Disclaimer : Bleach punya Tite Kubo
Rating : T
Warning : OOCness, gaje, AU. Don't like don't read. Simple?
The Bandit Brothers
Chapter 4 : Other Hunters
Kerajaan Hyourinmaru, satu hari setelah penculikan Rukia…
"Brrr… dinginnya!" keluh Ukitake yang dari tadi tak henti-hentinya bersin-bersin dan batuk-batuk. Suhu super dingin Istana Hyourinmaru benar-benar memicu semua penyakitnya untuk kambuh. Jaket bulu-bulu super tebal limited edition dari Rukia (yang berbau Chappy, tentu saja) pun tak mampu melawan suhu ekstrem tersebut.
Anehnya, sahabat sekaligus partnernya masih saja bisa tertidur pulas.
"Kyo.. Kyouraku!" Ukitake menggigil. "Su.. sudah berapa lama kita di sini?"
Kyouraku Shunsui tak menjawab. Dia masih tertidur pulas, hingga mengorok.
"Kyo… Kyouraku…," Ukitake menjadi lemas-lemas, dan semakin lemas. Pandangannya mulai kabur.
Groook. Kyouraku masih asik terlelap.
"Kyou… raku…," itulah kata-kata terakhir Ukitake sebelum pandangannya benar-benar menjadi gelap. Semuanya hitam. Dia pun pingsan dan tubuhnya ambruk ke lantai es ruangan tersebut. Sesaat kemudian Soi-Fon, Nanao, Hitsugaya, dan beberapa pasukan masuk dengan jaket tebal juga.
"Selamat pagi, maaf membuat kalian semua menunggu…," ujar Pangeran Hitsugaya, satu-satunya yang tidak terlihat kedinginan dengan suhu ekstrim ini. Maklum, dia sudah menghuni istana es tersebut dari jaman masih di perut ibu sampai sekarang, walaupun dia sepertinya tak kunjung tumbuh tinggi besar juga.
"U… Ukitake-san!" wajah Ise Nanao berubah panik dan terkejut mendapati tubuh Ukitake sudah terkapar lemas, eh kaku di bawah. Wajahnya luar biasa pucat, bahkan beberapa helai rambutnya sudah beku. Nanao, Soi-Fon dan beberapa pasukan lain segera menghampiri Ukitake.
"Bawa dia ke ruang pengobatan, hati-hati," perintah Hitsugaya. Kedua pengawal kerajaan itu mengangguk dan segera menggotong tubuh kaku Ukitake ke luar ruangan tersebut.
"Oke kita bisa memulai rapat sekarang," ujar Hitsugaya. Tapi sedetik kemudian, ada band dadakan (?). Iring-iringan musik mulai mengalun menandakan kedatangan orang yang penting. Raja Kuchiki Byakuya memasuki ruangan tersebut dengan syal pink super modisnya, yang melindunginya seratus persen dari suhu super dingin minus berapa celcius di Istana Hyourinmaru. Di belakangnya, selusin pasukan mengiringinya, dan juga anggota band.
Soi-Fon dan semua yang sudah ada di ruangan itu memberi hormat, termasuk Kyouraku yang terlonjak kaget karena kakinya diinjak dengan kekuatan maksimum Ise Nanao. Memberinya, jaminan bengkak seratus persen.
Byakuya duduk di kursi es tepat di tengah meja es yang berbentuk 'U' tersebut, tentu dengan alas pantat (?) ekslusifnya (warna pink juga!) agar dia merasa nyaman. Pasukan pengiringnya langsung siap posisi menjaga tiap sudut ruangan tersebut, tapi para anggota band dipersilahkan keluar.
"Selamat datang, Raja Kuchiki Byakuya," Hitsugaya mengucapkan salamnya sembari membungkuk. "Selamat datang di Istana Hyourinmaru."
"Ya," jawab Byakuya singkat, padat, cuek, dan cool. Bahkan jauh lebih cool daripada es di istana ini. "Kita bisa mulai rapat sekarang," ujarnya dengan nada monoton. Mata tajamnya menyapu para hadirin yang telah datang lebih dulu.
"Mana penasehat Ukitake?"
Soi-Fon maju selangkah menghadap Byakuya. "Dia baru saja pingsan. Aku rasa dia tidak kuat menghadapi suhu dingin di sini."
