When Moonlight Scratch On The Window

CHAPTER 3: Ceremony

o0o—

Genre : Drama, Romance, Fantasy, Supernatural, and Mistery (?)

Disclaimer: Cerita ini milik saya, semua karakter Inuyasha milik Rumiko Takahashi, saya hanya meminjam nama mereka. Saya tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini, tulisan ini hanya sebagai hiburan semata.

Warn! Typo(s) gaje ide yang mainstream OOC AU diksi tidak tepat dll.

Rating : M

Author : Emma Griselda ‖ Beta Reader: Sky Yuu & Editor: Writer Angelica

o0o—

Siang itu cuaca terasa lebih cerah dari pada hari-hari sebelumnya. Cuaca hari ini terasa sangat mengerti tentang apa yang dirasakan oleh putri tunggal dari keluarga Higurashi. Wajah Kagome tampak lebih berseri-seri hari ini. Bahkan saat menyulam sambil menemani adiknya belajar pun ia menyenandungkan semacam instrumen yang sering ia dengarkan kala ia bermimpi. Akan tetapi, sebelum sesering ini ia memimpikan laki-laki misterius itu, instrumen itu sudah sering Kagome dengar sejak kecil. Bisa dibilang bahwa instrumen itu bagian dari kehidupan Kagome selama ini.

Kagome sungguh bahagia saat laki-laki misterius dalam mimpinya itu meresponnya walaupun hanya dengan gerakan saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya. Tapi, Kagome sudah merasa cukup bahagia hanya dengan itu. Saat laki-laki di dalam mimpinya itu tidak meresponnya, ia merasa sungguh frustrasi dan penasaran dalam waktu yang bersamaan. Ia sering berpikir jika laki-laki itu memang sepertinya tidak ingin jati diri aslinya diketahui oleh orang lain. Hal itulah yang membuat aneh bagi Kagome. Apa dia pewaris tahta dari kaisar yang saat ini sedang menjabat? Hingga laki-laki misterius itu bersikeras menyembunyikan jati dirinya.

"Onee-sama, tidak bisakah kau diam dan melanjutkan menyulam saja?" Souta mulai merasa jengkel mendengarkan senandung yang Kagome gumamkan dari tadi. Ia merasa terganggu.

"Doushite? Instrumen itu bagus, Souta. Kau sungguh tidak mengerti seni."

"Tapi itu sungguh menggangguku. Aku tidak bisa belajar dengan baik. Onee-sama tak biasanya seperti ini."

"Baiklah, baiklah. Gomen ne." Kagome mengumbar senyumnya yang indah layaknya bulan sabit itu pada adiknya yang cemberut karenanya.

"Souta?"

"Nani?" Souta menanggapinya tanpa menoleh Kagome. Nampaknya ia masih marah dengan saudara tertuanya itu.

"Menurutmu, bagaimana penampilanku?"

Souta hanya menoleh sekilas dan menjawab seadanya, "Maa, biasanya onee-sama."

"Tidakkah aku terlihat cantik? Apa aku sungguh tidak mempesona?" tanya Kagome penasaran.

"Onee-sama, kau kenapa? Apakah kau sakit?"

"Bukan begitu. Aishhh ... Lupakan." Kagome sebal dengan adiknya yang dirasa tidak memahami dirinya.

o0o—

Di lain tempat, pada waktu yang sama.

Tempat yang megah dan luas bak istana Kerajaan Atlantis itu tengah disibukkan dengan sebuah kegiatan. Semua nampak menantikan sebuah perayaan agung itu. Sebuah pengumuman yang telah resmi ditempel pada papan pengumuman itu membuat semuanya bahagia. Sebuah momen yang sangat dinantikan semua penghuni tempat itu.

"Sudah seberapa jauh persiapannya?" seorang laki-laki berpawakan tinggi dengan rambut panjangnya itu bertanya dengan yang bertanggung jawab untuk acara tersebut.

"Persiapannya sudah hampir selesai, Inu no Taisho-sama. Kurang pada dekorasinya saja karena harus menyesuaikan dengan selera dari mempelai wanita."

