Ten melirik ke arah Taeyong dengan takut-takut, mendadak merasa tidak nyaman berada di dalam mobil itu, apalagi ekspresi Taeyong tampak sangat marah, sedikit menakutkan.
Lelaki itu mencengkeram kemudi kuat-kuat dan kemudian sedikit mengebut, untunglah mereka ada di jalan tol yang lengang, sehingga mereka sedikit aman. Tetapi walaupun begitu, jantung Ten serasa berpacu ketika Taeyong semakin dalam menginjak gas mobilnya, membuatnya berpegangan pada sabuk pengamannya dan berdoa dalam hati karena ketakutan.
Kalau gaya Taeyong menyetir seperti ini, dia tidak akan mau pergi semobil berdua dengan laki-laki itu lagi. Ten berjanji dalam hati, melirik ekspresi lelaki itu yang sangat gusar.
Kenapa Taeyong tampak begitu marah? Telepon siapa itu tadi?
Mereka sampai di apartement Taeyong dan lelaki itu masih membisu, membuat suasana tidak enak, lelaki itu lalu membuka pintu apartemennya dan mempersilahkan Ten masuk,
"Silahkan, anggap seperti rumah sendiri." Taeyong bergumam memecah keheningan, dia lalu masuk di belakang Ten dan membanting tubuhnya di sofa, menyalakan televisi.
Lama kemudian suasana tetap hening sehingga Taeyong menoleh ke belakang dan mengangkat alisnya ketika melihat Ten masih berdiri di sana dengan gugup di dekat pintu sambil meremas-remas jemarinya.
"Kenapa kau masih berdiri di situ?" Taeyong tampak terkejut menatap Ten.
Pipi Ten merah padam, dia tampak malu, "Eh... aku... aku tidak tahu harus kemana..."
Taeyong menghela napas panjang menghadapi kepolosan Ten, laki-laki ini luar biasa polosnya hingga Taeyong merasa menjadi serigala yang sedang berusaha menerkam gadis kecil bertudung merah yang tidak tahu apa-apa.
Dengan sedikit gusar Taeyong berdiri, merasa agak menyesal karena suasana hatinya yang buruk membuat Ten terkena imbasnya. Ya. Telepon pengacaranya tadi benar-benar merusak moodnya. Taeyong langsung menutup telepon setelah mengucapkan penolakan yang kasar, tidak memberi kesempatan pengacara ayahnya untuk berbicara.
Dasar lelaki tua yang kurang ajar. Meskipun tahu itu salah, Taeyong terus menerus mengutuki ayahnya. Seenaknya saja dia berusaha kembali mengatur kehidupan Taeyong setelah dulu dia meninggalkan Taeyong dan ibunya, apakah dia pikir Taeyong adalah manusia yang tertarik dengan gelar dan harta? Tidak! Lelaki tua itu seharusnya tahu betapa puasnya Taeyong karena menolak permintaannya, Taeyong bahkan akan sangat senang kalau lelaki itu memohon dan menyembah-nyembahnya dan dia akan tetap menolak permintaan lelaki tua itu dengan puas.
Setelah menghela napas panjang, Taeyong menatap Ten yang tampak kebingungan dengan ekspresinya yang berubah-ubah. Kasihan juga pria ini. Harinya sudah buruk dan Taeyong yakin demamnya masih belum begitu reda, sekarang harus menghadapi emosinya pula.
"Sini, kutunjukkan kamarmu. Sebenarnya ini kamar yang sama yang kau tempati ketika sakit tadi." Walaupun begitu Taeyong tidak bisa menahan suaranya yang terdengar ketus, "Lain kali jangan bersikap canggung di sini, kita hanya berdua dan sikap canggungmu membuat suasana tidak enak. Lakukan apa yang kau suka, anggap saja rumah sendiri, kalau kau ingin menonton televisi silahkan, kalau kau ingin membuat makanan silahkan, lakukan apa saja yang kau suka, nanti kita akan membahas beberapa aturan, apa yang boleh dan tidak boleh di rumah ini, tapi sekarang kau boleh beristirahat dulu. Aku juga lelah, mau tidur siang." Sambil terus berbicara, Taeyong mendahului Ten yang terbirit-birit mengikutinya melangkah ke kamar kedua di apartemen yang cukup luas itu, Taeyong membuka pintu kamar itu dan melirik ke arah Ten, "Masuklah dan istirahatlah dulu, nanti sore kita bicara."
