~***~Home Sweet Home—Encore!~***~

~It's Summer Time! Episode 3~

By: Morning Eagle

Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::

Cover by Morning Eagle

Just to warn you all :: AU, OOC, Misstypos...for this story

(..)~*

*~(..)

(..)~*

"Eh? Pulang terlambat?"

"Gomen, Rukia. Aku harus mengikuti rapat dadakan untuk operasi besok siang, jadi—"

"Ahh—aku mengerti, hanya saja…Kouta dan Kotone—kau sudah berjanji pada mereka, Ichigo," ucap Rukia sedikit putus asa, pada ponsel di genggamannya—yang menekan pipi dan telinga kanannya. Jari-jari panjangnya memijit kepala yang sedikit terasa berdenyut. Karena lelah dan penat melanda.

"Aku tahu. Aku tidak akan melanggar janjiku, tapi—apakah tidak apa-apa kalau kalian pergi lebih dulu tanpaku? Aku akan segera menyusul," balas Ichigo, terdengar nada penyesalan yang tidak bisa disembunyikan oleh Ichigo. Janji untuk mengunjungi pesta kembang api, sekaligus festival musim panas di kuil yang tidak jauh dari rumah mereka. Kouta dan Kotone sudah menunggu hal ini sejak lama, menunggu untuk melihat cahaya warna-warni menghiasi gelapnya langit malam. Mereka menyukai hal itu, selain pelangi yang menghiasi langit oranye di sore hari setelah hujan. Warna, yang tidak pernah luput dari mata berbinar mereka.

"Aku berjanji," lanjut Ichigo, tidak sabar untuk menunggu suara istrinya yang sedang terdiam—berpikir. "Rukia?"

Rukia menghela napas sesaat, sambil melirik ke sekitar ruang tengah rumahnya. Kouta dan Kotone masih belum terlihat. Dia tidak perlu menahan suaranya, setidaknya aman dari jangkauan anak-anaknya. "Pakailah yukata (1) yang sudah kusiapkan, Kotone menantikan hal itu."

Ichigo tertawa kecil begitu mendengar pengakuan Rukia, menyadari sesuatu yang tidak disadari istrinya secara langsung. "Ah, begitukah? Apa ini tidak berarti dirimu?"

"Apanya?" tanya Rukia bingung, mengernyitkan dahinya.

"Kau. Kau yang menantikannya, bukan? Aku memakai yukata—"

"Apa—kau, jangan bercanda, bodoh! Menyebalkan!"

"Aku tidak akan memakainya, sampai kau yang memintanya sendiri padaku, Rukia."

"Aku sudah mengatakannya, tawake!" Rukia bergidik ngeri membayangkannya, walaupun tidak bisa disangkal akan rasa penasaran melihat Ichigo memakai yukata. Itu akan terlihat cocok dengannya, karena Ichigo selalu terlihat pas memakai pakaian apapun—disamping kelebihan dari tubuh bidangnya. "Ini tidak lucu!"

"Tapi itu terdengar manis bagiku, mungil. Tidak apa-apa, bukan? Aku suamimu, jadi tidak perlu—"

"Okaa-chan!" teriak si kembar dari kejauhan, membuat Rukia maupun Ichigo sedikit bergidik. Suara lantang anak-anak mereka mampu didengar dengan jelas, baik secara langsung walaupun perantara telepon. "Okaa-chan dimana?"

Rukia kembali menghela napas, sedikit lega karena si kembar berhasil mengambil perhatiannya pada mereka—bukan pada tingkah jahil suaminya yang dinilai terlalu kekanak-kanakan. "Kau dengar sendiri, Ichigo? Mereka memanggilku."

"Kau mengelak—lagi. Aku hanya akan menunggu ganti ruginya darimu, mungil."

"Tidak ada ganti rugi atau apapun yang kau maksud sebagai permintaan balasannya. Sudah kukatakan berapa kali padamu."

"Ada," ucap Ichigo bersikeras, sedikit menyeringai jahil. "Kau tahu itu ada, tapi kau selalu menyangkalnya dariku."

"Kaa-chan?!"

"Kau mau membuat Kouta menangis lagi?" gerutu Rukia, yang tahu kalau itu akan terjadi bila dirinya tidak segera beranjak ke tempat Kouta. Kouta selalu merasa tidak tenang, apabila Rukia tidak ada di sampingnya. Di rumah maupun tidak. Seperti Kotone pada Ichigo di pagi hari. Ya, sedikit rumit dan membingungkan.

"Kouta tidak akan menangis. Dia hanya merasa kesepian, itu saja—"

"Kaa-chan!" teriak Kouta yang mengagetkan Rukia, serta pelukan eratnya pada pinggang Rukia. Suatu hal yang tidak disadari Rukia, ataupun kelebihan yang dimiliki Kouta—mengendap tanpa suara seperti ayahnya. Terkadang mengganggu dan terkadang juga memberikan senyum pada Rukia, tergantung situasi yang ada.

"Kouta," panggil Rukia dan mengelus kepala Kouta lembut, sebelum mendapat dekapan erat kedua di samping tubuhnya. Kotone.

"Kaa-chan!" teriak Kotone, lebih melengking dan terkesan menghentak. "Ketemu!"

"Hai, Kotone. Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Rukia tersenyum lembut, mendapati napas Kotone yang tidak beraturan, seperti habis lari marathon.

Kotone melirik Kouta di sampingnya dengan tatapan jahil—seperti kode. Si kembar yang mematikan bila bisa bekerja sama. Kejahilan mereka menjadi urutan nomor satu di urutan daftar bermain mereka. "Kami bermain sembunyi dan mencari! Kau tahu, kaa-chan? Kouta bersembunyi dan aku yang mencari!"

"Tapi," lanjut Kouta antusias, menarik-narik baju ibunya. "Kami memutuskan untuk mencari okaa-chan! Kami terlalu bosan untuk bermain berdua saja, kaa-chan. Ayo bermain bersama kami!"

"Ayo ayo!" Kotone mengikuti.

"Ahh—Rukia? Hallo?" tanya Ichigo yang dihiraukan sementara oleh Rukia—atau mungkin sengaja dihiraukan. "Kau masih di sana?"

"Ah—ya, Ichigo. Kouta dan Kotone mengajakku bermain."

