Way to Love You
Rated: T
Disclaimer: 1. Bleach©Tite Kubo dong pastinya! 2. Toshiba Mini NB250©株式会社東芝 (Kabushiki-gaisha Tōshiba)3. Facebook©Mark Zuckerberg 4. Twilight SagaStephenie Meyer
Pairing: Grimmhime
Warning: OOC
"Tidak apa-apa, sayang!" sergah Rangiku, memberikan kembali kotak berisi handphone mahal itu kepada Orihime. "Kurasa gadis kelas 1 SMA sudah pantas memakai smartphone ini. Jadi, terimalah!"
"Arigato gozaimasu, paman Gin! Bibi Rangiku!" dia berdiri dan membungkuk sangat rendah kepada Gin dan Rangiku yang kelihatan puas.
"Anak baik," bisik Gin pada Rangiku.
Chapter 4 : "OSIS Paperworks : One Morning with Him"
"Mbak, sudah dipasang semua. Modemnya mau berapa?" kata si petugas layanan telepon kepada Rangiku setelah sekian lama ribut didalam maupun diluar apartemen Orihime.
"Ya? Modemnya tiga aja ya mas," jawab Rangiku.
"Oh. Iya deh mbak."
"Eeeh? Tiga? Bukannya satu saja sudah cukup, bibi?" sahut Orihime.
"Oooh, tidak! Shiro dan Gin dulu sering berebut untuk memakai modem saat harus mengerjakan tugas atau kerjaannya. Jadi kami harus memberikan modem untuk masing-masing. Sedangkan yang satunya lagi bisa buatmu, sayang," kata Rangiku, sementara si petugas keluar dari apartemen dan menuju mobil untuk mengambil modem.
Setelah beberapa saat si petugas masuk lagi dan memberikan tiga kotak kecil ke Rangiku.
"Terimakasih, dan ini tip buat mas," dia memberikan sejumlah uang ke si petugas, yang menunduk tanda hormat kepada Rangiku-kemudian pergi.
"Sekarang kita coba!" seru Gin membuka notebooknya. "Aaah, sudah bisa. Aku harus segera kirim email ke Aizen-sama. Orihime-chan, cobalah notebook barumu."
"Ehm, baiklah," mau tidak mau dia bangkit dan mengambil tas biru kecil yang terletak di dekat tumpukan koper.
"To… shi… ba… mi… ni… NB... 250." ejanya pelan saat membuka notebooknya.
Dia menyambungkannya dengan modem (karena sudah pernah diajari oleh Tatsuki). Karena tidak ada yang terlalu dimengerti Orihime, dia hanya mengutik-utik notebook itu sebentar, kemudian membiarkannya terbuka tanpa apa-apa.
"Eh, rasanya aku sudah mengantuk, Rangiku," sahut Gin kepada Rangiku setelah semua pekerjaannya selesai dilakukan. Memang, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Toushiro bahkan sudah bergulung di sofa, dan Yachiru sudah terlelap di pangkuan Kenpachi yang kelihatannya juga sudah tertidur, di karpet.
"Paman dan bibi bisa tidur di kasur, biar nanti aku menggelar futon dibawah!" kata Orihime kepada paman dan bibinya.
"Kami saja yang tidur di futon, sayang! Kau kan tuan rumah, tidurlah di tempat tidurmu!" sergah Rangiku.
"Tidak usah! Futonku kecil dan sempit, jadi tidak muat untuk kalian berdua! Ayo, biar kuantar!" dia menyeret Gin dan Rangiku ke kamarnya.
"Wah, terimakasih ya Hime-chan! Ayo tidur, sayang!" seru Rangiku semangat kepada Gin yang hanya mengangguk lemah, menandakan bahwa memang dia sedang dikuasai oleh kantuk.
"Oyasumi, Orihime-chan!"
Orihime's POV
"Oyasumi, Orihime-chan!" aku masih bisa samar-samar mendengar suara Paman Gin yang mengucapkan selamat tidur kepadaku.
