Jadi ini akhirnya?
Apa kau ingin membuatku mati karenamu?
.
.
Jin x Taehyung | Boy's Love | two shoot | OC and other members appear
Do not plagiarize
.
Enjoy!
.
.
Taehyung merebahkan tubuhnya, setelah melepas jaketnya dan melemparkannya begitu saja di sekitar kamarnya. Ia meraih ponselnya, dan matanya bergerak mencari nama seseorang.
Setelah menemukannya, ia segera saja menghubungi orang itu. Ia harus menunggu beberapa saat, sebelum sebuah sapaan terdengar di seberang sana.
"Ada apa, Taehyung-ah?"
"Yeri-ya…Ini tentang aku, Seokjin-Hyung, dan Jungkook."
.
.
"Baiklah, besok pagi aku akan datang ke rumahmu."
"Ne. Terimakasih Yeri. Selamat malam. Maaf sudah menganggu."
"Ne. Selamat malam. Ya, tidak apa-apa. Semoga mimpi indah."
Taehyung merebahkan tubuhnya. Matanya menatap langit-langit kamarnya yang ditempeli oleh stiker-stiker itu dengan senyum tipis yang terkembang di bibirnya.
"Aku tidak sabar." Gumamnya pelan, sebelum jatuh terlelap dalam tidurnya.
.
.
.
Yeri menuruni anak tangga rumahnya yang besar dan mewah itu dengan langkah yang cepat. Ia sudah berdandan rapi dengan pakaian santainya yang selalu terlalu fashionable, dan menarik. Seokjin menoleh ke arah suara kaki-kaki yang melangkah dengan begitu cepat itu.
"Kau mau kemana?"
"Ada urusan sebentar!" jawab Yeri sedikit berteriak, setelah meminum susu yang diantarkan salah satu pelayan yang ada di rumahnya, ketika ia sudah mencapai lantai bawah.
"Tidak sarapan lebih dulu?" tanya Seokjin lagi. "Bagaimana jika kau sakit, huh?"
Yeri memutar bola matanya malas. Umurnya sudah sembilan belas tahun, dan ia masih diperlakukan seperti ini oleh kakaknya itu. Ia menghampiri Seokjin, dan memeluk leher kakaknya itu dari belakang. Mengecup pipi kanan Seokjin.
"Aku akan sibuk satu hari ini, Oppa. Dan aku akan sarapan bersama temanku nanti. Oh ya, semalam Jungkook menghubungiku, ia bilang hari ini ia akan datang ke rumah."
Seokjin yang sebelumnya sedang meneguk susu miliknya, kini tersedak. Yeri membantu dengan menepuk-nepuk tengkuk Seokjin. "Uhuk! Uhuk!" Seokjin mengambil nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya. "Untuk apa ia datang kesini?"
"Entahlah, ia bilang hanya ingin bertemu denganmu. Lagipula, Oppa tidak ingat jika hari ini semuanya aku liburkan? Kau tidak ada pekerjaan, bukan?"
"Y—Ya."
"Jadi, lebih baik temani saja dia bermain disini. Lagipula, sepertinya kalian berdua tidak canggung lagi. Ingat, dia itu salah satu model terbaikku. Baiklah, aku pergi dulu."
Yeri segera melangkah dengan cepat, meninggalkan Seokjin yang duduk diam sendirian menatap makanan yang menjadi menu sarapannya, dan segelas susu yang sudah habis hingga pertengahan gelas besar itu.
Seokjin ingat dengan perkataan adiknya beberapa hari yang lalu, saat mereka sedang berdua saja di dalam kamar Seokjin.
"Oppa, jika Taehyung tidak juga mengingatmu, mengapa kau terus memaksa agar ia dapat mengingatmu? Mungkin saja, kau memang tidak ditakdirkan untuknya. Bagaimana dengan Jungkook? Kulihat kalian kembali semakin dekat. Apa kau tidak berpikir untuk meninggalkan saja Taehyung dan kembali memeluk Jungkook?"