"Siapa itu? Siapa yang okaa-chan telepon?" tanya Kotone, menarik-narik baju ibunya, menyamai tingkah Kouta. "Siapa?"

"Siapa?" Kouta mengikuti, dengan tatapan bertanya.

Rukia mulai berjongkok dan mengarahkan ponselnya pada Kotone. "Ini otou-chan."

"Otou-chan!" teriak Kouta dan Kotone bersamaan. Kotone segera meraih ponsel di tangan Rukia, sementara Kouta beringsut mendekat pada Kotone—berusaha ikut mencuri dengar.

"Hai, Kouta, Kotone," panggil Ichigo, yang sebelumnya sempat terkejut karena suara besar mereka. Terdengar lebih besar bila berbicara di depan telepon. "Apa yang sedang kalian lakukan?"

"Nee, nee, otou-chan! Kami sedang bermain!" balas Kotone antusias, begitu mendengar suara ayahnya dari arah ponsel.

"Bermain!" Kouta mengikuti. "Bermain bersembunyi dan mencari!"

"Otou-chan bermain bersama kami!" ucap Kotone dengan mata berbinar, menatap ibu dan kakak kembarnya bergantian. Berharap mereka pun menyetujui rencana besarnya.

"Ya! Otou-chan bermain bersama kami! Bersembunyi dan mencari!" Kouta menyetujui saudara perempuannya, meraih tangan Kotone dan menggenggamnya erat. Seperti sedang berencana mereka yang mencari, sementara Ichigo yang bersembunyi. Entah apa yang sedang direncanakan oleh pikiran jahil mereka. Setengah ingin bermain dan setengah ingin menjahili.

Rukia yang melihat si kembar begitu antusias mengobrol dengan ayahnya, memutuskan untuk pergi ke lantai atas dan menyiapkan yukata untuk si kembar. Yukata musim panas yang hanya dipakai sekali dalam setahun—mungkin beberapa kali. Pink muda dan bercorak bunga sakura untuk Kotone dan biru muda bercorak bola pantai untuk Kouta. Yah—setidaknya ini bisa menjauhkannya sementara dari Ichigo—yang disibukkan dengan pembicaraan menarik si kembar.

*~(..)~*

Lampu—dimatikan. Pintu belakang—terkunci. Jendela—terkunci. Jiro—tidak masalah. Pintu depan—terkunci. Yah, daftar panjang Rukia sudah terselesaikan sempurna. Semuanya. Sebelum dia beranjak pergi ke acara festival musim panas bersama Kouta dan Kotone di sampingnya. Jiro bertugas menjaga rumah sekaligus menghabiskan waktu sore-malamnya dengan bermalas-malasan. Bukan tugas yang sulit untuknya. Sementara menunggu kepulangan tuannya di larut malam.

Mereka bertiga menapaki jalan malam dalam perbincangan menarik—sebagian besar Kouta yang bertanya. Apapun yang ada di dalam benaknya, ditanyakannya dengan lantang. Seperti, 'Mengapa kembang api berwarna-warni?', 'Apakah cahayanya bisa mencapai bulan?', 'Apakah cahayanya bisa turun dan mengenai kepala?', 'Bagaimana rasanya, seperti terpecik oleh kebahagiaan?'.

Rukia terkadang memikirkan jawaban yang tepat di dalam benaknya, sebelum salah menjawab dalam penafsiran yang tidak dimengerti si kembar. Mereka terlalu kecil untuk tahu akan segala hal dan terlalu ingin tahu akan hal tersebut. Berkembang, itu yang sering dikatakan Ichigo pada istrinya. Dan Rukia benar-benar berharap Ichigo pun bisa menemaninya sekarang, bertukar informasi dengan kedua anak-anaknya. Terkadang, Ichigo lebih bisa memilih jawaban yang terdengar logis bila dibandingkan dengan Rukia. Apa yang ada di dalam benak Rukia sedikit berbanding terbalik dengan milik Ichigo. Rukia lebih memilih Chappy adalah karakter super-hero abad ini, sementara Ichigo mengatakan kalau Chappy sangat berbeda jauh dengan pandangan orang-orang akan Spider-Man. Mendengar hal yang sedikit membuatnya kesal, Rukia seringkali mengandalkan tangan atau kakinya, yang ditujukan 'khusus' untuk suaminya—di saat si kembar tidak dalam jangkauan mereka. Sikap yang sedikit kekanak-kanakkan.

"Okaa-chan, bagaimana dengan bunga? Apa bunga juga bisa berubah menjadi kembang api?" tanya Kotone, mendahului Kouta. Matanya menelisik raut wajah ibunya yang kembali terlihat bingung, sebagian besar berpikir.

"Hmmm," gumam Rukia, mengerjapkan matanya beberapa kali. "Kau tahu peri bunga?"

"Peri bunga?" Kouta mengikuti pembicaraan, menarik-narik tangan Rukia sebagai tanda antusias.

Rukia mengangguk dan tersenyum kepada si kembar. Setidaknya kali ini Ichigo tidak bisa menyela pemikiran kreatifnya. "Ya, peri bunga. Kalian bisa meminta pada mereka untuk mengubah bunga menjadi kembang api. Itu adalah pekerjaan mereka di musim panas."

Kouta dan Kotone ternganga dengan jawaban ibunya, terlihat bersemangat dan ingin tahu lebih banyak. Apalagi yang berhubungan dengan tokoh fantasi dari dunia dongeng.

"Dan peri bunga memakai mahkota?" Kotone mulai melompat-lompat tidak sabar.

"Dan bersayap seperti kupu-kupu?" tambah Kouta, berharap apa yang ada di benaknya bisa menjadi sebuah kenyataan.

Rukia tertawa geli melihat reaksi si kembar, yang mulai mengikuti imajinasinya. Anak-anak tetap akan bertumbuh dalam kegembiraan dan mimpi yang terlalu tinggi. Seperti dirinya di saat masih berumur delapan tahun, berharap Chappy bisa menjemputnya dari jendela kamarnya di suatu malam. Berharap dan pasti.

*~(..)~*

"Dua permen apel," ucap si penjual permen apel, menyodorkan permen ke tangan Rukia.

"Arigatou," balas Rukia yang menyerahkan uang pada si penjual permen.

