Huuufffttt maaf bagi yang nunggu ficku aku benar-benar kesal dan marah karena, fic yang telah selesai kubuat tanpa sebab memoriku harus ke format sama sekali dan alhasil semua hasilku yang telah dibuat jadi, sia-sia deh dan alhasil aku harus membuat lagi dari awal dan itu benar-benar brengsek banget! Dan maaf tampaknya sebulan aku enggak update karena, pada dasarnya aku lagi sibuk-sibuknya waktu itu dan sekarang tak perlu khawatir karena, sebentar lagi aku akan libur kerja dan mulai Update seperti biasanya (mungkin aku terkadang janji gak di tepati -_-) lol.

P.s : hahahaha ada yang udah buat perencanaan untuk tahun baru? Aku rasa kalau aku enggak peduli masak-masak dan Bakar Ayam saja sudah cukup buatku dan yang terpenting nyampah di rumah sendiri dan kenyang.

.

...

.

- Pelabuhan Angkut Barang

Sekarang Takashi tengah berada di sebuah Pelabuhan yang berada di daerah selatan tapi, tampaknya tempat dimana dia berdiri mungkin sudah bekas karena, disana tak ada aktifitas pengangkutan barang apapun, dirinya sekarang bersembunyi di balik Trailer Penyimpanan besar dan mengintip sesuatu dari sana.

'Mungkin, mereka menyembunyikan Saya disana' Batin Takashi mengintip sebuah bangunan yang terlihat dijaga dua orang berbadan besar 'aku tak bisa kesana dengan cara menerobos aku harus cari cara lain' dia tau jika menerobos maka kesempatan mengetahui keberadaan Gadis berambut Pink ini kecil.

*Tlakkk.

"Hei! Kau dengar sesuatu?"

"Yah, kurasa kita harus cek dibagian sana"

Takashi secara tak sengaja menyenggol tong sampah sehingga sedikit membuat kegaduhan, dia tau dua orang itu perlahan mulai dekat kemari tapi, dia tak terlihat gelisah dan panik.

"Hah, Gak ada apapun!"

"Perasaan aku mendengar suara seseorang?"

"Coba cek sekeliling di tempat lain!"

"Oke!"

Dan mereka tak bisa menemukan Takashi disana karena, Lelaki berambut Coklat ini berada di atas dengan Posisi terlentang.

"Fiuhhh! Tadi itu hampir saja" Takashi menghela nafas lega 'sekarang satu masalah sudah terlewati' dia melirik sekitar dan melihat kondisi setelah dirasa aman dia langsung masuk dengan kewaspadaan tingkat tinggi

.

.

.

.

.

- Taman Hiburan

"Ahhh Igou, Miyamoto!"

"Ahhh Morita"

Lelaki berambut dengan Gaya Mohawk ini bertemu dengan Pasangan cinta, dia sih sendiri masalah karena datang ke tempat ini sendiri yah, memang nyatanya tak ada para Gadis yang mau diajaknya ketempat ini.

"Kau bermain juga ke tempat ini?" Tanya Morita basa-basi.

"Yah seperti yang kau lihat sendiri" Jawab Hisashi melirik ke arah Pacarnya "kau tak biasanya disini? Biasanya kau akan ke tempat Stand Permainan"

"Saat ini aku sedang mencari Takashi" Jawab Morita dia tadi, sempat melihat temmannya itu bersama Gadis berambut Pink kalau dia asumsikan mungkin Takagi karena, Gadis mana lagi yang cukup dekat dengan Takashi selain mantan Pacarnya Rei.

Rei agak tertarik mendengar nama Mantan Pacarnya ini "Kita sempat bertemu dengannya di Bangku Taman di sekitar sini" dia tampaknya malah ingin tau.

"Aku sudah keliling semua Taman ini dan tak menemukan Apapun" Balas Morita dengan kedua tangan di belakang kepala "yah! Orang itu menyebalkan jika sedang dicari dia sulit ditemukan jika tidak yah! Kau tau sendiri dia terkadang ada dimanapun"

"Mungkin sudah pulang" Ucap Hisashi tenang dia tak mau Cekcok waktu tadi sampai diketahui temannya karena akan gawat.

