SQUEZEE

Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi

Original Story by Kiki Z

Character pairing: Akashi S x Kuroko T

Midorima S x Kuroko T

Warning: BL, Typo, alur kecepatan, tidak nyambung, tidak sesuai EYD

.

.

.

"apa?" aomine menyemburkan minuman yang hampir ia tegak, mengenai lelaki kemayu dengan surai hitam yang kini tengah menatapnya kesal. Tidak peduli dengan tatapan intimidasi yang lebih kepada merajuk di depannya, si tampan dim itu malah mengorek-ngorek kupingnya, memastikan indera pendengarnya masih bekerja dengan benar.

"oi, ahomine. Bisa tidak kau telan dulu minumanmu baru berteriak" dengus mibuchi kesal karena menjadi korban semburan rekannya itu, jemari lentiknya sibuk mengusap wajahnya dengan lembaran-lembaran tisu.

"jadi Akashi, apa benar kau akan menikah?" tanpa rasa bersalah, si panter mengabaikan mibuci yang kini tengah pundung dengan aura suramnya, lelaki dim itu memilih fokus pada lelaki bersurai merah yang tengah menyeringai, memainkan gelas minuman dengan jari-jarinya, menggoyang-goyangkan sehingga cairan putih dalam gelas itu bergoyang lalu meneguknya, wajah aomine terlihat serius, masih menunggu jawaban dari mantan kapten basketnya dulu.

"ya, aku akan menikah" ucap seijurou sejenak, member jeda lalu melanjutkan kalimatnya.

"Kau tidak perlu seterkejut itu daiki" sambung seijurou santai tanpa melihat ke arah lawan bicaranya, tidak peduli dengan ekspresi wajah aomine yang terlihat tidak percaya, seakan bumi sudah berhenti berputar pada porosnya. Hingga gesture pemuda raven itu berubah dengan telapak tangan dimulut seolah menahan sesuatu keluar dari belah bibir seksinya.

"hmpfttttttt hmpfttt hahaha hahaha hahaha" aomine berusaha menahan tawanya namun gagal, apa yang baru saja ditangkap indera pendengarnya membuat ia begitu geli, seolah ada yang menggelitik dan rasanya tak bisa mengontrol tawanya yang cukup keras, berlomba dengan alunan music yang berputar tanpa henti, tangan kokohnya memukul-mukul meja, membuat benda di atasnya bergetar lalu memeluk perutnya.

Seijurou meneguk gelas ketiganya, tatapannya masih lurus, tidak peduli dengan atensi lelaki berkulit gelap yang masih tertawa hebat di sampingnya.

"kau mau berhenti tertawa, atau aku yang memaksamu berhenti!" ucapnya, lagi-lagi dengan nada santai namun langsung membuat tawa aomine spontan berhenti.

"ha ha ha…, maaf Akashi, aku terlalu terkejut mendengar kabar luar biasa ini" aomine tersenyum mengejek, masih tak percaya.

Jika hanya mendengar dari mibuchi mungkin dia tidak akan percaya. Ayolah, selama mereka berteman, ia tahu Akashi itu tidak pernah tertarik menjalin sebuah hubungan, apalagi hubungan jangka panjang macam menikah, mengenai kebutuhan bioligis jelas dia tidak akan kekurangan, siapapun tidak akan bisa menolak kaisar merah itu. Tapi sekarang dia dikejutkan dengan kabar pernikahan si absolute itu, sungguh diluar dugaannya.

"aku tidak menyangka kau akan mengakhiri petualanganmu secepat ini, ku pikir kau bukan orang yang ingin terikat" sambung aomine, lalu kembali mengisi gelasnya yang sudah kosong, wajahnya tak lagi berekspresi geli.

"memang!, tapi dia sulit dikendalikan jadi aku harus mengikatnya" seringai itu terlihat semakin lebar, membuat suasana di sekitar aomine dan mibuchi terasa dingin.

"jadi..., siapa dia?"

Tanya aomine sedikit penasaran, penasaran dengan sosok yang mampu membuat singa liar itu menjadi jinak, setahunya Akashi pernah beberapa kali dijodohkan namun dia tidak pernah menerima.

"seorang malaikat" jawab seijurou pendek, kelopak matanya terpejam seakan menikmati sesuatu, bayangan bagaimana wajah yang begitu ingin didominasinya itu terlihat jelas, mata biru bulatnya, kulit putihnya, bibir mungil merah menggoda yang terlihat sangat manis, ah bahkan seijurou bisa mengingat bagaimana aroma tubuhnya yang memabukkan itu.

