Naruto © Masashi Kishimoto

Story © LydiaSyafira

Summary :

jalan kehidupan itu sama seperti buku. Pasti ada suatu hal yang menjadi pembuka dan tentu akan diakhiri oleh sebuah penutup. Tapi,bagaimana jika pembuka dari buku itu juga diawali sejak ia membuka lembaran buku? Akankah akhir dari cerita itu juga akan tertutup di lembar terakhir buku itu? penasaran? Silahkan mampir../summary ancur, oke!

pair : Nejiten

Warn : Fanon! Headcanon! tak mungkin luput dari Typo(s), gaje, ancur, judul sama isi gk nyambung dll XD X3 :'V. Mohon sarannya di kotak review..:)

~Happy Reading~

.

.

"Nom..nom..nom..nyam..nya..—pluk!"

Aku menoleh ke arah Mizu, dan benar saja... Gadis kecil itu baru saja menjatuhkan mangkuk makannya dan membuatnya yang sudah berlepotan jadi semakin berlepotan. Aku terkekeh pelan melihat malaikat kecilku. Kulihat ada seorang pramusaji di restoran bubur ini yang berjalan tergopoh-gopoh menuju ke arah meja kami.

"Nyonya, b-biar saya bereskan tumpahan bubur ini. S-saya akan cepat, s-saya janji." Ucap pramusaji itu takut-takut seraya menyiapkan selembar lap basah dan botol pembersih di tangannya. Kutatap papan nama yang menempel di saku bajunya. Matsuri. Aku tersenyum ramah padanya.

"Ah, kalau begitu, tolong ya... Maaf aku merepotkanmu," Ujarku lembut supaya ia tak perlu terlalu sungkan padaku.

"B-Baik...!"

Lalu aku menoleh ke arah Mizu yang masih asyik memainkan sendok di mulutnya.

"Nah.. sekarang, ayo bersihkan dirimu, gadis kecil.."

"Nya..nya..nya..hihihi." Aku menggendongnya menuju toilet di restoran tersebut. Tapi sebelum aku benar-benar berbalik, aku melirik tajam pada suamiku, dan bila diterjemahkan secara harfiah, maka arti tatapanku itu adalah 'awas kalau kau berani menggoda pelayan di depanmu, itu!'

Ia melotot kearahku, yang pasti dapat kuartikan 'Pikiran bodoh macam apa itu?!' . Lalu detik berikutnya aku tersenyum lebar dan benar-benar beranjak ke toilet di belakang.

.

Di dalam toilet.

Ugh.. badanku lemas, kepalaku terasa berat rasanya sakit sekali. Tapi tak mungkin aku meninggalkan Mizu di luar toilet sendirian. Baiklah, aku akan ke tempat suamiku dulu, sepertinya aku akan merasa lebih baik jika sudah duduk.

.

Greek...

Aku menarik kursi duduk milik Mizu, dan menurunkannya di sana. Lalu aku duduk di kursiku sendiri dan mulai melanjutkan makan siangku dengan tenang. Namun, tiba-tiba...

"Ughh.. mghh..." Aku menutup mulutku sendiri. Rasanya mual sekali. Seperti ada bahan makanan yang kubenci dicampurkan di dalam bubur ini. Suamiku langsung menatapku cemas seraya menggenggam tanganku.

"Ada apa? Wajahmu terlihat pucat, apa kau sakit?"

Aku masih menutup mulutku dan memejamkan mataku, berharap aku tak akan muntah disini. Sungguh, rasanya seperti aku baru menelan sesuatu yang tak kusukai barusan, padahal aku sudah memakan bubur ini lebih dari separuh. Aku berusaha menggelengkan kepalaku dan menatap suamiku lembut.

"Aku baik-baik saja, anata."

"Apa kau yakin?"

"Uhmm tentu saja,... Tapi, apa kau tau isi dari bubur ini?" Kini suamiku menatapku dengan raut heran yang nampak jelas dari air mukanya.

"Bukankah kau sering makan bubur ini? Aku tak terlalu tahu isinya, tapi sepertinya ada ayam, wortel, daun bawang, gurita, dan udang—" Belum sempat suamiku menyelesaikan ucapannya, aku langsung melesat ke arah kamar mandi.

"Tenten!"

.

.

.

Back To Story.

