Tittle : Playful Love chapter 4

Pairing : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Kim Jongdae, Kim Minseok, Xi Luhan, Oh Sehun, Lee Hyorin, and other.

Genre : Yaoi ( Boy x boy ), Mature scene, Romance, sisanya tebak sendiri.


Peringatan keras ya ! harap dibaca

FF ini rated M, jadi sudah jelas kalau bahasanya rada vulgar dan banyak bed scene nya / sex scene-nya atau apalah namanya..

Jadi kalau adik2 sekalin masih polos, saya minta tolong jangan dibaca ya..

Daripada ujung-ujungnya nyalahin saya dan bilang ff saya gak berbobot dan bisa merusak mental bangsa.

Waduuh! saya kaget pas bacanya, hahahaha..

Ini baru ff lho, gimana kalau di filmkan atau gak gimana kalo real?

apa mental saudara akan meleleh atau hancur?

Hhmm.. Maaf ya, bukan maksud apa. Tapi saya buat ini penuh perjuangan, merem melek dan rela gak makan atau gak nyentuh ponsel, jadi saya harap kalian juga bisa menghargai nya.

Maaf banyak omong, masalahnya hati saya yang udah potek gegara Chanyeol eh ditambah lagi sama ini.

Sudah..sudah..sudah..

Happy reading ya ^_^

….

….

.

Previous Chapter

"WOW." Terdengar suara sorakan yang keras ketika tim pemandu sorak membuat gerakan melempar ke atas. Lalu membuat gerakan menaikkan satu kaki keudara yang membuat celana dalaman dibalik rok mereka terlihat jelas, dan disana Chanyeol dan teman-temannya tersenyum nakal.

Lalu, Chanyeol terdiam ketika matanya tak sengaja menghadap ke arah lapangan sepak bola, Chanyeol membeku sesaat. Dihadapannya, Baekhyun-nya sedang memandang kearahnya dengan wajah kecewa. Chanyeol menelan ludahnya, ia mencoba mengedipkan matanya berulang dan mengalihkan pandangannya tapi berakhir dengan kembali menatap Baekhyun.

Baekhyun juga terdiam, teriakkan dari pria yang memantaunya sama sekali tak digubrisnya. Hyorin berjalan ke arah Chanyeol dengan wajah senang, tidak menyadari ekspresi Chanyeol.

Bahkan gadis itu memeluk leher Chanyeol dan duduk disampingnya, tapi merasa Chanyeol tak merespon Hyorin mengikuti arah pandang Chanyeol. Dan seketika gadis itu melepaskan pelukannya dan memandang Baekhyun dengan perasaan tak enak. Baekhyun baru tersadar ketika pria pemantau tersebut berteriak di depannya.

"Hei! Aku akan melaporkanmu! Ayo ikut aku!" ucap pria tersebut lalu menarik tangan Baekhyun paksa, Baekhyun sama sekali tak menolak. Dan ketika mereka sampai di depan kelasnya, pria itu mengetuk pintu dan seketika Tuan Jung keluar.

Sekali lagi Baekhyun merasakan nafas kelegaan dari teman sekelasnya, dan pandangan iba yang ditujukan padanya. Baekhyun membiarkan pria pesuruh tersebut mengadukan dirinya, suasana hatinya sedang tidak baik dan dia tidak dalam mood untuk membela diri.

"Sekarang kau pergi ke perpustakaan! Dan katakan bahwa kau sedang menjalani hukuman dariku! Aku akan memberi tahu pihak perpustakaan melalui telepon." Ucap Tuan Jung dan Baekhyun mengangguk, lalu berjalan lemas ke arah perpustakaan sendiri. Pria pesuruh itu tidak diminta lagi untuk mengawasi.

Baekhyun sampai di depan perpustakaan, ia berjalan menuju meja informasi.

"Permisi, saya adalah Byun Baekhyun. Siswa yang sedang menjalani hukuman dari Jung Songsaengnim." Ucap Baekhyun lemas, dan wanita paruh baya dengan lipstick berwarna merah menyala menurunkan majalah fashion yang ia bawa. Memandang Baekhyun dengan satu alis terangkat.

….

….

…..

Chapter 4

By

ParkShiTa

"Tugasmu adalah mengembalikan semua buku yang berserakan di meja ke dalam raknya sesuai dengan kode yang tertera di sampul buku!"

"Baik." Baekhyun bergegas menuju ke arah meja-meja yang memang diperuntukan untuk tempat membaca mahasiswa.

Perpustakan sedang sepi, ini masih jam belajar dan lagipula jika tidak sedang ujian maka perpustakaan tidak seramai kantin dan halaman sekolah. Baekhyun melihat beberapa siswa yang berkumpul disudut ruangan, yang Baekhyun yakini adalah siswa yang akan mengikuti olimpiade.

Baekhyun kenal salah satunya, Jung Jinyoung, senior angkatan atasnya yang memiliki kejeniusan luar biasa dan selalu mengikuti rangkaian olimpiade yang diadakan sekolahnya. Bahkan lelaki yang sangat gemar belajar itu , sering keluar negri untuk mengikuti olimpiade sains.

Dan konon menurut gosip, senior Jung Jinyoung adalah satu-satunya siswa kesayangan Tuan Jung, bahkan ada yang mengatakan jika Jung Jinyoung adalah anak haram Tuan Jung. Baekhyun yakin jika berita yang pertama itu memang benar, tapi tidak dengan berita yang kedua.

Baekhyun mulai mengambil beberapa buku yang berserakan di atas meja.

"B/2.07c. " Baekhyun membaca kode itu dan dia mengernyit. Ia ingin bertanya, pada penjaga perpustakaan itu, tapi mengingat sikap tidak ramah wanita itu membuat Baekhyun mengurungkan niatnya. Baekhyun mencoba memecahkan teka-teki dari kode buku tersebut namun Baekhyun merutuki dirinya yang bodoh.

Selain itu, ini semua karena ia sama sekali tidak pernah meminjam ataupun mengambil buku diperpustakaan, kantin dan halaman sekolah terlihat lebih menarik baginya.

"Nikmati masa-masa bebasmu, jangan sekali-kali pernah mendekati zona merah. Karena kau akan terjebak ke dalam zona itu ketika kau duduk di tingkat akhir. Zona merah = neraka"

itu adalah bunyi slogan lain yang sering berkumandang di sekolahnya. Perpustakaan adalah zona merah bagi para siswa, semasih mereka duduk ditingkat awal mereka akan menjauhi perpustakaan, bagi mereka dengan mencari di internet sudah cukup, beberapa anak berpikir untuk memanfaatkan teknologi yang canggih dan simple. Dan Baekhyun adalah salah satunya.

Baekhyun menghela nafas, berpindah ke meja lain untuk melihat kode dari buku lain dan Baekhyun tetap mengernyit tidak mengerti. Sampai akhirnya langkahnya sudah mendekat ke arah meja siswa olimpiade yang sedang melakukan rapat kecil.

Baekhyun dapat mendengar seniornya berbicara, namun Baekhyun tidak yakin jika itu adalah bahasa manusia. Ketika terdengar bunyi gesekan kursi yang didorong kebelakang , Baekhyun tahu jika rapat kecil kelompok manusia luar angkasa itu sudah berakhir.

"Ah!" Baekhyun mengacak rambutnya frustasi. Apa tidak ada hal yang lebih membuat harinya lebih buruk dari ini? Ini semua karena Park Chanyeol. Begitu pemikiran seorang Byun Baekhyun.

"Apa kau mendapat hukuman?" suara itu membuat Baekhyun menoleh. Seorang pria berkulit putih dan terlihat lembut, dengan seragam yang rapi, rambut yang juga rapi dan kaca mata yang bertengger di hidungnya.