Ia membenturkan kepalanya ke atas meja makan, dan membuat gelas berisi susu yang ada di dekat tangannya jatuh dan menumpahkan isinya ke lantai. Ia tidak mengerti dengan perkataan adik perempuannya itu. Sebelumnya, ia diminta agar terus percaya jika Taehyung akan mengingat dirinya, namun, setelah itu, ia disarankan untuk kembali pada Jungkook.
"Sial!" teriaknya frustasi.
.
.
.
Yeri mengeluarkan ponselnya dari dalam tas mahal miliknya. Ia mencoba untuk menghubungi seseorang. Tidak butuh waktu yang terlalu lama untuk mendengar suara sapaan di seberang sana.
"Nuna? Ada apa?"
"Kau tidak lupa bukan?"
"Ah! Tidak, tentu saja tidak."
"Baiklah, tiga hari lagi oke?"
"Ne, Nuna."
Yeri menunjukkan seringai di wajahnya setelah menutup panggilan dua arah tersebut.
.
.
Seokjin sedang menikmati waktu senggangnya, dengan membaca tentang artikel tentang kesehatan ketika seseorang menyapanya dan ikut duduk di pinggir kolam renang di sebelah dirinya.
"Hai, Hyung."
"Hai."
Seokjin tidak begitu terkejut sebenarnya dengan kedatangan Jungkook ke rumahnya. Terlebih, Yeri sudah memberitahukannya lebih dulu. Hanya saja, pikirannya masih kalut dengan seseorang bernama Kim Taehyung.
Selama beberapa belas menit, keduanya hanya diam dalam atmosfer yang tiba-tiba saja begitu canggung. Jungkook berdeham kecil, dan berhasil mendapatkan perhatian dari dua bola mata Seokjin.
"Hyung, ada apa?"
"Ada apa?" ulang Seokjin.
"Kau mengabaikanku." Rengek Jungkook. Lelaki itu menunjukkan ekspresi wajah yang begitu menggemaskan di mata Seokjin, dan berhasil membuat lelaki yang lebih tua terkekeh pelan. "Ada apa lagi? Setelah kau mengabaikanku, kini kau mentertawakanku?"
Seokjin menghentikan tawanya. Tangannya mengusak rambut hitam Jungkook. Membiarkan wangi apel menguar dari surai lembut itu ke indera penciumannya. Wangi yang sama, dan tidak pernah berubah.
"Kau berbeda, Hyung."
"Benarkah?" Seokjin meneliti seluruh tubuhnya.
Jungkook menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bukan, bukan. Bukan fisik yang ku maksud. Tapi sifatmu yang berubah."
"Sepertinya tidak."
"Apa itu karena pengaruh dari kita yang sudah cukup lama tidak berhubungan? Sudah berapa lama, ya?" Jungkook menunjukkan wajah berpikirnya. "Ah, mungkin sudah lebih dari lima tahun ya, Hyung?" lelaki itu memberikan ekspresi wajah yang begitu sedih. Senyumnya ia kembangkan dengan begitu terpaksa.
Kedua bola mata Seokjin membulat mendapatkan ekspresi wajah Jungkook seperti itu. Ekspresi wajah yang sama, ketika mereka memutuskan untuk tidak lagi berpacaran.
"Maaf." Seokjin menundukkan kepalanya. Ia hanya diam, dan pikirannya bercabang entah kemana. Menyibukkan dirinya dengan memainkan kakinya yang berada di dalam kolam renang.
Jungkook meraih tangan Seokjin, dan mengenggamnya pelan. "Hyung, aku masih mencintaimu."
.
.
.
Seokjin butuh Taehyung saat ini juga! Ia tidak peduli jika lelaki itu masih marah atau tidak padanya. Namun, hanya biarkan ia mendengar suara lelaki itu mengucap sapaan atau memakinya. Apapun itu, ia membutuhkan Taehyung walaupun dalam bentuk suara. Ia tidak mengerti dirinya sendiri, mengapa ia begitu takut saat ini juga.
