I Don't Care
Cast: Kim Jongin, Do Kyungsoo, Park Chanyeol dan Byun Baekhyun
Pairing: Kaisoo
Genre: YAOI, Romance, Hurt/Comfort
Rating: T (mungkin)
Warning: OOC, typo, bahasa berantakan, alur yang terlalu cepat, bisa menyebabkan sakit mata dan mual-mual. Waspadalah!
Disclaimer: Maunya sih mereka itu punya saya, tapi fakta yang ada mutlak mengatakan kalau mereka itu punya Tuhan. Tapi cerita ini hasil dari otak saya sendiri. Jangan ditiru apalagi ngaku-ngaku. Kalau mau buat cerita pakai otak masing-masing. Intinya jangan nyakitin perasaan orang lain dengan tindakan yang tidak bertanggung jawab!
Summary: Do Kyungsoo akan tetap berusaha—walaupun sosok yang dicintainya tak pernah mempedulikannya.
.
.
Chapter 4
.
.
Selamat membaca ;)
.
.
.
.
.
Sebenarnya koridor sekolah bukanlah tempat untuk lomba lari. Namun, hal tersebut sukses disulap oleh dua sosok bergender sama dengan tinggi tubuh yang jauh berbeda. Koridor yang saat ini tengah mereka lewati mereka gunakan untuk saling mengejar satu sama lain.
Tidak! Lebih tepatnya sosok yang lebih mungil yang mengejar sosok yang lebih tinggi dan sosok yang lebih tinggi tentu saja menghindar dari kejaran sosok yang lebih mungil. Beruntung keadaan koridor yang mereka lewati saat ini tengah sepi, jadi tidak akan ada korban 'tabrak lari' akibat ulah mereka.
" YAK! PARK CHANYEOL! KUBILANG BERHENTI!" teriak sosok yang lebih mungil—Kyungsoo.
Sosok yang lebih tinggi—Chanyeol—mengabaikan teriakan tersebut. Kakinya semakin ia gerakkan dengan cepat guna menghindari kejaran sosok mungil yang ada di belakangnya.
Bukan tanpa alasan Kyungsoo mengejar-ngejar Chanyeol di pagi hari seperti ini. Terlebih lagi mereka melakukannya di sepanjang koridor sekolah. Aksi kejar-kejaran itu terjadi karena kelakuan Chanyeol yang sukses membuat Kyungsoo menggeram kesal.
Kemarin ketika mereka dalam perjalanan pulang menuju rumah masing-masing, Chanyeol bilang pada Kyungsoo jika ia ingin berangkat sekolah bersama—dan Kyungsoo dengan polosnya menyetujui permintaan Chanyeol.
Lalu tadi pagi, Kyungsoo sudah berdiri dengan santai di depan pintu gerbang rumah Chanyeol guna menunggu Chanyeol keluar dari dalam rumahnya. Namun sudah lebih dari duapuluh menit Kyungsoo berdiri di depan pintu gerbang rumah Chanyeol, sosok tinggi yang Kyungsoo tunggu itu tak juga menampakkan batang hidungnya. Dan Kyungsoo baru tahu jika dirinya sudah dijahili oleh Chanyeol ketika eomma Chanyeol bilang padanya jika Chanyeol sudah berangkat ke sekolah sejak tadi.
Dan detik itu juga Kyungsoo merasa ada dua tanduk tak masat mata yang muncul di kepalanya.
Setelah beberapa menit meredam emosi yang tiba-tiba muncul, Kyungsoo lantas melangkahkan kakinya dengan cepat menuju sekolah. Bibirnya terus saja mengeluarkan sumpah serapah untuk sosok tinggi yang sudah membuatnya naik pitam di pagi hari seperti ini. Otaknya sedang berkerja dengan cepat untuk menyusun rencana balas dendam yang akan ia lakukan pada Chanyeol. Dan Kyungsoo beruntung, dirinya menemukan sosok Chanyeol yang sedang terduduk di sebuah halte yang terletak tidak jauh dari sekolah mereka.
