OOC DON'T LIKE DON'T READ

PRODUCE 101 S2 FANFICTION

FANTASY, ROMANCE, FRIENDSHIP, FAMILY

M, ABO!AU

Sidepair!Taedonghan

YUNHWA

Dentuman musik EDM bergemuruh menumbuk gendang telinga. Ruangan besar bercahaya remang-remang itu dipenuhi riuh sorakan alpha yang bersemangat menonton dua alpha yang tengah mengadu kekuatan di tengah kerumunan. Jangan lupakan asap rokok yang berseliweran kesana kemari serta botol-botol alkohol penuh dan kosong yang semakin bertambah di meja bar.

Alpha itu duduk sendiri di sofa besar menumpukan kaki kanannya pada kaki kiri dengan aura penuh keangkuhan. Sesekali ia mendengus penuh kepuasan melihat kekalahan salah satu alpha yang saling bergulat di bawah sorot lampu di hadapannya. Dalam periode tertentu, ia meneguk vodka dari gelas kaca yang terapit di jari tangan kanannya.

Tempat ini tidak pernah sepi. Selalu ramai dan riuh dengan alpha-alpha yang mencari kesenangan. Setiap hari, setiap malam menjelang, akan selalu ada minimal dua alpha yang siap bertarung mengagungkan kekuatan masing-masing. Tujuannya apa lagi selain menunjukkan superior mereka di hadapan publik? Uang, tentu saja. Pemenang pertarungan liar itu akan mendapat hadiah dengan nominal yang cukup fantastis.

Lalu untuk apa sang putera mahkota pemeran utama cerita kita berada di sana? Oh, jangan pikir ia mengikuti acara pertarungan itu. Tanpa bertarung dengan alpha lain pun kekuatannya sudah diakui sebagai puncak kedaulatan para alpha. Kewenangannya di sini hanyalah menentukan pemenang dan tentu saja membiayai—yang dianggapnya hanya membuang sebagian sampah yang membludak di mesin atm—hadiahnya.

"Ya! Habisi dia, Hyunmin!"

"Bagus! Hancurkan saja dia!"

"Whooooo! Argh! Aku bisa gila!"

Pertarungan hari ini cukup spesial karena selain disaksikan langsung oleh sang Putera Mahkota—donatur utama hadiah pertarungan— juga menyajikan langsung seorang alpha bertubuh kurus menantang petarung yang lebih besar darinya. Sorakan demi sorakan terdengar semakin riuh. Setiap kata yang terdengar di ruangan itu saling menyatu dengan kata lainnya sehingga terdengar begitu memekakkan telinga. Sang alpha kurus yang bertarung di tengah arena menyudahi pertarungan mereka dengan satu tendangan tinggi yang mengenai kepala lawannya dengan telak hingga sang lawan tumbang. Alpha yang bertubuh lebih kecil itu terengah sejenak sebelum mengangkat tangannya tinggi disambut dengan keriuhan sorakan para alpha yang menonton. Alpha superior yang sedari tadi hanya duduk menonton kini berdiri mengangkat gelas vodkanya tinggi-tinggi menyambut sang pemenang.

"Kerja bagus, Byun Hyunmin!" pujinya menambah semangat para alpha yang semakin menggila. Di samping sang putera mahkota, alpha bertubuh kekar tersenyum dan mengangguk puas. Sesungguhnya tidak ada satupun yang sempat berpikir alpha bernama Hyunmin itu akan menang, mengingat lawannya bertubuh lebih besar darinya.

Daniel maju dan menepuk bahu Hyunmin dengan bangga. Ia mengajak alpha bertubuh kecil itu ke sofanya dan memberi kode pada alpha lain untuk membawakan sebuah koper kecil yang tentunya berisi uang. Daniel sendiri yang menyerahkan hadiah itu ke tangan Hyunmin. "Aku terkesan. Kau bisa bergabung denganku."