Jantung berdegup seperti biasa. Begitu cepat. Terlebih, dengan sesuatu yang kini semakin merumitkan dirinya.
"Ye—Yeoboseyo, Taehyung-ah."
Suara Seokjin begitu bergetar ketika telepon darinya diangkat oleh seseorang yang begitu sangat ia cintai itu, dan bahkan hampir membuatnya gila.
"Ne, Seokjin-Hyung? Ada apa?"
Seokjin tanpa sadar sudah menunjukkan senyum miliknya, saat mendengar suara Taehyung yang begitu lembut di pendengarannya.
"Aku merindukanmu."
"Apa?"
"Aku menyayangimu."
"Hyung?"
"Aku…Mencintaimu. Sangat. Kim Taehyung."
Pip!
Dan Seokjin memutuskan sambungan telepon itu dengan cepat. Ia melemparkan tubuhnya ke atas ranjang besarnya. Ia memukuli kepalanya sendiri, dan tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sendiri. Dadanya terlalu berdegup kencang, bahkan ia dapat mendengar suara degup jantungnya sendiri.
Matanya melirik kalender kecil yang ada di meja nakas di sebelah ranjang miliknya. Tanggal 24. Dan itu tiga hari lagi. Tanggal yang benar-benar spesial bagi seorang Kim Seokjin. "Kim Taehyung…" lirihnya. Matanya menatap begitu nanar tanggal yang sudah ia lingkari itu. Hal yang selalu ia lakukan di setiap kalender.
Matanya kembali melelehkan air mata. Ia tertawa, dan mengusap matanya dengan kasar. "Mengapa aku begitu bodoh?" tanyanya pada dirinya sendiri.
.
.
.
Matahari begitu bersinar terik di pertengahan bulan Juni, dimana musim panas sedang berlangsung. Seokjin melangkah masuk, dan mendapat sapaan dari beberapa pegawai yang bekerja di perusahaan fashion milik adiknya itu.
Kakinya melangkah menuju lift, dan mengantarkan dirinya ke lantai lima, dimana biasa ia melakukan pemotretan. Sesaat setelah sampai di lantai lima, ia segera mengedarkan pandangan matanya. Dan mendapati adiknya sudah berdiri di dekat sofa yang ada untuk tempat duduk para staff.
"Yeri-ya. Hari ini siapa yang akan ku potret?" tanya Seokjin. Ia benar-benar tidak tahu siapa yang akan dipotretnya.
Yeri menatapnya dengan pandangan aneh. "Kemarin bukankah sudah kuberitahu?"
"Ah, begitukah?"
"Kau sakit?
Seokjin menggelengkan kepalanya. "Tidak. Mungkin, aku tidak mendengarkanku mu kemarin. Maaf."
"Ya. Tidak apa-apa. Seharusnya Taehyung yang dipotret hari ini. Namun, tiba-tiba saja dini hari tadi ia menghubungiku dan mengatakan padaku jika ia tidak bisa datang hari ini. Jadi, kau akan memotret model wanitanya dulu. Hari ini hanya Geum Hee yang akan kau potret." Jelas Yeri.
Seokjin mengangguk mengerti, dan duduk di sofa yang ada disana. Mulai menyiapkan kamera miliknya yang sebelumnya sudah ada di atas meja di depan sofa. Yeri ikut mendudukkan dirinya di sebelah Seokjin.
"Kau sedang memikirkan sesuatu?"
Pergerakan tangan Seokjin yang sedang menyiapkan kameranya itu, terhenti sejenak. Ia menggelengkan kepalanya, dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Hari ini. Bukankah hari ini tepat hari jadi kalian berdua yang keempat tahun?"
Pertanyaan Yeri, membuat Seokjin menatapnya. Lelaki itu menatap Yeri begitu dalam, dan menyiratkan kesedihan, kekecewaan, kemarahan, dan semua perasaan emosi yang begitu tercampur di dalamnya.
