My Love Mentor
Disclaimer : Masashi Kishimoto.
Story By : Yana Kim
Rate : T
WARNING!
Crack, abal, gaje,
Mohon jangan mengharapkan EYD yang sempurna karena yaah... kalian tahu yana kan?
Hyuuga Neji x Uzumaki Karin
.
.
.
.
Uzumaki Karin dengan kehidupan liar serta pergaulan bebasnya dan Hyuuga Neji dengan kehidupan penuh aturan serta pergaulan yang dibatasi oleh adat istiadat keluarga Hyuuga. Naruto meminta Neji untuk merubah kebiasaan buruk adiknya itu. Cinta timbul! Apa yang akan terjadi?
.
.
.
Chapter 4
.
.
.
Neji memandang Karin tepat di manik ruby gadis itu.
"Seperti ini. Tidak ketat, tidak terbuka... dan cantik."
"Eh?"
Wajah Karin sontak merona. Ia tidak tahan untuk memandang mata sewarna bulan milik pria di depannya. Ia pun menunduk menyembunyikan wajahnya yang memanas.
"Dimana tasmu?" tanya Neji kemudian.
"Di laci dibawah meja belajar," jawab Karin.
Neji mengambil tas Karin dan mengisinya dengan buku serta ponsel Karin lalu memberikannya pada gadis itu. Karin menerimanya dan menyampirkannya di pundak. Karin lalu merasa tubuhnya terangkat kala Neji menggendongnya. Keduanya menuruni tangga menuju dapur dimana sarapan sudah tersedia.
Setelah sarapan keduanya berangkat. Neji kembali menggendong Karin menuju mobil.
"Kau masuk di ruangan mana?" tanya Neji setelah mereka sampai di parkiran kampus.
"Memangnya kau tahu bila ku katakan?"
"Seharusnya kau jawab saja."
"Ck! B tiga." Karin menjawab.
"Lantai dua?" tanya Neji.
"Benar. Bagaimana kau tahu?"
"Aku alumni kampus ini."
"Benarkan?" Karin memandang tak percaya pada pria di sampingnya.
"Hn." Neji kemudian turun dan membukakan pintu untuk Karin.
Neji harus kembali menggendong Karin menuju ruangannya yang berada di lantai dua. Banyak mata memandang heran sekaligus takjub pada mereka. Karin sebenarnya merasa bersalah saat melihat Neji yang pasti merasa lelah karena mengendongnya menaiki tiga puluh anak tangga. Sesampainya di ruangan, Neji menurunkan Karin dan membantu gadis itu duduk di bangku depan. Tentu saja Neji kelelahan, terbukti dengan nafasnya yang tak karuan serta keringat yang mengalir di wajah tampannya.
"Aku pergi."
"Tunggu!" panggil Karin sebari menarik tangan Neji. Gadis itu mengambil tisu dari dalam tasnya dan kembali menarik Neji agar menunduk kearahnya. Kemudian Karin mengusap peluh di wajah Neji sampai ke leher pria itu dengan lembut. Neji tersentak sesaat namun membiarkan Karin mengusap wajahnya. Ia memandang wajah Karin yang sangat dekat dengannya itu. Teman-teman sekelas Karin yang ada diruangan itu memandang mereka dengan senyuman.
"Maaf merepotkanmu," ujar Karin setelah selesai dengan kegiatannya.
"Hn. Telepon aku bila sudah selesai."
"Baiklah." Neji berbalik dan beranjak. Namun ia berpapasan dengan seprang dosen di pintu.
"Hyuuga Neji?" tegur sang dosen. Neji membungkukkan badannya.
"Apa kabar, Jiraiya-sensei?"
"Wah! Ternyata benar kau! Aku baik-baik saja. Senang bisa kembali melihatmu. Apa yang kau lakukan di sini?"tanya si dosen. Mahasiswa yang ada di sana tampak kasak kusuk.
"Aku mengantarkan temanku, sensei."
'Teman?' Karin mengernyitkan dahinya. 'Kami tidak pernah berteman!' tambahnya dalam hati.
"Teman? Kenapa harus sampai ke ruangan?" tanya dosen itu lagi.
"Dia sedang sakit, sensei."
"Hahaha. Kurasa orang ini bukan hanya sekedar teman. Kekasihmu, eh? Aku penasaran siapa yang bisa menarik hati si jenius ini!" Jiraiya-sensei mengitari seluruh kelas.
