GazzelE VR In

Maafkan saya atas keterlambatan Update yang gak sesuai sama janji saya T^T *Bungkuk-bungkuk* Salahkan saja si Tuan Malas A.K.A Shikamaru *Di cekek Kagemane*

ok Saatya balas Review

Jim : Necro itu...silahkan baca di Chap ini kk :D

koga-san : ayo tebak..ayo tebak...hahahahahaha

Skadrium Sky : Saya ngetik fic ini pake pake hp lewat media Catatan FB kk. abis itu buat edit n Publishnya saya tetap ke Net kok :D. ok diterima masukannya kk saya makasih pujiannya :D

Nagasaki : Keterangan tempatnya masi kurang jelas ya, saya masih agak sulit bikin detailnya tapi akan saya usahain deh :D makasi dukungannya kk :D

Guest : Ini udah lanjut kk

Ok segini dulu bales Reviewnya...yang login saya bales via PM aja ya. tampa banyak bacot silahkan Dinikmati Ficnya :D


Genre : Supranatural

Rate : T - T+

Pair : ?

"blablabla" = Percakapan
[blablabla] = skill/jurus,komunikasi jarak jauh,percakapan monster

Naruto belong to Masashi Kishimoto

Highschool DxD belong to Ichiei Ishibumi

Vanishing Dragon Naruto Story by Gazzele VR

WARNING : OC,OOC,Semi Crossover,Gaje,Typo's,First person PoV,Istilah-istilah aneh,dan warning-warning lainnya

Arc I : Iblis baru & Necromancer

Don't Like'Don't Read


Chapter 4 :

"Pekerjaan Iblis?"

"Itu benar Naruto~, kau harus membagikan Kartu Kontrak ini!"

Percakapan itu terjadi setelah tadi aku baru selesai berlatih dengan Tenten-senpai. Aria-Hime memberikanku satu kotak berisikan Kartu yang mempunyai tulisan dan simbol aneh di salah satu sisi dan juga lambang keluarga Gremory di sisi lainnya

"Emm...anu, kenapa aku harus membagikan Kartu ini?"

"Karena Iblis memerlukan manusia untuk kelansungan hidup iblis."

"Hanya dengan membagikan Kartu ini? Aku tidak mengerti tentang sistem itu!"

Aku memiringkan kepalaku sambil memasang ekspresi tidak mengerti. Hanya dengan membagikan kertas ini iblis bisa melansungkan hidupnya? Harga yang murah untuk menjamin kehidupan iblis

"Kartu kontrak ini hanya sebagai perantara Naruto! Kartu ini digunakan sebagai media dari Klien untuk memanggil iblis yang akan melakukan kontrak dengan kita."

"Kontrak?"

"Benar! Manusia adalah mahluk yang mempunyai Hasrat,Nafsu dan Keinginan yang tinggi, Kadang untuk memenuhinya manusia akan melakukan berbagai cara!"

"Termasuk memanggil Iblis untuk meminta bantuan?"

"Tepat! Kita akan memenuhi panggilan dari Klien yang menggunakan kartu kontrak ini. Kita akan memenuhi permintaan mereka dan mengambil beberapa hal sebagai bayaran dari permintaan itu. Itulah apa yang disebut Pekerjaan Iblis"

"Bayaran? Apakah seperti mengambil jiwa manusia untuk dimakan atau semacamnya seperti yang ada di film-film itu?"

Aku pernah melihat film seperti itu di TV. Manusia yang menjual jiwanya kepada iblis untuk memenuhi keinginannya. Aku tak percaya bahwa aku juga akan melakukan hal itu! Oh ini mengerikan! Tapi tiba-tiba Aria-hime dan Tenten-senpai tertawa kecil, eh ada yang lucu dari pertanyaanku?

"Ara ara! Sepertinya kau sudah banyak di bohongi oleh Film di televisi Naruto-kun~"

Tenten-senpai mentertawai pertanyaanku, apakah benar aku sudah dibohongi? Jadi iblis tidak memakan jiwa manusia? Lalu Aria-hime kembali meneruskan penjelasannya tadi

"Bayaran yang kami minta sesuai dengan besar permintaan dari Klien. Biasanya kami mengambil Uang atau benda berharga sebagai bayaran atas permintaan itu."

"Jadi tidak mengambil jiwa manusia sebagai bayarannya?"

"Hahahaha! Kau polos sekali Naruto-kun!"

Tenten-senpai kembali mentertawaiku ketika aku mengulang pertanyaanku kembali .

