voldemort tidak segan-segan menghabisi siapa saja yang mengganggunya. Ayah dan ibuku menemui Dumbledore dan ia menerima kami dengan tangan terbuka.Tanpa sepengetahuan penyihir gila itu tentu saja. Tapi dengan begitu keluargaku bisa menjadi mata-mata untuk Orde." Draco berhenti dulu untuk menarik napas.
"Kalian melakukan itu di depan hidung Voldemort, berani sekali." kata Harry.
"Tidak mudah tentu saja, itulah sebabnya aku sudah dijejali banyak pelajaran sejak kecil. Aku sudah diajari berbagai macam mantra, ramuan, Occlumency, Legilimency juga cara berduel. Yang paling sulit adalah aku harus membuatmu menjadi musuhku. Dan liburan musim panas kemarin menjadi liburan terburuk untukku. Si brengsek itu menjadikanku..." Draco berhenti lagi tangannya meremas lengannya tempat Dark Mark itu di cap pada tubuhnya.
Harry mendadak mual mengingat Dark Mark yang pernah dilihatnya pada setiap pengikut Voldemort. Tangannya refleks hendak menyentuh Malfoy tapi urung karena dilihatnya Lucia sudah lebih dulu merangkul lengan Draco seakan menguatkan si pirang. Hatinya kembali terluka tapi ia ingin mendengar semua cerita Malfoy sampai selesai jadi dikuatkannya hatinya yang terasa sakit.
"Lalu apa yang sedang kau lakukan saat ini? Tega sekali kau membuat orang lain terluka. Kau hampir membunuh Katie, apa salahnya terhadapmu?" tanya Harry.
"No, Harry. Aku tidak berniat untuk mencelakakan siapapun. Aku akui kalau aku ceroboh karena tidak menyegel paket itu dengan baik. Seharusnya paket itu sampai ke tangan Dumbledore..."
"Jadi kau ingin membunuh Profesor Dumbledore dengan kalung kutukan itu?" teriak Harry lagi memotong cerita Draco.
"Kubilang dengarkan aku, Harry! Jangan memotong! Dumbledore sudah tahu tentang kalung itu, Harry. Jika kalung itu sampai ke tangannya tentu saja ia tidak akan membukanya. Aku memang ditugaskan untuk melukai dan kalau bisa membunuh Dumbledore. Itu yang harus aku lakukan agar penyihir gila itu tidak membunuhku dan keluargaku. Yang terutama aku tidak ingin ular itu menyentuh Lucia." Draco menghembuskan napasnya keras dengan ekspresi jijik terlihat di wajah pucatnya.
"Ap... Apa maksudmu dengan menyentuh Lucia? Dia kan tunanganmu." tanya Harry bingung.
"Penyihir menjijikan itu ingin menjadikan Lucia sebagai mempelainya,Harry." jawab Draco membuat pegangan Lucia dilengannya semakin erat. Lucia terlihat pucat dan sedikit gemetar.
"Mempelai?" beo Harry.
"Iya, Dark Lord ingin menjadikan Lucia pasangannya." ekspresi marah dan jijik terlihat jelas dari wajah Draco.
Pantas saja Malf- eh Draco terlihat sangat melindungi Lucia. Siapa sih yang tidak marah jika tunanganmu akan di rebut oleh orang lain terlebih ini adalah Voldemort yang jelek, botak, mata merah, tidak punya hidung lagi. Hidup lagi. batin Harry.
Rupanya Harry tidak menyimak baik-baik cerita Draco karena ia masih saja mengira Lucia adalah tunangan Draco. Harry berjalan mendekati Lucia dan meraih tangannya, "Tenang saja, aku juga akan melindungimu agar tidak jatuh ke tangan si Voldie. Asalkan Malf- Draco bahagia, aku juga ikut senang." kata Harry walaupun hatinya terasa sakit.
Draco bisa melihat kilat terluka di mata Harry membuatnya berpikir tapi kemudian teringat olehnya kata-kata Harry soal tunangan. Draco terkekeh pelan kemudian menyeringai. Sepertinya sedikit mengerjai Harry akan sangat menarik.
Draco meraih Lucia ke dalam pelukannya membuatnya sedikit kaget dan memberontak, "Sst, diam sebentar! Aku mau memastikan sesuatu." bisik Draco di telinga Lucia.