"Yang mana kekasihmu?" Seluruh mahasiswa secara serempak menunjuk Karin. Yang ditunjuk hanya memandang heran pada seluruh penghuni kelas.
"Uzumaki? Wah wah! Ternyata kau memilih gadis yang cantik tapi kurang pintar untuk menjadi kekasihmu ya. Dunia memang adil." Seluruh kelas tak bisa menahan tawanya sedangkan Karin memandang tajam pada sang dosen yang menghiraukan tatapannya. Neji sendiri hanya menarik sudut bibirnya. Jiraiya kemudian menarik Neji ke tengah kelas.
"Perkenalkan. Ini adalah senpai kalian. Mahasiswa jenius kebanggaan kampus. Hyuuga Neji." Seluruh kelas kecuali Karin bertepuk tangan. Gadis itu memandang penuh rasa penasaran pada si Hyuuga. Kemudian seorang mahasiswa mengangkat tangan.
"Ya, Kotetsu?"
"Aku pernah mendengar tentang mahasiswa yang lulus dari kampus ini hanya dalam dua tahun lebih. Apakah itu Hyuuga-senpai?"
"Kau benar. Hyuuga Neji adalah orangnya."
"Wah!" Seluruh kelas kembali bertepuk tangan. Karin hanya melotot tak percaya pada sosok yang kini berdiri di depan ruangan. Ia semakin penasaran dengan mentornya ini.
"Kami ingin bersalaman dengan Hyuuga-senpai. Bolehkan sensei?"tanya seorang siswa.
'Kalian berlebihan!' seru Karin dalam hati.
"Tentu saja. Mulai dari baris paling belakang silahkan maju." Karin kembali harus ternganga melihat antusiasme para mahasiswa yang ingin bersalaman dengan Neji yang terlihat pasrah. 'Kalau dia jenius dan lulusan terbaik kampus. Kenapa dia harus jadi mentor untukku? Seharusnya dia punya pekerjaan yang lebih pantas untuk otaknya kan?' Karin membatin.
'Siapa sebenarnya kau, Hyuuga Neji?' batin gadis itu lagi.
Tanpa terasa acara salam-salaman pun selesai. Seluruh mahasiswa diruangan itu tampak bahagia setelah bersalaman dengan Neji. Kecuali Karin tentunya. Hanya gadis itu yang tidak maju.
"Wah. Sepertinya Uzumaki tidak berniat untuk menyalammu, Neji." ujar Jiraiya dengan jahil.
"Tentu saja tidak perlu, sensei. Uzumaki dan Hyuuga-senpai pasti sudah melakukan lebih dari sekedar bersalaman. Bukan begitu, Uzumaki Karin?" ujar seorang mahasiswa yang dibalas dengan deathglare dari Karin. Kelas kembali penuh dengan tawa. Bahkan Jiraiya ikut tertawa dengan keras. Neji hanya tersenyum tipis.
"Saya permisi dulu, sensei. Saya sudah membuang waktu belajar mereka."
"Aa. Baiklah. Terimakasih karena sudah berkunjung. Kau tenang saja, aku akan menjaga kekasihmu." Suara tawa kembali terdengar.
Neji membungkuk sekali lagi, kemudian keluar dari ruangan diirningi ucapan sampai jumpa dari para mahasiswa.
.
.
.
Mata kuliah yang di bawakan Jiraiya berakhir dengan cepat. Tentu saja, waktu belajar sudah di habiskan dengan temu kangen serta salam-salaman dengan Hyuuga Neji. Bahkan setelah kepergian Neji, Jiraiya masih saja menceritakan tentang Hyuuga Neji yang katanya jenius luar biasa. Yang tentu saja membuat Karin bertanya-tanya siapa sebenarnya sosok Hyuuga Neji yang menjadi mentornya itu. Sebelumnya ia berpikir kalau Neji adalah bawahan Naruto yang disuruh untuk menjadi kejadian hari ini membuat Karin menyimpulkan bahwa Neji lebih dari sekedar bawahan ataupun orang suruhan kakaknya. Ia akan menanyakan Neji nanti.