Setelah itu, tanpa melirik sedikitpun pada Ten, Taeyong berlalu.
"Te...terimakasih..." Ten berseru gugup, entah Taeyong mendengarnya atau tidak karena lelaki itu sudah melenggang kembali ke ruang tengah.
Ten memasuki kamar itu, kamar yang sama tempatnya di rawat ketika demam. Dia terperangah ketika melihat luasnya kamar itu. Semuanya lengkap, dari ranjang busa yang besar di tengah, lemari berwarna krem yang elegan dan meja rias yang dilengkapi dengan kaca minimalis yang begitu bening. Ada sebuah televisi besar di dinding, televisi layar datar yang hanya pernah Ten lihat di televisi... dan juga AC...tentu saja kamar ini ada ACnya, Ten tersenyum merasa malu karena sadar dia benar-benar kampungan.
Di kamar kontrakannya tidak ada AC, bahkan kipas anginpun tidak ada karena Ten tidak mampu membelinya. Pernah dia membawa tabungannya yang berhasil disisihkan dari uang makannya, ke sebuah supermarket yang di dalamnya juga menjual barang-barang elektronik. Pada akhirnya Ten keluar dengan tangan kosong, menggenggam uang tabungannya itu di tangannya. Tetapi bukan hanya harga yang membuat Ten batal membeli, benaknya tiba-tiba memutuskan bahwa dia bisa bertahan tanpa memakai kipas angin, bahwa uang itu sebaiknya disimpan untuk keperluan lain yang lebih penting, seperti membeli sabun mandi atau shampo dan berbagai keperluan rumahan lainnya. Alhasil Ten harus melalui lagi malam-malam di panasnya Seoul dengan udara lembab dan lengket. Tetapi setidaknya hatinya tenang karena dia masih memegang uang simpanannya sebagai pegangan di kala perlu.
Dan sekarang, melihat AC itu Ten tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya, dia mengucapkan selamat tinggal kepada malam-malamnya yang panas dan penuh keringat. Dengan ingin tahu, Ten menyalakan AC itu, memejet tombol ON. Ten tahu cara menyalakan AC karena dia sering menyalakan dan mengatur suhu AC di cafe tempatnya bekerja dulu. Dan kemudian, ketika AC itu menyala, udara sejuk langsung menghembusnya. Membuat senyumnya makin lebar.
Setelah yakin pintu kamarnya tertutup dan Taeyong tidak bisa melihatnya, Ten duduk di ranjang itu, menepuk-nepuknya dan sekali lagi tersenyum senang, ranjangnya empuk. Tidak seperti ranjang lembek dan keras entah dengan usia berapa lama di kamar kontrakannya yang penuh dengan serangga tak terlihat, kadang terasa menggigit kulitnya dan menimbulkan ruam-ruam di kulitnya. Ranjang yang ini pasti tak ada serangganya... pikir Ten sambil menepuk-nepuknya lagi, dan ranjang ini empuknya luar biasa.
Puas menikmati empuknya ranjang itu, Ten meraih tas-nya dan mulai berbenah. Di bukanya lemari empat tingkat berwarna krem itu dan mulai memindahkan pakaiannya ke dalam lemari, ketika selesai dia tersenyum masam dan merasa malu, keseluruhan pakaiannya bahkan tidak bisa memenuhi satu tingkat yang paling atas di lemari itu, lemari itu jadi tampak kosong dan menyedihkan. Tetapi tidak apa-apa, Ten tidak malu dia hanya punya sedikit pakaian, setidaknya dia masih bisa berganti pakaian setiap hari dan bersih serta wangi, biarpun pakaiannya sedikit, Ten tidak pernah memakai pakaian yang sama selama beberapa hari, setiap dia memakai baju, ketika mandi, dia selalu mencuci pakaiannya sehingga ketika keesokan harinya pakaiannya sudah kering dan wangi lagi. Untuk menyeterika dia bisa meminjam seterika ibu kontrakannya, dan membayar biaya listriknya dengan sekalian menyeterika cucian ibu kontrakannya yang setumpuk banyaknya, karena ibu kontrakan selain memiliki suami yang berbadan besar, juga memiliki empat anak yang masih kecil-kecil. Bisa dibayangkan Ten membutuhkan waktu seharian penuh di hari liburnya untuk menyeterika semuanya.
