Cerita ini merupakan remake "A Werewolf Boy" by Kim Mi Ri.
MainCast
Do Kyungsoo
Jongin
Musim gugur tahun 1965
Kisah itu dimulai pada hari kepindahan keluarga Kyungsoo ke daerah ini.
Karena tidak ada lelaki yang membantu, perpindahan keluarga Kyungsoo mengalami banyak masalah. Pekerjaan ini membutuhkan banyak tenaga, tetapi mereka harus mempertimbangkan biaya pengangkutan dan mengurangi pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan sumber daya manusia yang besar. Keluarga Kyungsoo disuruh mengurangi barang-barang yang hendak mereka bawa, dan mereka memang sudah menguranginya, tapi tetap saja barang-barang mereka memenuhi satu truk yang beratnya dua ton. Untuk menghemat biaya pindah, ketiga perempuan dalam keluarga susah payah menurunkan dan membawa sendiri perabotan seperti lemari pakaian, agar biaya penurunan barang-barang tak perlu dihitung dalam tagihan. Seandainya beberapa orang tetangga tidak membantu, keluarga Kyungsoo mungkin harus sibuk mondar-mandir memindahkan barang-barang mereka dari pekarangan.
Dari luar Kyungsoo memang terlihat lemah, tapi sebenarnya ia gadis yang kuat. Tanpa disuruh, ia memakai sarung tangan dan memindahkan satu per satu perabot yang sanggup diangkutnya. Tapi berbeda dengan ibunya yang tersenyum ceria sambil terus-menerus mengucapkan terima kasih kepada para tetangga yang membantu, Kyungsoo memberengut sepanjang waktu. Mereka meninggalkan rumah bergaya Barat yang sering membuat teman-temannya iri dan harus pindah ke pedesaan yang belum pernah didengar atau didatanginya. Kenyataan menyakitkan ini sebenarnya berhubungan dengan tubuh lemahnya yang menderita TBC.
Pak Jeong yang berusaha menurunkan meja laci dibantu istrinya merasa ibu Kyungsoo yang menunggu dibawah truk tidak akan kuat menerima meja laci tersebut. Ia memanggil pemuda yang sejak tadi berdiri ditengah pekarangan sambil merokok.
"Hei! Anak muda! Ke sini sebentar dan bantu angkut laci ini!"
Namun pemuda itu hanya memandang pegunungan dengan ekspresi jengkel. Jun Myeon. Sekarang dia tidak memakai kaus anak-anak lagi, tapi jas mahal seperti orang dewasa. Ekspresi wajahnya angkuh dan licik. Penampilannya sangat mencolok. Ayah Jun Myeon dan ayah Kyungsoo bersahabat dekat. Mereka bersekolah di SMA yang sama sebelum akhirnya menjadi rekan bisnis.
"Dasar anak kurang ajar!"
Terpancing sikap Jun Myeon, pak Jeong melontarkan teguran tajam. Tapi ketika melihat sorot mata ibu Kyungsoo yang memohonnya agar bersabar, pak Jeong pun menahan amarah. Ia memanggul lemari laci yang berat dibantu ibu Kyungsoo dari belakang. Jun Myeon yang sejak tadi memandang dengan gaya acuh tak acuh sekarang menghampiri ibu Kyungdoo dan memulai percakapan.
"Bagaimana, Bi? Udara disini bagus dan rumahnya cukup bisa ditinggali, bukan? Vila Ayah juga tidak begitu jauh dari sini. Jadi, Bibi tenang saja."
Dengan napas tersengal-sengal, ibu Kyungsoo menjawab, "Baiklah. Berkat kau, Jun Myeon, Bibi tidak perlu khawatir lagi tentang rumah. Kebaikan ini…."
Tapi Kyungsoo yang berdiri di samping menyela perkataan ibunya dengan kesal, "Ibu, jangan berbicara seperti itu."
Keluarga Kyungsoo bisa tinggal dirumah ini memang berkat ayah Jun Myeon. Tapi Kyungsoo benci melihat ibunya mengucapkan terima kasih membungkuk-bungkuk. Apalagi di depan pemuda licik dan kurang ajar seperti itu.
Hari sudah sore ketika semua barang selesai dipindahkan. Sebagai balasan atas bantuan para tetangga, ibu Kyungsoo menyajikan makanan sampingan yang dibungkusnya dari Seoul dan menyiapkan makan malam sederhana. Para tetangga terdiri atas suami-istri Jeong yang tinggal di rumah sebelah dan nenek Dong Seok yang tinggal di tempat yang sedikit lebih jauh. Nenek itu datang membawa serta Dong Seok dan Dong Mi yang sudah kehilangan kedua orangtua mereka. Kyungsoo tidak suka berbagi jjigae-sup-dengan menyendok dan menyantapnya bersama orang yang belum dikenal baik. Ia juga tidak suka mendengar mereka mengobrol dengan berisik dalam logat aneh. Ini pertama kalinya keluarga Kyungsoo makan dalam keadaan ramai seperti ini sejak ayahnya meninggal.