Jiraiya baru saja keluar dari ruangan. Mata kuliah selanjutnya adalah Akuntansi Biaya yang dimulai lima belas menit lagi. Ia merasa tidak perlu memaggil Neji. Toh ia juga sudah bisa berjalan dengan normal. Lagi pula ruangan selanjutnya hanya berjarak tiga kelas dari sini. Ia pun bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan. Di koridor sudah banyak mahasiswa yang sepertinya juga akan belajar bersamanya.
"Karin-senpai?" sapa seorang mahasiswa yang kemudian berjalan sejajar dengan Karin.
"Ya?" Karin merasa heran karena ada pemuda yang menyapanya. Sejak ia mempermalukan seorang mahasiswa yang menembaknya dulu, tidak ada pemuda yang berani menyapanya di kampus. Apalagi bila ia berjalan bersama Ino dan Sakura di koridor, para mahasiswa khususnya juniornya akan langsung menepi memberi jalan.
"Ternyata memang benar. Ku kira aku salah. Soalnya senpai benar-benar berbeda dari biasanya." Pemuda itu tersenyum manis pada Karin.
"Berbeda bagaimana maksudmu?" tanya Karin.
"Biasanya kan senpai selalu tampil seksi dan glamour. Tapi kali ini berbeda."
Karin berhenti di ikuti oleh pemuda itu. Karin memandang pakaiannya yang dipilihkan Neji.
"Berbeda?" ujarnya tanpa sadar namun didengar oleh si pemuda.
"Benar. Hari ini senpai terlihat sederhana tapi bersinar. Dan tentu saja cantik. Jauh lebih cantik dari biasanya. Ah! Maafkan aku senpai." Pemuda itu kemudian membungkuk singkat dan meninggalkan Karin yang terbengong dengan wajah merah. Tanpa sadar sebuah senyum muncul di wajahnya. Ia memandang sekali lagi pada dress biru muda yang di kenakannya. Mengusapnya sebentar, lalu melanjutkan jalannya.
.
.
.
Karin kembali ke ruangan pertamanya pagi tadi. Kebetulan ruangan itu kosong, Karin mendudukan dirinya di bangkunya tadi dan mengeluarkan ponselnya.
"Aku sudah selesai." Ternyata ia menghubungi Hyuuga Neji.
'Kenapa tadi kau tidak meneleponku? Siapa yang membantumu tadi?' tanya suara di seberang.
"Kebetulan aku tidak berpindah ruangan. Hari ini aku belajar di ruangan yang sama." Tentu saja Karin berbohong.
'Aku akan segera ke sana.'
Karin kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Berpikir sampai kapan ia akan membohongi Neji. Tapi biarlah, toh ia menikmati pelayanan yang di berikan pria itu. Gadis merah itu tersenyum mengingat setiap perlakuan Neji terhadapnya. Tapi kemudian ia tersadar, ia harus mencari tahu tentang pria itu. Siapa sebenarnya dia? Kenapa kakaknya memilih Neji dan kenapa Neji yang merupakan seorang jenius dan lulusan terbaik kampus mau menjadi mentor seorang gadis berperangai buruk? Tak lama kemudian Neji muncul di pintu saat Karin sedang asyik denga pemikirannya.
Neji berdeham kecil namun cukup untuk mengejutkan Karin.
"Oh. Kau sudah datang?"
"Hn." Neji mendekat dan menggendong Karin seperti pagi tadi. Karin sendiri dengan santainya melingkarkan lengannya di leher Neji. Sekali lagi pemandang romantis terlihat de Universitas itu. Para mahasiswa memandang kegum pada sosok Neji yang menggendong Karin menuju mobil. Neji membuka pintu untuk Karin dan membantu gadis itu masuk. Ia sendiri kemudian memasuki mobil. Neji tampak kelelahan.
"Hah. Entah sampai kapan aku akan menggendong tubuh beratmu itu." Karin merasa bersalah.
"Maaf."
"Mau bagaimana lagi. Kau terluka kan karena aku."
"Bukan untuk itu."
"Maksudmu?"
"Karena membohongimu." Karin menundukkan kepalanya.
"Membohongi?" tanya Neji terheran.
"Aku sudah sembuh."
"Apa?" Neji menatap tak percaya pada Karin.
"Aku sudah sembuh. Aku sudah bisa berjalan. Maaf."