Ya. Bibi Rangiku dan Paman Gin yang baru saja pindah dari Amerika, menginap di rumahku. Oh, tidak, tidak! Mereka tidak tinggal berdua! Mereka membawa Toushiro Ichimaru, anak pertama mereka, yang berarti sepupuku. Walaupun umurnya masih belia yaitu 12 tahun-memiliki kecerdasan diluar anak sebayanya.
Kemudian Yachiru Ichimaru, sepupuku juga yang merupakan anak kedua dari Bibi dan Paman. Yachiru aku akui adalah anak yang unik. Bibi pernah cerita saat umurnya masih satu tahun lebih, dia tiba-tiba menghilang dan kemudian pulang dengan diantar oleh seorang laki-laki yang berperawakan menyeramkan dan juga sangat tinggi, Kenpachi Zaraki.
Namun karena Yachiru menolak melepaskan genggamannya dari punggung Ken-chan-begitu dia memanggilnya-terpaksa Kenpachi harus menginap di rumahnya malam itu. Setelah berbicara serius dengan Paman Gin, Kenpachi bersedia menjadi pengasuh Yachiru-tanpa digaji.
Hehe, tanpa digaji! Itu karena Kenpachi tinggal sebatang kara, dan tinggal bersama keluarga yang lengkap, menurutnya, sudah lebih dari sekedar menerima gaji.
Begitulah yang dikatakan Bibi Rangiku padaku.
Bibi Rangiku adalah sepupu dari Sora nii-chan. Dulu namanya Rangiku Matsumoto. Bibi punya selera makan yang sama denganku! Namun, katanya sejak menikah dengan Paman Gin, dia tidak tega melihat wajah kurus Paman tampak lebih kurus karena lebih memilih mencari alasan "Sudah makan diluar" atau "Ditraktir teman kantor" daripada makan makanan buatan Bibi yang sebenarnya enak itu.
Enak bagi kami berdua, ya. Hihihi. Akhirnya dia memilih untuk mengikuti kursus masak dan berusaha memasak pada jalur yang dianggap orang lain yang menikmati masakannya, bisa disebut makanan yang rasanya 'normal'.
Sedangkan paman Gin Ichimaru, adalah suami Bibi Rangiku yang sangat ramah. Aku menyukai wajahnya yang selalu menyunggingkan senyuman yang khas, sedikit mirip rubah. Namun aku pernah melihat beberapa tatapannya kepada orang yang mencoba menggoda Bibi saat kami jalan-jalan dulu-atau yang baru saja terjadi-Toushiro yang keras kepala-sangat menyesakkan. Tapi, selebihnya, baik kok. Oh iya, Paman Gin juga bisa dibilang 'kaya' atau 'tajir' atau 'mapan' karena pekerjaannya di Perusahaan Hueco Mundo, yaitu perusahaan raksasa yang didirikan oleh Sousuka Aizen atau entah siapa itu-menjabat sebagai Vice President. Vice President yang bisa mengatur tempat pekerjaannya, atau waktu kerjanya kapan saja dan dimana saja. Karena itulah Paman Gin bisa santai berpindah-pindah tempat kerja tanpa takut di-PHK atau terkena dampak buruk ekonomi lainnya. (A/N: Nama Sousuke Aizen sengaja dibuat typo karena ketidaktahuan Orihime)
Yah, sejauh itulah yang bisa aku ketahui tentang keluarga Ichimaru yang unik ini. Seunik apapun, aku tetap menyukai keluarga ini.
Dan juga, untuk yang pertama kalinya aku bisa merasakan kebahagiaan memiliki keluarga.
Sekarang kembali ke diriku sendiri. Yah, sebuah smartphone dan notebook-entah mengapa bisa aku miliki sekarang. Aku tidak pernah punya angan-angan untuk memiliki barang-barang mewah ini, namun, mau bagaimana lagi, aku telah memilikinya dalam jangka waktu yang singkat.
Aku membuka kotak berisi BlackBerry itu dan mendapati sebuah benda yang besar, untuk ukuran handphone, dengan tombol QWERTY (sepertinya namanya begitu saat aku membaca buku ICT) dan layarnya lebar. Besar dan Berat. Aku mengambil handphone lamaku dan mengambil simcardnya kemudian memasangkannya ke BlackBerry itu. Untung saja aku tidak memasukkan handphone itu ke tas, karena pasti akan tertinggal.