"Ahhh, mungkin kau benar" Ucap Morita berlalu meninggalkan mereka "baiklah aku harus pergi banyak hal yang harus kulakukan dan nikmati liburan ini" dia sedikit memberi lambaian tangan sebelum menghilang.

.

.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

"Sekarang aku tinggal cari dimana Saya disembunyikan"

Takashi sudah masuk ke dalam ruangan jika, dia pikir ini berada sebuah Gudang besar dan terbengkalai tapi, dia tak mau gegabah karena dia tak ingin membuat dulu kegaduhan sebelum Saya ketemu tapi, sebuah langkah kaki terdengar jelas.

'Huh! Ternyata bukan hanya di luar saja bahkan di dalampun' Batin Takashi dia bersembunyi di balik tembok dan ketika orang itu mendekat, Dia langsung mengunci Leher orang itu dan mendekap Mulut hingga pingsan 'tapi, ini terlalu banyak Pintu dan ruangan mana yang harus kumasuki!' dia berteriak kesal dan tak lama terdengar suara pintu terbuka.

*krakkkk

"Huh, ini menyebalkan kita harus Jaga ganti padahal kita baru saja senang-senang"

"Jangan ngeluh gitu kau sendiri yang belum kebagian jadi, berhentilah mengoceh tak jelas"

"Yah, aku tau tapi, ngomong-ngomong bagaimana dengan Tahanan itu?"

"Yang kudengar Tuan Nagoya sedang berbicara dengan dia"

"Ya! Mampun dia Gadis yang lumayan lezat akan sangat rugi jika, Tuan Nagoya tak memberi kita sesuatu yang menyenangkan"

"Kurasa dia akan mengerti perasaan kita dan membiarkan kita bersenang-senang"

"Hahahahaha!"

Keempat Orang itu berlalu saja melewati Takashi yang menempel di tembok lagi. Dia langsung mengepal tangannya Marah mendengar tadi dia tau jika tak segera cepat maka Saya akan mengalami Hal trauma yang bahkan dia bergidik jika hal itu sampai terjadi.

Takashi menghela nafas 'bertahanlah sedikit lagi Saya aku akan menemukanmu' dia berlari ke sebuah ruangan yang dia kira Saya ada disitu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

- Ruangan Gelap

Saya hanya duduk di kursi dengan keadaan tak mengenakan dan berbahaya dia tau kondisinya benar-benar tak baik, dia dalam kondisi terikat disebuah kursi, dan tak bisa bergerak, bahkan mulutnya di plester juga agar tak bicara, dan Posisi dia berada di ruangan agak gelap dan tak lama terdengar suara tepukan tangan

*Clap *Clap *Clap *Clap

Saya melihat sebuah Figure bayangan mendekatinya dan tampak jelas seorang wajah Pria Dewasa, yang kira-kira berumur tak jauh beda dengan ayahnya, berambut Ungu gelap, dengan Gaya rambut ditarik ke belakang, dengan mata hitam dan Kacamata, menggunakan setelan jas bagus.

"Wah! Wah! Wah! Putri Tidur sudah bangun dari tidurnya" Ucap Lelaki itu dengan suara yang terdengar formal "kau, tampak nyenyak dengan Aroma tidurku" Saya hanya memberi Deathglare dia ingin bicara tapi, Selotip ini membungkam mulutnya.

"Ho? Ingin bicara? Baiklah kuberi kau kebebasan untuk berbicara" Lelaki itu membuka Plester Saya dan membuat Gadis itu berteriak kecil.

"Kau! Bangsat! Apa yang kau lakukan padaku huh?!" Ucap Saya marah dan memberi tatapan tak mengenakan

"Hoho! Sama seperti Ayahmu Don Takagi sikapmu Mengintimidasi dan tegas" Ucap Lelaki itu memegang Dagu Saya "tapi, rumor itu benar bahwa kau cantik dan menarik seperti ibumu Yuriko"

Saya menggeleng "Singkirkan tanganmu itu! Dan berhenti menyebut nama ibuku! Dan apa maumu Pria Sialan"

"Karena kau sudah bertanya baiklah akan kuperkenalkan diri namaku Suigo Nagoya dan pastinya kau sudah tau bukan?" Lelaki itu menyeringai setelah memperkenalkan diri.