Byakuya menghela napas. "Ya, wajar. Semuanya terbuat dari es. Dia bahkan tak kuat meminum es teh buatan Rukia. Meskipun aku ragu itu karena terlalu dingin, mungkin karena rasanya…"
"Hm…" semua hadirin mengangguk. Memaklumi masakan/minuman buatan Rukia yang sudah terkenal agak hancur.
"Baik aku rasa kita bisa memulai rapatnya sekarang," Hitsugaya mengganti topik, sedikit trauma karena dulu dia juga pernah jadi korban minuman buatan Rukia. Susu yang super amat terlalu kental hingga rasanya menyangkut di tenggorokannya.
Hitsugaya menyuruh seorang pengawalnya untuk menutup pintu dan menarik gulungan peta raksasa dari atas.
"Kemarin, pasukan sudah menyisir sampai daerah hutan ini," Hitsugaya menunjuk suatu bagian dengan gambar pohon-pohon di peta itu. "Mereka kehilangan jejak begitu sampai ke tengah. Jejaknya tampaknya dihilangkan dengan sangat lihai, entah bagaimana caranya."
Sunyi, semua terpaku ke peta itu dengan wajah super serius.
"Lalu beberapa saat kemudian, pasukan yang melanjutkan pencarian ke berbagai penjuru menemukan beberapa kulit pisang, dan beberapa koin emas lima kilometer dari jejak pertama hilang," lanjut Hitsugaya. "Kemungkinan besar, itu rampokan para bandit yang tidak sengaja jatuh. Salah satu dari bandit itu diketahui mempunyai hobi makan pisang," Hitsugaya menarik gulungan satunya lagi, menampakkan sketsa wajah pria berambut mirip nanas dengan topeng di wajahnya.
"Dia orang yang punya pedang yang bisa memanjang itu kan?" celetuk Soi-fon. "Panglima Hisagi kemarin mengungkapkan detail mereka secara jelas."
Hitsugaya mengangguk. "Ya, dia dan yang lain punya kemampuan bela diri yang sangat tinggi," Hitsugaya menarik-narik gulungan di atas lagi. Agak kerepotan juga karena gulungan yang terlalu banyak itu lama-lama menutupi dirinya yang mini.
"Yang ini, tenaganya luar biasa," Hitsugaya menunjuk ke sketsa pria sangat bertubuh besar dengan jubah butut. "Yang ini sepertinya pintar, daya serangnya luas karena dia memakai panah," penunjuk Hitsugaya beralih ke bandit paling modis di antara keempatnya, bandit berkacamata dengan panah dan jubah putih.
"Dan yang ini," penunjuk Hitsugaya berhenti di gambar bandit yang tampak brutal. "Bandit paling nekad di antara ke empatnya. Tenaga dan staminanya juga patut diperhitungkan, apalagi pedangnya yang super besar ini. Daya jangkaunya luas. Sepertinya dia yang memimpin mereka," ucap Hitsugaya.
"Dia yang menculik Rukia," gumam Byakuya dingin. Matanya memancarkan aura membunuh yang hebat. "Siapapun dia, dia harus segera ditangkap, dan dihukum."
Hitsugaya mengangguk. "Kembali ke lokasi penemuan rampokan para bandit, lima kilometer ke barat dari hilangnya jejak pertama. Agar jejaknya mudah dihapus, berarti kuda mereka tidak berjalan dengan cepat. Kalau begitu berarti mereka yakin tidak akan tertangkap, pasti mereka punya jalan rahasia atau semacamnya."
"Apa kau yakin kalau itu bukan tipuan mereka? Bisa saja mereka sengaja menjatuhkan beberapa barang agar mereka terlihat seperti pergi ke barat," ucap Nanao.
"Ya, aku juga sempat berpikir begitu. Apalagi kita sudah punya sedikit laporan tentang rute mereka melewati timur," jawab Hitsugaya. "Tapi pencarian ke barat juga harus dilakukan, aku akan memimpinnya sendiri."
"Kalau begitu aku akan ke timur," kata Byakuya tenang. "Panglima Soi-Fon, kau pergi ke barat daya."