"Hum... Dicas dulu saja," gumamku pelan sambil mengambil charger dari kotak itu lagi. Tapi kulihat-ada sms.
Lagi-lagi dari Ggio. Yah, sms ini tidak mungkin membuat perasaanku menjadi lebih buruk-jadi kubaca saja daripada besok dia mengamuk.
Orihime... Kenapa ngeloyor pergi begitu aja!
Kita kan rapat OSIS! Besok pagi ada kerjaan buatmu, ambil diruang OSIS ya... hehe XD
Selesaikan sebelum istirahat, jadi datanglah pagi-pagi-akan ada seseorang yang menemanimu!
Salam sayang dari Grimmjow :P
Aku betul-betul lupa hari ini ada rapat OSIS. Dan karena tidak mengadirinya, aku harus menyelesaikan tugas ini pagi-pagi dan sendiri? Baikalh, aku toh sudah pernah mengalami hal yang sama.
Tapi, kata Ggio akan ada yang menemani, mungkin begitu aku menelepon dia dan bertanya jawabannya pasti seperti itu!
"Temanmu ada di sebelahmu... Menunggu untuk menghisap darahmu!" aku menirukan gaya bicara Ggio yang sok mencekam, saat aku harus menyelesaikan tugas OSIS dipagi hari juga.
Yah, tidak apa-apa sih kalau mereka penghisap darah. Semoga saja Alice atau Edward.
~Way to Love You~
"Ggio, mana sih teman yang kaubilang mau menemani?"
"Temanmu ada di sebelahmu... Menunggu untuk menghisap darahmu!"
Telepon itu terjatuh. Di sudut ruangan berdiri seorang cowok-tampan, tinggi, dan sedikit pucat. Sedang tersenyum pada gadis berambut cokelat yang baru menjatuhkan telepon genggam.
"Orihime... Maukah kau menjadi bagian dari kami?"
Gadis berambut coklat itu sedikit terperanjat, namun mengatakan hal yang mantap dari bibirnya.
"Ya-aku mau,"
"Bersiaplah..." kata cowok itu, bergerak bangat cepat dan mulai mendekati leher gadis itu. "Ini akan sangat sakit..."
Eh! Apaan sih aku ini! Kenapa malah menghayal yang tidak jelas! Sudah sudah sudah!
Dan kemudian aku sekali lagi mematung didepan notebook mungil berwarna biru langit yang masih kubiarkan menyala, yang entah mengingatkanku pada seseorang.
"Sora nii-chan..."
Tok Tok Tok! Pintu rumahku diketuk. Aku sekilas memandang jam dinding, dan mendapati bahwa jarum telah menunjukkan angka 11-yang berarti sudah diluar norma kesopanan seseorang untuk bertamu.
Tok Tok Tok! Lagi-lagi pintu itu diketuk. Mau tidak mau, harus kubukakakan, meskipun aku berharap kalau ternyata si Tamu salah alamat dan punya cukup alasan untuk bertamu ke rumah seorang manusia normal, selarut ini. Yah, itupun kalau yang ingin dikunjunginya adalah manusia. Bagaimana kalau dia vampir yang memangsa orang yang masih terjaga pada jam segini?
Aku menertawkan diriku sendiri, mana mungkin ada vampir yang mau memangsa harus mengetuk pintu korbannya terlebih dahulu? Bodoh...
Pintu kubuka-dan aku melihat sosok orang yang sangat aku sayangi. Orang yang selalu membela aku apapun resikonya. Sekian lama kami bertatapan tanpa sepatah kata pun.
Tatsuki's POV
Sudah gelap. Aku melirik jam beker yang terpasang di meja kamarku, dan angka digitalnya menuliskan 10.15 p.m.
Dengan langkah lunglai aku memakai jaketku dan keluar dari kamar.
"Okaa-san, aku mau pergi," kataku kepada Okaa-san, yang nampak heran.