Iris heterocome itu kembali terlihat, binar matanya memproyeksikan sesuatu yang sulit di terjemahkan, seijurou refleks menjilat bibir bawahnya, dan seringai itu, seringai itu masih betah bertengger di wajah tampannya. Membuat aomine geleng-geleng heran.

"hey mibuchi" aomine terdengar berbisik, suaranya amat pelan seakan takut terdengar seijurou.

"Hmm" balas mibuchi malas, dia terlihat tidak peduli dan lebih fokus menegak cairan bening yang entah keberapa mengisi gelasnya.

"sudah berapa banyak yang diminum Akashi, sepertinya dia mabuk berat" ucap aomine masih berbisik. Mibuchi yang sudah kehilangan setengah kesadarannya hanya menggeleng pelan, membuat aomine berdecak kesal.

"aku tidak mabuk!" ucap seijurou yang sontak membuat aomine terkejut.

"dia memang malaikat" sambungnya

"hahaha" aomine tertawa canggung

"malaikat yang terlambat kusadari keberadaannya, malaikat yang sudah membuatku gila setengah mati ingin memilikinya" obsesi yang kuat terpancar dari garis-garis wajah tampan seijurou.

"kalau begitu aku kasihan dengan malaikat itu, dia harus diikat dan terjebak dalam waktu yang lama dengan iblis sepertimu" ucap aomine dengan nada bercanda lalu kembali menegak minumannya.

"tentu saja, dia tidak akan pernah kulepaskan. Tidak akan pernah" gelas bening ditangannya dipandang lekat kemudian meneguk seluruh isinya dalam sekali tegukan.

Tetsuya duduk dibangku kerjanya, satu tangannya menopang pipi kenyal lembutnya, kepalanya miring ke arah jendela, memandangi beberapa anak didiknya yang belum dijemput tengah bermain begitu riang di luar sana.

senyum tipis terukir di wajah manisnya. Biasanya tetsuya akan ikut bermain, namun beberapa hari ini dia lebih sering duduk dibangku kerjanya dan hanya menatap dari kejauhan.

"kau sakit?" sebuah suara memaksanya mengalihkan pandangan. Kepalanya menggeleng pelan.

"tidak kagami kun" ucapnya pelan

"tak biasanya kau menyendiri seperti ini, biasanya kau akan ikut bermain dengan mereka" balas pemuda tinggi yang merupakan rekan kerja tetsuya itu.

Tak menjawab, si biru kini sibuk membubuhkan tanda pada beberapa lembaran kertas gambar milik siswa siswanya.

"tidak apa, aku hanya ingin merubah situasi" ucapnya tanpa melihat ke arah kagami yang tengah nikmat mengunyah sandwitcnya.

Lembaran kertas dimasukkan ke dalam tas selempang lalu tetsuya bangkit dari duduknya.

"eh kau mau kemana" Tanya lelaki beralis cabang itu sambil mengekori tetsuya, sebenarnya ia hendak duduk dibangku miliknya yang terletak di dekat pintu masuk.

"mau pulang, jam kerjaku sudah selesai kan" tetsuya menunjuk jam bulat yang tergantung di dinding.

Langkah kaki tetsuya terhenti ketika matanya melihat seorang yang tengah bersandar di badan mobil terparkir tepat di depan gerbang TK.

Sorot matanya tak suka, namun dia tidak akan terganggu hanya karena ada orang itu disana.

"Huftttttt" tetsuya menarik nafas lalu melanjutkan langkahnya, melewati orang yang tetsuya tahu jelas tengah menunggu siapa.

"mau kemana?" kaki jenjang itu terpaksa terhenti. Satu lengannya sudah terperangkap dalam genggaman kuat yang sulit di lepaskan.

"mau pulang, jadi bisa tolong lepaskan aku" ucap tetsuya datar

"tidak mau" lengan itu semakin di tarik mendekat hingga tubuh tetsuya terpaksa memutar sedikit menghadap tubuh lelaki yang lebih tinggi darinya.

Tetsuya memalingkan wajahnya, enggan melihat wajah lelaki tampan itu.

"jangan mengalihkan pandanganmu saat berbicara denganku" dagu mulus ditarik, hingga manik biru muda itu kini menatap tepat ke arah sepasang hetercome yang memandang lekat.

Tetsuya kesal, namun ia berusaha menahan diri.