Draco bisa melihat Harry yang memalingkan wajahnya tapi ia sempat menangkap kilat terluka itu lagi membuatnya semakin yakin bahwa ternyata Harry juga menyukainya. Ya, Draco memang menyukai Harry, lebih tepatnya Draco mencintai Harry. Sudah sejak lama ia memendam perasaannya, hanya pada Lucia ia bisa bercerita. Adik kembarnya ini sangat peka pada perasaannya sehingga Draco tidak bisa membohonginya. Lucia bisa dengan mudah mengetahui kalau Draco mencintai Harry. Dan Lucia juga menyadari kalau Harry mencintai Draco.
Draco semakin penasaran dengan reaksi Harry jadi ia mulai mencium Lucia. Bukan di bibir tentunya tapi di pipi dan kening Lucia. Harry merasa semakin panas berada di antara pasangan ini jadi dia mundur perlahan ingin segera pergi.
"Tunggu, Harry!" panggil Draco menyadari Harry akan pergi.
"Maaf, aku ada urusan lain. Kalian bisa lanjutkan." kata Harry sambil berharap suaranya tidak terdengar bergetar. Air mata sudah siap mengalir di sudut matanya.
"Aku belum selesai bicara denganmu,Harry." Draco mendekati Harry kemudian dengan cepat merengkuh Harry ke dalam pelukannya. Menghirup wangi shampo dari rambut hitam acak-acakan milik Harry yang anehnya terasa sangat lembut.
Sesaat Harry terlena oleh pelukan Draco yang terasa nyaman namun saat bayangan Lucia tertangkap oleh emerald-nya ia segera mendorong tubuh Draco. "Jangan begini, Malfoy. Tolong jangan mempermainkanku apalagi di depan tunanganmu sendiri."
"Lucia tidak akan keberatan, Harry. Dia tahu siapa yang aku cintai. I love you, my Harry." bisik Draco di telinga Harry membuatnya meremang.
Draco memandang Harry, kelabu bertemu hijau. Mendekatkan wajahnya kemudian diciumnya bibir yang sudah lama sering muncul dalam mimpi-mimpi Draco. Bukan ciuman penuh nafsu melainkan ciuman lembut tanpa ada tuntutan apapun.
Tanpa sadar Harry mengalungkan tangannya ke leher Draco, pikiran dan akal sehatnya perlahan menjauh. Biarlah Harry ingin sedikit egois saat ini. Ia ingin memiliki Draco untuk saat ini saja. Ciuman Harry semakin terasa menuntut karena gairah mulai naik. Draco sedikit kewalahan tetapi dengan cepat ia menguasai keadaan. Mempererat pelukannya sehingga tubuh Harry semakin rapat dengan tubuhnya sendiri. Dibelainya bibir Harry dengan lidahnya membuat Harry membuka mulutnya. Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Draco yang langsung memasukkan lidahnya ke dalam mulut Harry, menyapa semua yang ada didalamnya. Harry melenguh pelan membuat Draco tersenyum dalam ciumannya.
Kebutuhan akan oksigen membuat mereka harus menyudahi ciuman itu. Draco tersenyum memandang Harry yang megap-megap meraup oksigen. "Tak kusangka ternyata The Choosen One sangat agresif. Tapi aku menyukainya." kata Draco menertawakan Harry yang wajahnya sudah semerah tomat.
Harry mengutuk dirinya sendiri karena bisa sampai lepas kontrol seperti tadi. Harry benar-benar malu, dilihatnya Lucia yang menutup wajahnya dengan tangan dengan tubuh bergetar. Harry langsung merasa bersalah.
"Maafkan, aku Lucia. Aku tidak bermaksud untuk merebut Drac-Malfoy darimu. Ini kesalahanku karena lepas kendali." kata Harry panik.
Tapi ternyata Lucia bukan sedang menangis seperti sangkaan Harry melainkan sedang menyembunyikan tawanya. Karena seorang Malfoy tidak diperkenankan untuk tertawa keras-keras, kan. Membuat Harry lagi-lagi bingung.
"Harry, Draco, akhirnya kalian bisa saling mengungkapkan perasaan ya. Senang melihatnya. Ku harap kalian bisa segera jadian supaya aku bisa bebas dari kejaran Draco karena terus menanyakanmu." Lucia menggenggam tangan Harry. "Kuserahkan kakakku yang sombong ini padamu, ya. Kakakku tersayang ini sangat mencintaimu, Harry." sambung Lucia.
