[REMAKE dari novel karya Sherls Astrella]
Summary: Pangeran Mark dari Kerajaan Helsnivia mengakui Jaemin Yvonne Lloyd, putri Duke of Cookelt dari Kerajaan Trottanilla, adalah seorang gadis jelita yang mempesona, gadis tercantik yang pernah ia temui. Namun, ia juga adalah satu-satunya gadis yang tidak akan pernah ia sentuh. Ia adalah putri haram Duke of Cookelt, putri dari seorang wanita hina, dan juga putri tercinta Duke. Setiap hari Duke membuatnya berkencan dengan putri tercintanya. Dan, pada puncaknya, melamarnya untuk sang putri haram! Sang petualang cinta itu bersumpah ia tidak akan pernah berhubungan lagi dengannya apalagi menjadikannya istri.
Jaemin Yvonne Lloyd tahu Pangeran Mark tidak tertarik padanya. Pangeran baik padanya hanya karena permintaan Duke, ayah angkat yang telah merawatnya semenjak enam tahun terakhir. Ia, sejujurnya, juga tidak tertarik pada sang Pangeran. Jaemin mengidamkan seorang pria yang setia seperti ayah kandungnya dan Pangeran bukan seorang pria setia.
Duke of Cookelt pernah bersumpah di depan makam sahabatnya, Taeyong Lloyd, ia akan memulangkan Jaemin ke Helsnivia. Demi sumpahnya, apapun akan ia lakukan termasuk melamar sang Putra Mahkota Helsnivia. Hanya inilah satu-satunya keinginannya sebelum meninggal.
.
.o0o.
.
Jaemin menatap Duke yang sudah tertidur nyenyak tanpa suara.
Sepanjang malam Duke terus mengenang masa mudanya bersama Taeyong di sela-sela batuknya yang kian parah.
Kemarin sore batuk Johnny tidaklah parah. Hanya sesekali ia terbatuk darah tapi sepanjang malam batuknya hampir tidak pernah berhenti.
Jaemin menatap wajah tua itu dengan pilu. Tidak adakah yang bisa dilakukannya untuk menyenangkan Duke? Tidak adakah yang bisa dilakukannya untuk memenuhi keinginan terakhir sang Duke?
Jaemin tidak bisa memenuhi keinginan ayahnya ketika ia sekarat. Hingga detik ini ia terus menyesalinya. Walau pada akhirnya keinginan ayahnya terwujud, Jaemin terus berharap ia dapat memenuhi keinginan ayahnya sebelum ia meninggal. Keinginan terakhir ayahnya adalah bertemu dengan Duke Johnny dan menyerahkan sendiri putrinya dalam asuhan Duke. Duke memang datang tapi ia terlambat. Jaemin tahu keterlambatan itu telah membuat penyesalan yang mendalam di hati Duke. Sekarang Jaemin tidak ingin membuat penyesalan lagi di hati Duke. Ia tidak ingin melihat orang yang dicintainya pergi tanpa dapat mewujudkan keinginan terakhir mereka.
Maka Jaemin memutuskan. Selagi ia masih punya waktu, ia akan mewujudkan keinginan terakhir Duke! Sekalipun ia harus membuang wajah dan harga dirinya!
Tak sampai setengah jam kemudian Jaemin berdiri di depan sepasang mata menyelidik Mark.
Berlawanan dengan Jaemin, rambut pirang Mark yang bersinar cemerlang tersisir rapi. Kemeja putihnya yang licin dipadu dengan celana hitam, membuatnya tampak begitu gagah. Satu-satunya yang merusak penampilannya yang menawan adalah sepasang mata biru tuanya yang memandang Jaemin dengan penuh tanda tanya dan jijik.
Penampilan Jaemin saat ini jauh dari menawan. Rambut kuning pucatnya berantakan. Matanya yang sembab masih membengkak setelah menangis sepanjang malam. Hidungnya memerah. Goresan hitam di bawah matanya membuatnya kian kelam dan terlebih dari itu, gaunnya acak-acakan bahkan sebuah kancing di dadanya jatuh terlepas oleh pergumulannya dengan Jisung semalam.
"Apakah tujuan Anda datang pagi-pagi?" Mark menahan keinginannya untuk mengusir pemandangan tidak sedap ini.