"Itu tergantung seberapa besar permintaanya, tapi Iblis Keluarga Gremory tidak pernah mengambil jiwa Klien sebagai bayaran! Lebih baik menjadikan seseorang Klien tetap daripada hanya mendapatkan sekali kontrak dan mengambil jiwanya."

Aria-hime menanggapi jawaban atas pertanyaanku. Jadi begitu, apa yang kulihat di film itu tidak benar.

"Jadi...apa aku juga akan melakukan hal itu Aria-hime?"

"Segera setelah kamu membagikan kartu kontrak ini Naruto!"

"Kenapa harus begitu?"

"Sebagai Iblis kelas rendah kamu harus memulainya dari sini Naruto!"

"Tapi ini merepotkan Aria-hime~"

"Tenang saja Naruto, semua iblis kelas atas tereinkarnasi memulainya dari membagikan kartu kontrak!"

"A-apakah itu benar?"

"Yap, itu benar!"

Iblis kelas tinggi, Aria hime mengatakan kepadaku bahwa bangsa iblis mempunyai beberapa tingkatan dari Iblis kelas rendah seperti aku sampai Maou. Aku juga diberi tahu kalau Iblis kelas rendah bisa naik tingkatan sampai menjadi Iblis kelas tinggi dan mempunyai budak sendiri. Aku sangat tertarik akan sistem ini! Memiliki budakku sendiri, mungkin beberapa wanita cantik menjadi budakku tidak buruk! Khukhukhu begini-begini aku juga laki-laki normal tahu!

"Ara! Kenapa dengan seringai sexymu itu Naruto? Apa kamu baru memikirkan hala yang Ecchi? Kau ternyata tidak bisa dianggap remeh ya~"

Aria-hime mengatakan hal itu kepadaku. Apa aku tadi menyeringai? Dan lagi apa maksud sexynya itu? Dari kemarin aku sering menerima kalimat itu.

"Bu-bukan! Aku tidak memikiran hal seperti itu Aria-hime!"

"Tidak apa-apa Naruto~ wajar kalau Laki-laki memikirkan hal-hal Ecchi, ah rasanya mukaku memerah memikirkan hal itu~"

Eh? Apa maksudnya itu? Aria-hime memikirkan hal Ecchi? Itu mustahil! A-apa mungkin dia adalah tipe cewek ya me-mesum? Itu...itu tidak mungkin kan?

"Hime-sama, jangan kembali bersikap seperti itu lagi! Anda seorang putri bukan?"

Suara yang datang kemudian itu adalah Shion-san yang membawakan beberapa gelas minuman dingin.

"Ah! Go-gomen!"

Aria-hime memasang wajah bersalah setelah diperingati oleh Shion-san. Dia terlihat seperti seseorang yang dimarahi oleh kakaknya, dan kurasa dari kata-katanya itu Shion-san itu tidak hanya bertugas sebagai Maid dan juga [Bishop] Aria-hime.

"Baiklah Naruto! Silahkan jalankan tugasmu! Ganbatte~!"

"Emm...a-ano...apakah tidak aneh kalau membagikan kartu ini Aria-hime? Nanti aku malah di katakan sebagai orang sesat kalau memberikan kartu kontrak iblis di tempat umum"

Pemikiranku itu lumrah bukan? Kalau aku membagikan benda ini pada orang bisa-bisa aku dikatakan orang sesat. Sekarang aku memang seorang iblis,tapi tetap saja dimata orang lain aku ini manusia biasa. Dan dianggap sesat oleh orang lain itu mengerikan!

"Kamu tidak harus membagikannya dengan cara seperti itu Naruto."

"Eh? Jadi dengan cara apa?"

"Cukup masukan saja kartu ini ke kotak surat di rumah orang-orang, bagi orang yang membutuhakan bantuan iblis mereka otomatis mereka akan menemukan kartu ini."

"Ah...jadi begitu, Baiklah aku akan melakukannya! Ah...aku harus Part-time! Aku permisi dulu Aria-hime,Tenten-senpai,Shion-san."

V.D.N

"Naruto, Antarkan makanan ini ke meja nomor 7!"

"Yaaa!"

Aku mengantarkan pesanan kepada meja pengunjung di dekat jendela Cafe. Sesudah meletakkan meletakkan makanan aku melihat ke arah Taman di depan Cafe dan ternyata gadis itu ada disana. Gadis berambut Indigo bermata putih keunguan yang bernama Hinata. Ah, aku masih penasaran kenapa dia duduk sendiri di sana.

"Apa yang kau lihat Naruto?"

"Ah! tidak ada Oji-san!"