Entah sejak kapan dimulai, tapi yang jelas kini hubungan Tenten dan Neji makin akrab. Meskipun media percakapan mereka masih sama—menggunakan secarik kertas yang diselipkan di buku novel. Sakura tak habis pikir, di zaman yang serba modern ini kenapa mereka masih menggunakan cara yang kelewat kolot begitu? Sangat mustahil bila si Hyuuga satu itu tak mengenal tekhnologi bernama e-mail ataupun sejenisnya.

Gezz ...

satu urat kekesalan tampak di pelipis Sakura, saat netranya menangkap pemandangan yang sama yang akhir-akhir ini kerap ia temui di meja ujung sebelah kiri dekat jendela.

"Tenten!" panggil Sakura. Gadis brunnete yang tengah melamun seraya memandang ke arah lapangan tersebut bergeming, namun tak melepaskan pandangannya sama sekali.

"Hm?" sahutnya.

"Tenten!"

"Hm?"

Kesal karena panggilannya tidak ditanggapi dengan baik, akhirnya Sakura mendekatkan mulutnya tepat di telinga Tenten.

"TENTEN HYUUGA APA KAU MENDENGARKU?!" Tenten segera berjengit terkejut oleh teriakan Sakura. Bukan hanya itu, Sakura bahkan meneriakkan hal yang mampu membuat kinerja jantungnya bekerja dua kali lipat untuk memompa darah hingga memenuhi wajahnya.

"Sakura no baka! Apa yang kau lakukannn?! La-lagipula kalimat aneh apa yang baru saja keluar dari bibirmu itu, heh?!" Tenten melotot memandangi Sakura, belum lagi ia harus memaksa kepala Sakura untuk menunduk meminta maaf kepada seluruh penghuni kelas yang sempat terkejut karena teriakan Sakura.

Sakura mendengus memandangi sahabat brunettenya. Sebuah helaan napas berat ia hembuskan.

"Dengar," Ujar Sakura

"Hn?" Ketus Tenten.

"Kau menyukai pemuda itu bukan?" Tenten nampak salah tingkah yang disambut wajah datar Sakura, "Oke, aku anggap itu iya."

Tenten segera menoleh dengan kecepatan yang mungkin mampu mematahkan lehernya.

"A-apa katamu?"

"Khehh.." Sakura menyeringai, sepertinya Tenten belum—atau bahkan tidak— sadar jika pemuda Hyuuga itu menyukainya. Dasar tidak peka. Terbesit ide di kepalanya untuk menggoda sahabatnya ini. "Jadi.. bolehkah aku bertanya sesuatu?"

Tenten memandangnya sedikit curiga.

"Apa itu?"

"Apa pernah ia mengirimimu e-mail?"

"Eh?"

"Apa pernah ia memberitahukan emailnya padamu?"

"Ah.. Bel—"

"Lalu, apa kau yakin tak ada gadis yang diincarnya diluar sana?"

"So-soal itu, kupikir tid—"

"Sungguh? Apa kau benar-benar yakin?"

Alis Tenten berkerut dalam. Tiba-tiba wajahnya berubah masam, 'Sebenarnya apa maksud dari pertanyaan, Sakura? Ia bermaksud memojokakkanku?'

"Apa maksudmu, Sakura? Ck, sudahlah! Aku mau ke kantin!" Tenten segera melesat ke kantin dengan wajah kesal. Ia menghentak-hentakkan kakinya sepanjang jalan. Tapi sebelum tangan Tenten benar-benar membuka knop pintu, lengkingan suara Sakura menyapa gendang telinganya.

"Sebentar lagi kelulusan, ya?!"

Di detik berikutnya, lagi-lagi Sakura harus membungkukan badannya pada seluruh penghuni kelas karena ia mengejutkan mereka lagi. Dan meskipun Sakura tahu bahwa Tenten sudah menghilang di balik pintu itu, ia cukup yakin gadis bercepol itu mendengar ucapannya—salah, teriakannya. Sebuah senyum tipis menghiasi bibir Sakura.

'Yah.. kuharap mereka memiliki akhir yang bahagia.'

# # #

Suara langkah kaki memecah suasana tentram di sepanjang lorong menuju taman belakang sekolah. Lorong ini memang sepi karena jarang ada murid-murid yang berkeliaran di sekitar tempat ini. Mayoritas dari mereka lebih memilih kantin atau taman utama sekolah di jam-jam istirahat begini.

