Disclaimer: Harry Potter milik J.K. Rowling.
Pairing: Hermione Granger & Marcus Flint.
Rating: T
Tahun keempat Hermione Jean Granger, tahun ketujuh Marcus Flint.
Untuk kesekian kali, Hermione melongok ke dalam tas besar beremblem singa emas Gryffindor, memastikan tak ada satupun alat perlengkapan sekolah yang tertinggal.
Sejak memasuki tahun keempat di Sekolah Sihir Hogwarts, awal September lalu, konsentrasi Hermione memang sedikit terpecah dengan banyaknya persoalan memusingkan yang terjadi di sekelilingnya.
Selain harus berkutat melawan mata pelajaran yang kian padat, Hermione juga terpaksa memikirkan masalah yang untuk sebagian orang kelihatannya sepele tapi baginya sangat mengganggu.
Contohnya, pertengkaran hebat antara dua sahabat karibnya, Ron dan Harry terkait keikutsertaan Harry di pertandingan sensasional antar sekolah sihir, Turnamen Triwizard.
Sejak nama Harry muncul dari dalam Piala Api, Ron langsung uring-uringan dan menuduh Harry sengaja menaruh kertas bertuliskan namanya untuk meraih popularitas.
Harry, yang merasa tak pernah main belakang tentu naik pitam dan menyangkal habis-habisan tudingan salah kaprah tersebut.
Akhirnya, seperti arti pepatah gajah bertarung melawan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah, Hermione pun terjepit di antara dua kawan akrab yang tengah berseteru.
Usahanya untuk bersikap adil tampaknya sia-sia belaka. Ron yang berprasangka Hermione lebih pro Harry mulai menjauhi gadis berambut semak itu. Aksi perang dingin berkelanjutan yang membuat jantung batin Hermione resah tak terkira.
Menghela napas letih, Hermione menyampirkan ransel di punggung kanan. Tas tersebut tampak lebih berat dari biasanya karena penuh sesak dengan gumpalan buku, pena bulu, botol tinta, bahan ramuan dan bergulung-gulung perkamen ukuran besar.
Berjalan seorang diri menuju Aula Besar untuk makan pagi, Hermione merasa sangat terasing. Langkah kakinya gontai dan tak bersemangat, persis seperti pahlawan babak belur yang kalah perang.
Tadi, saat turun dari kamar, Hermione berharap bisa membujuk Ron dan Harry ke Aula Besar untuk sarapan bersama-sama. Nahasnya, ia malah disapa warta tak menyenangkan terkait keonaran terbaru yang ditimbulkan dua teman pertamanya di Hogwarts itu.
Berdasarkan informasi dari siswa tahun ketiga, Colin Creevey, sepuluh menit sebelum Hermione tiba, Ron dan Harry terlibat adu mulut sengit. Jika tak dilerai oleh kakak kembar Ron, Fred dan George Weasley, dua remaja bertemperamen panas itu dipastikan sudah terlibat perang mantra, adu kutukan maupun baku hantam brutal yang seru dan mematikan.
Colin yang menggebu-gebu saat menjelaskan kronologis peristiwa bahkan berbaik hati memberi bukti foto pertengkaran Ron dan Harry yang berhasil dijepret sekilas.
Memasukkan gambar keributan Harry dan Ron ke dalam saku jubah, pikiran Hermione kembali berkelana. Sejujurnya, bukan hanya pertikaian antar sahabat itu yang telah merusak daya fokus dan ketenangan rongga batin.
Ya, ada perkara pelik lain yang tak pernah berhenti menghantui benak Hermione. Problema perlakuan melecehkan yang disodorkan Kapten Quidditch Slytherin, Marcus Flint setahun silam.
Kendati Flint bersikap sangat kejam dan tak berperikemanusiaan, nurani Hermione tak bisa dibohongi. Di saat logika mengultimatum untuk menjauhi dan melupakan kakak kelasnya itu, lubuk hati terdalam Hermione menjerit meminta untuk tetap memercayai cinta pertamanya itu.
Tak salah jika orang bijak menjabarkan cinta itu memang buta. Yah, lihat saja dirinya sekarang. Meski sudah dikecewakan, ia tak bisa berhenti merindukan Flint. Meski sudah dipermalukan, ia tak bisa berhenti mendambakan pemuda bermata sekelam badai kegelapan itu.
Sepanjang liburan musim panas kemarin pun, Hermione lebih banyak melamun mengenang ciuman pertama mereka yang berlangsung di Ruang Kebutuhan.
Ciuman pertama...
Kenangan tentang momen manis itu menghangatkan pipi Hermione. Tak ingin dipergoki Harry dalam kondisi merah merona seperti apel masak, Hermione buru-buru mencoret bayangan intim yang panas menggairahkan dari benang-benang otak.
Sesampainya di Aula Besar yang sudah dipenuhi banyak siswa, Hermione langsung mendatangi Harry yang termangu sendirian menyantap sarapan ringan.
"Hai, Harry," Hermione menyapa hangat, menepuk pundak Harry dengan usapan bersahabat. Setelah duduk rapi dan melipat serbet di pangkuan, tangan Hermione menyambar sehelai roti panggang bermentega yang menumpuk di atas meja makan.
"Halo, Hermione," Harry menyapa balik, suara suramnya terdengar seperti gerutuan samar-samar.
Hermione mengernyitkan alis merespon nada suntuk tersebut. Menandaskan lembaran roti panggang dengan sekali gigitan, Hermione meneliti penampilan sobat karibnya. Di balik lensa kacamata bundar, mata hijau Harry bersinar redup. Rambut hitam kelam Harry yang memang selalu jabrik bahkan terlihat lebih jingkrak dari biasanya.
"Kau kesal karena berkelahi dengan Ron lagi ya? Aku tahu keributan terbaru tadi pagi dari Colin," desak Hermione, menancapkan garpu di paha ayam kecap.
Harry menggeleng lemah, menelan suapan bubur udang dengan ogah-ogahan.
"Bukan itu masalahnya. Ron kadang menjengkelkan, tapi itulah Ron."
Memasang senyum sabar, Hermione menelan sekerat ayam kecap sebelum bertanya diplomatis, "Lalu, apa masalahnya Harry? Kau terlihat sangat murung hari ini."
Belum sempat Harry membuka mulut, suara arogan Draco Malfoy bergemuruh di dekat mereka. Diapit dua manusia gajah bertulang besar, Vincent Crabbe dan Gregory Goyle, Malfoy mendekati bangku Harry.
Menyeringai lebar, jemari putih kurus Malfoy menunjuk dan menekan lencana kuning yang tergantung rapi di dekat dasi hijau bergaris-garis.
"Potter! Sudah baca ini, Potter?"
Hermione memelototkan mata mengecek lencana yang berkilau cerah tersebut. Lencana kuning dengan huruf-huruf super besar yang berpendar-pendar menyala itu ternyata bertuliskan POTTER BAU. Ejekan pedas yang tak pelak membuat titik kemarahan Hermione mulai berkobar membara.
Menggeram sebal, Hermione melompat bangkit dari kursi. Namun, genggaman tangan Harry di jemari memupus keinginan Hermione untuk melabrak Malfoy yang sedang terbahak-bahak bersama dua kroni pandir yang sepatutnya masuk ruang reparasi kepala.
"Sudah, Hermione. Lebih baik kita segera pergi ke kelas. Pelajaran akan dimulai sebentar lagi."
Merengutkan hidung, Hermione memandang galak Malfoy yang masih terkekeh kegelian. Mengambil tas berat yang teronggok di kursi, Hermione menarik lengan Harry sambil merutuk pelan.
"Untung jam pertama pelajaran Mantra. Katanya, Profesor Filius Flitwick mau mengajari kita Mantra Panggil. Mungkin saja aku bisa memanggil Buckbeak untuk memukuli Malfoy sampai nyawa bajingan tolol itu tinggal seujung rambut."
Sepanjang perjalanan menuju kelas Mantra, hati Hermione kian miris melihat banyak siswa Ravenclaw, Slytherin dan Hufflepuff keluyuran mengenakan lencana bertuliskan POTTER BAU. Tak heran Harry terlihat gundah gulana sepagian ini. Perasaan halus Harry pasti tersiksa karena diejek dan dianggap curang oleh teman-temannya sendiri.
Usai pelajaran Mantra, yang berlangsung mengecewakan bagi Harry sehingga membuatnya terkena tugas tambahan, kedua sahabat itu menuruni tangga ruang bawah tanah menuju ke kelas Ramuan.
Celakanya, di depan pintu kelas, serombongan anak Slytherin, dengan Draco Malfoy menjulang sombong di baris terdepan menghadang langkah mereka.
"Minggir, Malfoy!"
Menyenggol keras pundak Malfoy, Harry dan Hermione melangkah masuk ke ruang kelas. Malfoy yang tak terima diabaikan menjentikkan jari, menyuruh rekan-rekan Slytherin untuk menekan lencana mereka. Tulisan bercahaya POTTER BAU-pun berseliweran di ruang kelas yang temaram.
"Oh, lucu sekali. Benar-benar kocak." Hermione membanting tas menggembung di atas meja. Mendengus sinis, Hermione memelototi Pansy Parkinson dan teman-teman perempuannya yang meringkik seperti kuda gila.
Niat Hermione untuk segera duduk manis di bangku depan terhenti saat Malfoy melintang mendadak. Sepotong senyum licik menjijikkan terpahat di wajah runcing Malfoy yang sepucat sinar matahari musim dingin.
"Mau satu, Granger?" Malfoy mengulurkan sebuah lencana POTTER BAU ke Hermione.
"Tapi, jangan kau sentuh tanganku. Baru dicuci soalnya. Aku ogah dikotori Muggle lagi."
