Badai Arab Spring

Summary : pewaris Namikaze, anak dalam ramalan sudah muncul. Semua orang berebut ingin mendapatkannya. Itachi akhirnya yang kelimpungan dan paling repot dibuatnya. Di lain pihak Naruto punya misi rahasia dari ayahnya. Sekuel Konoha Love Story.

DISCLAIMER : Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

Genre : Family dan Drama

WARNING :Cerita istimewa untuk orang-orang yang mendambakan cerita Islami. Bagi yang tak suka silakan klik tombol keluar. Bagi yang suka silakan tinggalkan review.

Pair : ItaNaru, ItaKyuu

Don't Like Don't Read

Chapter 4

Neji mengajak Sasuke ke apartemennya yang diiyakan Sasuke, 'Daripada nganggur di rumah' Pikir Sasuke. "Mau minum apa?" tanya Neji ramah menawarkan minuman saat kekasihnya ini santai duduk di sofa.

"Air putih saja. Tak usah repot-repot."

"Gak repot kok." Kata Neji sambil mengambil air minum di kulkas. Ia tahu kalo kekasihnya ini senang minum yang dingin jadi ngambil air di kulkas bukannya di kran. "Elo masih marah sama Naruto?" lanjutnya seraya menuangkan air di gelas.

Posisi duduk Sasuke mulai tak enak. Ia jadi sebal teringat kejadian sore tadi. "Gak usah tanya."

Neji tertawa kecil. "Hey tak usah marah-marah gitu, kalem aja lagi. Memang masih banyak yang tak setuju dengan hubungan sejenis. Yang mengecam juga tak teritung. Kenapa kamu jadi tersinggung dengan ucapan cewek itu?"

"Ya mereka memang sering menyumpahi kaum seperti kita. Tapi baru kali ini aku denger langsung. Pake acara ngancem segala lagi."

"Dia gak ngancem. Hanya membicarakan apa yang tertulis di kitabnya."

"Kok elo jadi belain dia sih?"

"Gue gak belain dia. Gue hanya gak suka elo terpengaruh dengan omongannya. Ini tentang kita hubungan kita, tak ada sangkut pautnya dengan luar. Karena itu gue harap elo gak masukin di hati ucapannya. Anggep aja angin lalu." Kata Neji, padahal dalam hati ia sudah misuh-misuh Naruto. Ia janji akan membuat perhitungan dengan gadis itu jika sampai Sasuke terpengaruh omongannya. Dan tidak. Ia tidak sedang membela Naruto. Dia hanya ingin bermesraan dengan kekasihnya dan itu tak mungkin bisa terjadi kalo Sasuke masih memikirkan cewek gak jelas gitu. Ia merasa seperti ada Naruto di tengah-tengah mereka.

Neji duduk di samping Sasuke, membelai helai rambut nan halus milik Sasuke, lembut. Perlahan karena tak ada penolakan dari Sasuke, tangannya merayap ke wajah dan akhirnya berakhir pada bibirnya. Dibelainya ringan, menggodanya sebelum tangannya diganti dengan bibir Neji. Awalnya memang hanya kecupan ringan, tanpa nafsu seolah ingin menenangkan Sasuke.

Lama kelamaan kecuman ringan berganti penuh tuntutan dan beralih dengan cepat jadi lumatan. Sambil melumat bibir Sasuke dan bersikeras mendobrak mulut nan lembab Sasuke membuainya, tangannya bergerilya di bawah sana, menyentuh apapun yang dilewatinya. Pertama ia menggerayangi, menelusuri tiap inci dada bidangnya dan jika menemukan titik sensitive Sasuke maka ia akan berlama-lama di sana. Ia memilin dan menggoda putting kemerahan Sasuke. Hei entah bagaimana ceritanya Sasuke rebahan di atas sofa, dan kancing baju Sasuke sudah tanggal semua, tanpa Sasuke sadari. Tangan kiri Neji tak mau ketinggalan, meraba tubuh Sasuke bagian bawah. Ia menelusup di celana panjang Sasuke, mengelus dedek Sasuke dan merangsangnya.