"Dengan membuang segala harga diri, saya memohon Anda pergi bersama saya ke Sternberg," Jaemin langsung ke pokok pembicaraan.
"Ke Sternberg."
"Saya percaya Duke Johnny telah meminta Anda untuk mengambil saya sebagai istri," Jaemin akhirnya mengutarakan pokok pembicaraan yang paling tidak ingin dibahasnya. "Saya mohon kembalilah bersama saya ke Sternberg dan berkata pada Duke bahwa Anda akan mengambil saya sebagai istri."
Tawa Mark meledak.
Reaksi Mark tepat seperti dugaan Jaemin.
"Saya tidak meminta Anda untuk bersungguh-sungguh," Jaemin melanjutkan, "Yang saya minta hanyalah sebuah kalimat persetujuan Anda."
"Apakah yang membuatmu berpikir aku akan pergi denganmu?" cibir Mark.
"Ini adalah permintaan terakhir orang yang menjelang ajal," terang Jaemin, "Anda tentu bersedia membantu saya memenuhi keinginan terakhir orang yang sekarat."
Mark tertawa geli. "Apakah kau pikir aku akan percaya padamu? Sekalipun aku harus berbohong, aku tidak akan menerima lamaran terkonyol kalian. Engkau memang cantik tapi kau tidak cukup cantik untuk membuatku ingin menikahimu." Dan kau adalah gadis yang melacurkan dirinya ketika ayahnya terbaring sakit, Mark menambahkan pada dirinya sendiri.
"Sejujurnya saya pun tidak tertarik untuk menikah dengan Anda apalagi berhubungan dengan Anda," Jaemin tahu ia telah membuat Mark kesal namun demi keberhasilan rencananya, ia harus menekan amarahnya dalam-dalam. "Saya hanya ingin Anda membantu saya."
"Aku sudah sering mendengar cerita serupa. Aku tidak akan mempercayaimu."
"Bagaimana Anda tahu hal itu hanya sebuah karangan sebelum Anda melihatnya sendiri?"
"Pernyataan itulah yang membuatku semakin meragukan kebenaran perkataanmu."
Jaemin putus asa melihat kekeraskepalaan pemuda ini. Sebelum datang, ia sudah tahu sang Pangeran akan menolak. Namun ia tetap memegang harapan rasa belas kasih sang Putra Mahkota Helsnivia dapat membantunya. Sekarang harapan itupun terasa telah sirna.
Apakah ia juga tidak dapat memenuhi keinginan terakhir ayah angkatnya?
"Tidakkah Anda bersedia menyenangkan hati orang yang sekarat?"
Mark tertegun melihat air mata Jaemin.
"Jaemin..." Jaemin terperanjat. Ia merasa mendengar suara Duke. Dadanya berdegup kencang tanpa dapat ia kendalikan. Sebuah perasaan tidak enak membuatnya tidak nyaman.
"Anda sungguh mengecewakan saya," kata Jaemin tajam dan ia langsung pergi.
Mark melihat Jaemin dengan kebingungan. Ia tidak menyukai gadis ini. Ia datang dengan acak-acakan seperti baru bergulat sepanjang malam, memaksanya menerima lamaran ayahnya, dan pulang tiba-tiba tanpa pamit.
"Benar-benar gadis liar!" maki Mark.
Mata biru muda yang sembab itu melintas di depan Mark. Untuk sesaat sepasang mata yang basah itu tampak begitu hancur dan pilu.
Derap kaki kuda menjauh dengan cepat.
Melalui jendela, Mark melihat Jaemin pergi seperti dikejar setan.
.o0o.
"Jaemin... Jaemin... di manakah kau?" Duke mencari-cari.
"Jaemin?"
Jaemin membuka pintu lebar-lebar.
"Jaemin, kaukah itu?" tangan Duke mencari-cari Jaemin.
"Ya, Johnny, ini aku," Jaemin menjatuhkan diri di sisi Johnny. Ia menggenggam erat tangan Duke. Hatinya begitu pilu melihat pria tua yang sudah tidak berdaya itu.
"Taeyong, lihatlah Jaemin. Lihatlah putri kecilmu sudah menjadi wanita tercantik di dunia."
"Johnny...," gumam Jaemin tanpa dapat menahan isak tangisnya.
