Type-B Info Box :
'Sapphire' [; safir] berarti perasaan yang mendalam, konsentrasi yang bagus, loyal, cerdas, perasa, tenang, bijaksana, dan tidak mudah tersinggung.
.
CHAPTER 3
.
Seorang shapeshifter wolf paruh baya mendatangi kamar Chanyeol seperti yang biasa ia lakukan ketika bulan purnama menyapa. Saat ia melangkah mendekat pada ranjang Chanyeol, Jongin dengan siaga berdiri dan membungkuk sopan padanya.
Bibirnya mengulas senyum kebapakan sebelum akhirnya pandangannya jatuh pada remaja bersurai ashgrey yang terpejam dengan dada yang naik turun secara teratur. Meskipun ekspresi paruh baya itu terlihat biasa saja, namun iris matanya jelas menunjukkan kesedihan yang mendalam.
"Bagaimana keadaannya?"
"Chanyeol baik-baik saja, Tuan." Kepala pria paruh baya itu mengangguk perlahan, duduk di pinggir ranjang sang anak sementara tangan besarnya terulur untuk mengusap surai ashgrey Chanyeol.
Wajah di depannya terlihat lebih dewasa dibandingkan beberapa waktu yang lalu. Pertumbuhannya yang cepat melebihi anak-anak seusianya jelas membuat kekhawatiran mampir dalam benaknya. Takut kalau-kalau perubahan itu tidak berhenti dan membuat Chanyeol meninggalkannya dengan cepat. Ia tak mau itu terjadi. Sudah cukup ayah dan istrinya saja yang diambil, tidak anaknya juga.
"Andaikan ibumu masih ada... pasti akan ada seseorang yang memperhatikanmu, Chanyeol." Jongin menatap pimpinan shapeshifter itu dengan sendu. Park Jungsoo yang terlihat begitu berwibawa diluar, akan menjadi sangat rapuh jika berurusan dengan keluarganya. Terlebih anak bungsunya. Chanyeol masih lima belas, ia bahkan belum bisa menjaga dirinya sendiri. "Apa ada perkembangan lain?"
"Tidak, Tuan. Hanya saja—"
"Kenapa?" Pandangan Jungsoo beralih padanya. Kedua alis tebalnya berkerut heran pada sikap Jongin. Pria berkulit tan itu tampak resah dan bingung.
"Chanyeol... tiba-tiba ingin menyerang saya."
"Menyerang?"
"Sepertinya dia tertarik pada bau darah milik saya. Tetapi, ketika saya berubah wujud dia tiba-tiba kehilangan minat dan akhirnya meneguk darahnya." Penjelasan Jongin semakin membuat ekspresi Jungsoo menyendu.
Loneshifter terdahulu, ayahnya, meninggal tanpa banyak memberitahu apa yang harus dilakukan. Ia hanya diberitahu untuk tetap mengurung vampire itu sampai Chanyeol menemukan mate-nya, kemudian menghukum mati inangnya. Tetapi ketika Jungsoo melihat sendiri keadaan vampire itu, ia tidak tega.
Bagaimana pun ia memiliki sisi manusia dan rasa iba di dalam hatinya. Jungsoo telah mencoba mencari-cari di dalam sejarah kelam mereka, namun tak menemukan jawabannya. Anaknya sejatinya adalah seorang shapeshifter, tidak mungkin dia memiliki takdir bersama seorang vampire. Semua tidak masuk akal.
"Tidak ada cara lain kecuali bekerja sama dengan para vampire." gumamnya lirih, namun cukup terdengar oleh pendengaran Jongin. Jongin hendak membuka mulut untuk bertanya sebelum Loneshifter itu kembali berucap, "Panggilkan Jongdae. Aku akan mengirimnya untuk menemui para vampire."
"Baik, Tuan."
.
.
Setelah membantu Chanyeol, Jongin diperbolehkan istirahat sejenak dan harus bangun saat fajar untuk menemui Jongdae. Disela-sela waktu berbaringnya, Jongin teringat sosok bermata safir yang memiliki senyuman seindah bunga matahari.
Sudah sebelas tahun berlalu dan sosok itu masihlah sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Dia bukanlah vampire yang terkenal sebagai seorang pembunuh dan berdarah dingin. Baekhyun memiliki sisi kebaikan yang nyaris menyamai manusia biasa. Bahkan dia bersedia menerima hukumannya meskipun terasa sangat tidak adil baginya.