"Eh? Kau mau kemana?"
"Ini kerjaannya Ggio. Dia mengadakan acara 'Uji Nyali Musim Semi' untuk kelas kami, tempatnya di kuburan di kelurahan sebelah," aku dengan mudahnya berbohong kepada Okaa-san tentang acara 'Uji Nyali Musim Semi' itu karena pernah mendengar Ggio membicarakannya.
"Ya, baiklah. Kira-kira pulangnya jam berapa?"
"Tidak tahu. Entah apa yang akan disiapkan oleh si Ggio, jadi tidak tahu memakan waktu berapa lama. Jadi jangan kunci pintunya kalau sudah tidur. Aku pergi ya Okaa-san."
Lalu aku menyusuri sepanjang jalan yang sudah terlihat sepi dan gelap. Rumah-rumah juga sudah terlihat mematikan lampu. Satu-satunya bangunan yang masih terang benderang adalah minimarket 24 jam. Aku menuju minimarket itu dan membeli satu bungkus onigiri, kemudian duduk di ayunan di taman.
Aku memakan onigiri itu, walau sebenarnya perutku masih merasa kenyang karena makan malam. Entah mengapa aku ingin sekali keluar rumah dan merasakan udara malam. Dan entah mengapa juga aku membawa tas sekolah Orihime secara tidak sadar. Aku memakan lagi onigiri-ku.
Aku tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Mengunjungi apartemen Orihime untuk mengembalikan tasnya? Oh, sungguh tidak sopan bertamu ke rumahnya jam segini. Kalau aku pulang sekarang, Okaa-san pasti akan tahu kalau aku berbohong.
Jadi aku duduk sendirian di ayunan itu. Mungkin sekitar satu jam. Lalu aku berdiri dan memutuskan untuk pergi ke sana, ya, meskipun tidak sopan namun rasanya ada yang memanggilku untuk pergi kesana.
Kakiku menyusuri sepanjang jalan yang sudah sangat kukenal. Suasanya sepi, dan gelap. Kadang-kadang ada bunyi berkeresek, tidak tahu apa yang membuat bunyi itu. Dan akhirnya aku sampai. Aku lihat semua lampunya sudah dimatikan. Sedikit berharap agar tidak dibukakan, aku mengetuk pintunya.
Pintu kuketuk tiga kali, dan aku berhenti untuk mendengarkan apakah ada gerakan dari dalam situ. Tidak ada suara apapun, batinku.
Sekali lagi aku mengetuk pintunya. Dan aku berhenti untuk mendengarkan sekali lagi. Dan kagetnya, pintu itu terbuka, dan dia berdiri di depannya, memandang dengan heran.
Begitu mata hazelnutku bertemu dengan mata abu-abunya, atmosfer rasanya langsung berubah menjadi sedingin es. (A/N: Makasih banyak buat Hyourinmarunya Hitsugaya-taichou yang udah mau jadi sponsor)
Normal POV
"Tatsuki-chan!" Orihime mnghambur kedalam pelukan Tatsuki, sambil menangis. Ya, menangis.
"Maaf..." mereke berdua berkata bersamaan.
Tatsuki membelai lembut punggung Orihime.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan darimu, Orihime. Akulah yang harusnya meminta maaf."
"..."
"Yasudah. Ini tasmu," dia memberikan tas Orihime yang tertinggal padanya, dan melongok ke dalam apartemennya.
"Hei? Apa-apaan ini?" dia menghambur masuk kedalamnya. "Koper? Dan..."
Mata Tatsuki membelalak.
"Notebook? BlackBerry? Apa kau baru saja kedatangan Dewi Fortuna yang lagi mabuk lalu memberikan kau rejeki sebanyak ini?"
"Hehe," Orihime meringis tanpa dosa. "Bibi Rangiku dan Paman Gin baru datang dari Amerika, jadi mereka memberi semua ini. Dan jangan berisik."
Dia menunjuk Toushiro, Yachiru dan Kenpachi yang sedang tidur. Tapi Tatsuki sudah tidak peduli lagi. Dia sekarang sedang mengutak-utik BlackBerry Orihime, atau lebih tepatnya mengaguminya.
