Ini memang perasaan saya atau apa—fanpage FKI tambah sepi nih…dan genre Comedy di fandom ini gak serame dulu. Jadi, ayo semangat bikin fandom ini tambah rame!~ =w=)/
Warning: AU. typos (maybe?), genre campur sari, historical-drama-fiction (?), oc's for Sebastian Parents, istilah meme atau 9gag bertebaran, out of character, bahasa tak baku , humor inside. Plus Otaku and Chuunibyou inside.
Summary: Ini adalah kisah, dimana seorang Pangeran mencari seseorang yang pantas menjadi pasangan takdirnya. Setelah diberi informasi lagenda oleh gadis pengemis bernama Reindang beberapa menit yang lalu, Claude dan Sebastian berusaha kembali ke apartemen sebelum jam lima sore. Apakah yang mengejar mereka adalah sosok 'Lady of Red '?
NB: Saya gak promosi lho~ gak disensor bukan berarti ane promosi. Karena sensor dapat menimbulkan kurangnya humor, menurut saya sih :D (terserah pendapat anda :D). Mungkin aja yang gak tau yang dimaksudkan karena sensor yang mengganggu. Palingan nama Negara yang diplesetin hehe.
Pada suatu lagenda yang terkenal di negeri Englandriaf, terdapat gua ajaib yang dihuni oleh para peri. Tapi bukan sembarang peri. Disebut begitu karena para peri penghuni gua ajaib ini sangatlah kuat sihirnya. Salah satu peri yang paling terkenal adala—hah? Bosan karena pembukaannya gini terus? Anime Persona 4 aja dari episode satu sampe habis aja pembukaannya gitu-gitu mulu tapi banyak yang suka, adaw! Woi, jangan lemparin elpiji disini woi! NTAR MELEDAK WOI!
.
.
Pangeran Raven dan Putri Tsundere © Rainbow Walker Castle
Kuroshitsuji © Yana Toboso
.
.
.
That Story, Meet Up.
.
Pada pagi hari itu…sebelum yaoi menyerang (baca: disukai) sebagian kaum hawa, mereka hidup dengan damai sentausa di alam Mayonaka TV. Oh, tenang saja para pembaca. Para tokoh didalam cerita ini beserta author dan kru tidak akan berseru 'Persona!' secara serentak disini. Tentu saja kita tidak nyasar fandom sebelah. Tuh lihat, kita masih di fandom Kuroshitsuji kan? Nah, sebelum saya makin membacot anime lain, mari kita mulai ceritanya. Lupakan saja paragraph pembuka ini. Hehe..
.
"W-Whoaa!" seru mereka berdua. Tangan mereka berdua tiba-tiba ditarik oleh seseorang dari lorong gang yang gelap dan sempit. Dibahu jalan lorong itu terdapat banyak tumpukkan kotak kardus dan tong-tong yang entah apa isinya. Tergeletak tak beraturan begitu saja disana. Sampah-sampah bungkus makanan ringan juga meramaikan alias menambah kotor tempat itu.
Untuk kasus ini, jangan salahkan author. Bukan dia yang membuang bungkus cemilannya disini.
"Sssttt!" ucap si penarik lalu mengajak Sebastian dan Claude bersembunyi diantara tumpukkan kotak kardus. Bunyi mesin yang misterius mengejar-ngejar mereka sekarang sudah menjauh walau suaranya masih tetap terdengar membuat bulu kuduk merinding!
"Kita selamat…tapi tetap waspada" ucapnya lagi—si penarik—membuka kerudung mantel gelapnya, menunjukkan wajahnya. Suaranya yang tak asing ini…tak salah lagi!
"Julia Perez?!" teriak Sebastian dan Claude kompak. Si penarik oh, yang ternyata Reindang hanya menabok mukanya alias facepalm. Pertigaan merah berkedut-kedut didahinya.
"Ini aku! Reindang! Bukan Julia Perez, om!" sahutnya pelan takut ketahuan oleh Lady of Red. Kedua tangannya ia kepal erat akibat menahan nafsu untuk nabok om-om yang baru ditolongnya. Enak aja disangka Julia Perez. Untung bukan dikira Syahrini. Kan sesuatu banget gitchu…
Hoek. Udahan ah jijaynya. Mari kita langsung ke inti cerita.