Stand permen menjadi kunjungan pertama Rukia dan anak-anaknya. Bersanding dengan sebuah stand takoyaki (2), yakisoba (3), permen kapas, juga penjual minuman dingin. Kouta dan Kotone memutuskan untuk menuju stand permen apel, yang terlihat menggiurkan dengan warna caramel mudanya. Hampir terlihat emas, dibawah sinar lampu kuning hangat.

Satu permen diberikannya pada Kouta, yang mulai merubah mukanya menjadi lebih berwarna. Permen yang juga disukainya selama ini, makanan manis yang menggiurkan. Dan satu lagi untuk Kotone—

"Kotone?" Rukia mendapati Kotone menghilang dari sampingnya, yang ia yakini masih ada di sana beberapa detik yang lalu.

Mata Rukia mulai mencari-cari di sekitarnya, mencari sesosok gadis mungil berpakaian yukata merah muda dan rambut diikat dua. Putri kecilnya. Tapi tidak ada, selain kerumunan orang yang berdesak-desakan seperti aliran sungai. Jantung Rukia mulai bertalu cepat, takut sekaligus cemas akan keberadaan Kotone yang menghilang tiba-tiba.

"Kouta, kau melihat adikmu?" tanya Rukia takut, mendapati putranya sedang asyik memutar-mutar permen dalam genggamannya, tanpa memakannya. Warnanya semakin terlihat berkilauan emas, seperti gulali yang benar-benar terbuat dari emas murni.

Kouta menatap ibunya, kemudian beralih ke arah tempat Kotone terdiam beberapa saat yang lalu. Dia tidak ada di sana. "Tidak, aku tidak melihatnya. Tadi dia berdiri di sana," tunjuk Kouta pada tempat asal Kotone terlihat.

Rukia mulai mengatur napasnya perlahan, berusaha menetralkan jantungnya yang berdegup tidak tenang. Ketakutannya selama ini menjadi sebuah kenyataan, yang seperti memperolok dirinya sebagai sosok ibu yang buruk. Ibu yang ceroboh. Dia takut untuk tidak bisa menjaga anak-anaknya dengan baik—melindungi mereka. Juga pada Ichigo yang mungkin akan kecewa padanya.

*~(..)~*Third question: Where is Kotone?

Rukia menerobos kerumunan orang, mencari-cari Kotone dengan tatapan cemas. Kouta pun ikut membantu ibunya mencari Kotone. Sesekali dia memanggil adiknya, dengan suara kecil yang tenggelam dalam kericuhan festival. Tidak jarang, Rukia harus menunduk dan berjongkok, berharap itu akan membantu penglihatannya pada sosok Kotone yang kecil. Tapi tidak terlihat, selain kaki-kaki orang yang berjalan cepat di sekitarnya. Tidak berhasil.

Kouta menarik-narik lengan yukata ibunya, menarik perhatian Rukia yang terlihat hampir putus asa. "Okaa-chan?"

"Ya, Kouta?" jawab Rukia sehalus mungkin, tidak mau menakuti putranya yang tidak mengerti situasi mengerikan saat ini. Berbagai pikiran terlintas dalam benaknya, yang berusaha dihapusnya sekuat mungkin. Mulai dari kecerobohan Kotone semata, hingga orang jahat yang mengambil Kotone dari sisinya—penculikan. Rukia kembali bergidik akan hal itu, hampir gemetar karena takut.

"Bagaimana dengan otou-chan? Apa otou-chan juga tidak mencari Kotone?"

Rukia sedikit lega dengan pemikiran polos Kouta, sekaligus pintar. Hal yang luput dari pikirannya. Menghubungi Ichigo. Dia bisa membantunya, tentu saja.

"Ah—kau benar Kouta! Bisa tolong pegang permen Kotone?"

"Ngg," angguk Kouta yang menerima permen Kotone, sementara Rukia mulai mencari-cari ponselnya dari tas kecilnya. Segera, dia menekan tombol-tombol yang sudah dihafalnya di luar kepala, sudah menjadi sesuatu yang bisa dikatakan rutinitas. Nomor ponsel Ichigo. Ponselnya mulai mengeluarkan nada singkat berulang kali, menunjukkan bahwa sinyalnya sudah tersambung pada ponsel Ichigo, tinggal menunggu waktu pria itu mengangkatnya. Nada pertama. Kedua. Ketiga. Keempat. Kelima. Keenam. Ketujuh. Ke—

"Hi, Ichigo di sini. Ahh—gomen, saat ini aku tidak bisa menjawab telepon, jadi tinggalkan pesan suara saja setelah nada dering berikut."

"Voice mail? Sial!" pikir Rukia dan hampir mengumpat karena Ichigo tidak mengangkat teleponnya. Dan tersambung ke dalam pesan suaranya. Kekesalan Rukia bertambah, dua kali lipat.

Rukia kembali mengulang apa yang dilakukannya barusan, menekan nomor Ichigo dengan tergesa-gesa. Berharap Ichigo tidak meninggalkan ponselnya di rumah sakit ataupun di dalam mobil. Berharap Ichigo sudah tiba di sini dan suara ributlah yang menyumbat telinganya untuk mendengar nada dering ponselnya. Semoga.

"Okaa-chan? Apa Otou-chan sudah datang?" tanya Kouta tidak sabaran, berdiri di samping ibunya dan aman dari terjangan arus pengunjung yang padat—di samping jalan yang tidak dilalui orang-orang. Mata besarnya tetap mencari-cari ke arah kerumunan, berharap adiknya bisa terlihat di antara mereka.

"Belum," jawab Rukia singkat, masih terpaku pada ponsel di telinganya, dan lagi-lagi voice mail Ichigo lah yang menjawab. "Mungkin dia sedang dalam perjalanan kemari."

*~(..)~*Fourth question: Where is Ichigo?

Ichigo berjalan cepat menyusuri lautan orang di festival musim panas, berusaha mengejar keterlambatannya. Dan dia berharap istrinya tidak akan marah begitu melihat penampilannya. Tanpa yukata. Yah—setelah menyetir di luar batas kecepatan menuju festival musim panas yang jaraknya sedikit jauh dari rumah sakit pusat kota, dan hampir melanggar beberapa lampu merah di jalan raya. Sedikit berbahaya dan ceroboh. Tapi ini semua demi Rukia, juga anak-anaknya. Menepati janji adalah prioritas utama di dalam daftar wajib miliknya, terutama untuk keluarganya. Di atas apapun itu. Selain rapat penting yang kadang mengganggu waktu bersantainya.