Hyunmin menyeringai puas menerima hadiah tersebut. Ini jauh lebih besar dari perkiraannya. Ditambah lagi sang pangeran terkesan padanya dan memberikannya kesempatan untuk bergabung. Ya, bergabung dengan balai pelatihan militer alpha di istana. Di King's Grand Palace. Sungguh kehormatan yang luar biasa. Cedera yang dialaminya hanya sebagian kecil dari hasil yang didapat. Ia membungkukkan tubuhnya hormat kepada Daniel dan mengangkat koper itu tinggi-tinggi penuh kemenangan.

Setelahnya, Daniel melangkah dengan angkuh pada lawan Hyunmin yang masih terkapar di lantai arena. Putera mahkota itu berjongkok di samping kepala sang alpha yang kalah dan melemparkan beberapa lembar nominal ke depan wajah alpha tersebut. "Ini, untuk membiayai pengobatanmu. Kembalilah lagi setelah kau layak."

"Untuk merayakan kemenangan Hyunmin, mari kita bersulang!" seru alpha-alpha pendukung Hyunmin seraya mengangkat gelas tinggi-tinggi. Setelahnya tidak ada lagi yang mereka lakukan selain menghabiskan seluruh persediaan alkohol di bar.

Daniel keluar dari club setelah meneguk gelas yang kesekian. Para alpha di sana tidak lupa memberikan penghormatan mereka sebelum sang putera mahkota melangkah keluar ruangan.

.

.

.

"Persetan! Tidak lihat aku juga alpha?!"

Daniel melirik sedikit pada keributan yang terjadi di pintu depan club. Seorang pria kurus berkulit pucat berteriak dengan mata nyalang kepada penjaga yang tampak kewalahan meladeninya.

"Aku bahkan punya kartu akses ke sini! Lihat? Atas namaku, Kim Donghan!"

Sang putera mahkota menghentikan langkahnya mengamati keributan itu hingga penjaga yang tadinya meladeni pria tersebut menyadari kehadirannya dan berbalik untuk membungkuk hormat pada Daniel. Alpha superior itu tertawa membuat penjaga tersebut heran. "Sepertinya kalian melupakan sesuatu."

Penjaga itu berbalik dan menemukan pria bernama Kim Donghan tadi telah meninggalkan tempat.

.

.

.

Pria berkulit pucat itu menyalip celah kelengahan penjaga club dengan lincah. Sempat ia melirik alpha superior yang baru saja keluar dari club dan memberikannya peluang untuk mengambil celah.

"Yak! Kim Donghan!"

Suara menggelegar itu terdengar jelas di telinga Donghan. Argh, pasti penjaga tadi memanggil pemilik club.

Donghan membaur di antara sesaknya kerumunan alpha yang berpesta dan hendak melanjutkan ronde pertarungan lain. "Kim Donghan! Berhenti di sana!"

Donghan menyelip-nyelip menuju meja bar. Si pemilik club tidak akan menemukannya di pojok paling ramai. Dengan puas, ia memesan segelas bir sembari melihat ke arah kerumunan alpha yang sedang memilih peserta pertarungan selanjutnya. Pria berkulit pucat itu berdiri membawa gelasnya, hendak ikut mencalonkan diri dalam pertarungan tersebut. Namun …

Sreettt!

Donghan tercekik ketika kerah kemejanya ditarik dari arah belakang telak menekan jakunnya dengan keras. "Fuck!" umpatnya seraya memberontak dan melayangkan pukulannya kepada orang yang menariknya. Tepat. Pukulannya mengenai jakun orang itu.

Belum puas karena orang yang menariknya merasakan sakit yang sama di leher sepertinya, Donghan berbalik dan memelintir lengan penariknya. Percayalah, kurus begitu kekuatannya Donghan itu bisa meretakkan tulang. Ringisan lawannya membuat Donghan menyeringai remeh. "Bilang pada boss-mu, dia tidak punya hak untuk mengaturku. Sekarang enyahlah!" pria itu menghempaskan lawannya dengan kuat.

"Kim Donghan! Ketemu kau!"