Tetsuya menepis tangan seijurou kasar, hingga tangan itu melepas dagunya namun lengannya masih digenggam erat dengan tangan satunya.

"aku sedang tidak mood untuk berdebat denganmu, Akashi kun jadi tolong lepaskan aku" tetsuya balas menatap tajam.

Suasana hatinya yang sudah buruk terasa semakin buruk kalau sekarang harus berhadapan dengan lelaki yang belakangan ini intens mendekatinya.

Seijuro tersenyum seolah tak terpengaruh malah seakan menikmati setiap ekspresi yang tersirat di wajah datar itu.

"kau tahu kan, aku paling tidak suka ditolak" tubuh tetsuya didesak hingga menempel ke badan mobil, lalu sepasang lengan kekar seijuro memerangkapnya disisi kiri dan kanan.

"aku mau pulang!" tetsuya tak gentar, tatapannya terlihat tajam, lurus menatap tanpa takut ke arah mata seijurou yang membuat lelaki bersurai merah itu malah makin tertantang, seringai masih terlihat diwajahnya. Tetsuya masih menatap tajam, tangannya perlahan naik memegang lengan seijurou yang tengah memerangkapnya, menekan, mencoba membebaskan diri.

"tidak, sayang" ucap seijurou frontal masih dengan seringainya yang membuat kedua bola mata tetsuya membulat.

Apa-apa an orang ini, sudah menganggu dan sekarang seenaknya memanggil dengan sebutan sayang, pikir tetsuya.

"lepaskan aku, atau aku akan berteriak" ancam tetsuya, dia terlihat sedikit khawatir, pikiran tetsuya tidak tenang, emosinya sudah mulai terpancing. Matanya melotot tak suka.

"hey ada apa ini?" terdengar suara sedikit keras Dari arah gedung TK, memecah konsentrasi kedua entinitas yang tengah beradu argumen dibalik gerbang.

"kagami kun" tetsuya bersyukur dalam hatinya, terlihat dari ekspresi wajah leganya.

"kuroko" ucap laki-laki itu dengan ekspresi terkejut melihat posisi tetsuya seperti akan dilecehkan.

"cih, ada penganggu" decih seijurou tak suka tanpa menengok kebelakang, ia sama sekali tidak tertarik melihat siapa orang yang berani sekali menganggunya

Kagami berlari ke arah tetsuya kemudian memegang pundak lelaki merah yang tengah memerangkap teman kerjanya itu.

"maaf, bisa kau lepaskan dia" alis kagami menukik tajam, tangannya yang memegang bahu seijurou mencoba menarik lelaki itu agar menjauh dari tetsuya, namun kalah dengan gerakan seijurou yang sangat cepat dan kini balik mengunci tangannya dengan posisi seijurou sudah di belakangnya.

Kagami terkejut, bahunya terasa ditekan, tangannya dipaksa ditarik kebelakang.

"aku akan mengantarmu pulang, sayang" ucap seijuro santai, seolah tak terjadi sesuatu, mengabaikan kagami yang mulai merintih karena lengannya semakin ditekan.

'tidak!!!, Akashi kun" ucap tetsuya datar.

"baiklah kalau begitu" Akashi menyeringai

"mungkin lain kali" sambungnya, lalu dengan gerakan cepat menekuk tangan kagami semakin kuat menekan hingga terdengar suara crack dan teriakan keras lelaki itu.

Tetsuya membulat horror dengan pemandangan yang barus saja disaksikannya, seijurou yang dengan santainya mematahkan tangan kagami di depan matanya seolah bukan apa-apa.

"aku paling tidak suka jika ada yang menjedaku" ucapnya pelan, raut wajah itu berubah dingin, seijurou beranjak menuju pintu mobilnya.

Tubuh besar lelaki itu tumbang, tangan kirinya memegang tangan kanannya yang terasa tidak bisa digerakkan, air mata terlihat disudut matanya.

"ka ka kaaagami kun" ucap tetsuya terbata.

"lain kali aku tidak akan melepaskanmu" bisik seijurou ditelinga tetsuya yang masih berdiri membatu di samping mobil seijurou, ia terlalu syok melihat bagaimana rekan kerjanya kesakitan.

Semua kejadian yang menimpa tetsuya akhir-akhir ini cukup membuat ia stress, shintarou yang perlahan menjauh setelah kencan pertama mereka, lelaki merah kejam yang tiba-tiba muncul dan terus mendekatinya, meneror setiap hari dengan alasan makan siang bersama.

tetsuya tidak pernah menyangka kehidupnya yang awalnya setenang air dalam kolam tiba-tiba beriak seperti aliran deras sungai menuju air terjun yang curam. sejak insiden patahnya tangan kagami, tetsuya sudah memberikan cap iblis pada lelaki tampan bermarga Akashi itu.