Hinaan rasis Malfoy menyulut emosi Harry. Harry yang sudah senewen sejak bangun tidur tak mampu menahan amarah menyaksikan teman baiknya dilecehkan dan direndahkan. Mencabut tongkat sihir dari saku celana, Harry menantang Malfoy yang tergelak pongah.
Ketika murid-murid lain melipir ke sudut kelas untuk menghindari bentrokan, Hermione bersikeras membujuk Harry untuk menghindari konfrontasi. Bagaimanapun juga, berkelahi sembari saling melempar kutukan melanggar peraturan sekolah dan terancam hukuman detensi serta pemotongan nilai asrama.
Tindakan heroik Hermione untuk menghentikan Harry rupanya berbuntut fatal. Mantra Furnunculus yang disemburkan Harry memantul dan menerjang muka bulat Gregory Goyle.
Dalam sekejap, wajah dan hidung teman sejak kecil Malfoy itu dipenuhi bisul-bisul sebesar gentong sampah. Di lain pihak, kutukan Densaugeo yang dilontarkan Malfoy menghantam Hermione.
Sejurus setelah mantra mengerikan itu menyambar wajah, Hermione meratap panik dan menutup mulut. Ron yang sejak pertempuran berlangsung bungkam seribu bahasa di pojok ruangan bergegas menghampiri dan melepaskan tangan Hermione dari mulut.
Sesaat setelah tangan Hermione terkulai, murid-murid perempuan Gryffindor memekik ngeri. Gigi depan Hermione, yang memang dari dulu berukuran besar kini tumbuh semakin memanjang dengan kecepatan gila-gilaan.
Di saat genting seperti itu, guru Ramuan, Profesor Severus Snape memasuki ruangan. Melihat kegemparan tersebut, hidung bengkok Profesor Snape mengkeriut mengancam.
"Ada apa ini ribut-ribut?"
Anak-anak Slytherin dan Gryffindor saling sikut dan berebut saat memberikan penjelasan. Mengacungkan jari panjang kekuningan ke arah Malfoy, Profesor Snape meminta keterangan dari anak baptisnya tersebut.
"Potter menyerangku, Sir!"
"Kami saling serang secara bersamaan!" Harry meraung murka, menyangkal fitnah sepihak musuh bebuyutannya.
Tak mau kalah, Malfoy menunjuk muka Goyle yang bengkak, jelek dan berbentol-bentol.
"Lihat, serangan Potter kena Goyle."
Memeriksa muka berantakan Goyle dengan saksama, Profesor Snape berujar tenang, "Ruang Kesehatan, Goyle."
Ron yang terus memegang pundak Hermione buru-buru menuntut perhatian Profesor Snape. Memaksa Hermione menguak lebar-lebar rongga mulut, pemuda bermata sebiru bunga cornflower itu menghardik ganas.
"Serangan Malfoy kena Hermione. Lihat!"
Memandang Hermione yang berjuang menutupi gigi depan, yang sekarang sudah menjulur hingga pangkal leher, Profesor Snape berkomentar dingin.
"Tak kulihat ada bedanya."
Ejekan tak manusiawi itu kontan disambut gelak tawa seluruh murid Slytherin. Merintih terisak, Hermione yang tak sanggup lagi dipermalukan berlari secepat mungkin keluar kelas.
Berderap kencang di sepanjang ruang bawah tanah, Hermione yang dibutakan air mata tak memperhatikan langkah. Di tengah koridor, Hermione bertubrukan dengan seorang siswa yang baru saja keluar dari Ruang Rekreasi Slytherin.
Untungnya, sebelum tubuh oleng Hermione terjerembab ke lantai batu, murid tersebut memegang lengan Hermione, membantunya menegakkan diri.
"Hermione? Princess..."
Suara cemas Flint membuat Hermione berharap ada lubang besar menganga yang mendadak muncul untuk menelan dirinya bulat-bulat. Ya Tuhan, bagaimana mungkin hari ini nasibnya bisa begini sial. Bertemu dengan Flint dalam kondisi gigi memalukan seperti ini.
Menggeliat melepaskan diri, Hermione berusaha kabur dari cengkraman protektif Flint. Menyembunyikan wajah dengan rambut lebat yang terjurai berantakan, Hermione menyentak lepas tangan Flint.
Sayangnya, sebagai pemain Quidditch profesional, gerak cepat Flint sudah terjamin mutunya. Dalam waktu sedetik, murid tahun terakhir itu berhasil menahan tubuh Hermione.
"Princess, apa yang terjadi padamu?"
Meletakkan jempol dan telunjuk di dagu Hermione, Flint mengamati wajah Hermione yang bersimbah air mata. Tatapan Flint berubah geram melihat gigi Hermione yang terus memanjang tanpa henti.
Tanpa banyak kata, Flint menggendong Hermione ke dalam pelukan dan melesat secepat kilat menuju Ruang Kesehatan. Walaupun bibirnya terus menggumamkan kalimat lembut dan menenangkan, hati Flint menyala oleh amarah.
Diam-diam Flint bersumpah, siapapun yang berani melakukan ini pada Hermione harus bersiap-siap kehilangan organ tubuh bahkan nyawa sekalian.
Didekap hangat dan ditentramkan dengan kata-kata penuh kasih-sayang membuat Hermione merasa aman. Menyurukkan wajah, Hermione menghirup aroma tubuh Flint yang kasar dan jantan. Di telinga Hermione, detak jantung Flint terdengar seperti simfoni yang mampu menumbuhkan perasaan nyaman dan terlindungi.
Bermodal kaki kuat dan kecepatan berlari, dalam waktu singkat Flint sudah berada di depan Ruang Kesehatan. Menendang pintu Ruang Kesehatan hingga terbuka, Flint berkelebat masuk, tak menghiraukan rangkaian omelan matron perawat, Madam Poppy Pomfrey yang duduk jantungan di depan meja periksa.
Membaringkan Hermione dengan hati-hati di salah satu ranjang berbalut seprai putih bersih, Flint menarik tirai untuk menjaga privasi.
Setelah tirai menutup, Flint berbalik menghadap Madam Pomfrey yang tercengang menyaksikan pertumbuhan panjang gigi Hermione. Kalut melihat gadis yang paling dicintai menderita, Flint nyaris mengguncang-guncangkan Madam Pomfrey untuk segera mengambil tindakan medis yang diperlukan.
"Oh Sayangku, kau kena kutukan Densaugeo rupanya," Madam Pomfrey akhirnya tersadar dari perangkap kekalutan.
Memungut tongkat sihir yang tersimpan di laci kabinet, penyihir berambut kelabu perak itu mendecakkan lidah. Mengambil posisi di dekat Hermione yang meringis sedih, Madam Pomfrey mengulurkan cermin lipat ke tangan Hermione yang bergetar.
"Siapa yang bermain-main dengan kutukan seperti ini? Bukannya kau seharusnya belajar Ramuan sekarang?"
Tak bisa berbicara lancar karena gigi ekstra panjang, Hermione hanya bisa mengangguk lemah. Air mata Hermione kembali bergulir mengingat respon tak manusiawi yang dipertontonkan Profesor Snape dan anak-anak Slytherin.
Melihat tetesan air mata berjatuhan di pipi Hermione, Flint yang berdiri di samping Hermione menundukkan tubuh. Menempatkan telapak tangan di belakang leher Hermione, Flint mendongakkan wajah Hermione, dengan perlahan menghapus peta air mata dengan ujung jempol.
Terkesima dengan perhatian Flint yang tak sekalipun menampakkan roman muka geli saat melihat bentuk gigi yang panjang tak beraturan, Hermione pun berhenti terisak. Mata cokelat halus Hermione membulat memandangi Flint yang terus membelai pipinya dengan jemari.
Flint tersenyum simpul melihat ekspresi terkejut Hermione. Selesai menghilangkan jejak air mata, Flint yang tak bisa mengekang hasrat lebih lama lagi menyapukan bibir di kelopak mata dan kening Hermione.
Di saat mulutnya bergerak liar mengulum telinga dan memagut lembut leher Hermione, dehaman keras yang dibuat-buat membuat pemuda berambut sehitam gagak itu membatu.
Muka tegas Flint merona saat menoleh ke arah Madam Pomfrey yang mengerutkan dahi. Wajah Hermione juga tak kalah merah padam menahan malu.
Ketertarikan menggelora satu sama lain tampaknya membuat pasangan remaja itu lupa posisi dan lokasi mereka saat itu.
"Mr Flint, bukankah seharusnya kau ada di ruang kelas saat ini?"
"Ini jam bebasku, Madam Pomfrey. Aku tak ada kelas saat ini."
Madam Pomfrey rupanya tak puas dengan jawaban standar tersebut. Sudut mulut keriputnya membentuk huruf O saat menyaksikan Flint yang terus menepuk-nepuk dan memijat pelan punggung Hermione. Sesekali, tangan Flint yang tersohor karena sering mengancurkan kerangka lawan-lawannya membelai mesra rambut ikal berantakan Hermione.
Sepanjang yang diketahui Madam Pomfrey, asrama Slytherin dan Gryffindor selalu berperang sejak Hogwarts didirikan. Rupanya persaingan yang telah berlangsung berabad-abad itu tak menyurutkan romansa sepasang remaja ini.
Oh ya, dari mata tua yang kaya pengalaman, Madam Pomfrey bisa melihat betapa membaranya cinta yang terpancar dari dua anak manusia berbeda kasta ini.
Berdoa di dalam hati semoga sejoli ini bisa berbahagia di tengah jurang perbedaan yang menganga, Madam Pomfrey kembali memfokuskan diri pada tugas yang menanti.
"Miss Granger, tatap wajahmu di cermin sementara mantra dirapalkan."