"Baik," tukas Soi-Fon. "Tapi Pangeran Hitsugaya, kenapa ke barat? Bukannya pangeran lebih mengenal daerah timur?"
"Ya memang," Hitsugaya mengangguk. "Tapi ada sesuatu yang ingin aku pastikan di sana," dia mengambil pedangnya yang tergeletak di atas meja.
Byakuya bangkit dari kursinya. "Kalau begitu pasukan berangkat siang ini. Keselamatan Rukia prioritas kita. Jangan tunggu sampai si bandit melukainya," bayangan Byakuya : Rukia teriak-teriak di sebuah goa ditawan oleh bandit-bandit sadis tersebut. Kepalan Byakuya mengeras memikirkannya. Dia bersumpah akan menghukum para bandit itu sampai jadi daging cacah jika apa yang dia bayangkan itu benar.
-xXx-
Kita kembali ke keadaan Rukia yang sebenarnya…
"Jadi selama kalian beraksi, tempat ini tutup yah," ucap Rukia seraya memandangi papan tanda bertuliskan 'tutup' yang menggantung di depan pintu penginapan tempat dia terbangun kira-kira dua jam yang lalu. Ichigo menggeleng kecil.
"Nggak, tempat ini benar-benar penginapan," ujarnya. "Kita cuma tutup kalau kita sedang ada kegiatan."
"Intinya sama," tukas Rukia.
"Whatever," Ichigo melangkah pergi, Rukia keheranan.
"Oi, bukannya kita masuk ke sini kan?" tanya Rukia yang agak kerepotan mengikuti Ichigo karena roknya yang super ribet. "Apa ini bukan tempat kalian? Atau ada tempat masuk lain?"
"Ikuti saja dan diam," balas Ichigo. Rukia cemberut, tapi dia memang tidak punya pilihan lagi. Selama perjalanan ke sini mereka berdua sudah cukup ribut. Mengkontaminasi lingkungan pedesaan tenang, damai, rukun yang mereka lewati dengan omelan, geraman, dan umpatan satu sama lain. Seorang nenek tua sempat melemparkan sandalnya ke kepala Ichigo karena dia terus berteriak-teriak ketika kereta mereka melewati rumahnya yang biasanya tenang.
Rukia mengikuti Ichigo menyusuri teras depan lalu berbelok ke kiri, ke arah halaman belakang penginapan. Halaman tersebut memang tidak terlalu besar, tapi perawatannya bisa Rukia jamin tak kalah hebat dengan perawatan bunga-bunga ibunya. Semak-semak dibentuk sedemikian rupa membentuk tampang-tampang gaje yang Rukia yakin masih ada hubungannya dengan kelompok bandit tersebut. Pohon beringin besar di tengah tak tampak seram seperti pohon beringin pada umumnya. Ada sebuah bangku putih di bawahnya, di sebelahnya ada sesuatu yang tampaknya sebuah sumur. Bagi Rukia, sumur itu tampak menyeramkan, seakan mengontaminasi aura damai di sekitarnya dengan aura misteri.
Ichigo berhenti di depan sumur itu, dia mengambil senter dari sakunya dan mengarahkannya ke dasar sumur. Rukia mengira ada suatu jalan rahasia di sumur tersebut.
Bayangan Rukia : dia harus terjun ke bawah sumur. Lalu dasar sumur itu ternyata adalah sebuah lorong yang terhubung ke suatu ruangan tersembunyi tempat geng Ichigo berkumpul. Benar-benar keren.
Kedua tangan Ichigo sudah menapak di pinggiran sumur, menguatkan bayangan Rukia. Rukia sudah mencingcingkan rok super ribetnya sedikit. Siap melompat.
Ichigo menarik tali timba.
Eh tali timba?
"Oh jadi kita pakai itu untuk ke bawah ya," ujar Rukia. Dia telah mengupgrade sedikit bayangannya tentang 'sumur lorong ajaib'.
"Iyalah, kenapa? Baru liat sumur sekali ini?" jawab Ichigo sadis.
"Bodoh! Di istana juga ada!" kata Rukia. "Cuma… gue nggak yakin apa cukup kuat?"
"Kuatlah! Memang ini buat kita ke bawah gitu?"