"Woow... Keren... Dan Notebook ini! Canggih! Bibi dan Pamanmu baik sekali ya, hihihi."
"Hehe," lagi-lagi cuma bisa meringis, Orihime duduk di sebelah Tatsuki yang sedang melihat-lihat notebook.
"Modemnya! Ini modem yang bisa dibawa kemana-mana, Orihime! Oiya, kau tidak punya facebook kan? Sini biar aku buatkan," kata Tatsuki.
"Facebook? Boleh! Pakai saja email yang kaubuatkan, Tatsuki-chan." kata Orihime.
"Um... Mau pakai nickname apa?" tanya Tatsuki, yang rupanya sudah ada di jendela facebook.
"Sini," dia mengambil alih notebook dari Tatsuki, dan mengetik nama 'Orihime Alice Cullen'
" 'Orihime Alice Cullen'? Betapa kau menyukai Alice di Twilight Saga... " desah Tatsuki pasrah.
"Hehe, habisnya keren!"
"Keren mana sama Grimmjow?" sindir Tatsuki.
"Tentu Alice! Grimmjow siapa, Alice siapa... langit dan bumi! Grimmjow tuh orang biasa! Alice kan vampire Cullen, keren lagi! Biarin tuh dia gigit si Grimmjow! Ah! Paling dia gak mau karena darah Grimmjow gak enak!" sembur Orihime pada Tatsuki, yang agak sedikit mengkeret.
"Yah, terserah deh. Lanjutin lagi tuh daftarnya."
"Hehehe..."
~Way to Love You~
"Nah, sekarang add aku. Nih nick-nya," kata Tatsuki begitu facebook Orihime sudah berhasil dibuat.
" 'Tatsuki Karate-Master Arisawa'... Haha, nama Tatsuki-chan lucu," gumam Orihime.
"Yasudah, aku mau pulang," kata Tatsuki melirik jam yang menunjukkan angka 12. "Ja ne..."
"Ja ne, Tatsuki-chan!"
Orihime's POV
Tatsuki-chan pulang, dan ini sudah jam 12 malam. Tapi rasanya aku tidak mengantuk sedikitpun.
Mataku kembali menyusuri halaman facebook yang baru saja kujelajahi. Aku tahu, kalau seluruh sekolah sedang senang-senangnya membuka facebook. Untuk melihat siapa saja yang sudah bergabung di dalamnya, aku membuka Profil facebook Tatsuki.
1.076 friends_ View All
Aku meng-klik View All, dan sebuah nama menarik perhatianku.
Kurosaki Ichigo
"Ah..." desahku, dan membuka Profilnya.
Kurosaki Ichigo_Add as Friend
Info_Photos_Videos_My BFFs
Kurosaki only shares some of his Profile information with everyone. If you know Kurosaki, send his a message or add his as a friend.
"Oooh, baiklah kalau itu maumu," aku menggumam tidak jelas dan menambahkan dia sebagai teman.
Ada satu nama lagi yang menarik perhatianku-namun ini agak aneh sih, aku agak malu mengakuinya.
Tapi aku toh membuka Profilnya juga.
Grimmjow Devill Yoichi_Add as Friend
Info_Photos_Videos
Grimmjow only shares some of his Profile information with everyone. If you know Grimmjow, send his a message or add his as a friend.
Yah, sedikit sangsi, aku juga menambahkan dia sebagai teman.
Lama sekali rasanya aku membuka-buka halaman dan Profil user lain. Semakin dalam pula aku mengetahui bahwa semua siswa dikelasku sudah memiliki facebook. Bahkan Nemu-siswa yang paling pendiam dikelas juga memiliki facebook. Sepertinya hanya aku yang gagap teknologi dikelas nih, hihihi.
Mematikan notebookku dan mencabut modemnya. Jam dua pagi, tidak kusangka.