Neji tidak menyahut. Ia menyalakan mobil dan dengan meninggalkan parkiran Universitas Konoha dengan wajah yang tak bisa di jelaskan.
Sesampainya di rumah, Neji langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Karin yang menyusulnya dengan wajah penuh rasa bersalah. Ia mengikuti Neji sampai ke kamar pria itu. Terlihat Neji sedang duduk di ranjangnya dengan tangan yang memijat pelipisnya.
"Aku minta maaf, oke?"
"Bisa kau keluar?" suara dingin Neji.
"Kau marah dan mengurung diri dikamar layaknya anak kecil yang merajuk?"
"Aku pusing dan lelah. Jadi keluarlah, Karin. Sekarang!" Neji membentak Karin.
"Aku hanya tidak mau kau menyuruhku seenaknya seperti aku seorang pembantu! Aku lelah! Karena itu aku membohongimu! Aku sudah tidak tahan kau perlakukan seperti budak, brengsek!"
Neji berdiri.
"Seenaknya? Kau tahu kenapa aku melakukannya? Untuk mengubah sikapmu yang seenaknya! Keluar malam, berpakaian minim, merokok, mabuk-mabukan! Kau mahasiswa atau perempuan murahan?!"
"Jaga mulutmu, Hyuuga!"
"Apa kau tahu betapa stressnya Naruto karena memikirkan tingkahmu?!" Karin terdiam mendengar nama kakaknya.
"Aku tidak akan menyuruhmu seenaknya kalau saja kau memikirkan perasaan Naruto. Dia merasa kalau semua perilakumu adalah kesalahannya. Dia merasa telah menjadi kakak yang gagal! "
Karin menangis. Air matanya turun dengan derasnya saat Neji menyinggung soal Naruto.
"Padahal di sana dia sedang bekerja keras! Saat orang tua kalian meninggal, dia menanggung semua beban sendirian. Dia mengurus perusahaan sambil kuliah. Tidakkah kau tahu kalau semuanya itu menguras tenaga dan otak?! Belum lagi ia harus memikirkan adik kesayangannya yang di tinggalkan sendirian dirumah."
"Apa kau pernah berinisiatif meneleponnya? Memberinya semangat karena sudah bekerja keras disana?"
Karin makin terisak.
"Tapi apa yang kau lakukan disini?! Kau malah mengecewakannya! Melampiaskan kekesalanmu pada Naruto yang tak pernah mengunjungimu. Padahal di sana Naruto sedang bekerja keras untukmu. Dan saat Naruto menyuruh seseorang untuk mengubah tingkah lakumu, kau malah mempermainkannya!"
Neji keluar dari kamarnya. Meninggalkan Karin yang langsung jatuh meluruh ke lantai. Menangis sejadi-jadinya sambil menggumamkan maaf pada kakaknya. Semakin menangis saat mendengar suara deru mobil yang menjauh. Neji meninggalkannya.
.
.
.
Hari beranjak malam saat Neji kembali ke kediaman Uzumaki. Belum ada lampu yang dinyalakan. Rumah besar itu gelap gulita. Apa Karin juga pergi? Neji membatin. Kemudian Neji masuk ke dalam rumah dan menyalakan semua lampu. Kemudian ia memasuki kamar tamu alias kamarnya tempat ia terakhir meninggalkan Karin. Namun gadis itu tidak ada. Lalu ia menaiki tangga menuju lantai dua, ke kamar Karin. Kamar itu terkunci dari dalam. Berarti Karin memang ada di sana.
Neji kemudian mengambil ponsel di sakunya dan menghubungi gadis itu. Ponsel Karin berbunyi dari dalam, tapi Karin tidak mengangkat.
"Karin, buka pintunya." Neji berseru sambil mengetuk pintu. Tidak ada jawaban.
'Apa dia tertidur?' ujar Neji dalam hati.
"Karin!" serunya lebih keras. Masih tidak ada jawaban. Merasa tidak ada pilihan lain, Neji kembali ke kamarnya. Mengambil kunci cadangan semua ruangan dari dalam laci dan kembali ke kamar Karin.
Neji membuka pintu dan masuk ke kamar itu. Ia mencari keberadaan Karin hingga ia menemukan gadis itu duduk dambil memeluk lututnya di lantai di samping tempat tidur. Karin masih memakai pakaiannya siang tadi namun sudah melepas kaca matanya. Mata gadis itu bengkak, pandangannya kosong.