Ini bikin Sasuke mulai tak nyaman. OK dia memang sering berciuman dengan Neji karena ciumannya sungguh memabukkan, dan dia sangat berharap bisa bercinta seperti yang biasa dilakukan sepasang kekasih yang dimabuk asmara, tapi saat ini ia sedang badmood. Ia mendorong tubuh Neji. "Sory, gue lagi gak mood. Gue balik dulu deh." Katanya ringan, membenahi kancing bajunya.

Tubuh Neji bergetar hebat, darahnya menggelegak hingga ke ubun-ubun. Neji yang dikuasai amarah karena lagi-lagi Sasuke menolak diajak bercinta, tak terima, mungkin akibat hasrat yang tak tersalurkan. Dia sudah menuggu 6 bulan lamanya. Dia rasa itu waktu yang cukup lama. Ia sudah bersabar dengan segala sifat manja, arogansi, dan egosime sang Kekasih. Tapi kali ini tidak. Ia sudah tak bisa menunggu lagi.

Ia menarik paksa baju Sasuke dari belakang saat Sasuke berniat menarik daun pintu dan membantingnya di atas lantai, membuat kekasihnya ini tersentak kaget. 'Awww…' teriak Sasuke. Sakitt… itu yang Sasuke rasakan ketika tubuhnya berbenturan dengan lantai nan dingin dengan cara kasar pula. Tapi hatinya lebih sakit lagi. Matanya membulat tak percaya kekasih yang amat dicintainya ini tega berbuat kasar seperti ini padanya. Tapi alih-alih minta maaf dan melepaskan Sasuke, Neji malah menindihnya dan dengan paksa melanjutkan adegan cumbuan yang tertunda.

Ia mencium paksa Sasuke, tapi Sasuke memberontak hebat. Mereka saling bertarung hebat saling tumpang tindih, tak ada yang mau mengalah. Tapi akhirnya pertarungan ini dimenangkan oleh Neji. Ia berhasil menduduki tubuh Sasuke dari arah belakang dan mencengkeram tanggannya di atas punggung Sasuke, tentus saja ini berakhir dengan beberapa noda darah menghiasi kepala Sasuke dan bagian tubuh lainnya. Neji sudah berniat mengikat tangan Sasuke yang masih mencoba melawan, dan membuat Sasuke makin ketakutan.

Sungguh ia tak mau diperkosa apalagi oleh kekasihnya sendiri. Meski tahu sia-sia, ia tetap memberontak hebat. Dalam hati ia berdoa 'Siapa saja tolong aku. Aku akan memberikan apapun padanya.' Dan sepertinya Tuhan menjawab doanya. Saat Neji sudah nyaris berhasil mengikat tangan Sasuke, tiba-tiba HPnya berdering. Awalnya ia mau mengabaikannya, tapi bunyinya begitu mengganggu telinga, maka dengan terpaksa ia mengambilnya dari dalam saku celana panjangnya dengan hanya satu tangan. Soalnya tangannya yang satu lagi dipake untuk menelikung tangan Sasuke di atas punggungnya. Ia sudah berniat mendamprat siapun pun itu yang ngebel dia.

"Hallo!" bentaknya kasar.

"Haloo. Neji cepat ke rumah Sai!"

Neji menggeram marah setelah tahu siapa yang telah berani mengganggu kesibukannya ini. "Memang kamu siapa berani memerintahku?" tukasnya kasar.

"Maaf maaf, tapi Hinata terluka. Dia sedang…"

"Apa….?" karena terkejut, tanpa sadar Neji melonggarkan pegangannya dan itu tak disia-siakan Sasuke. Ia memberontak hebat, membuat Neji terjengkang dan bergegas lari ke pintu untuk menyelamatkan diri dan membuat Neji mengeluarkan sumpah serapahnya. Tapi dia segera ingat kalo imoutonya sedang dalam bahaya jadi dia memilih mengabaikan semua itu. "Aku segera ke sana!" katanya sebelum memutuskan sambungan. Ia merapikan sejenak penampilannya yang sedikit berantakan dan bergegas turun ke bawah. Ia menstater mobilnya, melaju membelah jalanan Konoha yang sedikit rame ke rumah Sai. Ia sedikit ngebut karena ingin cepat sampai.