Iruka Oji-san tiba-tiba berdiri di belakangku dan hampir mengejutkanku. Lalu dia juga melihat ke arah taman, lalu dari mukanya terlihat sebuah senyum.

"Hoo...jadi kau sedang memperhatikan gadis di taman itu ya~?"

"Apa Ji-san mengenal gadis itu?"

"Dari yang aku tahu gadis itu baru pindah dan tinggal di dekat area pemakaman di daerah sini seminggu yang lalu."

"Dekat...pemakaman? Apa dia tinggal sendirian?"

"Iya, tapi untuk apa kau menanyakan itu Naruto?"

"Itu...kemarin lusa aku sempat berbicara dengan dia sepulang dari sini dan menawarkan untuk mengantarnya pulang tapi sayangnya dia menolak."

"Wah, kamu juga bisa bersikap seperti lelaki sejati ya Naruto!"

"Oji-san mengejekku ya?"

"Hahahaha, kenapa tidak kau coba saja lagi Naruto. Tapi...bersikap seperti itu...apa kau menyukai gadis itu?"

"Eh? Ti-tidak paman! Aku hanya ingin berteman dengan dia!"

Aku mengatakan hal terakhir sambil tersenyum. Yah...aku ingin berteman dengan Hinata.

V.D.N

Sepulangnya Part-time aku kembali menemui Hinata yang sedang duduk di taman seperti dua hari yang lalu aku menyapanya. Sepertinya dia suka duduk disini.

"Hai Hinata!"

Aku menyapanya dan dia memperlihatkan sebuah Note kecil bertuliskan kalimat [Hai.] disana. Sama seperti dua hari yang lalu dia tetap tidak menunjukkan ekspresinya sama sekali.

"Apa kabar?"

[Baik.]

"Em...kamu duduk sendirian lagi?"

[Iya.]

"Kalau begitu boleh ku temani?"

[Ya.]

"Hahahaha..."

[Kenapa kau tertawa?]

"Tidak! Bukan apa-apa, hanya saja jawabanmu sama seperti kemarin."

[Maksudmu?]

"Kau menjawab dengan tulisan yang sangat singkat."

[Apa itu mengganggumu?]

"Em...tidak juga sih, aku hanya ingin bercanda saja."

Aku menggaruk pipiku yang tidak gatal. Sambil memikirkan alasan lain.

"Kau suka sekali duduk disini Hinata? Kenapa?"

[Disini Indah dan Tenang.]

"Yah, kau benar Hinata! Makanya orang-orang banyak pergi ke taman ini. Ah benar juga! Karena kau baru pindah ke kota ini apa kau sudah mengunjungi Konoha Land, Hinata?"

[Konoha Land? Tempat apa itu?]

"Taman bermain. Sudah pergi kesana?"

[Belum.]

"Sayang sekali~, Kalau kau warga kota ini kau harus kesana Hinata!"

[Aku tidak tahu tempatnya.]

Tidak tahu? Ehh! Benar juga dia kan baru beberapa hari tinggal di kota ini. Bodohnya aku sudah menanyakan hal tadi.

"Kalau begitu bagaimana kalau kau pergi denganku Hinata! Kau mau?"

Tanpa pikir panjang aku langsung mengajaknya untuk mengunjungi Konoha Land. Hinata belum merespon ajakanku dengan Notenya, mungkin dia sedang mempertimbangkan ajakanku. Beberapa saat kemudian dia menulis di Note kecilnya dan memperlihatkan tulisan [Baiklah!] kepadaku. Kurasa itu adalah tanda persetujuannya.

"Oke! besok lusa kita pergi ke Konoha Land. Emm...sudah hampir tengah malam, mau kuantar pulang Hinata?"

[Tidak usah.]

"Oh ayolah! Kemarin kau sudah menolak juga. Aku sedikit khawatir jika kau pulang sendiri Hinata."

[Baiklah.]

Kami berdua beranjak dari taman menuju ke arah rumah Hinata. Sepanjang perjalanan aku kembali melempar pertanyaan-pertanyaan ringan kepada Hinata, ah aku seperti seorang Wartawan saja. Tapi aku juga menceritakan beberapa hal tentangku dan teman-temanku seperti Sakura-chan, Aria-hime, Tenten-senpai dan lain-lain. Seperti yang Iruka-oji-san katakan kami melewati area Pemakaman sebelum tiba di rumah Hinata,Tak beberapa lama kemudian kami tiba didepan kediaman Hinata. Sebuah rumah minimalis satu lantai yang terlihat agak tua. Dinding rumah tersebut berwarna putih dengan pintu berwarna coklat. Rumahnya berada tepat berada di sisi jalan dengan pagar tembok halaman kecil di depan rumah. Rumahnya terlihat sepi, apa Hinata tinggal sendirian?