Untuk menjernihkan pikiran dan menenangkan dirinya tetsuya meminta cuti seminggu, ia benar-benar ingin mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.

Tetsuya merasa sangat lelah namun sayang rencanya istirahat dihari pertama terganggu dengan kedatangan orang tuanya ke apartemen dan memintanya untuk pulang.

"loh tetchan kenapa belum siap-siap" wanita paruh baya itu duduk disamping putera semata wayangnya di tepian ranjang.

"bisakah aku tidak ikut ibu, aku ingin istirahat" rajuk tetsuya sambil memeluk lengan ibunya.

"tidak bisa sayang, kau harus ikut" ucap wanita itu lembut sambil mengelus surai biru muda milik puteranya.

"hm baiklah" tetsuya mengalah, namun masih enggan melepas pelukan, kini tangannya memerangkap seluruh tubuh ibunya, memeluk erat pinggang ramping wanita cantik itu. Membuat ia terkikik geli melihat tingkah manja anak semata wayangnya.

"kalau begitu ayo siap-sipa" bujuk wanita itu sambil mencoba melepas pelukan anaknya.

"sebentar lagi ya bu, aku ingin seperti ini, rasanya hangat" pinta tetsuya yang akhirnya terpaksa dikabulkan oleh ibunya.

"baiklah, tapi jangan lama-lama, nanti ayah marah kalau kita terlambat" kini ia balik memeluk puteranya, membuat tetsuya merasa nyaman. Rasanya semua masalah yang menimpanya terangkat begitu saja.

Tesuya menatap makanan didepannya dengan tatapan tak berminat, begitu pula dengan orang yang duduk di seberangnya, shintarou.

Suasana hatinya kembali tak bagus, kedua orang tuanya mengajak makan malam bersama di luar dan tak disangka mereka akan makan malam dengan keluarga Akashi.

"jadi tetsuya kun sedang sibuk apa sekarang?" ucap masaomi basa-basi. Mencoba mencairkan suasana dingin yang diciptakan kedua puteranya dan calon menantunya itu.

"aku sedang sibuk mengajar di taman kanak-kanak paman" ucap tetsuya sopan.

'wah bagus sekali, aku yakin saat punya anak nanti tetsuya kun dapat mengurus anaknya dengan baik" puji kepala keluarga Akashi yang dibalas senyuman oleh tetsuya.

Shintarou masih diam, begitupula dengan seijurou. Dia lebih memilih mengikuti alur dan sesekali tak segan menatap atensi biru muda di depannya tanpa rasa canggung.

"hmm baiklah" ucap masaomi, kali ini dia terlihat lebih serius.

"ada yang ingin kami katakana pada kalian" sambung lelaki paruh baya itu,

pasangan kuroko di sebelah rupanya tidak ingin berbicara terlalu banyak dan menyerahkan semuanya kepada masaomi.

Shintarou mengigit bibirnya, dia tahu apa yang akan disampaikan oleh ayahnya sementara tetsuya hanya mendengarkan, dia tidak terlalu tertarik namun keharusan bersikap sopan membuatnya menatap kepala keluarga Akashi itu serius.

"kami sengaja merancang makan mala mini untuk mengumumkan kepada kalian tentang perjodohan yang sudah kami rancang sebelumnya" ucap masaomi panjang lebar.

Tetsuya terdiam namun tatapannya kini mengarah pada shintarou, begitu pula shintarou sehingga tatapan mereka bertemu, seijurou yang meilhat hal itu merasa tak suka namun mampu disembunyikan dengan sangat baik.

Diam-diam tetsuya berharap makan malam ini menjadikan hubungannya dengan shintarou membaik, ia melempar senyum ketika pandangan keduanya bertemu, mengabaikan atensi merah yang menatap tak suka. Shintarou membalas canggung, dia yang lebih tahu apa yang sebenarnya akan terjadi.

"kami sudah merancang perjodohan untuk tetsuya kun dengan puteraku, seijurou….."

Seeakan waktu berhenti. Tetsuya seperti tersihir dengan apa yang ditangkap oleh pendengarnnya. Diseberang seijurou tersenyum penuh kemenangan, berbeda dengan shintarou yang terlihat sedih.