Manggut-manggut mengiyakan, tangan Hermione sedikit bergetar saat memegang gagang cermin bundar. Menyadari gadis yang ada di pelukan lengannya sedikit ketakutan, Flint mencium ubun-ubun Hermione dengan penuh kelembutan.
Sembari membisikkan kata-kata penghiburan, jemari Flint terus membelai dan mengusap, perlahan-lahan menguraikan ketegangan yang menjerat punggung Hermione.
"Tenang, Princess. Semua akan baik-baik saja."
Mendongak menatap mata kabut kelabu Flint, Hermione mencoba menyampaikan terima kasih melalui pancaran mata. Saat ini, sebelum geligi kembali normal dipermak, Hermione tak berani tersenyum. Ia takut cengiran lebarnya bakal menakutkan dan membuat Flint serta Madam Pomfrey jatuh pingsan dan tak bangun-bangun lagi.
Memutar-mutar tongkat sihir medis di udara, Madam Pomfrey melafalkan mantra penangkal. Sedikit demi sedikit ukuran gigi Hermione terpangkas dan kembali ke ukuran semula.
Belum sempat Madam Pomfrey berpuas diri mengagumi hasil kerja, erangan panik menggema di depan pintu Ruang Kesehatan. Dua siswa tahun kelima Hufflepuff tampaknya mengalami insiden menghebohkan di kelas Transfigurasi.
Salah satu dari mereka bahkan memiliki paruh dan cakar besar seperti burung emu raksasa. Bulu-bulu campuran beraneka ukuran menghiasi lengan dan leher pelajar malang tersebut.
Di sela-sela suara cicit ribut, Goyle dengan wajah benjol-benjol menerobos Ruang Kesehatan, menggerung-gerung meminta wujud aslinya yang mirip gorila dikembalikan seperti semula.
Berlari tergopoh-gopoh menghampiri pasien-pasien baru yang menciap-ciap berisik, meratap merana dengan kualitas suara yang membuat gendang telinga terluka, Madam Pomfrey meninggalkan Flint dan Hermione yang masih saling memandang dalam diam.
Di dalam kebisuan, Hermione mencoba menganalisis jalan keluar terbaik dari situasi yang dihadapi saat ini. Terus terang saja, keberadaan Flint di sampingnya membuat jiwa dan otak Hermione terbelah dua.
Batinnya melompat bahagia karena Flint bertingkah seperti ksatria berbaju zirah yang siaga menolong. Di lain pihak, akal sehat Hermione getol memutar ulang memori buruk yang terjadi di lapangan latihan Quidditch, setahun lalu.
"Terima kasih atas bantuanmu. Aku baik-baik saja. Sebaiknya kau pergi dari sini."
Terlontarnya kalimat bernada pengusiran itu menandakan logika Hermione tengah berada di atas angin. Menghindari kontak mata dengan Flint, Hermione memalingkan wajah ke samping kiri, memandangi tanpa minat pamflet bergambar jenis-jenis tanaman herbal yang terpasang di tembok.
Langkah kaki Flint terdengar memutari tempat tidur. Untuk sesaat, Hermione mengira Flint akan pergi meninggalkannya. Tak heran jika Hermione terperanjat saat Flint berlutut di samping kiri tempat tidur.
"Kau mengusirku?"
Sorot mata kelabu Flint yang segelap langit mendung tampak terluka. Garis wajah Flint yang sehari-hari kelihatan beringas kini tampak memelas, seolah-olah meminta belas kasih dan kesempatan untuk terus menemani Hermione.
Sebenarnya, Hermione agak terenyuh melihat ketidakberdayaan Flint. Tapi, bayangan kenangan tak menyenangkan di lapangan Quidditch mengaburkan seluruh rasa iba yang bersemayam dalam sukma.
"Kau juga mengusirku dari lapangan Quidditch!" Hermione melotot menatap Flint. Mendenguskan uap hidung, Hermione menyilangkan tangan di depan dada, berusaha tampil seangker mungkin.
"Princess, maaf... Saat itu aku-"
"Saat itu aku malu kalau ketahuan kenal dan dekat dengan penyihir hina dina kelahiran Muggle seperti Hermione Granger," sahut Hermione ketus, melanjutkan kalimat Flint yang terpotong dengan nada marah.
"Itu kan yang ingin kau bilang?"
Mendesis suram, Flint merapatkan rahang, nyala api berkobar di iris kelabu yang sekelam badai hujan. Demi nama agung Slytherin, bagaimana mungkin Hermione berpikir seburuk itu? Tak pernah sekalipun setitik malu terbersit di hati. Jika memungkinkan, ia ingin berkoar lantang, meneriakkan klaim posesif atas Hermione.
Tapi, ia terpaksa menghindar karena memikirkan keselamatan gadis yang paling disayangi. Seluruh penghuni Slytherin yang terkenal sebagai siluman ular abadi pasti tak akan tinggal diam jika mengetahui hubungan kasihnya dengan Hermione.
Begitu juga halnya dengan Gryffindor. Flint yakin, teman-teman Hermione tak akan pernah mengizinkan kedekatan mereka. Percintaan antara Slytherin dengan Gryffindor di saat seperti ini sangat tabu, tak ubahnya kisah tragis cinta terlarang antara Romeo dan Juliet.
"Jangan pernah merendahkan diri sendiri seperti itu. Kau bukan penyihir hina, Princess."
Melengkungkan alis cokelat hingga saling bertaut, Hermione bertanya menantang. "Oh ya? Bukannya itu yang dipikirkan penyihir darah murni seperti kalian?"
Menggeram samar, Flint bangkit dan memegang pundak Hermione. Menatap wajah cemberut Hermione, Flint menekankan setiap kalimat dengan tegas dan perlahan-lahan.
"Aku tak pernah menganggap rendah dirimu."
"Ya, ya, ya." Hermione mengibaskan tangan dengan sikap meremehkan.
"Omongan dan perbuatanmu tak sesuai, Bung. Lihat saja apa yang kau lakukan padaku di lapangan Quidditch waktu itu. Menginjak-injak harga diriku di depan umum!"
Bersusah payah menekan sakit hati yang merajai nadi, Hermione meneruskan serangan dan cercaan brutal.
"Aku bertaruh, bagimu semua hanya permainan. Termasuk kejadian di Ruang Kebutuhan saat itu."
Mengencangkan pegangan di bahu Hermione, Flint meremas pelan jemari Hermione yang sedikit bergetar.
"Ciuman itu bukan main-main. Aku benar-benar tulus saat menciummu."
"Bo-ho-ho," Hermione tertawa sumbang. "Bicara memang mudah, tapi mana buktinya?"
Tak menghiraukan lengkingan kaget Hermione, Flint naik ke tempat tidur dan duduk di hadapan Hermione. Merengkuh wajah Hermione, Flint mendesah parau. Napas panas dan harumnya berhembus di kulit Hermione. Menembus hingga ke pori-pori dan menimbulkan sensasi bergetar di dalam diri.
"Kau ingin bukti? Aku bisa membuktikannya."
Tak memberi Hermione kesempatan untuk menjawab, Flint melumat bibir Hermione, mencumbu dan menggoda dalam ciuman panjang penuh nafsu membara. Menekan dagu Hermione, Flint membuka mulut Hermione, melahap semua erangan yang teredam dengan permainan lidah yang menakjubkan.
Luapan isi hati Flint yang tercurah melalui ciuman posesif yang lapar, liar dan luar biasa menggairahkan membuat Hermione terhanyut. Membalas dengan antusiasme serupa, tangan Hermione menarik kerah kemeja Flint, tak sadar kalau reaksi itu memberi energi tambahan bagi Flint untuk memperdalam ciuman.
"Madam Pomfrey, Hermione di mana?"
Suara sayup-sayup Harry membuat Hermione terperanjat dan berusaha menyudahi ciuman memabukkan yang murni, mengguncang dan menggentarkan. Menggigit dalam-dalam dan menjilat lembut bibir bawah Hermione untuk terakhir kali, Flint mengakhiri kecupan panas dengan keengganan yang terlihat jelas. Matanya yang bersinar seperti baja mengilap dengan rakus menelusuri raut wajah Hermione yang memerah.
Bunyi napas memburu mereka terdengar jelas di telinga masing-masing. Menggenggam jari Hermione yang masih tersangkut di kerah baju, Flint membawa tangan Hermione ke bibir. Menciumi dan mengisap setiap ujung jari Hermione dengan takzim, Flint menyuarakan kata hati yang terpendam.
"Aku tergila-gila padamu. Sangat tergila-gila."
Melepaskan tangan yang dipuja habis-habisan, Flint menyentuhkan hidung ke pucuk hidung Hermione. Sudut bibir Flint terangkat ke atas melihat Hermione yang terpana dan kehilangan kata-kata.
Bergeser menjauh, Flint turun dari tempat tidur dan merapikan kemeja yang sedikit kusut, berbarengan dengan Ron dan Harry yang menghambur masuk ke bilik Hermione.
"Hermione, apa kau-"
Pertanyaan khawatir Ron terpotong saat melihat Flint berdiri di samping ranjang Hermione. Merangsek garang ke arah Flint, Ron membelalakkan mata, memandang benci dengan kegarangan blak-blakan.
"Hei, brengsek! Ngapain kau di sini?"
Menayangkan tampang bosan, Flint melangkah santai, tak mau repot-repot menjawab pertanyaan kurang ajar Ron. Melirik sekejap siluet Harry yang mematung di dekat tirai, Flint melenggang keluar.
Setelah sosok Flint menghilang di balik tirai, Ron berbalik arah dan memandangi Hermione yang sibuk meremas ujung seprai linen.