Tindakan Duke benar-benar seperti tindakan ayahnya sesaat sebelum meninggal. Ia mencari-cari orang-orang yang tidak dikenalnya dan berbicara dengan orang lain yang tak dilihatnya.
"Jaemin, mengapa Pangeran ada di sini?"
'Sekarang ia melihat hal yang tidak-tidak', pikir Jaemin. Ia telah berusaha mewujudkan keinginan terakhir Duke tapi ia tidak berhasil.
"Jaemin, apakah Pangeran bersedia menikahimu?"
"Ya, Johnny, ia bersedia," Jaemin memutuskan untuk mengikuti khayalan Duke.
Duke tersenyum bahagia. "Lihatlah, Taeyong, Jaemin... bisa pulang...," suaranya kian menghilang dan matanya terpejam rapat. Tangannya jatuh lemas di sisi tubuhnya.
Jaemin terpaku. Ia tidak dapat menangis lagi. Ia tidak dapat meratap lagi. Hatinya terasa hampa. Ia merasa seperti dunianya sudah berakhir.
Mark tertegun. Sesuatu yang tidak diketahuinya, membuatnya mengikuti Jaemin. Sekarang ia telah menjadi saksi kepergian Duke of Cookelt untuk selama-lamanya.
Mark memperhatikan Jaemin yang sama sekali tidak bergerak. Ia merasa malu telah mencurigai gadis itu.
Jaemin berdiri. Belum sedetik ia berdiri, tubuhnya jatuh lemas.
Mark bergerak cepat menangkap Jaemin.
Sepasang mata biru muda yang dalam itu tampak kosong. Air mata yang belum kering membasahi wajah pucatnya.
"Kuatkan dirimu."
Jaemin terkejut. Ia segera menjauhkan diri dari Mark. "S-saya tidak apa-apa," kata Jaemin gugup tergagap.
Mark merasakan suatu keinginan yang kuat untuk merengkuh gadis itu dalam pelukannya. Ia ingin memberikan dadanya untuk gadis itu menangis sepuasnya. Jaemin tampak begitu kacau, pucat, letih, dan tidak berdaya. Ia membuat jiwa kejantanan Mark ingin melindunginya.
"Terima kasih, Yang Mulia Pangeran," ujar Jaemin sambil mencoba tersenyum, "Anda membuat Johnny pergi dengan bahagia."
Mark pilu melihat senyum di wajah sedih itu.
"Jangan biarkan saya menyita waktu Anda."
Mark tidak mengerti gadis ini. Ia datang memohon padanya, berterima kasih atas sesuatu yang tidak dilakukannya dan sekarang mengusirnya!
Jaemin berjalan ke pintu. Tubuhnya kembali limbung.
Mark mengulurkan tangan untuk menangkap Jaemin.
Jaemin menggeleng dan menghindar. "Saya tidak apa-apa," katanya dan melangkah ke pintu dengan tubuh limbungnya.
Mark semakin tidak mengerti gadis ini.
Mark melihat Jaemin berdiri mematung di pintu. Untuk sesaat ia yakin gadis ini akan jatuh pingsan tapi kemudian gadis itu melangkah tegas untuk mengabarkan kematian Duke pada seisi Sternberg.
Dalam waktu sekejap semua orang mengetahui kabar kematian Duke. Dalam waktu sekejap pula upacara penguburan Duke of Cookelt diselenggarakan. Tepat seminggu setelah kematiannya, peti mati Duke telah siap untuk dikubur.
Sahabat dan kerabat Duke Johnny berdatangan dari berbagai penjuru untuk mengantar Duke ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Semua orang tampak begitu sedih oleh kepergian Duke of Cookelt yang telah mereka kenal dengan baik. Sepanjang yang dilihat Mark, tidak seorangpun yang sesedih Jaemin. Namun anehnya, Mark tidak melihat gadis itu dalam kerumunan orang berbaju hitam ini. Tidak di antara barisan terdepan keluarga Duke Johnny. Tidak juga di antara Duchess Nayeon dan kedua putra-putrinya.
Mark mengakui. Di antara semua wanita yang dikenalnya, Jaeminlah wanita yang pandai bersandiwara. Jaemin telah berhasil membuatnya percaya ia adalah putri yang berbakti. Jaemin telah berhasil membuatnya terharu. Namun, ternyata ia tetaplah sorang putri yang melacurkan diri ketika ayahnya sakit parah.