Mata Donghan membola. Secepat kilat ia berbalik untuk melarikan diri dari pria yang mengejarnya. Namun, ia kalah cepat dari tangan yang segera mencengkeram lengannya kuat, membuatnya sedikit meringis kesakitan. "Kau tidak bisa lari lagi. Ikut aku keluar sekarang!" perintah alpha itu keras. Tapi Donghan sama sekali tidak gentar. Sepersekian detik kemudian ludahnya meluncur ke wajah alpha tersebut.

"Argh. Lepaskan sialan!" geram Donghan ketika alpha itu menariknya paksa keluar club.

"Aku memaksakan diri mengejarmu sampai dapat untuk melindungimu. Dan kau malah meludahiku?!" teriak alpha itu berang. Donghan memutar bola matanya malas sebelum balas menyemprot sang pemilik club itu.

"Persetan dengan melindungi! Melindungiku katamu?! Hah! Bilang saja kau mau melindungi club-mu ini dari proses hukum!"

Sang pemilik club menggeram kesal. "Nah, kau tahu! Jadi berhentilah datang ke club ini. Kau bisa saja diserang dan aku tidak mau lelah mengurus kasus hukum itu kalau terjadi di club ku!"

Donghan tertawa sinis. Ia meludah lagi—kini ke tanah—dan melayangkan sedikit umpatan sebelum pergi meninggalkan club.

.

.

.

Donghan tidak peduli apapun lagi. Ia berjalan dengan gusar menyusuri gelapnya malam. Entah sudah jam berapa sekarang, ia hanya peduli mengeratkan jaketnya dan pergi kemanapun ia mau. Kalau orang yang tahu jati dirinya pasti akan merasa tingkahnya yang liar ini ganjil. Namun, keadaannya saat ini adalah tidak ada yang tahu siapa dirinya.

Pria berkulit pucat itu menyeberang jalan tanpa melihat kanan-kiri. Toh jalanan sepi tengah malam begini. Lampu mobil yang menyorotnya pun bisa dipastikan hanya satu-satunya mobil yang lewat.

Ckiiiitt!

Rem mobil itu berdecit karena berhenti secara paksa. Moncongnya berhenti ketika nyaris mencium tubuh Donghan.

BRAKK!

Emosi, Donghan memukul moncong range rover yang kelihatannya mahal itu dengan kedua kepalan tangannya. Dari tempatnya ia bisa melihat ekspresi terkejut sang pengemudi di balik kaca depan mobil. Seorang alpha.

Mati saja kau, orang bodoh, desis donghan dalam hati. Tak lupa ia mengacungkan jari tengahnya kepada si pengemudi malam. Lalu tanpa rasa peduli, ia melenggang pergi. Kembali menghilang ditelan gelapnya malam.

.

.

.

Daniel terduduk dan menguap lebar-lebar. Matanya menyipit membiasakan cahaya matahari yang menyusup tanpa izin melalui jendela ruangan yang cukup lebar. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan sembari mengumpulkan kesadaran. Ini adalah apartemen milik Dongho. Hah, bagus juga. Sebentar lagi tempat ini akan jadi tempat pribadiku.

Biasanya begitu bangun Daniel akan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka dan membersihkan diri. Namun, ada yang berbeda hari ini. Daniel merasa sangat malas, entah kenapa. Alpha itu hanya duduk melamun di tempat tidurnya dan sesekali mengusak rambutnya hingga berantakan.

Tidak mungkin ia sakit. Ia memiliki stamina paling kuat di antara alpha lainnya. Hangover? Tidak juga. Ia tidak terlalu mabuk semalam. Ya, ia memang tidak terlalu mabuk. Buktinya ia bisa berkendara dari club ke apartemen utama Dongho, lalu berkendara lagi ke sini, apartemen cadangannya. Ia juga masih cukup sadar untuk mengingat apa yang terjadi tadi malam.

Tadi malam?

Waktu alpha itu mengunjungi tempat kakaknya, berusaha membuka pintu kamar yang terkunci, disuruh pergi, dan … ah, satu-satunya keganjilan yang ia temukan selain kamar yang terkunci adalah aroma menyengat yang ia rasakan di sana. Aroma yang membuatnya yakin kalau ada sesuatu yang disembunyikan kakaknya di dalam kamar. Aroma yang ia kenal sebagai aroma omega.