Baekhyun tidak sengaja melakukannya.
Menandai Chanyeol dan membuatnya menjadi seperti sekarang.
Jongin membuktikannya sendiri ketika tahun pertama Baekhyun berada di sel. Bulan purnama masuk melalui celah lubang pada penjara Baekhyun dan iris sebiru laut itu berubah seketika. Menampakkan sosok baru yang lebih agresif dan cenderung kasar.
Baekhyun menyerangnya –karena dia memang dalam jarak yang mampu diraih Baekhyun, sebelum akhirnya Jongin memanggil-manggil Baekhyun seperti orang kesetanan. Kesadaran Baekhyun kembali tepat pada saat kedua taringnya nyaris melubangi leher Jongin.
Setelah kejadian itu, pemberian hukuman cambuk mulai berlaku.
Baekhyun akan diberikan satu kali hukuman cambuk api setiap malam bulan purnama.
Ketika Jongin memintanya untuk sedikit memohon kelonggaran pada ketua mereka, Baekhyun hanya tersenyum dan berkata jika dia pantas mendapatkan hukumannya. Jongin tak habis pikir, bagaimana seseorang bisa menjadi sebegitu pasrahnya tanpa ada niatan untuk membela diri. Enam tahun penderitaan Baekhyun sudah cukup membuatnya merasa begitu tidak berguna.
Di satu sisi dia adalah pelayan Chanyeol dan klan shapeshifter, namun disisi lain, dia adalah teman Baekhyun. Tak ada yang bisa ia lakukan karena ia tak memiliki kuasa apapun.
Namun di tahun ke tujuh, Loneshifter meninggal dunia. Kedudukannya di ambil oleh anaknya, ayah Chanyeol, Park Jungsoo. Jongin bersyukur, Jungsoo bukanlah orang yang berhati dingin yang tega menyiksa Baekhyun lebih lama lagi. Pria paruh baya itu menghapuskan hukuman cambuk, memberi makan Baekhyun, dan mengijinkannya untuk membersihkan diri –asal ditemani Jongin.
Seluruh tindakan itu memang menimbulkan pro dan kontra, namun Jungsoo kukuh pada keputusannya untuk melonggarkan hukuman Baekhyun selama menjadi tahanan mereka. Jongin salut pada ketegasan dan kebijaksanaan yang dimiliki Loneshifternya yang baru. Setidaknya, Baekhyun bisa hidup lebih baik selama lima tahun ini.
Ada satu kalimat Baekhyun yang Jongin pegang teguh hingga sekarang. Sesuatu yang sangat-sangat penting dan memerlukan kehati-hatian.
"Jongin, jangan sampai Chanyeol mengetahui hal ini apalagi bertemu denganku..."
Itulah janjinya selama sebelas tahun ini. Dan harus ia pegang teguh sampai hukuman mati Baekhyun terlaksana.
.
.
Iris abu cerah milik Chanyeol terbuka. Kepalanya terasa pening namun rasa hausnya sudah teratasi. Ketika kepalanya menoleh kearah jendela, bening pada kaca masih menunjukkan hari yang gelap. Hanya terlihat cahaya bulan purnama yang telah tertutupi awan. Mungkin sekitar jam dua atau tiga pagi. Terlalu malas untuk melihat jam di dinding kamarnya.
Ruang ini sudah sangat gelap karena lampu yang telah dimatikan, ia pasti pingsan setidaknya dalam empat-lima jam setelah kejadian tadi.
"Ssshh!" Jemari besarnya memijit-mijit pelipisnya perlahan sementara ia mencoba untuk bangkit dari posisi berbaringnya.
Baru hari ini Chanyeol mampu menangkap dengan jelas nama cairan yang diberikan padanya. Kesadarannya masih tersisa ketika rasa haus itu menyerang, tidak seperti sebelum-sebelumnya. Dia tahu betul jika Jongin memberinya darah. Darah yang aromanya mengalahkan aroma madu atau bahkan anyelir. Begitu harum dan memikat.
Setelah itu, tak ada lagi yang bisa ia ingat. Kesadaran menghilang tepat ketika gelas itu semakin dekat dengannya. Meskipun dalam hati ia bertanya-tanya, namun ada hal lain yang perlu ia lakukan sekarang.
