Disclaimer : I have nothing but Vivien. Respectfully, all of the real characters are belong to Yana Toboso.
Enjoy the fic!
Chapter 4 : Misery and Memory
...
A tear in the membrane
Allows the voices in
They wanna push you off the path
With their frequency wires
And you can do no wrong in my eyes
...
Sepanjang perjalanan menuju Atlanta, Ciel dan Sebastian berbincang-bincang mengenai diri mereka masing-masing. Virgin Air yang akan menuju Meksiko akan transit sebentar di lapangan terbang tersibuk di dunia itu untuk mengisi bahan bakar. Sedangkan teman-teman mereka yang lain ada yang mendengarkan musik, membaca buku, tidur, mengobrol atau sekedar melihat pemandangan.
" Ciel, kudengar kau pindah dari Carlisle. Mengapa kau pindah dari sana? Bukankah sekolahmu yang dulu itu sangat bagus? Selain itu, kau hanya satu semester, bukankah terlalu sebentar?" tanya Sebastian dengan pelan. Dia berusaha mencairkan suasana, dan mencari tahu penyebab Ciel tidak ingat padanya.
"Hm, kurasa aku hanya tidak nyaman disana, Sebastian. Disana aku sendirian karena ayah dan ibuku di London. Jadi, kupikir akan lebih baik pindah dan tinggal saja bersama mereka. Yah, meski kuakui agak berat meninggalkan teman-temanku disana. Hmmm, kudengar dari Lizzie kau dulu juga murid pindahan, apakah itu benar?" Sebastian bingung ketika Ciel menampakkan ekspresi yang aneh ketika menyebutkan alasannya.
Sebastian tersenyum sejenak karena Ciel terus-terusan menatapnya, "Aku pindah dari Alaska. Dulu, aku sempat tinggal di Inggris sebelum ayahku dipindah tugaskan di Kanada. Rumahku ada di Pemberley*, Lambton. Lalu, sama sepertimu, karena ayahku kembali bekerja di Inggris. Aku pun pindah kesini." Sebastian terkekeh. Dia mengingat ketika diam-diam pindah ke Inggris dan membuat ibunya hampir pingsan. Dan setelah itu, Granma Eleanore memarahinya.
"Hmm.. Lizzie juga memberitahuku, ayahmu bekerja sebagai kepala cabang Phantom. Tapi aku bingung sekali karena aku tidak ingat padamu, Sebastian. Aku minta maaf." ujar Ciel lirih. Sebastian yang tenang akhirnya menjadi tegang dan ekspresinya menjadi sedikit goyah. Setelah diam selama beberapa detik, dia tersenyum.
"Kau tak perlu meminta maaf. Dengan kau tidak bersikap dingin padaku sekarang, aku sudah bersyukur. Aku sendiri tidak tahu, Ciel. Aku mengenalmu dulu, dan aku cukup terpukul ketika kau lupa sama sekali padaku. Mungkin, kau harus sedikit berusaha mengingatku, Ciel." Dan tentu saja ketika itu kau akan sadar, kau akan mengingat betapa aku sangat menyayangimu. Sebastian tersenyum dengan perkataan batinnya. Dia sendiri tidak terlalu yakin, tapi kemungkinan selalu ada.
Perkataan Sebastian membangkitkan sesuatu didalam diri Ciel. Dia merasa Sebastian bukan relasi yang biasa, tapi Ciel selalu merasa nyaman bersama Sebastian. Seolah bersama seseorang yang sangat dekat. Sahabat lama. Ciel terus berusaha mengingat. Sebastian yang memperhatikan Ciel semakin khawatir karena Ciel diam saja. Karena khawatir akan kesehatan Ciel yang dipengaruhi ingatannya, Sebastian mengalihkan topik pembicaraan. Akhirnya, mereka membahas rumah keluarga Michaelis di Pemberley dan rumah utama keluarga Phantomhive di Carlisle. Karena mulai mengantuk, Ciel tertidur.
Cahaya matahari yang menyeruak melalui jendela pesawat menerpa wajah Ciel yang tertidur. Sebastian memutuskan untuk menutup jendela tersebut. Dengan perlahan membuat Ciel bersandar padanya dan membentangkan selimut padanya. Sebastian tersenyum pahit ketika menatap wajah tenang Ciel. Dia merasa akan sulit sekali mengembalikan ingatan Ciel. Di satu sisi, Sebastian curiga dengan kepindahan Ciel ke Morganthau. Setahunya, sekolah Ciel yang dulu jauh lebih menyenangkan untuk orang seperti Ciel. Dan ekspresi Ciel semakin meyakinkannya. Dia pun membuat mental note untuk menyelidikinya.