Sedikit menyeringai, Kyungsoo lantas berjalan mendekati Chanyeol. Tangannya dengan sigap ia gunakan untuk menepuk cukup keras salah satu tangan Chanyeol yang sedang memegang kaleng soda.
Sukses!
Soda yang tengah Chanyeol pegang mengeluarkan isinya cukup banyak dan mengotori celananya. Chanyeol melebarkan matanya tak percaya kemudian berniat untuk memarahi orang yang sudah dengan sengaja membuat celananya kotor. Menolehkan kepalanya ke arah orang yang sudah berbuat jahil padanya, seketika Chanyeol merasa nyalinya menciut saat indera penglihatannya melihat orang yang ada di sebelahnya.
" K—kyungsoo…" panggil Chanyeol terbata.
Kyungsoo tidak menjawab panggilan Chanyeol. Ia masih sibuk menatap Chanyeol dengan tatapan tajamnya.
Chanyeol sendiri terlihat meneguk ludahnya lamat-lamat ketika Kyungsoo masih saja menatapnya dengan tajam. Sedikit menggeser tubuhnya, kemudian Chanyeol berdiri dengan gerakan kaku. Bibirnya mengulas senyum canggung—sebelum berlari dengan cepat untuk menghindari Kyungsoo.
Dan aksi kejar-kejaran pun terjadi hingga mereka sampai di sekolah.
" PARK CHANYEOL! BERHENTIIIIIIIIIIIIIIIII!" teriak Kyungsoo sekali lagi.
Kembali—Chanyeol mengabaikan teriakan Kyungsoo.
Merasa lelah, Kyungsoo memilih membungkukkan tubuhnya dengan kedua tangannya yang bertumpu pada masing-masing lututnya. Napasnya terengah-engah dan terdapat sedikit peluh di sekitar tengkuk leher dan keningnya. Kedua pipi berisinya pun ia gembungkan dengan bibir yang mengerucut—merasa kesal karena ia kesulitan untuk mengejar Chanyeol dan menangkapnya.
Kyungsoo kembali menegakkan tubuhnya kemudian menghembuskan napasnya dengan keras. Kakinya sudah siap ia gunakan untuk berlari lagi—sebelum mata bulatnya melihat sesuatu yang membuat belahan heart shaped lips miliknya mengulas senyum manis.
Mengabaikan sosok Chanyeol yang semakin jauh dari pandangannya, Kyungsoo dengan segera melangkahkan kakinya untuk mendekati sosok namja tampan yang saat ini tengah terduduk nyaman di kursi panjang yang ada di depan kelas. Salah satu tangannya dengan cekatan mengambil sapu tangan yang tersimpan di saku celananya kemudian mengusap sedikit peluh yang mengotori bagian wajahnya.
" Hai Jongin.." sapa Kyungsoo riang ketika dirinya sudah berada tepat di hadapan Jongin. Mata bulatnya berbinar cerah dengan senyum manis yang masih saja terkembang di bibirnya ketika melihat wajah tampan Jongin.
Kyungsoo mengabaikan sosok Chanyeol yang saat ini tengah manatapnya dari kejauhan—dan melupakan amarahnya terhadap Chanyeol.
Jongin diam. Ia tahu itu suara Kyungsoo, jadi ia lebih memilih mengabaikannya dan tetap fokus pada ponsel yang ada di genggamannya.
" Kenapa duduk di sini? Ini kan bukan depan kelas kita Jongin…" ucap Kyungsoo kemudian mendudukkan dirinya di sebelah Jongin.
Jongin masih diam.
" Jongin.."
Jongin menghembuskan napasnya dengan keras kemudian menatap Kyungsoo dengan tatapan andalannya—sinis dan tak bersahabat.