"Hermione, apa yang dia lakukan di sini? Apa si Troll tolol itu menyakitimu?"
Menghembuskan napas berat, Hermione menjawab gugup, "Dia menolongku, Ron. Dia yang membawaku ke Ruang Kesehatan ini."
"Aku tak suka padanya. Sepertinya penjahat kelamin maniak itu punya niat terselubung padamu," geram Ron jengkel, mengempaskan pinggul di tempat duduk bundar tanpa sandaran yang terletak di samping ranjang Hermione.
Perut Hermione seolah ditonjok Bludger berkarat sewaktu mendengar tudingan tersebut. Berdasarkan fakta bahwa mayoritas murid Slytherin culas dan bermuka dua, tuduhan Ron mungkin ada benarnya.
Tapi, bisa jadi Flint berbeda.
Mungkin ia bersungguh-sungguh dengan semua ucapan. Bersungguh-sungguh dengan semua ciuman dan pernyataan cinta.
Meraba belahan bibir yang masih menyisakan aroma manis Flint, Hermione mendesah pelan. Ciuman menggebu-gebu barusan bukan sekedar pernyataan tak tertulis Flint.
Ciuman dalam, lama dan membius itu juga seolah-olah menjadi bukti kepemilikan Flint atas diri dan hatinya...
"Flint, apa maksudmu sebenarnya? Kau bisa membuat Malfoy mati, tahu."
Adrian Pucey, teman sekelas sekaligus Wakil Kapten Quidditch Slytherin membanting tumpukan handuk bersih di bangku panjang dekat loker pemain. Mata cokelat emas Pucey yang sehangat sinar matahari pagi menyipit tak setuju sewaktu mengamati Flint yang tengah membasuh diri di pancuran.
Menggosok-gosok rambut hitam dengan baluran sampo anti ketombe beraroma mentol dan teh hijau, Flint mengangkat bahu tak peduli. Menyalakan pancuran air, Flint membersihkan rambut dari gelembung sampo hingga tuntas.
"Itu cuma latihan biasa, Pucey. Jika Malfoy ingin menggantikan diriku sebagai Kapten, ia harus bisa melalui ujian ecek-ecek seperti itu."
Gelak kecut dan dengusan tak percaya Pucey menggema di ruang mandi yang dipenuhi asap hangat beraroma segar.
"Latihan biasa? Ujian ecek-ecek? Pantat Ayam! Apa kau tahu kalau tulang belulang Malfoy nyaris copot karena beban dahsyat yang kau berikan padanya? Nah, lihat saja akibatnya, ia harus mendekam di Ruang Kesehatan sebulan penuh!"
Tersenyum sinis tanpa penyesalan, Flint meneruskan aktivitas membersihkan tubuh. Masih untung ia memberi toleransi pada pemuda pirang platina sialan itu.
Jika menuruti hasrat iblis dan kebencian yang menjajah aliran darah, pewaris keluarga Malfoy itu dipastikan mati tercerai-berai. Bagaimanapun juga, kesakitan brutal dan kecelakaan fatal saat latihan yang berujung kematian belum bisa diterima di Hogwarts.
Jadi, mau tak mau Flint harus berpuas diri menyaksikan pewaris tunggal pohon keluarga Malfoy itu hanya menderita patah tulang di berbagai titik penting tubuh.
Flint bersyukur dirinya bisa menemukan pelaku yang mengerjai Hermione sesaat setelah ia meninggalkan Ruang Kesehatan.
Semua itu tak lepas dari jasa Pansy Parkinson yang terkenal bermulut ember. Betina jalang sejelek hantu penasaran itu dengan riang gembira mengumumkan keberhasilan Malfoy merusak gigi Hermione di depan anak-anak yang mengerumuni Ruang Rekreasi.
Saat mendengar pengakuan Pansy, Flint sebenarnya ingin memutilasi Malfoy dengan tangan kosong. Namun, untuk menghindari kecurigaan, Flint akhirnya harus memuaskan diri dengan membantai pangeran manja bertampang sombong itu di tes kompetisi pemilihan Kapten Quidditch Slytherin.
Membuka pintu kamar mandi yang berukuran setinggi pinggang, Flint beringsut mengambil handuk di bangku panjang. Melilitkan handuk di pinggang ramping yang tercetak jantan, Flint menggesek-gesekkan rambut dan tubuh lembap basah hingga kering dengan handuk kedua.
"Sepertinya, ini bukan sekadar tes normal. Kau punya dendam pribadi pada Malfoy, bukan?"
Mengancingkan ritsleting celana panjang, Flint menaikkan sebelah alis, seringai keji masih terpatri di sudut bibir tipisnya.
"Semua itu bukan urusanmu, Pucey."
"Ini urusanku juga, Flint," desis Pucey ngotot. Mengacak-acak rambut halus yang tersisir sempurna, pemuda tampan yang biasanya berkepala dingin itu menggerung frustrasi.
"Demi kebaikanmu, sebaiknya lupakan mimpi di siang bolong dan khayalan tak penting itu. Ingat, semua tanggung jawab sosial dan amanat berat yang menanti kita usai wisuda nanti."
Selesai memasang kancing kemeja putih, Flint mengambil dasi Slytherin dan jubah sekolah yang tergantung di kaitan dekat pintu.
"Kelulusan masih lama, Pucey. Apapun bisa terjadi dalam rentang waktu tersebut," Flint menjawab tanpa keraguan, memasang simpul dasi hijau bergaris-garis dengan ketepatan mengagumkan.
"Sadarlah, Flint. Roda nasib kemungkinan besar berganti. Pada akhirnya, kita harus menyambut garis takdir kita."
Tak berkomentar sepatah kata pun, Flint memegang kenop pintu dan membuka dengan satu sentakan tajam. Berderap maju, tak menghiraukan Pucey yang masih mengomel seperti ibu-ibu, Flint beranjak pergi menuju ke Aula Besar.
Di sepanjang perjalanan, jempol tangan kanan Flint meraba sepasang cincin yang melingkar di jemari. Cincin keramat yang hanya diwariskan pada mempelai pilihan keluarga besarnya.
Ya, ini saatnya mengubah nasib, Flint membatin dalam hati.
Dan itu akan dimulai dari cincin pusaka yang menyegel masa depan cintanya...
Pasca peristiwa ciuman membara di Ruang Kesehatan, Hermione tak lagi berpapasan dengan Flint. Namun, penyihir macho yang duduk di tahun terakhir itu tetap hadir di sekitarnya melalui beragam hadiah yang dikirimkan.
Setiap minggu, burung hantu pekik berukuran besar berdatangan menjumpai Hermione di Aula Besar, membawa banyak hadiah berpita indah. Bingkisan yang diberikan memang tak terbilang mahal, tapi sangat berarti dan amat diinginkan Hermione.
Hermione sendiri tak habis pikir bagaimana Flint bisa mengetahui benda-benda yang diidam-idamkannya. Setelah terbiasa menerima kado kecil namun berkesan, seperti kamus Bahasa Indonesia, buku novel romantis terbaru, permen kesehatan dan aneka aksesoris rambut berdesain modern minimalis, Hermione tentu terkaget-kaget saat paket berisi cincin mampir ke pangkuan.
Terkesima dengan keindahan cincin kuno tersebut, tanpa pikir panjang Hermione langsung mencoba memakainya. Anehnya, cincin tersebut hanya bisa pas di jari manis dan tak bisa dilepaskan setelah terpasang sempurna.
Lelah berjuang tanpa hasil, Hermione akhirnya menyerah dan membiarkan cincin tersebut terselip di jari manis. Lagipula, Hogwarts tak melarang pemakaian cincin mengingat banyak penyihir berdarah murni mengenakan cincin warisan keluarga.
Untungnya, Harry dan Ron yang sudah kembali berbaikan pasca tes pertama melawan Naga Ekor Berduri Hungaria di Turnamen Triwizard tak menaruh perhatian khusus pada aneka hadiah yang diperoleh Hermione, termasuk cincin keramat yang terselip cantik di jari manis.
Kedua sobat yang sempat berselisih paham itu kembali tertawa dan bercanda bersama, termasuk menggosipkan gadis mana yang cocok menjadi pasangan mereka di Pesta Dansa Natal Yule Ball.
Ya, untuk merayakan Natal yang tahun ini diadakan bersama murid sekolah peserta Turnamen Triwizard, Akademi Sihir Beauxbatons dan Institut Sihir Durmstrang, Hogwarts mengadakan pesta dansa akbar.
Di pesta dansa Natal itu pelajar kelas empat ke atas berkesempatan begadang sampai pagi dalam misi mempererat ikatan persahabatan antar sekolah.
"Gawat, Harry! Sampai sekarang kita belum mendapatkan pasangan dansa," Ron bergumam cemas. Manik biru langit Ron memicing mengawasi sekelompok anak perempuan Ravenclaw yang bergerombol di dekat rak buku tinggi yang bertingkat-tingkat, terkikik ribut sembari memata-matai pahlawan Durmstrang, Viktor Krum yang jenuh membaca di meja depan.
"Salah sendiri, Ron. Kau kan yang menolak Eloise Midgen karena dia jerawatan," cibir Hermione pedas, menjepit puluhan buku berukuran besar di dada.
"Hei, bukan hanya jerawatan, hidung Eloise juga miring dan tak pas di tengah!" sembur Ron sengit, tak terima keputusan mencampakkan tawaran Eloise Midgen disebut sebagai tindak kejahatan terbesar yang membahayakan stabilitas dan kinerja negara.
"Kau sendiri mau pergi dengan siapa, Hermione?"
Memandangi Krum yang menguap bosan, Hermione menelengkan kepala. Sebenarnya, kemarin malam ia sudah menolak permintaan Seeker timnas Bulgaria itu untuk menjadi partner dansa. Meski demikian, Krum tergolong kepala batu. Remaja penggerutu itu tetap bersikeras mengajak dirinya pergi ke pesta dansa bersama.