"Be..benar sunbaenim." Baekhyun kikuk.

"Jangan pernah berbicara dengan anak-anak dari planet luar. Jika kau tidak ingin terlihat bodoh seperti keledai dungu yang menghitung jumlah bintang dilangit."

Itu slogan lain yang pernah Baekhyun dengar. Anak-anak jenius di sekolahnya di sebut sebagai manusia dari planet luar angkasa. Karena setiap berbicara mereka akan menggunakan bahasa yang sangat sulit untuk dimengerti. Tapi Baekhyun terlambat, karena ia telah berada dalam kondisi tersebut.

"Tuan Jung?" tanya lelaki itu lagi dengan senyum ramahnya.

"Benar."

"Hm! Beliau memang sedikit keras." Baekhyun rasanya ingin mengganti kata sedikit dengan kata sangat, yang di capslock, lalu membubuhkan banyak tanda seru dibelakangnya.

"A/3.05c. " senior Jung Jinyoung berucap, lalu tersenyum.

"Kau lihat huruf besar di rak itu?" tanya Jinyoung sambil menunjuk huruf-huruf tunggal dengan font yang besar di bagian atas setiap rak.

"Iya."

"A garis miring 3 berarti rak A urutan nomer 3. Di perpustakaan ini ada 6 rak A, 6 rak B,5 rak C, 4 rak D, 4 rak E dan 4 rak F." ucap Jinyoung dan Baekhyun sedikit tersentak. Bahkan jumlah rak di perpustakan lelaki ini bisa tahu.

Bahkan jumlah toilet di sekolah saja Baekhyun harus menghitung satu persatu ketika ditanya, yang mungkin akan berbeda di tangan Jung Jinyoung , dia akan memasukkan angka-angka itu ke dalam rumus perhitungan. Itu sebabnya, Byun Baekhyun dan Jung Jinyoung adalah orang yang berbeda, isi kepala mereka saja berbeda.

"Kosong lima c, artinya kolom kelima pada masing-masing rak. Enam ratus tiga puluh lima, adalah kode urutan buku per rak. Dan SB berati Sains Book. EB untuk English Book, MB untuk Match Book, dan begitu seterusnya. Kau bisa melihatnya di daftar kepanjangan yang di tempel di setiap rak. Kau mengerti?" dan Baekhyun mengangguk-ngangguk senang.

"Terima kasih Senior." Ucap Baekhyun sambil memberi hormat.

"Iya sama-sama. Kalau begitu aku pergi dulu." Ucap Jinyoung dan Baekhyun mengangguk sambil memberi hormat. Baekhyun mulai mengambil buku tersebut dan berjalan ke rak. Meletakkan satu persatu buku-buku ke dalam raknya. Baekhyun sesekali meregangkan ototnya. Tubuhnya sungguh lelah, dan rasanya seperti mau remuk.

"Hei anak muda!" Baekhyun menyembulkan kepalanya dari balik rak.

"Ada apa nyonya?"

"Aku ingin keluar untuk makan siang sebentar. Kau tetap selesaikan pekerjaanmu! Jangan mencoba kabur!"

"Aku tahu." Sahut Baekhyun lalu kembali menghilang di balik rak. Ketika ia mendengar suara pintu tertutup Baekhyun menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Ia benar-benar lelah. Ia melihat jam tangannya dan waktu sudah menunjukan pukul 11.30. Sebentar lagi jam makan siang, dan pekerjaannya masih banyak. Baekhyun menghela nafas. Ia bangkit ketika mendengar suara pintu terbuka.

"Kenapa cepat sekali?" Baekhyun bergumam pelan lalu mengambil buku yang berserakan dilantai. Ketika ia melihat kode 01c Baekhyun menghela nafas kembali. Ia merutuki tubuh pendeknya.

Ia melihat ke arah atas dan entah mengapa rak kolom satu itu terasa sangat tinggi. Ia tidak melihat ada tangga bantuan disana, jadi ia pikir dirinya cukup tinggi hanya untuk meletakkan buku itu. Ia menjinjitkan kakinya, memanjangkan lengannya yang pendek dan mencoba meletakkan buku tersebut.

"Aku tidak suka ketika bagian tubuhmu terlihat!" suara itu muncul ditelinga Baekhyun bersamaan dengan sebuah lengan yang melingkar di pinggangnya dan menyentuh bagian kulitnya yang terlihat.

Itu Chanyeol, Baekhyun tahu benar suara berat tersebut. Chanyeol meraih buku Baekhyun dan meletakkannya. Baekhyun melepaskan tangan Chanyeol dan membalik tubuhnya. Menatap tajam ke arah Chanyeol yang menatapnya dengan senyuman yang Baekhyun tahu apa artinya.

"Apa yang kau lakukan?" suara Baekhyun terdengas ketus. Chanyeol meletakkan tangannya di samping kepala Baekhyun.

"Mengawasi kekasihku."

"Benarkah? Mengawasiku atau bokong pemandu sorak dengan pakaian minim itu?" suara Baekhyun terdengar meremehkan.

"Oh jadi kekasihku yang manis ini sedang merajuk rupanya? Mirip seperti gadis remaja yang sedang merajuk pada kekasihnya. Aku suka." Ucap Chanyeol lagi.

"Oh kau suka gadis? Dan kau juga suka bokong gadis yang bergoyang di depanmu? Itu berarti kau masih normal. Sudah aku mau kembali melanjutkan pekerjaanku." Ucap Baekhyun lalu meninggalkan Chanyeol menuju meja baca untuk mengambil buku lain. Tapi Baekhyun terdiam ketika Chanyeol memeluknya dari arah belakang.

"Bagaimana aku bisa disebut normal, jika penisku selalu terangsang setiap melihatmu." Ucap Chanyeol ditelinga Baekhyun. Dan Baekhyun merasakan ada sesuatu yang menusuk bokongnya. Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol cukup keras membuat Chanyeol mundur beberapa langkah.

" Mau bermain sebentar?" tanya Chanyeol nakal.

"Tidak!"

"Ayolah. Disini sepi Baek!" Bujuk Chanyeol.

"Tidak terima kasih!" Baekhyun kembali beralih pada buku-buku di atas meja.

"Dan tidak ada CCTV."

"Apapun itu tidak terima kasih."

"Baek~ ayolah!"

"Kau memandang bokong-bokong gadis itu tepat dihadapanku. Dan sekarang kau ingin bercinta denganku? Kau fikir aku apa?"

"Aku bersumpah Baek, aku tidak tahu jika ada kau disana."

"Oh jadi maksudmu jika aku tidak ada disana, kau akan bebas memandang bokong-bokong itu hah?" Baekhyun berucap kesal, ia tak tahu mengapa ia sangat kesal dengan kejadian itu. Padahal dulu sebelum ia resmi menjadi kekasih Chanyeol, ia sering mendapati Chanyeol seperti itu tapi ia hanya bisa menghela nafas, tidak emosi seperti ini. Jawabannya hanya satu, karena mungkin kini status mereka sudah berbeda.

"Baek, kenapa kau marah hanya karena masalah bokong?"

"Hanya karena bokong kau bilang? Yeol, kau baru saja memandang bokong orang lain ketika kau sudah memiliki kekasih. Astaga! Kau pikir ini masalah sepele?"

"Tentu. Ini hanya masalah sepele. Aku hanya memandangnya sekilas, lagipula itu wajar. Bokong mereka menghadap ke arah kami dan itu hal wajar bagi seorang lelaki bukan, itu naluri Baek. Tapi aku berani bersumpah jika bokongmu lebih indah."