Sasuke yang berhasil melarikan diri melajukan kendaraannya dengan ugal-ugal ke rumah. Untung saja saat itu ia tak mengiyakan, ikut mobil neji jadi dia bisa kabur secepatnya. Ia terus memukuli kemudi mobil frustasi. Kenapa hal ini bisa terjadi padanya? Hatinya sakit, batinnya menangis, tapi tertutupi face pookernya. Begitu sampai rumah, tanpa banyak kata ia langsung masuk kamar dan menendang pintunya kasar. Tak hanya sampai di situ saja, ia juga melampiaskan amarahnya dengan menendang dan merusak semua perabotan di kamar, seperti orang kalap.

'Prangg…' terdengar suara gaduh dari kamar sebelah, mengganggu aktivitas Akatsuki yang menelusuri data Naruto. "Chi, elo lihat kamar adikmu, gih. Kayaknya dia butuh elo." tegur Hidan yang terganggu dengan suara gaduh di sebelah.

"OK, saatnya jadi aniki yang baik." Kata Itachi semangat. Tumben dia lagi berhati malaikat mau bantuin otoutonya, biasanya juga cuek bebek. Kepengaruh virus baik Naruto kali ya? Itachi memasuki kamar adiknya diikuti Hidan.

Pintu kamar Sasuke terbuka, beruntung kamarnya gak dikunci jadi mereka bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Oh wow. Kamarnya berantakan banget. "Mau apa kemari?" desis Sasuke dingin.

"Hanya mengkhawatirkan adik tercinta."

"Sejak kapan kau jadi orang baik? Sudah ganti aliran? Hmm rupanya elo juga jadi penganut aliran Naruto juga ya?"

"Elo ada masalah dengan Naruto?"

"Bukan urusan elo, Baka. Keluar dari sini!"

"Jadi benar. Ada masalah apa?"

"Elo gak dengar apa yang gue bilang. Brengsek!" teriak Sasuke sambil melempar vas bunga yang dengan mudah dihindari Itachi. "Kalo gak cerita, ya gak apa-apa. Ntar panas dalam lho." Kata Itachi tenang sedikit melucu.

Sasuke yang merasa lelah dengan semua ini akhirnya luluh dan tidur di bawah dikelilingi Akatsuki yang sudah ngumpul semua di kamar Sasuke. Sasuke bergetar menahan emosi. "Aku memang mau cerita, tapi gak sama semuanya juga kali."

"Hey rahasia Itachi rahasia kita juga. Jadi kami wajib denger." Kata Dediara yang emang usil membela diri. 'Logika darimana itu?' pikir Sasuke sebal. Tapi cuek ajalah, toh bukan top sekret ini. Setelah mgnambil nafas panjang ia pun cerita percakapannya dengan Naruto tadi sore minus adegan baku hantam dengan yayangnya tentu saja.

Itachi manggut-manggut. "Jadi elo marah karena dikomentari gitu. Tapi kan isi kitabnya emang gitu semua. Yeah bisa dibilang seluruh warga Jepang yang sudah dianggap dewasa kena hukum rajam karena banyak yang terlibat zina, minum-minuman keras, dll. Lalu apa masalahnya?"

"Dia mau lempar gue dari atas menara Tokyo. Siapa yang gondok?"

"Itu berarti perbuatan itu sudah melewati batas." Kata Hidan.

"Maksudmu?" tanya Sasuke bingung.

"Ya mereka punya standar moral yang tinggi. Kalo seks bebas itu kayak binatang, maka layak dihukum agar manusia tetap berperilaku layaknya manusia. Kalo binatang aja gak ngelakuin itu berarti manusia tu lebih rendah dari binatang. Makanya hukumannya harus lebih berat lagi." Jelas Hidan

"Kok kayaknya elo bela dia gitu?" (Sasori)

"Tunggu kayaknya elo tahu banget soal agama yang dianut Naruto?" (Pain)

"Sepupuku ada yang mualaf. Gara-gara itu ia dibenci keluarga besar bahkan orang tuanya tak mengakui dia sebagai anak. Tapi dia tetap keukeuh, diusir kek gimana selalu datang ke rumah."

"Minta hak waris gitu?" Potong Kakuzu sinis.

"Ia selalu bawa hadiah yang mahal-mahal kesukaan keluarganya khususnya ibunya, padahal yang dipake istrinya sederhana. Waktu ku tanya untuk apa berbuat begitu? Dia bilang 'Orang tua sudah banyak berkorban untukku dari aku lahir hingga aku besar. Pemberian ini tak sebanding dengan pemberian mereka.''

