"Mama?"

Jungkook kecil berjalan terhuyung-huyung keluar dari kamarnya, mengahampiri Seokjin yang sedang sibuk dengan acara memasak favoritnya. Tangan kanan mungilnya menyeret boneka pororo dan tangan kiri sibuk mengusak matanya agar terbuka sempurna setelah bangun dari tidur siangnya.

Seokjin menoleh dan tersenyum gemas melihatnya. Menunggu Jungkook dengan sabar dari tempatnya duduk. Begitu tubuh kecil Jungkook sampai di sofa yang diduduki sang ibu, ia langsung memanjat sofa kemudian merangkak untuk duduk di pangkuan Seokjin dengan kepala yang bersadar nyaman pada dada bidang ibunya.

Seokjin masih diam, membiarkan si kecil yang juga hanya terdiam dalam pelukannya, tahu betul putra semata wayangnya selalu ada pada mode bengong saat baru bangun tidur. Lengan Seokjin memerangkap tubuh kecil Jungkook, sesekali mengusap punggungnya, kepalanya ia sandarkan pada kepala si mungil dan sesekali mengecupi rambut beraroma stroberi putranya.

"Mama, kapan papa pulang?" Jungkook bertanya dengan posisi yang tidak berubah sama sekali.

"Tumben sekali Kookie bertanya kapan papa pulang?" menghadiahi kecupan lain untuk si kecil setelah pertanyaannya selesai.

"Tadi malam mama bilang papa akan pulang cepat, kan?"

"Mungkin papa sedang di jalan." Seokjin menenangkan. Ingatan si kecil tidak pernah buruk dalam hal apapun terutama jika berhubungan dengan waktu bermainnya dengan mama dan papa.

Semalam Seokjin memberi tahu si kecil Jungkook bahwa ayahnya akan berulang tahun esok hari. Jadi dia bilang bahwa Namjoon -mungkin- akan pulang cepat untuk menghabiskan sisa hari dengan keluarga kecilnya seperti tahun-tahun lalu. Kesalahannya adalah Seokjin tidak mengkonfirmasi langsung pada yang berulang tahun. Niat hati ingin memberi kejutan pada Namjoon. Tetapi melupakan fakta bahwa si kelinci kecil mempunyai bakat mengingat sehebat ayahnya.

"Kookie mau membantu mama menyiapkan kue dan makan malam sembari menunggu papa pulang?" ditangkupnya wajah Jungkook agar menghadap ke arahnya. Menghujani wajah menggemaskan Jungkook dengan kecupan begitu anggukan kepala diberikan sebagai jawaban.

Jungkook duduk di kursi bayinya dengan tangan yang sibuk dengan biskuit bola berlapis cokelat sebagai hiasan kue ulang tahun ayahnya, sesuai ajaran mama. Saat tangannya tidak sengaja menyentuh krim karena meletakkan hiasan terlalu dalam, Jungkook akan menjitalnya penuh semangat. Seokjin yang sedang sibuk dengan sup rumput laut hanya terkekeh pelan saat tanpa sengaja menyaksikan tingkah polah Jungkook.

Saat pandangan keduanya tidak sengaja bertemu, Seokjin mendelik main-main dan menghasilkan kekehan menggemaskan dari Jungkook. Oh lihat, bagaiman gigi kelincinya terpampang lucu saat Jungkook tertawa.

"Jangan dicolek terus, sayang. Nanti papa sedih karena kuenya tidak cantik lagi bagaimana?" Seokjin mendekati kursi bayi Jungkook dan mengusap bibir si kecil yang belepotan krim kue, kemudian menjilat jarinya sendiri.

"Kalau Kookie makan ini boleh?" jari telunjuk mungilnya menunjuk mangkuk berisi potongan buah kaleng. Bahkan sudah tenggelam separuh ke dalam kuahnya. Kemudian dengan wajah jail menghadap mama, Jungkook menjilat jarinya yang sudah berasa manis buah. Seokjin hanya bisa tertawa melihat wajah menggelikan putranya.

"Astaga. Dari mana kau belajar wajah jail seperti ini?" Seokjin mencubit main-main pipi gembul Jungkook.

"Taetae Hyung." jawabannya tanpa pertimbangan.

Pernah sekali Jungkook melihat Taehyung yang sedang dinasihati Bibi Yoongi karena membuat Jungkook menangis saat sedang bermain perang robot-pororo di rumah keluarga Park, tapi kemudian Taehyung membuat ekspresi yang lucu sebagai bahasa tubuh mengobrol dengan ayahnya saat Bibi masih berbicara. Saat itu Bibi Yoongi bilang "Jangan buat wajah jail begitu Park Taehyung dan Park Jimin". Jadi otak polos Jungkook menangkap ekspresi demikian adalah ekspresi jail.