Tangannya menyingkirkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dan kaki-kaki turun menyentuh lantai. Merasakan dinginnya lantai kayu yang ia pijak. Suasana begitu sunyi dari dalam ruangannya. Mungkin seluruh shapeshifter telah tertidur. Ini adalah saat yang tepat untuk melihat rahasia di balik penjara bawah tanah.
Perlahan, ia berdiri, berpegangan sedikit pada ranjangnya sebelum akhirnya bisa berdiri tegak diatas kakinya. Ia bawa langkahnya menuju pintu dan membukanya tanpa menimbulkan banyak suara. Ketika matanya menyelusuri keadaan di luar, hanya kegelapan dan lampu remang saja. Tak ada makhluk hidup yang terdeteksi disana.
Bibirnya tersenyum penuh kepuasan. Sepertinya Jongin pun telah tertidur di kamarnya. Setelah merasa keadaannya aman, Chanyeol berjalan keluar, menuruni tangga dan menuju lorong di belakang mansionnya. Lorong yang tertuju pada pintu yang menghubungkan mansionnya dengan penjara bawah tanah yang dibuat oleh moyangnya.
Gerakannya begitu perlahan, nyaris tanpa suara. Tak ada kendala, ia tertawa dalam hati. Mengabaikan rasa dingin pada permukaan kulitnya karena belaian angin malam. Baju piyamanya sangat tipis sehingga tidak cukup untuk melindunginya.
Namun rasa penasarannya tidak bisa ditunda lagi.
Jika bukan malam ini? Kapan lagi?
Ketika pintu telah didepan mata, dengan duaorang shapeshifter singa yang sudah tertidur, Chanyeol bersorak dalam fortuna sedang memihaknya rupanya.
.
.
Tidak seperti dugaan Chanyeol, Jongin sebenarnya tengah berada di ruang kerja Loneshifter bersama dengan seorang pria muda berambut blonde dengan iris mata berwarna almond. Dia adalah Kim Jongdae, seorang manusia yang mempelajari sihir. Dia dipercaya sebagai seorang pembawa pesan karena ia ahli dalam hal menyamar. Dia bisa berada di langit sebagai elang hingga menjadi snowdog ketika harus menuju kutub utara.
Pembawaannya yang mudah akrab membuat siapapun senang berteman dengannya. Jongin sendiri cukup dekat dengan Jongdae, mereka biasanya melakukan taruhan dalam hal berburu binatang.
"Maaf karena telah memintamu kemari pagi-pagi buta seperti ini, Jongdae."
"Tidak apa-apa, Tuan." Jongdae tersenyum lima jari dengan wajah mengantuk yang kentara sekali. Ia baru tidur jam sebelas malam dan dibangunkan tepat setengah tiga pagi untuk ke ruangan Loneshifter demi mengemban tugas baru.
Park Jungsoo hanya tersenyum penuh wibawa dan menepuk-nepuk bahu Jongdae, tahu betul jika manusia biasa seperti Jongdae tidak memiliki daya tahan kantuk seperti mereka. Dia sendiri bahkan belum menempati ranjangnya sejak keluar dari kamar Chanyeol semalam.
"Apa ada tugas penting sehingga pertemuan kita harus sepagi ini, Tuan?"
Ya, matahari bahkan belum menampakkan muka sama sekali.
"Aku memintamu untuk pergi ke wilayah Hemisphere. Tolong cari seseorang bernama Kris dan beritahu padanya jika aku ingin melakukan pertemuan rahasia dengannya. Hanya Kris dan jangan membiarkan siapa pun tahu. Tempatnya sudah kutulis pada pesan ini."
Park Jungsoo memberikan sebuah batang bambu kecil yang didalamnya terdapat gulungan kertas. Ciri khas kaum shapeshifter untuk berkomunikasi secara aman dan rahasia.
"Kris ini—"
"Dia adalah seorang vampire." Jongdae mengangguk-angguk paham.
Tak ada beban dari raut wajahnya karena ia memang terbiasa berbaur dengan setiap ras. Bahkan vampire sekalipun. Kemudian percakapan itu dilanjutkan mengenai hal-hal lain hingga Jongdae undur diri dari tempat itu untuk kembali beristirahat dan akan berangkat siang hari.
.