Ichigo merogoh saku celananya, mencari-cari ponselnya yang tersimpan aman di dalam sana, sementara matanya mencari-cari Rukia di dalam kerumunan. Tidak ada. Ponselnya. Mungkin di saku yang satu lagi, tapi nihil. Sama kosong. Dan kecerobohannya bertambah, setelah mengingat apa yang dilupakannya benar-benar bisa mencelakakan dirinya—dari amukan sang istri. Ponselnya masih tersimpan di dalam jas kerja dokternya, yang terlipat rapi di kursi kerjanya—tentunya di rumah sakit. Yang berjarak hampir tiga kilometer dari sini, belum ditambah jalan raya yang sangat padat malam ini.

Ichigo mendesah kesal, bercampur tegang. Malam ini dia tidak akan bisa menghindar dari omelan Rukia, mungkin ditambah beberapa cubitan di kulitnya. Itu lebih baik daripada sikutan tajamnya yang tepat mengenai tulang rusuknya, atau mungkin jambakan kuat tangan mungil istrinya. Semuanya tidak berbahaya, sama sekali. Hanya sebuah bentuk emosi sedikit labil dari istri tercintanya yang sedikit terlihat brutal. Di mata Ichigo. Tapi dia tidak mempemasalahkan hal itu, asalkan Rukia tidak menuntut cerai darinya. Oke, itu sudah di luar batas. Lebih baik singkirkan alasan tidak masuk akal tersebut, sebelum otaknya mulai meledak karena panas yang melebihi batas maksimum. Ichigo tahu kalau Rukia mencintai diriya, sangat. Walaupun, tidak sebesar rasa cintanya pada wanita mungilnya itu. Dia yakin itu.

Ichigo memutuskan untuk mengambil langkah, daripada ikut terbawa arus orang-orang ini entah kemana. Kaki panjangnya—suatu keuntungan yang dimilikinya saat ini—mulai melangkah lebar, sementara matanya mencari-cari Rukia di antara kerumunan. Mungkin Kouta, ataupun Kotone. Yang lebih kecil daripada Rukia. Lebih susah dicari. Tapi selama tidak mustahil, itu tidak masalah untuk Ichigo.

Alisnya mulai mengkerut tajam, menandakan dia sudah berpikir keras untuk mencari cara cepat—menemukan keluarganya. Sebelum pesta kembang apinya dimulai. Sebelum dia terlambat. Dia tidak mau melihat putra putrinya merengek nangis, atau bahkan memusuhi dirinya. Satu pengalaman buruk sudah lebih dari cukup baginya. Insiden setahun yang lalu, dimana Ichigo lupa untuk membelikan es krim di 'hari es krim' bagi Kouta dan Kotone. Itu terdengar aneh di telinga si pria-terlalu-serius-dan-kaku, mengingat tidak ada 'hari es krim' di kalender Jepang ataupun negara manapun. Selain yang sudah ditentukan si kembar dan Rukia. Dan karena dirinya yang sudah mulai berubah menjadi orang yang pelupa—termakan oleh waktu dan umur, mungkin—Kouta dan Kotone marah pada ayah tercintanya dan tidak mau berbicara hingga beberapa jam lamanya. Hanya beberapa jam, tapi itu waktu yang sangat lama bagi Ichigo. Tidak ada yang lebih buruk selain itu—diasingkan oleh buah hatinya sendiri. Sangat buruk.

Sekelebat warna merah muda tertangkap oleh matanya, terasa familiar sekaligus mudah untuk diingat. Juga terlihat lebih kecil, daripada jarak pandangan mata Ichigo. Dan benar saja, dia melihat salah satu dari anak kesayangannya. Kotone. Sedang berjongkok di sebelah pohon besar, di seberang jalan. Meringkuk seperti anak kucing yang tersesat. Sendirian.

Tanpa pikir panjang Ichigo langsung berlari menghampirinya, yang terlihat luput dari penglihatan orang banyak. Matanya memang tajam, setajam burung hantu. Terkadang dia bisa menangkap sesuatu yang memang tidak banyak dilihat orang kebanyakan. Bukan mistis, tapi kenyataan. Seperti permen karet yang menempel di belakang kaki kursi, ataupun bolpen hitamya di antara tumpukan kertas milik Ishida—rekan kerjanya. Entah mengapa bolpennya bisa berada di situ, yang ia yakini miliknya, bukan milik Ishida. Karena, bolpen itu berbeda dari kebanyakan bolpen pada umumnya—hadiah dari Rukia, setelah dia diterima bekerja di rumah sakit pusat. Warna hitam dan berlapis emas pada ujungnya, yang sedikit tergores karena termakan oleh waktu.

Ichigo tiba di samping putrinya dengan raut wajah bingung, berjongkok dan memperhatikan Kotone yang terdiam tidak bergerak. Mereka kini luput dari dunia luar, karena termakan bayangan gelap tanpa cahaya di balik pohon. Tempat Kotone berjongkok dalam keheningan. Ichigo mengulurkan tangannya dan menepuk-nepuk kepala putrinya, hingga Kotone bergidik kaget dan bangun dari posisi meringkuknya. Menatap Ichigo dengan tatapan nanar.

"Kotone? Apa yang kau lakukan di sini? Dimana ibumu dan—"

Kotone langsung meloncat dan memeluk leher ayahnya, dalam dekapan tereratnya. Merasa aman dan hangat. Dia tidak pernah merasa serindu ini, kepada ayah dan ibunya. Juga Kouta, saudara kembarnya.

"Kotone?" panggil Ichigo yang spontan mendekap putrinya agar tidak terjatuh. Menepuk-nepuk punggungnya lembut. "Kau kenapa?"