"Maaf rayuanmu baru saja ditolak oleh sistem kerja otakku." Baekhyun berjalan acuh dengan tumpukan buku di tangannya ketika melewati Chanyeol yang berdiri frustasi.

"Aku tidak sedang merayu. Itu kenyataan." Ucap Chanyeol membalik tubuhnya berjalan ke arah Baekhyun yang sedang meletakkan buku.

"Terserah. Tapi kau ditolak."

"Baek, ayolah. Kau ingin aku tersiksa sampai kelas berakhir?" ucap Chanyeol memelas, tapi Baekhyun sama sekali tidak peduli.

"Aku tak peduli."

"Baek! Kau jahat sekali!"

"Siapa yang lebih jahat? Aku yang tidak mau bercinta denganmu karena melihat dirimu bermain mata, atau kau yang selalu menghajar lubangku , membuatku di hukum berlari di lapangan, membuatku diberi hukuman tambahan karena melihatmu memandang bokong-bokong seksi itu, lalu dengan seenaknya mengajak bercinta di perpustakaan hah?" Baekhyun menaikkan nada bicaranya.

Chanyeol terdiam menatap Baekhyun dengan wajah murung. Baekhyun mencoba memalingkan wajahnya, namun mata sialnya malah tertuju pada gundukan menonjol di balik celana sekolah Chanyeol.

"Kau! Kau yang lebih jahat." Suara Chanyeol terdengar merendah dan Baekhyun menatap Chanyeol terkejut. Terkejut dengan reaksi berlebihan Chanyeol yang diluar dugaannya, tapi Baekhyun mencoba menjaga sikapnya.

"Kau jahat, karena tidak pernah mempercayai ucapanku. Percuma aku menyakinkanmu tentang perasaanku, seberapa besar cintaku padamu jika kau hanya mempercayai apa yang kau lihat dengan matamu yang mungkin saja bukan hal tersebut yang terjadi." Chanyeol berpaling, meninggalkan Baekhyun yang masih terdiam.

"Bagaimana aku bisa percaya Yeol, jika aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri?" Baekhyun kembali memekik membuat langkah Chanyeol terhenti lalu lelaki tinggi itu berbalik.

"Sejak awal aku sudah memintamu untuk mempercayaiku bukan? Matamu bisa saja menipu Baek, tapi tidak dengan perasaanku. Kau mungkin bisa meragukanku, tapi kau harus tahu jika aku sangat mencintaimu."

"Aku malah semakin tidak percaya denganmu Chanyeol, jika ucapanmu terlalu berlebihan. Aku hanya tak ingin sakit terlalu dalam, ketika pada kenyataan semua ucapanmu adalah omong kosong." Baekhyun berucap pelan.

"Jika itu memang omong kosong bagimu, aku tak akan memaksa. Itu terserah padamu." Ucap Chanyeol lalu kembali membalik tubuhnya dan berjalan meninggalkan Baekhyun.

"Kau mau kemana?" tanya Baekhyun.

"Aku ingin mencari orang lain, untuk kumasuki lubangnya. Jika kekasihku sendiri tidak mau melakukannya, aku bisa mencari orang lain." Ucapan Chanyeol bagi petir di siang hari untuk Baekhyun.

"Sana cari saja. Aku tak peduli Park Chanyeol!" Baekhyun berteriak keras dan diakhiri dengan suara debuman keras dari pintu yang ditutup.

...

...

...

Baekhyun berjalan lemas ke arah kantin, Tuan Jung mengakhiri hukumannya ketika bel istirahat berbunyi. Disana ia menemukan Jongdae yang berkumpul bersama teman-temannya sambil bercerita heboh, entah apa yang menjadi topik pembicaraan mereka Baekhyun tak ambil pusing. Ia mengambil nampan dan mengantri di barisan yang tidak terlalu panjang. Baekhyun segera duduk disamping Jongdae yang sepertinya tak menyadari kehadirannya.

"Eh Baekhyun-ah?" itu suara Jongdae yang segera turun dari atas meja, ketika menyadari Baekhyun duduk di belakangnya.

"Bagaimana tadi?" tanya Jongdae. Baekhyun tak menjawab ia segera membuka tutup botol minuman berasa stroberi tersebut dan meminumnya dengan cepat.

"Apa hukuman yang Tuan Jung berikan?" tanya Jongdae masih tak mau kalah.

"Setidaknya aku sudah berkenalan dengan kode buku di perpustakaan." Sahut Baekhyun malas, sambil menyendokkan nasinya.

"Wow, kau masuk zona merah? Astaga! Apa kau baik-baik saja?" tanya Jongdae sambil membolak-balik tubuh Baekhyun.

"Apa menurutmu aku baik-baik saja?" tanya Baekhyun dengan tatapan tajam.

"Setidaknya bagian tubuhmu tetap utuh. Apa yang dilakukan Godzila woman itu padamu?" tanya Jongdae.

"Dia menyiksaku. Mengikatku, menjerat leherku, memutilasi tubuhku, dan menjualnya ke pasar. Kenapa kau banyak bertanya sih? Memangnya apa lagi hukuman yang bisa diberikan jika itu bertempat di perpustakaan? " Sahut Baekhyun ketus.

"Ck! Kau berlebihan. Aku hanya khawatir padamu Baek. Kenapa sikapmu ketus begitu?"

"Aku lelah Jongdae. Aku lelah! Kau tahu aku harus mengatur buku-buku itu sesuai kode sialan yang entah siapa pembuatnya. Dan juga Chanyeol_" Jongdae mengernyit ketika Baekhyun menyebutkan nama Chanyeol. Baekhyun menghentikan ucapannya, dia nyaris kelepasan.

"Dan Chanyeol kenapa?" tanya Jongdae heran.

"Dan Chanyeol_"

"Aku dengar Chanyeol benar-benar melakukannya." Itu suara dari dua orang siswa yang sedang berbisik di belakang Baekhyun dan Jongdae. Jongdae menajamkan telinganya.

"Hei! Chanyeol melakukan apa?" tanya Jongdae berbisik. Kedua siswa itu mendekatkan tubuhnya ke arah Jongdae dan Baekhyun.

"Melakukan seks di sekolah." Bisik salah satu dari kedua siswa itu. Jongdae heboh dengan teriakan keterkejutannya dan berhasil menarik perhatian seisi kantin untuk sesaat, tapi Baekhyun terkejut untuk waktu yang cukup lama.

"Darimana kalian tahu?" tanya Jongdae kembali berbisik.

"Tadi kami berpapasan dengannya, dan dia berjalan terburu-buru, perlahan kami mengikutinya dan betapa terkejutnya kami ketika melihat ia menarik paksa tangan Hyorin yang sedang berbicara dengan teman-temannya di depan kelas. Dan kau tahu kemana Chanyeol membawa Hyorin?" tanyanya.

"Kemana?" Jongdae balik bertanya.

"Ke ruang penyimpanan alat-alat di belakang sekolah. Menurutmu apa yang dilakukan dua orang berbeda jenis kelamin di tempat yang jarang dikunjungi selain melakukan seks?"

"Dan coba tebak! Apa yang sempat kami lihat saat berpapasan dengannya?"

"Apa?" Jongdae nampak penasaran.

"Sesuatu yang mengembung hebat di balik celananya."

"Apa kalian serius?" Jongdae semakin penasaran dengan mata yang melebar.

"Kami berani bersumpah demi celana Jung songsaengnim yang tidak pernah diganti."