.
Lorong di dalam penjara bawah tanah begitu gelap. Namun ia bersyukur pada keistimewaan yang dimilikinya, ia mampu menggantinya dengan pandangan tajam tanpa batasan. Udara di dalam begitu lembab dan menyesakkan. Siapa pun penghianat yang tinggal disini benar-benar akan menderita. Satu persatu pemandangan menyedihkan terlihat oleh matanya.
Para shapeshifter, juga makhluk-makhluk lainnya berada di sana dan menyandang status sebagai tahanan. Mereka yang ditempatkan disana adalah para pencuri dan pembunuh. Ketegasan seorang Loneshifter tidak perlu diragukan lagi. Sedikit kesalahan, mereka akan berakhir di penjara gelap ini.
Chanyeol mengendap-endap, mencoba melangkah seringan mungkin dan menatapi setiap sel yang berada di kanan dan kirinya. Beruntung, mereka semua telah tertidur dan sibuk mendengkur.
Tiba-tiba, telinga perinya menangkap rintihan kesakitan dari penjara paling ujung. Dengan sedikit tergesa Chanyeol berjalan kesana. Rasa penasaran datang dengan menggebu-gebu. Jantungnya berdebar disetiap langkah yang ia ambil. Penjara di ujung adalah satu diantara dua ruangan yang memiliki pintu penutup. Telinganya dipasang baik-baik demi mencari sumber rintihan itu.
Semakin dekat dengan ruangan tersebut, sebuah cahaya tiba-tiba terbentuk dari pergelangan tangannya. Lambangnya bersinar redup tanpa bisa ia cegah. Sebelum benar-benar berpijak di depan pintu penghubung, Chanyeol menutupi lambangnya dengan lengan piyamanya yang panjang.
"Hhh... hhh..." Semakin keras suara itu terdengar, semakin cepat pula denyutan di nadi dan dadanya.
Rintihan itu penuh kesakitan dan entah mengapa Chanyeol merasa begitu buruk karena telah mendengarnya. Langkahnya semakin melambat, berjalan pernuh siaga dan perasaan was-was. Sedikit demi sedikit, dibukanya pintu kayu yang tertempel pada susunan batuan besar tersebut. Suara itu pun makin keras terdengar.
Ini penjara yang paling spesial dan tertutup dari yang lainnya.
Setidaknya, hanya penjahat paling ditakuti dan berbahayalah yang akan ditempatkan disana. Namun suara rintihan itu terlalu lembut untuk dimiliki seorang penghianat.
Chanyeol membuka pintunya lebih lebar, membawa tubuh besarnya masuk semakin dalam. Ada sebuah cahaya yang muncul dari celah bangunan. Membawa sedikit penerangan untuk retinanya. Disana, di ujung ruangan, terdapat sel besi berwarna perak dan seonggok tubuh terkulai jatuh di lantai yang kotor.
Seketika ia merasa iba, sedih, dan marah. Tubuh mungil sosok itu terlihat begitu lusuh. Tanpa disadari, ia telah mendekat. Menapakkan telapak tangannya pada permukaan palung-palung besi yang membatasi mereka. Mata abunya yang cerah menatap sosok yang telungkup itu dengan pandangan penuh arti.
Hatinya merindu tanpa sebab.
"Errhh... hhh... h-haus.."
Ketika menangkap keberadaan kunci yang tergantung, tanpa berfikir dua kali, Chanyeol membuka selnya. Mendekati sosok itu tanpa keraguan. Berjongkok di samping sosok itu sembari mengamati keadaannya. Dua buah rantai perak yang panjang membelenggu pergelangan tangan sosok itu, sementara tubuhnya telungkup tanpa tenaga.
Sosok itu berdesis, kulitnya memerah seperti terbakar. Sementara keringat membasahi tubuhnya. Telapak Chanyeol dengan berani memberikan usapan pada lengan atas sosok itu. Membuat sosok itu menolehkan kepalanya tanpa mampu mengangkatnya.
Wajahnya penuh dengan keringat, helaiannya sampai menempel di permukaan wajahnya. Rambutnya tergerai berantakan dan ikatannya nyaris terlepas. Sosok ini memiliki panjang rambut sekitar sepunggung dengan warna sehitam black pearl.