Tapi justru inilah yang Tenten butuhkan. Persetan bila tadi ia mengatakan ingin pergi ke kantin, nafsu makannya hilang setelah berdebat hal konyol bersama sahabatnya.

Tenten sendiri sebenarnya tidak mengerti mengapa ia sampai se kesal ini hanya karena Sakura menyinggung soal Neji. Apalagi sangat tidak relevan sekali saat dirinya merasa begitu muak saat Sakura mengatakan 'Ada gadis lain yang diincar Neji'.

"Haahh!" Tenten menghempaskan dirinya di rumput taman belakang sekolah. Tak peduli jika itu akan membuat roknya kotor oleh rumput-rumput basah itu.

Gadis bersurai coklat itu mengusap wajahnya gusar.

'Sebenarnya... apa yang terjadi padaku? Mungkinkah aku merasa cemburu? Hahaha... kau pasti bercanda! Atas dasar apa seorang gadis biasa sepertiku merasakan hal seperti itu? Bahkan aku sendiri terlalu takut untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku...'

"Menyukai seorang Hyuuga Neji." Gumam gadis itu lirih. Ia menunduk dalam, membiarkan poni panjangnya menutupi sebagian wajahnya.

Tiba-tiba suara teriakan Sakura beberapa saat yang lalu terngiang di kepalanya.

"Sebentar lagi kelulusan, ya?!"

"Kelulusan? Kenapa Sakura mengatakan sesuatu tentang kelulusan?" ia bergumam lagi, alisnya berkerut samar. Tapi detik berikutnya, ia langsung terlonjak kaget.

"KELULUSAN?!"

.

.

.

Tenten berbalik menuju ruang kelasnya dengan langkah tergesa. Pikirannya kacau. Gadis bercepol itu tak henti-hentinya mengumpat dalam hatinya.

Bodoh .

Bodoh.

Bodoh.

Tenten tak akan pernah bisa bertemu lagi dengan Neji, bahkan sebelum gadis itu sempat mengetahui banyak hal tentang Neji. Katakanlah mereka mulai akrab beberapa hari ini, sering mengobrol banyak hal meski hanya di atas selembar kertas putih yang diselipkan dalam buku. Tapi, apa yang mereka obrolkan tak lebih dari basa-basi semata. Tak ada hal berarti yang bisa Tenten tangkap dari obrolan mereka selama ini. Ia terlalu terbuai dan melupakan fakta bahwa bisa saja Neji melakukan hal yang sama pada semua orang. Ia naif, ya, ia sangat naif.

BRAKK!

Bunyi pintu kelas yang dibanting menarik perhatian Sakura dan murid-murid yang masih berada di dalam kelas.

"Oh, kau Tenten, kenap— HEI! Mau kemana, kau!? Tenten! Dengarkan aku!"

Tenten terus berlari meninggalkan kelas. Mengabaikan teriakan Sakura yang terus menyerukan namanya di belakangnya. Persetan dengan jam pelajaran setelah istirahat ini, toh ia dengar Iruka-sensei sedang melakukan perjalanan tour bersama beberapa guru. Jadi, bisa dipastikan jam Iruka-sensei akan kosong hingga pulang nanti.

Tujuan gadis itu hanya satu! Perpustakaan Konoha.

# # #

Perpustakaan Suna High School.

"Oi, Sasuke." Panggil seseorang bersurai panjang tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari buku sastra di tangannya.

"Hn?" balas Sasuke yang juga tak mengalihkan pandangannya dari buku sains di hadapannya.

"Kapan kau berniat mengunjungi Sakura lagi?"

Tubuh Sasuke tiba-tiba menegang, ia memasang telinganya baik-baik menunggu kelanjutan ucapan sahabatnya itu.

"Jika kau mau bertemu Sakura lagi, ajak aku." Neji mengakhirinya dengan tenang, kelewat tenang malah. Sampai ia tak menyadari tatapan membunuh yang Sasuke layangkan padanya.

"Oh... Maaf saja tapi yang kemarin itu adalah pertama dan terakhir kalinya aku mengajakmu." Ujar Sasuke dingin. Neji menghentikan acara membacanya dan melirik sekilas pada pemuda berambut emo tersebut.