"Lebih gilanya lagi, Dia pernah ninggalin rapat bisnis penting karena mendengar ibunya jatuh dari tangga. Waktu ditanya kenapa. Dia jawab 'Uang bisa dicari. Tapi nyawa ibu hanya satu dan itu tak bisa diganti.' Di lain waktu ia selalu menyuruh istrinya melayani kebutuhan ibunya yang sudah mulai tua tanpa banyak keluhan. Waktu ditanya apa alasannya. Ia jawab 'Surga suamimu itu terletak di telapak kaki ibu. Jika kau mencintaiku dan ingin aku berada di surga maka jagalah pintu surgaku. Jangan bicara kasar meski hanya kata ah'."

"Bagaimana mungkin orang yang begitu lembut hatinya memerintahkan hal yang kejam tanpa alasan yang jelas. Pasti itu sesuatu yang buruk. Itu juga hukumnya gak langsung dilakukan."

"Gak langsung gimana, Dan?" tanya Kisame.

"Ya kalo terbukti dia ngaku atau ada saksi mutlak lihat kejadian itu."

"Mang ada yang mau ngaku?" tanya Kisame heran.

"Karena hukumannya berat itulah makanya harus terbukti jelas dan bukan asal tuduh."

"Oooh." Kata Akatsuki kompak, paham dengan penjelasan Hidan, yang gak nyangka religius juga. Maklum anak pendeta gitu loh.

Sasuke tertunduk malu. Ia tahu perbuatannya ini tak benar. Tapi Tuhanlah yang memberikan perasaan menyimpang ini padanya. Bagaimana cara dia melawannya? Dia juga tersiksa. Dia sungguh tak tertarik dengan cewek dari dulu. Itachi yang mengerti dilematis yang dirasakan Sasuke menelepon sesorang yang kira-kira bisa membantunya.

"Nih, alamat orang yang bisa bantuin elo." Katanya mengangsurkan selembar kertas berisi alamat sebuah rumah sakit. Sasuke mendongak terharu dengan perhatian anikinya ini. "Kata temenku. Dia itu psikolog hebat. Dia bisa nanganin orang-orang kayak elo. Jadi ndak usah malu." Sasuke tersenyum, senyum langka yang tak pernah diperlihatkannya selama ini. Hati Itachi menghangat. Begini kali ya yang dirasakan Naruto saat berbuat baik pada orang. Bahagia membuncah yang tak terlukiskan kata-kata saat dirinya berguna untuk orang lain.

"OY, gue ada info penting." Kata Konan yang baru gabung. Tadi dia ditinggal bareng Zetsu menelusuri data.

"Apa?" tanya Pain, memberikan tempat di sebelahnya.

"Sebelum menikah dengan Tsume Orochi, ia pernah menikahi Aiko dan memiliki seorang putri bernama Mito uzumaki yang berganti marga karena menikah dengan Hasirama senju. Dan kau tahu?"

"Apa?" tanya semua orang penasaran.

"Kushina uzumaki, salah satu keturunan Mito yang masih bertahan hidup karena tinggal di luar negeri sebelum menikah dengan Minato Namikaze." Ganti Zetsu yang menjelaskan.

"Jadi bungsu Namikaze terakhir ini putrinya nyonya Kushina? Bukannya dia mandul?" tanya Itachi heran.

"Tidak. Dia tidak mandul. Dokter Tsunade, saudara jauh Kushina memastikan dia hamil saat bercerai dengan Minato. Dan kau tahu siapa anak Kushina itu?"

"Naruto?" tanya Itachi.

"Ya, ada kemungkinan. Wajahnya mirip dengan Kushina. Tapi kita mesti tetap cek DNA dulu dengan keluarga Namikaze. Bisa saja kan beliau hamil lagi dan anak terdahulu ada dimana gitu."

"Jadi siapa yang bisa dapetin rambut atau apapun untuk uji DNA?" tanya Pain bijak.

"Aku saja." Kata Deidara mantap. Yah dia kan masih keturunan cabang Namikaze selain itu juga. Dia sering langganan salon di tempat para Namikaze perawatan tubuh. Minato, meski cowok kan tetap butuh potong rambut di tempat pro untuk dapetin hasil yang maksimal.

"OK kita sepakat. Dei nyari rambut Minato sedangkan untuk Naruto?"