Harry ternganga mendengar kata-kata Lucia barusan, otaknya masih me-loading kalimat yang didengarnya. "Kakak? Apa maksudnya?"
Kali ini Draco benar-benar tertawa keras, "Harry, Lucia ini adikku. Adik kembarku lebih tepatnya. Tapi selama ini memang kami hidup terpisah, aku saja baru mengetahui keberadaannya liburan yang lalu. Selama ini orang tuaku menyembunyikannya agar tidak diketahui oleh Dark Lord namun rahasia ini akhirnya ketahuan saat ayahku lengah."
Penjelasan Draco membuat Harry speechless. Selama ini semua orang salah sangka tentang hubungan Draco dan Lucia. "Kenapa kalian tidak memberi penjelasan apapun? Seluruh sekolah menganggap kalian itu pasangan." tanya Harry sedikit marah karena merasa dibohongi.
"Hei, kenapa kau jadi marah? Kalian sendiri yang mengatakan kalau Lucia adalah tunanganku. Dumbledore sudah jelas mengatakan nama Lucia saat seleksi asrama, kan. Aku tidak merasa perlu memberi penjelasan apapun karena aku tidak peduli pada anggapan kalian." jelas Draco membuat emosi Harry makin naik.
"Kau memang brengsek, Malfoy. Kau bilang tidak peduli pada anggapan orang lain. Kau juga tidak peduli pada perasaanku kan?" ups, sepertinya Harry benar-benar marah.
"Aku peduli, sangat peduli padamu, Harry. Tapi aku tidak bisa begitu saja mendekatimu. Selama ini kita adalah musuh dan sudah seharusnya tetap seperti itu di mata orang lain karena aku tidak ingin Dark Lord mengetahui ini. Jika dia sampai tahu akan sangat berbahaya untukmu." jawab Draco.
"Aku tidak takut padanya." bantah Harry.
"Tapi aku yang takut, kalau dia sampai tahu tentang hubungan kita aku takut dia akan menggunakanku untuk mengancammu. Saat ini saja dia sudah menggunakan Keluargaku untuk mengancamku, jadi aku tidak ingin ini terjadi padamu. Aku sangat mencintaimu, Harry." kata Draco tegas.
Harry terdiam, kata-kata Draco ada benarnya. Walau hatinya masih dongkol tapi ucapan Draco benar jadi Harry harus bisa menerimanya.
Lucia tersenyum senang, "Semoga kalian bisa akur terus seperti ini ya."
Draco merengkuh Harry ke dalam pelukannya lagi, menghirup dalam-dalam aroma Harry yang sangat disukainya.
Tak terasa sudah memasuki waktu untuk makan malam, sebenarnya Harry masih ingin bersama Draco tapi ia sudah janji akan menemui teman-temannya saat makan malam jadilah dengan berat hati Harry berangkat ke Aula Besar. Benar saja Ron dan Hermione sudah menunggunya, wajah mereka tampak khawatir jadi Harry memasang senyum diwajahnya seolah-olah tidak ada yang terjadi hari ini.
"Maaf, sudah lama menungguku ya? Aku habis jalan-jalan mencari udara segar tadi dan bertemu Hagrid jadi mengobrol dengannya. Ah, lapar sekali." kata Harry sambil mengambil sepotong ayam panggang dan sesendok kentang tumbuk ke atas piringnya.
Ron dan Hermione tidak banyak berkomentar, mereka tidak ingin menyinggung Harry. Jadi mereka meneruskan makan malam mereka sambil mengobrol tentang hal lainnya tanpa menyinggung apapun tentang yang terjadi hari ini.
tbc or ...
a/n : hai! masih adakah yang nunggu n baca ff aku? maaf ya chap kemarin ga ada drarry momentnya karena mau fokus nyeritain tentang lucia dulu. di chap yg ini kok kayanya Harry baperan bgt ya huhuhu... maafkan aku ya. aku berusaha sebaik mungkin nuangin apa yg ada d otak aku ke dalan tulisan. thank you bgt buat yang masih mau baca ff ini. masih nunggu masukannya ya...