Jongdae mengangguk seolah paham dan membenarkan, tapi tidak dengan Baekhyun. Dia masih nampak shock, apa benar ancaman Chanyeol tidak main-main. Jadi lelaki itu memilih untuk melakukan seks dengan Hyorin untuk menyalurkan hasratnya. Emosi Baekhyun meluap-luap, ia segera bangkit dan membuat ketiga orang disana menatapnya heran, bahkan panggilan Jongdae hanya angin lalu bagi Baekhyun.

Baekhyun berjalan di koridor sekolah dengan emosi memuncak. Dan selama perjalanan ia selalu mendengar bisik-bisik siswa dan siswi yang membicarakan tentang kasus Chanyeol dan Hyorin tadi. Baekhyun tak tahu jika gosip di sekolah akan menyebar lebih cepat ketimbang perkembangbiakan virus influenza di dalam sel inang, atau viskositas air di dalam tabung dengan kelereng sebagai bebannya. Benar-benar cepat.

Ia mengepalkan tangannya dan memilih untuk menenangkan dirinya. Ia menuju ke halaman belakang sekolah, menuju sebuah pohon yang menjadi favoritnya, ia meninju-ninju pohon tidak bersalah tersebut.

"Park Chanyeol bodoh! Park Chanyeol brengsek! Aku membencimu orang sialan! Enyah saja kau dari dunia ini! Enyah kau Park Chanyeol! En_"

"Hihihihi.." Suara cekikikan itu menghentikan kegiatan Baekhyun. Baekhyun memutar bola matanya malas ketika melihat siapa yang berdiri di belakangnya.

"Pergi! Aku tak ingin melihatmu!"

"Kenapa? Oh aku tahu, kau sedang dalam mood yang buruk kan?" tanya sosok itu.

"Jika kau sudah tahu lebih baik segera tinggalkan tempat ini!"

"Tapi sayangnya aku tidak mau!"

"Hei! Gadis brengsek berhenti menganggu hidupku! Apa kau tidak punya orang lain yang bisa kau ganggu?" ucap Baekhyun ketus.

"Wow! Sepertinya ada yang sedang emosi. Apa karena berita sepasang kekasih yang melakukan hubungan intim itu?" Baekhyun rasanya ingin menjambak rambut gadis ini dan membenturkan kepalanya ke pohon.

"Bukan urusanmu!"

"Sepertinya aku benar. Hahahaha…"

"Diam!"

"Sayangnya aku tidak mau."

"…"

"Sebenarnya apa yang kau lihat dari dia hah?" ucap Taeyeon .

"Yang jelas dia lebih baik, jauh lebih baik darimu."

"Benarkah? Di bagian mananya?"

"Yak! Kim Taeyeon enyah dari hadapanku! Bila perlu enyah dari dunia ini!" Baekhyun membentak dan gadis itu hanya diam menatap Baekhyun.

"Hiks. Seperti itukah caramu berbicara terhadap orang yang pernah mengisi hatimu?" Gadis itu mulai menangis, entah itu tangis kebenaran atau hanya sebuah kepalsuan untuk menarik perhatian dan membuat orang iba padanya. Tapi tidak berlaku untuk Baekhyun, ia sudah tahu kebusukan gadis di hadapannya.

"Jangan menangis dihadapanku! Aku membencinya."

"Baekhyun-ah, bisakah kau kembali padaku? Kembali seperti dulu?"

"Maaf. Tapi hatiku sudah milik orang lain. Lagipula dulu itu aku hanya kasihan padamu, aku tidak bersungguh-sungguh mencintaimu. Maafkan aku, jadi bisakah sekarang kau tinggalkan aku?"

"Baek~ kau jahat."

"Iya aku tahu. Untuk itu berhenti mencintai orang jahat sepertiku!"

"Tentu. Tentu aku akan melakukannya." Taeyeon menghapus air matanya dengan kasar.

"Dan kau tahu Byun Baekhyun? Lelaki menyedihkan sepertimu dengan tubuh pendek, wajah pas-pasan, tidak pintar dan tidak kaya tidak akan mungkin bisa mendapatkan orang sepertinya. Dia berbanding terbalik denganmu, bagaikan bumi dan langit. Apa kau fikir kau bisa mengalahkan pesona seorang Park Chanyeol? Dia tampan, kaya, pintar, tenar dan yang terhebat dia adalah kekasih Hyorin." Baekhyun merasakan hatinya berdenyut. Ia tahu yang Taeyeon maksud adalah Hyorin, tapi bagi Baekhyun itu menyinggung tentang Chanyeol.

"Diam!"

"Hahaha… sekarang kau sadar siapa kau? Sudah untung dulu aku mau menjadi kekasihmu. Seandainya aku bertemu lebih dulu dengan Chanyeol, mungkin sekarang dialah yang menjadi kekasihku. BUkan wanita serba kelebihan itu, yang selalu pamer dada dan pantatnya yang demi Tuhan itu sangat_"

"Diam brengsek!"

"Ck! Menyedihkan, lelaki lemah yang hanya bisa mengumpat seorang wa_"

PLAK

Tamparan itu tepat mengenai pipi Taeyeon, keduanya sama-sama terkejut. Baekhyun terdiam sambil menatap tangannya, sedangkan gadis itu memegang salah satu pipinya.

"Kau!"

"Aku bukan hanya bisa mengumpat, tapi aku juga bisa bermain fisik, bahkan pada seorang wanita. Siapapun yang membuatku terusik akan merasakan tamparan keras di pipinya. Jadi, sekarang lebih baik kau pergi wanita murahan! Kau menjijikan, mengemis cinta untuk lelaki yang bahkan tidak mencintaimu sama sekali." Ucap Baekhyun sambil menatap gadis itu tajam. Taeyeon menatap Baekhyun berapi, matanya berkaca-kaca dan setelah itu dia pergi sambil memegang pipinya yang memerah.

"Lalu kau sendiri? mengharapkancinta untuk seseorang yang bahkan jauh diatas diatasmu." lalu gadis itu benar-benar pergi.

Baekhyun merosot ke tanah. Tubuhnya benar-benar lelah, ia tidak bisa mengatur emosinya. Ia tak tahu jika dampak dari menjadi kekasih seorang Park Chanyeol adalah sesakit ini.

"Byun B." Baekyun menoleh ke arah sumber suara.

"Hyorin?" ucapnya lemah. Gadis itu tersenyum lalu duduk disamping Baekhyun.

"Sepertinya kau dalam mood yang buruk."

"Benar."

"Maafkan aku!"

"Untuk?" Baekhyun bertanya bingung.

"Tentang berita itu, itu sama sekali tidak benar. Aku dan Chanyeol, kami sama sekali_"

"Tidak Hyorin."

"Byun B?"

"Tidak. Aku sedang tidak ingin membahas itu. Aku sedang memikirkan hal lain yang mengganjal. Lagipula ini bukan salahmu, kenapa kau harus minta maaf?"

" Aku hanya merasa tidak enak denganmu. Bagaimana pun kau adalah kekasih dari sahabatku, aku harus menjaga perasaanmu juga. Jangan pedulikan sikap Chanyeol ketika ia sedang emosi, dia_"

"Hyorin! Dengar! Aku sedang tak ingin membahas masalah Chanyeol atau apapun itu. Aku hanya butuh sendiri untuk menenangkan diri."

"Hehehe.. aku tahu Byun B, aku minta maaf. Dan aku mohon semoga masalah kalian tidak berlarut-larut. Dua hari lagi pertandingan basket akan dimulai, aku tidak ingin sahabat bodohku frustasi karena kalah dalam pertandingan, jadi aku mohon_"

"Aku mengerti Hyorin."

"Terima kasih Byun B. Kalau begitu aku pergi dulu." Ucap Hyorin lalu bangkit. Baekhyun terdiam, lalu kembali menenggelamkan kepalanya di balik lututnya.