"Kau!" Saya menggeram kesal dia sudah tau nama orang ini meski tak terlalu hafal wajahnya yang jelas orang di depannya ini cukup bahaya "kau! Bukankah kau sudah di penjara waktu itu!" Orang ini yang Pemimpin yang melakukan Kudeta dan berniat menggulingkan Pemerintahan tapi, Ayah dan Pasukannya berhasil menghentikan mereka sehingga mereka semua di Penjara.

"Aduhh! Kemana saja kau Gadis Muda?" Ucap Suigo tersenyum Jahat "apa kau lupa baca koran tiga minggu yang lalu" Saya hanya tak tau apa yang harus terjadi "ohhh! Baiklah! Akan kuberitau aku dan Kawan-Kawanku Kabur dari Penjara! Kau sudah puas? Hahhh!"

Saya terkejut tapi, wajah dia masih tetap Marah "Apa maksudmu dan maumu kenapa kau menculikku?"

"Yah, jika kau sudah tau pasti jawabanku ada hubungannya dengan Ayahmu" Jawab Suigo dengan lidah menjulur "dan aku saat ini sedang melakukannya lagi karena jika, Ayahmu tak disingkirkan maka Kudetaku takkan pernah berjalan mulus"

"Kau sungguh Menjijikan" Saya mengerang kesal

"Hohoho tentu saja aku ini menjijikan" Suigo Tertawa lepas "dan Alasanku menculikmu adalah untuk menghancurkan Batin Souchirou karena, pada dasarnya aku tak bisa mengalahkannya baik Fisik, Kekuatan, dan Politik"

"Dasar Pengecut" Saya mengumpat

"Hahahah biarkan saja aku tak peduli" Suigo tertawa dan mengabaikan Gadis itu "karena, kau juga yang akan menderita dan merasakan hal yang tak terduga dariku" Dia mulai mendekati Saya dan merobek secara Paksa Gaun yang di kenakan Gadis berambut Pink ini.

"Ugghh!" Saya hanya blush dengan shock berat dia tak bisa menutupi dirinya karena, terikat "hentikan! Itu!" dia berteriak memerah.

"Ho? Umur segitu kau sudah berkembang dan memiliki tubuh yang menajubkan" Suigo tersenyum Mesum "aku berharap bagaimana nanti jika sudah Dewasa? Hmmm! Mungkin lebih lezat lagi dan melebihi ibunya"

"Grrrrr!" Saya menggertakan Giginya kesal dia tak bisa berbuat banyak sama sekali ketika orang ini melakukan sesuatu bejat kepadanya.

"Ahhh tapi, aku ingin tau reaksi dia waktu melihat anaknya hancur dan bau cairan dari berbagai orang" Ucap Suigo melotot Jahat dan tampak cukup banyak bayangan Orang di belakangnya yang jelas itu berjenis kelamin Pria.

Saya membelalak matanya, tubuhnya bergetar dan berkeringat, dia tau hal sesuatu yang buruk terjadi padanya dia tak bisa berbuat banyak meskipun berteriak dia hanya bisa berharap sesuatu keajaiban yang menolongnya dalam situasi seperti ini.

"Hoh? Tampaknya Takagi kecil ini terlihat takut" Ucap Suigo "aku harap kau bersiap menghadapi mereka dalam jumlah banyak.

.

.

.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

.

- Takagi Mansion

Yuriko Takagi hanya duduk di kursi dengan Kepala menopang Dagu memasang ekspresi Cemas, tentu saja dia cemas ibu mana yang tak cemas jika anaknya diculik dan dia takut hal buruk sesuatu yang terjadi terhadap anaknya.

" bagaimana ini?" Tanya Yuriko kepada suaminya yang sedari tadi terus cemas gelisah.

"Hmmmm!" Souchirou Takagi atau orang-orang menyebut Dia Don Takagi hanya menghela nafas panjang dengan ekspresi datar "sudah kau temukan Lokasi Pastinya?" dia bukan tak khawatir, Ayah mana yang tak khawatir soal putri kesayangannya tapi, dia mencoba tenang dan tak menunjukan raut wajah panik.

"Sudah jelas" Jawab Yuriko dia sudah mendapat pesan dari Komuro yang menunjukan lokasi tepatnya "sebaiknya kita cepat laporkan Polisi dan bawa pasukan penuh"

"Tunggu sebentar" Souchirou menahan Istrinya untuk berbuat gegabah "kita jangan dulu bertindak seperti itu"

"Kenapa!" Protes Yuriko kesal.