Baru saja Mark berpikir seperti itu ketika ia melihat sosok yang dikenalnya di pintu gereja – jauh dari kerumunan.
Wajah gadis itu tertutup kerudung hitam namun Mark yakin gadis itu adalah Jaemin.
Mark tidak mengerti mengapa gadis itu berdiri menjauh dari kerumunan. Mengapa ia tidak berada di antara keluarganya?
Setelah Duke Johnny dikubur dan orang-orang menjauh, Jaemin bergerak.
Jaemin ingin mengantar Duke tapi Duchess Nayeon melarangnya. "Anak haram seperti kau hanya akan mempermalukan kami," katanya.
Jaemin tidak ingin berdebat dengannya. Ia tidak ingin tinggal lebih lama dalam keluarga durhaka ini.
Begitu mendengar kematian Duke, mereka bukannya bersedih malah bersuka cita. Duchess dan Jisung mulai berebut kuasa atas harta keluarga Riddick. Baik Duchess Nayeon maupun Yeri tidak tertarik membatalkan janji kencan mereka di saat Jaemin memberitahukan kematian Duke.
"Apa hubungannya denganku?" itulah yang dikatakan Duchess ketika Jaemin mencegahnya pergi. "Ia sudah mati."
"Anda perlu mengurus penguburan Johnny."
"Itu bukan urusanku. Bukannya kau putri haram kesayangannya? Mengapa kau tidak mati bersama ayahmu?"
Saat itu Jaemin hanya bisa menangis untuk Duke.
"Aku punya janji!" itulah yang dikatakan Yeri. "Aku tidak punya kepentingan dengan orang mati."
Jisung juga tidak jauh berbeda. Ia bersorak gembira ketika mengetahui kematian Duke dan mulai merencanakan tindakannya setelah menjadi Duke of Cookelt yang baru.
Tidak perlu diragukan lagi keluarga durhaka itu tidak mau tinggal berlama-lama meratapi kuburan dingin Duke.
"Oh, Johnny," Jaemin jatuh lemas di sisi makam Duke. Air matanya yang belum kering kembali bercucuran. "Tempat tidurmu masih hangat tapi mereka sudah berebut warisan."
Jaemin merasa begitu hampa. Sekali lagi ia ditinggalkan seorang diri tanpa sanak saudara. Kali ini tidak akan ada Duke Johnny kedua yang menerimanya dengan tangan terbuka. Tidak ada lagi orang yang menerimanya sebagai bagian keluarga mereka.
Mata basah Jaemin menatap lekat-lekat kuburan yang masih segar. Hatinya hampa. Pikirannya kosong. Hanya isak tangis yang tertahan mengisi kesunyian dirinya.
Mark berdiri hanya dua meter di belakang gadis itu tanpa suara. Tangisan gadis inilah yang benar-benar memilukan suasana penguburan ini.
Bila beberapa saat lalu Jaemin menjadi gadis yang paling pandai bersandiwara. Sekarang ia menjadi gadis yang paling tidak dimengertinya.
Entah berapa lama Jaemin duduk termenung seperti itu sebelum akhirnya ia berdiri.
Jaemin belum berdiri tegak ketika tubuhnya kembali limbung.
Mark segera menangkap gadis itu.
Wajah gadis itu tampak begitu pucat. Matanya terpejam rapat. Garis hitam di sekitar matanya menandakan keletihannya. Ia tampak jauh lebih pucat dan letih dari yang dilihat Mark seminggu lalu.
Mark terkejut. Ketika tangannya menyentuh kulit gadis itu, tangannya seperti tersengat sesuatu. Mark meletakkan tangan di kening gadis itu dan terkejut merasakan panas membara.
Segera Mark bertindak dengan membawa Jaemin menjauhi panas matahari musim panas yang menyengat ini.
Ketika Jaemin terjaga, ia melihat langit-langit yang berlukiskan para malaikat yang memahkotai Bunda Maria. Pikirannya yang kosong menatap lukisan itu dengan bertanya-tanya. Untuk beberapa saat ia menatap lukisan itu.
"Kau merasa lebih baik?"
