Desclaimers : sampai kapanpun mereka bukan punya saya, :p ide cerita punya saya :D
Warnings : Gaje, Abal-abal, Typos, jelas OOC, de el el. de el el.
Enjoy! ^^
"Qabiltu nikaahahaa wa tazwiihahaa bil mahril madzkuuri naqdan." *
Air mata tak terbendung saat suara berat yang Hinata kenali itu mengucap ijab qabul dengan lantangnya. Mulai detik itu juga ia sah menjadi istri Gaara Sabaku. Mulai detik itu pula segala sesuatunya kini bertumpu pada pria jangkung yang kini telah berada di hadapannya, menjulurkan tangannya. Sesaat Hinata menatap wajah Gaara, kemudian dengan gestur yang terlihat masih canggung, ia raih tangan kekar itu, mengecupnya untuk yang pertama kali, sebagai simbol rasa hormatnya untuk sang imam. 'Apa aku bisa menjadi istri yang baik? Istri yang patuh? Yaa Rabb, bimbing hamba,' batin Hinata.
Seminggu setelah malam itu, acara pernikahan sederhana di gelar di kediaman Hinata. Benar-benar sederhana yang hanya dihadiri keluarga dari kedua belah pihak maupun beberapa kerabat dekat. Mungkin terkesan sangat mendadak dan terburu-buru, namun seperti itulah adanya.
Bagi Hinata hal ini tidaklah jadi masalah, tak mengapa pesta tak digelar mewah, yang penting adalah kesakralan dan kesucian dari sebuah pernikahan, itu cukup. Lihatlah Hinata pun terlihat sangat cantik dan menawan walau hanya dengan kebaya sederhana dan riasan tipis di wajahnya. Begitu pula dengan Gaara, tuxedo hitam dan kopiah hitam sangat membuatnya terlihat gagah.
Binar-binar indah terpancar dari mata tamu-tamu yang hadir. Decak kagum atas pengantin yang kini sedang bersanding di pelaminan sanggup membuat iri siapa saja yang melihat. Karura tak henti-hentinya terisak. Bahkan Hiashi pun terlihat menyeka salah satu sudut matanya. Haru. Sedih. Namun bahagia.
Tiga hari pertama Gaara dan Hinata tinggal di rumah Hiashi dan tiga hari berikutnya mereka tinggal di rumah Rei di Suna. Minggu itu minggu terakhir, karena sesuai rencana mereka akan terbang menuju Yaman. Dan selama seminggu itu mereka sibuk sekali, terlebih Gaara. Sibuk mengurusi ini itu keperluan untuk kepindahan.
Dan setelah minggu itu berlalu, ada rasa khawatir di wajah Gaara saat ia mengatakan pada Hinata, "Dinda, di flat itu nggak ada apa-apanya." Ia menatap Hinata sendu. Sejak mereka menikah, Gaara memang memanggil Hinata dengan panggilan 'Adinda' begitupun Hinata memanggil Gaara dengan 'Kanda'.
Sebenarnya Gaara dan Hinata berasal dari keluarga yang cukup berada. Dan lagi pula sebenarnya Gaara akan difasilitasi rumah dinas, namun ia memilih menyewa flat, entahlah hanya saja mungkin itu masalah harga diri bagi kaum lelaki, Hinata juga tidak begitu mengerti.
Di tengah kekhawatirannya itu Hinata berkata padanya, "Kanda, asalkan ada ember biar dinda bisa nyuciin baju kanda, asal ada paku dan tali biar dinda bisa ngejemur, asal ada api biar dinda bisa masak buat kanda, asal ada alas buat kita tidur, asal ada kain buat nutup jendela, asal ada sapu biar rumah kita tetap bersih, asal cukup air, asal bisa beli bayam dan tempe, dan selang sehari kita shaum... insya Allah, itu bukan masalah bagiku."
Gaara tersenyum, masih dengan tatapan yang sendu itu. Sejak ta'aruf dulu, dia telah mengatakan segala kemungkinan hidup mereka nanti. Dan Hinata telah menyatakan kesiapan. Insya Allah, ia sanggup menghadapi apapun bersama Gaara.
Esok harinya mereka pun pindah. Selama seminggu sebelumnya Hinata memang tidak mengetahui seperti apa flat yang dimaksud Gaara.
"Hati-hati ya Teh Hinata, jaga dirimu baik-baik. A Gaara, tolong jagain Teh Hina ya." Kata Hanabi dalam isak. Gaara maupun Hinata mengangguk.