" Apa kau tidak memiliki pekerjaan lain selain mencampuri urusan orang lain Do Kyungsoo?" Jongin membuka mulutnya dan mengucapkan sebaris kalimat dengan nada yang selalu sama—dingin.
Kyungsoo sedikit tersenyum sebelum mengerucutkan bibirnya.
" Nada bicaramu tidak pernah terdengar lembut jika berbicara denganku.." keluh Kyungsoo masih dengan bibir yang mengerucut.
Jongin mendecih dengan keras saat indera pendengarannya mendengar kalimat yang baru saja Kyungsoo ucapkan.
" Tidak ada gunanya aku berbicara lembut padamu!"
" Tapi Jongin selalu memperlakukan Baekhyun dengan baik. Sementara denganku… Jongin tidak pernah bersikap lembut," Kyungsoo kembali mengeluh.
" Kau berbeda dengan Baekhyun!"
" A—apa… Jongin mencintai Baekhyun?" Kyungsoo bertanya dengan nada pelan. Kepalanya ia tundukkan dengan fokus mata menatap lantai yang tengah dipijaknya.
Hening.
Kyungsoo tidak mendengar suara apapun di sebelahnya. Sepertinya Jongin tidak berniat untuk menjawab pertanyaan yang ia berikan. Tapi, tanpa dijawab oleh Jongin pun Kyungsoo sudah tahu jika namja tampan dengan bakat menarinya itu memang mencintai Baekhyun.
Kyungsoo merasa hatinya tengah dipukul dengan kuat secara berulang-ulang saat dirinya menemukan jawaban atas pertanyaan yang baru saja ia ajukan pada Jongin. Menghembuskan napas pelan, Kyungsoo lantas menarik kedua sudut bibirnya berlawanan—membentuk senyum simpul.
Kyungsoo akan tetap berusaha—walaupun Jongin tidak pernah mempedulikannya.
" Sebentar lagi bel berbunyi, ayo kita ke kelas Jongin!" mengabaikan rasa sakit di hatinya, Kyungsoo lantas mengajak Jongin untuk menuju kelas mereka. Sebelah tangannya dengan semangat menggenggam tangan Jongin dan sedikit menyeretnya agar Jongin mengikuti langkahnya.
Jongin sendiri terkejut dengan tindakan Kyungsoo yang tiba-tiba itu.
" Lepaskan tanganku Do Kyungsoo.." desis Jongin.
Kyungsoo menghentikan langkahnya kemudian menolehkan kepalanya ke arah Jongin.
" Tidak mau!" jawab Kyungsoo seraya menggelengkan kepalanya.
" Kubilang lepaskan tanganku Do Kyungsoo!" desis Jongin sekali lagi seraya berusaha melepaskan genggaman tangan Kyungsoo.
" Kumohon.. Biarkan tetap seperti ini Jongin. Aku ingin menggenggam tanganmu.." pinta Kyungsoo dengan mata bulat yang menatap Jongin penuh harap.
Jongin mendecih.
" APA KAU TULI? KUBILANG LEPASKAN TANGANKU DO KYUNGSOO!" kali ini Jongin berteriak marah. Matanya menatap nyalang pada sosok mungil yang ada di hadapannya.
Kyungsoo refleks memundurkan tubuhnya ketika mendengar teriakan Jongin yang sangat keras. Kepalanya ia tundukkan untuk menyembunyikan buliran bening yang tiba-tiba saja mengalir di kedua pipi berisinya. Ia sudah biasa diperlakukan seperti ini oleh Jongin. Tapi sungguh—untuk kali ini Kyungsoo merasakan kesesakan yang amat sangat di dadanya.
Kyungsoo mengulas senyum miris di belahan heart shaped lips miliknya.
" Kumohon… Biarkan aku menggenggam tanganmu Jongin. Kali ini saja—kumohon…" pinta Kyungsoo sekali lagi.