Untuk pertanyaan Ichigo barusan, sebetulnya jawaban jujur dari seorang Kuchiki Rukia adalah 'iya'. Itu adalah teorinya. Oke, itu membuktikan bahwa teorinya seratus persen salah. Itu hanya sumur biasa, tua, dilihat sekilat agak angker dengan timba reot. Hanya kali ini, Rukia seratus persen yakin bahwa yang ditarik Ichigo bukan ember semata, melainkan sesuatu yang jauh lebih keren…
Ichigo menarik sebuah sepatu butut dari dasar sumur.
Rukia mangap.
"Sepatu?" pekiknya. Ichigo mencermati bagian-bagian sepatu tersebut. Sesaat kemudian tangan kanannya mengaduk-aduk sepatu tersebut. Kemudian Ichigo mengeluarkan sebuah kunci dari celah kecil solnya.
"Kunci?" Rukia terpana, seperti baru pertama kali melihat benda tersebut. Dia hanya tak habis pikir kenapa benda itu disembunyikan dengan cara paling gaje dan repot di dunia. Pasti kunci itu digunakan untuk sesuatu yang sangat amat penting.
"Hn," respon Ichigo singkat. "Ini kunci untuk masuk pintu belakang."
"Tapi kenapa?" Rukia terbata-bata, bolak-balik melihat ke sumur dan Ichigo dengan kebingungan. "Kalau hanya untuk masuk pintu belakang kenapa repot-repot?"
"Lihat aja."
Ichigo berjalan menghampiri pintu belakang. Dimasukkannya kunci itu ke lubang lalu dia memutarnya.
Cklek.
Pintu itu terbuka , tapi apa yang ada dibaliknya bukan sesuatu yang normal. Rukia mengira itu hanya pintu biasa untuk masuk ke penginapan tersebut. Itu bukan. Tidak ada lantai kayu mengkilap atau ruangan dengan ukir-ukiran, melainkan sebuah lorong dengan tangga ke bawah.
"Ini pintu masuk sementara," kata Ichigo. "Kita belum sempat buat pintu masuk yang lebih tersembunyi."
"Jadi yang ada di bawah itu markas kalian sebenarnya?" tanya Rukia. Ichigo mengangguk.
"Ya, ini jalan masuk yang paling singkat. Kita juga bisa lewat dalam penginapan, tapi itu sedikit lebih repot, kita turun sekarang," Ichigo mulai menuruni tangga itu. Rukia mengikutinya.
Setelah menyusuri lorong tersebut selama kurang lebih satu menit. Mereka berdua tiba di sebuah ruangan besar. Rukia terpana. Dia sempat mengira bahwa markas mereka akan gelap, seram, mirip gua dengan obor sebagai penerangan di dinding-dindingnya. Tapi tidak, ruangan markas mereka mirip dengan penginapan di atas. Lantai kayu, terang, dan hangat. Sama sekali tidak mencerminkan markas penjahat.
"Ini tempat kita untuk rapat," jelas Ichigo. Rukia mengangguk. Sebetulnya dia sudah bisa tahu sebelum Ichigo mengatakannya. Satu peta plus papan tulis besar di dinding dan sederetan kursi dengan meja mengkilap telah menjelaskan semuanya.
"Di mana yang lain?" tanya Rukia.
"Er…" Ichigo menggaruk-garuk kepala. "Biasanya jam segini mereka ada di sini, tapi ternyata nggak ada. Berarti mereka sudah selesai menghitung hasil. Mungkin sekarang mereka ada di tempat menyimpanan."
"Tempat penyimpanan? Tempat untuk menyimpan semua hasil rampokan kalian?" mata Rukia membulat.
"Ya, bisa dibilang begitu."
"Di mana itu?"
"Kenapa lo nggak pernah berhenti tanya? Ini bukan 'tur ke markas Bandit Brothers' seperti tur-tur di museum!" Ichigo mulai mengeluarkan jurus tampang angker andalannya.
"Bodoh! Kalo gue gabung berarti gue harus tahu semuanya!" balas Rukia.
"Bah," Ichigo akhirnya tidak punya pilihan. "Ruangan itu ada di sebelah, begitu kita keluar ruangan ini lewat lorong itu belok ke kanan. Lihat juga kotak kecil di tembok situ?" Ichigo menunjuk ke arah sebelah papan tulis. "Itu fungsinya untuk memindahkan barang-barang dari ruangan ini setelah di data ke tempat penyimpanan."