"Ibu akan merindukan kalian nak." Karura tak mau kalah dengan sapu tangan yang sudah basah digenggamannya.
"Kami juga Bu. Tapi ibu dan yang lainnya jangan sedih. Kami hanya lima tahun saja disana. Doakan kami." Papar Gaara dengan senyuman.
"Om Gaala balu juga kembali dari Madinah sekalang mau pelgi lagi. Aku pengen ikut." Rengek Ino dengan manjanya.
"Nanti kapan-kapan Ino sama Ibu kan bisa jenguk Om. Ya?" tanya Gaara. Ino mengagguk kuncir rambutnya ikut bergoyang.
"Abi, jaga kesehatan abi." Hinata memeluk Hiashi. Air mata mengalir di pipinya yang putih itu. Hiashi hanya mengangguk, tak sanggup berkata. Putri tercintanya akan pergi jauh, sungguh hatinya tersayat namun apa daya. Hinata harus patuh pada suaminya bukan?. Pelukan antara ayah dan anak itu semakin mengerat.
"Teh Tenten, A Neji, tolong jaga Abi dan Hanabi untukku. Dan kabari aku saat Teh Tenten melahirkan."
"Insya Allah, pasti." Jawab Neji mantap.
"Kabari kami juga bila anggota keluarga baru darimu hadir ya Hinata." Ujar Tenten dengan nada menggoda dengan mata yang berkaca.
"E-eh?"
Sontak semua tertawa. Wajah Hinata memerah dan Gaara hanya menyunggingkan cengirannya.
Tak lama kemudian panggilan pesawat yang akan mereka tumpangi terdengar. Dengan pelukan terakhir dari semua anggota keluarga yang mengantar, mereka melangkahkan kaki menuju destiny mereka.
Beberapa jam menempuh perjalanan udara, mereka sampai di Yaman. Kota yang sungguh indah dengan kultur Islam yang sangat terasa. Segera mereka menuju flat yang telah dibeli Gaara dengan mengendarai mobil yang di kirim dari kedutaan. Dan saat mereka sampai di sana... Subhanallah, ruang tamu mungil dengan perabotan terbuat dari rotan yang cukup untuk diduduki empat orang saja. Rak buku menjadi penghalang ruang tamu dengan ruang makan.
Hinata melihat-lihat seluruh flat itu. Ruang makan yang sederhana hanya tersedia dua bangku di situ dengan meja kecil yang cukup untuk makan kita berdua saja. Di kamar tidur ternyata telah ada sebuah tempat tidur, lemari baju dan meja hias. Di sebelah kamar itu ada ruang kosong, untuk kamar anak-anak kelak. Di dapur telah ada peralatan memasak. Di bagian belakang flat itu ada kamar mandi. Di luarnya telah ada sapu ijuk dan sapu lidi plus tempat sampah. Di tempat mencuci telah ada ember dan gayung. Semua jendela telah berkordin.
Belum sempat Hinata mengomentari rumah itu, Gaara berkata, "Dinda, kanda lupa beli tali sama paku buat jemuran."
Hinata tertawa, "Dinda kira flatnya bener-bener kosong nggak ada apa-apanya."
"Yaaah... maksudku gak ada apa-apanya dibandingin rumah dinda."
Hinata tersenyum, 'dasar kanda!'
"Dulu yang kupinta pada Allah adalah hanya seorang suami seperti kanda, yang sholih, yang mau usaha, yang optimis, tawakal. Jadi di manapun kita tinggal, seperti apapun keadaanya, sekurang apapun fasilitasnya, asalkan ada kanda. hidupku udah lengkap."
Di pandangi Al Quran bersampul kuning keemasan itu. Warnanya tak sedikitpun pudar walaupun telah satu tahun ia tinggal di rak buku ruang tamunya. Lembarannya tak cacat sedikitpun walau sering Hinata baca. Dan setiap kali akan membacanya, Hinata akan memandangi takjub maharnya itu.
Gaara, suaminya baru saja pulang kerja. Dia tampak lelah. Sebagai istri yang sigap, Hinata segera menyiapkan air hangat untuknya sore ini. Makanan dan minuman kesukaannya telah dihidangkan di meja makan lebih awal. Sprei tempat tidur telah Hinata ganti. Kordin telah dicuci dan terpasang lagi. Seluruh bagian flat telah ia bersihkan.