Tampak begitu indah kalau saja kotoran lantai tidak menempel disana. Matanya tampak sayu, kesakitan, dan berkabut. Irisnya berwarna safir. Indah namun penuh luka. Parasnya benar-benar sempurna. Baru pertama kalinya Chanyeol melihat seseorang masih terlihat sangat sempurna meskipun lusuh dan penuh dengan debu tanah.
"J-Jongin..."
Chanyeol sempat berfikir sosok ini adalah perempuan andai suara itu tidak terdengar. Nama tak asing terucap. Membuat sebagian hati Chanyeol merasa aneh. Sosok itu tak menyadari siapa dirinya. Seperti kehilangan kesadaran dan kekuatan. Tangannya yang penuh noda terulur tanpa tenaga, mencengkeram lengan piyamanya dengan sangat erat.
Dari balik piyama tipisnya, Chanyeol bisa merasakan betapa lembutnya tekstur kulit yang menyentuh lengannya. Juga, terasa sangat dingin. Lebih dingin dari suhu tubuhnya yang dikatakan abnormal untuk seorang shapeshifter.
"T-Tolong... d-darah..."
Darah?
Air mata perlahan menetes dari kelopak indahnya. Sementara bibir kecilnya terus bergumam kata 'tolong' dan 'darah'. Pemandangan itu meretakkan hati Chanyeol. Dia, tanpa sadar membuat tangkupan di bawah kelopak mata sosok tersebut, membiarkan tetesan air mata dari safir indah itu jatuh di permukaan kulitnya.
Rasanya sangat dingin, seperti lelehan es yang penuh keputuasaan. Sebagian jiwa alpha dalam dirinya merasa patah dan layu. Perasaan iba yang melebihi iba itu sendiri. Sedih dan... ia sendiri tak mampu menjelaskannya.
"Tidak, tolong jangan menangis..." bisiknya lirih. Menemukan suaranya sendiri bergetar oleh perasaan asing tersebut.
Cengkeramannya sosok itu melonggar. Mungkin tersadar oleh nada suaranya yang berbeda dengan pelayannya. Ekspresinya tampak terkejut sementara rintihannya terhenti dan nafasnya masih berderu lambat. Mata keduanya saling bertaut dalam keheningan.
"Apa kau kesakitan? Kau bahkan tidak bernafas."
Kalimat yang terasa tidak asing.
Safir biru Baekhyun bertemu dengan abu cerah milik Chanyeol. Seolah terkoneksi dengan baik, lelehan Baekhyun keluar semakin banyak. Liquidnya masih berakhir di tempat yang sama. Itu bukan lagi tangis kesakitan, melainkan karena hati merasa lega sekaligus bahagia. Perasaan aneh yang belum pernah keduanya rasakan.
Ingin bertanya, namun kenyamanan yang tiba-tiba membuat Baekhyun terbuai. Rasa hausnya terlupakan oleh kenyaman aneh yang muncul bak darah segar yang selalu dibutuhkan di malam bulan purnama. Aroma yang candu tercium oleh indera. Menguar dari kulit tubuh masing-masing. Baik Chanyeol atau pun Baekhyun merasakannya.
Tanpa ada yang menyadari, tanda di belakang telinga Baekhyun dan tanda di pergelangan tangan Chanyeol berpendar redup, hanya dua detik dan kemudian sinarnya menghilang secepat ia datang.
Tanda yang meneriakkan kata rindu yang sama.
.
*Panjang rambut Baekhyun sekitar 30 cm (faktor 11 tahun dalam tahanan).
.
.
Jongin tak mampu memejamkan matanya barang sebentar. Perasaannya begitu kacau. Rasa khawatir pada keadaan Baekhyun membuat sebagian dari dirinya memaksa untuk memeriksa. Bulan masih bersinar diatas sana, terang tanpa tertutupi awan. Meskipun Jongin telah memberinya darah kemarin, namun dia ragu jika Baekhyun masih bisa menahan rasa hausnya.
Mungkin sudah terjadi selama lima tahun ini, dia hanya akan memberikan darah sehari sebelum bulan purnama dan membiarkan Baekhyun sendiri tepat pada hari munculnya neraka bagi vampire itu. Selama lima tahun itu pula Jongin selalu merasa gelisah dan tidak tenang di setiap tidurnya.
Biasanya, dia hanya akan memaksa dirinya sendiri untuk memejamkan mata dan berhasil.