Neji memalingkan wajahnya ke arah lain dan mati-matian menahan agar suara tawanya tak sampai terdengar. Ia berdehem untuk menetralisir suaranya. "Ekhm, tapi maaf saja, bukan salahku jika waktu itu gadismu tertarik padaku, oke? Lagipula kau tahu sendiri 'kan, bagaimana pesonaku bisa meluluhkan hati gadis manapun, yah, bahkan..." ia menyeringai seraya melirik Sasuke melalui ekor matanya, "...Haruno Sakura sekalipun."

"Bisakah kau hentikan bualan menjijikanmu itu? Jika memang benar kau bisa meluluhkan hati gadis manapun," Sasuke sengaja menggantung ucapannya, ia tersenyum miring dengan mata yang melirik sinis pada Neji, "Apa kau yakin jika Tenten juga terpikat denganmu?" Sasuke tersenyum mengejek.

Neji membisu, sesaat dia terdiam lama, sebelum kemudian kembali fokus dengan bukunya. Melupakan hal yang Sasuke katakan tadi, padahal faktanya ia tak bisa.

"Kau tahu Neji, tak peduli seberapa banyak gadis yang terpikat padamu, semua itu tak berguna bila gadis yang kau sukai tak merasakan hal yang sama dengan para gadis itu." ujar Sasuke. Ia melirik pada Neji.

Pemuda beriris amethyst itu menutup bukunya pelan,

"Yah, meskipun kata-katamu rumit seperti biasa, tapi aku paham maksudmu." Ujar Neji. Terdengar decihan pelan dari Sasuke yang tentu saja diabaikan oleh Neji.

"Sudahlah, ayo ke kantin. Aku lapar." Ujar Sasuke dingin. Ia mulai berjalan di depan Neji.

Neji tersenyum tipis, kemudian ia berdiri dan menyusul Sasuke di depannya.

"Jadi... Kembali ke pertanyaann pertama. Kapan kau akan menemui Sakura lagi?"

"Diam atau kujahit mulutmu, Hyuuga." Ketus Sasuke.

"Hei, kau kejam sekali. Jika kau jahit bibirku, apa yang bisa kugunakan untuk mencium Sakura nanti?"

Neji menyeringai sesaat sebelum dirinya berlari sekuat tenaga demi menjauh dari malaikat maut berkedok manusia di belakangnya. Sasuke benar-benar ingin menguliti pemuda itu saat ini juga!

# # #

Terdengar deru napas memburu dari bibir mungil seorang gadis manis bercepol dua. Ia menyenderkan punggungnya pada dinding gerbang Perpustakaan Konoha. Entah kenapa ia ingin berlari supaya lebih cepat sampai kemari, padahal ia sendiri tahu bahwa gedung sebesar ini tak mungkin berpindah tempat.

Ia pandangi lamat-lamat gedung tinggi yang berisi ribuan buku itu, sebelum langkah mungilnya membawanya masuk ke dalam. Menyusuri rak buku novel klasik seperti biasa. Dan selalu berhenti di depan baris yang sama. Serta sebuah buku novel yang tak pernah berubah.

Romeo and Juliet.

Tiba-tiba pikirannya menerawang kebeberapa hari yang lalu, tepatnya saat 'mereka' tak sengaja bertemu di sini. Atau mungkin lebih tepat dikatakan peristiwa ketidaksengajaan yang disengaja. Ia ingat bagaimana marahnya ia pada Sakura saat itu, tapi disisi lain tak dapat ia pungkiri bahwa ia mensyukuri kejadian itu. Sebuah senyum simpul tersungging di bibirnya.

-Flashback-

"Tenten—"

"Neji—"

Kedua menusia berbeda gender itu langsung menatap satu sama lain.

"Kau, duluan Tenten."

"A-ah, kupikir lebih baik kau saja. Ini bukan hal yang penting kok." Tenten tersenyum lebar, mencoba menghilangkan kegugupannya.

Neji menggerakan bola matanya ke arah lain, tak ingin bertemu pandang dengan iris karamel yang dalam sekejap membuatnya mati kutu seperti ini. Tapi, oh ayolah, Neji tidak seburuk itu jika menghadapi gadis. Apalagi ini hanya seorang...

... Sepertinya. Semoga saja begitu.

"..ji? Neji..? Apa kau mendengarku"

Neji tersentak.

"Ah, maaf, bisa kau ulangi ucapanmu?"

"Tadi kau mau mengatakan apa?" ujar Tenten tenang.