"Kau tahu?" ucapnya, air mata Seokjin mulai mengalir perlahan menyusuri pipinya. "Ini sudah keempat tahun kami bersama." Ia mengusap matanya, namun usahanya gagal untuk menghilangkan jejak air mata itu. "Dan ini sudah hampir empat bulan aku berjuang untuk kembali memulihkan ingatannya tentang hubungan kami berdua. Karena apa? Karena aku begitu mencintainya. Dan sampai saat ini, semuanya terasa begitu percuma dan terbuang sia-sia begitu saja. Ini begitu menyakitkan bagiku." Ia tidak peduli dengan suasana di sekitarnya. Ia memeluk adik perempuannya itu, dan menyembunyikan wajahnya di pundak adiknya. "Apa semua akan berakhir seperti ini saja? Bukankah jika seperti ini Tuhan tidak adil?"
Yeri mengusap dengan lembut surai milik Seokjin. "Oppa, apa kau sudah tahu jika semua ini memang menjadi garis akhir dari semua perjuanganmu untuk Taehyung?"
"Bahkan ia tidak mengingat hari ini, Yeri-ya."
"Seharusnya kau mengingatkannya."
"Percuma. Karena ia tidak mengingat apapun. Sedikitpun."
.
.
.
Seokjin melangkah masuk ke dalam kamarnya dengan langkah gontai. Empat orang pelayan, menyambutnya. Dia lelah hari ini, dan yang ia butuhkan hanyalah tidur dan membiarkan semua beban pikirannya pergi. Jika itu bisa.
Ia terhenti di tengah langkahnya ketika menaiki anak tangga menuju lantai atas. Matanya memanas, ketika seharusnya di tanggal 24 di bulan Juni di musim panas yang begitu indah dan menyenangkan, mereka menyambut hari jadi mereka. Seokjin mulai ingin menangis kembali. Ia menggelengkan kepalanya pelan, dan mengusap air matanya saat mulai menetes.
Tangannya mendorong pintu kamarnya. "Bahkan aku dapat mencium wangi tubuhnya." lirih Seokjin. Ia memang mencium aroma lembut vanila yang selalu ia dapati saat memeluk tubuh Taehyung.
"Hyung…"
"Bahkan aku dapat mendengar suaranya."
"Seokjin-Hyung,"
"Sial! Mengapa suaranya terasa begitu—Taehyung?!" Seokjin memekik. Benar-benar terkejut dengan kehadiran sosok Taehyung di hadapannya. Duduk di pinggir ranjang, dan menggunakan kaus berwarna biru yang kebesaran di tubuh Taehyung. Kaus yang sengaja Seokjin belikan dan pilihkan untuk kekasihnya itu, karena ia suka sekali melihat tubuh Taehyung yang tenggelam dalam balutan pakaian.
"Kenapa kau lama sekali?" Taehyung merajuk.
Seokjin hanya mengerjapkan matanya beberapa kali. Memastikan jika ia tidak mimpi. Ia tertawa. "Pa—Pasti aku sedang bermimpi! Iya! Hahahaha. Pasti aku sedang bermimpi!" Seokjin tertawa hambar, dan bahkan menampar pipinya sendiri.
Taehyung berdiri dari duduknya, dan menghampiri Seokjin. "Seokjin-Hyung! Hentikan!" bentak Taehyung.
"Kau hanya sebuah ilusi. Taehyung hilang ingatan. Taehyung bahkan tidak mengingat diriku."
Taehyung memajukan tubuhnya, dan kini tubuh mereka saling menempel satu sama lain. Taehyung melingkarkan lengannya pada leher Seokjin. Menarik turun leher itu, agar dapat mendekat ke wajahnya.
"Saranghae, Seokjin-Hyung." Ucap Taehyung lembut, di depan bibir Seokjin sebelum mencium bibir lelaki itu.