Namun tidak kali ini. Ada rasa khawatir dan takut yang begitu besar.
Akhirnya, ia memilih untuk menyerah dan bergegas mengambil jaket tebalnya. Tak lupa, Jongin membawa serta persediaan kantung darah di lemari pendingin sebelum akhirnya melangkah ke arah lorong yang akan menghubungkannya dengan penjara bawah tanah.
Malam ini, belum tentu Baekhyun sebaik biasanya. Perasaannya mengatakan ada hal besar yang terjadi di penjara itu. Sesuatu yang mungkin akan disesalinya seumur hidup.
Ketakutan Jongin semakin bertambah ketika melihat pintu di ujung ruangan tampak terbuka. Meskipun keadaan sangat gelap, namun mata Jongin cukup awas untuk melihat kondisi pintu penghubung tersebut.
Kakinya berlari cepat, meraih gagang pintu dan membukanya secepat yang ia bisa. Dan pemandangan pertama yang tertangkap retinanya, berhasil membuat debaran di jantungnya semakin mengeras dan matanya membola sempurna.
Chanyeol berada disana, sebelah tangannya menempel pada pipi Baekhyun sementara pandangan iris abunya langsung jatuh pada Jongin –Chanyeol lebih peka daripada dirinya sendiri. Tatapan remaja itu begitu dingin dan menusuk.
Menuntut suatu jawaban yang membuat Jongin ketakutan. Nafas Jongin beradu lelah. Merasa akhir dunia berada di hadapannya saat ini.
Mereka tidak seharusnya bertemu.
"B-Bagaimana—"
"Kita perlu bicara, paman."
Nada suaranya begitu serius. Chanyeol bukanlah anak berumur lima belas tahun. Nyatanya, ia sudah mampu berfikir seperti seorang remaja yang telah menginjak usia dewasa. Ia mampu menangkap kejadian apapun dengan cepat.
Jongin pada akhirnya memberikan anggukan kaku, kemudian ia bawa langkahnya untuk mendekat pada Baekhyun dengan ragu-ragu. Chanyeol berdiri dan menyingkir, memberikan waktu pada Jongin untuk mengurusi tubuh lemah Baekhyun.
Tangan besar pelayan Chanyeol itu meletakkan sebuah kantung darah tepat di depan bibir Baekhyun dan jemarinya bergetar saat membuka penutupnya. Jongin sadar betul, tatapan Chanyeol tak sedikit pun lepas darinya. Seolah menghakiminya. Pris dewasa itu berusaha memutar otak, mencari alasan masuk akal untuk mengalihkan Chanyeol dari sosok Baekhyun.
Sekitar tiga menit, kantung darah itu telah kosong. Cairannya telah masuk ke dalam tubuh Baekhyun namun pria mungil itu seperti belum memiliki tenaga. Safirnya tersembunyi di dalam kelopaknya dan nafasnya yang sedikit berhembus semakin minim.
"Bisakah kita bicara diluar?"
"Ya." Tatapan Jongin jatuh pada sosok Baekhyun. "Aku akan segera kembali, Baek." bisiknya tanpa mampu dibalas oleh vampire itu.
.
.
Kedua serigala itu berada di depan pintu tahanan, Chanyeol masih membelakanginya sementara Jongin hanya mampu menahan kegugupan dan kegelisahan dalam hatinya. Otaknya yang telah menyusun berbagai kata seolah lenyap seketika. Aura alpha Chanyeol lebih kuat dari miliknya, membuatnya tunduk seketika.
Kekuatan besar dalam diri Chanyeol-lah yang membuat kakeknya begitu menginginkannya menjadi pemimpin. Namun garis keturunan pertama yang jatuh pada tangan Luhan, tak cukup membantu keinginan kakek Chanyeol itu.
"Siapa dia?"
Jongin menatap punggung Chanyeol. Melihat bagaimana remaja itu terlihat begitu besar dengan punggung lebarnya yang tampak kokoh. Jongin bahkan nyaris lupa bagaimana sosok kecil Chanyeol yang ia asuh dulu karena perubahannya begitu besar.
"Dia adalah seorang tahanan, Chanyeol."