"Kok senyum aja sih dari tadi?" Gaara menegurnya. Istrinya yang cantik itu hanya bisa tertawa kecil. "Nggak apa-apa. Pingin sedekah aja." Suaminya membalas seyuman dan pergi mandi.
Saat ditutup, Hinata amati pintu kamar mandi itu, dan sekeliling flat ini. Flat yang mulai merajut kenangan didalamnya. Malam Hinata dan Gaara menikmati makan malam sebelum isya. Seperti biasa, flat selalu terasa sepi.
Terdengar suara motor ataupun mobil berderu melewati flat mereka sekali waktu. Terdengar pula suara televisi tetangga sebelah flat dan sesekali tawa mereka.
Dari seberang meja makan dipandanginya suami yang telah menikahinya satu tahun itu. Baju koko telah dipakainya. Dia telah siap untuk berangkat ke masjid. Wajahnya tak berubah, masih seperti itu, kalem. Subhanallah.
Sepulang Gaara dari masjid, Hinata baru saja selesai mencuci piring.
"Aku baru inget. Satu tahun lalu kanda nikahin kamu ya, din? Pantes dari tadi seyum aja. Ngerayain yang kayak gitu-gitu nggak level kan, din?! Nah, mendingan pijetin kanda nih, rasanya capek banget hari ini."
Hinata tersenyum, "Setelah menikah aku baru tahu, kanda itu ternyata manja sekali ya." Godanya.
"Habisnya dinda yang salah sih. Siapa suruh jadi istri yang manisnya pake banget kaya gini." Balas Gaara sambil mencubit pipi Hinata manja.
"Idiiih" Hinata bergidik namun sedetik kemudian mereka tertawa.
"Kanda, kanda Selamat Ulang Tahun…" bisik seraut wajah cantik tepat di hadapan suaminya.
"Hmm…" Gaara yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan tidur kembali setelah menunggu sekian detik tak ada kata-kata lain yang terlontar dari bibir istrinya dan tak ada sodoran kado di hadapanku.
Shubuh itu usia Gaara dua puluh enam tahun. Ulang tahun kedua sejak pernikahan mereka satu tahun yang lalu. Ya, mengingat hari pernikahan mereka hanya berjarak dua minggu dari hari ulang tahun Gaara. Nothing special. Sejak bangun Gaara cuma diam, pura-pura memasang wajah kecewa. Tak ada kado, tak ada black forest mini.
"Kanda? Kanda kenapa?" tanya Hinata dengan nada bingung dan khawatir.
Gaara menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Mata Hinata tepat menancap di matanya.
"Gak ada kado?"
"Loh, katanya gak level yang gitu-gitu." Jawab Hinata tersenyum geli melihat tingkah suaminya.
"Marah ah." Kata Gaara manja.
"Tahun lalu, waktu dinda ngasih kado, kan kanda bilang gak usah repot-repot. Hayoo..." Hinata semakin tersenyum geli.
"Tapi sekarang aku lagi ngidam." Ujar Gaara, sebelah alisnya terangkat, matanya berkedip manja pada Hinata.
"Sejak kapan kanda ngidam? Lagi pula kandunganku sudah delapan bulan, sudah tidak pada waktunya untuk mengidam."
"Yaaah..." Gaara mendesah kecewa.
"Nyerah?" tanya Hinata jahil.
"Apanya?"
"Ini, tadaaa!" Di tangan Hinata tergenggam sebuah bungkusan warna merah.
Seketika mata Gaara berbinar, "Oh adindaku tercinta, kanda Cuma bercanda," Ia tertawa, "tapi karena tanggung, sini kadonya!"
"Tidak semudah itu." bungkusan itu enggan disodorkan Hinata pada Gaara, "ada harga yang harus kanda bayar."
"Oh ya? Apa itu?"
"Ini nih.." jawab Hinata, malu-malu menunjuk kedua pipinya dengan kedua telunjuk tangannya.
Mengerti dengan maksud Hinata, Gaara tersenyum jahil, "yang ini nya nggak sekalian?" menujuk bibirnya.
"Aish!" Hinata semakin memerah. Dipukulnya lengan Gaara manja. Tanpa ba-bi-bu, dikecupnya kedua pipi istrinya itu seperti apa yang diminta. Hinata tersenyum senang.
"Nih..." kado berbungkus merah itu Hinata sodorkan pada Gaara, "Selamat ulang tahun ya Abinya putraku" bisiknya lirih.