"Kookie boleh makan buahnya, tapi pakai sedok ya sayang." Seokjin meraih sendok di sisi lain meja dan menyerahkannya pada Jungkook dengan tawa yang belum juga mereda.

Seokjin kembali menghadap sup rumput lautnya, mematikan nyala api begitu dirasa sudah matang. Memindahnya ke atas meja yang cukup jauh dari jangkauan si kecil.

"Kookie lihat asap yang keluar dari dalam sini?" Mama menarik perhatian Jungkook yang masih sibuk dengan buahnya, menunjuk pada sup rumput laut yang asapnya masih mengepul.

"Iya lihat." kepalanya mengangguk semangat hingga helai hitam lebatnya bergoyang lucu.

"Itu artinya?"

"Tidak boleh dipegang sampai asapnya hilang."

"Pintarnya anak mama." Diusapnya kepala Jungkook sayang.

"Mama, ini. Kookie sudah selesai dengan kuenya." Jungkook menggeser pelan hasil karyanya ke hadapan mama.

"Wah, indah sekali. Pasti papa akan senang sekali menerimanya." Seokjin meletakkan kuenya ke tengah meja, tidak menambahi atau mengurangi karya putranya. Ingin memberi tahu pada Jungkook secara tidak langsung bahwa hasil kerja kerasnya dihargai.

"Sekarang saatnya mandi. Lihat baju dan tangan Kookie lengket karena kuah buah."

"Tidak mau."

"Hiiii, lihat lihat, pipi Kookie juga penuh krim. Nanti papa tidak mau mencium Kookie saat sampai rumah."

"Pokoknya tidak mau, Mama. Kookie mau menunggu papa sampai datang." tangannya dilipat di atas meja dengan bibir mengerucut lucu. Khas Jungkook sekali saat sedang merajuk.

"Hii, mama tidak mau dekat-dekat Kookie, ah." Seokjin berjalan menjauhi dapur dengan kepala yang ia tolehkan ke arah sang putra, memastikan Jungkook mengikutinya. Dan benar saja. Jungkook turun dari kursi bayinya dan berlari di atas kaki mungilnya mengejar Seokjin.

"Mamaa~." Nadanya merengek menggemaskan. Seokjin dengan sengaja berlari kecil mengelilingi ruang tengah. Jungkook berlari dibelakangnya dengan tangan terulur ke depan minta diraih.

"Mama tidak mau menggendong Kookie karena Kookie bau." tangannya menjempit hidung dramatis. Masih berlari kecil hingga saat ia melihat si kecil mulai kewalahan, Seokjin berhenti, membalik badan dan sedikit membungkuk siap menerima terjangan Jungkook.

Begitu ia berhasil meraih ketiak Jungkook, Seokjin mengangkatnya tinggi beberapa kali yang tentu saja menghasilkan kekehan lain dari si kelinci, sebelum akhirnya menggendong Jungkook ke kamar mandi.

Jungkook dan Seokjin sudah siap di meja makan dengan kado di hadapan masing-masing untuk papa. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam tapi belum ada tanda-tanda kepulangan Namjoon. Bahkan makan malam juga sudah dingin total.

Seokjin bergerak gelisah karena Namjoon sama sekali tidak memberinya kabar sejak jam makan siang. Tidak bilang ada rapat dadakan atau akan pulang larut. Namjoon tidak pernah lupa untuk memberi kabar apapun itu yang membuatnya pulang terlambat.

Si kecil terlihat mengantuk karena sudah memasuki waktu tidurnya. Kepalanya ia letakkan di atas lipatan tangan. Belum lagi wajah sedihnya karena ternyata papa tidak pulang cepat seperti kata mama.

Hal yang paling dihindari oleh Namjoon dan Seokjin adalah melihat putra tercintanya sedih dan kecewa. Namun untuk kali ini, si kecil mau tidak mau harus merasakannya.

Begitu pintu depan berderit terbuka, Jungkook mengangkat kepalanya dengan wajah ceria luar biasa.

"Papa pulang?" bertanya antusias namun berupa bisikan kepada mama, agar papa tidak dengar -jika saja itu memang papa. Si kecil berharap pintu depan terbuka karena papa pulang, begitupun dengan Seokjin.

TBC

.

.

aku tahu ini telat banget dari ulang tahun papa namjoon tapi pengen buat, gimana dong? wkwkwk

dan aku sebel sama diri sendiri karena udah telat bikin fanficnya, dibikin bersambung pula :'

seperti biasa, maafkan segala typo ya readers:*

.

.

Lastly, review juseyooo..

(siapa tahu kalo review banyak jadi semangat lanjut :v)