Barulah Jaemin sadar ia tengah berbaring di kursi jemaat gereja dengan kepalanya di atas pangkuan Mark dan sebuah kain basah di keningnya.
Jaemin mengambil kain basah itu dari keningnya dan berusaha duduk.
Mark membantu Jaemin duduk. "Kau sudah merasa lebih baik?" Mark mengulangi pertanyaannya.
"Y-ya..., saya sudah merasa lebih baik," jawab Jaemin sambil menyerahkan kain putih itu pada Mark, "Terima kasih banyak."
Jaemin berdiri dengan tubuh limbungnya. Gerakannya yang tiba-tiba membuat pandangannya kabur dan kepalanya terasa berputar-putar.
"Aku akan mengantarmu pulang," Mark menahan tubuh Jaemin.
"T-tidak perlu repot-repot, Yang Mulia," Jaemin melepaskan diri, "Saya tidak akan pulang ke Sternberg."
Mark bertanya-tanya.
"Saya bukan bagian dari mereka. Johnny juga sudah tidak ada. Saya tidak punya alasan lagi untuk kembali."
Johnny? Mark bertanya-tanya. Selama ini ia memang tidak terlalu memperhatikan cara Jaemin menyapa Duke of Cookelt. Sekarang ia benar-benar ingin tahu sedemikian akrabnyakah mereka sehingga Jaemin memanggil ayahnya hanya dengan namanya?
"Terima kasih atas kepedulian Anda, Yang Mulia Pangeran Mark," kata Jaemin sekali lagi.
Jaemin tampak begitu tidak berdaya, begitu rapuh. Begitu rapuhnya gadis itu hingga Mark yakin sebuah sentuhan lembut dapat menjatuhkannya.
Mark memperhatikan Jaemin berjalan dengan limbung ke pintu. Ia telah menawarkan bantuan tapi gadis itu menolaknya. Ia sudah menawarkan tumpangan tapi gadis itu tidak mau. Apa lagi yang bisa dilakukannya?
Ia sudah melakukan kewajibannya sebagai seorang pria jantan. Yang lebih penting lagi adalah bukan urusannya mencampuri urusan Jaemin dan ia tidak punya kewajiban mengurus gadis itu.
Itulah yang dikatakan Mark pada dirinya sendiri. Namun beberapa saat kemudian kereta kudanya tengah mengikuti kereta yang disewa Jaemin.
Sejam berlalu sudah dan tidak seorang pun dari mereka yang berhenti.
Mark mulai bingung ketika kereta kian menjauhi keramaian. Ia semakin curiga ketika mereka mulai memasuki daerah perbukitan.
Mark ingin tahu ke mana Jaemin pergi setelah kematian ayahnya. Tempat ini terlalu terpencil kalau mau dikatakan Jaemin pergi menenangkan diri di rumah keluarga Riddick yang lain. Tidak mungkin keluarga Riddick mempunyai kediaman di tempat terpelosok seperti ini.
Dua jam telah berlalu setelah memasuki daerah berhutan lebat ini namun tidak nampak sebuah rumah pun. Semakin mereka memasuki tempat ini, semakin tidak nyaman jalan yang mereka tempuh.
Mark bisa memastikan Jaemin tidak pergi menenangkan diri di salah satu rumah peristirahatan keluarga Riddick. Ia benar-benar tidak punya ide ke mana gadis ini pergi.
Rasanya sepanjang hari mereka menapaki jalan berbatu-batu itu sebelum akhirnya Mark melihat rumah. Menilik dari ukurannya dan jarak antara rumah yang satu dengan rumah yang lain, Mark yakin ini adalah desa petani.
Mark tidak mengerti apa yang dicari Jaemin di tempat ini. Tidak mungkin putri seorang Duke seperti Jaemin bisa dan mau tinggal di tempat terpencil seperti ini.
Kereta berhenti dengan perlahan.
"Pangeran," kata pengawal Mark memberitahu dari jendela, "Kereta itu sudah berhenti."
Mark langsung melompat keluar dan bersembunyi di balik pohon rindang terdekat dari kereta yang ditumpangi Jaemin.
Mark melihat Jaemin berdiri di depan pagar rumah kecil. Ia tengah membayar kusir kuda kereta sewaannya. Beberapa saat kemudian ketika kereta itu pergi, Mark dapat melihat sebuah koper besar di sisi Jaemin.