….

Semenjak kejadian kemarin, Baekhyun sama sekali tidak melakukan komunikasi dengan Chanyeol. Ratusan pesan yang masuk ke ponselnya, ratusan chat dari sosial media yang berbeda, puluhan panggilan yang tidak Baekhyun hiraukan dan semua itu dari orang yang sama membuat kepalanya terasa pening.

Di sekolah ia tak bertemu Chanyeol , karena Chanyeol selalu sibuk latihan. Baekhyun selalu menghindari Chanyeol sebisanya. Ia tak tahu kenapa, tapi yang jelas ia ingin sendiri, ia ingin menenangkan dirinya. Ia ingin menyakinkan dirinya jika Chanyeol benar-benar menyimpang dan benar-benar mencintainya.

Ketika istirahat Baekhyun sesekali mencuri pandang ke arah lapangan basket. Bisa ia akui jika ia sedikit merindukan kekasih raksasanya tersebut. Ia sedikit prihatin melihat pelatih yang mengusap wajahnya frustasi, Chanyeol kembali tidak fokus pada permainannya. Baekhyun mendesah pelan.

"Baekhyun!" Baekhyun menoleh ke arah sumber suara. Disana Jongdae berlari dengan nafas terengah dan wajah frustasi.

"Kenapa?"

"Aku akan jatuh miskin sekarang. Aku menambahkan uang taruhan karena aku yakin tim sekolah kita menang. Tapi tadi, aku mendengar kabar bahwa Chanyeol kembali tidak fokus. Astaga! Aku akan jatuh miskin sekarang Baek, aku akan dibunuh oleh ayahku karena mengambil uangnya tanpa izin untuk kujadikan taruhan." Terlihat Jongdae dengan wajah frustasinya, dan Baekhyun hanya menghela nafas.

"Salahmu sendiri. Kenapa menggunakan pertandingan sekolah kita sebagai taruhan. Lagipula menang kalah itu biasa."

"Ini tidak masalah menang dan kalah saja Baek. Aku bahkan sudah kalah duluan sebelum bertaruh jika ceritanya seperti ini. Lagipula kenapa si kapten tim ini bisa memiliki mood yang selalu berubah-ubah seperti ini?"

"Entahlah." Baekhyun bangkit dari posisi duduknya.

" Kau mau kemana Baek?"

"Ke toilet." Sahut Baekhyun singkat lalu berlalu sedangkan Jongdae kembali menenggelamkan kepalanya diatas meja.

Baekhyun berjalan ke arah toilet, lalu ia mengeluarkan ponselnya dan mengaktifkannya. Ponselnya terus bergetar menandakan banyak pemberitahuan yang masuk. Puluhan pesan dikirim dari nomer yang sama.

"Temui aku di ruang ganti tim basket, sekarang!" itu pesan yang Baekhyun kirim ke Chanyeol. Baekhyun bergegas menuju ruang ganti tim basket yang berada di belakang lapangan basket, cukup jauh dari gedung sekolah. Selain tim basket, pelatih dan cleaning service tidak ada yang diperbolehkan berkunjung kesana, karena itu daerah privasi sama halnya dengan ruang ganti dan latihan milik club sepak bola,taekwondo, balet, musik dan klub lainnya.

Baekhyun masuk ke dalam ruang ganti yang tidak terkunci. Ia duduk disalah satu bangku panjang yang tersedia disana. Baekhyun menundukan kepalanya, ia berharap apa yang ia lakukan adalah hal yang benar. Ia sudah memikirkannya berulang dan ia akan mencoba melakukan apa yang menurutnya benar.

"Baekhyun." Itu suara Chanyeol yang terdengar tergesa.

"Kau sudah menunggu lama, maaf_"

"Aku tak memiliki banyak waktu Yeol." Sahut Baekhyun dingin.

"A..apa yang ingin kau bicarakan?"

"Fokuslah kepertandinganmu!"

"Bagaimana aku bisa fokus, jika aku terus memikirkan tentang sikapmu? Kau bahkan tidak membalas satupun pesanku dan tidak mengangkat panggilanku."

"Kau bisa, tentu kau bisa. Kau adalah kapten tim basket disini , bukan kekasih seorang Byun Baekhyun."

"Tapi Baek_"

"Aku memberimu sebuah kesempatan. Jika kau bisa menang dipertandingan ini, maka aku akan kembali seperti dulu, jika tidak maka_" baekhyun menjeda ucapannya. Ia menghela nafas sebentar lalu menatap Chanyeol.

"maka aku menginginkan hubungan kita berakhir."

"Apa kau gila Baek?" Chanyeol memekik, Baekhyun sedang bicara omong kosong menurutnya.

"Sepertinya tidak."

"Kau tidak sedang bercanda kan?"

"Apa aku terlihat seperti itu?"

"Baekhyun!"

"Chanyeol dengar! Jangan mencampuri urusan tim dengan perasaanmu okay? Aku ingin sosok Chanyeol yang aku kagumi seperti dulu, ketika basket adalah tujuan utamanya, basket adalah dunianya dan yang lain bukan apa-apa."

"Tidak Baek! Kau adalah duniaku sekarang. Kau segalanya untukku."

"Chanyeol jangan mengalihkan pembicaraan! Aku harus pergi, berlatihlah yang serius, sekolah ini menaruh harapan besar pada timmu. Semoga kau berhasil besok!"

"Baek? Apa besok kau akan datang?" suara Chanyeol terdengar bergetar. Baekhyun menghentikan langkahnya, menatap bayangan Chanyeol dari balik pundaknya.

"Aku minta maaf untuk itu. Sepertinya aku ada urusan." Ucap Baekhyun akhir. Chanyeol menghela nafas. Ia tak tahu kenapa masalahnya menjadi rumit, ini hanya karena masalah Chanyeol yang menatap bokong pemandu sorak dan dipergoki oleh Baekhyun, bahkan Chanyeol sudah meminta maaf untuk itu, Chanyeol benar-benar bingung dan pusing.

Tapi Chanyeol tak tahu, jika bukan hal tersebut penyebab Baekhyun bersikap dingin. Namun karena Baekhyun kembali meragukan orientasi seks Chanyeol. Ia hanya tak ingin hubungan mereka berakhir karena Chanyeol mengatakan kalau ia kembali normal. Itu akan membuat Baekhyun sakit berkali-kali lipat. Jadi Baekhyun berpikir, mumpung usia hubungan mereka masih seumur jagung jadi lebih baik ia mendapat kejelasan lebih awal. Karena sakit yang ia rasakan kelak, pasti akan jauh lebih sakit jika ia sudah mencintai Chanyeol terlalu dalam.

Tidak seperti semester lalu, semester ini adalah giliran Jeongshin yang menjadi tuan rumah. Tiga bus dari sekolah Jaessun telah terjejer rapi di parkiran sekolah Jeongshin. Beberapa siswa Jaessun diajak berkeliling sekolah, dan beberapa ada yang sudah mencari posisi dibarisan kursi penonton. Chanyeol dan tim nya masih duduk di dalam ruang ganti, pelatih mereka memberi pengarahan. Minho menatap Chanyeol yang nampak gugup semenjak tadi. Lelaki bermata besar itu mendekat, menepuk pundak Chanyeol.

"Hei! Kau nampak gugup kawan. Aku rasa ini bukan pertandingan pertamamu." Ucap Minho dan Chanyeol hanya tersenyum, tepatnya mencoba tersenyum.

"Sesering apapun aku bertanding, perasaan gugup itu pasti selalu datang Minho-ya, apalagi_" ucapan Chanyeol terpotong, matanya menerawang menatap pundak Minho.