Reindang memberanikan diri untuk memeriksa sekitar jalan raya dari luar lorong. Sepi. Angin malam berhembus pelan—membuat suasana tambah sepi. Padahal kalau dicek, ini masih menunjukkan jam 6 sore, tapi langit sudah membuka tirai hitam tanda malam tiba.
Ia pun segera kembali ke tempat persembunyian lalu setengah berbisik, "Kita aman sekarang tapi untuk jaga-jaga, pakailah ini" Reindang memberikan bungkus plastik hitam yang ternyata…
Jreng jreng jreng….saat bungkusan hitam dibuka serentak, membuat mata mereka melotot tak percaya.
"Dress?!" pekik mereka, kompak kayak anak kembar sembari sama-sama memegang gaun-gaun remaja perempuan penuh renda sederhana dengan ujung jari, menunjukkan ekspresi tidak suka. Wajah mereka pun terpasang emot Excalibur plz. Reinbi langsung emot pervert plz.
"Kau kira kami waria?!" kata sang Raven dengan nada seolah-olah nenekmu akan melahirkan seekor jerapah walau itu tidak akan mungkin terjadi. Hii..amit-amit jabang bayi dah. Mata Sebastian melotot ngeri. Wajah Claude seakan-akan berkata 'are you fuck*ng kidding me?!'.
Reindang menggoyangkan jari telunjuknya dan mendecak lidah, "Ckckckck…Om gimana sih? Yang bilang kalau om berdua itu waria, siapa coba? Kalian hanya perlu menyamar kok!". Mereka berdua pun saling berpandangan. Reindang hanya memandangi mereka dengan tersenyum kucing-kucing (yang emotnya kayak =w= ). Dalam hati ia sudah kegirangan, karena dapat kesempatan untuk melihat crossdressing dari dua om-om yang cakep-cakep tapi cantik (?).
Edan nih bocah masih kecil otaknya udah mesum stadium tiga. Gimana kalau sudah dewasa nanti? Mungkin saja kelak di masa depan ia akan membuat anime yaoi hardcore illegal sampai membuat seri live actionnya. Ngg…ini hanya prediksi lho. Pembaca jangan kege'eran ya~ PLAK PLAK! (#kena tabok para pembaca)
Nah, lanjut ke cerita awal dan langsung saja walau dalam hati author udah cakep eh, capek ngetik—Sebastian dan Claude pun sudah berganti pakaian mereka yang terlihat manly, sekarang pun berganti menjadi lebih feminim.
Sebastian dan Claude memakai gaun sepanjang batas 10 cm dari mata kaki, pita di tengah dada dan dalaman rok berenda putih. Warna biru untuk Sebastian dan warna hijau untuk Claude. Mereka berdua sama-sama memakai mantel tudung hijau kehitaman yang panjangnya sama seperti gaun mereka.
Hasilnya kayak ondel-ondel kembar gitu deh. Silahkan dibayangkan, tapi jika terjadi iritasi mata dan kerusakan otak, segeralah memanggil dokter terdekat.
Reindang agak menyesal tidak membawa wig cosplay miliknya. Kalau saja ia bawa, crossdressing dadakan ini bakal seratus persen persen sempurna! Arrrghhh...ia pun mengacak-acak rambutnya dengan gaya komikal saking kesalnya. Sebastian dan Claude hanya ber-sweatdrop ria melihatnya.
"Umm..boleh aku bertanya?" tanya Claude, Reindang mengangguk antusias—setengah ngiler lihat Claude dengan dress manis. "Kenapa kita harus menyamar seperti…INI?" lanjutnya sambil menekan kata 'INI' di depan wajah Reindang. Yang ditanya hanya tersenyum lemas layaknya abis makan scone keramat punya England.