"Hoo," Rukia manggut-manggut. "Kalo ada itu kenapa repot-repot ke sebelah lagi?"
"Nggak tau, mungkin ada barang yang mau diambil," jawab Ichigo. "Ayo, mungkin yang lain ada di sana sekarang," dia mulai melangkah ke arah pintu.
Sebelum Ichigo sempat memegang kenopnya, suara-suara familiar mulai terdengar. Pintu pun menjeblak terbuka, nyaris mengenai Ichigo.
Ishida, Renji, Sado, Urahara, Yoruichi dan Chad muncul dengan mata terbelalak. Ichigo mulai agak was-was, sementara Rukia tampak santai.
"I…Ichigo," Renji terbata-bata. "Putri?"
Rukia hanya tersenyum, Ichigo garuk-garuk kepala cuek meskipun dia agak khawatir kalo teman-temannya akan marah. Dia tidak mau repot berdebat.
"Yo," sapa Ichigo biasa. "Penyamaran terbongkar, dia sudah tau dari saat dia bangun," Ichigo menunjuk ke Rukia. "Dan sekarang dia mau bergabung."
"A..apa?" semuanya mangap, minus Ichigo dan Rukia.
-xXx-
20 km arah barat Kerajaan Hyourinmaru…
Hitsugaya dan puluhan pasukan miliknya berbondong-bondong menyusuri Hutan di barat yang terkenal angker. Pohon-pohonnya berbentuk aneh, seperti makhluk-makhluk gaje yang siap menerkam mereka kapan saja. Beberapa pasukan miliknya terus lirak-lirik ke berbagai arah, takut kalo ada sesuatu menyeramkan yang tiba-tiba terjadi.
"Ihik! Ihik!" Seorang wanita dengan ukuran 'ehem' juauh di atas rata-rata cegukan dengan santainya. Di tangannya ada sebuah botol sake. Dia adalah Rangiku Matsumoto, penasehat Kerajaan Hyourinmaru yang nyaris dipecat oleh Hitsugaya karena super duper malas. Beruntung, kemampuan bela dirinya yang lumayan tinggi mampu menyelamatkannya dari serangan 'PHK'.
"Matsumoto! Jangan minum disaat-saat begini!" Hitsugaya murka. Matsumoto cuma mesam-mesem di tempat sambil meneguk sakenya lagi. Karena mesam-mesem itu dia juga jadi keselek, tidak cuma cegukan. Hitsugaya makin frustasi.
"Huek, uhuk! Taichou! Kapan kita sampai?" Matsumoto malah balas bertanya, agak teler.
"Cih, tidak ada tujuan, misi kita adalah untuk mencari Putri Rukia yang bisa ada di mana saja," jawab Hitsugaya. "Kita lewat jalan ini karena banyak jejak mereka yang ditemukan di sini!"
"Taichou payah!" Matsumoto semakin teler sehingga kata-kata yang keluar dari mulutnya semakin membuat Hitsugaya mendidih. Tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak cepat di semak-semak, mengejutkan semuanya. Para prajurit dengan nyali memprihatinkan langsung bergidik hebat, siap pingsan di tempat, takut kalo akan terjadi penampakan yang bisa menyebabkan jantung mereka berhenti secara instant.
Puluhan pisau tiba-tiba melesat dari balik semak-semak.
"Semuanya tiarap!" seru Hitsugaya. Semua rombongannya langsung menuruti perintahnya, bahkan ada yang berguling-guling juga, entah apa tujuannya.
Dua sosok gaje berjubah hitam jatuh dari pohon dengan dramatis di depan mereka. Satunya bertudung dengan senyum lebar, satunya bertampang banci dengan bulu mata lentik, bukti dirawat tiap hari. Dua sarung pedang tampak di pinggangnya.
"Bandit, bukan…" gumam Hitsugaya. "Kalian orang-orang dari goa hantu itu!"
Si sosok bertudung menodongkan tombaknya. "Heh, 'orang-orang' dari Goa Hantu? Kita ini pendekar! Jangan asal ngomong!"
"Mereka tentu nggak tau kecantikanku yang terkenal…" gumam si banci. Si tudung melengos.