Sambil meraih kado itu Gaara membalas, "Terima kasih Umminya putraku."
"Sebenernya aku mau bangunin kanda semalam, dan ngasih kado ini, tapi kanda capek banget ya?" Ucapnya takut-takut.
"Sungguh tak apa istriku." Gaara mencoba tersenyum, "Aku buka ya?"
Hinata hanya mengangguk tersenyum.
Gaara membuka perlahan bungkusnya sambil menatap lekat mata Hinata yang berbinar.
"Maaf ya, aku cuma bisa ngasih ini. Nggak bagus ya, kanda?" ucapnya terbata. Matanya dihujamkan ke lantai. Gaara menarik Hinata kedalam pelukkannya, walau awalnya Hinata sedikit kaget, tapi kemudian ia membalas pelukan suaminya itu. Perutnya yang besar sedikit menghalangi mereka. "Aku suka." Bisik Gaara tepat di telinga Hinata.
"Perutmu itu membuatku susah memelukmu." Ucap Gaara terkekeh setelah melepaskan pelukannya yang langsung mendapatkan pukulan kecil dari istrinya itu.
"Tapi walau perutmu besar seperti itu, aku sangat senang, karena disana, jagoanku sedang bersembunyi. Lagipula istriku terlihat berkilau." Goda Gaara. Hinata tertawa mendengar rayuan suaminya itu. Ia tak habis pikir, suaminya itu senang sekali menggoda.
"Uang yang diberikan kanda sisanya yang cukup banyak itu diam-diam suka ku tabungkan. Dan mengingat jam tangan kanda yang rusak itu, aku tak tega. Kanda pasti sangat membutuhkannya. Maka dari itu, kemarin sekalian berbelanja, ku sempatkan pergi ke toko jam. Ku harap kanda tidak marah karena uangnya aku belikan barang tanpa sepengetahuanku."
"Sejak kapan aku pernah marah padamu?" jawab Gaara tersenyum. Hinata menggeleng, "Tidak pernah."
"Dinda gak usah takut, selama itu untuk hal yang positif, aku ikhlas uangku dinda belanjakan apa saja. Uangku adalah uangmu."
Hinata tersenyum manis.
"Terima kasih banyak Hinata." Gaara menggenggam tangan Hinata.
"Kanda, lihat aku," pinta Hinata padanya. Gaara menatap istrinya lekat. Butiran bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan. Gaara tahu Hinata begitu menyayanginya. Gaara tercekat menatap pancaran kasih dan ketulusan itu. "Tahu nggak, kanda ngasih aku banyaaaak banget," bisik Hinata di antara isakan. "Kanda ngasih aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang perhatian. Kanda ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya. Kanda ngasih aku dede'" senyum Hinata sambil mengelus perutnya. "Kanda ngasih aku sebuah keluarga yang sayang sama aku, kanda ngasih aku Ibu." bisiknya dalam cekat.
Terbayang wajah ibu mertuanya yang perhatiannya setengah mati padanya. "Kanda yang selalu nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain mana ada suaminya yang selalu telepon setiap siang," isak Hinata diselingi tawa. Gaara tertawa kemudian memeluk Hinata. Tangis Hinata semakin kencang di pelukan suaminya.
'Rabbana… mungkin Engkau belum memberikan kami karunia yang nampak dilihat mata, tapi rasa ini, dan rasa-rasa yang pernah aku alami bersama suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi-mimpiku akan sebuah flat, katakanlah rumah pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke, fasilitas-fasilitas. Harta yang hanya terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa aku masih bertanya. Mengapa keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa ketulusannya atas apa saja yang ia berikan untukku? Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru menikah.
'Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…'
Yaa Rabb, sungguh terima kasihku padaMu. Maka dari itu, aku berjanji pada-Mu, aku kan berusaha menjadi istri yang shalehah bagi suamiku. Sebagai salah satu bukti my grateful pada-Mu.'
END
Selesaaaaaaiiiii... ahaaaa :D alhamdulillah. :')
Sebelumnya ada yg berspekulasi bahwa chap 3 adalah endingnya, tapi ya sejatinya yang ini endingnya. Hehe lupa nulis TBC sih disana. xD
Fic ini sekalian buat ngerayain ultahnya Gaara. Yuhuuu :D
Terima kasih terima kasih buat yang sudah rela menyisihkan waktunya untuk baca fic saya :*
Review bila berkenan :D