Ia pun tertawa jayus. "Ha..ha..aha..haha..santailah sedikit bung. Bukannya sudah kubilang Lady of Red hanya tertarik pada cowok-cowok yang ganteng? Dari kabarnya, ia tak pernah menyerang perempuan. Lagipula Lady of Red tidak akan pernah muncul di depan perempuan secara terang-terangan."
Claude dan Sebastian hanya ber-oh ria tanpa memperhatikan senyum licik Reindang. Tak lupa sebuah kamera ditangannya.
Reindang melirik-lirik sekitar jalan raya. Aman. "Yosh. Ayo kita berangkat."
Mereka bertiga pun berjalan menyusuri jalan raya yang amat sepi. Pokoknya hampir beda jauh pas hari masih terang. Dan saya (author) harap para pembaca sekalian tak bosan baca kalimat ini terus! Muahahahaha… oke, kembali ke fic.
Reindang membuka tudung mantelnya lalu menunjuk sebuah gedung apertemen yang tinggi dan tampak klasik didepannya, "Ini tempat tinggal om 'kan?". Sebastian dan Claude menggangguk ragu.
"Darimana kau tahu kami tinggal (sementara) disana?" tanya Claude was-was, curiga Reindang adalah seorang penguntit atau Fujoshi tadi siang.
Yang ditanya hanya tersenyum ala Gintoki, "Insting. Muehehehe". Sebastian dan Claude saling pandang beserta sweatdrop yang menghiasi kepala mereka ala komik-komik Jepang. Tanpa disuruh-suruh mereka pun segera masuk ke pintu belakang apartemen.
Nasib kurang beruntung buat Sebastian. Ia sempat kepleset becekan dan refleks teriak, "Asu! Becekan sialan!"
GRRUUUNNNNGGGGGG
"LADY OF REEEDDDD!" histeris mereka bertiga, langsung masuk dan mengunci pintu belakang.
"Kampretos. Kalo teriak nyante aja woy!" gerutu Reindang ngos-ngosan. Claude yang disebelahnya yang biasanya bermuka datar itu kini shock cetar-cetar ala komik. Sebastian watados.
Setelah lari-lari kayak abis maling ayam, mereka bertiga nyampe dengan selamat sentosa lewat pintu belakang. Kenapa lewat pintu belakang? Tanyakanlah kepada om-om ganteng dengan gaun unyu-nya. D'aaaawwwww~~!
"Nah, kalau begitu aku pulang dulu. Met malam ya om~" pamit Reindang lalu memakai kerudungnya kembali dan segera keluar sebelum Lady of Red datang tiba-tiba seperti tadi tetapi genggaman tangan kekar itu menahan kepergian (ha?) Reindang—yang tak lain adalah si pemuda (yang kebetulan hampir mirip) Quincy dari anime sebelah, Claude Faustus.
"Hati-hati di jalan, Reindang." Ucapnya dramatis.
Reindang hanya membalas dengan senyum tipis. Dengan dramatis tentunya, "Baik, aku akan berhati-hati. Aku harap om Claude tidak lupa janji kita"
Senyum terukir dari wajah tembok sang iblis, "Ya. Aku janji" . Lalu diakhiri dengan hujan kelopak berbagai warna dan sparkles lebay entah dari mana turut menyertai kepergian Reindang, oh mon ami.
Sebastian—yang tak lain hanya jadi penonton sukses melancarkan poker face dengan sempurna. Wait, mereka janji apa tadi?!
"Oh, Claude…sepertinya kita salah fandom deh. Terus adeganmu dengan Reindang itu dangdut banget, sumpah" ujar Sebastian sambil memperhatikan kelopak-kelopak mawar yang masih tersemat diantara rambut dan ketombe Claude.
"Fandom apaan, Master?"
"Ah, lupakan. Aku hanya mau bilang kalau kita nggak nyasar di Ouran High School." Cerocosnya ngasal.
Claude sweatdrop tapi akhirnya mereka berdua ke flat buat melepas penat. Tentu saja karena seharian mereka tidak menemukan mangsa—eh, maksudnya 'seseorang' yang pantas jadi menantu nya Bapake Blaire dan Emake Tatiana. Tapi yang terjadi malah dikejar-kejar makhluk yang gak jelas rupanya seperti Lady of Red.