"Kita selidiki dulu siapa tau ini bukan perbuatan penculikan biasa" Jawab Souchirou "karena, jika ini penculikan biasa yang meminta uang tebusan pastinya ada seseorang yang mengatur di balik layar"

Yuriko sedikit hening dengan perkataan suaminya lalu berbicara "tunggu maksudmu ini hanya pemancing karena, pada dasar tujuannya bukan itu?"

"Tepat" Souchirou mengangguk "jika, mereka menculik biasanya mereka akan menelpon lebih cepat sejam tepat setelah mereka melakukan penculikan tapi, ini lebih dari Dua jam dan aku menduga sasarannya bukan anak kita"

"Darimana kau bisa tau?" Tanya Yuriko.

"Aku yakin karena, jika tujuan mereka bukan penculikan biasanya mereka akan tak menyakiti Korban sebelum menunggu tujuan sesungguhnya yang dimaksud itu" Jawab Souchirou dia sebagai orang terpandang dan pengalaman hal seperti ini mudah baginya untuk diketahui.

Dan tak lama Handphone milik Souchirou bunyi dan dia mengangkatnya.

"Halo!"

"Lama tak jumpa Don Takagi-Sama!"

"Kau!" Souchirou mengepalkan tangannya dia masih hafal jelas siapa suara ini "setelah kejadian tiga minggu yang lalu kau kabur di penjara nampak, kau berani juga untuk menampakan diri seperti ini pula"

"Wah! Wah! Wah! Bukan Suigo Nagoya jika, hal seperti ini membuatku Takut"

"Katakan apa maumu sekarang?"Tanya Souchirou dengan nada mengancam " karena, aku takkan memberi pengampunan seperti sebelumnya"

"Ho! Menyeramkan yah, baiklah karena aku orang yang tanpa basa-basi mungkin, kau mengenal suara ini?"

"Lepaskan aku!"

"Hentikan ini! Dan jauhkan tangan menjijikanmu ini!"

'Saya!' Souchirou sangat shock siapa yang mengira anaknya berada di tangan Pria yang memiliki reputasi yang paling buruk.

"Kau takut? Dan terkejut? Tentu saja ini kelemahanmu sendiri"

"Aku bersumpah Nagoya jika, jarimu sedikit saja menyentuh anakku maka kau akan tinggal nama saja" Ucap Souchirou secara serius

"Ahh, tenang saja aku takkan berani melakukan itu tapi, aku hanya sedikit bersenang-senang saja dengan anakmu jadi, itu tak masalah hahaha!"

"Brengsek!" Souchirou mengumpat.

"Yah, jika hal itu tak ingin terjadi maka temui aku di Selatan Perbatasan Kota Fujimi, Lokasi di Hutan yang dalam yang terpisah oleh sungai dan Jam 11 malam"

"Dan harus tepat waktu sebab aku tak menjamin anakmu selamat jika, kau telat whahahahaha!"

*Tuttttt

"Grrrrr!" Souchirou terlihat sangat marah sekali.

"Ada apa Sayang?" Tanya Yuriko khawatir melihat suaminya "ada sesuatu yang terjadi"

"Yuriko" Ucap Souchirou menghela nafas untuk menurunkan emosi yang tadi meledak "cepat panggil semua Polisi dan kerahkan semua pasukannya dan aku tak mau ada alasan apapun sebelum anakku selamat" dia sekarang benar-benar serius

"Baiklah!"

'Baiklah Nagoya jika, kau ingin perang maka akan kulayani dan kutunjukan bagaimana cara perangku'

.

.

.

.

.

.

Takashi berhasil masuk lebih dalam lagi dia berhasil melewati beberapa orang yang berjalan dan berkeliling yang bisa dipastikan para penjaga dan kini dia berada di sebuah depan pintu yang dia yakini sebagai ruangan dimana Saya disekap dan ketika dia membuka pintu dan mendengar suara agak gaduh

"Hei! Apa yang kau lakukan singkirkan tanganmu itu ahhhhh!"

"Hmmm bocah kecil tak perlu menolak aku yakin kau menyukai ini!"