Neji mendekat hingga berjarak dua langkah dari Karin. Pria itu berdiri sambil melipat tangannya di dada.
"Jadi sekarang, kau yang mengurung diri dikamar seperti anak kecil yang merajuk?" tanya Neji dengan nada menyindir. Karin tidak menjawab.
"Atau... kau sudah menyadari kesalahanmu?"
Kalimat itu membuat Karin menatap keatas— menatap Neji. Matanya kembali berair. Kemudian kembali terisak. Neji kemudian semakin mendekat dan menyamakan tingginya dengan Karin. Menarik dagu gadis itu supaya menatapnya.
"Aku hanya ingin kau tahu posisi Naruto. Perasaannya, perjuangannya. Kalau kata-kataku terlalu kasar, maaf." Neji kemudian kaget saat Karin memeluknya, tubunya sampai condong ke arah gadis itu.
"Aku yang salah! Aku yang tak tahu diri. Maafkan aku... hiks... aku menelepon nii-san, hiks.. tapi tidak bisa... tidak aktif...hiks... Dia pasti benci padaku!" Karin terisak. Neji membalas pelukan gadis itu. Mengelus punggungnya menenangkan.
"Ssst! Tenanglah... Dia tidak mungkin membencimu."
"Tapi... tapi dia tidak bisa dihubungi..." Karin masih terisak.
"Dia memang sedang tidak bisa dihubungi." Kini tangan Neji mengelus rambut Karin.
"Kenapa?" Karin melepaskan pelukannya dan menatap Neji.
"Kau akan tahu jawabannya besok."
"Hn?" Neji kemudian berdiri. Mengambil kotak tisu di nakas dan memberikannya pada Karin
"Sekarang hapus air mata dan hingusmu. Kau jelek sekali."
Karin menarik kasar kotak itu dan mengambil tisu dan membereskan wajahnya yang kacau.
"Mandilah kemudian turun. Aku akan memasak makan malam." Neji mengacak rambut Karin yang masih terduduk, kemudian keluar dari ruangan.
.
.
.
Neji sedang menata makanan di meja saat Karin menghampirinya. Gadis itu sudah mengenakan piyama dan tidak mengenakan kaca matanya. Ia kemudian mendudukkan dirinya di bangku yang biasa. Semangkuk nasi dengan sup miso serta ikan goreng sudah terhidang di depannya. Neji kembali dengan dua buah gelas dan meletakkan satu di depan Karin dan juga di depannya.
Karin berinisiatif mengisi air minum dari teko kaca di tengah-tengah meja. Setelah selesai, keduanya makan dengan tenang. Neji tidak bersuara sehingga Karin pun ikut diam. Selesai makan Karin membantu Neji membereskan meja. Saat Karin mengambil spons untuk mencuci piring, Neji mencegahnya.
"Duduklah. Akutidak mau membereskan kalau ada sesuatu yang pecah." Karin mengerucutkan bibirnya kemudian duduk di kursinya tadi.
Neji terlihat serius saat mencuci piring. Sepertinya sudah bisa melakukan segala pekerjaan rumah tangga. Apa mungkin Neji sebenarnya seorang pembantu? Karin menggeleng tak percaya pada pemikirannya. Mana mungkin seorang Neji yang reputasinya di kampus sudah Karin ketahui adalah seorang pembantu.
"Neji-san," panggilnya.
"Hn?"
"Sebelum menjadi mentorku, apa pekerjaanmu?" tanya Karin.
"Kenapa kau mau tahu?"
"Aku penasaran."
"Alasanmu belum cukup kuat untukku memberitahumu."
"Kau hanya tinggal menjawab, Neji-san."
"Bagaimana kalau aku tidak mau menjawab?"
"Terserah! Aku tidak peduli!" sorak Karin.
Neji selesai dengan pekerjaannya dan duduk di tempatnya.
"Kau tidak ada tugas?"
"Tidak ada."
"Sebaiknya kau kembali ke kamarmu."
"Aku baru makan dan kau sudah menyuruhku tidur? Itu tidak sehat tahu. Kenapa tidak kau saja yang tidur ke kamarmu?"