"Em...Hinata, rumahmu terlihat sepi apakah kamu tinggal sendirian?"

[Begitulah.]

"Apa...apa kau tidak takut Hinata?"

[Aku sudah terbiasa dengan itu.]

Jadi begitu, dia tinggal sendiri tampa ditemani kedua orang tuanya. Sebenarnya aku ingin menanyakan tentang orang tuanya tapi kuputuskan untuk tidak menanyakannya karena itu adalah hal yang kurang sopan menanyakan hal yang bersifat pribadi.

"Kalau begitu...aku pulang dulu ya Hinata."

[Hati-hati di jalan.]

Setelah mengucapkan selamat tinggal aku kembali berjalan ke arah yang kulewati tadi karena Apartement ku berada di arah yang berlawanan. Lalu tepat saat aku kembali melewati area pemakaman aku merasakan Aura dingin menerpa tubuhku, jangan-jangan itu hantu! Ah...aku tidak ingin bertemu hantu. Dan tampa fikir panjang aku lansung berlari menjauhi area pemakaman tersebut

"Ngomong-ngomong sebelum pulang aku harus membagikan kartu ini dulu. Ahh! Merepotkan!"

Setelah melewati taman kota aku kembali teringat kepada tugas yang diberikan oleh Aria-hime padaku. Membagikan kartu kontrak, uhh meskipun aku mengantuk tapi aku harus melakukan ini dulu.

"Baiklah! Lakukan dengan semangat!"

Aku berteriak untuk mengembalikan semangatku.

V.D.N

"Celaka! Aku terlambat lagi!"

Karena pulang larut malam aku akibat membagikan kartu kontrak aku jadi kesiangan seperti ini. Sekarang sudah jam 07:40 dan pelajaran pertama sudah berjalan 10 menit. Ini benar-benar gawat!

20 menit kemudian aku sudah berada di gerbang depan sekolahku dan tentu saja pagarnya sudah dikunci. Mau bagaimana lagi aku harus melewati pagar ini, tapi tidak disini.

Aku berjalan ke area belakang sekolah tepatnya taman belakang sekolah yang mempunyai pagar lebih rendah. Setelah melompati pagar tersebut aku sekarang berada di taman belakang sekolah, aku ingat...tempat ini adalah awal mula aku menjadi iblis. Sampai sekarang aku masih sedikit menyesali kejadian 2 minggu yang lalu.

Dengan mengendap-endap aku berhasil masuk melalui pintu belakan sekolah dan bergegas menuju ke kelas ku yang berada di lantai 2.

"Terlambat lagi Naruto-kun?"

Suara itu...tepat beberapa meter dari kelasku aku mendengar suara yang memanggilku. Dan aku sangat mengenal suara itu, seketika tubuhku mengeluarkan keringat dingin. Aku tidak mau berurusan dengan pemilik suara ini itu adalah suara...

"Kenapa hanya berdiri disana Naruto-kun? Apa kau takut melihat guru kesayanganmu ini~?"

"Ti-tidak A-a-anko se-sensei"

"Kalau begitu berbaliklah menghadapku~"

Suara Anko-sensei terdengar manis,Tapi entah kenapa aku merasakan ada hal lain dibalik suara manisnya itu.

"Ha-hai Sensei"

Aku menyapa Anko-sensei dengan suara dan sikap senormal mungkin selagi aku memikirkan apa alasan keterlambatanku.

"Jadi...apa alasanmu sekaran Naruto-kun"

"A-ano...aku...etto..."

"Hmmm? Jadi?"

Anko-sensei menundukkan wajahnya ke arahku sambil masih dengan tersenyum manis-menyeramkan- ke padaku.

"Ta-tadi aku...aku..."

Ayolah berfikir Naruto! Bilang saja kamu tadi tersesat, ah tidak itu alasan bodoh! Bilang saja aku bertemu kucing hitam lalu memutar jalan yang lebih jauh. Tapi...tapi itu adalah alasan andalan Kakashi-sensei tidak mungkin bisa.

"Naruto! Kamu sudah kembali? Maaf membuatmu repot dan terlambat!"

Detik saat aku berfikir alasan keterlambatanku dari arah belakang aku mendengar suara gadis yang memanggilku. Itu...itu adalah Aria-hime yang berlari kecil menuju ke tempatku dan Anko-sensei.

"Gremory-san? Ada apa kamu disini?"