Pak Jeong mengambil chonggak kimchi- kimchi yang terbuat dari lobak muda-dengan tangan dan menggigitnya sambil berkata, "Aku pernah beberapa kali mendatangi rumah ini, tapi baru pertama kalinya aku melihat bagian dalam rumah. Ternyata ada banyak kamar. Ada telepon juga. Benar-benar bagus."
Ibu Kyungsoo mengangguk, menanggapi perkataan pak Jeong lalu bertanya, "Sebelum kami pindah, siapa yang tinggal disini?"
"Seorang professor, tapi dia tak pernah keluar ataupun berbaur. Kemudian musim gugur dua tahun lalu, dia meninggal karena serangan jantung."
Seolah-olah berbagi rahasia, istri pak Jeong berkata dengan suara pelan, "Ibu Kyungsoo, Anda lihat gubuk di pekarangan itu? Si Profesor memelihara serigala di sana."
"Serigala? Astaga, kenapa dia memelihara hewan buas?"
"Dengar-dengar itu untuk penelitiannya. Dia tidak pernah bersosialisasi. Siang-malam dia hanya keluar masuk gubuk itu."
Kyungsoo teringat anjing pembunuh yang pernah dibacanya di novel misteri dan mulai tertarik dengan cerita yang dibahas. Tapi setiap kali bicara, air liur pak Jeong pasti tersembur keluar. Kyungsoo tidak suka melihatnya. Ia pun kehilangan selera makan dan meletakkan sendok di meja.
Kali ini pak Jeong mengalihkan topik pembicaraan dan membahas Jun Myeon.
"Omong-omong, siapa pemuda tadi? Rambutnya diminyaki selicin itu. Sepertinya dia bukan anggota keluarga ini, ya?"
Ibu Kyungsoo yang mencoba menyendok jjigae tersebut getir dan menjawab, " Ah, maksud anda Jun Myeon? Dia anak rekan bisnis suamiku."
"Aku baru melihatnya sekali dan langsung tahu dia bukan anak baik-baik. Orang-orang yang lebih tua bekerja susah payah dihadapannya, tapi dia malah santai merokok. Benar-benar tidak sopan."
Kali ini nenek Dong Seok menyeletuk, "Tapi kenapa suami Anda tidak ada pada hari kalian pindah rumah? Ke mana dia?"
"Dia sudah meninggal…tahun lalu…"
"Astaga! Jadi, bagaimana Anda menghidupi keluarga ini? Apakah masih ada harta yang tersisa?"
"Seandainya masih ada harta yang tersisa, kami tidak mungkin berutang kepada orang lain ataupun pindah kesini. Aku bekerja sebagai proof reader untuk perusahaan penerbitan. Jadi aku bisa bekerja dari rumah sekaligus membesarkan anak."
Semua orang terdiam ssementara kesunyian canggung menyelimuti mereka. Tiba-tiba nenek menegur Dong Mi yang duduk di samping karena makannya berantakan. Pak Jeong meminta semangkuk sup lagi kepada Kyungsoo, sementara istrinya mulai membahas masalah anak-anak.
"Anak-anak Anda sopan dan cantik. Tapi sekolah letaknya jauh dari sini. Anak Anda paling kecil bisa bersekolah di Sekolah Negeri Sachang bersama Dong Seok. Tapi apakah putri sulung Anda akan dimasukkan ke Sekolah Putri Hwacheon?"
Ibu Kyungsoo melirik ke dapur dan menjawab pelan, " Kyungsoo tidak bersekolah."
"Eonni… sakit," So Hyun yang sibuk menyendokki nasi ke dalam mulut, menjawab ringan.
"Sebenarnya kami tidak sanggup membeli rumah seperti ini, tapi Kyungsoo sakit. Kata dokter, dia harus menjalani penyembuhan di tempat berudara segar…"
"Ya ampun… dia sakit apa? Seberapa parah?"
"Paru-parunya lemah. Jadi dia tidak bersekolah dan hanya mempersiapkan diri untuk menjalani ujian kelulusan di rumah."
Kyungsoo membawakan sup untuk pak Jeong. Kemudian ia meminta diri meninggalkan meja makan dan keluar ke pekarangan. Bintang-bintang tampak memenuhi langit malam pedesaan. Angin dingin akhir musim gugur pun bertiup. Tapi hati Kyungsoo terasa berat dan ia tidak tahu apa yang harus dilakukan mengenai masa depannya.
Ketika Kyungsoo mendesah panjang, terdengar ketukan benda tumpul dari arah gubuk. Tapi Kyungsoo yang kesal terhadap semuanya hanya merapikan baju sambil mengernyit sebelum masuk ke rumah.