"Hmm ... Baguslah. Acara itu sudah semakin dekat. Jangan sampai lengah. Kau harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan teliti. Aku tidak ingin terjadi kekacauan pada perayaan agung kelak." Laki-laki yang dipanggil Inu no Taisho itu mengingatkan.

Orang yang berada di hadapan laki-laki berambut panjang itu mengangguk mengerti. Ia tidak mungkin lagi membantah perintah dari sang pemimpin. Jika ia tidak melaksanakan tugas sesuai dengan yang diminta sang pemimpin, semuanya akan berakibat fatal mengingat sebuah acara yang ditanganinya itu sudah lama dinanti-nantikan sang pemimpin.

o0o—

Satu rombongan orang-orang berkuda baru saja menginjakkan kakinya di kediaman Higurashi. Seperti halnya kemarin, rombongan ini memiliki niat yang tak jauh berbeda dengan klan Minamoto. Rombongan ini tak kalah banyak membawa bingkisan. Dua orang keluar dari dua tandu yang ukurannya tak sama. Seseorang keluar dari tandu yang lebih besar. Tuan Higurashi menyambut kedatangan orang tersebut dengan senyuman lebar. Tak lama kemudian, disusul oleh orang yang berada di tandu yang ukurannya lebih kecil. Sosok laki-laki yang menampilkan kewibawaan dan bijaksana pada wajahnya keluar dengan mengumbar senyum. Ia membungkuk untuk memberikan salam dengan lebih hormat.

Tuan Higurasi memeluk dua orang itu dengan sangat akrab. Senyum terus mereka umbar saat menuju ke dalam rumah.

"Bukankah dia Hojo yang sering berlarian dulu dengan Kagome saat kecil?" tanya Tuan Higurashi sambil memandang laki-laki muda itu.

"Kau benar. Bagaimana?"

"Kau kalah tampan dengan anakmu," canda Tuan Higurashi.

"Benarkan? Mungkin ini sudah menjadi takdir klan kita." Laki-laki yang seumuran dengan Tuan Higurashi itu tersenyum.

"Takdir apa?"

"Bahwa klan kita dipenuhi dengan orang-orang yang cakap dan juga menawan."

"Hahahahaa ..." Mereka tertawa lepas.

Tuan Higurashi mempersilakan rombongan tamunya itu untuk masuk dengan menunjukkan jalan tanpa mengucapkan kata "silakan" pada pemimpin rombongan itu. Rombongan kali ini berasal dari klan yang sama dengannya, klan Fujiwara. Hanya saja berbeda pangkat dan jabatannya di dalam kepemimpinan klan. Laki-laki yang datang dengan membawa anaknya itu adalah pemimpin utama klan Fujiwara. Ia bermaksud untuk menikahkan anak laki-laki satu-satunya dengan putri Tuan Higurashi, Kagome.

o0o—

Upacara minum teh pada akhir pekan sudah menjadi rutinitas pada keluarga Higurashi untuk mempererat jalinan kasih sayang antar anggota keluarga. Semua keluarga besar berkumpul di chashitsu. Seringkali mereka membahas tentang klan, keluarga, maupun politik. Tidak ada musik mengiringi, hanya bunyi angin yang menggesek satu sama lain, dan air mendidih di tungku kecil.

"Hanya tersisa beberapa minggu lagi." ucap seorang laki-laki paruh baya. Ia menutup matanya untuk beberapa saat, mencoba mengingat sesuatu.

"Doushitano, ojii-sama?"

"Upacara untuk para dewa, Kagome."

"Apakah upacara untuk dewa itu harus dilakukan?" Souta bertanya dengan wajah polosnya.

"Tentu saja."

"Bagaimana jika tidak melakukan upacara persembahan untuk para dewa? Apakah mereka akan marah?"

"Iya, Souta. Kita sering berdoa dan meminta sesuatu yang tak ada habisnya pada dewa, sebagai ucapan rasa syukur dan terima kasih kita, kita harus mengadakan upacara tersebut." Seorang perempuan paruh baya yang berada di samping laki-laki paruh baya itu menjelaskan singkat pada cucu kesayangannya.