"Terserah kau saja." Neji beranjak dan berjalan menuju pintu belakang. Karin hanya menatapnya sampai pria itu keluar dari pintu belakang. Karin kemudian mengikuti langkah pria itu keluar dan ia menemukan Neji di halaman belakang di bawah sebuah pohon sakura yang tidak berbunga. Pria itu sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon. Karin tidak bisa mendengar dengan jelas. Namun Karin bisa menangkap ini adalah pembicaraan serius.
Sayup sayup Karin mendengar kata- kata tentang di tunda, bulan depan dan Neji yang meminta dengan sangat supaya acara... acara apa? Karin tidak bisa mendengar lebih jelas lagi karena pembicaraan itu berakhir. Neji berbalik dan mendapati Karin sedeang memandangnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Neji dengan suara yang di keraskan. Karin menjadi gugup saat Neji mendekat.
"A-aku.. tidak ada. Aku hanya ingin mengajakmu menonton film!" Karin akhirnya menemukan alasan.
"Film?" Karin mengangguk cepat. Neji masih memandang curiga padanya.
"Mau tidak?" tanya Karin.
"Boleh."
Neji mendahului Karin menuju ruang bersantai sekaligus ruang menonton. Karin menyalakan televisi dan mengambil kotak tempat kaset film miliknya dan kakaknya.
"Kau mau nonton film apa?" tanya Karin.
"Apapun kecuali romance." sahut Neji.
"Neji-san."
"Hn?"
"Kau kan ahli urusan dapur. Bagaimana kalau kau mengambil snack?"
Tanpa menjawab, Neji pergi ke dapur. Tak lama kemudian ia kembali dengan minuman bersoda dan keripik kentang yang sudah di pindahkan ke dalam mangkuk. Karin sudah siap duduk di bawah dengan bersandar pada sofa. Neji mendudukkan diri di sofa di dekat Karin. Film Letters to Juliet pun dimulai. Neji langsung berdecak kesal.
"Sudah ku bilang apapun asal jangan romance."
"Benarkah? Yang ku dengar apapun yang penting romance."
"Kau ini. Ganti."
"Jangan! Dulu ini film favoritku. Aku sudah rindu menontonnya. Ya? Ya?" Neji pun menghela nafas.
"Terserah."
"Yeah!"
Film baru berjalan dua puluh menit, namun Karin sudah tertidur. Neji tahu saat merasakan sesuatu bersandar di kakinya. Pria itu menggelengkan kepalanya.
"Film favorit apanya?" Neji mengangkat Karin dan membawanya ke kamarnya. Dengan perlahan, ia membaringkan gadis itu dan menyelimutinya. Ia menatap wajah Karin. Mata gadis itu masih bengkak walaupun tidak separah tadi siang. Neji membelai pipi Karin dengan lembut.
"Gadis menyusahkan ini," ujar Neji. Kemudian Neji mengecup lembut kening Karin sebelum beranjak dari sana.
Pintu tertutup dan Karin langsung bangkit. Duduk di tempat tidur sambil memegangi wajahnya. Sebenarnya tadi ia hanya ingin mengerjai Neji. Membuat pria itu menggendongnya sampai ke kamar kemudian menertawakan pria itu. Tapi ini apa? Neji malah membelai lembut pipinya dan mengecup keningnya. Wajah Karin memerah. Kemudian gadis itu memegang dada kirinya. Jantungnya berdetak terlalu kencang. Lalu kemudian senyum terukir di wajahnya, gadis itu langsung menggulung dirinya di dalam selimut.
.
.
.
Pahi harinya, Karin merasakan panasnya sinar matahari di wajahnya ketika seseorang membuka gorden jendera kamarnya. Oh Tuhan, apa Neji kembali akan menyiksanya? Ia kemudian bangun dan menatap pria kini berdiri tepat di depannya. Wajah ngantuknya berubah menjadi wajah kaget saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Ia langsung melompat dari tempat tidurnya dan menerjang orang itu dengan pelukan, melingkarkan kakinya ke pinggang orang itu.
"NII-SAN!" soraknya.
"Wow! Hei, dear. Aku merindukanmu."
"Aku juga." Karin turun dari pelukan atau lebih tepat gendongan kakaknya. Menatap wajah Naruto kemudian memeluknya lagi. Lebih erat.
"Nii-san aku mencintaimu!" Naruto membalas pelukan erat Karin
"Aku tahu."