"Otou-chan," ucap Kotone, berusaha untuk tidak terisak. "Aku…aku tidak bisa menemukan ibu, juga Kouta. Aku…melihat kucing itu—puss—dan dia berlari kemari, lalu…lalu dia menghilang. Aku…"

Kotone tidak berhasil menyelesaikan kalimatnya, yang terputus-putus seperti sebuah radio rusak. Tangisnya pecah, menjadi isakan kecil pada bahu ayahnya. Akhirnya, setelah dia berusaha untuk tidak merasa sedih dan menangis, tapi tidak bisa ditahannya terlalu lama. Tidak setelah dia berada dalam dekapan ayahnya.

"Puss? Puss in the boots?" pikir Ichigo yang berusaha menelisik ingatannya. Dia ingat, pernah menonton film itu bersama anak-anaknya, beberapa hari yang lalu. Kotone terlalu antusias begitu melihat puss muncul. Terlalu lucu dan munafik, menurut Ichigo.

"Sstt, tidak apa-apa. Ayah sudah ada di sini, jadi tidak apa-apa. Jangan menangis," gumam Ichigo, tersenyum lega bisa menemukan putrinya. Mungkin Rukia sedang mencari sekarang, mencari Kotone. Berdiam di sini akan semakin membuat Rukia khawatir. "Kita cari ibumu dan Kouta?"

Kotone mengangguk cepat, sebelum kembali terisak dan memeluk kemeja Ichigo dengan jari-jari kecilnya, hingga kainnya mengkerut. Sebagian basah karena air matanya.

Ichigo berdiri dari posisinya, sambil tetap menggendong Kotone dalam dekapannya. Sekarang dia mulai berjalan lagi ke jalan utama, ke jalan yang lebih terang. Mencari Rukia.

*~(..)~*Third and fourth answer: There is Kotone! And Ichigo….!

"Ichigo? Kotone!" teriak Rukia tanpa ditahan, dan berhasil menarik perhatian orang-orang di sekelilingnya. Dia berniat berlari dan menyambut mereka, tapi ditahannya kemudian. Menyadari Kouta masih ada di sampingnya. Dia tidak mau kehilangan Kouta, tidak setelah Kotone.

Ichigo tersenyum pada Rukia dan berjalan santai melewati beberapa orang yang lewat. Kotone masih menunduk pada bahu ayahnya, dengan tangannya yang melingkar aman di leher Ichigo. Tidak mau melihat ibunya, juga kakaknya.

"Rukia," panggil Ichigo begitu sampai di depan istrinya, sedikit gugup untuk berbicara dengannya. Menghadapi kemarahannya beberapa saat lagi. "Maaf, aku—"

"Dimana kau menemukan Kotone? Apa dia tidak apa-apa? Apa dia sendirian?" tanya Rukia bertubi-tubi, memperhatikan suaminya dan Kotone berulang kali. Masih terlihat gelisah dan tidak tenang.

"Tenang dulu, Rukia. Kotone tidak apa-apa. Aku menemukannya di balik pohon, dia sedang mencari sesuatu—puss," cerita Ichigo, menjelaskan.

"Puss?" Rukia bertambah bingung, pikirannya terlalu kalut untuk berpikir.

Ichigo membisikkan sesuatu pada putrinya, sebelum menurunkannya dan berusaha meyakinkannya—melepas pelukannya. Kotone terlihat ragu, sebelum memutuskan melepas tangannya yang melingkar di leher ayahnya dan menatap ibunya. Takut. Dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

"Okaa-chan…" Kotone mulai berbicara, sedikit terisak. "Aku…maaf—aku pergi mencari puss, tapi dia menghilang. Dan…dan aku—tidak bisa menemukan okaa-chan, ataupun Kouta. Jadi…jadi—"

Rukia tidak tega melihat putrinya gemetar ketakutan seperti itu, memutuskan mendekapnya dalam pelukan hangatnya. "Tidak apa-apa, Kotone. Syukurlah, kau baik-baik saja. Aku sungguh mencemaskanmu."

Dan tangis Kotone pecah kembali, memeluk tubuh ibunya penuh rindu. Dan penyesalan. "Maaf, okaa-chan! Maaf—"

"Tidak apa-apa, sayangku. Tidak apa-apa," ucap Rukia menenangkan. Memeluk Kotone yang sudah membuatnya tenang kembali. Rasa khawatirnya sudah hilang seluruhnya.

"Otou-chan," panggil Kouta, merasa bingung karena sedikit dihiraukan. "Otou-chan."

"Ahh—Kouta." Ichigo menemukan Kouta bersembunyi di balik tubuh Rukia, masih memegang permen miliknya juga Kotone. Ichigo berjongkok di depan putranya, sambil mengelus lembut rambut yang sama, seperti miliknya. Orange muda. "Maaf, ayah terlambat."

Kouta menggeleng kuat, menghapus rasa sedihnya. Dia memasang senyum lebarnya, yang memang seharusnya ditujukan untuk kedatangan ayahnya, juga Kotone. "Tidak apa-apa. Asalkan, otou-chan datang, juga Kotone. Kotone kembali."

Ichigo sedikit terkejut dengan perubahan sikap Kouta, yang terlihat lebih dewasa. Juga tegar. Putranya sudah tumbuh besar, menjadi seperti dirinya. "Ahh—terima kasih, Kouta."

*~(..)~*

Hanabi. Kembang api. Yang terpancar indah di langit malam. Jauh di atas sana, menemani bintang juga bulan. Percikan cahaya warna yang memukau mata, membuat setiap pasang mata yang melihatnya terpana akan keindahannya. Musim panas. Juga kembang api. Itu sudah menjadi sebuah kesatuan yang tidak bisa terpisahkan.

"Otou-chan, lihat lihat!" tunjuk Kouta dalam dekapan ayahnya, berharap jari-jarinya bisa mencapai kembang api di atas kepalanya. Sementara tangan satunya, jari-jari mungilnya menggenggam erat kantong kecil yang berisi ikan-ikan—yang berhasil didapat Ichigo dan Kouta di stand menangkap ikan, menggunakan jaring kertas tipis. Sebuah tantangan sekaligus hiburan untuk Kouta.

Kotone tersenyum lebar, dalam dekapan Rukia. Merasa aman dan benar-benar nyaman. Walaupun tidak setinggi Kouta, tapi dia sudah merasa cukup dalam pelukan Rukia. Kotone terus menerus mengkerut sedih dalam dekapan ibunya, selama mereka berkeliling di festival. Kotone tidak mau turun ataupun bergabung bersama Kouta dan ayahnya. Hanya ingin bersama ibunya, meringkuk seperti bola dalam dekapan. Dan setelah hanabi dimulai, perhatian Kotone mulai kembali lagi—terlihat berbinar-binar. Terpukau akan keindahan kembang api besar di atas langit.