Hermione sendiri amat berharap Flint mau mengajaknya sebagai pasangan dansa. Kendati tak sepenuhnya yakin, Hermione optimis Flint mau berdansa dengannya di pesta nanti.
Kiriman hadiah tanpa henti itu bisa dijadikan bukti bahwa Flint benar-benar menyukainya bukan?
Menyunggingkan senyum tipis, Hermione menjawab pertanyaan penasaran Ron.
"Belum tahu. Tapi, akan segera aku cari tahu," cetus Hermione enteng, tak menghiraukan repetan tak puas yang meluncur dari mulut lentur Ron.
Melangkah keluar dari perpustakaan, Hermione mengedarkan pandangan ke sekeliling lorong koridor yang berpenerangan abu-abu. Tadi, dari balik jendela perpustakaan ia melihat Flint berjalan sendirian, tanpa kawalan teman-teman seangkatan yang biasa membarengi.
Kesempatan langka ini merupakan peluang emas bagi Hermione untuk memperjelas situasi. Ketidakhadiran kolega Slytherin pasti menjadikan Flint tak ragu lagi menerima tawaran untuk berpasangan di Pesta Dansa Natal mendatang.
Mempercepat langkah, Hermione buru-buru mengejar langkah panjang Flint. Hampir tertinggal di belokan koridor, Hermione akhirnya bisa menyusul pemuda idamannya.
Menyembul di balik kelokan, Hermione tercekat menyaksikan pemandangan tak terduga yang terhampar di depan mata. Flint tak lagi sendirian. Pemuda darah biru itu tengah berbicara empat mata dengan gadis jangkung berparas rupawan. Flora Carrow, ningrat Slytherin sialan yang pernah memiting kaki Hermione di jam pelajaran Ramuan, setahun silam.
"Aku senang sekali, Marcus," suara Flora mengalun merdu, semerdu nyanyian lembut pengantar tidur. Dari sudut koridor kosong yang temaram, Hermione bisa melihat binar memuja yang dilesakkan sepasang mata hijau zamrud Flora.
"Aku senang sekali kau mau mengajakku ke pesta dansa."
Jantung Hermione serasa diremas, melesak jatuh hingga ke ujung jempol kaki saat mendengar fakta tersebut. Flint telah mengajak gadis lain sebagai pasangan. Gadis lain yang bukan dirinya...
Menggenggam kencang pustaka tebal yang didekap lekat-lekat, Hermione menarik napas pelan-pelan. Bodoh sekali dirinya mengira seorang Slytherin mau berdansa di depan umum dengan seorang Gryffindor.
Tak ubahnya seperti air dan minyak, relasi yang dibutuhkan Slytherin dan Gryffindor mungkin hubungan rahasia dan diam-diam. Ia mungkin tak bisa menari bersama Flint, tapi setidaknya ia masih berkesempatan berpacaran diam-diam dengan Flint.
Segala pikiran Hermione tentang ikatan jalur belakang antara dirinya dan Flint buyar berhamburan tatkala rayuan Flora kembali berdengung di kuping. Bergelayut lengket di dada bidang Flint, gadis bangsawan berwajah seksi dan sensual itu menatap Flint lekat-lekat.
"Aku akan berdandan habis-habisan untukmu, Marcus. Kau pasti bangga punya calon istri secantik diriku."
Pengakuan Flora tak ubahnya vonis eksekusi mati bagi Hermione. Hatinya hancur berkeping-keping mengetahui kenyataan menyakitkan tersebut.
Rumor bahwa punggawa Slytherin tak bisa dipercaya ternyata benar. Selama ini Flint hanya berniat mempermainkan dan menjadikan dirinya wanita pelampiasan. Pada akhirnya, Flint akan menikah dengan orang lain. Menikahi gadis berdarah murni yang setara untuknya.
Bukan gadis berpembuluh lumpur seperti dirinya...
Menangkup mulut untuk meredam isak sakit hati, Hermione berbalik arah, berlari tanpa henti menuju halaman sekolah. Air mata Hermione gugur bercucuran, membasahi lembaran buku yang terjepit di dada.
Sesampainya di dekat Hutan Terlarang yang terdiam membeku terbungkus selimut salju, Hermione tersandung batu dan jatuh tersungkur. Buku perpustakaan yang dipinjam melayang berserakan. Lembar-lembar halaman yang menguning dan mengelupas bergoyang lemah tertiup angin bulan Desember yang menyengat kulit.
Jatuh berlutut, tak menggubris bola-bola salju yang mulai berjatuhan dari langit, Hermione memuntahkan beban sakit hati yang meletup-letup di dalam dada melalui tangisan getir yang teredam. Di saat tubuh mulai menggigil karena kedinginan, Hermione tersentak sewaktu sebuah mantel bulu besar berwarna merah tua tersampir di garis bahu.
Menoleh ke belakang, memandang dari balik kelopak kuyup yang bersimbah duka, Hermione melihat Viktor Krum terpaku membisu. Mata hitam Krum yang seperti kelam malam melebar cemas, memperhatikan kondisi rapuh Hermione dengan sirat khawatir.
Mengulurkan tangan besar yang kokoh berotot, Krum membantu Hermione berdiri. Memandang ke bawah, mengamati wajah sembap Hermione yang dinodai air mata, Krum melempar seutas senyum hangat.
"Herm-ayon-nini, maukah kau pergi ke pesta dansa bersamaku?"
Mengubur bara sakit hati, Hermione berjuang mengulas senyum kecil. Balik menatap Krum yang tersenyum harap-harap cemas, Hermione berkata terputus-putus.
"Ya, Viktor. Aku mau jadi pasanganmu..."
Menuruni undakan tangga, Hermione menghembuskan napas perlahan. Tadinya, Hermione berharap perayaan meriah kali ini bisa meredam semua kesedihan. Kehadiran pria jantan sekaliber Krum mungkin bisa membantunya melupakan pengkhianatan Flint.
Pengkhianatan...
Hermione mendesis dalam hati merenungkan kalimat nestapa itu. Ya ampun, besar kepala sekali dirinya mengira perlakuan Flint sebagai indikator hubungan istimewa.
Bukankah sudah tertulis di catatan sejarah bahwa punakawan Slytherin gemar mengerjai personel Gryffindor, terutama dalam urusan perasaan hati? Bukankah sudah jadi rahasia umum kalau pria Slytherin biasa memperdaya wanita hanya untuk kesenangan dunia semata?
Lagipula, Flint tak pernah mengajak berpacaran. Flint hanya memberi segerobak gelagat sok mesra serta aneka rayuan gombal.
"Aku tergila-gila padamu. Sangat tergila-gila..."
Mendecih pelan, Hermione menyumpah-nyumpah karena terhanyut dalam ombak kata-kata tak bermakna. Untungnya, mata yang terbutakan cinta kini telah terbuka. Sampai kapanpun, Hermione tak akan mau lagi menjadi mangsa empuk kejahilan keji Flint.
Daripada memikirkan bajingan hidung belang yang gemar bermain dua kaki seperti Flint, Hermione lebih mementingkan Krum, penyihir yang benar-benar terobsesi setengah mati padanya.
Melangkah elegan, Hermione beranjak menghampiri Krum yang berdiri mantap di dekat Harry. Di samping Harry, Parvati Patil, gadis asrama singa keturunan India yang malam ini tampil cemerlang dalam balutan gaun merah muda menyala menganga terpana, tampak tak percaya dengan keberuntungan Hermione yang bisa menggandeng selebritas beken setenar Krum.
Mengulurkan tangan untuk dikecup, Hermione tersenyum ramah pada Krum yang balas melempar segurat senyum panas. Membalas lambaian Harry, Hermione melingkarkan tubuh di lengan Krum, melangkah bergandengan memasuki Aula Besar, tempat di mana Pesta Dansa Natal kali ini diselenggarakan...
Taburan bunga-bunga salju perak sebesar kol, untaian sulur mistletoe dan ratusan meja kecil berhias lilin emas menyala seharusnya menawarkan kesejukan bagi setiap pasang mata yang memandang.
Tapi, suasana syahdu itu tak bisa memadamkan api kecemburuan yang menggerogoti kalbu Flint. Sejak melihat Hermione menuruni tangga, Flint tak mampu berkata-kata.
Malam ini, Hermione berias cantik dan tampil luar biasa memesona. Rambut mengembang yang biasanya tergulung bagai sarang burung kini berubah rapi mengilap, dibentuk menjadi sanggul manis di belakang kepala. Melenggang anggun dalam balutan busana merah muda keunguan, Hermione terlihat jauh lebih memikat ketimbang gadis Veela Beauxbatons, Fleur Isabelle Delacour yang malam ini mengenakan jubah pesta perak pucat.
Menyaksikan tangan Hermione bersentuhan dengan bibir Viktor Krum, emosi purba berbahaya meledak di diri Flint. Jika lengannya tak dicekal Flora Carrow, Flint mungkin sudah mengamputasi moncong lancang Krum dalam satu detakan jantung.
Sepanjang acara makan malam pun, pandangan Flint tak pernah lepas dari Hermione, yang duduk satu meja bersama Krum, Kepala Sekolah Hogwarts, Profesor Albus Dumbledore dan Kepala Sekolah Institut Sihir Durmstrang, bekas perwira Pelahap Maut, Igor Karkaroff.
Secara terang-terangan, Flint mencermati gerak-gerik Hermione. Mengamati semua gelak, senda gurau dan senyum semanis gula cair yang indah memesona.