Akhirnya mereka tidur di ranjang masing-masing dan menjelajah ala Jejak Petualang (?) di dunia mimpi.
.
.
Ah, aku sudah bilang jika mereka tidur di ranjang MASING-MASING 'kan? Jadi matikan saja handycam yang sudah menyala itu, oh para pecinta Be-El.
.
.
Kebetulan saya punya rekaman video Be-El yang lain—DUAAGHH! *author dibungkam oleh narrator setempat*
.
.
Malam itu begitu cepat tergusur karena Matahari pengen cepat-cepat terbit. Jadilah pagi yang sangat cerah, tentram dan damai sentosa di (sekali lagi ini Desa, bukan Kota) Desa Londania. Penduduknya yang ramah dan rajin menabung di tabungan uhuksimpenanuhuk mulai bekerja dengan giat.
Di apartemen yang damai dan bahagia ini, dua insan manusia bergender sama ini masih bergelut dibalik selimutnya. Ingat, mereka beda ranjang ya~
Tidur panjang mereka yang konon bisa dibangunkan oleh satu ciuman maut dari truk tronton dan mati saat itu juga. Hahaha, bercanda. Tentu saja itu tidak benar sampai…—
ABANG TUKANG BAKSO! MARI-MARI SINI! AKU MAU BELIIIII~!
—ya, lagu anak-anak zaman dulu dari Negeri Indonezria yang sudah disetting jadi alarm khusus iblis kece (ya, ini benar-benar ada label bertuliskan ini di jam wekernya) milik Claude mengaum nyaring ke segala penjuru.
Sebastian terlonjak kaget dari tidurnya. Bahkan sampai ke telinga tetangga. Jika kalian mempunyai kemampuan super kayak Claude yang bisa mendengarkan suara sekecil apapun, pasti kalian sudah mendengar teriakan umpatan dan sumpah serapah beraksen British dan Melayu Indonesia dari lantai 10. Yah, bisa ditebak seperti apa kalimat yang diteriakkan.
Claude yang tanpa dosa apa-apa walaupun dia ini adalah iblis (yang katanya masih muda)—beranjak dari tempat tidurnya lalu mandi. Habis mandi ia gosok gigi. Tak lupa membereskan tempat tidurnya untuk membantu ibu. Eh, ini mah lirik lagu pas masih bocah, atuh!
Pangeran Emo sekaligus Masternya itu masih belum bangun juga, pikirnya. Claude berniat untuk membangunkanya sebelum status Pangeran berubah menjadi Putri Snow White, tapi niatnya buyar ketika melihat Master nya sudah bangun dan melewati dapur.
Pangeran Emo ini grusak-grusuk didepan kulkas. Ehm. Maksudnya bongkar-bongkar isi kulkas. Claude sweatdrop melihat tingkah laku Sebastian sudah menenteng dua wortel di tangannya.
"Jika Master ingin membuat sarapan hari ini, sebaiknya serahkan saja kepadaku. Soalnya ini tugasku...walau sedikit paksaan dari naskah sih.." kata Claude penuh kontroversi jiwa. Sebastian hanya mendengus pelan dan tertawa.
"HAHAHAHAHA! Siapa bilang ane mau buat sarapan? Ane mau nyanyi lagu Vocaloid – LOL versi Megpoid Gumi!" jawabnya sarkatis lalu dilanjutkan dengan ancang-ancang nyanyi.
"Ha—"
"SUDAH, MASTER! PELISH STHAP!"
Yak, hari ini Claude Faustus berjanji dalam hatinya. Ia janji akan mengunci pintu kulkas dengan gembok gede. Modifikasi kulkasnya kayak kulkasnya di kapal Thousand Sunny (1) sekalian, biar bahan makanan tidak dinistai Master ala anggota Vocaloid tiap pagi hari.
.
.