"Eh, itu..." Neji mengumpat pelan dalam hatinya, shit, ia kehilangan kata-kata.

'Apa yang mau aku katakan tadi?' pikir Neji. Seketika matanya menangkap suatu obyek yang menarik perhatiannya.

"Neji-san? Apa kau melam—"

"Tenten, apa kau suka novel ini?"

"Huh? Bukankah aku dulu pernah mengatakan kalau aku lebih menyukai ensik—"

"Bukan, bukan itu maksudku. Yang kumaksud adalah, apa kau menyukai novel Romeo and Juliet ini?" ucap Neji seraya mengacung-acungkan novel itu di depan wajahnya.

Tenten tampak berpikir sejenak.

"Emm... Sepertinya aku tidak menyukainya," Jawab Tenten. Ia meraih buku itu dari tangan Neji.

"Kenapa? Bukankah gadis biasanya suka novel-novel romantis seperti ini?" Tenten langsung menatap tepat di iris amethyst Neji.

"Yah, beberapa ada yang seperti itu, bahkan mungkin aku juga termasuk. Tapi..." Tenten memandangi sampul buku itu, "Daripada genre romantis, Romeo and Juliet lebih tepat dikatakan novel bergenre angst. Atau bad ending." Ia tersenyum sekilas, "Jadi aku tidak suka novel ini."

"Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?"

"Bagian dimana cinta Romeo yang tak pernah bisa tersampaikan dengan baik untuk Juliet, dan akhir cerita mereka yang berakhir meninggal berdua adalah alasan utamaku untuk itu. Tak peduli maksud si Penulis yang berharap pembacanya bisa melihat sisi romantis dari novel ini, tetap saja tak mengubah fakta bahwa mereka berakhir tragis." Tenten mengalihkan pandang dari buku itu ke arah Neji.

"Tentu saja, tak ada seorang pun di dunia ini yang mengharapkan akhir cerita yang menyedihkan begitu, 'kan?" Tenten tersenyum lebar hingga matanya menyipit.

Neji terdiam, ia sama sekali tak menyangka pertanyaan spontannya tadi akan ditanggapi seserius ini oleh gadis itu. Neji berdehem sejenak, lalu melanjutkan,

"Aku tidak terlalu memperhatikkan suatu hal sedetail itu, apalagi ini hanyalah sebuah novel. Tapi, kupikir aku mengerti alasanmu."

Neji tersenyum simpul pada Tenten. Senyum yang sangat jarang ia tunjukkan pada siapapun.

-End of Flashback-

.

Kini Tenten menatap kosong buku di atas mejanya. Perpustakaan tampak sepi hari ini, jadi mudah baginya menemukan tempat duduk yang kosong. Ia menopang kepalanya dengan sebelah tangannya. Masih dengan iris karamel yang memandangi buku itu, tanpa ada niat sedikitpun untuk membukanya. Karena, meski tak dibuka sekalipun ia sangat yakin...

Tak akan ada selembar kertas yang terselip di dalamnya.

"Haah... Tentu saja ia sedang belajar untuk mempersiapkan ujian akhir, baka. Memangnya kau, yang malah melarikan diri di jam pelajaran." Gumamnya lirih, lebih ke dirinya sendiri.

"Hm, ya sudahlah. Aku akan tetap memberikan suratku seminggu sekali, seperti janjiku waktu itu." Ia tersenyum. Lalu tangannya mulai meraih secarik kertas dan menuliskan sesuatu di atas lembar putih tersebut.

Ia tersenyum puas, lalu menyelipkan nya di dalam buku itu. Serta mengembalikannya ke tempat semula.

.

.

.

Hai Neji, umm, mungkin kau akan merasa terganggu. Tapi sesuai janjiku, aku akan terus menyelipkan secarik kertas ke dalam buku ini seminggu sekali. Dan sama seperti kataku dulu, aku juga akan mengecek balasan suratmu seminggu sekali. Aku tak memaksamu membalasnya kok. Haha..

Eetto... Semangat ujiannya! ^-^)9

Tenten

# # #

Satu bulan berlalu,

Bel pulang berdering menyapa gendang telinga para manusia di sebuah sekolah swasta ternama, Suna High School. Menandakan bahwa jam pelajaran sudah resmi berakhir. Neji bersiap mengemasi peralatannya. Ia melangkah perlahan keluar kelasnya.