"Apalagi apa?"

"Ah, bukan apa-apa. Ayo sebaiknya kita berdoa." Ajak Chanyeol lalu menepuk-nepuk tangannya memberi komando pada tim nya untuk membuat lingkaran. Mereka menutup mata dan berdoa dalam diam. Ketika tim mereka dipanggil, mereka segera keluar.

"Chanyeol-ah. Hasil pertandingan hari ini ada di tanganmu." Itu ucap pelatih sambil menepuk pundak Chanyeol sebelum pergi.

Light Phoenix - nama tim basket Chanyeol- masuk ke dalam lapangan, dan mendapat sorakan dari para pendukung. Beberapa siswa membawa banner bertuliskan Chanyeol dan pemain lain. Tapi Minho dan Chanyeol yang mendominasi. Bahkan ada beberapa banner bertuliskan nama mereka dari sekolah Jaessun. Entah itu disebut pengkhianatan atau bukan, tapi yang jelas hal tersebut membuktikan seberapa tenarnya seorang Park Chanyeol.

Pertandingan di mulai pukul 08.00 pagi, Chanyeol memejamkan matanya. Ia berdoa semoga tim nya bisa menang, memang ini hanya pertandingan persahabatan antar sekolah, tapi disini hubungannya dengan Baekhyun yang dipertaruhkan. Chanyeol berusaha tidak terpengaruh oleh suasana hatinya, ketika tadi ia tidak menemukan Baekhyun sama sekali di bangku penonton. Berbeda dengan semester lalu ketika lelaki mungil dan berisik itu menjadi pusat perhatian karena keributannya.

Pertandingan berjalan 10 menit dan skor yang tercetak masih stabil walau sekolah Jaessun yang memimpin 9 angka. Chanyeol tak ambil pusing, ia merasa bisa mengejar ketertinggalan itu. Ia memantulkan bola dengan gesit, dan berhasil mencetak angka setelahnya. Terdengar riuh pendukung yang memekik senang, dan suara alat musik yang dimainkan. Di sisi lapangan, para pemandu sorak sedang memberi semangat dengan membuat beberapa gerakan yang sudah mereka latih.

Ketika Chanyeol hendak menangkap bola yang dioper oleh Minho, seseorang mencegahnya. Chanyeol tahu betul siapa sosok tinggi itu, dia adalah ketua tim dari sekolah Jaessun, namanya Wu Yi Fan. Dulu Chanyeol dan Yi Fan pernah mengikuti pelatihan bersama, untuk maju menjadi pemain nasional. Tapi Yi Fan gugur, dan entah mengapa semenjak itu Chanyeol merasa jika Yi Fan mejadikannya seorang saingan.

"Kita bertemu lagi, my enemy." Itu suara Yi Fan, yang kini menatap Chanyeol tajam dengan sebuah seringaian. Chanyeol yang berhasil menangkap operan Minho kini sedang memantulkannya, sambil mencari celah untuk bisa mengopernya lagi atau memasukkannya ke dalam ring. Tapi Chanyeol tahu, Yi Fan bukan lawan yang mudah. Lelaki ini bagaikan angin, tidak terlihat namun bisa dirasakan. Dan keras seperti batu. Dan satu lagi, Yi Fan adalah tipe orang yang akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan tujuannya.

"Akh!" Chanyeol memekik ketika lututnya bertemu dengan kerasnya alas lapangan. Chanyeol menatap Kris yang masih menyeringai, dan ketika wasit mendekat ia memasang wajah bersalah dan mengulurkan tangannya. Chanyeol merasakan lututnya berdenyut, sepertinya terbentuk jaringan parut di bagian epidermisnya.

"Aku baik-baik saja." Itu suara Chanyeol, dan dengan terpaksa meraih tangan Yi Fan. Chanyeol meringis ketika kakinya yang lecet harus dipaksa berlari.

"Kau tak apa-apa?" itu suara Minho yang mencoba mencuri pembicaraan dengan Chanyeol.

"Tidak. Tapi aku rasa musuh kita kali ini, sangat licik."

"Akh!" suara itu berasal dari pemain lain. Ketika Chanyeol berhasil memasukan bola, dan skor sekolah mereka memimpin 6 angka, sebuah pekikan terdengar. Salah satu pemain tim Chanyeol cedera, ia terperosok di atas tanah. Chanyeol mengepalkan tangannya, tidak hanya Yi Fan tapi semua pemain dari tim Jaessun juga sama curangnya. Menggunakan segala cara untuk menang. Permainan diistirahatkan sementara atas permintaan pelatih dari tim sekolah Chanyeol.

"Kau baik-baik saja Doong-ah?" tanya Chanyeol sambil berlutut di depan temannya yang kini sedang mendapat penanganan medis.

"Sepertinya tidak Chanyeol. Aku merasa tempurung lututku bergeser. Entah perasaanku saja atau tadi dia menyilat kakiku , sehingga aku terjatuh."

"Tidak itu bukan perasaanmu saja, mereka memang bermain curang. Sepertinya kau harus mendapat penanganan yang intensif. Pelatih, sebaiknya kita turunkan pemain cadangan." Chanyeol berucap dan pelatih mengangguk.

"Bagaimana dengan luka kakimu?" itu suara pelatih.

"Tidak parah, aku masih bisa bertanding." Ucap Chanyeol. Dan ketika peluit wasit berbunyi mereka kembali ke tengah lapangan. Chanyeol berdiri di sisi lapangan, menunggu operan bola dari temannya. Ketika bola di tangan Chanyeol dan dia akan melompat untuk memasukan bola, bayangan Yi Fan bergerak cepat dan entah sejak kapan sudah menghalang tubuh Chanyeol dan memukulnya tepat di bagian perut. Chanyeol tercekat dan terjatuh dengan satu lutunya sebagai tumpuan, ia merasakan nyeri pada perutnya.

Tapi wasit tidak ada yang memberi Yi Fan peringatan, gerakannya cepat dan tak terlihat. Chanyeol mengernyit, rongga perutnya dan lututnya terasa sakit secara bersamaan. Salah satu anggota Chanyeol menghampiri dan membantunya bangkit. Chanyeol dapat melihat Yi Fan menyeringai. Mereka terus bermain, Chanyeol mengerahkan seluruh tenaganya, dan selalu mengawasi anggota timnya. Ketika skor yang tercetak adalah 40 untuk Jeongshin dan 56 untuk Jaessun, pertandingan di hentikan. Mereka diberikan waktu untuk beristirahat. Tim Chanyeol bergegas menuju ruang ganti dengan perasaan kecewa.

Chanyeol yang menatap wajah lelah anggota tim nya merasa bersalah. Ia merasa gagal menjadi seorang kapten. Tapi tidak dipungkiri ini semua karena tindakan kotor dari tim lawannya, dan anehnya setiap gerakan licik mereka tidak terlihat oleh siapapun. Chanyeol jadi berpikir jika tim mereka dilatih memang untuk berbuat kotor, bukan untuk memperkuat permainan.

Di lain tempat, Baekhyun nampak duduk termenung di kelasnya. Suara riuh dari lapangan basket terdengar cukup keras. Tapi ia mau menjadi egois dengan menyiksa dirinya.

"Sepertinya kau akan kalah Chanyeol." Baekhyun berucap lemah. Entah mengapa ia menyesal menjadikan syarat itu untuk mempertahankan hubungan mereka. Ia tahu pasti Chanyeol tidak fokus bermain sekarang, dan itu karena dirinya. Tapi ia tak mau peduli, ia ingin menjadi egois sekali-kali, jadi ia menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangannya.