Ketika sesi dansa dimulai, Flint berusaha mendekatkan diri dengan Hermione. Namun, Flora yang tak bisa diabaikan begitu saja mati-matian menjauhkan dirinya dari Hermione. Geram melihat keintiman dansa Krum dan Hermione, Flint menyentak tangan Flora. Tak mempedulikan rengekan pura-pura Flora, yang memang terkenal sebagai jalang spesialis air mata buaya, Flint bergegas meninggalkan arena dansa.
Berdiam diri di pojok ruangan, Flint mencoba mendinginkan otak. Jika pembunuhan tak berujung sanksi tiket mendekam di penjara sihir Azkaban, Flint yakin sudah ada dua mayat yang bakal bergelimpangan di Aula Besar malam ini.
Pertama tentu saja si idiot Flora Carrow.
Oh, ingin sekali rasanya Flint menjahit mulut Flora yang kerap melantur ngawur itu. Setelah nekat menyakiti Hermione di Ruang Kebutuhan, satu tahun lalu, Flora kini berani mengaku-aku sebagai calon istrinya.
Bah, sampai bumi gonjang-ganjing pun Flint tak akan sudi menjadikan gadis berotak dengkul seperti Flora sebagai pendamping hidup.
Berikutnya, giliran Viktor Krum yang harus mati dengan penderitaan maksimum. Menyunggingkan senyum bengis, Flint sibuk merancang adegan pembunuhan barbar hingga tak sadar dengan kehadiran Pucey yang menyelusup selembut angin sayup-sayup.
"Kau sinting ya? Mencampakkan Flora seperti itu! Bagaimana kalau dia dan bocah Slytherin lain sadar isi hatimu yang sebenarnya?"
Menatap malas, Flint mengambil piala minuman beraroma adas yang tergeletak di atas meja. Menghirup seteguk, Flint membasahi kerongkongan yang kering terbakar emosi.
"Jeli juga kau, Pucey."
"Oho, tentu," Pucey mendengus gusar, merapikan ujung jubah hitam mewah yang semulus jalan tol.
"Penyihir katarak bermata minus pun bisa melihat benda apa yang melekat di jari Granger."
Mengangkat gelas untuk bersulang, Flint tersenyum lebar. Mata kelabu Flint yang gelap dan kelam bersinar dalam kabut pengharapan.
"Ya, bukti absolut bahwa dia milikku. Hanya milikku."
Menggeleng-gelengkan kepala, Pucey menatap nanar rahang kasar dan jantan Flint yang dihiasi sinar kebahagiaan.
"Kau gila, Flint. Segera akhiri mimpi di siang bolong ini sebelum terlambat."
"Aku gila kalau melepaskannya!"
Mereguk habis cairan hangat dalam sekejap, Flint membanting gelas di atas meja. Gebrakan akurat tersebut membuat deretan tar selai dan kue kismis terguling berserakan, jatuh berhamburan di atas lantai karpet bersalju.
Menyambar lengan kiri Flint, Pucey bergumam kasar. Iris cokelat emas Pucey bersinar waspada saat peringatan lain meluncur mulus dari ujung mulut.
"Hadapilah masa depanmu, Flint. Sekali tanda terkutuk itu tertoreh, kau tak bisa bersatu dengan gadis lain kasta."
Mengibaskan lengan kiri dengan beringas, Flint menjauh dari Pucey. Tadi, saat teman kecilnya yang sok perhatian itu sibuk berbusa-busa menjelaskan masa depan sialan yang bakal dihadapi, ekor mata Flint melihat Hermione tengah berdebat dengan Ron Weasley di koridor luar Aula Besar.
Meninggalkan Pucey yang menggeram tak puas, Flint memasukkan tangan kiri ke saku celana. Persetan dengan tanda busuk yang nanti akan tertoreh di lengan kiri! Masa bodoh dengan tugas keparat yang menunggu. Saat ini, yang ada di alam pikiran hanya Hermione. Hanya kebahagiaan gadis yang paling dicinta dan dipuja...
Sesampainya di dekat tangga besar berukir yang berbatasan dengan pilar bersalur, Flint menonton perang kata-kata yang terjadi antara Hermione dan Ron Weasley. Perkelahian panas yang mengakibatkan Hermione, si gadis keras kepala yang pantang menyerah bersimpuh menangis di pangkal tangga.
Pilu melihat wanita yang paling dipuja nelangsa, Flint beranjak mendekat. Tapi, belum sempat mulut Flint membuka untuk menyapa, Viktor Krum mendadak muncul sambil membawa dua botol minuman berbuih putih. Melihat Hermione tersedu, Krum melempar cawan minum ke sembarang arah sebelum merengkuh Hermione dalam dekapan.
Dengan mata menyala karena cemburu, Flint melihat Krum membantu Hermione berdiri. Tangan Flint terkepal kencang saat Krum menyibakkan sehelai ikal Hermione ke belakang telinga.
Gelegar genderang perang hampir keluar dari tenggorokan Flint saat Krum menundukkan kepala dan mencium Hermione. Menyaksikan insiden memualkan itu, insting primitif Flint mencuat keluar.
Hermione itu miliknya!
Hanya miliknya dan tak ada yang boleh menyentuh Hermione selain dirinya...
Hermione sama sekali tak menyangka pesta dansa kali ini akan berakhir berantakan. Awalnya, ia senang menanggapi aksi penuh perhatian Krum. Tanpa malu-malu, olahragawan tersohor yang dijuluki Bulgarian Bonbon itu bercerita penuh semangat, melukiskan bentang alam pegunungan kastil Institut Sihir Durmstrang yang dingin dan sering berselimutkan salju.
Tapi, meski dari luar Hermione terlihat gembira penuh tawa, di dalam hati ia meratap sengsara. Ujung mata Hermione sesekali mencuri-curi pandang ke arah Flint yang duduk semeja dengan Flora Carrow yang tampil luar biasa menggiurkan dalam balutan gaun sutra setipis jaring laba-laba berpadu sepatu hak tinggi modern. Di seberang Flora yang tersenyum renyah secerah fajar merekah, Wakil Kapten Quidditch Slytherin, Adrian Pucey mengobrol asyik bersama saudari kembar Flora, Hestia Carrow.
Di saat melirik diam-diam itulah, terkadang iris cokelat Hermione bertabrakan dengan manik abu-abu Flint. Saat pandangan mereka bertemu, sorot mata Flint tampak membara, sirat sehangat arang panas yang membuat Hermione tergagap dan langsung membuang muka.
Dansa yang semestinya berjalan memuaskan juga menjelma jadi bencana. Entah kenapa, Ron tiba-tiba ngambek dan berkata yang bukan-bukan. Remaja pemilik rambut sewarna api membara itu bahkan menuduh Krum yang notabene saingan Harry di Turnamen Triwizard sengaja memanfaatkan tubuh dan otak Hermione.
Tudingan itu mengiris hati Hermione karena lagi-lagi dirinya dianggap sebagai gadis gampangan yang mudah diperdaya dan dipermainkan kaum pria.
Ketika kesedihan memuncak, Krum datang dan sekonyong-konyong mencaplok bibirnya. Saat bibir Krum menyentuhnya, Hermione tak merasakan sebercak perasaan maupun kilatan gairah yang biasanya terjadi saat ia berciuman dengan Flint.
Kecupan Krum datar dan hambar, tak panas menghipnotis seperti ciuman Flint.
Sadar dirinya masih tertarik pada Flint, Hermione mendorong dada Krum, menghentikan ciuman standar yang luar biasa mengenaskan. Dengan alasan sakit kepala, Hermione meminta izin untuk kembali ke asrama.
Krum yang masih merona terpesona menawarkan untuk mengantar Hermione sampai ke depan pintu lukisan Nyonya Gemuk. Hermione yang tak mau lama-lama bersama Krum menepis permintaan tersebut. Melempar senyum singkat, Hermione bergegas pergi, menyusuri koridor menuju asrama Gryffindor.
Berjalan perlahan di sepanjang koridor berpencahayaan minim dengan pikiran melantur ke mana-mana membuat Hermione tak sadar dirinya diikuti. Saat melewati sebuah ruang kelas kosong, sesosok tegap memeluk dari belakang dan menariknya masuk ke ruang kelas.
Pekik terkejut Hermione teredam saat bayangan asing itu menciuminya habis-habisan. Hanya harum khas yang amat dikenal-lah yang membuat Hermione mengurungkan niat menendang selangkangan penyerangnya itu.
"Flint..."
Mengerang di sela-sela lumatan ganas Flint, Hermione mengeluarkan tongkat sihir yang tersimpan di saku gaun. Menggumamkan mantra Lumos, Hermione menerangi ruang gelap itu dengan setitik cahaya lemah yang muncul dari ujung tongkat sihir.
Merengkuh kepala Hermione, Flint kembali menaklukkan mulut Hermione. Bibirnya bergerak liar dan rakus, bertekad memupus semua jejak sentuhan Krum di diri Hermione. Sempat tenggelam sesaat, akal sehat Hermione yang sempat menghilang kembali merajai diri.
Memalingkan muka, Hermione membuat bibir Flint membentur pipi. Penolakan itu tak memadamkan semangat Flint. Memainkan jari di sela-sela sanggul Hermione, mulut lapar Flint menyusuri garis rahang Hermione, mengecup dalam cumbuan yang panas, lapar dan bergairah.
Selama lidah dan mulutnya menghanguskan kulit sensitif Hermione dengan kenikmatan, Flint berulang-ulang menggumam lembut, merapalkan kalimat kepemilikan yang membuat jantung batin Hermione berdesir penuh pengharapan.
"Kau pasti bangga punya calon istri secantik diriku."