Baiklah, sekarang aku benar-benar mengantuk. BlackBerry baruku-baterainya sudah penuh. Aku membawanya ke kamarku dan menggelar futon dilantai. Sejenak, aku melihat Bibi Rangiku dan Paman Gin tidur. Bibir Paman Gin menempel ke dahi atas Bibi Rangiku-mesra sekali. Wajah mereka juga terlihat damai, mengisyaratkan bahwa hari-hari mereka diisi dengan kebahagiaan dan cinta, bersama anak-anak mereka.
Entah siapa yang akan memberikan aku kenyamanan seperti itu. Yah, suamiku?
Siapa suamiku?
Bodoh!
Terlalu cepat untuk memikirkannya!
Normal POV
"Orihime-chan."
"..."
"Orihime-chan."
"..."
"ORIHIME-CHAAAN!"
"A-A-APAAA!" gadis bermata abu-abu itu langsung terduduk bangun dan berteriak sejadi-jadinya. Mengira ada sesuatu yang terjadi dengan apartemen yang sangat disayanginya. Namun yang ditemukannya adalah wajah sepupunya yang sangat dekat.
"T-toushiro! Kenapa membangunkanku?" Orihime bertanya, walaupun masih dalam keadaan 'setengah sadar'.
"Lihat saja sudah jam berapa," geramnya kesal, melirik ke jam dinding.
Orihime melongok sepenuhnya ke jam dinding yang bertengger di tembok apartemennya. Dan jam menunjukkan...
"Jam enam tiga puluh! Kerjaan OSIS-KU!" dia langsung melonjak ke kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras, meninggalkan Toushiro yang agak shock.
Pintu kamar mandi terbuka lagi, dan kepala Orihime muncul dari baliknya, "Makasih sudah bangunin aku, Toushiro!"
BLAM. Pintu ditutup lagi dengan kasar.
"Mmm..." gumam Toushiro mengiyakan, lalu pergi keluar kamar dengan sikap cool.
~Way to Love You~
"Bibi! Aku berangkat dulu ya!" kata Orihime, yang sedang memakai kaus kaki kepada bibinya yang sedang memasak.
"Tidak sarapan dulu?" sahut Gin, yang sedang memangku Yachiru.
"Tidak apa-apa paman! Aku bisa sarapan di kantin!"
Secepat kilat dia sudah sampai di sekolah, yang untung masih sepi. Dan sudah tentu, tujuan utamanya.
Ruang OSIS.
Grimmjow's POV
GGIO VEGA! Kalau saja otakku sedikit lebih pintar, aku pasti akan membuatmu terkurung juga diruang aneh ini! Mengambil paperwork-mu yang ketinggalan? Oh, sungguh ironis. Mengadakan permainan adu menghitung? Kau betul-betul tahu kelemahanku.
Dan disinilah aku; di ruang OSIS, mencari paperworks-nya si Ggio sialan itu. Tch, kalau ingat aku harus menembak si Toska itu jika menolak, lebih baik disini deh.
"Aaah! Sampai juga! Aku harus selesai sebelum ra-!"
Aku mendongak. Melihat sosok seorang gadis yang sedang terengah-engah dan kelihatan habis berlari jarak jauh itu terdiam seperti patung begitu melihatku.
GGIO VEGA! AKU AKAN MEMBUNUHMU!
Normal POV
Hening. Tidak ada suara yang terdengar kecuali engahan nafas gadis itu. Ya, Orihime Inoue.
"Kau..." kata mereka berdua bersamaan, membentuk harmoni antara suara sopran dan bass.
"Grimmjow-kun," kata Orihime tanpa beban.
"Onna," kata Grimmjow juga.
Seakan hanya bertemu seorang rekan kerja di ruang yang sama, Orihime langsung melesat masuk menuju meja bendahara umum, menutup pintu ruang OSIS dan menghadapi paperworks yang lumayan 'bertumpuk'. Dia mengeluarkan alat tulis dan mulai bekerja.
"Hei, onna," sahut Grimmjow pada Orihime. "Tahu tidak dimana paperworks tentang lomba ditaruh sama Ggio?"
"Cari aja dimejanya Ggio, pasti gak akan nyasar," jawab Orihime, tidak mengalihkan pandangannya sama sekali dari kertas dan terus menulis.