Berjam-jam tak disadari, pesawat telah landing di aspal landasan pacu Atlanta dan berhenti di terminal transit. Sebastian yang juga akhirnya tertidur, terbangun oleh suara pramugari pirang yang membangunkannya. Dia lalu membangunkan Ciel untuk turun dari pesawat untuk makan.
Atlanta Airport
"Ciel, kau mau minum atau makan apa?" tanya Sebastian yang saat itu bersama Ciel, Agni dan Lizzie duduk di restoran di bandara. Agni memesan makanannya, stroganoff dan Lizzie meminta Agni memesankan fish and chips untuknya. Keduanya juga memesan minuman bersoda.
"Hmm... samakan saja dengan pesananmu, Sebastian. Dan aku ingin minum krim soda." Ciel menjawab sambil mengetik pesan kepada ibunya. Sebastian memesankan segelas caramel macchiato, segelas krim soda, dan dua porsi raviolli.
"Liz, mana Nessie?" tanya Ciel. Lizzie yang sedang asik mengobrol dengan Agni pun menoleh.
"Hm, dia ke toilet, Ciel. Dia bilang dia tidak lapar, jadi kurasa dia hanya akan jalan-jalan saja." Lizzie menepuk pundak sepupunya. Gerakan itu meyakinkan Ciel untuk tidak khawatir. Nessie Vineyard adalah putri seorang artis Inggris dengan seorang diplomat terkenal. Tidak akan ada yang berani mencari-cari masalah dengan putri Abigail dan Richard Vineyard.
Pesanan Agni dan Lizzie sampai, begitu pula dengan pesanan Ciel dan Sebastian. Dan mereka memulai santap sore itu dalam hening dan ribut pikiran masing-masing. Ciel tak sengaja meihat kearah pilar besar di seberang restoran. Dia melihat seseorang yang familier menatapnya. Karena gemetar, garpu yang dipegangnya jatuh ke piring. Sebastian, Agni dan Lizzie yang terkejut menatap Ciel yang membeku.
"Ciel, kau tak apa-apa?" tanya Lizzie. Ciel tak menjawab.
Sebastian mengedarkan pandangan menuju arah yang ditatap Ciel. Seseorang menatapnya juga, tapi dia tidak mengenalnya. Sebastian menutupi pandangan dan memegang wajah Ciel membuat Ciel menatap matanya.
"Alice, lihat aku! Kau melihat siapa?" tanya Sebastian. Mata biru Ciel menatap mata Sebastian yang seperti warna darah tanpa merefleksikan sesuatu mungkin hanya kepanikan yang ada.
"Dia... memburuku, Sebastian. Orang itu." Ciel menjawab dengan lirih. Lizzie menelpon Rachel dan meminta mengirimkan body guard Ciel untuk berjaga-jaga di Meksiko. Sebastian melihat ketakutan di mata Ciel, dan hatinya mendingin. Sebastian memiringkan kepalanya sehingga bibirnya berada dekat dengan telinga Ciel, tangannya menggenggam tangan Ciel.
"moya zhiznʹ, moĭ dorogoĭ,** are you listening? You'll gonna be alright. I'm here will never let anyone harm you. Do you believe me?" bisik Sebastian.
Ciel bereaksi terhadap panggilan yang dibisikkan Sebastian. Dia yakin pernah mendengar nama panggilan tersebut. Tapi karena ketakutan yang masih menjalari tulang belakangnya membuatnya kaku, dia terdiam.
"Agni, kurasa kita harus kembali ke pesawat. Ciel tidak akan baik-baik saja kalau kita tetap disini." Sebastian mulai sedikit panik. Lizzie yang bingung melihat Sebastian yang dikiranya baru mengenal Ciel sangat protektif kepada Ciel, menatap Agni dengan arti tersirat. Agni mengangguk.
"Lizzie, kau ikut denganku, akan kuberi tahu rahasia Sebastian dan Ciel." Agni berdiri diikuti Lizzie. Mereka beranjak dari restoran. Pembayaran sudah dilakukan sebelum mereka menyantap makanan, sehingga tidak peru mengkhawatirkan hal tersebut. Sebastian dan Ciel tetap ditempat, Ciel belum sepenuhnya sembuh dari keterkejutannya. Orang yang tadi menatapnya adalah anak buah penculik yang dulu hampir membunuhnya. Tapi, itu sudah bertahun-tahun lalu, dan mereka kembali. Itu membuat Ciel sangat takut.
Ciel menatap tangannya yang digenggam Sebastian, dia menangis bisu. Sebastian memeluk Ciel yang menangis juga dalam bisu. Setelah sekitar sepuluh menit, Ciel berhasil menguasai dirinya lagi.
"Kurasa kita harus bergegas, Ciel." Sebastian merapikan rambut Ciel yang berantakan.