"Okaa-chan, aku ingin kembang api itu."

"Kau tidak bisa membawanya pulang, sayang. Kau ingat ceritaku tadi, tentang peri bunga?" ucap Rukia, sambil mengecup kening putrinya. Kotone tersenyum geli karenanya.

"Ngg, tentu! Peri bunga. Apa peri bunga melarangnya? Untuk kuambil?" Kotone memasang wajah bingungnya, polos dan memikat.

"Tidak, tentu saja tidak. Hanya saja," Rukia berhenti sejenak, melirik Ichigo yang masih menikmati kembang api, bersama Kouta. Suara bising tidak menarik perhatiannya pada Rukia, tidak pada pembicaraan 'peri bunga' miliknya. "Peri bunga memberikan kembang api, untuk dimiliki setiap orang yang melihatnya. Bukan untuk dibawa pulang, karena cahayanya akan segera memudar."

"Kenapa?"

"Karena," Rukia mulai berbisik, memberikan rahasia ceritanya yang akan membuat putrinya merasa lebih baik. Berbicara melalui perasaan. "Kembang api muncul dari hati setiap orang—harapan. Harapan dirimu untuk melihat kembang api, setiap tahunnya. Peri bunga mendapatkan kekuatan dari setiap orang di sini, kekuatan hatinya. Dan keajaiban itu menjadi nyata."

Kotone terpana mendengar kisah dari ibunya. Melihat sebuah harapan baru terbentuk di dalam dirinya. Sesuatu yang mendesak untuk keluar, yang terpancar. "Itu…hebat! Sungguh, okaa-chan!"

"Ssst…" bisik Rukia, memperingatkan Kotone untuk tidak berteriak terlalu keras. Tidak di dekat Ichigo. "Berjanjilah, ini menjadi rahasia kita berdua?"

"Tapi, bagaimana dengan Kouta? Otou-chan?"

"Hmm…kau boleh memberitahu kepada Kouta, karena Kouta sudah mendengar kisah awalnya. Tapi, tidak dengan ayahmu."

"Kenapa?" Kotone mengkerut bingung, sebagian kecewa.

Rukia tersenyum lembut pada Kotone, berusaha meyakinkannya. "Karena, peri bunga adalah kisah untuk anak-anak manis, sepertimu. Tentu saja."

Rukia mempererat pelukannya, setelah kembali mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Di saat Kotone menghilang dari sisinya. Hatinya hampir remuk karena itu, dan dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak memperlihatkannya ke permukaan atas. Terlihat oleh Kotone. Juga tidak di depan Kouta dan Ichigo. Ya—suaminya. Dia tidak mau suaminya kecewa akan dirinya.

"Aku sayang padamu, Kotone," bisik Rukia dan kembali mengecup putrinya, sambil terus menahan perasaan itu kembali keluar. Setidaknya kembang api bisa menggantikannya untuk sesaat—sebuah harapan yang bisa diresapinya saat ini, bersama putrinya.

*~(..)~*And the fairytale continue…still, for a while… *~(..)~*

"Otou-chan!" panggil Kouta, menarik-narik kerah kemeja ayahnya, dalam genggaman kecilnya. "Lihat! Apa otou-chan tahu kalau peri bunga yang membuat kembang api?"

"Peri bunga?" Ichigo mengernyit bingung, mengalihkan pandangannya dari kembang api yang bersinar, kepada wajah sumringah Kouta.

"Iya! Peri bunga! Itu yang diceritakan okaa-chan. Bukankah itu hebat?"

Kini Ichigo menatap Rukia, di sampingnya, masih memperhatikan kembang api bersama Kotone. Entah apa yang sudah dilakukan Rukia, sementara dirinya tidak ada di samping anak-anaknya. Cerita baru selain Chappy yang menyelamatkan lautan, juga Chappy yang menyelamatkan dunia—apapun itu dengan kata Chappy diawal kalimat. Tapi, setidaknya kali ini bukan cerita Chappy. Lebih baik, walaupun tidak begitu baik.

"Ahh—tentu saja," jawab Ichigo, sedikit berbisik. Tidak mau mengecewakan putranya. "Tentu saja."

*~(..)

(..)~*

*~(..)

~Thanks for my playlist! Shooting Star by Owl City! You by YUI~

(..)~*

*~(..)

(..)~*

"Ichigo, mengapa kau tidak memakai yukata?" tanya Rukia, yang duduk di kursi depan. Di samping Ichigo yang menyetir. Kouta dan Kotone sudah jatuh tertidur di kursi belakang, saling bertumpu satu sama lain.

Ichigo melirik Rukia, sedikit menahan napasnya. Saat-saat yang ditunggunya. "Itu—rapatnya, lebih lama daripada yang kuduga. Jadi, aku tidak sempat untuk pulang ke rumah. Jadi—"

"Dan mengapa kau tidak menjawab telepon dariku? Hampir sepuluh kali aku menelepon dan voice mailmu lah yang menjawab," gerutu Rukia, menahan suaranya untuk tidak berteriak.

Ichigo berdeham pelan, menetralkan tenggorokan yang terasa serak. Dan juga menarik napas dalam-dalam. "Aku…melupakannya di kantor. Ponselnya ada di saku jas kerjaku."

Rukia terdiam, separuh mengkerut tajam dan separuh tersenyum sinis. Lagi-lagi Ichigo bertindak ceroboh. Bukan untuk kedua kalinya, ketiga kalinya, tapi lebih dari itu. Di saat dirinya membutuhkan bantuan dari suaminya—untuk mencari Kotone—tapi pria muda yang terlihat arogan itu sama sekali tidak bisa diandalkan.

"Ayolah, Rukia. Aku sudah menemukan Kotone, bukan?" bisik Ichigo, tidak suka dengan keheningan yang bisa menelannya perlahan, menjadi gumpalan debu tanpa sisa. "Kau marah?"