Ingatan akan Flora Carrow, calon istri Flint di masa depan membangkitkan kewarasan Hermione. Mendorong keras dada kokoh Flint, Hermione bergegas membuka pintu. Sebelum tangan Hermione memutar pegangan pintu, Flint mendesak maju, lengan perkasanya mengurung tubuh Hermione dari belakang.
Membalikkan tubuh, Hermione memukuli Flint dengan kepalan tinju. Membuang semua kemarahan dan kejengkelan mendalam melalui jotosan bertubi-tubi.
"Lepaskan aku! Sana, kembali ke tunanganmu!"
Menangkap kepalan tangan Hermione dengan sebelah tangan, Flint menarik Hermione ke pelukan. Merutuk dalam hati, Flint menyumpahi kesalahpahaman Hermione. Hermione pasti sudah salah pengertian terkait kejadian beberapa hari lalu, saat dirinya dicegat Flora di koridor dekat perpustakaan.
Ketika itu, atas anjuran Pucey, Flint dengan terpaksa meminta Flora datang ke pesta dansa. Celakanya, Flora-si-Ratu-Jalang memanfaatkan kesempatan itu untuk menebar racun muslihat, mengaku-aku sebagai calon menantu favorit keluarga besar Flint. Posisi terhormat yang sampai mati tak akan pernah diberikan Flint padanya.
Di saat Flint melihat bayangan Hermione, ia baru tersadar gadis yang dipujanya itu mendengar pengakuan palsu Flora. Sayangnya, Hermione sudah berkelebat pergi dan Flint gagal menemukannya untuk memberikan klarifikasi.
"Flora bukan calon istriku!"
"Jangan bohong! Aku mendengar dan melihat dengan mata kepala sendiri," semprot Hermione brutal. Wajahnya terangkat ke atas, memelototi Flint dengan sorot setajam pedang Godric Gryffindor.
"Kau salah paham. Flora tak akan pernah menikah denganku!"
Mengangkat tangan kiri Hermione, Flint menautkan jari dengan jemari Hermione. Mendekatkan jari manis Hermione ke bibir, Flint melarikan lidah, dengan lembut mengecup cincin elegan yang tersemat di jari tersebut.
"Hanya kau yang akan menjadi istriku," Flint bergumam serak, terus membasuh jari manis Hermione dengan usapan bibir.
"Cincin ini buktinya."
Penjelasan itu membuat Hermione goyah dan terhuyung-huyung. Secara otomatis, Flint melingkarkan tangan di pinggang Hermione, mencegah tubuh anggun Hermione jatuh tersuruk ke lantai.
"Bukti apa?" Hermione bertanya terbata-bata. "Itu cuma cincin hadiah biasa."
Tersenyum hangat penuh arti, Flint meneruskan penjelasan, lidah dan bibirnya terus menjilati jari manis Hermione dengan kelembutan yang tak ditutup-tutupi.
"Ini bukan sekadar cincin biasa, Princess. Ini cincin keramat keluarga Flint. Khusus diberikan kepada calon Nyonya Flint di masa depan."
Hermione melongo meneliti cincin yang tengah dipuja Flint. Sebagai penyihir keturunan Muggle, ia belum tahu banyak tentang seluk-beluk cincin pusaka keluarga berdarah murni.
Yang ia ketahui cincin biasanya berfungsi sebagai petunjuk garis keturunan. Contohnya, Malfoy yang selalu mengenakan cincin tanda pewaris sah klan Malfoy di jari tangan kanannya.
Hermione sama sekali tak mengira, cincin berukiran menawan yang tersemat di jarinya itu merupakan cincin pernikahan. Lalu, jika cincin berharga ini ada di jarinya, kenapa Flora Carrow menganggap dirinya adalah tunangan resmi Flint?
"Lalu, bagaimana dengan dia?"
Mengangkat alis menggoda, Flint menghentikan hujan ciuman di jemari Hermione.
"Dia? Dia siapa?"
"Flora Carrow! Tu-na-ngan-mu!" semprot Hermione tak sabar, geregetan memandangi raut nakal Flint.
Membelai anak rambut Hermione yang terlepas dari cepolan, Flint berbisik lembut. Hembusan napas Flint merembes masuk, mengirimkan getar mendebarkan yang sangat familier di sekujur tubuh Hermione yang mendamba.
"Kutekankan sekali lagi, Princess. Flora bukan siapa-siapaku. Sejak dulu dia hanya terobsesi menguasai harta keluargaku."
"Kau mengajaknya sebagai pasangan pesta dansa," bisik Hermione lirih. "Padahal kupikir kau mau mendampingiku."
Sorot terpukul membayangi wajah macho Flint. Ia sama sekali tak berniat membuat Hermione bersedih. Sejak pengumuman pesta dansa keluar, Flint sangat ingin meminta Hermione menjadi partner dansa. Tapi, peringatan dari Pucey bahwa tindakannya membawa Hermione ke pesta dansa bisa berujung bahaya memaksa Flint membatalkan niat tersebut.
Berdasarkan analisis Pucey, dari hari ke hari bara permusuhan antara Slytherin dengan Gryffindor semakin meruncing. Mengekspos hubungan secara terbuka sama saja dengan serangan harakiri alias gerakan bunuh diri.
Belum lagi dengan desas-desus mengenai kebangkitan Pangeran Kegelapan, kabar yang jika terbukti benar bisa membuat situasi berubah secara drastis.
"Maaf, Princess. Seandainya saja aku bisa memutarbalikkan keadaan."
Hermione tertegun mendengar ketulusan permintaan maaf Flint. Sebenarnya, jika mau berkepala dingin, harapannya berdansa dengan Flint cuma angan-angan belaka. Teman-teman Flint di Slytherin pasti akan menjadikan pemuda tinggi berisi itu bulan-bulanan ejekan.
Belum lagi dengan Ron serta Harry. Mereka pasti tak bisa menerima jika ia pergi bersama Flint. Ron saja mencak-mencak saat tahu pasangan dansanya Viktor Krum, atlet Quidditch internasional yang dulu disanjung-sanjung setengah mati.
Apalagi jika ia datang bersama Flint. Ron pasti sudah mati berdiri dan tak bangkit-bangkit lagi.
Imajinasi Hermione yang berputar-putar terhenti saat derit pintu dibuka memecah keheningan. Flint makin merapatkan pelukan setelah melihat identitas tamu tak diundang tersebut.
"Ternyata kau suka mengintip orang pacaran ya, Pucey?"
Menolehkan muka, pandangan Hermione tertumbuk pada penyihir setampan pangeran peri yang menjulang tegang di ambang pintu. Mengukir senyum pasrah, Pucey menutup pintu dan memantrai pintu berat berukiran rumit tersebut dengan Mantra Segel.
"Lain kali, pastikan pintu terkunci dengan sihir sebelum bermesraan. Kau ceroboh sekali, Flint. Untung aku yang memergokimu," Pucey menghela napas panjang, mencermati sejoli yang saling berangkulan erat seakan tak akan ada hari esok untuk mereka.
Menangkup dagu Hermione yang memerah, mata abu-abu Flint yang sekelam awan hujan menatap Hermione lekat-lekat, seolah ingin menghafal garis wajah asri penyihir mungil yang ada di dalam dekapan.
"Mau bagaimana lagi. Dia membuatku mabuk kepayang dan tak bisa berpikir."
Pernyataan blak-blakan Flint sudah tentu menjadikan paras Hermione makin merona. Tak tahu lagi harus bersikap, Hermione memilih membenamkan muka di dada Flint yang seharum wangi sinar matahari musim semi.
"Karena sepertinya kau sinting, gila dan pantang mundur, aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Tapi, sebagai temanmu, aku hanya ingin memberi nasihat," Pucey mengangkat bahu dengan lepas sebelum berjalan ke bangku guru dan menjatuhkan diri di sana.
Meletakkan kaki di atas meja guru, Pucey menyambung celotehan. Selama berbicara, mata emas tajam Pucey tak berhenti mengawasi kepala Hermione yang tenggelam di dalam dekapan Flint.
"Cincin pernikahan itu terlalu menyolok. Sebaiknya kau berikan mantra penyamar bentuk, Mantra Glamour sebelum salah satu dari siswa Slytherin menyadari keberadaan cincin tersebut."
Flint menyeringai lebar menyerap wejangan Pucey yang masuk di akal. "Kau genius, Pucey. Aku sama sekali tak berpikir ke arah itu."
"Ya, ya, ya. Tentu saja kau tak berpikir. Kau kan kehilangan otak begomu kalau berada di dekat dia," Pucey memutar bola mata cokelat emas dengan gerakan bosan.
Menatap mesra wajah merona Hermione, Flint menautkan jari yang bercincin dengan jari manis Hermione. Setelah cincin mereka berdekatan, Flint mengucapkan Mantra Glamour. Dalam sekejap, cincin mewah itu berubah bentuk menjadi cincin sederhana perak polos.
Membingkai wajah Hermione dengan telapak tangan yang besar, Flint menyapukan bibir di bibir Hermione, mencium dengan seluruh hasrat cinta murni yang dimiliki. Janji lembut penuh kepastian pun terucap dari mulut Flint yang berbisik penuh damba.
"Kau milikku, Princess. Sekarang dan untuk selamanya..."
Bagi Hermione, tahun keempat ini merupakan momen paling sibuk dalam hidupnya. Hari-harinya diisi dengan kegiatan membantu Harry memecahkan tugas kedua di Turnamen Triwizard. Belum lagi dengan aktivitas rahasia lain, menginvestigasi pernikahan ala penyihir di berbagai buku, edisi lama maupun baru.
Dari penelitian yang dilakukan di sela-sela rehat siang, Hermione paham bahwa menurut sihir kuno, ia telah mengikatkan diri dengan Flint. Ketika Hermione menuntut penjelasan, Flint hanya tertawa sumringah, mengacak-acak rambut cokelat lebat Hermione dengan kasih sayang gamblang.