Mark bertanya-tanya. Jaemin tidak mungkin hendak tinggal di tempat terpencil seperti ini, di rumah kecil seperti itu, bukan? Gadis bangsawan seperti dia tidak mungkin mau tinggal di tempat yang jauh berbeda dengan istananya.
Seorang pemuda yang menyandang cangkul atau apapun itu di pundaknya, berjalan ke arah Jaemin.
Jaemin tampak tertegun melihat pemuda itu dan sedetik kemudian ia menjatuhkan diri di pelukan pemuda itu.
Seketika itu juga semuanya menjadi jelas bagi Mark. Pemuda itu pasti adalah kekasih Jaemin! Jaemin tidak membiarkannya menyentuhnya seolah-olah ia jijik pada setiap pria tapi ia menjatuhkan diri dalam dada pemuda itu. Jaemin juga membiarkan pemuda itu memegang wajahnya dan membopongnya ke dalam rumah.
Mark yakin rumah itu adalah rumah pemuda itu.
Sungguh tidak dapat dipahami mengapa Jaemin yang jelas-jelas gadis berdarah biru bisa jatuh cinta pada pemuda pedesaan seperti pria itu. Tidak dapat dipahami besarnya cinta Jaemin sehingga ia mau tinggal di rumah yang tidak jauuh lebih besar dari kamar Duke Johnny!
Mark sering mendengar cerita wanita bangsawan yang rela meninggalkan segalanya demi cinta. Namun baru kali ini ia melihat contoh nyata dan ekstrim!
Beberapa saat kemudian Mark melihat pemuda itu keluar dengan cemas. Ia bergegas membawa masuk koper besar Jaemin. Belum semenit ia masuk, ia sudah keluar lagi. Kali ini ia berlari ke rumah di sisi kanan.
Mark tidak mengerti apa yang dilakukan pemuda itu.
Pemuda itu melaju dengan cepat dari belakang rumah di atas kuda coklat.
Seketika itu juga Mark tahu apa yang dilakukan pemuda itu. Pemuda itu pasti pergi mencari dokter! Ia sama sekali sudah lupa akan demam tinggi Jaemin!
'Namun,' Mark kembali bertanya-tanya. 'Apakah mungkin ada dokter di tempat terpencil seperti ini?'
Sepuluh menit berlalu sudah semenjak kepergian pemuda itu tapi tidak nampak tanda-tanda pemuda itu kembali. Keberadaannya di pohon besar itu juga sudah mengundang ketertarikan para penghuni desa.
Mark melihat tidak ada tanda-tanda kehidupan dari rumah tempat Jaemin berada.
Ketika ia mendekati rumah itu, ia melihat pekarangannya yang tertata rapi. Rumputnya yang pendek tampak seperti baru dipangkas beberapa hari lalu. Namun ketika ia memegang pintu, ia merasakan debu di pegangannya.
Untuk sesaat Mark ragu. Haruskah ia masuk tanpa mengetuk pintu? Kalaupun ia mengetuk pintu, apa yang harus dikatakannya pada Jaemin mengenai keberadaannya di sini?
"Papa."
Mark terkejut. Ia melihat sekeliling tapi ia tidak melihat seorang pun.
"Jangan pergi, Papa."
Kali ini Mark tahu dari mana suara itu berasal.
"Biarkan aku ikut, Papa," Mark mendengar isak tangis Jaemin, "Aku tidak mau ditinggal sendiri."
Mark tidak berpikir panjang lagi untuk masuk.
"Papa..."
Mark langsung menuju asal suara itu.
Jaemin tampak begitu kesakitan. Sebuah kain basah berada di keningnya. Wajahnya basah oleh keringat. Bibirnya terus menerus memanggil Papa dan mengulangi kalimat: aku tidak mau ditinggal sendiri; jangan pergi.
Mark melihat sekeliling – mencari sesuatu yang bisa dijadikan tempat menandah air.
Di meja kecil di sisi tempat tidur, Mark melihat sebuah baskom penuh berisi air. Markpun segera mengambil kain di kening Jaemin yang membara, menyeka keringat di wajah pucatnya, membasahi kain itu lagi, dan kembali menyeka wajah Jaemin.
"Papa...," mata Jaemin terbuka.