Mata Seokjin menatap wajah Taehyung yang sedang menciumnya. Taehyung memutuskan ciuman mereka lebih dulu. Matanya mengerjap lucu, dan begitu serius menatap mata Seokjin. "Kau…Sudah mengingatku?" tanya Seokjin dengan pandangan tidak mengerti.
Taehyung terkikik kecil. Ia berjinjit kecil, kembali menarik tengkuk Seokjin untuk mengecup bibir kekasihnya itu lagi. Taehyung menarik pergelangan tangan Seokjin, dan keduanya keluar dari kamar mewah lelaki itu.
"Lihat ke bawah." Ucap Taehyung.
Seokjin menatap lantai bawah rumahnya, begitu ramai dengan semua orang-orang yang sudah sangat ia kenal. Dan paling depan berdiri adiknya, Yeri. Matanya semakin membulat, dan memberikan ekspresi wajah yang semakin tidak mengerti ketika mendapati seseorang yang berdiri di sebelah Yeri. Jeon Jungkook.
"Hai, Hyung!" sapanya dengan senyum lebarnya.
"Aku…Tidak mengerti." Seokjin menatap Taehyung dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Ayo kita turun." Taehyung kembali menarik pergelangan tangan Seokjin, agar mengikutinya menuruni anak tangga menuju lantai bawah.
Mereka berdua kini sudah berdiri di depan mungkin kurang lebih dua puluh orang. Semua orang itu membuat lingkaran, dan membiarkan Taehyung dan Seokjin berada di dalamnya. Dan semua orang yang ada disana, melemparkan kelopak-kelopak bunga mawar dalam berbagai warna ke arah dua orang itu. Membuat keduanya bermandikan kelopak-kelopak bunga cantik itu.
Taehyung mengenggam tangan Seokjin, dan meremasnya dengan lembut. "Mungkin kau bingung. Mungkin kau tidak mengerti dengan semua ini." Seokjin mengangguk cepat. "Jadi…" Taehyung menjedanya dengan sebuah tarikan nafas yang cukup panjang darinya. "Biar aku jelaskan semua ini, oke? Dengarkan semuanya."
Seokjin yang masih dalam keadaan tidak mengerti apapun, dan sibuk menerka-nerka dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi hanya mengangguk lagi.
"Hari ini, tanggal 24 Juni. Di pertengahan musim panas, adalah hari jadi kita. Kim Seokjin dan Kim Taehyung yang keempat tahun. Aku mengingatnya." Taehyung meremas tangan Seokjin. "Aku ingat, memiliki seorang kekasih bernama Kim Seokjin yang lahir pada tanggal 4 Desember, menyukai warna merah muda, pandai memasak, dan begitu peduli dengan aku, kekasihnya yang sudah resmi dilamar di restoran kesukaanku, di balkon restoran itu. Aku mengingatnya."
"Maaf kami semua sudah membohongimu selama hampir empat bulan ini, Hyung." Seokjin menatap ke sekeliling. "Aku hanya berpura-pura lupa ingatan. Aku tidak terjatuh dari tangga. Tidak. Itu tidak benar sama sekali. Aku yang merencanakannya, dan Yeri hanya membantuku." Taehyung menarik nafas pelan. "Jangan tanya kenapa. Karena, aku hanya ingin benar-benar mengetahui apa kau mencintaiku? Dan Yeri menceritakan entah sudah berapa banyak butir air mata yang keluar dari mata indah, Hyung."
Keadaan disana hening. Seokjin segera menarik tubuh mungil Taehyung masuk ke dalam rengkuhannya, dan mengecupi pucuk kepala lelaki itu dengan sayang. Tanpa sadar, Seokjin meneteskan airmatanya. "Apa ini akhirnya? Kau hampir membuatku mati. Kau hampir membuatku berada di ujung putus ada dan mengakhiri semuanya. Aku mencintaimu, Kim Taehyung."
Taehyung dan orang-orang yang ada disana menjadi merasa bersalah, karena sudah membohongi Seokjin. "Maafkan aku, Hyung."