"Aku saja." Kata Sasuke. Semua meliriknya skeptis. Mang bisa gitu secara kan dia meski gak normal tetap aja cowok. "Hey kalo hanya butuh rambut aja gampang. Minta aja ama dianya pasti dikasih."

"Segampang itu?" tanya Kakuzu

"Bilang aja buat bahan praktikumnya si Dei. Simple kan." Kata Sasuke keukeuh.

Mereka mengangguk ngerti. 'Iya ya kenapa gak kepikiran tadi.' Batin semuanya.

SKIP TIME

Neji menerobos masuk rumah Sai, yah meski gak ada yang halangin juga. Dia sudah dikenal baik oleh seluruh anggota keluarga Sai. Ia mencari kamar nyonya Dan, nama ibu Sai. ia menelusuri koridor panjang tak sabar, khawatir dengan sepupunya dan tepat di ujung lorong ia melihat Hinato duduk di lantai ditemani Ino. Ia mempercepat langkah kakinya. "Ada apa?" tanyanya begitu sampai. Tubuhnya mengejang liat tangan saudara supupunya yang sudah seperti adiknya ini diperban.

Mereka tak menjawab dan hanya menunjuk ke dalam kamar. Neji melongok ke dalam. Di sana nyonya Dan rebahan di lantai dipegangi banyak orang seperti Shika, Kiba, Gaara, dan Sai. Sedangkan Naruto memaksa sang nyonya minum entah apa itu.

Neji pun masuk ke dalam berniat membantu. Mereka tampak kuwalahan menangani sang nyonya. Ibu Sai terus saja meracau tak jelas dan menatap benci Naruto. Naruto dengan tenang, duduk di dekat kaki beliau setelah memaksanya minum yang ternyata itu madu. Ia membaca entah apa itu lalu menyentuh salah satu jari kaki.

"Aaaa, brengsek lo. Gue benci elo dan seluruh keluarga elo. Gue bunuh lo." Teriaknya dengan suara berat seperti laki-laki.

"Elo yang dari villa merah itu kan. Kenapa elo memasuki tubuh nyonya ini?"

"Karena gue ingin elo mampus. Gue gak bakal puas sebelum elo mati." Desisnya dingin.

"Hmm, jadi begitu. Baiklah akan ku paksa kamu keluar." Ia semakin kuat menekan ujung jarinya membuat dia menggelepar kesakitan. Ia berusaha keras menendang dan melepas pegangan empat orang itu yang dengan mudah dibuat terjengkang. Ia menerkam dan berusaha mencekiknya, tapi ditahan dengan tangan kanan Naruto sedang tangan kiri tetap menekan keras, membuat sang nyonya semakin kesakitan.

"Ampun ampun… ampuni aku. Aku hanya disuruh. Aku disuruh pemilik villa merah membunuhmu."

"Bohong. Ku minta kamu keluar."

"Aku gak bohong. Tolong ampuni aku. Lepasin aku. Aku akan menjaga nyonya ini. Ada yagn berniat jahat padanya."

"Bohong. Keluar sekarang juga atau ku bakar kamu!"

"Aku gak tahu caranya keluar."

"Lewat lubang pembuangan, bisa hidung, telinga, atau tempat keluar BAB dan BAK."

Nyonya Dan menggerung, matanya berputar-putar, mengerikan. Naruto tetap memegangi jari kaki, mengikuti gerak sang nyonya. "Aku gak bisa. Sakit. Ada yang nahan aku." Naruto tak membalas dan hanya membaca bacaan arab yang tak dimengerti artinya. Nyonya itu semakin kesakitan. Ia merasa tubuhnya terbakar hebat sebelum mengejang dan memaksanya memuntahkan apapun itu keluar. Cepat-cepat Naruto menyorongkan mangkok, wadah muntahan. Ia beberapa kali muntah, hingga tubuhnya lemas. Saat sadar. Naruto cepat-cepat memberinya madu dan segelas air minum.

"Aku ada dimana?" tanyanya bingung. Ia masih merasa lemas, sehingga Sai dibantu Gaara, Shika dan Neji mengangkat ke ranjang.