Jongin masih berusaha melepaskan genggaman Kyungsoo yang semakin erat di tangannya.
" Jongin… Kumohon…"
" Lepas Do Kyungsoo!"
Kyungsoo menghela napas kecewa ketika dilihatnya tangan Jongin terus-menerus berusaha untuk melepaskan genggamannya. Mengulas senyum miris di bibirnya, kemudian melepaskan tangan Jongin dari genggamannya—dengan tidak rela.
Dan Jongin bergegas melangkahkan kakinya ketika tangannya sudah tak lagi menjadi tawanan tangan mungil Kyungsoo.
Kyungsoo mendongakkan kepalanya. Menatap kepergian Jongin dengan tatapan penuh luka dan buliran bening yang masih saja keluar dari kedua mata bulatnya.
Kesesakan itu semakin terasa saat Jongin bersikap seolah-olah tak melakukan apapun pada hatinya.
" Aku seperti sebuah benda yang haram untuk kau sentuh Jongin…" lirih Kyungsoo dengan senyuman miris di bibirnya.
.
.
Ryeoby Rin
.
.
.
.
Mustahil suasana kantin akan terasa sepi jika waktu istirahat telah tiba. Kebanyakan dari mereka tentu saja memilih menghabiskan waktu istirahat di dalam kantin dengan makanan dan minuman sebagai pendampingnya.
Duduk sendiri, berdua ataupun bergerombol tidak menjadi masalah untuk mereka selagi mereka bisa menghilangkan rasa penat setelah sebelumnya otak mereka diisi dengan berbagai macam materi pelajaran.
Percayalah! Waktu istirahat adalah waktu yang ditunggu-tunggu para pelajar selain waktu pulang.
Dengan segelas milk shake strawberry di atas mejanya, sosok mungil yang diketahui bernama Byun Baekhyun itu terlihat tengah duduk nyaman di salah satu tempat duduk yang ada di dalam kantin. Sementara sosok namja tampan yang ada di hadapannya tengah serius dengan makanannya.
Hal ini seolah sudah menjadi sebuah kebiasaan untuk Baekhyun. Sudah hampir delapan bulan sosok namja tampan yang ada di hadapannya itu selalu mengajaknya pergi ke kantin bersama. Duduk berdua di salah satu tempat duduk yang ada di dalam kantin dengan posisi saling berhadapan maupun saling bersebelahan.
Awalnya Baekhyun hanya menganggap hal tersebut sebagai bentuk pertemanan mereka. Namun nyatanya, hal itu tidak berlaku untuk sosok namja tampan itu—Kim Jongin.
Seiring bergulirnya waktu, Baekhyun semakin melihat dengan jelas bagaimana Jongin mencoba untuk menarik perhatiannya. Tidak jarang Jongin memperlakukan dirinya seperti ia adalah kekasih namja tampan itu. Bahkan beberapa teman sekelasnya sudah menganggap jika dirinya memang kekasih seorang Kim Jongin.
Sebenarnya Baekhyun merasa risih dengan sikap Jongin yang menurutnya sudah keterlaluan. Baekhyun yakin, sebenarnya Jongin sudah tahu jika dirinya tidak bisa membalas perasaan namja tampan itu terhadapnya. Namun, kegigihan yang Jongin miliki mampu membuat Jongin terus melancarkan aksinya untuk membuat dirinya jatuh cinta pada Jongin. Padahal ada sosok lain yang mencintai Jongin dengan sepenuh hati.
Baekhyun memejamkan kedua mata sipitnya ketika pikirannya kembali mengingat-ingat bagaimana sikap Jongin terhadap Do Kyungsoo—sosok namja mungil yang mencintai Kim Jongin dengan sepenuh hati. Jongin tidak pernah mempedulikan Kyungsoo yang selalu berusaha untuk menarik perhatiannya. Jongin sering kali membentak Kyungsoo dan bersikap tidak baik terhadap sosok mungil dengan mata bulatnya itu.