"Tentu saja, suamiku!" gerutu Rukia, juga berbisik. "Bagaimana kalau kau tidak menemukan Kotone di saat kau datang ke festival? Bagaimana kalau saja Kotone...aah—diculik oleh orang tidak dikenal?"

"Jangan berlebihan, Rukia. Kau membuatku takut—"

"Tapi mungkin itu akan terjadi. Mungkin…"

Hening kembali. Dan suasana bertambah semakin canggung. Sementara si kembar masih tertidur pulas tanpa mendengar pertengkaran kecil orang tuanya, masih dalam area aman dari gerutuan yang memasuki telinga kecil mereka. Ichigo memusatkan perhatiannya pada jalan di depannya, sesekali mengetuk jari-jari panjangnya pada setir mobil—pertanda kegugupannya. Dan Rukia melipat tangannya di depan dada seerat mungkin, memalingkan wajahnya ke jendela di sampingnya. Memperhatikan apapun yang ada di luar sana—jalanan kosong dengan sedikit orang yang berlalu lalang.

"Kau…sungguh terlihat cantik, memakai yukata itu, Rukia," ucap Ichigo, masih memandang jalan di depannya, hanya saja seringaian lebar mulai terbentuk di wajahnya. Sedikit ragu pada awalnya.

Rukia melirik Ichigo tajam, masih terlihat kesal dan juga mempertanyakan maksud dari suaminya itu. "Kau—menggodaku?"

"Tidak! Aku sungguh-sungguh! Aku—"

"Tidak biasanya kau mengatakan hal ini. Dan ini bukan pertama kalinya aku memakai yukata ini, Ichigo." Musim panas tahun lalu, Rukia pun menggunakan yukata yang sama seperti yang dia pakai sekarang. Yukata ungu muda bergradasi putih di bagian ujung bawahnya, dihiasi oleh bunga Tsubaki.

"Tapi kau masih tetap terlihat cantik. Jauh lebih cantik." Kali ini Ichigo melirik Rukia, ketika lampu merah memberhentikan mobilnya untuk sementara waktu. Sebelah tangannya menggapai tangan Rukia, menariknya dan menautkan jari-jarinya. Terasa hangat dan sempurna.

Rukia melotot kaget melihat tingkah Ichigo, yang masih dinilai terlalu kekanak-kanakan. Di sisi lain terlihat menggoda dan membuat dirinya gugup. Melihat sorot mata Ichigo yang tajam juga sehangat mentari. Membuat Rukia menggigit bibir bawahnya, berusaha membuang rasa mengganggu itu. Yang sudah membuat jantungnya bertalu cepat, secepat sayap hummingbird mengepak.

"Ichigo—"

Ichigo mengecup punggung tangan Rukia, memberikan sentuhan listrik pada kulit putihnya. Membuat Rukia menahan napas kuat-kuat, hingga menciptakan rona merah muda di pipinya. "Apapun untukmu, putri."

"Sekarang kau bertingkah seperti anak kecil," gumam Rukia, ikut tersenyum begitu suaminya tertawa kecil. "Dan memainkan peran pangeran dan putri? Sungguh romantis, Ichigo." Nada datar Rukia membuat suasana kembali sedikit canggung. Ichigo yakin, istrinya sangat menyukai kisah-kisah semacam itu. Tapi, untuk kali ini sepertinya tidak—berbeda. Rukia kembali memasang tamengnya di depan wajahnya, kembali berusaha tegar, berusaha untuk tidak terusik dengan rayuan suaminya.

"Kau tidak suka?" Ichigo menaikkan satu alisnya, sedikit tersinggung karena Rukia tidak mau bekerja sama.

"Aku masih marah. Kau tahu itu, bukan?"

"Kau manis saat kau marah," goda Ichigo, kembali menyeringai jahil.

"Ichigo—"

"Baiklah—maafkan aku, Rukia. Aku tidak akan melakukannya lagi, aku janji."

Rukia terdiam sesaat, berusaha untuk mengerti kata-kata Ichigo. "Tidak melakukan yang mana?"

"Meninggalkan ponselku juga membuatmu khawatir. Menggodamu itu hal lain," jawab Ichigo. Lampu sudah kembali hijau dan menarik perhatian Ichigo—kembali berkonsentrasi pada mobil yang dibawanya. Melaju ke jalanan sepi—kembali ke rumah.

"Aku tidak mengerti apa yang kau pikirkan," celetuk Rukia, mendesah berat.

"Kau tidak marah lagi padaku?"

"Aku juga salah, Ichigo. Aku—maaf, aku…" Rukia berbicara terbata-bata, seperti bukan dirinya. Namun, rasa bersalahnya mulai menggelayuti dirinya lagi. Efek kembang api harapan sepertinya tidak bertahan terlalu lama padanya.

"Untuk apa?" tanya Ichigo, yang mulai memasuki daerah rumah mereka—rumahnya. Mobil melaju lebih lambat. "Kau terbata-bata?"

Rukia mendesah lagi, tidak bisa lepas darinya. "Aku tidak bisa menjadi ibu yang baik—tidak bisa melindungi Kotone. Mungkin juga Kouta, aku sungguh-sungguh—"

"Rukia," potong Ichigo keras, tidak suka dengan pemikiran Rukia yang terlalu menyudutkan diri sendiri. "Kau sudah menjadi seorang ibu yang lebih dari cukup. Aku tidak pernah meragukanmu, untuk melindungi maupun menyayangi Kouta dan Kotone. Aku tahu, kau tidak akan pernah melepaskan mereka."

Rukia terdiam karena kata-kata Ichigo. Sedikit lega sekaligus gugup. Lega karena Ichigo tidak marah padanya dan lebih memilih untuk mempercayainya. Gugup, karena kata hatinya berkata lain.

"Aku tidak mau seperti ini, kau tahu? Aku suamimu, jadi bergantunglah padaku," lanjut Ichigo yang mulai memasukkan mobilnya ke dalam pekarangan rumah mereka, di depan garasi yang tertutup. Tangannya menarik rem tangan juga mengganti gigi untuk memberhentikan laju mobil dan memutar kunci mobil. Mesinnya berhenti, meninggalkan suasana hening yang begitu kental terasa.

"Hei," panggil Ichigo, melihat Rukia yang terdiam. Tangannya meraih tangan Rukia dan menggenggamnya dalam dekapan—erat. "Lihat aku."