"Sebastian, aku tidak mengerti... dan terima kasih, kau sangat baik. Maaf, kemejamu jadi basah karena aku menangis." Ciel bersemu dan suaranya sangat lirih.
"Tak apa. Nanti juga kering lagi. Ayo, Ciel!" Sebastian membantu Ciel berdiri dan memapahnya. Ciel menjadi lebih pucat dan badannya lebih lemah. Pikiran dan ketakutan memang membuatnya semakin lemah. Dan hal ini membuat Sebastian menjadi sedih dan marah. Dia bersumpah akan melacak keberadaan orang tadi. Sebastian ingat, orang tersebut memiliki rambut pirang pasir dan wajah pucat yang khas. Selain itu, orang tersebut memiliki tinggi tak jauh dari Sebastian, sekitar 180an cm. Pakaiannya seperti turis, tapi dia sama sekali bukan turis. Melainkan seorang buronan.
Sesampainya di pesawat, Ciel duduk dan berselimut. Sebastian juga meminjamkannya sweater tebal yang kebesaran ditubuh Ciel. Setelah meminum segelas susu yang diberikan seorang pramugari atas permintaan Sebastian, Ciel kembali tertidur meski alisnya tetap tertaut. Sebastian menjaganya hingga pesawat kembali turun.
Ciel dibangunkan Sebastian lagi. Dan beruntung karena sekelompok, Ciel terus bersama Sebastian dan Nessie. Agni sedang mengambil koper-koper bersama anggota kelompok yang lain di bagian luggage. Teman sekelompok Ciel merasa prihatin kepadanya, sehingga mereka dengan suka rela membawakan tas Ciel yang berwarna biru tua.
Dan, setelah semuanya selesai. Rombongan tersebut menaiki empat bus menuju penginapan. Penginapan yang akan ditinggali terlihat sederhana karena dibangun dari kayu. Tetapi fasilitas yang disediakan sangat lengkap. Penginapannya pun sangat bersih dan rapi.
Satu kelompok akan menempati sebuah kamar besar. Sebuah kamar besar yang dimaksud adalah sebuah pondok besar yang seperti rumah vila yang hanya terdiri dari sebuah kamar dengan enam kasur, dua buah kamar mandi, dapur, dan ruang berkumpul.
Nessie merapatkan kasurnya dengan kasur Ciel karena usulan Sebastian agar Ciel terus ada yang menemani. Mengingat kondisi Ciel yang masih lemah, meski sudah seperti biasa. Setelah merapikan tas-tas dan barang-barangnya. Sebastian menatap Ciel yang sedang bergelung didalam selimut dengan Nessie yang sedang bercerita. Terdengar suara tawa Ciel yang lirih. Sebastian menghela napas dan memutuskan untuk menghubungi ayahnya.
Rrrrr... Rrrrr... "Ya, Michaelis disini."
"Ayah, ini aku." Sebastian masih menatap Ciel.
"Sebastian, kurasa aku mengetahui alasanmu menelponku, nak! Vince menceritakannya. Sekarang aku sedang di rumahnya bersama beberapa inteljen. Mereka terus melakukan pencarian."
"Ayah, siapa mereka? Kenapa Ciel yang diincar?" tanya Sebastian. Terdengar helaan napas.
"Dengarkan baik-baik Sebastian, kuharap kau terus bersama Ciel. Kami masih belum tahu siapa mereka dan dalang dibalik semua ini. Bukan hanya Ciel yang diincar, keluarga Vladimir di Rusia hampir saja terbunuh. Rumah Abraham dibakar, beruntung Abe dengan anaknya, Vivien dan istrinya, Yuri sedang bersama ibunya, Maggie. Nak, Vince sangat berharap kau bisa membuka ingatan putrinya. Kalian memiliki hubungan yang dekat. Ibumu sangat khawatir pada kalian berdua, begitupun Rachel. Kau tak boleh ceroboh, tetaplah berhati-hati. Pamanmu, Edward dan Tuan Bourgh akan berada di Meksiko bersama bodyguard Ciel."
Sebastian mencerna perkataan ayahnya dan mengiyakan. Pamannya pasti akan segera menghubunginya. Orang – orang di Alcraz tidak akan membiarkan putra dari Amelia Selene dalam bahaya. Mereka sangat menyayanginya dan keluarganya.
"Yah, aku tutup dulu. Nanti kalau ada kabar, kirimi aku pesan." ujar Sebastian.
"Ya, hati-hati Sebastian. Mia dan aku khawatir padamu dan Ciel." Victor menutup teleponnya sebelum putranya.
Sebastian memutuskan untuk tidur sejenak. Ciel dan Nessie masih mengobrol. Dan itu membuatnya sedikit tenang. Sebentar saja, izinkan aku istirahat.
TBC
мой ангел
*Rumah keluarga Darcy di Novel Pride and Prejudice
** My life, My dear