Ten lalu mengatur make-up dimeja rias yang besar dan lagi-lagi meja itu tampak kosong dan menyedihkan karena Ten hanya punya satu pelembab, satu lipbalm, deodoran dan satu splash cologne murahan yang dibelinya di minimarket, serta satu sisir kecil, Ten menambahkan sambil tersenyum, kosongnya meja rias itu tidak mengganggunya, malahan membuatnya terkikik geli, menertawakan dirinya sendiri. Ya ampun. Kamar ini begitu bagusnya, terlalu bagus dan sempurna untuk dirinya!
Setelah puas memandang suasana kamarnya yang sejuk, Ten melongok ke arah kamar mandi. Ada kamar mandi pribadi di dalam kamar ini! Lagi-lagi Ten membayangkan ketika tinggal di kamar kontrakan dimana dia harus berbagi kamar mandi dengan ibu kontrakan dan keluarganya, serta empat orang penyewa kamar kontrakan lainnya.
Ten melihat sabun, shampoo yang telah tersedia dalam wadah khusus di dinding, dia menambahkan sikat giginya dan tersenyum bahagia.
Sambil bersenandung, Ten membanting tubuhnya di ranjang matanya tersenyum menatap langit-langit kamar itu... bahkan langit-langit kamarnyapun indah... hatinya dipenuhi rasa syukur. Alangkah baik hatinya Taeyong memberikan tempat tinggal untuknya, tempat seindah ini yang sama sekali tidak dibayangkannya. berjanji dia akan menjadi pelayan yang terbaik untuk Taeyong.
Ketika terbangun, mata Ten langsung terarah ke arah jam besar di dinding, dia sedikit terperanjat dan langsung duduk. Rupanya dia ketiduran akibat suasana kamar yang begitu nyaman. Dan sekarang sudah jam lima sore. Astaga... betapa malunya Ten, dia telah berjanji dalam hati akan menjadi pelayan yang baik, tapi yang dilakukannya malahan tidur begitu lama.
Setengah melompat, Ten masuk ke kamar mandi, dan mandi. Merasa takjub bahwa air di kamar mandi itu bisa disetel panas ataupun dingin. Setelah selesai, Ten memakai pakaiannya dan membuka pintu kamar dengan hati-hati.
Suasana tampak lengang, ruangan apartemen remang-remang, dan hanya terdengar suara TV yang sayup-sayup, Ten melangkah ke ruang tengah dan mendapati Taeyong sedang tidur tengkurap di sofa, lelaki itu telanjang dada, hanya mengenakan celana panjang santai dan tampak sangat lelap. Pipi Ten memerah ketika mengamati punggung telanjang Taeyong yang berotot, dia melangkah dengan sangat hati-hati melewati Taeyong dan kemudian melangkah menyeberangi ruang tengah menuju dapur.
Ten akan memasak makan malam dan membuat teh hangat, setidaknya ketika Taeyong bangun, makanan sudah tersedia.
Di dapur, Ten melihat sebuah kulkas besar berwarna hitam, dengan hati-hati Ten membuka kulkas itu dan sedikit merenung melihat isinya. Taeyong rupanya tidak suka memasak, yah dia kan lelaki bujangan yang tinggal sendirian, buat apa repot-repot memasak kalau bisa membeli atau pesan antar makanan? Ten melihat bahan makanan yang seadanya di sana. Ada sosis di freezer, dan di kotak sayuran di bagian bawah ada wortel dan brokoli. Ten memutuskan membuat sup sederhana.