"Tidak. Tidak apa-apa. Aku bersyukur semua ini hanya sebuah sandiwara. Aku benar-benar bersyukur."
Seokjin mengendurkan pelukannya, dan menatap wajah Taehyung. "Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu."
"Aku tahu itu, Hyung."
"Aku bahagia memilikimu."
"Begitu juga dengan aku."
Dan keduanya larut dalam ciuman hangat, untuk menyalurkan perasaan mereka masing-masing.
.
.
Jungkook berdiri di depan Seokjin dan Taehyung, bersama seseorang. Seseorang yang sepertinya pernah Seokjin lihat sebelumnya.
"Selamat untuk kalian berdua." Jungkook menyalami keduanya, dan memeluk keduanya bergantian. "Undang aku ke pernikahan kalian, nanti."
Taehyung masih menatap Jungkook dengan pandangan tidak suka, dan Jungkook dapat menangkap tatapan itu.
"Tae-Hyung, sebenarnya, Yeri Nuna mengerjaimu juga. Hanya aku, Yeri Nuna dan beberapa orang saja yang tahu jika aku sebenarnya dipanggil dengan sengaja oleh Yeri Nuna. Dia tidak memberitahumu dengan sangat sengaja, Hyung. Maaf. Aku tidak berniat merebut Seokjin-Hyung darimu."
"Apa?! Tu—tunggu dulu! Jadi, Yeri juga mengerjaiku?!" tanyanya tidak percaya. Jungkook mengangguk dengan kekehan kecilnya. "Ya Tuhan, anak itu! Jahat sekali!"
Seokjin mencubit gemas kedua pipi Taehyung hingga memerah. "Yang lebih jahat itu, kau. Membuatku hampir gila selama empat bulan." Dan Seokjin kembali mencubiti pipi gembil Taehyung.
"Hyung! Hentikan! Aku ingin berbicara dengan Jungkook!" Taehyung mencubit kecil tangan Seokjin yang ada di pipinya.
"Kau ingin bertanya apa, Hyung?"
"Maaf, sebenarnya kau ini…Kurasa kau mengerti apa maksudku."
Jungkook mengangguk kecil, dan mengamit lengan lelaki yang ada di sebelahnya. "Dulu, lima tahun yang lalu, Seokjin-Hyung adalah kekasihku. Namun, ia hanyalah sebatas kakak laki-laki bagiku. Tidak lebih. Kau tidak perlu cemburu dengan semua itu, Hyung. Perkenalkan, dia Jung Hoseok, kekasihku."
"Jung Hoseok imnida."
"Ja—Jadi…Kau sudah memiliki kekasih?"
Jungkook mengangguk. Pandangannya kini beralih pada Seokjin. "Seokjin-Hyung, apa kau benar-benar sudah tidak mengenali Hoseok-Hyung?" tanyanya.
"Ku pikir aku pernah melihatnya."
"Hyung, dia adik kelasmu. Satu kelas melukis denganmu. Dia pindah ke Jepang, satu tahun setelah aku pindah ke sana. Dan di Jepang aku bertemu dengannya."
"Tunggu dulu. Jung Hoseok, kelas melukis?" Hoseok mengangguk dengan senyum lebarnya. "Kau?!"
"Ya." Jawab Hoseok dengan tawa kecilnya.
"Kau Jung Hoseok yang dulu selalu mengirimi Jungkook surat, membuatkan Jungkook barang-barang kerajinan tangan dan juga lukisan, lalu memberikan Jungkook cokelat dan bunga?! Kau si penggemar berat Jungkook itu?" tanya Seokjin dengan tidak percaya.
"Tentu saja. Ku pikir kau tidak mengingatku sama sekali." Balas Hoseok.
"Mana mungkin aku tidak ingat denganmu, mengingat jika saat itu kau selalu menganggu hubunganku dengan Jungkook." Taehyung berdeham keras, membuat Seokjin menariknya ke dalam rengkuhannya. "Namun, sekarang aku sudah bersamanya dan benar-benar bahagia."