Wah, Daniel menyeringai begitu paham bahwa sang kakak—yang ia anggap sebagai pure alpha tersuci di abad ini—sudah berani menyimpan seorang omega di apartemennya. Namun seringai itu tak lama hilang saat menyadari bahwa aroma omega yang menguar dari tempat sang kakak itu bukan aroma omega biasa. Sebagai pure alpha yang sudah banyak berurusan dengan para omega, Daniel tentu tahu bahwa yang disimpan Dongho adalah pure omega. Dan entah kenapa aroma tersebut terasa begitu dekat dengan Daniel.

Holy shit, Daniel mengumpat kasar dalam hati saat darahnya berdesir hebat menuju bagian selatannya. Menciptakan gundukkan besar—kebanggaannya—diantara kedua kakinya. 'Omega itu lebih berbahaya daripada Minhyun,' simpulnya pendek sebelum merasakan tubuhnya yang sedikit memanas. Gila, tidak mungkin dia sudah heat lagi.

"Kang Daniel! Jangan mempermalukan dirimu sendiri," sahutnya gusar. Dengan cepat alveolusnya menukar oksigen dengan karbon dioksida, meredakan nafsu buas yang tiba-tiba timbul hanya karena omega yang bahkan belum ia lihat.

Aneh, baru kali ini Daniel merasakan ada gejolak deras dalam tubuh dan pikirannya. Rasanya seperti ada suatu benang tipis yang bergetar terhubung pada sesuatu di tempat lain. Debuman di dadanya seolah hendak menghancurkan tulang rusuknya. Dan dentuman kecil lain, terdengar dalam pikirannya.

Deg …

Deg …

Deg …

Alpha muda itu menggeram. Ia mungkin sudah gila bisa mendengar suara detak jantung dalam kepala. Ia berjalan ke kamar mandi seraya memegangi kepalanya yang pening.

Wajah lelah menyambutnya di balik cermin. Baik, Daniel menyerah. Tampaknya ia—untuk pertama kalinya—sakit sekarang.

"Kim Taedong, absenkan aku hari ini. Aku tidak akan datang ke kampus," perintah Daniel melalui ponsel.

.

.

.

Suara bel berbunyi gemerincing ketika Donghan membuka pintu Café bernuansa klasik yang hangat. Saat ini pukul 10 pagi dan perutnya belum terisi apapun setelah kejadian diusir dari bar semalam. Bahkan ia tidak sempat istirahat dengan cukup akibat berjalan lontang-lantung sendirian di tengah malam. Bukan tidak punya rumah, hanya saja ia tidak mau pulang ke rumahnya dan berkencan dengan kesepian dan rasa bosan. Jadilah malam itu ia hanya beristirahat sedikit di sauna dan keluar lagi begitu pagi menjelang.

"Selamat siang, tolong sebutkan pesanan anda," sapa kasir yang tadi sempat dilihatnya sedang bercengkrama dengan alpha.

"Kukira ini masih jam makan pagi," sahut Donghan malas. Mata tajamnya yang sedikit berkantung melirik ke sampingnya. Ke arah seorang alpha bertubuh tinggi yang tadi masuk bersama di belakangnya.

"Oh, m-maaf … aku sedikit gugup." Kasir ber-nametag Choi Minki itu membungkukkan tubuhnya sambil meminta maaf atas kesalahan sapaannya tadi. Sementara di sampingnya, kasir beta bernametag Kim Yongguk mendengus geli sembari mencatat pesanan alpha di samping Donghan. "Jadi, pesanan--"

"Tolong berikan aku secangkir caramel macchiato. Dan apa ada sesuatu yang bisa mengganjal lapar di sini selain kopi?" potong Donghan.