"tet chan, tet chan" tak ada respon, tetsuya membatu, dunia disekelilingnya seolah berhenti berputar.

"tet chan" bisik ibunya sambil menggoyang sedikit tubuhnya, menyadarkan tetsuya dari lamunannya.

"ah iya" jawabnya gugup. Tangannya mengepal mencoba menahan emosi yang mulai menguasai dirinya. Matanya yang berkaca-kaca menatap ke arah seberang dimana kedua bersaudara Akashi tengah duduk.

Seijurou yang tersenyum seolah mengejeknya, shintarou yang terdiam seolah mengatakan selamat tinggal. Rasanya tetsuya sudah tak mampu membendung cairan bening yang akan keluar dari sudut matanya.

"maaf, ayah, ibu, paman, aku permisi ke kamar mandi" bibirnya bergetar. Tubuhnya dipaksa berdiri menahan bebannya yang seolah akan terjatuh. Tetsuya meninggalkan tempat itu diikuti dengan pandangan shintarou yang menatap punggung ringkih itu.

"ayah, paman, bibi, aku juga permisi ke toilet" pinta shintarou sopan. Seijurou tersenyum remeh melihat kepergian saudara angkatnya.

Tesuya berjalan terhuyung, kepalanya menunduk menyembunyikan wajah cantinya, aliran deras hangat meluncur tanpa henti melewati pipi mulusnya, kedua telapak tangannya bergantian mengusap air matanya asal, mencoba menyalurakan perasaan yang kini menyeruak dihatinya.

"tetsuya tunggu" langkahnya terhenti ketika mendengar suara familiar yang amat dia rindukan.

Tetusya tak berbalik, tak ingin menatap wajah itu dengan keadaan yang seperti ini.

Tangan besar shintarou menyentuh pundaknya, memaksa tetsuya berbalik mengahadap dirinya. Kepala biru muda itu masih menunduk meski tubuhnya kini tepat berhadapan dengan shintarou.

"maafkan aku" ucap shintarou lirih, dengan ragu ia mengangkat wajah tetsuya agar menatapnya. Emerald itu jelas terlihat sedih melihat bagaimana pemdangan di depannya, orang didepannya yang sangat ia cintai terlihat begitu syok dan rapuh.

Shintarou tak sanggup melihat namun sudah menjadi tugasnya membuat tetsuya selalu dalam keadaan baik.

'apa ini?" bibir peach itu bergetar

"aku benar-benar tidak mengerti, kau sengaja kan" tetsuya berusaha menahan isaknya. Shintarou diam, ia tak ingin menginterupsi dengan membiarkan tetsuya berbicara sesukanya.

"dari awal kau sengaja mempermainkanku" tetsuya memalingkan wajahnya kesamping. Untuk kesekian kali bibir peach itu digigit, mencoba menyalurkan rasa sakit hatinya.

"kau jahat, kau sama jahatnya dengan si brengsek yang terus menganggu ku itu" ada amarah dari nada suaranya.

"kau bersekongkol dengannya" suara itu memelen, mulai didominasi oleh isakan pelan.

"kau bersekongkol membuatku seperti ini, dan selamat kau berhasil" suara itu terbata-bata, bibirnya bergetar.

Tetsuya merasa sudah tidak sanggup, dia harus segera meninggalkan tempat ini, persetan dengan apa yang akan diucapkan orangtuanya nanti.

Dia mencoba menguatkan diri, berbalik secepatnya, meninggalkan tempat ini, meninggalkan lelaki yang dicintainya masih mematung di depannya. Tubuh itu hendak berbalik namun dengan gerakan yang cepat shintarou membawanya ke dalam pelukan, merengkuh penuh sayang dengan tubuh besarnya.

"aku tak pernah mempermainkamu, tak pernah" bisik shintarou, air matanya pun tak bisa ia bendung, menetes pelan di sudut matanya.

"aku tak pernah bermain-main, aku mencintaimu aku sungguh-sungguh mencitaimu tetsuya" shintarou memejamkan matanya, memeluk tubuh kecil itu semakin erat, enggan untuk melepaskan walau hanya sebentar.

"aku sungguh mencintaimu ucapnya berkali-kali" pucuk surai biru muda dicium sayang, menyalurkan segala rasa yang tersimpan selama ini, dia tidak peduli tetsuya percaya atau tidak. Untuk saat ini dia tak ingin melepaskan. Tidak ingin.

TBC

Hey hey hey, sorry lama updatenya

Bagian akakuro masih belum ya, jadi tetap stay oke!