Karena tidak ada kaldu, Ten merebus sebagian sosis dengan potongan besar hingga airnya berminyak, lalu memasukkan bawang yang sudah ditumisnya dengan mentega ke sana – untunglah Taeyong mempunyai beberapa siung bawang putih yang sudah setengah mengering di kulkasnya – Aroma harum langsung tercium ke seluruh penjuru dapur. Ten lalu memasukkan wortel yang sudah di potong-potongnya, sementara brokolinya akan dimasukkan belakangan setelah air mendidih. Setelah itu, Ten membumbui supnya dan mencicipinya. Rasanya lumayan, meskipun dengan bumbu dan bahan yang lebih lengkap, sup ini akan terasa lebih enak.
Tidak ada nasi, tetapi ada kentang di kulkas, Ten memutuskan membuat kentang tumbuk. Beberapa kentang yang sudah dikupas, di kukus sampai empuk, lalu dihancurkan dengan dicampur sedikit garam, krim kental dan susu tawar kental. Selain itu Ten membuat scramble eggs sebagai lauknya. Dan jadilah masakannya itu.
Ketika Air mendidih dan Ten menyeduh teh, tiba-tiba sosok Taeyong sudah berdiri bersandar di ambang pintu dapur.
"Baunya enak."
Ten memekik, hampir menjatuhkan teko teh-nya. Untunglah dia sigap menahannya, kalau tidak Ten mungkin harus masuk rumah sakit karena tersiram air panas yang baru mendidih. Dengan gugup Ten menatap Taeyong dan tersenyum,
"Aku memasak dengan bahan seadanya di kulkas, kuharap kau tidak marah karena aku lancang."
Taeyong mengangkat bahunya, masih bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana santainya yang sedikit melorot di pinggang, dia tampaknya tidak terganggu dengan pipi Ten yang memerah karena penampilannya, lelaki itu duduk di kursi tinggi di meja dapur, dan bertopang dagu,
"Sini ambilkan aku makanan, aku lapar."
Ten langsung mengambil mangkuk dan menyendokkan sup yang masih panas di sana, dia juga mengambil kentang tumbuk di piring bersebelahan dengan scramble eggs yang dia buat.
Dengan was-was Ten mengamati Taeyong makan, takut kalau lelaki itu memuntahkan makanannya karena tidak menyukai rasanya. Tetapi yang ditakutkan Ten tidak terjadi, lelaki itu makan dengan lahap dan cepat, dan ketika di tengah makan, Taeyong mengangkat kepalanya dan mengernyit, "Kenapa kau tidak ikut makan?" Tanyanya.
Ten meremas-remas kedua tangannya, kebiasaannya jika merasa gugup dan bingung,
"Aku... eh... bukankah pelayan tidak makan bersama majikan? Biasanya seperti di drama-drama itu, pelayan makan di dapur setelah majikannya makan."
Taeyong terkekeh, tawa yang mencairkan wajah dinginnya yang tampan,
"Memangnya kau hidup di jaman feodal apa? Lain kali kurangilah nonton drama yang penuh intrik palsu itu Ten, ayo makanlah!"
Karena perintah Taeyong terdengar begitu tegas, Ten akhirnya menyerah dan memutuskan makan bersama Taeyong, dia lalu mengambil makanannya, tak henti-hentinya berucap syukur atas makanan yang tersedia begitu mudah untuknya tanpa perlu mencemaskan hari esok lagi. Dan kemudian melahap makanannya dengan senang, ternyata dia lapar.
Taeyong hanya tersenyum menatap Ten, mereka lalu menyelesaikan makannya dan Taeyong melompat berdiri, melirik ke arah teko teh yang sudah disiapkan Ten. Teh melati yang harum mengepul dengan aroma yang menggoda selera. Taeyong sebenarnya lebih memilih kopi. Tetapi sepertinya Ten harus diajari untuk menggunakan mesin kopi, menggiling bijinya dan menciptakan takaran kopi hitam sesuai seleranya, laki-laki itu pasti hanya bisa membuat kopi instan.
"Bawa teh-nya ke ruang tengah, ayo kita bicara sambil minum teh." Gumamnya sambil berlalu.
Dengan segera, Ten mengambil nampan dan meletakkan teko teh beserta beberapa cangkir di sana, lalu mengikuti Taeyong ke ruang tengah.