"Sebuah muffin atau waffle yang lembut mungkin bisa membantu mengisi perut kosong anda, tuan. Atau mau coba menu baru kami? Roti sapporo dengan keju yang meleleh adalah pilihan tepat bila anda menyukai keju. Atau sandwich isi … --"

"Muffin saja." Donghan lagi-lagi memotong kalimat Minki. Kasir itu sedikit menarik nafas. Menetralkan emosinya akibat ucapannya yang dua kali dipotong oleh pelanggannya sendiri.

"Baik. Satu caramel macchiato dan muffin. Ada lagi?" tanya Minki. Ia sedikit memutar bola matanya ketika Donghan hanya diam memerhatikan alpha yang sedang menunggu Yongguk mencatatkan pesanannya.

"Itu saja," jawab Donghan akhirnya.

"Nanti bisa tolong antarkan ke meja di pojok sana? Yang nomor 22," pinta alpha bertubuh tinggi itu kepada Yongguk yang lantas mengangguk.

"Atas nama siapa, Tuan?"

Alpha itu mengecek ponselnya sebentar sebelum menjawab pertanyaan sang kasir.

"Kwon Hyunbin."

.

.

.

"I was lucky as fucking hell! Gila. Tidak melihatnya seharian bisa membuat mataku segar dan cerah. Aku harus menikmati momen ini dengan baik."

Donghan melirik ke arah meja nomor 22 yang diduduki oleh alpha bertubuh tinggi yang tadi memesan berbarengan dengannya bersama seorang pria lain yang membelakanginya. Dari auranya, Donghan tebak pasti ia adalah alpha juga. Ia berjalan ke arah meja nomor 21 dan meletakkan makanannya di sana. Namun, Donghan langsung terdiam begitu bokongnya menyentuh permukaan kursi kayu, duduk membelakangi meja nomor 22. Ia merasakan feeling aneh di sini.

"Kau lagi. Mau-maunya dititipi absen oleh anjing samoyed sok ganas itu. Oh, ya. Aku lupa. Kau kan takut anjing." Suara alpha bernama Kwon Hyunbin tadi masih terdengar asyik berceloteh ditanggapi dengungan dari temannya.

"Aku tidak takut anjing, Hyunbin. Dan tolong naikkan sedikit tingkat kesopanan dan tata kramamu. Berhentilah mengumpati anggota keluarga kerajaan dengan nama-nama binatang seperti itu." Terdengar tanggapan temannya.

Sebuah dengusan, Donghan yakin itu berasal dari si Hyunbin. "Persetan dengan tata krama. Si bodoh itu sendiri tidak memilikinya. Dan hanya mengingatkan, siapa tahu kau lupa, aku juga anggota kerajaan. Panglima Kwon yang gagah berwibawa dan terkenal itu adalah ayahku dan sebagai seorang pure alpha, aku juga punya kesempatan yang sama dengan si otak udang itu untuk menduduki singgasana raja kalau aku mau."

Oh, orang penting. Batin Donghan bersuara. Dia memutuskan untuk tidak peduli pada apa yang dua orang itu bicarakan dan memakan sarapannya disaat cacing di perutnya sudah tidak bisa dikompromi lagi.

Dua orang yang pembicaraannya sejak tadi didengar oleh Donghan diliputi keheningan. Tak ada yang berniat membuka suara sejak percakapan terakhir mereka. Yang lebih tinggi meminum americano pesanannya dengan tenang. Berbeda dengan rekannya yang tampak tenang diluar namun kacau di dalam.

Iya, entah kenapa dadanya berdebar sejak tadi, tepatnya sejak ada seseorang yang menggeret kursi dibelakangnya. Walaupun ia tidak tahu siapa yang ada disana—dan ia tak berani untuk melihat kebelakang—tapi ia yakin satu hal. Itu mate-nya.

Katakanlah ia sok tahu. Tapi gejolak kuat—yang konon adalah tanda bahwa ia bertemu dengan mate—dalam dirinya mengatakan semuanya.

Jelas, gamblang, tidak ada keraguan.

"Oi, Kim Taedong," panggilan Hyunbin menyadarkan alpha yang tengah termenung merasakan debaran dalam dadanya. Yang dipanggil menoleh dengan cepat. "Kenapa diam?"