"Maafkan aku sensei aku ingin mengatakan kalau Naruto sebenarnya tadi tidak terlambat tapi tadi dia keluar sekolah saat bel masuk karena mengambil tugas kelompok kami yang tertinggal."

Setelah Aria-hime berada di sampingku dia lansung berkata seperti itu kepada Anko-sensei. Tugas kelompok? Itu...itu bohong kan! Tapi dari wajahnya aku lihat Aria-hime tampak mengatakannya secara serius. Itu hebat! Apa seperti ini cara iblis memutar-balik kebenaran. Majikanku ini mengerikan!

Mata Anko-sensei menyipit saat mendengar alasan dari Aria-hime. Sepertinya dia masih ragu.

"Apa itu benar, Naruto?"

"Itu...Itu benar Sensei! Aku harus kembali lagi kerumah untuk mengambil tugas yang tertinggal!"

"Ah benar juga! Anko-sensei tadi aku diminta oleh kepala Academy untuk mengatakan bahwa Sensei dipanggil oleh Kepala Academy."

Mencegah Anko-sensei bertanya lebih banyak lagi Aria-hime lansung mengatakan bahwa Anko-sensei dipanggil Kepala Academy. Apa...apa itu kebohongan lagi?

"Baiklah aku mengerti! Terima kasih pemberitahuannya Gremory-san. Sekarang kalian berdua cepat masuk ke kelas kalian!"

""Kami permisi dulu Sensei""

Kami menunduk memohon izin kepada Anko-sensei lalu berjalan ke arah kelas dengan Aria-hime memegang pergelangan tanganku. Uhh...aku selamat hari ini dari hukuman Anko sensei berkat Aria-hime, dia seperti Dewi Fortuna bagiku.

"Terima kasih Aria-hime!"

"Fufufu bukan apa-apa Naruto, aku tahu kalau semalam kamu tidur hampir larut malam."

"Etto...soal yang tadi...itu bohong kan Aria-hime?"

"Benar! Itu bohong Naruto."

Aria-hime menjawab pertanyaanku sambil tersenyum itu memang bohong kan. Kalau begitu soal pemanggillan Kepala Academy...

"Kalau begitu Kepala Academy itu..."

"Anko-sensei memang akan dipanggil Kepala Academy."

"Jadi begitu"

Kami berdua memasuki kelas yang masih belum ada guru yang mengajar disana. Yah seperti biasa Kakashi-sensei itu terlambat lagi. Terlihat olehku para murid disini memandang aneh ke arahku sambil berbisik-bisik.

"Naruto! Kenapa kau yang terlambat bisa digandeng oleh Aria-san?!"

Tiba-tiba saja Kiba berdiri didepanku dan Aria-hime sambil berteriak keras kepadaku. Digandeng? Bukankah itu hal yang biasa?

"Kau berisik Kiba!"

"Aku iri padamu tahu! Apa hubunganmu dengan Aria-san?"

"Kami...teman!"

"Aku tidak percaya! Apakah itu benar Aria-san?"

"Itu benar Kiba-san, permisi Kiba-san aku ingin ke tempatku."

"Teman? Gandengan tangan? Aku tidak pernah...kenapa dia?"

Setelah menjawab pertanyaan Kiba, Aria-hime lansung menuju ke mejanya di belakang tempat dudukku meninggalkan Kiba dengan aura suramnya. Dan aku pun juga duduk di tempatku. Lau bisik-bisik di kelas juga mulai hilang

"Sabar Kiba-kun! Kita adalah lelaki sejati! Suatu saat pasti kita juga akan seperti itu! Semangat masa muda!"

Suara terakhir yang aku dengar adalah suara Rock lee dengan slogannya menyemangati Kiba yang tertunduk lesu.

V.D.N

Sewaktu istirahat Aria-hime,Shion-san,Sakura-chan,Tenten-senpai, Gaara dan Aku sedang berada di atap Academy untuk membicarakan perihal Necromancer 2 hari yang lalu.

Kami memilih atap sekolah karena akan menjadi sangat aneh untuk siswa lain jika kami membicarakan hal-hal tentang iblis di kantin Academy. Setelah semua berkumpul Aria-hime lansung bertanya kepada Gaara tentang hasil penyelidikannya tentang Necromancer misterius itu.

"Jadi apakah kamu menemukan sesuatu tentang Necromancer itu, Gaara?"

"Sejauh ini saya belum mengetahui apa tujuan Necromancer itu berada di area pemakaman kemarin Hime-sama."

"Jadi begitu...Aktifitas sihir tinggi di tempat itu juga ikut menghilang setelah Necromancer itu melarikan diri. Tapi...aku masih memikirkan kenapa Necromancer itu melarikan diri setelah melakukan aktifitas sihir tinggi tersebut?"