"Ibu ada di kamar. Tadi ibu muntah-muntah hebat, makanya kami kemari. Syukurlah ibu tak kenapa-napa." Kata Sai lirih menenangkan, menjaga ibunya hingga terlelap kembali, sisanya pergi ke ruang keluarga. Akhirnya kami sama mengabulkan doanya. Setelah sekian lama ibunya seperti orang linglung dan berteriak kesetanan, ia kembali sadar dan tersenyum lembut padanya. Ia sungguh rindu dengan senyum ibunya. Apa dulu senyum ibunya seindah ini? Entahlah ia sudah lupa karena sudah lama sekali.

Neji memapah Hinata takut ada luka lain. Ino menggandeng tangan Naruto yang dia tahu pasti luka parah karena tadi Nyonya Dan dicengkram kuat terbukti dari darah segar masih menetes di tangannya. Belum lagi bekas cekikan di lehernya. Ya Tuhan itu adalah hal mengerikan yang pernah ia alami. Untung saja tadi Shika dkk dating membantu. Kalo gak mungkin nyawa Naruto melayang.

"Kenapa kamu bisa ada di sini Hinata?" Tanya Neji setelah mereka di ruang keluarga.

"Tadi Sakura bilang, Naruto butuh orang untuk menemaninya ke rumah Sai. Ku pikir Ino gak bisa jadi aku ke sini. Di tengah jalan aku ketemu Shika dan Kiba yang juga ku ajak kemari. Pas nyampai di sini tahu-tahu ibu Sai sudah mencekik leher Naruto sedang Gaara dan Sai berusaha keras menolong Naruto. Maaf membuat Nii-san khawatir."

Neji menghembuskan nafas, sebal. Lagi-lagi Naruto. Kebenciannya pada gadis itu semakin dalam. Dia akan membuat perhitungan dengan gadis itu nanti. 'Akan ku buat kamu membayar mahal untuk semua ini.' Batinnya sadis. "Kita pulang. Sudah malam."

Mereka pun satu per satu meninggalkan kediaman keluarga Sai. Gaara mengantar Naruto dan Ino ke rumah naik taksi. Ingat mobilnya ditinggal di kampus.

SKIP TIME

Itachi lagi ngumpul bareng dengan teman-teman gengnya ditambah adiknya. Mereka sudah mendapatkan apa yang dibutuhkan untuk tes dna tinggal menunggu hasilnya. 'Trilililit' HP Itachi bunyi. "Ada apa?" Tanya tegas.

"Maaf Itachi sama. Naruto berada di rumah sakit konoha." Kata anak buahnya yang disuruhnya mengawasi Naruto.

"Apa!" teriak Itachi mengalihkan perhatian teman-temannya. "Bagaimana bisa?"

"Saya kurang begitu tahu karena Naruto berhasil mengelabui saya. Tahu-tahu kami lihat Naruto terluka parah di depan Hyuga san. Saat ini nona Naruto bersama dengan Hyuga san."

"Kurang ajar. Kenapa kamu biarkan Hyuga sialan itu bersama Naruto. Awasi dia. Kalo dia berbuat yang aneh-aneh lagi, ringkus saja. Aku akan ke sana." Kata Itachi mematikan sambungan.

"Ada apa Chi?" Tanya Kisame.

"Naruto masuk rumah sakit." Ia melirik Sasuke tajam. "Dia dilukai kekasihmu." Desisnya tak suka, membuat Sasuke terperangah kaget. Tak menyangka Neji semakin gila dan benci dengan Naruto gara-gara akhir-akhir ini Sasuke dekat dengan Naruto. Jangan-jangan dia merasa cemburu. Jadi berbuat nekat seperti itu. Tikaman rasa bersalah menghantuinya.

"Sudah-sudah. Itu bukan salah Sasuke. Lebih baik kita ke RS sekarang." Kata Pain bijak. Mereka pun dengan mobil masing-masing pergi ke RS menjenguk Naruto. Sebelumnya Sasuke sempat sms Gaara dan Sai, memberi kabar buruk ini, untuk mencegah hal yang tak diinginkan. Bisa saja kan Itachi kalap dan membunuh Neji. Yah meski dia tahu Neji layak untuk beberapa pukulan. Tapi kalo sampai mati lain cerita.

TBC

Buat yang nunggu update fic ini. Nih Ai kasih. Tetap ikuti terus kelanjutannya. Konfliknya makin rame lho. Terakhir RnR plase…. ^_^