Baekhyun tidak tahu hal apa yang sudah membuat Jongin bisa bersikap seperti itu pada Kyungsoo. Yang Baekhyun tahu—Jongin selalu menatap Kyungsoo dengan tatapan kebencian.
Membuka kedua mata sipitnya yang terpejam, Baekhyun melihat Jongin yang masih sibuk dengan makanannya. Sedikit menghembuskan napas pelan, sebelum memutuskan untuk mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin dan menemukan jika suasana kantin semakin ramai.
Baekhyun masih fokus memperhatikan sekelilingnya sebelum indera penglihatannya melihat dua sosok bergender sama dengan wajah yang berbeda tengah—mungkin—bermesraan di salah satu tempat duduk yang terletak di sudut pojok kantin.
Itu Park Chanyeol dan Do Kyungsoo.
Baekhyun dapat melihat dengan jelas bagaimana interaksi yang dilakukan Chanyeol dan Kyungsoo. Saling mencubit, menyuapi ataupun menggoda satu sama lain, keduanya seolah tidak terganggu dengan keadaan di sekitarnya yang begitu ramai.
Baekhyun menundukkan kepalanya saat kedua mata sipitnya terasa memanas. Tangannya ia gunakan untuk meremas cukup kuat kedua pahanya. Hatinya kembali berdenyut nyeri ketika melihat bagaimana Chanyeol memperlakukan Kyungsoo.
Baekhyun seolah dapat melihat bayangannya bersama Jongin ketika Chanyeol bersikap selembut itu pada Kyungsoo. Ia juga berpikir—kenapa Kyungsoo tidak menghampiri Jongin? Padahal biasanya, di mana ada Kim Jongin—di situ ada Do Kyungsoo.
Apa mungkin—?
Baekhyun masih saja menundukkan kepalanya, tidak sadar jika sosok namja tampan yang ada di hadapannya kini tengah menatapnya dengan kening yang berkerut.
" Baek—" Jongin memanggil Baekhyun masih dengan kening yang berkerut.
Tidak ada respon apapun yang Baekhyun berikan untuk panggilan Jongin.
" Baekkie—" Jongin mencoba memanggil Baekhyun sekali lagi.
Kembali—tak ada respon apapun dari Baekhyun.
Merasa panggilannya kembali diabaikan, Jongin lantas mengulurkan salah satu tangannya kemudian memegang dagu Baekhyun. Mengangkat wajah manis Baekhyun untuk menatap wajahnya—dan ia terkejut ketika melihat mata sipit Baekhyun yang memerah.
" Baek, ada apa?" tanya Jongin khawatir. Kedua tangannya dengan segera ia gunakan untuk menghapus setitik airmata yang berada di kedua sudut mata sipit Baekhyun.
Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan.
" Tidak ada apa-apa.." sahut Baekhyun.
Jongin menaikkan sebelah alisnya dengan mata yang menatap tak yakin pada Baekhyun.
" Benarkah?"
Baekhyun mengangguk.
Jongin memilih diam dan hanya menatap wajah manis Baekhyun dengan tatapan lembutnya.
" Jongin.." panggil Baekhyun pelan.
" Ya Baek?"
" Aku ingin ke kelas sekarang.."
Jongin tersenyum. Mengacak helaian rambut Baekhyun dengan gemas, sebelum memerintahkan kedua kakinya untuk berdiri.
" Ayo!" ajak Jongin seraya menggapai sebelah tangan mungil Baekhyun dan menggenggamnya dengan erat.
Jongin hendak melangkah untuk meninggalkan area kantin, namun hal itu urung ia lakukan ketika sosok yang tengah bersamanya terlihat berdiri diam.
" Baekhyun.."
Baekhyun menarik kedua sudut bibirnya berlawanan, membentuk senyum simpul ketika sosok namja tampan yang ada di hadapannya kembali memanggil namanya.