"Mungkin dia berfikir akan berbahaya kalau bertarung dengan kita Aria-hime."

Aku menjawab pertanyaan Aria-hime tentang Necromancer itu. Dilihat darimana pun 1 melawan 6 orang bukanlah hal mudah bukan?

"Itu mungkin saja Naruto, tapi kau ingat bukan? dia yang menyerang kita duluan."

Sakura-chan dengan cepat membalas pernyataanku barusan. Kalau itu benar juga sih, buat apa menyerang kalau tahu tidak sanggup melawan enam orang sekaligus.

"Atau mungkin dia sedang melakukan sesuatu yang tidak ingin kita mengetahuinya."

"Itu juga masuk akal Sakura-chan"

Sakura-chan memgeluarkan pendapatnya dan lansung disetujui oleh tenten Senpai. Terlihat Aria-hime berfikir sambil memegang dagunya dengan jari telunjuk dan jempol kirinya dengan tangan kanan di bawah dada menyangga tangan kirinya.

"Sejauh ini kita belum mengetahui apa tujuan Necromancer itu, setelah dua hari ini Necromancer itu belum menampakkan dirinya lagi. Lalu...Shion apakah kamu sudah menanyakan ke pada pihak Malaikat jatuh tentang Malaikat jatuh yang menyerangku 3 minggu yang lalu?"

"Sudah Hime-sama! Mereka meminta kita untuk menangkap Malaikat jatuh tersebut. Tapi pergerakan Malaikat jatuh itu juga belum kelihatan kebali."

Aria-hime mengatakan bahwa Malaikat jatuh yang menyerang Aria-hime dan membunuhku itu melarikan diri setelah membunuhku karena budak iblis Aria-hime datang menolong. Jadi dia masih belum mati ya...

"Baiklah! nampaknya yang bisa kita lakukan sekarang ini hanya Waspada terhadap mereka, terutama kamu Naruto!"

"Aku mengerti Aria-hime!"

"Baiklah, kurasa cukup sampai disini dulu pembahasannya, Gaara lanjutkan tugas mencari tahu tentang Necromancer itu."

"Hn"

Sesudah mengakhiri pembicaraan, kami pun kembali ke kelas masing-masing. Aku berjalan menuju kelas bersama Aria-hime dan Shion-san sedangkan Tenten-senpai, Sakura-chan dan Gaara yang Sekelas sudah terlebih dahulu berjalan ke kelas mereka.

V.D.N

Sekarang adalah Hari Minggu dan sesuai janjiku kepada Hinata aku mengajaknya pergi ke Konoha Land taman bermain yang terkenal di kota ini.

Sekarang kami berdua sudah melewati di pintu masuk Konoha Land dan didepan kami terdapat berbagai wahana seperti Jet Coaster, Komedi putar,Bianglala dan sebagainya, sekarang hampir menjelang tengah hari. Semalam kami sudah membuat janji untuk bertemu di taman kota pukul 10 dan berangkat kesini menggunakan Bus.

"Baiklah Hinata! Karena kamu baru pertama kali ke sini kamu ingin naik wahana apa?"

[Terserah kamu saja.]

"Bagaimana kalau kita naik komedi putar?"

Aku menanyakan pendapat Hinata dan dia membalas dengan anggukan kami berjalan menuju ke wahana komedi putar. Setelah dari sana kami mulai mencoba berbagai wahana di Konoha Land dari Roller Coaster,Rumah Hantu, Tembak sasaran dan sebagainya, biarpun aku tidak menemukan satu ekspresipun di wajah Hinata tapi aku melihat ada cahaya kebahagiaan dimatanya. Melihat itu aku jadi terfikir apakah dia baru pertama kali ini pergi ke Taman Bermain? entah lah mungkin nanti saja aku menanyakannya. Menjelang sore sebelum pulang kami pergi ke Departement Store di dekat Konoha Land untuk mengisi perut kami, ahhh karena keasikan bermain aku jadi lupa untuk makan siang.

Tepat kami keluar dari Cafe tempat kami baru selesai makan kami bertemu dengan terlihat membawa satu buah kantong beukuran sedang yang aku tidak tahu isinya. Aku lalu menghampirinya untuk sekedar berbasa-basi, bagaimanapun dia itu adalah teman sekaligus rekan di kelompok Aria-hime.

"Yo Gaara! apa yang kau lakukan disini?"

"Hn, aku sedang berbelanja untuk makan malam nanti."