"Chanyeol, ada yang mau bertemu denganmu." Ucap salah satu anggota Chanyeol yang baru masuk ke dalam ruang ganti. Chanyeol bangkit dan berjalan menuju keluar. Disana ia melihat Hyorin, berdiri dengan cemas.

"Kau baik-baik saja?" tanya Hyorin terdengar khawatir.

"Tenang, aku tidak apa-apa."

"Tapi kenapa kau terlihat kacau hari ini Yeol? Permainanmu tidak seperti biasanya. Apa karena syarat itu?" ucap Hyorin lagi.

"Mungkin. Tapi selain itu, tim Jaessun bermain kotor."

"Benarkah? Kau jangan terlalu pedulikan kelicikan mereka, fokus saja pada permainan mu. Mereka tidak akan bisa bertahan hanya dengan mengandalkan cara kotor. Kau pasti bisa Yeol. Aku mengenalmu bertahun-tahun dan aku tahu sehebat apa dirimu dalam bermain basket."

"Terima kasih Hyorin-ah."

"Dan untuk masalah Baekhyun. Aku harap kau bisa tetap mempertahankan hubungan itu. Ah! Byun B itu, kenapa bersikap kenakak-kanakan seperti ini ?"

"Hyorin, dia memang selalu bersikap kekanak-kanakan." Ucap Chanyeol.

"Aku jadi menyesal memiliki bokong yang indah." Canda Hyorin.

"Hei jangan terlalu besar kepala nona, aku sama sekali tidak melihat bokongmu saat itu. Lagipula itu sama sekali tak indah, jauh lebih indah milik_"

"Chanyeol?" suara itu membuat Chanyeol dan Hyorin menoleh. Chanyeol menatap tak percaya karena sosok itu, yang berkata ingin menghindarinya kini berdiri dihadapannya . Sedangkan hyorin, hanya tersenyum canggung. Lalu meminta izin untuk pergi.

"Baek?"

"Hm..aku..aku ingin bicara." Ucap Baekhyun dan Chanyeol segera menarik tangan Baekhyun untuk mengikutinya. Sulit untuk mencari tempat bicara ketika sekolah tidak sedang dalam proses belajar-mengajar seperti biasa. Hari ini semua kelas di liburkan, dan tidak semua siswa menyukai basket. Jadi bisa dipastikan seramai apa koridor dan halaman sekolah. Tapi Chanyeol punya tempat yang tidak ada seorang pun yang akan berkunjung kesana. Itu adalah tempat bercinta mereka pertama kali.

Tempat itu jarang dikunjungi karena ada beberapa rumor tentang siswi yang bunuh diri disana, entah itu benar atau tidak tapi selama ini Chanyeol sama sekali tak pernah melihatnya. Ia menutup pintu itu sedikit kasar.

"Aku dengar kau mendapat beberapa cidera." Suara Baekhyun bergetar, wajahnya tertunduk dan ketika matanya bergerak gelisah ia menangkap luka lecet di lutut Chanyeol.

"Iya sedikit. Apa yang ingin kau bicarakan?" suara Chanyeol terdengar dingin.

"Maaf."

"Untuk?"

"Aku rasa ucapanku di ruang ganti waktu itu cukup menyakitkan. Aku hanya sedang menyakinkan diriku Yeol."

"Tentang?"

"Apakah kau benar sudah menyimpang sepenuhnya, atau tidak."

"Baek~ bukankah aku sudah menyakinkanmu berulang kali?"

"Tapi tetap Yeol, perasaan itu menyerangku. Aku hanya tak ingin kau membuangku ketika kau menyadari jika ternyata dirimu tidaklah menyimpang."

"Baek~ aku benar-benar mencintaimu."

"Tidak Yeol. Jangan terlalu mempercayai perasaanmu, yang mungkin saja sedang memanipulasi isi hatimu. Hubungan kita baru berjalan, jadi aku fikir sebelum semuanya terlambat, aku ingin_"

"Aku lelah." Itu ucap Chanyeol yang terdengar frustasi. Ia menundukan kepalanya.

"Aku kemari hanya ingin memberimu semangat. Aku ingin tahu sebesar apa rasa cintamu padaku." Baekhyun berucap kembali sambil mendekat ke arah Chanyeol. Menjinjitkan kakinya untuk mengecup singkat bibir Chanyeol. Chanyeol menatap Baekhyun lekat. Akhirnya kedua bibir itu saling bertemu kembali, berpangutan dalam.

Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun, dan Baekhyun melingkarkan kakinya di tubuh Chanyeol. Chanyeol berjalan ke arah dinding dan menghimpit tubuh Baekhyun disana. Mereka berciuman dengan ganas, Baekhyun sama sekali tak keberatan dia malah berusaha mengimbangi permainan Chanyeol. Ketika nafas mereka sama-sama habis, mereka melepaskan ciuman itu dengan tidak rela.

"Berapa lama waktu istirahatmu?" tanya Baekhyun. Chanyeol melihat ke arah jam tangannya.

"Sekitar 15 menit lagi. Pelatih meminta waktu tambahan."

"Lakukan dengan cepat!" perintah Baekhyun, dan Chanyeol menatap tak percaya.

"Kau serius Baek? Tidak aku tak ingin setelah ini kau menganggapku tidak serius denganmu." tanya Chanyeol.

"Cepat sebelum aku berubah pikiran!" bentak Baekhyun dengan wajah datar. Chanyeol mengangguk, lalu melepas kancing baju milik Baekhyun dengan cepat, memberi kecupan singkat lalu menurunkan celana sekolah Baekhyun.

Sebaliknya Baekhyun membantu membuka celana Chanyeol, mengeluarkan junior Chanyeol tanpa melepas total celana dan celana dalamnya. Baekhyun meludahi tangannya, lalu mulai memijat kejantanan Chanyeol. Chanyeol menggelinjang ketika jemari Baekhyun bermain disana.

"Aku tidak akan menghisapnya, kita tidak punya cukup waktu." Ucap Baekhyun. Chanyeol segera mengangkat tubuh Baekhyun ke atas meja tua yang masih bisa berdiri. Menarik kedua kaki Baekhyun dan membuka pahanya lebar, lalu memasukkan juniornya dalam satu hentakan. Mereka melakukan kegiatan itu dengan perasaan bercampur aduk. Chanyeol bergerak dengan lembut, dan terkadang ia sedikit terisak menahan air matanya. Ia takut ini akan menjadi kegiatan terakhir mereka jika ia tak menang dalam pertandingan ini.

Sedangkan Baekhyun, ia berusaha memberi semangat Chanyeol dengan memberikan hadiah spesial. Bagaimana pun ia juga merindukan sentuhan Chanyeol. Sama seperti Chanyeol ia juga takut ini akan menjadi kegiatan terakhir mereka.

"eeugghh...eeuugghh..." Baekhyun meredam desahannya. Ia memejamkan matanya, dan sesekali jemarinya meremas lengan Chanyeol kuat.

"Aasss..Baek..Euummhh..aaahh.." Chanyeol semakin mempercepat gerakannya. Sesekali Chanyeol menarik dagu Baekhyun membawa mereka dalam sebuah ciuman panas.

"Aaah..teruss Yeol..eumhh.." Baekhyun terus mendesah. Hatinya benar-benar bergejolak.

"aah..aahh..ooh..oohh..aasshh.."

"Yeol..euummhh. akuuhh."

"Tunggu..akuuh jugaa..haahh.."

Ketika mereka mencapai orgasme, tubuh mereka saling berpelukan. Berulang kali Chanyeol mencium kening Baekhyun. Baekhyun meletakkan dagu runcingnya di pundak Chanyeol. Chanyeol memeluk Baekhyun erat, lalu mencium leher Baekhyun.