"Sudahlah, Master. Sebaiknya kita utamakan dulu tujuan pertama kita" ucap Claude penuh bijaksana alih-alih mesum. Ia jengah dengan sikap Pangeran yang doyan karaokean dengan bahan makanan. Kata ibunya, makanan itu bukan mainan. Oh, kau benar-benar anak iblis yang penurut, jidat.
Sebastian mengerucutkan bibirnya lima senti—tanda ngambek ala anak cewek. Tentu ia kesal karena acaranya (karaokean ala Vocaloid, maksudnya) diganggu oleh iblis yang memiliki jidat supernya. Melihat itu, Claude menghela nafas pelan.
"Dewasalah sedikit, Master. Ntar gak moe lagi lho"
"Anjir lu! Ente kira ane shota, ngehe?!" umpatnya. Kedua tangannya dimasukkan ke kantong jaket, kakinya dihentak-hentakkan setiap ia melangkah—sedikit berharap ada getaran gempa, sekedar menambah efek dramatis yang ada.
Claude tetap mengikutinya dari belakang layaknya babu iblis dari fandom yang sama. Bedanya, majikannya lebih tinggi—dianggap normal untuk manusia seumurannya. Uhuk!
Tujuan mereka masih sama, mencari sang perawan! Eh, maksudnya, pasangan hidup-matinya Pangeran Emo—Sebastian Michaelis.
Karena kemarin hanya sampai taman dan kolam air mancur, mereka berniat menggaet seseorang di sekitar sungai besar. Bukan di sungai Musi ataupun Kapuas. Anggap saja nama sungai ini…hmm…yah, namanya sungai. (Pembaca: *gubrak!*)
Setibanya disana sudah banyak orang datang. Maklum sudah jam sebelas lewat lima menit. Ada yang mancing, potret narsis, parkour diatas sungai, naik gondola, piknik, bahkan berenang ria seperti yang dilakukan oleh kelima pemuda yang tak diketahui namanya. Wah, kelihatannya asyik sekali.
Sebastian mulai mencari cewek-cewek yang seger, manis, dan siap disantap saat berbuka nanti. Eh, lo kira takjil, mas?
Cewek-cewek yang hadir disini beragam. Baik dari casing dan isinya. Ada manis sampai sangar. Ada yang Tsundere sampai Yandere, Kuudere sampai Deredere. Yah, banyak. Ada juga tipe-tipe ibu kantin yang aduhai (makanannya). Bahkan yang bergender Trap pun juga banyak. Sebastian sampai bingung mau memulai dari mana.
Meninggalkan Sebastian yang kebingungan, Claude mengawasi yang lain. Banyak anak-anak yang juga bermain di sekitar sungai. Ada yang petak umpet, kejar-kejaran ala drama India, ngelemparin temannya ke sungai dan masih banyak yang lain. Claude terkikik pelan melihat tingkah laku anak-anak yang begitu polos. Ah, ternyata dia melupakan beberapa anak yang tercebur di sungai karena ulah temannya sendiri.
Setelah puas melihat-lihat, ia beralih ke Masternya. Ah, belum juga ternyata. Padahal dari kejauhan sudah banyak cewek dan cowok yang sudah terpesona (muka emo) sang Pangeran. Ia juga sadar kalau yang diperhatikan bukan hanya Masternya, melainkan dirinya sendiri juga!
"Eh, Claude! Lihat tuh! Ituuu!" bisik Sebastian, ia menunjuk kearah seseorang. Claude mengerenyit. "Lalu?"
"Cewek itu manis ya? Emang sih mukanya ketutupan topi…tapi manis banget!" katanya sedikit fanboying. Dengan kekuatan mata iblisnya, Claude menatap cewek yang ditunjuk-tunjuk sedari tadi oleh Sebastian.
Memang, sih. Perempuan itu berperawakan manis walau sebagian wajahnya tertutup topi lebarnya. Rambutnya yang campuran gradasi biru kelabu itu terikat dua alias twintail. Kulitnya putih seperti baru dilumuri sunblock lima botol saking putihnya.
Cewek itu sedang berbicara dengan seorang cowok. Sama seperti si cewek, si cowok juga tertutup wajahnya—ah, sampai kepalanya juga. Salahkan ranting-ranting dan daun yang menghalangi tapi Sebastian tidak peduli.