Neji mengeluarkan sebuah note kecil dari sakunya. Sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu untuk menulis jadwal hariannya dalam buku. Ia terbiasa dengan segala sesuatu yang terencana, tak ceroboh, serta terburu-buru. Hampir sama seperti sahabatnya. Sasuke Uchiha.

"Hari ini tak ada jam pelajaran tambahan, les juga tidak ada. Berarti aku lumayan senggang setelah ini." Gumamnya. Lalu ia menutup bukunya perlahan.

Pikirannya melayang. Neji merasa ada sesuatu yang kurang dan aneh pada dirinya. Terasa seperti ia melupakan sesuatu. Melupakan suatu hal yang sempat menarik seluruh perhatiannya yang selama ini selalu terfokus pada pelajarannya. Suatu hal yang selalu ia lakukan di jam-jam senggangnya. Tapi, apa?

Sreek.. pluk!

Sesuatu terjatuh saat ia mengeluarkan dompetnya. Kartu pelajarnya.

Dalam sekejap Neji ingat apa yang baru saja ia lupakan.

"Tenten.."

Astaga bagaimana bisa ia melupakannya hanya karena beberapa latihan soal dan ulangan-ulangan harian yang akhir-akhir ini menyita sebagian besar waktunya! Neji segera beranjak menuju gerbang utama Suna High School. Jika ia tidak salah, dulu Tenten pernah mengatakan bahwa dirinya akan selalu menyelipkan secarik kertas di sana seminggu sekali.'Shit! Aku bahkan lupa ini sudah minggu keberapa. Dasar Bodoh.' Umpatnya kesal dalam hatinya.

Ketika dirinya sudah hampir sampai di gerbang utama, seseorang dari arah belakang meneriaki namanya.

"Neji! Mau kemana kau!?"

"P-pelatih..? A-ada apa?" Neji masih belum pulih dari shock nya.

"Aku tanya mau kemana kau?!"

"Pulang."

"Tidak bisa! Sekarang cepat ikut aku ke ruang klub basket." Ujar pelatih itu tegas. Ia berjalan tegap mendahului Neji.

"Tunggu, pelatih!" Neji menyela, "Kau tahu 'kan saat ini aku murid tahun ketiga di sekolah ini. Dan peraturan jelas-jelas menyebutkan bahwa murid sepertiku sudah seharusnya dinonaktivkan dalam segala macam kegiatan ekstra kurikuler. Aku yakin Pelatih juga tahu tentang hal it—"

"Neji!" sela Sasuke yang ternyata sudah berada di belakangnya. Kedua orang yang sempat berdebat tadi mengalihkan atensi mereka ke arah pemuda emo tersebut.

"Jangan melawan Pelatih." Sasuke melihat raut wajah tak suka yang ditunjukkan oleh Neji, "Tenang saja, kita tidak turut andil dalam pertandingan tahun ini. Tapi, sesuai tanggung jawabmu sebagai mantan kapten dan aku yang merupakan wakilmu, kita tetap harus membantu melatih para kouhai selama kita masih berada di sekolah ini." Terang Sasuke.

"Tapi, aku masih ada urusan setelah ini." Ujar Neji dingin.

"Jadi kau lebih senang melihat tim mu kalah dalam pertandingan daripada membiarkan kertas-kertas sampahmu di perpustakaan itu terabaikan? Dasar pecundang..!"

Baru saja Neji hendak melayangkan tinju tepat di wajah memuakkan Sasuke, tangannya terhenti oleh cengkraman tangan pelatih yang ribuan kali lebih kuat darinya. Tanpa perlu menolehpun Sasuke dan Neji sudah tahu apa yang akan terjadi. Tiba-tiba mindset dalam otak mereka langsung berubah 180 derajat. Baik Neji maupun Sasuke langsung lupa niat awal mereka untuk saling baku hantam disini.

"Kalian... Berani sekali bertengkar dihadapanku..." Ujar pelatih penuh penekanan. Masih dengan posisi yang sama, mereka berdua menatap ragu wajah pelatih.

"A-ah p-pelatih, kami ha-hanya bercanda tadi, i-iya 'kan Neji?"