Alpha bernama Taedong itu menggeleng. Nyaris saja kepalanya berputar untuk menengok ke belakang. Ia gugup. Jangan buat dirinya melihat mate-nya dulu."Tidak. sebaiknya kita cepat selesaikan makan. Kelas akan dimulai sebentar lagi."

Hyunbin mengangkat bahu tidak peduli, lalu menyesap habis minumannya.

Taedong sendiri menghabiskan kopinya dengan lebih cepat. Alpha itu melambaikan tangannya memanggil pelayan untuk meminta bill ketika didengarnya suara gerakan orang buru-buru di belakangnya. Mate-nya sudah mau pergi?

Kemudian melalui jendela, sesosok bertubuh kurus tampak berlari cepat menjauh dari Café.

"Mate," gumam Taedong lirih.

.

.

.

Hari sudah siang ketika pria dengan wajah angkuh itu berjalan keluar dari supermarket dengan menenteng kantong plastik berisi bahan makanan dan beberapa botol minuman keras. Iya, dia sudah segar kembali setelah tadi pagi merasa pusing dan lemas seperti mau heat. Meskipun heat seorang alpha biasanya tidak separah itu. Hanya omega yang mengalami heat parah sampai lemas ingin disentuh. Beta mengalami gejala yang sedikit lebih ringan, sedangkan alpha nyaris tidak merasakan apa-apa, kecuali kalau ada omega yang menguarkan feromon manis menyengat di sekitar mereka. Dan tentu saja yang dalam bahaya tetap si omega, bukan alpha.

Wajah angkuh yang baru saja kembali setelah sempat menghilang tadi pagi itu menggerakkan matanya memindai lahan parkir mencari sebuah Jaguar F Type R Dynamic yang dikendarainya ke tempat ini. Senyumnya terkembang ketika menemukan si jaguar hitam mengilap yang menunggunya dengan elegan di sebelah barat. Ia menghampiri dan memasukinya.

Bibirnya menggumam sendiri ketika menjalankan jaguarnya mundur keluar dari lahan parkir supermarket yang cukup luas. Tak lama kemudian, jaguar hitam mengilap itu meluncur membelah jalan raya.

Mobil keluaran Inggris tersebut berhenti di depan sebuah kedai eskrim yang cukup terkenal dan ramai. Mungkin satu jumbo cup eskrim rasa dark chocolate dengan topping jelly akan menyegarkan siang-siang terik begini, begitu pikirnya.

Belum ia turun dari mobil, mata tajamnya menyipit ketika melihat sosok yang tidak terlalu asing berjalan di depan kedai. Remaja laki-laki berseragam sekolah itu mengundang senyumnya untuk terkembang.

"Hey, little alpha," panggilnya dengan senyuman kecil di bibirnya. Alpha muda yang dipanggil itu menolehkan kepalanya dengan cepat. Delikan di matanya menyiratkan kalau ia tidak menyukai panggilan itu. Namun, begitu netranya bertabrakan dengan eyesmile pemanggilnya, ia berubah gugup.

"K-Kang wangja-nim!" serunya seraya membuat gestur hormat dengan tubuhnya.

Pria muda itu terkekeh menampilkan sepasang gigi kelincinya yang terlihat seolah membanting kesan angkuh di wajah tampannya yang terlihat setiap hari. "Daniel hyung," koreksinya.

"Da--Daniel hyung?" pure alpha muda di depannya mengerjap lucu. Aneh, ada ya pure alpha tapi seimut itu.

"Daniel hyung." Daniel mengangguk meyakinkan. "Jadi adikku sini," tawarnya—yang lebih terdengar seperti perintah.

"Oh!" anak itu membelalakkan matanya yang terlihat berbinar terang. "Boleh ya, H—hyung?"

Daniel tergelak melihat respon Woojin. Iya, anak itu adalah Lee Woojin. Alpha kecil—ralat, pure alpha muda— yang pernah berpapasan dengan Daniel di wilayah Korona kemarin. Sampai sekarang Daniel masih menganggapnya sangat imut dan lucu untuk seorang alpha. Pure alpha pula.