"Oh. Arigato," kemudian Grimmjow menuju ke meja Ggio-tapi aneh, paperworks itu tak kunjung ditemukan. Lalu dia mencari ke meja ketua, wakil ketua, bahkan sampai lemari arsip. Tapi hasilnya...
Nihil!
"Grimmjow-kun," kata Orihime melihat Grimmjow sudah mirip dengan pencuri yang agak 'bodoh'. "Paperworks itu tidak mungkin jauh-jauh dari meja Ggio, mana mungkin dia membawanya sampai ke toilet."
Ternyata Grimmjow juga mencoba mencari paperworks itu ke toilet.
Sedikit merasa malu, Grimmjow kembali ke meja Ggio. Dan kini duduk di atasnya dan menatap Orihime dengan tatapan menuduh.
"Kalau begitu, dimana paperworks-nya?"
"Yah, mungkin di laci?" kata Orihime santai, walaupun tanpa mendongak dari paperwoksnya- menunjuk laci meja Ggio yang dia yakin belum diperiksa Grimmjow.
"Oh. Aku tidak melihatnya, maaf," sahutnya sambil lalu, kemudian membongkar laci itu.
Orihime tertawa kecil, tangannya masih menari lincah di atas kertas-kertas.
~Way to Love You~
"Grimmjow-kun," sahutnya, mengernyit pada satu lembar kertas.
"Hm?" terdengar respons samar-samar dari Grimmjow, yang masih tenggelam pada laci meja Ggio.
"Kenapa dengan peserta lomba kelas 1-6? Kekurangan satu orang," Orihime menuding kertas yang tidak bersalah dengan nada tidak sabar.
"Oh," Grimmjow ber-ooh ria. "Masukkan saja nama Chihiro Ogawa."
"Chi.. hi.. ro... O... ga... wa.." eja Orihime saat menulis. "Kenapa sih registrasi kelasmu sering bermasalah?"
"Mana kutahu."
"Kenapa jawabanmu seperti itu sih?"
"Aaah, tidak tahu lah."
"Dasar."
"Hehe. Hei."
"Mmh?"
"Apa gosip itu benar?"
"Tentu saja tidak, bodoh."
"Kau putus dengan Kurosaki?"
Orihime berhenti menulis.
"Ya. Tahu darimana kau?"
"Insiden pemukulan itu sudah menyebar luas, tahu tidak."
"Oh."
Dia memaksakan suaranya agar tidak bergetar, dan sebisa mungkin menahan airmatanya tidak kekluar. Namun airmatanya kin menetes di kertas administrasi kelas 3-8
"Hei, hei. Kau menangis, onna?" Grimmjow mulai sedikit panik melihat Orihime yang sedang menyeka airmatanya.
"No problem," sahut Orihime. "Mataku cuma keculek."
"Baguslah. Kau sudah selesai?" tanya Grimmjow yang entah mengapa-sekarang menghilang dibalik kursi Ggio.
"Ya. Sudah selesai. Aku duluan ya, Grimmjow-kun!" seru Orihime sambil mengemasi alat tulisnya.
"Nah! Ini dia!" Grimmjow menjerit kesenangan, akhirnya menemukan paperworks Ggio, yang entah mengapa bisa ada di bawah kursi. "Mau keluar bareng aja? Kayaknya diluar udah mulai rame, tuh."
"Iya. Eh..." Orihime memutar-mutar kenop pintu.
"Kenapa?"
"Grimmjow-kun... PINTUNYA TERKUNCI!"
"APA?" Grimmjow keras, lalu menghampiri Orihime dan pintu, kemudian mengambil alih memutar kenop.
"Ukh. Tolong teleponkan Ggio dong. Tiga menit lagi sudah bel nih," kata Grimmjow sambil tetap memutar-mutar kenop.
Orihime menelepon Ggio.
"Nomornya sibuk," kata Orihime lesu saat sudah menelepon lima kali dan tidak ada respon yang berarti.
"Ggio sialan. Pasti dia yang mengunci kita disini," kata Grimmjow penuh dengan nada sarkatis.