"Heh kalian! Berani-beraninya kalian masuk ke wilayah kami! Siapa pun yang masuk ke sini harus bayar mahal!" seru si tudung yang ngaku-ngaku 'pendekar' itu sembari menusuk-nusukkan tombaknya ke udara kosong, intimidasi. Prajurit-prajurit pengecut tadi pingsan di tempat. Hitsugaya melotot dengan coolnya, bahkan seorang Rangiku Matsumoto juga mengaktifkan mode serius.
"Pendekar tidak memalak…" ujar Rangiku dramatis. Si tudung tadi kembali melengos. "Apa mau kalian?"
"Matsumoto, biar aku saja," kata Hitsugaya.
"Tapi taichou…" Matsumoto agak protes. Hitsugaya hanya mengangguk, tanda 'tidak apa-apa'.
"Kalian trio dari Goa Hantu itu kan? Jadi ini wilayah kalian?" kata Hitsugaya tegas. Dua pemalak itu hanya berdiri di tempat, balas memandang mereka serius.
"Taichou hah? Jadi kamu pemimpinnya?" ailh-alih menjawab si tudung itu malah balas bertanya.
"Aku Pangeran Hitsugaya dari Kerajaan Hyourinmaru," jawab Hitsugaya mantap. Dua pemalak itu tampak agak terkejut. "Ada beberapa pertanyaan untuk kalian, jawab kalau tidak kalian akan tau akibatnya."
"Ikkaku, bagaimana ini?" tanya si banci sambil senyam-senyum santai. "Kayaknya kita bakal repot."
"Heh nggak perlu" si tudung alias Ikkaku itu malah menyengir. "Pertanyaan apa?" balas Ikkaku ke Hitsugaya.
"Apa kalian pernah melihat gerombolan Bandit Brothers lewat sini?"
Ikkaku terdiam sesaat. "Kalau kita jawab apa ada imbalannya?"
Hitsugaya malah mencengkeram gagang pedang di punggungnya. "Imbalan kalau kalian tidak jawab, kalian pasti menyesal."
"Wo Yumichika, kita ditantang," kata Ikkaku ke si banci yang dipanggil Yumichika itu.
"Sudah aku bilang pasti repot, nanti make-upku ilang…"
"Siapa peduli ama tu bedak colongan!"
"Aku peduli, bedak ini amat berharga…"
"Banyak bacot!"
"Soten ni saze, Hyourinmaru!" Hitsugaya mulai melancarkan serangannya selagi duo gaje itu beradu mulut. Naga es raksasa tiba-tiba muncul dan membekukan semuanya. Ikkaku dan Yumichika meloncat dengan sigap untuk menghindari serangan itu. Detik kemudian, gantian Yumichika yang kembali melemparkan puluhan pisau ke arah Hitsugaya, tapi serangan itu diblok dengan mudah oleh es Hitsugaya.
Hitsugaya mengarahkan pedangnya ke arah Ikkaku dan Yumichika, naga es kembali muncul dan mengincar mereka berdua, membekukan semua yang dilewati. Ikkaku dan Yumichika tak punya pilihan selain bertengger di puncak pohon tertinggi yang belum terjamah es.
Ikkaku melemparkan beberapa buntelan benda aneh ke Hitsugaya, Rangiku membloknya tap buntelan itu malah meledak menjadi kepulan asap hitam pekat yang menutupi penghilatan mereka.
Detik kemudian pedang Hitsugaya sudah beradu dengan tombak Ikkaku. Tenaga Ikkaku yang lumayan kuat membuat Hitsugaya sedikit kerepotan.
"Taichou!" seru Rangiku. Tapi Yumichika tiba-tiba muncul di belakangnya dan meniupkan bubuk aneh tepat ke matanya. Rangiku jadi kelilipan hebat dan tambah tak bisa melihat apa-apa.
Hitsugaya juga tak tinggal diam. Es kembali muncul dari pedangnya dan merambat ke ujung tombak Ikkaku, membekukannya perlahan. Ikkaku langsung terlonjak ke belakang sebelum es itu membekukannya secara total. Tapi serangan naga es kembali keluar mengejarnya. Asap hitam pekat di sekitar Hitsugaya dan Rangiku perlahan memudar akibat serangan Hitsugaya. Ikkaku dan Yumichika kembali ke posisi awal, bertengger di puncak pohon tertinggi.