"Bagaimana kabarmu, hm?" Naruto melepas pelukannya dan mengelus rambut Karin.
"Aku baik. Nii-san bagaimana?" tanya Karin.
"Aku baik. Mandilah, kita sarapan di bawah." Saat Naruto akan berbalik, Karin menahan tangan pria itu.
"Aku minta maaf kalau selama ini aku menyusahkanmu, nii-san. Mengecewakanmu dan membuatmu pusing." Karin menunduk.
"Kau tidak, Karin." Karin kemudian mengambil kedua tangan Naruto dan menggenggamnya.
"Aku berjanji aku akan menjadi gadis baik. Gadis paling baik yang pernah nii-san kenal. Aku akan menyelesaikan kuliahku dengan cepat dan aku akan membantu nii-san di perusahaan." Kini Karin menatap kakaknya dengan pandangan berapi-api.
"Terimakasih." Naruto mengecup kening adiknya itu dengan sayang.
"Aku akan mandi sekarang." Naruto mengangguk.
Naruto turun dan mendapati Neji yang sedang meminum kopi. Seorang pelayan terlihat memasak sesuatu di kompor. Naruto menghampiri Neji dan duduk di sana.
"Terimakasih, Neji. Kau sudah berhasil mengubah adikku."
"Tak masalah, Naruto. Semua itu tidak sebanding dengan apa yang sudah kau berikan padaku. Kau sudah membantuku dan keluargaku."
"Kita ini sahabat, Neji. Sudah seharusnya aku membantu." Naruto meminum kopi yang dituangkan pelayan padanya.
"Tapi kau mengorbankan perusahaan ayahmu. Uzumaki Corp milik ayahmu sudah hilang berganti menjadi Hyuuga Corp. Kau pikir aku tidak terbebani dengan itu?"
"Yang penting kau tetap menjaganya hingga sekarang, kan? Aku tak masalah. Aku sibuk dengan perusahaan ayah di luar negeri, tidak mungkin aku bolak-balik untuk mengurus yang di Jepang kan?"
"Tapi tetap saja."
"Santai saja, Neji."
"Naruto dengar. Bahkan kalau kau meminta nyawaku, akan ku berikan."
"Wow wow. Kau demam? Jangan berlebihan, Neji. Kau pikir apa gunanya sahabat?"
Para pelayan kemudian menghidangkan sarapan di depan mereka. Segelas susu di letakkan di kursi Karin. Karin muncul dengan wajah terperangah. Ia memeluk dari belakang pelayang yang sedang menghidangkan makanan.
"Aiko-san aku rindu!" Si pelayan salah tingkah.
"Saya juga, nona." Neji dan Naruto menggeleng-gelengkan kepala. Karin kemudian duduk dan menatap canggung pada Neji. Ketiganya mulai makan.
"Kau tidak ada jadwal hari ini?" tanya Naruto.
"Tidak ada, nii-san. Ini kan hari Sabtu."
"Mau jalan-jalan denganku?" tanya Naruto. Wajah Karin berbinar senang. Ia mengangguk antusias.
"Mau!"
Naruto tersenyum.
"Neji-san ikut?" tanya Karin.
"Tidak. Aku ada acara hari ini." Wajah Karin langsung kecewa. Ia melanjutkan makannya.
Selesai makan, Neji langsung pamit. Karin memandang kepergian Neji dengan sedih dari jendela kamarnya. Ia sedang bersiap untuk jalan-jalan dengan kakaknya. Tak lama kemudian Karin keluar dari kamarnya. Naruto sudah menunggu di bawah. Terlihat pria itu sedang mengikat tali sepatunya. Karin menatap kagum pada kakaknya. Naruto yang selalu memakai setelan resmi terlihat menawan dengan pakaian casualnya.
"Kau sudah selesai?" Karin mengangguk semangat.
"Ayo." Karin mengikuti Naruto. Hari ini setelah sekian lama, ia akhirnya bisa jalan-jalan dengan kakaknya. Satu-satunya keluarganya, kakak sekaligus orang tuanya. Ia ingin tertawa sekaligus menangis saat ini. Ia bersumpah dalam hati akan membuat kakaknya bangga dan bahagia.
.
.
.