"Bukan itu!" Chanyeol berbalik, menatapnya dengan tajam. "Jelas dia bukan tahanan biasa karena dia ditempatkan disana." Jemari besarnya menuding pintu di belakang Jongin dengan kasar. Mata bulatnya sedikit memerah karena emosi dalam dirinya. Surai ashgrey itu sendiri tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya.
Ketika melihat keadaan sosok itu, hatinya begitu dongkol dan kesal. Amarah yang lebih besar dari yang ia rasakan biasanya. Lebih seperti, ia ingin membunuh siapapun yang melakukan hal kejam itu pada sosok asing –namun terasa familiar– di dalam sana.
"Dia juga meminum darah!"
"Chanyeol, dia hanya—"
"Apa dia sama sepertiku?" Chanyeol mendekat perlahan, menuntut jawaban dari pelayan setianya. Mengintimidasi dengan tatapannya yang tajam. "Apa dia seorang shapeshifter yang terkutuk sepertiku? Tubuhnya lebih dingin dariku, airmatanya seperti lelehan es, dan dia memiliki kulit yang pucat. Lebih dari itu semua, dia terlihat sangat lemah untuk dijadikan tahanan! Tidak mungkin dia seorang penjahat yang berbahaya." Kepala Jongin berpaling. Terlalu bingung untuk memberikan jawaban. "Paman!"
"Dia adalah seorang vampire murni."
"A-Apa?"
"Dia bukan shapeshifter, Chanyeol. Dia seorang vampire." Nafas Chanyeol berhembus dengan cepat dan tubuhnya kaku. "Dia telah melakukan kesalahan terbesar seorang vampire."
"Lalu kenapa dia ditempatkan disini?"
"Karena korbannya adalah seorang shapehifter, karena itu kamilah yang memberinya hukuman."
"Kau bohong." Jongin mengangkat wajahnya, menatap kedua iris abu cerah milik Chanyeol dengan ekspresi bingung. Remaja itu terlihat kalut, penuh emosi, dan tak terkendali. Percikan amarah terlihat jelas di kedua bola matanya.
Apakah ketakutan itu benar-benar terjadi?
Bahwa Chanyeol akan mengenali Baekhyun sebagai mate-nya?
Aura dominan dalam diri Chanyeol jelas menunjukkan betapa emosinya remaja itu. Jongin memanggilnya, hendak menyentuh lengannya namun Chanyeol mundur dua langkah. Kepala Chanyeol tertunduk, retinanya bergerak kesana kemari tak ingin melihatnya. Sikap anti Chanyeol pada dirinya jelas membuat pemikiran negatif Jongin muncul.
"Chanyeol..."
"A-Aku... aku merasa sangat mengenalinya."
"Chanyeol..."
"Aku ingin bicara dengan ayah sekarang!"
"Tidak bisa." Jongin mencoba berdiskusi. Melangkah lebih dekat pada tuan mudanya tanpa membuat Chanyeol terganggu oleh jarak mereka. Jantungnya berdebar oleh rasa takut. "Kembalilah ke kamarmu dan kita akan membicarakannya besok dengan ayahmu. Sosok di dalam bukanlah seseorang yang berhubungan denganmu, Chanyeol. Dia hanya tahanan biasa."
Kepala Chanyeol lagi menggeleng. Mengabaikan seluruh ucapan pamannya dan tetap kukuh pada pendiriannya. Rasa penasarannya benar-benar tidak bisa ditunda lagi. Ia harus tahu siapapun sosok di dalam sel tahanan itu.
"Aku tidak akan mempercayai ucapanmu, paman! Perasaanku mengatakan hal lain!"
"Aku mohon, Chanyeol..."
"Tidak. Aku tidak akan percaya. Aku akan berada di dalam sel itu sampai ayahku datang dan menjelaskannya!" putus surai ashgrey itu kemudian. Kakinya melangkah cepat menuju pintu penghubung dan menutupnya sekeras yang ia bisa. Jongin terlonjak, berusaha menarik dan membuka gagang pintu kuat-kuat, namun nihil.
Seolah memang sengaja dikunci dari dalam oleh shapeshifter muda itu. Ia berusaha memanggil Chanyeol, namun seolah tuli remaja itu tak mau menjawabnya. Dengan putus asa, Jongin akhirnya membawa dirinya mundur perlahan. Tak ada cari lain selain memanggil Loneshifter-nya untuk menyeret Chanyeol pergi dari sini.