Taeyong sudah duduk di sofa, matanya mengarah ke televisi besar yang sedang menayangkan pertandingan basket, dia lalu menatap Ten yang meletakkan nampan itu di meja, dan berdiri ragu-ragu di sana,
"Duduklah, kau tidak akan duduk di lantai seperti pelayan-pelayan di jaman feodal bukan?" gumam Taeyong ketika lama Ten tidak juga duduk, dalam hati dia menggeleng-gelengkan kepala. Pantas saja laki-laki ini ditindas oleh atasannya yang jahat itu, dia benar-benar lemah dan polos.
Ten duduk di ujung sofa dengan ragu, menatap Taeyong yang bersila dengan santai sambil sesekali mengarahkan pandangannya ke televisi,
"Kau mungkin perlu berbelanja, di lantai basement apartement ini ada supermarket yang menjual sayuran dan bahan makanan, kau bisa memenuhi kulkas dengan berbelanja di sana, belilah apapun yang kau perlukan untuk memasak, aku akan memberimu uang belanja."
Ten menganggukkan kepalanya, menyimpan rasa kagumnya pada apartemen ini yang bahkan mempunyai fasilitas supermarket di lantai bawahnya. Orang kaya memang selalu dimudahkan dalam segala hal... batinnya.
"Dan kita akan tinggal bersama di sini, aku sebenarnya tidak punya aturan ketat, hanya ada beberapa yang harus dihormati. Pertama, aku tidak begitu suka suara bising, jadi kalau kau mau menyalakan televisi atau apa, atur suaranya supaya tidak berisik. Kedua, aku tidak suka susu putih, kecuali di campur dengan kopi, jadi jangan memberikanku itu... Ketiga aku biasanya bekerja di malam hari, mulai jam sembilan malam, dan karena itu aku membutuhkan tidur yang lama di pagi harinya, biasanya aku bekerja jam sembilan malam sampai jam lima pagi lalu aku akan sarapan dan tidur jam sembilan pagi sampai sore dan aku tidak suka diganggu..."
Sampai di situ Ten mengernyit, berusaha memahami gaya hidup Taeyong tetapi tetap saja tidak paham. Lelaki ini seperti vampir, bekerja di malam hari dan tidur ketika ada matahari.
"Kau mendengarkan?" Taeyong menegurnya, membuat Ten tergeragap.
Ketika sudah mendapatkan perhatian Ten, Taeyong melanjutkan, "Sampai di mana tadi? Hmm Oh ya.. keempat..."
Tiba-tiba terdengar suara bel di pintu, membuat Taeyong mengernyit karena merasa terganggu.
"Siapa yang bertamu tanpa pemberitahuan itu?" gerutunya, melangkah ke arah pintu dan mengintip. Ketika tahu siapa yang berdiri di depan pintunya, Taeyong mendesah kesal, tetapi tetap membuka pintunya itu,
"Apa yang kau lakukan di sini, Johnny?"
Seorang lelaki yang amat sangat tampan melangkah dengan senyum lebar, memasuki ruangan. Ten terpesona, karena lelaki itu... sungguh terlalu tampan, wajahnya kebule-bulean. Ada sesuatu di tangannya, lelaki itu memegang wadah biola dari bahan kulit kaku berwarna cokelat gelap. Lelaki itu pemain biola?
Dan kemudian, Johhny masuk menatap Taeyong masih dengan senyumannya, tidak mempedulikan tatapan kesal Taeyong,
"Aku butuh bantuanmu teman. Ada seseorang yang dijodohkan ibuku untukku dan dia terus memaksa meskipun aku menolaknya mentah-mentah. Ibuku mengatakan karena adikku Donghyuck sudah menikah dengan si brengsek Mark yang beruntung itu, aku tidak boleh terlalu lama menunda pernikahan. Parahnya... orang yang dijodohkan oleh ibuku itu mengejar-ngejarku sampai nyaris menakutkan." Johnny mengangkat bahunya, "Jadi aku melarikan diri dari rumah, mengatakan harus menjalani pelatihan intensif yang tidak bisa diganggu, dan sepertinya aku harus merepotkanmu, aku tahu kau punya apartemen tiga kamar dengan dua kamar yang masih kosong, jadi izinkanlah aku menumpang sementara di sini."
TuBerCulosis~~