"Kalian akan pulang?" tanya Taehyung.
Keduanya mengangguk bersamaan. "Kami harus segera kembali ke Jepang. Orangtua kami akan membicarakan hari pertunangan kami." Ucap Hoseok, dan membuat rona samar di wajah Jungkook.
"Kalau begitu, hati-hati. Sampaikan kabar pada kami."
.
.
Keduanya kini berada di balkon kamar Seokjin. Menatap langit malam musim panas yang saat ini penuh dengan bintang-bintang. Taehyung berada dalam rengkuhan hangat seorang Kim Seokjin.
Lengan Taehyung melingkar di pinggang Seokjin. "Hyung,"
"Hmm?"
"Aku begitu beruntung mendapatkanmu."
"Tentu."
"Terimakasih sudah memperjuangkanku begitu keras, Hyung."
"Itu semua karena aku mencintaimu, Kim Taehyung."
"Apa aku sudah keterlaluan mengerjaimu, Hyung? Maafkan aku."
"Jangan terlalu sering meminta maaf. Aku sudah memaafkanmu, dan berharap semua kejadian itu tidak pernah terjadi untuk yang sebenarnya. Kau membuatku sadar, jika mencintai seseorang akan membuat orang yang begitu mencintainya akan mempertaruhkan apapun."
"Hyung…"
"Dan aku begitu mencintaimu."
"Hyung, aku juga mencintaimu."
"Aku jauh lebih mencintaimu,"
"Terimakasih, Hyung." Taehyung mendongak, membiarkan kedua bola mata mereka saling beradu satu sama lain. Saling menghisap satu sama lain. "Aku begitu beruntung mendapatkanmu."
"Aku jauh lebih beruntung karena sudah mendapatkanmu. Kau tidak sempurna, karena manusia memang tidak ada yang sempurna, namun bagiku. Dengan segala semua kekuranganmu, kelebihanmu, kelemahanmu, keburukanmu, aku mencintaimu."
Keduanya berciuman dengan hangat, dan lembut. Tanpa menuntut satu sama lain. Taehyung tahu, jika ia benar-benar beruntung. Mendapatkan seseorang yang begitu mencintainya setulus hati.
.
.
THE END
Voodoo's note :
Finally last chapter, right? Kkk~ hayo yang tebakannya salah yaudah salah aja sih gausah ngelak/apa/ untuk chapter 2C ini, voodoo mau ngucapin terimakasih sama semua yang udah fav, follow, apalagi review ff ini. Kalian yang namanya tidak dapat disebutkan satu-satu /halah/ terimakasih sudah rela membuang-buang waktu hanya untuk membaca fanfic yang feelnya ga dapet sama sekali ini, masih jauh dalam kata bagus, ending yang ga nyambung dan alurnya kecepetan-_-)/. Dan buat bundanya kookierun aka Phylindan yang sudah membuat saya semakin terjerumus, aku juga berterimakasih sama unnie yang sudah mau meluangkan waktunya buat bikin project 001 sama aku ini hahaha. Pokoknya, makasih buat semuanya! Saranghae! Tanpa kalian voodoo mungkin ga bakalan semangat. Lovelovelove!
p.s : rencana, mau bikin yang lain. Tapi voodoo udah mau ujian -_- ya, mungkin punya ide PM-PM aja lah, soal kapan jadinya bikin sabar aja wkwkwk.
Phylindan's note : saya mah gak bakat sedih-sedihan, ini cuma partisipasi 10.3% saja :v wkwk. Walaupun si voodoo nyebelinnya minta di tabok bolak-balik, tapi seneng kerjasama sama dia. Dan semoga untuk berikutnya bisa collab lagi hehehe. Saya seneng sama collab/? Oke, sekian, thank you :"D
cute voodoo and phylindan
DO YOU WANT MORE? PROJECT 002? SUPPORT US :P!