Naruto dan Karin berjalan-jalan ke taman bermain. Mengenang masa lalu mereka bersama ayah dan ibu mereka. Tempat favorit keluarga bila libur akhir pekan tiba. Mereka menaiki wahana yang dulu mereka naiki. Tidak peduli wahana itu hanya untuk anak kecil. Keduanya tertawa bahagia.
Setelah makan siang di kafe yang ada di sana, Naruto dan Karin memutuskan menaiki sepeda air. Menikmati danau tenang yang indah dengan sepeda air.
"Oh ya, nii-san. Ada yang ingin aku tanyakan."
"Tanyakan saja," sahut Naruto.
"Hyuuga Neji. Siapa dia sebenarnya? Kenapa nii-san menyuruhnya untuk menjadi mentorku?" tanya Karin. Ia menatap Naruto yang sepertinya masih betah memandang ke arah danau.
"Neji itu sahabatku. Kami dari SMA yang berbeda memang, tapi kami sahabat baik. Aku memintanya untuk mengawasimu karena dia adalah orang paling disiplin yang pernah ku kenal. Keluarganya adalah Hyuuga. Keluarga kolot dengan kedisiplinan tingkat dewa. Dia juga jenius dan ahli dalam semuanya. Aku rasa dia tidak punya kekurangan." Naruto menerangkan.
"Apa pekerjaannya sebelum jadi mentorku?"
"Sama sepertiku."
"APA?"
"Dia juga mengurusi perusahaan keluarganya." Naruto tersenyum melihat wajah terkejut adiknya.
"Tapi aku tidak pernah melihatnya bekerja atau memeriksa dokumen atau apalah seperti yang nii-san lakukan."
"Dia kan baru jadi mentormu selama seminggu. Kau lihat tadi dia pergi kan? Mungkin dia ke perusahaannya. Dia hanya mengontol perusahaannya. Untuk dokumen, dia memeriksanya seminggu sekali."
Karin akhirnya mengerti walaupun sepertinya masih kurang percaya.
"Aku senang dia berhasil merubahmu dalam seminggu." Naruto mengambil sebelah tangan Karin dan menggenggamnya.
"Ya. Dia berhasil. Tapi dia menyiksaku, nii-san!" Naruto terkekeh.
"Mungkin itu metodenya? Yang penting yang kulihat sekarang adalah adikku yang sebenarnya. Karin kesayanganku." Karin tersenyum.
"Sudah sore. Kita makan malam dimana?" tanya Naruto.
"Terserah nii-san saja." Naruto menganggu dan mengajak adiknya untuk beranjak dari tempat itu.
Kini mereka berada di sebuah restoran mewah ditengah kota. Setelah pulang dan mengganti baju, mereka menuju restoran ini u tuk makan malam. Baru saja mereka mendudukka diri, Naruto tiba-tiba melambai ke arah pintu masuk. Karin yang posisinya membelakangi pintu masuk langsung berbalik. Ia memandang tak percaya pada siapa yang datang. Hyuuga Neji dengan seorang wanita cantik berambut pirang menggandeng tangannya. Si wanita tersenyum pada Naruto dan Neji hanya mengangguk kecil.
"Tidak apa-apa kan kalau Neji bergabung?" tanya Naruto pada Karin.
"Y-ya. Neji... datang dengan siapa?"
"Oh. Dia Sion, calon istri Neji." jawab Naruto tanpa menyadari perubahan raut wajah adiknya.
"A-apa?"
"Ya, mereka akan segera menikah. Sebenarnya pernikahan mereka diadakan seminggu lagi, tapi Neji meminta keluarganya untuk menundanya sebulan lagi. Mereka bla bla bla..."
Dan Karin pun tidak lagi mendengarkan penjelasan kakaknya dikarenakan cubitan aneh namun menyakitkan di hatinya. Apalagi saat pasangan itu semakin mendekat.
'Tunggu, aku kenapa? Kenapa tiba-tiba hatiku sakit? Kenapa tiba-tiba mataku panas?'
Karin pun hanya menundukkan kepalanya sampai ia merasakan Neji duduk di sampingnya diikuti oleh wanita cantik itu.
.
.
.
Haloooooo... Setelah sekian lama! Maaf atas keterlambatan updatenya, minna!
Selamat Hari Raya Idul Fitri buat yang merayakannya ya...! ^_^
Maafin yana lahir batin ya!
Yana.
.
.
.
.