" Aku bisa berjalan dengan baik Jongin. Jadi kau tidak perlu menggenggam tanganku.." ucap Baekhyun seraya melepaskan genggaman tangan Jongin.
Di awal Jongin sempat terkejut ketika Baekhyun menolak genggaman tangannya, namun sedetik kemudian bibirnya mengulas senyum jahil.
" Baiklah kalau begitu," ucap Jongin dan dengan gerakan yang sangat cepat sebelah tangannya sudah tersampir dengan mesra di pinggang ramping Baekhyun.
" Yak! Apa yang kau lakukan Jongin?" teriak Baekhyun. Ia terkejut dengan perbuatan Jongin yang tiba-tiba itu.
Jongin tersenyum manis.
" Sudah, jangan banyak protes Byun Baekhyun. Sekarang ayo kita kembali ke kelas.." ucap Jongin santai. Kakinya dengan segera ia langkahkan untuk meninggalkan area kantin bersama sosok namja mungil berparas manis yang berjalan di sebelahnya—dengan bibir yang mengerucut lucu. Jika sudah seperti ini—Baekhyun hanya bisa pasrah.
Baekhyun terus berjalan meninggalkan area kantin dengan langkah pelan—mengabaikan sosok lain yang saat ini tengah menatap iri padanya.
.
.
Ryeoby Rin
.
.
.
.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu. Namun sosok mungil dengan matanya yang bulat itu terlihat enggan untuk meninggalkan kursi panjang yang saat ini tengah ia duduki. Mata bulatnya terus saja ia gunakan untuk memperhatikan siswa-siswi yang saat ini tengah berjalan dengan cepat menuju pintu gerbang sekolah. Dan ia sedikit meringis ketika melihat salah satu siswi terjatuh di depan pintu gerbang karena didorong oleh temannya.
Kyungsoo menggelengkan kepalanya pelan.
" Buas sekali mereka itu.." gumam Kyungsoo.
Memilih tak mempedulikan keadaan yang ada di sekitarnya, Kyungsoo lantas mengedarkan pandangannya ke sekeliling lapangan yang ada di depannya. Dan seketika bibirnya mengulas senyum manis saat indera penglihatannya melihat sosok namja tampan yang telah merebut hatinya.
Kyungsoo hendak melangkahkan kakinya untuk menghampiri sosok namja tampan itu, namun hal itu urung ia lakukan ketika pikirannya kembali mengingat kejadian di kantin tadi.
Menghela napas pelan, Kyungsoo kembali mendudukkan dirinya dengan tenang. Mata bulatnya masih setia mengamati sosok namja tampan yang berada beberapa jarak dari pandangannya.
" Jongin…" gumam Kyungsoo kemudian melangkahkan kakinya untuk meninggalkan area sekolah.
.
.
.
To Be Continued…
.
.
.
Hai ^^ halloooooooooooo :D
Aku datang lagi membawa chapter 4 ff inih. Gimana ceritanya? Aneh? Bikin pusing dan mual? Ato kalian mengalami gejala yang lainnya? Kalo begituh, segera hubungi dokter terdekat yah/plakk/
Okeh aku serius. Untuk chap inih semoga kalian suka dan gak mengecewakan yah :*
Hmm—banyak bacotnya nanti ajah yah di chap depan, soalnya aku lagi cape banget nih, tadi abis naik turun tangga berulang-ulang -_- kakiku rasanya ituuuuuuuuuh *huaaaah*
Dan katanya aku gak mao banyak bacot, tapi ituh kenapa bebacotan coba? -_-
Yaudah yah..
Terakhir—
Yang berkenan dan ikhlas..
Bisa memberikan reviewnya untukku?
Kritik dan saran diterima dengan lapang dada dan tangan terbuka :*
.
.
.
Terimakasiiiiiiiiiiiiiiih ^^