Ia pun berkata, "Ayo bantu aku gebet tuh cewek!"
Ia hanya merespon singkat lalu berlari dan mengekor di belakang Sebastian. Sayangnya si cewek berada di seberang sungai dan sudah mau meninggalkan tempatnya bersama cowok itu. Tak mau ketinggalan, Sebastian dan Claude berlari menyebrang lewat jembatan yang lumayan jauh dari tempat mereka tadi.
Tapi langkah Sebastian terhenti ketika ia berpapasan dengan pemuda bersurai hitam dan bermata merah ruby seperti miliknya. Nafasnya hampir terhenti, pupilnya mengecil—tak percaya. Dengan tergagap-gagap, Sebastian berkata setengah teriak.
.
.
"K—Ka—Kakak?!"
.
.
That Story, Meet Up. [END]
.
.
.
Omake?
Pagi itu sangat cerah. Para ibu-ibu yang habis mencuci langsung menjemur pakaiannya mumpung cuaca masih cerah.
Kebetulan, ibu-ibu yang ternyata tetanggaan ini bertemu saat menjemur beberapa potong pakaian dibalkon apartemen tak melewatkan satu acara yang paling ditunggu oleh para ibu.
Ngegosip.
Yep, ritual (?) harian yang tak boleh dilewatkan oleh para ibu mumpung punya berita yang masih panas. Kata mereka, kalau dipendam ntar jadi berita basi. Kalau sudah basi, ya tinggal dipanasin lagi aja pake microwave, kata seorang teman author dengan kaconya.
Menu gossip hari ini seputar anak mereka di sekolah. Kata ibu A, akhir-akhir ini mengeluhkan anak perempuannya yang dari hari ke hari terus murung bahkan di history Mogilla-nya, situs yang paling banyak dikunjungi adalah 'Ciri-ciri Mojyo (2)'. Ibu A ini sedikit khawatir ketika pernah menemukan anaknya sudah dipenuhi bercak merah bulat—hasil perbuatannya sendiri dengan vacuum cleaner. Entah itu perbuatan bunuh diri atau enggak, Author tak mau tahu.
Lain dengan curhatan ibu B, ia mengeluh anak laki-lakinya yang merupakan anak tunggal belum memiliki pacar atau sekedar gebetan. Mending kalau cewek yang ia suka adalah seorang manusia perempuan utuh. Lah ini? Dua dimensi? Apa pula istilah itu. Ibu B juga pernah ngejampi-jampi anaknya sendiri agar berdiri dijalan yang benar—mencintai perempuan 3D alias manusia nyata. Tapi tak mempan karena anaknya berkata dengan lantang, "Cinta tak dapat diubah walaupun kami berbeda dimensi!". Lalu ibu B menyerah dan membiarkan anaknya bermain gal-game nya dengan khusyuk. Selesai bercerita, ibu B meratap pilu nasib anaknya kelak.
"Eh, bai de wei ngomongin anak-anak, jeung tau tetangga baru ini gak? Katanya mereka pengelana lho. Duh, pasti keker-keker nih badannya" ibu A membeo.
"Iya sih, udah tau! Jeng A salah atuh, mereka kan cewek semua"
"Hah? Masa' sih? Kemarin aku lihat sendiri lho tetangga baru kita ini. Cakep-cakep dan masih seger lho, jeng!" katanya penuh modus brondongan.
Jemuran di keranjang ibu B sudah kosong. Ia menepuk-nepukkan tangannya. "Kemarin malam aku lihat mereka, tepat saat mau masuk flat. Muka mereka cantik-cantik tuh!"
"Halaah…pasti jeung salah lihat. Tetangga baru kita bulan ini saja baru mereka berdua—cowok-cowok pengelana. Pasti jeung B lihat si kembar itu. Kebetulan, flat mereka berdekatan kan?"
"Tapi mereka 'kan sudah mudik ke kampungnya tiga hari yang lalu."