"Kau tidak mau jadi adikku?"

"Ah, t—tentu aku mau! … Daniel hyung …?" suara Woojin lagi-lagi mencicit ketika menyebutkan dua kata terakhir. Membuat gelak tawa Daniel semakin menjadi. "Hyung dari mana? Habis menemui Minhyun wangja-nim?"

Raut wajah Daniel berubah, keningnya berkerut samar sebelum menjawab, "ah, aniyo. Minhyun tidak memperbolehkanku mengunjunginya hingga beberapa hari ke depan."

"Oh …? Ah, ya aku lupa. Minhyun wangja-nim kan sedang heat."

"Heat?" Daniel mengangkat alis. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

"Eung!" Woojin mengangguk. "Sejak kemarin malam sampai tadi pagi ia terus mengunci diri di kamar dan hanya memperbolehkan aku, Seonho, dan Daehwi saja yang masuk. Itu juga cuma sekali di waktu sarapan dan saat aku mengambil buku sejarah di kamarnya. Asal kau tahu, Hyung, bau feromonnya sangat menyengat. Untung aku masih di bawah umur. Kalau hyung di sana, bisa dipastikan hyung tidak bisa mengendalikan diri," ceritanya dengan semangat.

Daniel terdiam sebentar, kemudian terkekeh menanggapi cerita Woojin.

"Astaga, Woojin-ah! Kau masih di bawah umur!" kekehnya lagi seraya mengulurkan tangan mengacak rambut Woojin. Setelah itu, sang pure alpha dewasa terdiam seolah memikirkan sesuatu.

"Ada apa, Hyung?" tanya Woojin khawatir.

"Oh, tidak ada." Daniel tersentak dari lamunannya. "Hanya kupikir, aku perlu memastikan sesuatu kepada seseorang."

Tangannya menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Ia tersenyum manis lagi kepada Woojin.

"Mau ikut aku? Aku mau mengajakmu ke Grand Palace," ajak Daniel. Tampaknya ia melupakan tujuan awalnya berhenti di tempat ini.

Grand Palace yang ia maksud tentu saja adalah istana utama tempat keluarga besar kerajaan Klan Barbarian—mencakup keluarga utama, para penasihat, prajurit, hingga pelayan— berkumpul dan melakukan berbagai aktivitas kerajaan. Selain keluarga besar kerajaan, ada juga beberapa orang luar yang diperbolehkan masuk dan beraktivitas di dalam. Tentu saja yang bisa masuk ke sana tidak sembarang orang.

Woojin tidak menolak. Ia patuh ketika disuruh masuk melalui pintu di samping kemudi. "Ada apa di Grand Palace, Hyung?"

"Ada banyak," jawab Daniel. "Yah, kau kan alpha, satu-satunya pure alpha Korona pula. Pasti kau memerlukan banyak pengalaman berlatih sebagai alpha. Selain belajar di antara tumpukan buku."

"Maksud hyung bela diri? Aku sudah cukup banyak berlatih, kok. Di istana Korona." Woojin menyahut sembari berusaha memasang safebelt-nya.

"Iya, tapi aku tidak yakin di sana fasilitasnya memadai untuk seorang calon alpha hebat sepertimu. Di Grand Palace, selain banyak alpha muda lain yang bisa mendukung latihanmu, fasilitasnya lebih banyak dan jelas lebih bagus juga berkualitas," jawab Daniel lagi seraya membantu sang alpha muda memasang safebelt itu.

Woojin mencebik. "Hyung, kau meremehkan Klan Korona."

Daniel terkekeh sembari melajukan mobilnya.

.

.

.

.

.

Siapa yang dari preview episode kemarin mengira bakal ada yang iya-iya di sini??

Next chapter ya~ hehe

Love you, readers~

Edited : maaf kemarin agak eror, kehilangan tanda pemisah :(

terima kasih kepada syugarbby yang sudah mengingatkan secara pribadi~