"Oooo...jadi itu isinya bahan untuk makan malam? apakah kamu bisa memasak?"

"Begitulah."

Dia...dia membalas dengak 1 kata? gezz tidak hanya mukanya saja yang datar, mata panda satu ini sepertinya juga pelit kata. Sesudah menjawab pertanyaanku Gaara teerlihat mengalihkan pandangannya pada gadis disampingku, Hinata. Melihat itu lansung saja aku memperkenalkannya pada Gaara.

"Namanya Hinata! Hinata perkenalkan Mata Panda ini namanya Gaara, dia adalah teman satu sekolahku."

[Salam Kenal, namaku Hinata.]

"Gaara."

Bahkan menjawab perkenalan pun dia hanya mengucapkan namanya saja. Aku melihat Gaara menatap Hinata sangat intens, ada apa dengan dia? biarpun Hinata tidak merasa risih dengan itu tapi tetap saja itu sangat mengganggu ku. Setelah itu Gaara mengalihkan pandangannya ke padaku dan mulai berbicara.

"Naruto, ingat baik-baik pesan dari Aria-sama"

"Ya ya ya...aku ingat! hmm...baiklah karena tidak ada yang dibicarakan lagi aku pergi dulu ya. Selamat tingga Gaara"

"Hn"

Setelah itu Aku dan Hinata pergi meninggalkan Gaara dan keluar dari Departement Store menuju Halte Bis. Karena belum malam lebih baik aku mengajak Hinata untuk bersantai di Taman Kota. Sesampainya kami disana Aku dan Hinata duduk di bangku di tengah taman kota, suasana sekarang sudah cukup sepi padahal sekarang belum terlalu malam mas sekitar jam 07:00. Untuk mencairkan susasana yang tadi hening akupun mulai bertanya pada HInata.

"Hey, tadi itu menyenangkan bukan?"

[Iya, aku baru pertama kali ke taman bermain."

"Ba-baru pertama...? apa selama ini tidak pernah?"

[Tidak.]

"Kenapa kau tidak mengajak seseorang pergi ke taman bermain Teman misalnya atau pacar"

[Aku tidak punya itu.]

"Eh? apa maksudmu tidak punya "

[Teman, kekasih, bahkan orang tua aku tidak punya."

Ehhhh...? Se-serius? apa dia seriuss? kurasa didunia ini tidak ada kan orang yang sendirian? Mendengar perkataannya aku menhjadi penasaran, mungkin aku bertannya saja ya...

"Ke-kenapa bisa begitu, Hinata?"

[Aku tidak ingin menceritakannya.]

" Ohhh...! ayolah Hinata! kita ini kan Teman! anggap saja ini sebagi...emm... Curhat, ia Curhat!"

[Teman? kau mau berteman denganku?]

"Ya tentu saja! tidak ada yang melarang kan?"

[Aku bukan orang yang baik Naruto.]

"Bukan orang baik? menurutku kamu terlihat seperti gadis biasa kok."

[Tidak! kau salah!]

"Ehh? salah"

[Aku adalah orang yang aneh, sedari kecil tidak ada orang yang mau bermain denganku. Bahkan setelah ibuku meninggal Ayahku pun mengacuhkanku.]

[Dia mengirimku ke panti asuhan.]

[Aku bukan orang baik kau tahu!]

Hinata kemudian banyak memberiku sobekan kertas Notenya yang kuanggap itu adalah isi hatinya.

[Aku aneh...bahkan untuk berbicara dan mengeluarkan emosiku pun aku tidak bisa.]

[Karena setiap kali aku berbicara, orang akan tersakiti karenanya]

[Aku dijauhi orang karna orang menganggapku penyihir.]

[Aku aneh bukan, Naruto?]

"Aku tidak menganggapmu begitu kok!"

[Itu karena kau belum mengenalku Naruto!]

Setelah memberikan kertas terakhirnya ada jeda keheningan beberapa saat antara Aku dan Hinata. Yah biarpun hanya aku yang mengeluarkan suara sedangkan Hinata hanya menuliskan apa yang dia katakan tapi...aku seolah mengerti bagaimana perasaannya.

Tak beberapa lama kemudian dia kembali menulis di Note kecilnya dan menyodorkan tulisannya padaku. Tapi...isi tulisan itu membuatku tidak bisa berkata-kata, dia bertanya kepadaku hal yang seharusnya tidak dia ketahui.

[Naruto, apa menjadi Iblis itu menyenangkan?]

Dia menanyakan hal itu padaku...da-darimana dia mengetahui itu? aku bahkan tidak pernah membicarakan hal itu kepadanya.