Belum saja ibu A ngerocos lagi, suara seorang ibu-ibu yang agak lebih tua menyapa mereka berdua, "WOI YANG PUNYA GOSIP BARU~ GAK BAGI-BAGI NIH YA!" teriaknya dari balkon—dekat dengan balkon si ibu A.
Ibu B yang agak jauh tempatnya hanya melempar senyum lebar dan lambaian tangan dengan tangan kiri biar fells like miss universe.
Menurut kabar, ibu C juga punya cerita (baca: gossip) yang tak kalah hebohnya (?) dengan ibu A dan B. Kata ibu C, sejak anaknya mendapat guru privat gratis, ia selalu menemukan kamar anaknya menjadi super berantakan bin hancur lebur seperti diledakkan oleh mercon raksasa. Menurut kabar yang beredar, putra tunggal ibu C sudah menjadi penerus bos mafia di Negeri Italizeano. (3)
"Eeeeh, ada jeung C! sini, sini… jeung udah tau tetangga baru kita kan?" tanya ibu A. yang ditanya mengangguk penuh antusias.
"Oh, dua cowok brondong itu ya? Memangnya kenapa? Jeng-jeng sekalian mau brondongan ya?" goda ibu C dengan tangan menggenggam baskom jemuran.
Lantas mendengar itu, ibu A menoleh ke arah ibu B. Dari matanya jelas ada kilat aneh…seperti sudah karnivora menemukan persembunyian doujinshi berated langka (?). "Tuh 'kan! Apa yang sudah kubilang! Jeung B pasti salah lihat!"
Ibu B terdiam ditempat lalu merenung. "Jadi yang kulihat kemarin malam itu….siapa dong?!"
.
.
Sementara itu, Sebastian dan Claude berjalan menuju sungai di desa Londania dengan santainya.
"Eh, Claude…." Yang merasa terpanggil pun menoleh. "Kemarin malam pas kita pulang, kamu lihat orang di lorong apartemen gak?"
"Kelihatannya sih…ibu-ibu deh. Soalnya pake daster batik" lanjut Sebastian. Claude yang merasa lupa pun berpikir—mengingat-ingat memori kemarin malam.
"Ah, saya nggak tau, Master. Memangnya kenapa?"
"HUACHIM! A-ah, gak apa-apa. Nanya doang, mungkin kamu tau gitu." Lalu mereka melanjutkan perjalanan kembali menuju sungai yang author belum beri namanya karena alasan otaknya lagi mager.
[END]
Keterangan: (1) Thousand Sunny:
(2) Mojyo: Cewek yang tidak terkenal/unpopuler. Yang tau anime Watamote pasti tau deh :3 (3) Negri Italizeano:
(4) Khusus untuk bagian omake. Jika kalian sadar, ibu-ibu ini saya adaptasi dari berbagai anime/manga. Ada yang sadar dan mengetahuinya, da? ufu~!
Dibalik Layar 'Pangeran Raven dan Putri Tsundere':
Hiks! Akhirnya update juga! Walau agak pendek dan kurang memuaskan para pembaca. Huwaa, maafin ane ya…sini tak cium satu-satu! *duagh!*
Duh, maklum baru pertama kali ngecicipin tugasnya ehem rok abu-abu. Tugasnya lebih bejibun dibanding tugas rok biru dulu. Udah semakin Sparta, pelajaran Sparta, guru Sparta, tugas Sparta, masalah Sparta, SPARTA EVERWHEREEEEEEE, minna-tachi! FFFFUUUUU—padahal rencananya chap. 4 ini maunya bahas si Ledi Merah. Moga di chap. 5 juga masih sempet T_T
Btw, ada yang bisa nebak alur cerita ini? Saya sendiri gak bisa nebak lho ahahahaha xD. RnR ya~!
Lalu….
Apakah sosok yang dikejar benar-benarlah seorang perempuan?
Mengapa 'kakak' Sebastian berada di Desa Londania? Apa tujuannya?
Siapakah sosok 'Lady of Red' selama ini?
Penasaran?
.
Bersabarlah karena saya adalah salah satu author yang paling lama update :p
.
Rainbow 'Walker' Castle
