Chapter 4
Desclaimer : Naruto, Masashi Khisimoto
Pairing : Kiba/Ino
.
.
siapa pun pendampingmu kelak, kumohon ingatlah aku
Brian Khrisna
.
.
Kau selalu terlihat sempurna di mataku. Mengalahkan ribuan kupu-kupu bersayap biru yang selalu terbang di taman bungamu. Matamu bagai langit musim semi, yang cerah dan biru. Dan wajahmu ibarat bidadari, ya... kau semenakjubkan itu.
Aku sering bertanya-tanya, kebaikan apa yang pernah kulakukan hingga Tuhan mempertemukanku denganmu. Dan membuat kita terjebak dalam rasa yang mungkin tak akan pernah bisa bersatu.
.
.
Malam itu hujan turun cukup lebat. Hampir tengah malam ketika kau datang mengetuk pintu apartemenku. Dengan tangisan yang seolah membuat sesak dadamu. Kau memelukku, erat sekali hingga tetes air gaun ungumu membasahi kemejaku.
"Kenapa? Ada apa?" Tanyaku panik. Tanpa menelfon terlebih dulu, kau tiba-tiba datang dengan keadaan seperti ini.
"Ayah, dia marah."
Selalu saja dengan alasan yang sama. Ayahmu itu, kenapa dia tidak bisa menyayangi putrinya dengan baik? "Kalau dia tahu kau ada di sini, dia akan semakin marah."
Aku menuntunmu masuk, membiarkan lantai apartemenku basah oleh jejak air dari tubuhmu. Aku benar-benar sedih melihat keadaanmu, menggigil dengan bibir membiru seperti itu.
"Aku tidak peduli. Aku tidak mau peduli tentangnya lagi." Kau membungkus dirimu dengan selimut tebal yang kuulurkan.
Selama kita duduk berdua di sofa ruang tamu, kau mengatakan semuanya, semua tentang kebencianmu terhadap ayahmu. Bahwa seharusnya ibumu tak mati waktu itu, seharusnya ibumu masih ada untuk membelamu, dan seharunya ayahmu bisa menyayangimu sebagai putri tunggalnya. Tapi berapa kalipun kata 'seharusnya' terucap dari bibir mungilmu, semua itu hanyalah fantasi belaka.
.
.
Seharusnya kau tahu jika ayahmu memang tak pernah menyukaiku. Entah alasannya karena ibuku bukan wanita baik-baik, entah alasannya jika bersamaku kau tak akan pernah bahagia, entah alasannya karena aku hanya seorang mahasiswa yang terlalu sibuk mengurus ini itu. Ya memang, aku tidak pernah menjadi sempurna seperti yang selalu ayahmu harapkan. Tapi aku punya hati, yang akan selalu mencintaimu hari ini, esok, lusa dan hari-hari berikutnya.
.
.
Ketika rambut basahmu terurai di pundakku, dan kepalamu bersandar di sana seolah kau hanya bisa bersandar padaku. Kukatakan dengan pelan. "Siapa pun pendampingmu kelak, ingatlah aku."
Tangismu semakin menjadi. Padahal kupikir, kau mungkin akan lebih bahagia dengan yang lain. Pria lain pilihan ayahmu itu, dia kelihatan lebih bisa menjagamu daripada laki-laki tak sempurna sepertiku.
"Apa yang harus kulakukan untuk bisa bersamamu?" Matamu menengadah penuh luka, seolah ada jawaban untuk pertanyaan yang satu itu.
Aku menghela napas panjang. Tak ada, tidak ada yang bisa dilakukan. Karena jika aku memilih bersamamu, ibuku yang akan dihilangkan dari dunia. Maka, aku lebih baik melepaskanmu. Dan membiarkanmu hidup bahagia.
Sembari membiarkan pertanyaanmu mengambang menunggu jawaban. Aku mengalihkan pembicaraan pada banyak hal, soal kuliah dan tugas-tugasnya, mengenai teman-teman dan lain-lain. Biarlah kau tetap disampingku malam ini, karena aku tak tahu berapa lama lagi kita masih bisa bertemu.
.
.
Siapapun pendampingmu kelak, kumohon ingatlah aku
Sebagai satu untukmu yang tak pernah dua
Asing yang tak pernah usang
Yang selalu berusaha penuh; yang tak pernah mencintaimu dengan separuh
Brian Khrisna
.
.
TBC