"Hinata...Darimana kau-"

[Aku mengetahuinya sejak pertama kali kita bertemu]

"Pertama kali? Jadi kau sudah tahu?"

[Benar! dan juga Teman-teman iblismu yang.]

"A-apa? Darimana kau tahu?"

"Wah-wah-wah...nampaknya ada kencan ya disini?"

Tepat sesudah aku melemparkan pertanyaan keterkejutanku pada hinata sebuah suara lain datang dari arah belakang kami, tepatnya di atas kami itu adalah Malaikat Jatuh yang membunuhku.

"Kau!"

"Hai bocah kuning...perkenalkan namaku Yura. Ahhh rupanya kau telah dibangkitkan menjadi budak Putri Merah itu"

"Siapa sudi mengetahui namamu! apa tujuanmu kesini?!"

"Tujuanku? Hmm...Hinata sejak kapan kau mengenalnya?"

Hinata? dia mengenal Hinata? sebenarnya apa hubungan Malaikat jatuh ini dengan Hinata? Aku menoleh ke arah Hinata sesaat dan kembali melihat Malaikat jatuh itu kembali.

"Apa maksudmu?! Aku menanyakan apa tujuanmu disini? apa kau ingin mencelakai Hinata?

"Mencelakai? hahahahahaha! apakah kau tidak tahu siapa sebenarnya gadis disampingmu itu?"

"A-apa Maksudmu? Hinata apa kau mengenalnya?"

[Naruto, aku adalah seorang Necromancer]

"Ne-Necromancer? kau bercanda kan"

Aku tidak percaya dengan hal ini! jadi itu yang dia maksud dengan orang yang tidak baik. Dia adalah orang yang menyerang kami di Pemakaman malam itu, tapi...kalau dia mengetahui siapa aku kenapa dia tidak menrangku? apa tujuannya membiarkanku mendekatinya?

"Hinata, Apa maksud semua ini?"

[Maafkan aku Naruto.]

Wusssstttt

Tepat setelah Hinata menyodorkan selembar kertas bertuliskan kata maaf sebuah tombak cahaya melesat ke arahku. aku langsung memompat kebelakang untuk menghindarinya. Karena sekarang aku adalah Iblis jika aku tertusik tombak itu sekali lagi maka aku akan mati. Terlihat kepulan asap dan tanah yang bolong bekas serangan tombak tadi, dan Hinata juga tidak berada di tempatnya berdiri tadi. Sekarang dia berada di sebelah kiri malaikat jatuh sialan itu.

"Hinata! Persiapan sudah selesai ayo perg.i"

Malaikat itu berbicara kepada Hinata dan dibalas dengan anggukannya.

"Selamat tinggal Bocah Iblis. Terima Ini!"

Wussstttt Wussttt Wusssttt

Tiga buah tombak mengarah ke tempatku berdiri aku kembali melompat menghindari tombak itu. dan tepat saat tombak ketiga datang kearah ku sebuah dinding pasir terbentang didepanku. Pasir ini adalah milik...

"Gaara!?"

"Hime-sama memanggil."

Benar saja! itu adalah si mata panda Gaara. Sejak kapan dia datang? apa dia mengikutiku dari Departement Store tadi? setelah perisai itu turun aku lihat Hinata dan Malaikat jatuh itu tidak ada lagi di sana.

"Sejak kapan kau-"

"Aku mengikutimu sejak tadi! aku sudah merasa curiga dengan gadis bernama Hinata itu"

"Uhh...terima kasih sudah menolongku."

"Hn. Lebih baik segera ke rumah Hime-sama, ada hal penting yang akan dibicarakan!"

"Baiklah"

Setelah itu Aku dan Gaara lansung berpindak ke rumah Aria-Hime dengan lingkaran sihir yang diciptakan Gaara. Malaikat jatuh itu...apa yang dia rencanakan bersama Hinata?

Tsuzuku


A/N

Yaahhhhh...Chapter 4 selesai! ^^

Sewaktu penulisan Chap ini saya sempat menemukan kesulitan pas percakapan antara Hinata dengan Naruto, Uhhh nulis percakapan antara Cowok n Cewek itu susah untuk tipe Orang yang Pasif dalam pembicaraan seperti saya T^T #abaikan. oke Chap depan adegan pertarungannya, saya masi newbie buat bikin adegan kayak begituan jadi mohon maaf ya kalo ntar adegan pertarungannya gak sesuai harapan. terakhir Makasih buat yang Review,Follow n Fave Fic abal saya ini ^^ Mohon Revoew,Kritik,n sarannya kembali.

See You Next Chapter

GazzelE VR Out