"Benar! Jadilah Gadis baik dan diam saja sembari kami memberi kenikmatan ini!"

"Ahhhhh! Singkirkan tangan bejatmu itu! Dan aku gak sudi!"

Takashi tau itu suara Gadis berambut Pink yang saat ini tengah dicarinya tapi, terdengar tak mengenakan begitu dia membuka pintu secara perlahan sebuah pemandangan Horror terlihat jelas sekali di matanya.

"Saya!" Teriak Takashi shock dan horror karena Kondisi Gadis itu benar-benar kurang baik.

Saya tertidur terlentang di tanah, denga kondisi kedua tangan dan Kaki di tahan oleh beberapa orang, dan tentu saja Gadis itu tak sendiri dia di kelilingi Pria berbadan agak kekar tapi, bukan itu yang membuatnya shock karena Gadis itu sudah setengah Bugil yang hanya menyisakan Celana dalam saja, Takashi tau hal seperti ini benar-benar membuatnya marah yang tak terkontrol.

"Ta-Takashi!" Teriak Saya berlinang air mata, dia sebenarnya sudah pasrah tak tau harus bagaimana lagi dan tak punya harapan tapi, tampaknya Tuhan masih mengabulkan Permohonan kecilnya "ka-kau Da-datang!" Dia berlinang air mata senang.

"Maafkan aku ini semua salahku yang teledor" Ucap Takashi menghela nafas panjang "kau tunggu disitu dan duduk manis biar aku atas mereka sendiri"

Orang-orang itu mulai melepaskan Saya dan mata mereka kini tertuju pada Takashi dengan wajah marah juga.

"Apa kau idiot! Melawan mereka sendiri!" Saya langsung Protes mendengar Pernyataan yang gak masuk akal dari Takashi "kau tau! Mereka banyak dan kau sendiri! Mustahil kau melawan mereka semuanya dasar idiot!"

"Demi teman hal seperti itu bukan masalah" Balas Takashi mengabaikan Protes Gadis itu "dan juga apa kau mau tubuhmu itu diperlakukan semua orang disini" dia menyeringai jahil menunjukan tubuh Gadis berambut Pink ini yang setengah bugil.

"Tentu saja tidak!" Teriak Saya blushing menutup tubuhnya.

"Maaf Saya kita akhiri dulu pembicaraan kita" Ucap Takashi melihat Orang-orang itu yang berjalan ke arahnya dengan tangan mengepal "sebab sekarang aku akan disibukkan dengan mereka"

"Hei lihat dia mencoba sendirian melawan kita sendirian!"

"Padahal dia masih bocah berani melawan Orang tua"

"Ahhh padahal aku baru saja mulai bersenang-senang"

"Itu urusan nanti sebaiknya kita urus bocah yang satu ini baru kita akan senang-senang sepuas kita"

"Hehehehe setuju"

"Hal seperti itu takkan pernah terjadi" Ucap Takashi.

.

.

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxxxxx

.

.

"Telponnya aktif tapi, tak diangkat ada apa yah?"

Saeko Busujima dia sekarang berada di rumahnya mengenakan Kimono Ungu, sudah lima kali dia menelpon Takashi tapi, tak ada jawaban sama sekali meski nyambung tapi, dia sedikit khawatir juga tentang lelaki itu.

Cukup aneh baginya seperti ini biasanya dia cuek saja jangankan Khawatir, Tertarik dengan lelaki pun tak pernah tapi entah kenapa pertemuannya dengan Komuro sedikit merubah pandangannya terhadap lelaki yah tidak lagi secuek dulu tapi, sebuah sirine mobil polisi menganggu lamunannya.

"Huh, apa itu?" Saeko tampak sedikit curiga dengan banyaknya mobil Polisi yang bergerak ke arah Utara dimana Pelabuhan pengangkutan barang ada disana tapi, dia memilih masa bodo saja

Daripada menunggu lama lebih lama dia lebih baik mengirimi pesan, mungkin saja besok Takashi membaca surat yang dikirimkan kepadanya dan memilih tidur untuk sekolah besok.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

Dan sekarang aku buat chapter ini dan jika memang tak sempat mungkin aku akan Hiatus selama liburan yahhh! Gimana kedepannya nanti ajah dah.

Pm

.

RnR