Flint meminta Hermione untuk tak terlalu khawatir. Cincin itu hanya pengikat sementara. Jika waktunya sudah tepat, Flint secara jantan akan menghadap orangtua Hermione untuk meminta restu menikah dan mempermanenkan pernikahan mereka.
Keterangan itu setidaknya membuat Hermione sedikit lega. Ia memang mencintai Flint sepenuh hati tapi ia belum siap menjadi pengantin di usia dini.
Usai pelaksanaan tugas kedua Turnamen Triwizard, Hermione menyangka keadaan akan lebih mudah dan ringan. Sialnya, keinginan mulia itu tak terkabul.
Selain menghadapi serbuan surat-surat ancaman dari penggemar Harry dan Viktor Krum yang mengamuk gara-gara membaca artikel sesat cinta segitiga karangan jurnalis ngawur Rita Skeeter, Hermione juga harus menjinakkan Flint yang cemburu setengah mati setelah mengetahui bahwa kekasih hatinya terpilih sebagai milik Krum paling berharga saat tugas kedua Turnamen Triwizard.
Untungnya, api kecemburuan itu bisa segera dimusnahkan. Sadar waktu untuk bersama Hermione di Hogwarts terbatas, mengingat dirinya sebentar lagi lulus, Flint mengajak berbaikan. Hubungan rahasia mereka pun terus berlanjut, di sela-sela kesibukan belajar jelang ujian akhir maupun pelaksanaan final Turnamen Triwizard yang sudah di pelupuk mata.
Ketika Hermione mengira sekeping kebahagiaan damai yang dirasakan akan berlangsung abadi, petaka tiba-tiba terjadi. Lord Voldemort dengan bantuan abdi setia, Bartemius Crouch Junior yang menyamar sebagai guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, Profesor Alastor Mad Eye Moody mengacaukan jalannya tugas terakhir Turnamen Triwizard.
Di malam terkutuk itu, salah satu kontestan, Kapten Quidditch Hufflepuff, Cedric Diggory tewas terbunuh.
Di pesta perpisahan asrama dan acara wisuda yang disulap menjadi upacara mengenang kematian Diggory, Flint melihat Hermione terguncang mendengar pernyataan Kepala Sekolah Profesor Albus Dumbledore mengenai bangkitnya kembali Lord Voldemort, si penyihir jahat dengan reputasi hitam yang puluhan tahun lalu meneror ketenangan dunia sihir Inggris.
Kala mendengar bangkitnya kembali sang Raja Kegelapan, Flint nyaris menghambur ke meja Gryffindor dan memeluk Hermione, menenangkan kekasih hatinya dalam dekapan. Flint sadar, kebangkitan Lord Voldemort Si Penghancur berarti ancaman mutlak bagi penyihir kelahiran Muggle seperti Hermione.
Bagi Flint, kembali merajalelanya Lord Voldemort juga menjadi pertanda amburadulnya semua masa depan yang dirancang matang-matang.
Buktinya, beberapa hari setelah insiden mematikan di final Turnamen Triwizard, Lord Voldemort memanggil semua pelayan setia untuk kembali berbakti, tak terkecuali keluarga Flint yang di mata dunia terkenal sebagai keluarga baik-baik yang jauh dari pengaruh sihir hitam.
Kamuflase beradab itu bisa terjadi sebab berbeda dengan Pelahap Maut lain yang terang-terangan maju dan menampakkan muka di garda depan, ayah Flint memilih jalur aman. Status sebagai triliuner dan pemegang saham terbesar tim Quidditch Puddlemere United memungkinkan kepala keluarga Flint itu bergerak secara rahasia sebagai penyokong dana peperangan Lord Voldemort.
Sayangnya, predikat penyandang dana rupanya tak dianggap cukup bagi ayah Flint. Berbulan-bulan lalu, sejak mendengar kabar burung mengenai rencana kebangkitan sang master kegelapan, ayah Flint memerintahkan putra tunggalnya untuk bergabung di laskar Pelahap Maut demi menggapai ambisi menembus lingkaran elit Lord Voldemort.
Pada mulanya, Flint menolak. Bergabung bersama organisasi sehitam Pelahap Maut berarti bersedia membunuh, menyiksa dan memerkosa anak manusia tanpa pandang bulu.
Nahasnya, kekerasan hati ayahnya tak bisa diruntuhkan. Dengan berbekal asa Lord Voldemort tak akan pernah muncul lagi, Flint akhirnya mau direkrut sebagai anggota elit Pelahap Maut asalkan sang ayah mengabulkan keinginan untuk memilih sendiri calon istrinya.
Sesaat setelah izin menentukan calon pendamping hidup keluar, Flint langsung mengirimkan cincin keramat keluarga ke Hermione. Bermodal takdir dan nasib baik, ternyata Hermione tanpa banyak tanya memasang cincin itu di jari manis.
Ketika itu, Flint merasa surga dunia ada di dalam genggaman. Hermione yang dicintainya setengah mati bersedia mengikatkan diri dengannya. Pada saatnya, Flint percaya Hermione bisa menjadi istri sahnya. Menjadi ibu dari putra dan putrinya...
Sayangnya, tak semua ambisi penuh cahaya bisa terlaksana. Duduk di bawah naungan pohon magnolia, Flint terpekur merenungi guratan nasib yang bergulir menyedihkan. Mata dingin abu-abu Flint menerawang hampa, memandang tak berselera hamparan bunga-bunga liar beraneka warna yang terbentang di padang rumput terbuka.
Sedari dulu, padang rumput yang menawarkan keindahan bagai serpihan surga telah menjadi tempat favorit yang paling menyenangkan. Di benak Flint, padang rumput ini menyimpan banyak nostalgia indah, termasuk memori membahagiakan di ulang tahun yang kelima ketika ayahnya pertama kali mengajarinya berlatih Quidditch.
Selain sering bermain Quidditch setiap liburan musim panas, Flint juga kerap mempergunakan pelataran padang rumput yang terbentang luas tak berujung sebagai tempat menjernihkan pikiran. Seperti yang terjadi di liburan musim panas setahun lalu.
Ketika itu, Flint menghabiskan masa liburan musim panas dengan merenung dan mengutuki diri sendiri karena bersikap brutal pada Hermione. Walau harus dilakukan demi kebaikan kedua belah pihak, Flint tak bisa melupakan ekspresi merana di wajah Hermione.
Dengan banyaknya memori indah terekam di padang rumput, Flint menginginkan bisa membawa Hermione ke surga pribadinya. Sayangnya, impian itu belum bisa terlaksana. Sejauh ini, Flint hanya bisa memperlihatkan replika padang rumput saat menyelamatkan Hermione dari serangan monster gunung bermata tiga di Ruang Kebutuhan.
Menggosok-gosokkan mata lelah yang dihiasi lingkaran hitam dengan sebelah tangan, Flint menggulung lengan baju, menatap jijik tato tengkorak dengan ular terjulur dari dalam mulut.
Tanda Kegelapan...
Bukti nyata sumpah setia seorang Pelahap Maut pada Lord Voldemort...
Rasa nyeri akibat torehan tanda mengerikan itu masih tertanam di dada Flint. Seminggu setelah kelulusan, Flint dan sejumlah remaja Slytherin yang baru lulus dari Hogwarts, dipanggil untuk upacara inisiasi, ritual masuknya anggota baru Pelahap Maut.
Lazimnya, pemuda tanggung yang cenderung labil, naif dan cengeng tak boleh dipekerjakan sebagai personel Pelahap Maut, organisasi hitam yang sejak bertahun-tahun lalu dikenal sebagai senjata kejam yang terlatih dan tak berperasaan. Namun, perang baru melawan Orde Phoenix membuat Lord Voldemort sangat membutuhkan pasukan anak-anak dan tenaga muda sebanyak-banyaknya.
Menarik napas berat, Flint memejamkan mata rapat-rapat. Tangan kanannya meremas dan menarik-narik bunga rumput hingga tercerabut dari akar.
Tadi malam, Lord Voldemort telah memerintahkan tugas pertama untuk peleton Pelahap Maut belia. Panggilan setan untuk menyiksa, membunuh dan menghanguskan kulit demi kulit para Muggle malang yang berdiam di kota kecil Conventry, West Midlands.
Dengan Tanda Kegelapan serta tangan yang tercemar darah manusia, Flint tak yakin dirinya mampu memeluk Hermione tanpa merasa hina.
Menghapus Mantra Glamour, mata Flint mengabur memandang cincin kuno yang tersemat di jari tangan. Setelah mengetahui jati dirinya yang sebenarnya, Hermione mungkin tak akan mau berhubungan lagi dengannya.
Sebagai sobat kental Harry Potter dan penjunjung tinggi asas keadilan serta prinsip kemanusiaan, Hermione pasti tak akan sudi menjadi istri prajurit Pelahap Maut.
Bayangan kehilangan Hermione membuat aliran darah Flint seolah terhenti. Jantungnya seolah berubah membatu, berhenti berdetak untuk sesaat.
Mencium cincin pusaka, Flint bangkit dari posisi semula. Meninggalkan padang rumput yang tumbuh tinggi, Flint melangkah mantap, semantap tekad baru terpancang di relung benak.
Ia akan merebut dan mempertahankan Hermione apapun yang terjadi. Selama masih memakai cincinnya, Hermione akan terikat padanya. Akan terus menjadi miliknya.
Ya, seperti ikrar di ruang kelas kosong usai Pesta Dansa Natal Yule Ball, Desember lalu. Sekarang dan untuk selamanya, Hermione itu miliknya.
Hanya miliknya...
BERSAMBUNG