Mark membalikkan badannya untuk membasahi kain.
"Jangan pergi!" Jaemin menangkap tangan Mark dan mencengkeramnya kuat-kuat.
Mark tertegun. Sebulir air mata mengalir dari mata pilu yang tertutup rapat itu.
"Aku tidak akan pergi. Aku akan selalu berada di sisimu," bisik Mark lembut dan ia duduk di sisi Jaemin. "Aku janji," Mark menggenggam tangan Jaemin.
Jaemin tersenyum.
Lagi-lagi Mark tertegun. Ia tidak pernah melihat senyum manis Jaemin yang seperti ini. Jaemin tampak begitu bahagia dan damai sehingga Mark tidak tega menarik tangannya dari genggaman Jaemin.
Jaemin memejamkan matanya namun tangannya masih menuntut bukti keberadaan Mark di sisinya.
Dengan tangannya yang terbebas, Mark terus menyeka keringat Jaemin dan dengan sabar membisikkan kata-kata lembut yang menenangkan gadis itu. Matanya terus menatap wajah yang menderita itu.
Kematian Duke Johnny pasti merupakan pukulan besar bagi Jaemin.
Apakah yang akan dilakukan Jaemin setelah ini?
Untuk beberapa alasan yang tidak diketahuinya, Jaemin tidak mau kembali ke Sternberg. Apakah Jaemin akan tinggal di tempat ini? Bersama pemuda itu?
Ingatan akan pemuda yang menyambut Jaemin, membuat Mark mual. Saat ini ia berada di rumah pemuda itu!
Tiba-tiba Mark sadar sewaktu-waktu pemuda itu akan muncul.
Mark beranjak bangkit.
Melalui jendela di seberang tempat tidur, ia tidak melihat tanda-tanda pemuda itu. Namun Mark tidak mau mengambil resiko. Ia segera mengompres Jaemin kembali dan beranjak pergi.
Apa yang sedang dilakukannya!? Apa yang akan dikatakan dunia!? Ia tidak pernah menjaga orang sakit sebelumnya. Ia juga tidak pernah menunggu orang sakit seperti ini. Sekarang ia menunggui anak haram, pelacur yang tidak tahu malu, gadis licik yang melamarnya, dan... dan...
Mark melihat wajah cantik yang pucat itu. Kesedihan gadis ini bukanlah sebuah sandiwara. Mungkin kesedihannya, penderitaannyalah yang membuatnya iba dan pada akhirnya membawanya ke tempat ini.
Cukup sudah! Jaemin tidak sendiri lagi. Siapa pun pemuda itu, Jaemin sudah mempunyai orang yang akan menjaganya.
Saat itulah ia baru benar-benar menyadari betapa kecilnya rumah ini – kalau mau disebut rumah. Tempat ini hanya mempunyai satu perapian di seberang pintu masuk. Dapur kecil di sisi kanan pintu. Sebuah meja kayu persegi berdiri di depan perapian bersama empat kursi kayu tua yang mengelilingi keempat sisinya. Singkat kata, ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga, dan dapur menjadi satu di tempat ini. Hanya satu pintu di sisi kiri perapian yang membatasi ruang ini dengan ruang tidur Jaemin.
Mark tidak dapat memahami bagaimana Jaemin akan tinggal di tempat ini, rumah yang pasti tidak lebih besar dari kamar Jaemin di Sternberg.
Ketika Mark memperhatikan perlengkapan dapur yang begitu minim, barulah ia menyadari betapa kotornya tempat ini.
Debu tebal dapat dijumpai di setiap sudut.
"Betapa malasnya penghuni rumah ini," gumam Mark.
Tiba-tiba saja Mark tersadar. Di mana pemuda itu tidur? Di mana Jaemin tidur? Akankah mereka berdua tidur bersama? Pikiran itu membuatnya kembali mual dan pada saat yang bersamaan membangkitkan kewaspadaannya.
Mark segera meninggalkan rumah itu.
Baru saja Mark mencapai kereta kudanya ketika dua ekor kuda menuju rumah itu. Seorang adalah pemuda itu dan yang seorang lagi, Mark yakini, adalah sang dokter.
Sekarang pemuda itu sudah kembali bersama dokter. Tidak ada alasan lagi bagi Mark untuk tinggal lebih lama lagi.