Perempuan paruh baya itu menatap Kagome dengan tajam, tatapannya terlihat menuntut sesuatu dari Kagome, "Upacara itu harus dilakukan. Cepat atau lambat semua itu akan terjadi, dan cepat atau lambat semua akan terkuak. Pada saatnya tiba, maka dia akan mengetahui kebenarannya."

Semua orang mengalihkan pandangannya pada Kagome. Kagome balik memandang bingung pada nenek dan kakeknya. Ia tak mengerti apa yang dimaksud oleh neneknya. Ia tak bisa mengartikan tentang tatapan tajam sang nenek itu.

o0o—

Gemerisik dedaunan yang saling menggesek terdengar seperti gumaman. Mungkin itu adalah salah satu cara mereka untuk berkomunikasi satu sama lain. Dari balik dedaunan itu, cahaya bulan terlihat malu-malu menampakkan dirinya malam ini. Terdengar gumaman resah dari sebuah ruangan di dekat kamar Kagome. Ruangan yang hanya berjarak beberapa langkah dari kamar Kagome. Gumaman resah orang dewasa, yang tak dimengerti oleh Kagome. Ada tiga jenis suara yang berbeda, sudah pasti itu ayah, kakek, serta nenek Kagome. Nenek Kagome merupakan seorang miko yang sudah terkenal di Heian-kyō dan ia begitu disegani oleh warga sekitar.

Kagome hanya mampu mendengar samar-samar semua percakapan yang dilakukan di ruangan yang hanya berjarak beberapa langkah itu. Walaupun, ia mencoba untuk duduk di dekat dinding kamar, ia tidak bisa mendengar percakapan itu dengan jelas. Percakapan itu terdengar seperti sebuah percakapan rahasia yang tidak boleh diketahui oleh musuh.

"Otō-sama, kenapa harus memutuskan penolakan lamaran dari pemimpin begitu saja? Ini sama saja dengan penolakan sebuah perintah dari pemimpin klan. Rumor tentang penolakan ini akan tersebar luas dengan cepat." Suara laki-laki yang lebih muda itu sedikit meninggi dari nada awalnya. Ia menuntut penjelasan lebih dari sang ayah.

"Aku melakukan itu karena takdirnya sudah tergaris."

"Aku melakukan semua ini juga demi Kagome. Putri dari pejabat lainnya sudah menikah di usinya yang belum genap 21 tahun, sedangkan Kagome? Dia sudah 21 tahun, otō-sama. Citra keluarga kita akan rusak dengan penolakan ini."

"Usia itu sudah menjadi takdirnya, kau tak perlu membantah kehendak dari langit." Suara sang ayah tak kalah tinggi dari sang anak.

"Tapi semua itu demi kebaikan Kagome. Demi masa depannya. Bagaimana bisa otō-sama memutuskan sendiri tanpa memberitahuku? Bahkan penolakan lamaran dari klan Minamoto kemarin pun juga sama. Jika Kagome kita nikahkan dengan Hojo, kehidupannya akan terjamin bahkan klan kita akan semakin kuat."

"Ini bukan tentang klan." Sang ayah tetap pada pendiriannya. Keputusannya tak bisa digoyahkan.

"Lalu, apa? Aku memikirkan tentang masa depan Kagome. Apakah otō-sama dan okā-sama tidak memikirkan dia?"

"Tentu saja ini semua untuk kebaikan Kagome. Apa kau tidak ingat waktu itu?" sahut sang ibu, suaranya meninggi. Ia benar-benar marah dengan anaknya yang terus membantah dengan alasan demi masa depan sang cucu.

"Kaede!" laki-laki tua yang sudah penuh dengan uban di rambutnya menaikkan nada suaranya. Ia menoleh dengan tatapan peringatan pada sang istri.

"Benar. Bukankah ini yang selalu kita bahas selama kurang lebih dua bulan ini?" tanya sang istri. Ia mengalihkan pandangannya pada suaminya dan juga nak laki-laki di hadapannya.

"Apa kau sudah lupa dengan apa yang terjadi 21 tahun yang lalu?" nada bicaranya tak kalah tinggi dari dua laki-laki yang ada di hadapannya, ia kini benar-benar marah.