Rukia menuruti perintah Ichigo, melihat mata hangat suaminya yang mulai menenangkan dirinya. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada kekecewaan, yang ada hanyalah rasa percaya yang besar. "Ichigo."

Ichigo tersenyum lembut dan mengecup jari-jari Rukia, merasakan rasa dingin yang tertinggal di sana. Dan dia berusaha untuk menghangatkannya. "Tidak apa-apa. Suami dan istri, ada disaat senang maupun susah. Kau masih ingat, bukan?"

Rukia mengangguk sambil tersenyum simpul, mengingat kembali masa-masa pernikahan mereka, dimana janji yang mengingat secara utuh. Hingga maut datang menjemput. "Ahh—Ichigo, tentu saja. Aku tidak akan pernah melupakannya."

Ichigo kembali mengecup tangan istrinya dan beralih ke pipi Rukia. Dan juga bibirnya. Memberikan kecupan hangat yang membuat Rukia bisa merasa tenang. Tidak lagi merasa takut akan apapun. Selama ada Ichigo di sampingnya.

"Kita bawa mereka masuk? Sudah terlalu malam," ajak Ichigo yang tersenyum lebar, melihat Rukia sudah kembali padanya.

*…*…*Encore! It's Summer Time! Episode 3*…*…*

*…*…*…*…*おわり *…*…*…*…*

Author's note:

Dictionary (Japanese):

(1) yukata: kimono (baju tradisional Jepang) untuk musim panas.

(2) takoyaki: makanan tradisional Jepang, berbentuk seperti bakso. Terbuat dari tepung dan berisi gurita (ada juga yang berisi kepiting, daun bawang, dan lain-lain).

(3) yakisoba: mie goreng.

Oke, ini diupdate terlalu lama =_=; Gomenne reader-san! Akhir-akhir ini entah kenapa mood mengetikku seperti menguap! TTATT… Dan karena itu, ide tidak bisa keluar, bahkan untuk mengetik chapter ini membutuhkan waktu yang sangat sangat lama. Beberapa kali ada pergantian isi cerita, penghapusan, dan lain-lain. Ahh—sungguh, benar-benar susah untuk mencari kesan yang tepat, apalagi tema family untuk fic ini. Dan setelah mendengar lagu-lagi dari Owl City, moodku sudah mulai membaik. Semoga kalian masih menikmati cerita ini ya! Maaf bila tidak sesuai dengan yang kalian harapkan.

Untuk kisah peri bunga, itu aku karang sendiri..wkwkkwkw Tiba-tiba saja terlintas di otakku, jadi langsung saja kutulis~ hihihih.. Rukia lebih suka menjelaskan sesuatu kepada anak-anaknya melalui cerita dongeng ataupun fantasi buatannya, dibandingkan Ichigo yang lebih kaku dan mengutamakan pemikiran logis (maklum, dia dokter ^^;).

Perasaan Ichigo dan Rukia lebih terlihat di sini, daripada chapter-chapter sebelumnya. Aku pikir mungkin cerita yang sedikit kompleks tidak apa-apa, mengingat genre dramanya masih ada..hehe XD Mungkin karena pengaruh apa yang aku baca selama liburan ya, beberapa novel yang genrenya memang sedikit berat dan serius, juga film yang aku lihat, jadinya…yah—humournya sedikit menghilang XD Tapi akan kuusahakan lagi untuk muncul di chapter mendatang.

Hontou ni arigatou untuk para readers! Bagi yang masih membaca hingga chapter ini, maupun yang baru membaca, salam kenal! Juga para reviewers, yang menjadi inspirasi sekaligus masukan untukku! Yang sudah me-fave dan follow fic ini! Love you guys! *bighug

Ah, sekedar pemberitahuan, fic ini mungkin akan diupdate lebih lama lagi, karena aku mau mengutamakan Black Rosette lebih dulu. Maaf ya sebelumnya ^^;

Balasan untuk anonymous dan no-login reviewers:

darries: Terima kasih sudah mereview, darries-san! XD Hahahaahha...ketularan penyakit papa Isshin! *kabur ah~* Iya, Rukia awet muda sih, mana dia kecil kan, dikira masih anak sekolah..wkwkkwkw Ichi harus bersabar~ Kotone keturunan Ichi, sama2 ga suka kelebaian Isshin XD sebenarnya masih sayang kok.. Oke deh, ini sudah kulanjut, semoga kamu suka ya~ Hihihi..benar katamu, mereka pakai yukata~ Tapi Ichinya ga ^^;

Erli: Terima kasih sudah mereview, Erli-san! XD Hihihihi makasih juga buat sukanya~ Klo fic baru belum bisa ya, masih berkutik di fic ini sama fic ku yang satu lagi (Black Rosette) hehe... Ichigo sama siapa? Maksudnya pairing? Klo pairing sih aku suka IchixRuki XDb

tiwie okaza: Terima kasih sudah mereview ya tiwie-san! XD Hahahhaa..Rukia memang suka jahil ke Ichi, tapi di chapter ini kejahilannya berkurang, jadi lebih serius..hehe Wkwkwkw penasaran reaksi si Ichi ya XD Tapi belum dulu ya disini, soalnya Rukia nya juga malu klo pake bikini ^^ Oke! Black Rosette nya segera~

Kwon Eun Soo: Terima kasih sudah mereview ya Eun Soo! XD Hihhihi..iya, keluarga Kurosaki yang berbahagia XDb

nanda .teefa: Ah, gomen juga baru bisa kuupdate lagi sekarang TAT... Terima kasih ya sudah mereview! Hihihih..iya, gapapa kok, aku juga sering banget sibuk *alesan* Kurang? Wkwkkwkw Tapi gimana sama chapter yang baru ini? Ini lebih membahas hubungan Ichiruki loh~ Semoga kamu suka ya~ Wkwkkkw Isshin Urahara ya, mereka memang biang onar sejati! XDb Ah, untuk Rukia yang memakai bikini belumbisa ditampilin TAT.. Chapter ini udah masuk hanabi..gomen ne! Oh, yang di anime bukan bikini loh, itu baju renang 2 pieces..hehe XD

See you on the next chapter! ^^

Kouta: byebye! (0u0)v

Kotone: (=u=)v