Teng tong teng tong... teng tong teng tong... Bunyi bel bergema diseluruh sekolah, memberi peringatan untuk segera masuk kedalam kelas.
"Onna! Kita lompat dari jendela!" seru Grimmjow menghampiri jendela.
"Tapi.. ini kan lantai dua!" seru Orihime juga, dengan nada protes.
"Aku lompat duluan! Kau nanti kutangkap!" kata Grimmjow tidak sabar, menarik tangan Orihime sekaligus pemilik tangannya makin dekat ke jendela.
Tangannya hangat sekali... pikir Orihime, namun segera membuang jauh-jauh pikiran itu. "A-apa? Baiklah, tapi..."
Tapi Grimmjow sudah bertengger di jendela, siap melompat.
"Apa Grimmjow-kun tidak apa-apa?" tanya Orihime.
"Tidak apa-apa! Nanti kalau mau loncat, aku beri aba-aba dulu!" seru Grimmjow, langsung melompat.
Orihime memekik kecil, dan melihat Grimmjow sudah ada di daratan dengan selamat.
"Onna! Cepat naik!" teriak Grimmjow tidak sabar dari bawah.
Dengan gugup, Orihime naik ke jendela.
"Aku hitung! Pada hitungan ketiga.. LOMPAT!"
"I-IYA!" teriak Orihime gugup.
"SATU.. DUA... LOMPAT!"
Ya Kami-sama... desah Orihime dalam hati, lalu melompat pasrah dari lantai dua.
Pluk!
Orihime mendarat luwes di dalam pelukan Grimmjow. Rona merah muncul dari kedua pipi mereka. Untuk beberapa lama mereka tetap mempertahankan posisi itu, namun ketika tersadar Orihime cepat-cepat tutun dari pelukan Grimmjow.
"Eh.. arigato gozaimasu ya, Grimmjow-kun!" dia membungkuk pada Grimmjow dan segera berlari ke kelas.
~Way to Love You~
"Hihihi... Lumayan buat hotnews di mading..." bisik seseorang dibalik keremangan pohon, membawa kamera.
"Hei. Ayo masuk kelas!"
"Iya!"
.
.
To Be Continued
Hime: Hehe, gimana chapter 4-nya? Ancur ya? Hehe, Hime lagi kosong nih, apalagi sebentar lagi udah masuk sekolah, setres! Belum lagi ada sedikit problem dari 'pairing' di fb, jadi harus meledak-ledak disana, memalukan /.
Grimmjow: Woi. Kenapa gue bego banget sih disitu?
Hime: Kenyataannya kan. *PLAAAK!*
Orihime: Eh, eh. *narik lengan baju Hime* Yang ngunci kami siapa?
Hime: Kalo dikasihtau kan nggak seru ceritanya.
Grimmjow: Ggio ya? Yakan? Yakan?
Ggio: *salah tingkah* Apaan sih sebut-sebut nama gue!
GrimmHime: Hmm... kamu kan yang ngunci?
Ggio: Gak! Bukan aku!
Hime: Ya udah. Sekarang kita jawab aja review-review dari para readers, ok!
Shuei samehachi : Yup, ini udah diupdate kok ^.^
aRaRaNcHa : Emang sengaja Hime buat baik disini. Hehe. Ini updatenya :P
ruki4062jo : Haha, ini updatenya :D
: Haha, makasih Hina-chan. Kadang-kadang iri bisa buat kita berjuang lebih keras, lho.
ayano646cweety : Iya tuh, Tatsuki... Sabar ya... Tapi Tatsuki ama Orihime udah baikan kok, hehe.
Makoto-Kitty-Jeagerjaquez : Ini udah ada GrimmHime kok :D. Oh iya, yang susumu-susumu itu ceritanya Rukia salah lirik. Jadi suzume jadi susumu.
Riztichimaru : Grimm udah muncul di chapter ini kok, walaupun keadaannya memprihatinkan (?).
.
.
Akhir kata, Hime selaku author meminta maaf kalau ada salah dalam fanfic Hime.
Dan Hime mohon review-nya, agar Hime bisa bikin fanfic ini jadi lebih baik.