"I-iya, t-tentu saja. L-lagipula itu tadi j-juga merupakan latihan! Ya bagian dari latihan. B-benar kan Sas—"

"KELILINGI LAPANGAN 10 KALI! LALU SEGERA PERGI KE RUANG KLUB BASKET SETELAH ITU! ATAU KALIAN PULANG DENGAN SATU BAGIAN TUBUH BERKURANG!"

"B-baik!"

.

.

.

Setelah hari itu, tanpa Neji sadari, note kecil yang selalu berisikan jadwal hariannya... Tak pernah lagi menyisakan waktu senggang baginya.

Bahkan hanya untuk mengunjungi Perpustakaan Konoha.

.

.

.

.# # #

"Tenten... Kemarilah."

Tenten yang sedang membersihkan meja makan setelah mereka menghabiskan makan malam hari ini, langsung berjalan pelan mendekati ayahnya. Pria paruh baya yang sebagian rambutnya mulai memutih dimakan usia itu mulai menyingkirkan koran dari hadapannya. Ia menatap dalam wajah putrinya yang sudah beranjak dewasa.

"Ada apa Tou-san?"

"Kapan kau lulus?"

"Emm... mungkin akhir bulan ini. Memangnya kenapa?"

Ayah tiba-tiba mengalihkan pandangannya, sebelum mengatakan suatu hal. Suatu hal yang membuat Tenten merasa dunia nya runtuh saat itu juga.

.

.

.

"Tou-san sudah mengatakannya pada Kaa-san, dan ia setuju... bahwa kita akan pindah ke Inggris tepat setelah kau lulus."

# # #

Hai Neji... Entah sudah berapa kertas menumpuk di buku ini. Hehe... Maaf jika disaat seperti ini pun aku masih sempat-sempatnya menulis ini padamu. Tapi, aku benar-benar harus mengatakannya sekarang.

Aku mencintaimu, Neji.

Aku tak tahu sejak kapan, tapi yang jelas perasaan itu ada. Terasa begitu nyata dalam diriku. Perasaan berdebar-debar yang kurasa bahkan di setiap untaian kalimat yang kutorehkan di atas kertas ini. Diam-diam aku mensyukuri kejadian dimana kau kehilangan kartu pelajarmu. Karena jika itu tak terjadi, mungkin sampai sekarang aku tak akan pernah mengenal siapa itu Hyuuga Neji. Aku benar-benar senang bertemu denganmu, Neji.

Tapi... kita pun tahu, di setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan.

Sebuah tiket pesawat yang akan membawaku ke tempat yang jauh sudah menungguku. Dan aku tak bisa mengelak akan hal itu.

Jadi, aku berharap bisa bertemu denganmu tepat setelah kelulusan. Meski hanya sekejap aku ingin melihat wajahmu untuk yang terakhir kalinya.

Jembatan Konoha, jam 16.00

Aku menunggumu...

Tenten

# # #

.

.

.

"Tenten! Sudah waktunya! Ayo berangkat!"

Suara Kaa-san dari kejauhan membuyarkan lamunan gadis manis bercepol dua itu. Ia tersenyum getir sesaat. Lalu perlahan kedua kaki jenjangnya membawanya menuju mobil kedua orang tuannya yang terparkir tak jauh dari jembatan.

.

.

.

'Ternyata memang tak mungkin bertemu lagi, ya?'

TBC...

A/N :

Haii haiii... ketemuu lagi dengan saya Lydia si author jomblo yang masih nekat publish ff di tengah-tengah Try Out kota yang madafaka dan doi yang juga gk peka-peka.. hoho.. (A)9

Oke topik utama hari ini adalah... OMEDETOU TANJOUBI TO OUR PRINCESS TENTENN! YANG KERENNYA.. MILAD PAS NEGARA TERCINTA KITA LGI ADA GERHANA MATAHARI(baca:Chibaku Tensei) .. OKEE INTINYAA AYO KITA SEMUA IKATAN PARA JOMBLO—RALAT, IKATAN PARA PECINTA TENTEN, RAMEIN ARCHIVE TENTEN! HOHOHOHOHO #semangat45

Oh iya, dan teman-teman readers tercinta, author minta apologize #diblender klo belum dan lama bgt up ff nya XD. Kalian bisa liat A/N saya tentang ini di ff "Last Promise" *Sekalian Promosi*

Sekian ceramah dari author geblek yang smpe sekarang masih jomblo—salah, masih berharap Neji hidup dan nikah sm Tenten.. Babayy~~ 3

Mind to RnR..?