Chanyeol dan Baekhyun sama-sama menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara terompet, itu menandakan pertandingan akan dimulai sebentar lagi.

"Pergilah Yeol!"

"Tapi Baek, kau bahkan belum berkemas."

"Aku tak apa, aku akan keluar setelahmu jadi orang-orang tak akan curiga. Pergilah! Pertandingan sebentar lagi, dan jangan jadikan seks ini adalah seks terakhir antara kita."

"Aku akan membawa piala kemenangan itu padamu Baek. Aku berjanji." Ucap Chanyeol sambil mengangguk. Ia menaikkan celana basketnya, lalu merapikan sedikit rambutnya. Kembali mengecup bibir Baekhyun singkat lalu berjalan meninggalkan ruang itu.

"Aku akan pegang ucapanmu sebagai pria dewasa." Ucap Baekhyun. Ia masih tergeletak tak berdaya , dan penampilan yang berantakan.

….

….

….

Baekhyun menatap bangku kosong itu selama dua hari ini. Sosok itu sudah dua hari tak masuk kelas. Baekhyun merindukan Chanyeol, sangat merindukannya. Mencuri pandang ketika kelas berlangsung, dan menatapnya dari luar lapangan. Tapi sepertinya Baekhyun harus mengubur keinganan tersebut. Sejak pertandingan basket tersebut Chanyeol tak muncul lagi di sekolah.

Baekhyun mencoba menghubungi nomernya berulang kali, namun selalu tak aktif. Baekhyun mencemaskan keadaan Chanyeol. Dua hari yang lalu, tepat usai pertandingan Chanyeol dilarikan ke rumah sakit. Ia mendapat hantaman keras di pelipisnya, ketika cetakan skors terakhir yang membawa sekolahnya pada kemenangan.

Pelakunya tidak lain adalah Yi Fan, dan untungnya wasit melihat kecurangan itu. Yi Fan mendapat kartu merah, tapi itu sudah tidak berlaku lagi. Permainan sudah usai, dan hal tersebut tidak merubah apapun. Akhirnya diadakan rapat para wasit, dan kedua belah pihak sekolah dipertemukan. Mereka mencapai kesepakatan, dengan tidak memperbolehkan sekolah Jaessun mengikuti pertandingan dimanapun sampai waktu yang telah ditentukan.

Bendera perang berkibar antara kedua sekolah tersebut. Warga Jeongshin tidak memberikan sikap ramah tamah ketika warga Jaessun akan pamit. Mereka marah karena tim basket sekolah Jaessun bermain kotor dan menyebabkan Pangeran sekolah mereka pingsan. Bahkan banner sekolah Jaessun di rusak oleh siswa Jeongshin, mereka meluapkan kekesalan mereka.

Yi Fan menggertakan giginya kuat ketika memasuki bus, dan matanya sempat menatap sosok gadis yang juga menatapnya ketus. Hyorin berdiri disana dengan tangan terlipat dan pandangan sengit. Tak ada lagi sikap ramah tamah, yang jelas warga Jeongshin akan memulai perang mereka sekarang.

Baekhyun mendadak lemas ketika mendengar berita tersebut. Bukan perang antara kedua kubu sekolah itu, melainkan Chanyeol yang harus dilarikan ke rumah sakit. Ia semakin merasa bersalah, Chanyeol pasti mempertaruhkan tenaganya untuk menang, sesuai dengan kesepakatan yang mereka buat. Baekhyun tidak menonton pertandingan itu tadi, tapi ia mendengar berita buruk tersebut ketika berjalan di koridor sekolah saat akan pulang.

Baekhyun berlari ke halaman sekolah, melihat mobil ambulans sudah melesat meninggalkan halaman diikuti oleh beberapa mobil pribadi milik para guru. Baekhyun berlari menuju toilet, mengunci diri di salah satu bilik dan menangis meraung-raung. Ia takut Chanyeol-nya sakit parah, dan sekali lagi ia menyalahkan dirinya atas kejadian ini.

Mengingat kejadian dua hari lalu membuat hati Baekhyun semakin sakit, kenapa hubungannya semakin rumit seperti ini. Apakah ia terlalu kejam pada Chanyeol, atau dirinya terlalu bodoh karena tidak mempercayai Chanyeol. Berbagai pertanyaan bermunculan di kepalanya dan itu membuat kantung matanya semakin menghitam akibat kurang tidur.

"Hyorin!" Baekhyun memanggil Hyorin yang baru saja keluar dari kelasnya. Hyorin menatap Baekhyun lalu menghela nafas. Gadis itu menghentikan langkahnya dan membawa Baekhyun masuk ke dalam kelasnya yang sudah sepi.

Mereka berada di ruang kelas Hyorin yang sudah sepi, bicara empat mata dengan Hyorin yang setia menatap keluar jendela.

"Dia masih belum sadar." Hyorin berucap dengan nada sedih, ia mengingat bagaimana tubuh Chanyeol tergeletak di ruang rumah sakit.

"Apa cederanya parah?" Baekhyun membuka suara.

"Ia mendapat pukulan siku di pelipisnya, lalu bagian belakang kepalanya membentur tanah ketika tubuhnya ambruk. Dokter bilang ia mengalami sedikit retak pada tempurung kepalanya."

"Astaga! Aku merasa sangat bersalah Hyorin-ah."

"Tidak, kau sama sekali tidak bersalah Byun B. Orang itu yang telah bermain kotor, Chanyeol sudah tahu itu tapi dia bukan tipe orang yang membalas hal buruk dengan yang buruk juga." Hyorin terdengar lirih.

"A..aku merasa tak berguna. Aku telah meragukan perasaannya. Aku ingin sekali bertemu dengannya." Ucap Baekhyun sambil menunduk. Hyorin membalikan tubuhnya, menatap Baekhyun iba.

"Maaf Baek, sepertinya sulit. Kamar Chanyeol dijaga ketat, aku bahkan hanya bertemu dengannya sekali, dan seterusnya aku hanya melihat dari luar. Apalagi sebentar lagi Paman Yunho akan kembali dari Amerika untuk memastikan keadaan Chanyeol, akan semakin sulit bertemu denganya."

"Aku tahu. Bahkan pihak sekolah pun dilarang untuk menjenguk Chanyeol."

"Iya. Sejak kasus percobaan pembunuhan yang dilakukan oleh kakak laki-laki ibu Chanyeol, Paman Yunho sangat ketat mengawasi Chanyeol."

"Percobaan pembunuhan?" Baekhyun mengernyit.

"Apa kau tidak tahu?"

….

TBC

Oke chingudeul sampe disini dulu ya..

Semoga kalian puas dengan chapter ini. Ini curi-curi waktu buat ngetiknya jadi maklum kalo kurang berkenan.

Yang minta adegan NC nya dikurangin, ini udah dikabulin. Mungkin di next depan bakal dibanyakin biar adil sama yang minta banyak adegan NC. Hehehe..

Apapun berita tentang Exo saat ini, aku harap kita sebagai EXO-L tetep dukung mereka.

Dan sesuai perjanjian awal kita ya, mari saling menghargai.

Aku korbankan waktu dan tenagaku, serta imajinasiku ( hehehe ) kalian korbankan sedikit ajah waktu kalian buat review.

Makasi buat yang udah review di chapter sebelumnya, dan yang udah ngefoll and ngefav tapi kalo bisa jangan cuma ngefoll atau ngefav ya, review pendek ajah gpp stidaknya berisi masukan buat aku. Jadi kedepannya bakan diperbaiki lagi..

Terima kasih chingudeul.

Let's Love :)