"Matsumoto, kau tidak apa-apa?" Hitsugaya menoleh ke Rangiku yang masih heboh mengucek-ngucek matanya.
"Tidak apa-apa, taichou," ujar Rangiku yang membuka matanya perlahan, masih agak pedih.
"Yumichika, apa tampaknya kita harus pakai 'itu'," kata Ikkaku. Yumichika menoleh ke arahnya, agak terbelalak.
"Baik juga, kita sudah lama tidak pakai 'itu'," senyum Yumichika perlahan mengembang. "Aku akan siap-siap," Yumichika mencengkeram kedua gagang pedangnya.
"Mereka tampaknya akan menyerang lagi," gumam Hitsugaya. "Siap-siap!" serunya. Rangiku di sebelahnya hanya mengangguk, menyiapkan pertahanan.
"Yumichika sekarang!" seru Ikkaku. Dan Yumichika menarik kedua buah pedang dari sarungnya.
Hitsugaya cs. mangap.
Itu bukan pedang, melainkan dua cermin dengan gagang dibuat mirip gagang pedang.
Dua cermin itu diangkat tinggi-tinggi, hingga memantulkan cahaya matahari yang membuat Hitsugaya and the gang silau bukan main.
"Ikkaku, sekarang…"
Dengan seringai super lebar, Ikkaku memusatkan semua reiatsunya di satu titik, kepalanya.
"M... mau apa mereka?" Rangiku terbata-bata saking bingungnya. Hitsugaya yang sama sekali tak ada ide itu pun hanya diam.
"Hiyaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" Ikkaku masih berkutat di tempat memusatkan reiatsunya di kepala ala Super Saiya, sampai-sampai kepalanya bersinar agak kemerahan tanda reiatsu sudah terkumpul.
"Tampaknya sudah," Yumichika tersenyum dan mulai mengarahkan cermin itu ke kepala Ikkaku. Ikkaku siap membuka tudungnya, tapi sesuatu tiba-tiba terjadi dan mengejutkan mereka semua. Es es Hitsugaya pun mendadak pecah, dihancurkan oleh serangan tak kasat mata.
Satu sosok misterius pun kembali mendarat di depan Hitsugaya dan Rangiku. Kali ini jauh lebih mengerikan. Reiatsunya yang begitu besar seperti menekan mereka semua. Sosok itu pun perlahan mendongak, menampakkan wajahnya yang penuh luka
"Zaraki taichou!" pekik Ikkaku dan Yumichika kompak. Mereka berdua langsung turun ke belakang sosok mengerikan itu.
"Kenpachi Zaraki…" gumam Hitsugaya serius, kembali menyiapkan kuda-kudanya.
"Pangeran Hitsugaya ya? Kalian mencari kumpulan bandit-bandit itu? Mereka tidak lewat sini kalo kalian ingin tahu."
"Za…Zaraki taichou! Kenapa langsung diberi tahu!" Ikkaku agak protes. Tapi sebuah deathglare maut dari Kenpachi sukses meredam semuanya.
Hitsugaya dan Rangiku menurunkan pedang mereka. "Darimana kami tahu kalian bisa dipercaya?"
"Ini!" Kenpachi melemparkan sebuah gulungan ke Hitsugaya. Hitsugaya membuka dan membacanya. Itu adalah salah satu poster sayembara pencarian Rukia.
"Kami juga ingin ikut…" Kenpachi menyeringai lebar. Seorang gadis mungil berambut pink tiba-tiba muncul di puncaknya.
"Ken-chan tertarik!" seru gadis itu.
Hitsugaya terdiam sesaat. Tapi kemudian dia tersenyum dan menjulurkan tangannya untuk dijabat.
"Baik, selamat bergabung di sayembara. Lakukan yang terbaik!"
-to be continued-
Author's note : Maaf karena update yang kayaknya butuh waktu selamanya ini. Saia akhir-akhir ini sibuk sekali sampai-sampai ngetik aja nggak sempat. Ini (akhirnya) diupdate juga. Chapter selanjutnya geng Ichigo + Rukia bakal kembali ngerampok!
Review Please readers-readers yang baik! Terima kasih...
The Great Kon-sama
